Chapter Text
Wajah Lando terlihat geram. Tangannya yang sedang menggenggam iPhone 16 pro 1 TB warna desert titanium yang ia beli menggunakan dana pinjol terlihat gemetar. Di hadapannya Magui berusaha untuk menghindar dari tatapan tajam Lando. Perempuan berambut blonde tersebut telihat pucat pasi, seperti orang yang baru saja melihat hantu. Rahasia yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat baru saja diketahui Lando, kekasihnya.
“Yaudah kenapa sih, Yang? Aku tuh cuma iseng sama dia! Abis ini pasti aku tinggal kok. Istilahnya, kamu tuh pacar kandung aku, dia cuma iklan. Numpang lewat doang!” ucap Magui. Ia berusaha memanipulasi emosi Lando, ia tahu lelaki tersebut baru saja ditinggal gengnya yang lulus kuliah duluan. Di pikirannya, dia akan memaafkan Magui karena pasti Lando butuh teman satu tingkat dibawahnya untuk menemaninya di kampus. Sayangnya, hal itu benar-benar hanya dipikiran Magui saja.
Lando menaruh iPhone yang tengah ia secara hati-hati di counter dapur kost-an Magui. “Kamu tuh apaan, sih? Aku tuh kurang apa buat kamu? Kamu mau Kopi Kenangan aku beliin, kamu mau Sushi Yay aku beliin, keuanganku lagi seret tapi kamu mau HP oren The Jack kaya gini aja aku beliin sampai aku diteror DC. Kurang apa lagi?” Lando berkaca-kaca. Ia tak habis pikir, perempuan yang awalnya ia kira adalah malaikat yang turun untuk menemani masa-masa skripsinya yang berat malah menambah beban untuknya. Magui selingkuh, dengan mahasiswa fakultas lain. “Ini siapa coba kasih tahu aku, kamu selingkuh sama siapa. Kok kamu kasih nama Siluman Kelinci Jantan begini? Kamu tuh waras gak, sih?” pertanyaan tajam nan bertubi-tubi dari Lando membuat Magui frustasi. Harus bohong bagaimana lagi untuk mereda emosi Lando?
“Oscar” ucap pelan Magui. Ucapannya bahkan terdengar lebih seperti cicitan disbanding suara manusia. Ia sudah buntu, lebih baik ia tertangkap basah. “Hah?” suara Lando terdengar seperti tanda tanya besar, satu karena memang tidak kedengaran, yang kedua, apakah Magui menyebut nama adik tingkat satu organisasinya, Oscar Piastri. “O-Oscar, Yang.” Magui menunduk malu. Dalam hati, ia mengutuk tindakannya karena lupa mengarsip ruang obrolan Whatsappnya dengan Oscar. “Hah, siapa?!” salah satu penghuni kost yang lewat terkaget mendengar suara Lando yang tiba-tiba meninggi. Magui hanya bisa memberikan senyum kecut pada penghuni tersebut karena merasa tidak enak.
“Oscar, Yang! Oscar Piastri! Itu lho, temen organisasi kamu, yang dulunya ketua pelaksana lomba band se kampus. Yang IPKnya 4.00, kalau ke kampus pakai mobil mini cooper, pernah bagi-bagi hampers tumbler Owala buat divisinya-”
“Stop, iya aku inget” bagaimana tidak ingat, Lando adalah salah satu penerima hampers tumbler Owala tersebut. Ia langsung memberikannya pada Magui pada saat mereka first date tanpa Magui ketahui kalau tumbler tersebut Lando dapatkan dari Oscar. Yang menjadi pertanyaan, Magui mengenal Oscar dari mana? Dan kenapa harus Oscar? Dan mengapa Oscar mau?
“Kamu kenal Oscar darimana? Kenapa harus Oscar? Dan, kok dia mau?” tanya Lando. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Magui. Kenapa dia diperlakukan seperti ini?
“Dia yang ngajak aku kenalan, kemarin waktu aku nungguin kamu di parkiran fakultas. Waktu itu hujan deras, jadi dia nawarin aku nebeng. Kan kalau aku ikut kamu, aku pasti kehujanan. Kamu tahu sendiri kan, hari Kamis jadwalnya aku nyalon. Itu fresh banget rambut aku abis di blowout” Magui berusaha membela diri. Tangannya bersilang di depan dadanya. Terdapat nada yang terkesan menjustifikasi tindakannya.
Magui menunggu respon dari Lando, ia menunduk tetapi tatapannya mengintip ke arah laki-laki tersebut. Ia berjongkok di lantai dapur, menatapnya seperti meminta jawaban apa yang harus dilakukan. Tak lama, ia bersuara sambil menatap Magui yang tengah bersandar di counter dapur. “Terus? Ya lanjutin, lah! Dia gak tahu kamu punya pacar? Kamu ngakunya single kan pasti?” tanyanya dengan tidak sabar.
“Dia.. Dia tahu. Aku udah bilang, kalau aku punya pacar. Tapi katanya dia udah naksir aku semenjak dia lihat aku di lomba band, pas aku jadi manager buat bandnya Bang Max sama temen-temennya itu lho. Terus-” Magui yang tadinya menatap tempat sampah di samping kompor kaget melihat Lando tiba-tiba berdiri dan berjalan cepat menuju parkiran kost. Ia berusaha menahan Lando. Ia yakin pasti Lando akan menghampiri Oscar di kostnya. Magui tidak ingin itu terjadi, ia tidak ingin menjadi gossip of the year karena tahun ini kampus terlihat baik-baik saja, insiden ini akan menjadi skandal besar. “Yang, Yang! Please, Yang. Jangan kamu samperin anaknya, aku minta maaf, Yang. Aku gak bakal ulangin please. Jangan kaya gini, Yang. Aku malu.” tangis Magui hampir pecah, tubuhnya yang kecil sekuat tenaga menahan tubuh Lando yang berusaha pergi. Aku malu? Lalu bagaimana perasaan Lando? Hati mungilnya pecah berserakan di lantai. Apakah Magui hanya peduli dengan reputasinya? Tidak dengan perasaan Lando? “Kamu malu, aku lebih malu. Kita malu-maluin bareng!” ucapnya sambil menarik kasar lengannya dari genggaman Magui. Lando meraih helm Doraemon KYT yang diberikan oleh Magui sebagai hadiah lulus seminar proposal. Ia menaiki Nmaxnya, menancapkan kunci, dan menyalakan mesin. Magui menahan Lando dengan memeluk body depan motor Lando. “Awas gak, kalau gak awas aku tabrak. Aku gas motornya sampai dapur!” Magui menangis tersedu langsung melepaskan pelukannya pada body depan motor Lando. Ia terlihat sesenggukan sambil berulang kali mengucap ‘Yang’ pada Lando. Tak lama, motor Lando keluar dari garasi kost Magui dan menghilang ditelan kemacetan Jl. Haji Tamim.
Motor Lando bergerak tidak lebih dari 20 KM/jam dikarenakan kemacetan parah. Padahal, dia sudah sangat bernafsu untuk melabrak Oscar. Akhirnya, ia melampiaskan emosinya dengan menekan klakson dengan kencang. Mendobrak-dobrak pembatas seng di sisi kiri jalan sambil berteriak, “Cepet woy!!!”
Di lain sisi, Magui yang masih tersedu Kembali ke kamarnya. Ia mengambil tissue untuk menyeka ingus yang keluar dan jempol tangan kanannya bergerak lincah di layer HP. Tujuannya adalah Kembali ke kontak dengan display name ‘Siluman Kelinci Jantan’. Ia menekan ikon telfon yang langsung diangkat oleh pihak seberang. “By, huhu.. Lando ke kamu.”
Oscar langsung meletakan ponselnya di atas meja belajar kamar kostnya setelah memutus panggilan dari Magui. Ia tahu betul, cepat atau lambat apa yang ia lakukan bersama Magui pasti akan ketahuan juga. Apa ia tidak tahu Magui sudah punya pacar? Tentu saja dia tahu. Siapa yang tidak tahu tentang pasangan paling dibicarakan di kampus, Lando dan Magui? Apalagi ia pernah tergabung di organisasi yang sama seperti pacar sah Magui. Ia tahu betul timeline dari hubungan mereka, dimulai dari dua tahun yang lalu dimana Lando bertemu Magui setelah dikenalkan oleh Max Verstappen hingga mereka akhirnya menjalin hubungan yang solid dan langgeng. Tetapi, semua hubungan yang langgeng memiliki celahnya masing-masing. Dan Oscar tahu betul celah yang dimiliki oleh hubungan Lando-Magui.
Kala itu, dua bulan yang lalu, Oscar tengah memeriksa sebuah surat keputusan organisasi yang harus ia tanda tangani. Ia memeriksa poin-poinnya terlebih dahulu sebelum ia yakin untuk membubuhkan tanda tangan. Tak lama, ponselnya bergetar, di layar terpampang nomor tidak tersimpan yang meneleponnya. Setelah dijawab, ternyata nomor tersebut merupakan nomor dari debt collector sebuah pinjol. Sang DC berkata, ia telah mengakses nomor-nomor di kontak Saudara “Lando Norris”. Hal ini dilakukan karena Lando telah menunggak cicilan iPhone 16 pro max 1 TB warna desert titanium selama 4 bulan. Penelepon menggertak Oscar, memerintahkannya untuk mengingatkan Lando untuk segera membayar cicilan. Sebelum sang DC berbicara lebih banyak, Oscar langsung memutus nomor tersebut dan memblokirnya. Oscar terkekeh, pikirannya melompat Kembali pada postingan Instagram yang berisi mirror selfie Magui dan Lando di tempat wastafel cuci tangan restaurant Mie Gacoan. Jadi, inikah celah hubungan reboisasi ini?
Bang Lando Telekomunikasi 19
Senyum Oscar merekah, kali ini semua giginya terlihat jelas. Ini pertama kalinya Lando meneleponnya, mungkin ini pula pertama kali mereka berinteraksi. Saat di organisasi, Lando yang tergabung di divisi yang sama dengan Oscar malah lebih sering berinteraksi di divisi lain, sehingga dalam satu tahun kepengurusan, Lando dapat dikatakan AFK. Baiknya Oscar, ia tetap menyisihkan satu paket hampers tumbler Owala untuk Lando yang tanpa tahu malu mengambilnya.
“Halo, Bang?” “ANJING! TURUN LU!!” Oscar mengintip keluar jendela. Pandangannya langsung tertuju pada Lando yang baru saja sampai di depan pagar kostnya. Ia memakai helm Doraemon dengan ponsel yang ia selipkan di antara helm dan sisi kiri kepalanya. Wajahnya merah padam menahan emosi, matanya basah khas orang yang baru saja menangis. Oscar kembali terkekeh, diotaknya, terdapat uap-uap udara seperti di film kartun yang keluar dari kuping Lando.
Oscar bergegas turun dari kamarnya di lantai dua mengenakan hoodie hitam dan celana selutut. Udara di luar ternyata sangat panas, pantas saja wajah Lando bisa semerah itu. Ia membuka gerbang dan ia langsung disambut oleh kedua tangan Lando yang mendorongnya hingga ia terjatuh dan kembali masuk ke dalam kawasan kost Oscar. Untungnya, kost Oscar tidak terlalu ramai sehingga apa yang dilakukan Lando tidak mengundang penonton.
“Maksud lu apa anjing deketin cewek gua?” melihat Oscar yang sudah terjatuh ke permukaan lahan parkiran semen, Lando langsung menduduki perut Oscar. Ia melayangkan satu pukulan keras ke pipi kiri laki-laki yang lebih muda tersebut. “Gak usah sok ganteng lu, anjing!” satu pukulan lagi mendarat di pipi kanan Oscar. Setelahnya, Lando menarik bagian depan hoodie Oscar. Membawa wajahnya lebih dekat dengan wajah Lando. “Sekali lagi gua liat lu deketin Magui, abis lu sama gua” ancam Lando. Ia menatap Oscar tepat di matanya, berpikir ia dapat mengintimidasi Oscar. Tak lama, ia beranjak berdiri dan pergi keluar menuju pagar.
“Bang” panggil Oscar, Lando menoleh dengan cepat. Saking cepatnya, lehernya sampai sakit. Ia tak langsung menjawab, wajah memerah Lando memberikan sinyal “?” yang langsung direspon oleh Oscar. “Tungguin season 2 nya” kalimat tersebut kembali membuat Lando meradang. Kali ini kekerasan tidak terjadi pada satu pihak, kedua laki-laki tersebut saling bertukar jotos hingga dipisahkan oleh satpam yang baru saja kembali dari gerobak soto mie bogor depan kost Oscar.
