Chapter Text
―ii: yang dikembalikan
.
.
.
"Semua lukisan yang dicuri sudah dikembalikan?" ulang Roderich sambil mengernyitkan dahi. "Benar-benar sudah dikembalikan?"
"Ya, tadi pihak museum menelepon kantor polisi dan mengatakan hal itu," jawab Ludwig sambil menyesap tehnya. "Beberapa petugas sudah dikirim ke sana untuk memeriksa."
"Kalau barang yang dicurinya sudah kembali," Gilbert menyandarkan kepalanya ke meja, "apa itu artinya penyelidikan kita selesai?"
"Penyelidikan eksternal mungkin iya," sahut Ludwig. "Tapi kurasa kalian berdua tidak akan tahan kalau tidak mengetahui identitas asli Black Dove."
Gilbert tidak menjawab, tetapi Ludwig tahu pria bersurai perak itu mengiakan.
"Menurutku, ini tidak masuk akal." Tiba-tiba Roderich angkat bicara setelah diam selama beberapa saat. "Kasus ini sudah lama terjadi, berbulan-bulan lalu, apa alasan Black Dove mengembalikan lukisan itu ... sekarang?"
"Kau ada benarnya, Kacamata." Gilbert menegakkan badannya sembari ikut memasang pose berpikir. "Apa karena salah satu penyelidik terlalu tampan sampai-sampai pencuri pun tidak tega membuatnya repot?"
Ludwig menyipitkan mata. "Apa maksudnya kau?"
Gilbert mengangkat bahu. "Bukan aku yang bilang, lo."
"Hei, kalian."
Roderich, Ludwig, dan Gilbert otomatis menoleh ke arah suara yang memanggil mereka. Di sana, berdiri seorang pria bersurai pirang seleher yang tengah memegang selembar map hasil analisis. Itu Basch, analis mereka.
"Oi, Zwingli," sapa Gilbert sambil menggeser kursi di sampingnya, menyediakan tempat untuk Basch duduk. Basch menurut dan menduduki kursi tersebut. "Sudah bosan dengan labmu yang penuh sesak itu, ya?"
"Labku tidak penuh sesak, Beilschmidt," balas Basch seadanya. "Sebenarnya aku ke sini untuk menanyakan sesuatu pada Ludwig."
"Oh?" Ludwig menegakkan badan. "Ada apa, Basch?"
"Waktu kau memintaku menganalisis wig fiber di hari pertama penyelidikan kalian itu," Basch meletakkan hasil map analisis tadi di atas meja, "berapa sampel yang kauberikan padaku?"
"Dua." Ludwig menatap Gilbert yang langsung mengiakan. "Satu dari Käthe Kollwitz, satu dari Berggruen."
"Salah satunya putih?" tanya Basch.
"Iya," sahut Gilbert dengan dahi dikernyitkan. "Kenapa?
"Aku baru sadar sampel putih itu terlewat saat tadi pagi menyusun sampel penyelidikan Black Dove ini." Basch menggeser mapnya ke arah Ludwig yang langsung mengambil dan membaca isinya. "Dan itu bukan wig fiber, tapi―"
"Bulu kucing," sela Ludwig dengan wajah heran yang tidak dibuat-buat. Dialihkannya pandangan dari hasil analisis Basch. "Tidak berarti pelakunya kucing, 'kan?"
Gilbert tertawa paksa. "Apa kau bermaksud melucu, Pirang? Karena kalau iya, kau gagal total."
"Berarti pelaku ada hubungannya dengan kucing," sahut Roderich, menyimpulkan. "Antara dia memelihara kucing, atau sengaja menjadikan bulu kucing sebagai jebakan untuk menipu kita."
"Mau menipu siapa dengan sehelai bulu kucing?" tanya Gilbert heran. "Menipu anjing polisi supaya menggeram tidak jel―oh."
Ludwig mengangguk. "Tujuannya jelas ke sana."
Roderich berdeham. "Berarti yang harus kita lakukan hari ini adalah memeriksa lukisan-lukisan yang dikembalikan itu."
"Kita butuh kurator seni," sahut Ludwig. "Dan kemampuan mencari petunjuk Gilbert."
"Tentu saja kalian akan selalu membutuhkanku!" timpal Gilbert bangga. "Dan soal kurator seni, bukankah kita sudah punya si Pirang di dalam tim?"
Basch mengernyit. "Maksudmu aku atau Ludwig?"
"Ludwig tentu saja!" Gilbert memperhatikan rambut pirang panjang Basch. "Kamu tidak cocok dapat panggilan si Pirang. Lagi pula, rambut pirangmu kelihatan oke."
"Oh, terima kasih," jawab Basch. "Kalian tahu, aku punya kenalan seorang kurator seni. Dia bekerja tidak tetap dari satu museum di Berlin ke museum lainnya, tapi aku yakin dia bisa kita mintai tolong untuk sekadar memeriksa lukisan."
"Siapa namanya?" tanya Ludwig.
"Erika Vogel," jawab Basch cepat. "Aku akan memintanya langsung bergabung dengan kalian di museum nanti. Kusarankan kalian berangkat sekarang."
Roderich, Ludwig, dan Gilbert mengangguk cepat. Ketiganya bangkit dari kursi, diikuti oleh Basch yang sudah memegang ponsel untuk menghubungi Erika Vogel yang tadi ia sebut-sebut. Roderich melempar kunci mobilnya ke arah Gilbert, meminta pria bersurai keperakan itu menyetir. Setelah mengambil barang-barang wajib dibawa untuk investigasi, barulah ketiganya melesat keluar kantor.
.
Setibanya mereka di Museum Käthe Kollwitz, rupanya Erika Vogel itu sudah menunggu di depan pintu museum. Wanita muda bersurai pirang pendek seleher itu memperkenalkan diri kepada Roderich, Ludwig, dan Gilbert, lalu mengajak ketiganya masuk ke dalam.
"Oi, Pirang." Gilbert menepuk pundak Ludwig. "Sadar tidak sih kalau si Erika ini mirip dengan Basch?"
Ludwig mengernyit. "Apanya?"
"Model rambutnya, oi. Basch juga punya rambut pirang seleher, 'kan?"
"Basch Zwingli adalah kakak angkatku," jelas Erika yang rupanya mendengar percakapan dua pria di belakangnya. "Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih kecil, kemudian keluarga Zwingli mengangkatku sebagai anak. Namun, aku tetap menggunakan nama keluargaku sebagai bentuk penghormatan."
"Jadi yang dia maksud dengan kenalan itu adik angkat?" gumam Roderich.
"Kami biasa menyebut satu sama lain seperti itu," tambah Erika sambil menatap Roderich yang berjalan di sampingnya. "Merepotkan kalau harus menceritakan latar belakang kami ke semua orang. Tapi karena kalian adalah rekan satu timnya, kurasa tidak masalah kalian tahu."
"Lalu apa hubungannya dengan model rambut kalian yang sama?" tanya Gilbert yang rasa penasarannya tidak bisa ditahan.
Erika menoleh sambil tersenyum kecil. "Sejak kecil, aku selalu suka mengikuti Kak Basch, mulai dari pakaian sampai gaya rambut. Saat sudah dewasa, hanya gaya berpakaianku yang kuubah untuk menyesuaikan jenis kelamin dan pekerjaan, tetapi rambutku tidak. Aku lebih suka seperti ini."
Tidak ada yang bertanya lagi sampai ketiganya tiba di depan lukisan No More War yang telah kembali. Seperti biasa, Gilbert langsung memeriksa lukisan itu untuk mencari bukti yang tersisa, Ludwig segera meminta seorang petugas untuk membawanya ke ruang CCTV―tentunya setelah memperlihatkan lencana, sedangkan Roderich mengamati sekitar. Namun, kali itu ada personel baru di dalam tim mereka.
"Kau akan melihat lukisan ini setelahku," ujar Gilbert kepada Erika yang hanya berdiri diam di samping Roderich. "Khawatirnya nanti barang bukti tercampur dengan rambut, benang, atau apa pun dari tubuhmu."
"Aku mengerti," angguk Erika. "Aku akan melihat lukisan itu dari sini dulu, untuk sementara."
Roderich menyadari bahwa tidak ada posisi barang yang berubah dari sejak kedatangan terakhirnya ke Käthe Kollwitz, bahkan tidak pada area No More War jika lukisan itu tidak diperhitungkan. Sesempurna itukah pekerjaan Black Dove?
"Gilbert," panggil Roderich. Pria yang dipanggil otomatis menoleh. "Coba cek apa cap Black Dove masih ada di belakang lukisan itu?"
Tanpa banyak bicara, Gilbert menurut. Diangkatnya pelan bagian bawah pigura tersebut dan ditemukannya cap Black Dove di sana. "Ada, Kacamata."
"Hati-hati!" seru Erika dengan wajah panik. "Kau bisa menjatuhkan lukisannya!"
"Tapi aku tidak melakukannya," balas Gilbert setelah mengembalikan lukisan tersebut ke posisi semula. "Nah, Nona Vogel, silakan periksa lukisan ini sekarang."
Erika segera melangkah mendekati lukisan tersebut. Disentuhnya perlahan lukisan dalam pigura tanpa kaca itu. Tidak butuh waktu lama sampai wanita pirang itu berkata perlahan, "Ini palsu."
Roderich dan Gilbert spontan mengerjap. "Apa?"
"Palsu," ulang Erika sambil membalikkan badannya. "No More War harusnya dilukis dengan pensil, tetapi lukisan ini dibuat secara digital. Kalau aku tidak salah mengidentifikasi, maka lukisan ini adalah lukisan yang dicetak berukuran besar."
Gilbert bergidik. "Kalau yang ini palsu, kemungkinan lukisan lain yang dikembalikan ke museum lain juga―"
"Palsu," lanjut Roderich sambil mengusap dagunya perlahan. Ditatapnya Erika sembari berkata, "Nona Vogel, Anda harus ikut kami memeriksa keaslian lukisan di museum-museum lain."
"Masih ada museum lain?"
"Ya, ada lima lagi," timpal Gilbert. Dikeluarkannya kunci mobil Roderich dari dalam saku celana. "Kita harus segera panggil Ludwig sebelum―"
"Aku sudah di sini, seperti biasa," sela Ludwig tiba-tiba.
"Kalau begitu, kita bisa langsung pergi," ujar Roderich. "Tujuan berikutnya, Museum Berggruen."
.
Sebelum matahari terbenam, Roderich, Ludwig, dan Gilbert sudah tiba kembali di kantor. Enam museum "korban" Black Dove telah mereka periksa semua. Seperti dugaan Roderich dan Gilbert di awal, semua lukisan yang dikembalikan adalah lukisan palsu menurut pernyataan Erika.
"Aku tidak libur kemarin untuk kerja gila hari ini," protes Gilbert saat mereka tengah mengistirahatkan diri di pojok membuat kopi seperti biasa. Dan seperti biasa pula, Ludwig yang membuatkan kopi untuk ketiganya.
"Menurut kalian, kenapa Black Dove repot-repot memberikan lukisan palsu kepada museum?" tanya Ludwig sambil menyesap kopinya.
"Untuk mengulur waktu," jawab Roderich dengan dahi dikernyitkan. "Kalau kita tidak teliti, kita pasti akan langsung mengabaikan kasus ini. Pihak museum, terlanjur merasa senang karena lukisannya kembali, akan lengah dan tidak memeriksa keaslian lukisannya sampai ada kurator datang. Kalau Black Dove berniat menjual lukisan itu, maka asumsiku dia sedang mencari pembeli yang menawarkan harga tertinggi."
"Atau untuk menghina kepolisian." Gilbert mendesis. "Black Dove pasti tahu kalau kasus ini telah ditangani oleh kepolisian pusat. Mungkin dia berniat menghina kita."
"Tidak, tidak." Roderich mencengkeram cangkir kopinya. "Mari kita pikirkan alasan yang rasional saja."
"Itu rasional lo, Kacamata." Gilbert mengernyit. "Aku sih merasa terhina. Memangnya kau tidak?"
Roderich tidak menjawab pertanyaan retoris yang diajukan Gilbert. Ketiganya kembali hening. Masing-masing memikirkan jalan keluar dari kasus Black Dove ini. Semakin dipikir malah semuanya terasa semakin tidak masuk akal. Dimulai dari TKP yang terlalu bersih, wig fiber yang tersisa di setiap TKP kecuali Berggruen, bulu kucing di Berggruen, gerak-gerik Black Dove yang sama persis di setiap video, sampai lukisan palsu yang dikembalikan.
"Sejujurnya, aku penasaran, tetapi aku terlalu lelah untuk bekerja di kantor," ujar Gilbert sambil menyandarkan kepalanya ke meja.
"Mungkin kita perlu ganti suasana," tambah Ludwig.
"Mau ke apartemenku?" tawar Roderich. "Ada televisi untuk menyaksikan salinan rekaman CCTV yang belum sempat kita tonton, ada dua sofa untuk kalian tidur, dan ada makanan dari Elizabeta yang belum kuhabiskan."
"Tidur dan makan gratis?" Mata Gilbert spontan berbinar. "Kau ternyata pandai membaca pikiran, Kacamata!"
Ludwig mengangguk pelan. "Aku sih boleh saja."
"Ya sudah." Roderich melempar kunci mobilnya kepada Gilbert, lagi. "Kau yang menyetir, ya. Jangan minta gratis terus."
Gilbert merengut sementara Ludwig terkikik pelan.
Tidak lama setelah itu, Roderich, Ludwig, dan Gilbert telah tiba di depan gedung apartemen Roderich. Ketiganya segera masuk ke dalam dan ketika telah sampai di dalam apartemen, Gilbert segera menjatuhkan dirinya ke sofa, Ludwig segera menyalakan televisi Roderich, dan Roderich segera menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Dipanaskannya makanan yang diberikan Elizabeta kemarin di oven.
"Kalian tahu," Gilbert mendongakkan kepalanya, "berkumpul seperti ini akan jadi lebih enak kalau pesan piza."
"Kalau mau piza, pesan dan bayar sendiri, ya," balas Roderich datar. "Aku hanya menyediakan air mineral dan makanan yang sudah ada di sini."
Gilbert lagi-lagi merengut. Tanpa banyak bicara, dijatuhkannya lagi kepalanya ke sofa. Sepertinya pria itu memang sangat butuh sentuhan lembut kasur.
"Kalian mau lihat rekaman CCTV-nya, tidak?" tanya Ludwig yang telah siap di samping televisi.
"Tayangkan saja," balas Roderich sambil menyiapkan tiga gelas air mineral yang diisinya dari keran wastafel.
Ludwig menuruti perkataan Roderich tanpa memedulikan erangan Gilbert dari balik sofa. Rekaman CCTV itu dimulai. Museum Käthe Kollwitz, pukul sembilan lebih sedikit, rekaman diambil dari kamera yang sama dengan kamera yang merekam aksi pencurian. Ludwig dan Roderich memaku fokus mereka kepada pergerakan Black Dove di layar televisi. Gilbert yang sejak tadi kelihatan merana akhirnya memutuskan untuk bergabung. Pikirannya dipaksa fokus, dan untungnya pria bersurai perak itu sedang dalam kondisi terlalu lelah untuk sekadar berkomentar tidak jelas.
Tidak ada yang mencurigakan dari gerakan Black Dove. Pencuri itu hanya berjalan santai ke arah dinding No More War yang telah dibubuhi capnya dengan sebuah lukisan di tangan. Tiba di depan dinding itu, Black Dove meletakkan lukisannya dengan hati-hati, lalu pergi begitu saja setelah lukisannya terpasang. Dan, ya, memang terlihat seolah lukisan itu tidak pernah pergi dari sana.
Setelah rekaman di Museum Käthe Kollwitz selesai, Ludwig mengganti tayangan di televisi menjadi rekaman di Museum Berggruen. Begitu terus sampai rekaman CCTV terakhir, yaitu rekaman CCTV di Museum Neues, berakhir.
Gilbert menoleh ke arah Roderich. "Si Kacamata pasti mau mengatakan sesuatu."
Roderich mengernyit, sebenarnya agak tertohok karena Gilbert dapat membaca tingkahnya. "Ada yang aneh dengan pengembalian lukisan ini."
"Apanya, Rod?" tanya Ludwig sambil menghentikan pemutaran rekaman sementara. Gilbert ikut menyimak.
"Kalau dia memang tidak mau dicurigai, kenapa tidak pasang lukisan palsu saja sejak awal?" tanya Roderich. "Kenapa baru dipasang sekarang? Kenapa Black Dove seolah merasa takut dan buru-buru mengembalikan lukisannya supaya penyelidikan polisi dihentikan?"
Gilbert menatap layar televisi dan Roderich bolak-balik sebelum berhenti di si pria berkacamata. "Bagaimana kaubisa menyimpulkan itu dari rekaman pengembalian hasil curian palsu tanpa cela tadi?"
"Tanpa cela," gumam Ludwig. "Tanpa cela itu rasanya terlalu menakjubkan."
"Gerakannya tidak kelihatan terencana," sahut Roderich. "Kalian pasti ingat. Di rekaman pencuriannya, gerak-gerik Black Dove selalu sama persis di setiap museum. Tidak berbeda barang sedikit pun. Hal itu menunjukkan kalau dia sudah sangat memikirkan dengan matang apa yang harus ia lakukan untuk mencuri lukisan itu. Berbeda dengan saat dia mengembalikan lukisan ini meski caranya berjalan di sana tetap kelihatan santai."
"Hoo ... jadi kau mencurigai tindak-tanduknya yang terkesan tidak terencana karena berbeda-beda di setiap rekaman?" Gilbert manggut-manggut, menanggapi. "Aku sependapat, sih. Setelah dipaparkan si Kacamata tadi, teorinya jadi masuk akal."
"Kalau dia merasa terancam," Ludwig menyela, "berarti dia merasa identitasnya ketahuan?"
"Hah?" Gilbert mengernyitkan dahi. "Bagaimana mau ketahuan, petunjuk yang ada saja samar semua!"
"Dia tidak tahu soal petunjuk," timpal Roderich sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Asumsiku, dia tahu bahwa dia tengah diselidiki oleh orang yang mungkin akan mengenalinya sebagai Black Dove."
Ludwig membelalak. "Jangan bilang―"
Roderich tersenyum tipis. "Kemungkinan besar Black Dove adalah orang yang kita kenal."
Tepat setelah perkataan Roderich selesai, ponsel pria itu berbunyi panjang tanda notifikasi telepon. Dilihatnya nama penelepon di layar. Rupanya Elizabeta. Roderich pun mengangkat telepon tersebut, mengisyaratkan Ludwig dan Gilbert untuk diam sejenak, lalu mengucap, "Halo, Liz?"
"Roddy! Kau di apartemen?"
"Ya." Roderich melirik arlojinya. Pukul sebelas lewat. "Kau?"
"Baru selesai kerja dan beli makan malam," jawab Elizabeta lewat telepon. "Aku ada di dekat apartemenmu. Boleh mampir?"
"Ada Ludwig dan Gilbert di sini." Roderich segera mengisyaratkan omongan Elizabeta kepada dua rekannya. Ludwig membalas dengan acungan jempol sementara Gilbert mengiakan dengan erangan pelan. "Kalau kau tidak keberatan."
"Oh." Jeda sejenak. "Apakah mereka keberatan?"
"Tidak."
"Kalau begitu aku akan mampir sebentar saja," kekeh Elizabeta. "Sudah dulu ya, Roddy! Sampai jumpa nanti!"
"Ya, sampai jumpa."
Roderich segera menerima tatapan penuh arti dari Ludwig yang sejak tadi memperhatikannya dan Gilbert yang sudah mengalihkan wajahnya dari sofa. Sang pria berkacamata hanya menatap kedua rekannya dengan heran, tetapi memutuskan untuk abai. Ditunjuknya layar televisi sambil berkata, "Ada baiknya kita tidak memperlihatkan itu kepada Liz."
Ludwig mengiakan. Segera dimatikannya layar televisi sebelum kekasih―atau calon kekasih―si pemilik apartemen datang. Gilbert, masih sambil bermesraan dengan sofa yang jadi tempat duduknya, bertanya, "Memangnya kenapa kalau si Elitatata lihat rekaman itu, Kacamata? Khawatir dia naksir pencuri dan meninggalkanmu?"
"Namanya Elizabeta," ralat Roderich untuk yang kesekian kalinya. "Tentu saja kautahu kalau penyelidikan ini belum boleh diketahui orang luar sampai ada sesuatu yang pasti yang dapat kita umumkan."
"Tapi Elizabeta kan pengacara, Rod," sahut Ludwig. "Kalau ada orang yang peduli terhadap penegakan keadilan, selain kita, dialah orangnya."
"Dengan catatan kalau suatu saat Black Dove berhasil kita tangkap, bukan Elizabeta pengacaranya." Roderich tersenyum pahit. "Sudahlah. Mana mungkin kita memperlihatkan bukti sepenting itu kepada orang luar?"
Tidak ada bantahan lagi dari kedua rekannya.
Beberapa menit berselang, bel pintu apartemen berbunyi. Roderich melirik ke luar jendela dan melihat Elizabeta di bawah sana. Segera ditekan tombol untuk membuka pintu utama dan dibukanya pintu apartemen. Sosok Elizabeta muncul di ambang pintu tidak lama setelah itu. Di tangannya ada sebuah tas tangan dan seplastik berisi makanan, seperti kemarin.
"Hai, Roddy!" sapa Elizabeta sambil menutup pintu apartemen pria itu. Dihampirinya sang pemilik apartemen dan dikecupnya cepat pipi Roderich. Elizabeta menoleh ke arah sofa di depan televisi lalu menyapa, "Hai juga kalian!"
"Kenalkan," Roderich menunjuk kedua rekannya bergantian, "Ludwig dan Gilbert."
"Halo," balas Ludwig sopan. Meski begitu, Roderich menangkap tatapan aneh dari Ludwig sejak pria pirang itu melihat Elizabeta masuk ke dalam apartemen. "Aku Ludwig."
"Gilbert," sahut Gilbert diiringi siulan. "Satu pertanyaan. Kok kau mau sih dengan si Kacamata ini?"
"Hei!" hardik Roderich ke arah Gilbert yang segera menyembunyikan wajahnya di balik sofa.
Elizabeta tergelak melihatnya. "Bagaimana ya ... aku suka pria serius, sih."
Roderich membuang muka, sementara Gilbert terlihat senang menjahilinya dengan tatapan duh-si-kacamata.
"Aku juga suka pria yang berkarisma," lanjut Elizabeta. "Oh! Dan yang tidak suka menjahili orang lain."
Kini giliran Roderich dan Ludwig menertawakan Gilbert yang tertohok. Elizabeta ikut tertawa geli sebelum menyatakan bahwa ia hanya bercanda.
"Ada apa nih kalian berkumpul?" tanya Elizabeta sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja makan. Roderich bantu membereskan. "Sepertinya Roddy tidak pernah cerita kalau kalian suka menginap bersama begini, jadi kuasumsikan ... hobi baru?"
Gilbert mendengus. "Mana mungkin berkumpul di apartemen si Kacamata ini jadi hobi?"
"Gilbert, kau diizinkan untuk tidak makan malam ini," desis Roderich.
"Oh! Tidak bisa begitu, Kacamata!" Gilbert buru-buru bangkit dari posisi tidurnya, tetapi Roderich sudah tidak acuh. "Hoi!"
"Kami hanya mencari suasana baru," jawab Ludwig. Wajahnya masih tidak seramah biasanya. "Kami juga datang ke apartemen Roderich untuk bekerja, kok."
Elizabeta menatap Roderich. "Kalian bekerja?"
"Ya, kami baru saja selesai melihat salinan rekaman CCTV," jawab Roderich. "Sekarang kami istirahat dulu."
"Ooh." Elizabeta manggut-manggut. "Bagaimana? Sudah ada titik terang?"
Roderich buka mulut. "Bel―"
"Bukti yang kami kumpulkan sudah cukup banyak," sela Ludwig sambil berjalan menghampiri meja makan. "Kami sudah punya dugaan siapa Black Dove itu sebenarnya, tetapi masih harus menyelidiki beberapa bukti."
Roderich dan Gilbert saling pandang, heran, tetapi memutuskan untuk tidak menyela Ludwig.
"O-oh, begitu." Elizabeta mengulas senyum tipis. "Kalian memang tim yang hebat, ya. Roderich sering memuji kalian berdua, lo."
Gilbert mendecak. "Memang si Kacamata itu tidak bisa apa-apa tanpa aku yang pandai mencari petunjuk ini."
Ludwig tertawa pelan. "Kami bekerja sama dengan baik."
"Sangat baik," sahut Roderich. "Termasuk dalam kasus ini."
Elizabeta mengangguk sebagai balasan. Ia lalu membuka satu demi satu bungkus makanan yang ia bawa lalu memberikannya kepada para pria di apartemen itu. Keempatnya makan bersama sambil bersenda gurau. Terkadang Elizabeta mengajukan pertanyaan, ada kalanya pula Elizabeta yang ditanya. Namun, pertanyaan apa pun yang diajukan pasti akan diarahkan Gilbert untuk menjahili Roderich yang tidak bisa berkutik di samping wanitanya.
.
Pagi itu, Roderich bersama dengan Ludwig dan Gilbert telah tiba di kantor mereka lagi. Semalam, Elizabeta akhirnya menginap lagi di apartemen Roderich. Roderich mempersilakan Elizabeta tidur di kamarnya sementara ia beserta kedua rekannya tidur di ruang depan yang kebetulan, berisi tiga sofa panjang. Roderich tidak pernah tahu kalau satu set sofa yang ia beli beberapa tahun silam akan berguna malam itu.
"Baru kali ini tidurku terasa nyenyak," ujar Gilbert sambil meregangkan badannya. "Mungkin aku harus sering-sering tidur di apartemenmu, Kacamata."
"Apartemenku tidak untuk disewakan," balas Roderich cepat. "Dan tidak gratis juga."
"Ah, kau ini memang cuma baik pada si Elitatata."
"Hei," panggil Ludwig yang sejak tadi diam. "Kalian mau minum kopi sebelum bekerja?"
Gilbert terkekeh sebelum merangkul pria pirang di sampingnya. "Mana mungkin kami menolak kebaikanmu, Pirang?"
Maka, seperti biasa, ketiganya melangkah ke pojok minum kopi. Roderich dan Gilbert langsung menduduki kursi biasa sementara Ludwig menghampiri mesin pembuat kopi.
"Jadi, bagaimana pendapat kalian soal Elizabeta?" tanya Roderich, mencoba membuka obrolan.
"Si Elitatata itu terlalu bagus untukmu," jawab Gilbert santai, "tapi terlalu bagus juga untukku."
"Elizabeta." Roderich menghela napas, tetapi kemudian diputuskannya untuk mengabaikan pendapat Gilbert yang satu itu. Pria berkacamata itu lalu berpaling ke arah Ludwig. "Menurutmu bagaimana, Lud?"
"Dia kelihatan baik," jawab Ludwig tanpa membalikkan badan. Dia masih menunggu cangkir pertama selesai diisi mesin. "Tapi ada sesuatu yang terasa janggal sejak aku melihatnya tadi malam."
Roderich menegakkan badannya. "Apa?"
"Aku masih tidak yakin." Ludwig mulai mengisi cangkir kedua. "Ada sesuatu yang terasa familier dari Elizabeta meski aku tahu aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya."
"Jangan bicara berbelit-belit begitu, Pirang," timpal Gilbert diiringi decakan pelan. "Kautahu aku paling benci orang yang bicara tidak jelas."
"Bukannya kau juga tidak jelas kalau bicara?" balas Ludwig sambil mengambil cangkir ketiga.
Gilbert mendengus. "Masalahku tidak usah diungkit-ungkit dulu."
"Sudah, sudah," lerai Roderich sambil mengarahkan telapak tangan kanannya ke depan Gilbert. "Kau tidak perlu menambahkan kalimat apa-apa lagi, Gil." Roderich mengarahkan pandangannya ke Ludwig yang masih mengisi cangkir ketiga. "Kau juga jangan menambahkan apa-apa lagi, Lud, tapi Gilbert benar. Katakan saja apa yang mau kaukatakan sebenarnya. Termasuk juga alasan mengapa kaubilang kalau kita punya banyak petunjuk untuk menguak identitas Black Dove, padahal kita masih menemui jalan buntu."
"Oh! Benar! Kata-kata itu!" Gilbert spontan menegakkan badannya. "Semalam aku sudah saling pandang mesra dengan si Kacamata, tapi kami putuskan untuk tidak menyela."
"Jangan gunakan deskripsi hiperbolis seperti itu, Gil," desis Roderich sambil menyipitkan matanya ke arah si pria bersurai pirak. Yang diperingatkan hanya membalas dengan kekehan ringan sebelum Roderich kembali fokus ke arah Ludwig. "Silakan jelaskan, Lud."
Ludwig memindahkan ketiga cangkir itu ke atas nampan lalu membawanya ke meja tempat mereka duduk-duduk. "Baiklah, tapi jawabannya tidak akan menyenangkan."
"Aku hidup untuk itu," sahut Gilbert sambil mengambil kopinya.
Ludwig mendengus pelan. "Sejujurnya, aku mencurigai Elizabeta terlibat dalam kasus yang sedang kita kerjakan." Jeda sejenak. "Bahkan, aku curiga bahwa Elizabeta adalah Black Dove itu sendiri."
Roderich jelas tidak terima, tetapi dia dapat menutupinya dengan baik. Dibalasnya ucapan Ludwig dengan tenang, "Kenapa?"
"Pertama, rasa familier yang kurasakan itu." Ludwig menggerakkan tangan kanannya. "Aku mengenali postur tubuh Elizabeta sebagai postur tubuh yang sama dengan Black Dove, meski aku juga yakin kalau ada banyak orang berpostur tubuh sama seperti itu. Kedua, ketertarikannya yang menurutku agak berlebihan untuk ukuran kasus pencurian lukisan. Dan ketiga, responsnya saat kubilang kalau petunjuk yang kita dapatkan sudah banyak itu tidak positif."
"Ah." Roderich melepas kacamatanya. "Itu sebabnya kau bilang kalau petunjuk yang kita miliki sudah banyak. Untuk melihat responsnya."
"Tapi apa Black Dove pasti si Elitatata?" tanya Gilbert dengan wajah ragu. "Apa kalian tidak kasihan pada si Kacamata kalau satu-satunya wanita yang mau jadi pacarnya itu ternyata penjahat yang harus kita tangkap?"
"Itu bukan sesuatu yang harus kaukhawatirkan, Gil," decak Roderich. "Kaupikir aku semenyedihkan itu?"
"Rod profesional, jadi bagian itu bisa kita pikirkan nanti," sela Ludwig. "Masalahnya sekarang adalah bukti. Kita tidak punya cukup bukti untuk menuduh siapa-siapa."
Gilbert menghela napas. "Apa saja bukti yang kita punya saat ini?"
"Kita hanya punya rambut palsu dari fiber, bulu kucing, dan kulit perempuan," jawab Ludwig. "Apa mungkin kita mendapatkan bukti lain?"
"Kulit yang kita temukan itu," Roderich buka suara, "apa DNA-nya bisa dianalisis?"
"Basch bilang bisa kalau kita punya sampel utuh," jawab Ludwig. "Sampel kulit yang ditemukan Gilbert tidak dapat memberikan informasi penuh, tetapi kalau ada sampel utuh dari seseorang, bisa saja dicocokkan."
"Kalau kita bisa menemukan sampel utuh, ya," gumam Gilbert sambil menyandarkan kepalanya ke meja.
"Kalau kita mencurigai Black Dove sebagai Elizabeta," Roderich memakai kacamatanya kembali, "apa kalian mau aku mengambil sampel DNA-nya?"
Ludwig dan Gilbert menatap Roderich horor. Ada hening sejenak sebelum Gilbert memutuskan untuk menyuarakan keheranannya. "Kau akan mengambil sampel DNA calon pacarmu untuk menyelesaikan kasus? Sungguh?"
Roderich mengernyit. "Aku tidak melihat alasan untuk tidak melakukannya."
"Tapi, Rod," Ludwig menyela, "apa kau yakin Elizabeta tidak akan merasa tersakiti karena secara tidak langsung kau menyatakan kalau kau menuduhnya?"
"Kaupikir aku akan baik-baik saja?" tanya Roderich dengan nada menantang. "Kita profesional, harus profesional. Kasus di atas segalanya, meski itu artinya menjebloskan kekasih yang seorang penjahat ke penjara."
"Bukan bermaksud memberikan ide buruk," Gilbert menimpali, "tapi apa kau yakin dengan pilihanmu ini, Kacamata? Aku dan si Pirang akan pura-pura tidak tahu kalau kau memutuskan untuk pergi bersama si Elitatata ke luar negeri dan menghilang selamanya sampai kasus ini ditutup karena kadaluwarsa."
"Aku benci mengatakan ini, tapi Gilbert benar," sahut Ludwig.
Roderich menghela napas. "Tidak, tidak, aku tidak mau memperburuk keadaan."
Ludwig menatap rekannya prihatin. "Jadi, apa yang akan kaulakukan sekarang?"
"Basch butuh sampel DNA, 'kan?" Roderich meraih ponselnya. "Aku akan mengirim seseorang ke apartemenku untuk mengambil semua sampel gelas yang belum dicuci. Tentu saja DNA kita juga harus diambil, untuk membedakan."
Gilbert bersiul pelan. "Ternyata malas mencuci piring ada hikmahnya ya, Kacamata."
Roderich mendengus pelan.
.
Pekerjaan di kantor hari itu telah selesai, begitu pula dengan analisis kecocokan DNA yang dilakukan Basch setelah beberapa orang petugas polisi mengambil gelas bekas pakai dari apartemen Roderich. Ada empat gelas di sana, dan seperti perkataan Roderich, ada DNA-nya, Ludwig, dan Gilbert pada tiga gelas. Pada gelas satunya, sialnya, ada DNA yang cocok dengan sampel DNA yang mereka dapatkan dari Museum Käthe Kollwitz. DNA Elizabeta, yang justru memperkuat dugaan Ludwig bahwa Elizabeta adalah Black Dove.
Liz adalah Black Dove?
Berkali-kali Roderich membatin dalam hati, masih tidak percaya dengan fakta yang didapatkannya. Sepanjang perjalanan pulang, pria itu tidak bisa lepas memikirkan bahwa orang yang sudah dikencaninya selama dua bulan terakhir adalah orang yang harus ditangkapnya. Kenapa orang yang sanggup membuat Roderich jatuh cinta untuk pertama kalinya justru adalah orang yang membuatnya sakit hati?
Roderich mencengkeram setir erat-erat. Sial, entah mengapa saat sedang sendiri begini, usul Gilbert untuk kabur ke luar negeri justru terdengar menarik. Ya, dia dan Elizabeta bisa saja bertemu malam ini dengan membawa barang seadanya, membeli mobil murah, lalu pergi entah ke mana selama tidak di Jerman. Kalau perlu yang jauh sekalian. Asia, mungkin? Sepertinya China, Korea, Laos, atau Kamboja bisa jadi pilihan yang menarik untuk memulai hidup baru. Oh, Indonesia juga boleh.
Sebelum menyetir pulang, Roderich sudah menelepon Elizabeta untuk mampir lagi ke apartemennya malam itu. Elizabeta menyanggupi dan mengatakan akan membawa makanan yang ia beli di dekat kantornya. Roderich asal mengiakan saja. Jangankan makan, bicara saja dia sudah kehilangan selera.
Tidak lama setelah Roderich tiba di apartemennya, Elizabeta tiba. Sesuai janjinya, wanita itu membawakan dua bungkus makanan di dalam sebuah kantung plastik putih.
"Hari ini aku bisa pulang cepat!" ujar Elizabeta saat memasuki apartemen Roderich. Diliriknya jendela apartemen yang menghadap ke langit. "Lihat, bahkan matahari belum terbenam!"
Roderich tertawa kecil menanggapi perkataan sang wanita. Lihat, bagaimana wanita manis seperti ini bisa jadi pencuri lukisan yang dicari seluruh polisi di seluruh Berlin?
"Kau belum makan kan, Roddy?" tanya Elizabeta sambil meletakkan kantung plastik dan tasnya di atas meja makan, seperti biasa. "Makanan yang kubawa ini cukup mengenyangkan."
"Karena kau akan bawa makanan, jadi aku tidak makan." Roderich duduk di salah satu kursi meja makan. "Memangnya apa yang kaubawa?"
"Aku juga tidak tahu ini apa," balas Elizabeta sambil mengeluarkan makanan tersebut dari dalam plastik. "Tapi kalau dari apa yang kubaca di depan kiosnya, ini nasi kelapa."
"Nasi kelapa?"
"Ya, dari Asia," tambah Elizabeta. "Sepertinya rasanya lezat. Wanginya sih menggiurkan sekali."
Roderich diam sejenak. Elizabeta menggeser nasi kelapanya ke arah Roderich, tapi pria itu diam saja. Masih ditimbangnya berkali-kali apa yang sebaiknya ia katakan kepada Elizabeta.
"Ada masalah, Rod?" tanya Elizabeta sambil menduduki kursi kosong di sisi lain meja makan. Rupanya wanita itu menyadari gelagat aneh Roderich.
"Begitulah," jawab Roderich pelan. "Kautahu soal kasus yang sedang kukerjakan, 'kan?"
Elizabeta mengangguk pelan. "Tahu."
"Dan kau juga tahu kalau petunjuk yang kami dapat sudah ... cukup."
"Ya ... setidaknya Ludwig bilang begitu kemarin."
"Ya, kemarin." Roderich menimpali. "Hari ini, identitas Black Dove sudah terkuak."
Senyum kecil terulas di wajah Elizabeta. Wanita itu mengembuskan napas panjang sebelum membalas, "Itu sebabnya kau memintaku datang ke sini."
Roderich mengangguk pelan. "Aku ingin mendengar pernyataanmu langsung."
"Kurasa menyembunyikannya lebih lama lagi juga tidak akan berpengaruh, 'kan?" Elizabeta menegakkan badannya. "Iya, Roddy, akulah sosok Black Dove yang kaucari selama ini. Aku yang mencuri lukisan-lukisan dari museum-museum di Berlin, dan aku juga yang mengembalikan lukisan palsu ke sana."
Roderich berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang. "Kenapa kau melakukannya, Liz?"
"Keluargaku diancam oleh semacam sindikat penjual benda seni di pasar gelap," jelas Elizabeta. "Mereka memintaku untuk mencuri beberapa lukisan yang sudah mereka buat daftarnya dari museum di Berlin. Kalau aku tidak menuruti perkataan mereka, keluargaku akan disiksa satu demi satu. Mereka dalam bahaya, Roddy, aku tidak mungkin menolak."
"Kenapa kau tidak bilang saja padaku?" tanya Roderich heran. "Kita sudah berkencan selama dua bulan, terlebih lagi, aku ini polisi."
"Karena aku tidak tahu siapa saja yang bisa kupercayai," jawab Elizabeta. "Dan mereka mengancamku untuk tidak lapor polisi, tentu saja."
"Kau sudah mengatakannya," desis Roderich. "Dan mari jangan disia-siakan. Apa saja yang kauketahui soal sindikat ini?"
"Rencana mereka sangat rapi, nyaris tanpa cela kecuali saat mereka menyuruhku mengembalikan lukisan palsu untuk membuat polisi lengah," jawab Elizabeta. Dugaan Roderich benar, rencana pengembalian lukisan palsu itu adalah rencana yang tidak disusun dengan baik. "Markas utama mereka ada di Hungaria. Tepatnya aku tidak tahu di mana, tapi orang-orang mereka tersebar ke seluruh wilayah Jerman dan sekitarnya. Mereka menjual barang seni di pasar gelap, tetapi aku tidak tahu apa-apa soal penjualannya. Aku sendiri tidak diberikan apa-apa dari hasil penjualan mereka, selain fasilitas untuk menunjang rencana mereka."
"Bagaimana dengan lukisan-lukisan yang sudah kaucuri?"
"Setelah kuserahkan kepada mereka, aku tidak pernah tahu lagi bagaimana kabarnya."
Roderich mengernyitkan dahi. "Bagaimana kau menyerahkan lukisannya?"
"Aku hanya meletakkannya di tempat yang mereka minta, lalu mereka akan mengambilnya," jelas Elizabeta. "Kami tidak pernah bertatap muka."
"Kami akan mencoba melacak sindikat ini," ujar Roderich tegas. "Aku akan memintamu menyerahkan diri, tetapi kau tidak mungkin melakukannya sampai keluargamu dipastikan aman. Sampai waktu itu tiba, bisakah aku memintamu untuk tidak melakukan pencurian lagi?"
Elizabeta tertegun. "Tidak bisa kalau mereka memintaku untuk melakukannya."
"Tidak bisa minta perpanjangan waktu juga?"
Elizabeta menggigit bibirnya lalu menggeleng pelan. "Aku pernah melakukannya satu kali, dan ibuku―"
"Tidak usah dilanjutkan, Liz," potong Roderich cepat. "Baiklah. Kami akan melacak sindikat ini secepat mungkin. Bagaimana cara dia menghubungimu?"
"Lewat pesan," jawab Elizabeta sambil menyerahkan ponselnya. "Selalu dengan nomor yang berbeda, tetapi tidak pernah bisa ditelepon meskipun aku mencoba menggunakan telepon umum. Dikirimi pesan balik pun tidak bisa."
Roderich menerima ponsel itu lalu melihat-lihat isinya. Benar kata Elizabeta. Selain pesan Roderich, yang ada hanya pesan dari nomor tidak dikenal yang seluruhnya berisi perintah untuk melakukan ini dan itu. Hati Roderich terasa sakit mengetahui fakta bahwa orang yang dicintainya harus tersakiti seperti ini.
"Aku akan melacak sindikat ini," tegas Roderich. Digenggamnya tangan Elizabeta erat-erat dan ditatapnya iris hijau berbinar milik sang wanita. "Aku janji."
Elizabeta mengangguk pelan.
.
Roderich beserta kedua rekannya bekerja super cepat. Mereka bekerja sama dengan divisi teknologi kepolisian pusat untuk mencari sindikat yang "mempekerjakan" Elizabeta itu. Satu minggu berlalu dan akhirnya terkuaklah identitas para anggotanya. Mereka segera menghubungi Kepolisian Pusat Budapes untuk membereskan sindikat yang bermarkas di kota itu. Tim terbaik dari Berlin juga diturunkan. Singkat cerita, sindikat itu berhasil ditangkap. Keluarga Elizabeta pun bebas dari ancaman.
Sementara itu, sesuai perkataan Roderich, Elizabeta menyerahkan diri setelah sindikat yang rupanya bernama Black Dove itu diamankan. Elizabeta mengakui semua perbuatannya dan menyatakan bahwa ia dipekerjakan oleh Black Dove. Beberapa kali Elizabeta harus mengikuti sidang, memberi pernyataan atas hal yang sama berulang kali. Akhirnya, wanita itu divonis penjara satu tahun. Hukuman Elizabeta diringankan karena wanita itu menyerahkan diri, dan karena dia melakukan kejahatan atas dasar ancaman.
Satu bulan setelah Elizabeta masuk penjara, Roderich datang mengunjunginya bersama Ludwig dan Gilbert. Meski Elizabeta kelihatan menyedihkan dengan seragam oranye yang dikenakannya, tetapi Roderich justru menangkap kelegaan pada wajah sang wanita.
"Roddy," sapa Elizabeta dengan senyum.
Roderich tersenyum. "Liz."
"Memang si Elitatata ini hanya peduli pada si Kacamata, ya," ujar Gilbert sambil merangkul Ludwig. "Aku bertanya-tanya kenapa kita harus ikut kalau begitu. Ya kan, Pirang?"
Sang wanita mengalihkan pandangan ke arah dua pria di samping Roderich. "Ludwig, Gilbert."
Ludwig tersenyum kecil. "Maafkan pria jomlo ini, Elizabeta."
Gilbert melirik. "Jomlo?!"
Elizabeta tergelak pelan. "Tidak apa-apa, kok. Aku yang minta maaf."
"Kau kelihatan baik-baik saja," tambah Ludwig.
"Terima kasih," balas Elizabeta. "Sedangkan kalian ... tidak."
Elizabeta tidak salah. Ketiga pria yang ada di hadapannya saat itu memang tidak sedang berada pada kondisi yang prima. Yah, tentu saja itu semua adalah efek dari menginap di kantor, minum kopi bergelas-gelas sehari, mengerjakan laporan kasus dua puluh empat jam, dan tidak menerima makanan satu plastik penuh dari wanita yang kini sedang dipenjara.
"Kami baik-baik saja," sela Roderich. "Tidak usah khawatirkan kami."
"Sebenarnya kami tidak baik-baik saja," timpal Gilbert. "Si Kacamata ini hanya ingin kelihatan keren di hadapanmu."
Elizabeta terkekeh. Kini dia dapat melihat lebih jelas betapa senangnya Gilbert mengganggu Roderich. "Kalian harus makan yang benar. Terutama kau, Roddy."
"Dia menunggumu keluar dari penjara," Gilbert menyela lagi. "Sepertinya dia rindu dibelikan makanan tiap malam."
Roderich menoleh. "Gil, sekali lagi kau bicara―"
"Kurasa ini saat yang tepat untuk keluar!" seru Gilbert sebelum Roderich sempat menyelesaikan kalimatnya. Pria bersurai perak itu menarik Ludwig yang masih ia rangkul sambil berkata, "Aku dan si Pirang akan menunggu di mobil!"
Ada hening sejenak setelah Ludwig dan Gilbert keluar dari ruang pertemuan di penjara itu. Dehaman pelan meluncur dari mulut Roderich, memecah hening. "Tapi Gilbert tidak salah. Aku memang menunggumu keluar dari penjara, Liz."
Elizabeta tersenyum tipis. "Kau masih harus menunggu lama untuk itu."
"Aku bisa menunggu," tegas Roderich. "Bagaimana denganmu?"
Elizabeta terperangah. "Aku?"
Roderich mengangguk mantap. "Apa aku pernah bilang kalau hubungan kita akan seperti ini terus? Tidak, 'kan?"
"Roddy―"
"Aku serius, Liz," sela Roderich, "dan aku ingin hubungan kita juga sama seriusnya."
Elizabeta mendengus geli. "Siapa yang mau dengan mantan narapidana?"
"Aku mau."
"Mungkin cuma kau."
"Tidak juga, tapi, yah," Roderich terkekeh pelan, "mungkin."
Senyum di wajah Elizabeta melebar. Ditariknya tangan Roderich dan dipeluknya erat-erat pria itu. Roderich tersenyum kecil. Dibalasnya pelukan Elizabeta dengan sama eratnya.
"Kautahu, Roddy." Elizabeta melepas pelukannya. "Aku tidak keberatan memulainya sekarang daripada harus menunggu sebelas bulan lagi."
Roderich mengernyit. "... apa itu permintaan lamaran?"
"A-ap―tentu saja bukan yang itu!" Wajah Elizabeta memerah. "Itu sih memang harus menunggu!"
Tawa pelan menghiasi bibir Roderich. "Iya, Liz, aku tahu."
Elizabeta mengulas senyum. Wanita itu kembali menarik tangan Roderich, tetapi kali itu ia tidak memeluknya. Elizabeta justru melayangkan kecupan pelan ke pipi sang pria. "Aku menyayangimu, Rod. Sampai jumpa sebelas bulan lagi."
Roderich menoleh dan mengulas senyum lebar. "Aku juga, Liz."
.
.
.
FIN
