Actions

Work Header

back to past

Chapter Text

Musim panas waktunya liburan panjang dan itu membuat Sherlock sangat bosan, buku-buku dirumahnya telah ia baca semua menambah kebosannya. Ibunya sedang pergi ke acara arisan para nyonya, ayahnya berada diluar, dan kakaknya itu entah kemana sejak tadi, Sherlock semakin bosan karna tak ada setidaknya seorangpun yang dapat ia aja bicara, para pelayan? Mereka sedang sibuk Sherlock tidak mau mengganggu mereka. Tiba-tiba suatu ide muncul di kepalanya, ia akan ke toko buku, membeli buku baru berharap itu dapat menghilangkan bosannya.

Sherlock menghampiri tempat kereta kuda keluarganya, beruntung ada satu tersisa jadilah Sherlock menyuruh kusir yang berjaga saat itu bersiap dan akan ia tunggu di depan rumah. Tak butuh lama sang kusir menyiapkan kereta kudanya dan Sherlock langsung menyuruh sang kusir untuk pergi ke toko buku paling dekat, mau kecil ataupun besar yang terpenting dekat, karna Sherlock tak mau berlama-lama di luar.

Dan sampailah ia di toko buku terdekat dari rumahnya. Sebuah toko buku kecil namun terlihat dari jendela besar toko itu bahwa toko itu menjual banyak buku yang tak kalah banyaknya dari toko buku besar di luar sana.

Entah takdir apa tapi saat Sherlock ingin masuk ke toko buku kecil itu ia langsung berhadapan dengan Liam, langsung saja muka Sherlock antusias melihat Liam, sedangkan william tersenyum dan menyapanya.

"Wow kebetulan sekali kita bertemu" ucap Sherlock setelah membalas sapaan william

"Iya^^"

"Kau beli buku apa?" Tanya Sherlock melihat bungkusan yang pada bungkusnya jelas terlihat logo toko buku ini

"Buku tentang algoritma" jawab Liam sambil menunjukan buku yang jelas sekali terbungkus itu

"Ohh" sejujurnya Sherlock tidak tau tapi ia berusaha bereaksi seperti tau.

"Kenapa sampai di toko buku kecil ini?" melihat toko buku ini diperkirakan jauh karna berada di dearah barat.

"Semua toko buku tidak ada yang menjual edisi ini, kebetulan hanya toko ini yang menjualnya, kau mau beli buku apa Sherlock?"

"apa saja yang dapat ku baca" Sherlock berbicara asal, tapi dibalas tertawa kecil oleh Liam kemudian dia berucap

"Semua buku dapat dibaca Sherlock" william menjawab ucapan sherlock sambil masih terkik kecil karena ucapan sherlock

"Ya semua buku dapat ku baca kecuali dirimu" Sherlock terpanah dengan suara tertawa Liam, seumur-umur baru kali ini dia mendengar suara tertawa Liam, jadilah karna terpanah ia berbicara seenaknya saja

"Maaf?" tanya william bingung, dia berpikir mungkin ia salah dengar

"Ahh abaikan saja ucapaku, mungkin efek karna cuaca panas"

"Hahaha baiklah, sampai jumpa Sherlock" hahaha benar aku salah dengar saja sepertinya, batin william

"Sampai jum-"

"Ahh ada yang ingin ku katakan padamu” kata-kata william terhenti, terlihat sekali sepertinya ia sedang menimbang sesuatu

“aku dan saudara-saudara ku tidak tinggal lagi di rumah paman Rockwell, ehmmm mungkin kau ingin berkunjung ke rumah ku"

𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘪𝘱𝘪 𝘓𝘪𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯ku 𝘴𝘢𝘫𝘢?

"Ya, kapan-kapan aku akan ke rumah mu"

"Sampai jumpa Sherlock"

"Sampai jumpa"

Mata Sherlock tidak lepas bahkan ketika kereta kuda william menjauh dirinya baru bisa melepaskan tatapannya. Kini ia lupa dengan maksud tujuannya datang ke toko buku tapi ia langsung ingat ketika melihat seseorang keluar dari toko buku di belakangnya, jadilah ia masuk dan cepat membeli buku kemudian cepat pulang.
Saat perjalanan pulang Sherlock terpikir dengan pikirannya tentang alasan kenapa ia disini Tuhan memberiku kesempatan untuk menemui Liam dan mencegah rencananya sejak dini. Pikiran itu cukup logis menjadi alasannya untuk kembali ke masa lalu memberinya kesempatan untuk mengubah masa depan, untuk mengubah yang akan terjadi dimasa depan, mengubah terbentuknya lord of crime pada diri William. Kebakaran di mansion lama Moriarty menjadi awal, dan kebakaran itu telah terjadi, maka Sherlock akan menghentikan itu sebelum membesar.

***

Hari ini hari Minggu terakhir di liburan musim panas, Sherlock memutuskan untuk pergi ke rumah william, berharap juga ia lebih mengetahui tentang William sehingga ada alasan lebih untuk menghentikan rencana berdarahnya.

Sherlock sangat mengetahui rumah william, meski dirinya di masa depan hanya pernah sekali berkunjung ke rumah bangsawan itu. Dan hari ini terhitung kedua kalinya ia berkunjung ke rumah william, tapi dengan tubuh ini, ini kali pertamanya ke rumah william.

Sherlock menyuruh kusir yang membawa kereta kudanya agar berhenti saja tepat di jalanan di depan rumah william, ia tahu kediaman Moriarty sangat tertutup dan mudah sekali di curigai oleh anggota keluarga yang lain jika ada orang luar yang mencolok masuk ke kediamiannya, jadilah Sherlock akan berjalan kaki saja dari gerbang rumah moriarty sampai ke pintu depan.

Ketika Sherlock mengetuk, seorang anak yang sekiranya lebih muda darinya membuka pintu, Sherlock tau benar siapa itu, adik Liam, Louis. Sherlock berusaha sangat ramah kepada Louis karna ia tahu sendiri seberapa keposesifannya terhadap william

"Selamat siang" ucap sherlock ramah

"Siang, mencari siapa?" tanya louis dengan ekspresi datarnya.

"Liam..maksudku William"

"Ada"

"Aku temannya, Sherlock, beberapa hari lalu William mengundangku ke rumahnya"

"Tunggu sebentar" setelah itu Louis menutup pintu dan sepertinya memanggil william karna tak lama william keluar dan menemui sherlock

"Ahh Sherlock, masuklah" ucap william dengan antusias ketika melihat sherlock

Sherlock bersyukur tidak seperti adiknya, Liam langsung mempersilahkan masuk, syukurlah ia tidak terlihat terusir karena menunggu di luar lebih lama

"Terima kasih"

Setelah itu mereka mengobrol lama sampai matahari yang tadinya masih tampak di atas kini sudah tergelincir ke arah barat siap kembali ke peraduannya.

"Ahh sudah sore Liam, waktunya aku pulang" ucap sherlock sambil menatap langit senja dari jendela ruang tamu keluarga moriarty

"Menyenangkannya punya teman mengobrol seperti mu, maukah kamu kembali lagi kesini" ada nada tak rela dari william tapi ia berusaha untuk tak terlihat sejelas mungkin

Sejujurnya Sherlock pun sama ia tak rela harus berpisah dengan william dan juga menganggap waktu yang mereka berdua habiskan sangat menyenangkan, dan kalau seperti ini juga dirinya untuk mendekati dan menghentikan rencana berdarah william akan semakin mudah.

"Aku juga senang, mungkin lain kali kamu yang ke rumah ku kita akan mengobrol lagi" jawab sherlock. Sherlock sangat percaya diri mengundang william ke kediamannnya karna kediamannya saat ini sangat pantas untuk berlian seperti william datangi.

"Terdengar menyenangkan tapi adikku masih dalam penyembuhan dan tidak boleh keluar artinya aku juga tidak boleh keluar karna adikku akan mengikutiku" ucap william dengan nada menyesal

"Ahh begitu, kalau begitu aku yang akan terus ke rumah mu, tak apa kan?"

"Tak apa tapi kalau itu tidak merepotkannmu"

"Tidak, tidak. Baiklah kalau begitu, sampai jumpa Liam"

"Sampai jumpa Sherlock"

Sherlock melambaikan tangannya pada William, yang masih berada di pintu rumahnya. Hari yang menyenangkan kalau Sherlock bilang.

***

Di dalam kereta kuda Sherlock memikirkan obrolannya tadi dengan Liam, meski tidak secara gambang tapi Sherlock tau Liam tidak sepertinya yang meloncati waktu, maka Sherlock juga menanyakan pertanyaan yang bisa memberi pencerahan kepada Sherlock.

"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘸𝘢𝘯" 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘞𝘪𝘭𝘭𝘪𝘢𝘮, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘤𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘰𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘓𝘰𝘯𝘥𝘰𝘯

"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘸𝘢𝘯"

"𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵"

𝘚𝘩𝘦𝘳𝘭𝘰𝘤𝘬 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘓𝘪𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘚𝘩𝘦𝘳𝘭𝘰𝘤𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘸𝘪𝘭𝘭𝘪𝘢𝘮

"𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢-𝘮𝘦𝘯𝘢"

"𝘖𝘰𝘩"

 

Tanpa terasa dirinya telah sampai di rumah, dan Sherlock langsung turun dari kereta kuda itu (kereta kuda itu bukan milik keluarganya hanya kereta kuda sewaan makannya mengantarnya sampai gerbang rumahnya)

Saat Sherlock hendak membuka gerbang rumahnya seorang lelaki gendut menyapanya.

"Selamat sore tuan Sherlock"

Sherlock pun menyapa balik. Sherlock pikir laki-laki itu hanya sekedar ingin menyapanya tetapi laki-laki gendut itu berucap yang membuat Sherlock menghentikan kegiatannya membuka gerbang.

"Hentikan calon lord of crime itu"

"Apa maksudmu?" Sherlock menatap laki-laki itu dengan serius meminta penjelasan lebih.

Tetapi laki-laki itu hanya tersenyum dan berlalu pergi, membuat sebuah tanda tanya besar di kepala Sherlock, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘰𝘳𝘥 𝘰𝘧 𝘤𝘳𝘪𝘮𝘦 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪?

Notes:

hallo mungkin ada yg pernah baca sebelumnya cerita ini. ya aku repost buat edit sana sini.