Chapter Text
Gran, beberapa tahun menjelang kepala dua. Saat ini bekerja sebagai pencuri bayaran, dalam artian sama seperti tentara bayaran: ada uang, ada jasa, ada barang curian. Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak… kapan ya? Jeda beberapa tahun setelah ditinggal Ayahnya bepergian dan tak pernah pulang. Sekitar sebulan setelah saudari kembarnya diterima bekerja sebagai tenaga medis istana.
Diminta menceritakan peristiwa yang sudah lama, Gran kesulitan mengingat. Akan tetapi, kalau soal kenapa bisa sampai berurusan dengan petinggi Ordo Ksatria begini—nah, yang itu Gran masih bisa ingat. Baru kemarin soalnya ia diminta mencuri formula eksperimen terbaru sang Alchemist tersohor se-Lumacie. Imbalannya pun tidak main-main; potongan peta menuju Estalucia, tempat tujuan sang Ayah yang tak kunjung kembali. Permintaan dioper (?) lewat seorang berseragam prajurit. Wajah prajurit itu pucat pasi. Tangannya gemetar tak karuan ketika menyerahkan surat dari sang Atasan. Mengingat intrik politik di Istana yang, yah, begitulah, Gran tak ambil pusing dan langsung menerima pekerjaan ini.
Saat itulah, Gran membuat ‘kesalahan’ terbesarnya.
Di belakang punggung sang Interogator, si Prajurit yang dipaksa tetap tinggal tidak berani menatapnya sama sekali. Meskipun posturnya tegap dan layak diserahi medali penghargaan, keringatnya mengucur deras. Bukan karena kepanasan, Gran yakin itu. Suhu ruangan bawah tanah ini sejuk, soalnya.Ditambah kehadiran sang Alchemist alias target asli, sosok lelaki berparas dingin nan tak bersahabat, Gran merasa suhu udara di ruangan ini jadi seperti pertengahan musim dingin.
Lelaki berambut jabrik yang ambil peran jadi interogator berdehem dua kali.
“Jadi, Gran. Pencuri bayaran. Delapan belas—tunggu, ini masih awal tahun. Bulan Juli masih lama jadi—tujuh belas tahun? Wow. Tujuh belas tahun dan nekat jadi pencuri bayaran. Idolamu Robin Hood?” Si Interogator menyeringai. Dibalas dengan ringisan. “Kalau boleh jujur, aku lebih suka Chat Noir. Dan menjawab Anda, Sir, jadi pencuri bayaran lebih menguntungkan daripada pahlawan lokal.”
“Berarti menurutmu pekerjaanku tidak menguntungkan…?”
“Um. Pahlawan lokal, dalam artian yang mengusir preman pasar. Bukan Ordo Ksatria yang jelas ditanggung keuangan Istana.”
Si Interogator angguk-angguk paham. Kertas di tangan dilipat rapi, lalu dikoyak dan dilempar begitu saja ke udara. Kertas yang, seingat Gran, merupakan surat penangkapannya. Sekaligus laporan dari prajurit jaga yang menyeretnya ke laboratorium bawah tanah ini. Yang mana merupakan dokumen penting untuk catatan kriminalnya.
Dari sudut matanya, Gran menangkap si Prajurit Kurir gemetar tak karuan. Wajahnya seperti akan menangis.
Ini ada apa sebenarnya?
“Yak. Cukup sampai di sini pura-puranya. Terima kasih kerjasamanya, Juri. Tugasmu selesai. Sampaikan salamku pada komandanmu, bilang padanya tawaranku masih berlaku~”
Dan sang Interogator dihadiahi tamparan keras di punggung.
Gran refleks meringis. Dari suara yang menggema keras, bisa dibayangkan betapa menyakitkannya tamparan itu.
“Cepat selesaikan urusanmu. Aku harus laporan ke si Bodoh itu sebelum dia pergi siang ini,” ujar si pelaku penamparan, alias sang Alchemist Istana berambut keperakan. Nada bicaranya sedatar ekspresinya; hampa emosi, dingin, dan berpotensi membuat bulu roma merinding. Lawan bicaranya mengelus punggung sambil tertawa. “Duh, Cilius. Buru-buru amat ketemu Lucio. Santai aja, ‘kan bisa laporan lewat merpati kurir~”
“Memang kau tahu kemana tujuan si Bodoh itu kali ini?”
“Oke. Gran. Tanpa buang-buang waktu lagi, dengan ini kunyatakan kau lulus!”
Hah.
‘Cilius’ beranjak dari tempat duduknya, pergi tanpa pamitan keluar ruangan. Gran ditinggal berdua dengan si Interogator, perasaannya berubah dari tidak enak menjadi amat tidak enak. Si Interogator cengar-cengir mencurigakan, kedua tangan dilipat di depan dada. “Kaget? Bingung? Masih mau kujelasin atau mau ketemu langsung sama orang yang ngerancang ujian perekrutan mata-mata khusus buatmu ini?”
Gran angkat telapak tangan kiri. Tangan kanan dipakai memijat dahi yang berdenyut keras. Duh, kepalanya mendadak pusing berat…
“Tunggu sebentar, Sir. Barusan anda bilang—“
“Ini ujian perekrutan khusus buatmu, yep.”
“—buat jadi mata-mata.”
“Yep yep.”
“Tanpa sepengetahuan saya…?” Pada titik ini, Gran sudah menyerah. Gagal paham dia. “Bukannya kalau ujian perekrutan harus ada pendaftaran atau semacamnya?”
Lelaki berseragam putih dengan hiasan selendang (?) merah itu berdecak. “’Kan sudah kubilang, ini ujian khusus buatmu. Lucio lagi butuh bawahan baru—“
“Memangnya yang lama kenapa? ‘Lucio’ itu siapa?”
“—dan dia bisa dibilang paham betul intrik politik Istana gimana, jadinya ogah ngerekrut dari rekomendasi jejeran menteri lainnya—“
“’Lucio’ ini menteri?”
“—terus dia dengar soal kasusmu dari beberapa bangsawan yang komplain rumahnya kemalingan benda berharga ke Lucifer. Entah dapet wangsit jenis apa, dia mendadak bilang mau ngerekrut kamu—“
Gran angkat kedua tangan. Kepala tertunduk, garis hitam menggantung manis di atas kepala. “Jadi kesimpulannya, aku diminta mencuri formula eksperimen terbaru ‘Cilius’ sebagai kedok ujian perekrutan jadi bawahan ‘Lucio’, dengan deskripsi tugas utama jadi mata-mata.”
“Bingo!”
“Apa aku masih punya pilihan menolak?”
“Ah, sayang sekali. Padahal kami beneran punya potongan peta ke Estalucia.”
Kepala berambut cokelat muda terangkat cepat. Sepasang mata sewarna kayu ek memfokuskan perhatian pada potongan kertas di tangan berlapis sarung tangan hitam.
Potongan peta besar menuju Estalucia.
Lebih tepatnya, potongan pojok kiri bawah. Kertasnya sudah agak menguning, tetapi warna biru simbol lautan dan cokelat tua simbol daratan masih belum pudar.
Cengiran bercanda yang sejak tadi menghiasi wajah sang Interogator menghilang. Posisinya digantikan senyuman lebar. “Bagaimana, Gran? Jadi mata-mata Ordo Ksatria Lumacie banyak untungnya, lho. Akses ke tempat yang mungkin punya potongan peta lain jadi lebih mudah. Hidupmu juga terjamin; biaya hidup ditanggung Ordo, tempat tinggal sudah tersedia, dan kau juga bebas mengunjungi kembaranmu.” Potongan peta yang diapit dua jari dilambaikan. Menggoda, menggoda, menggoda. “Catatan kriminalmu juga akan dimusnahkan. ‘Gran si Pencuri Bayaran’ akan lenyap, digantikan ‘Gran si Bawahan Langsung Juru Bicara Istana’.”
Gran memejamkan mata. Kaki diketukkan ke lantai, ritmenya terburu bak dikejar bahaya besar.
Jeda sejenak.
Ada napas ditarik dalam.
“Kalau semisal aku menghilang dalam misi, apa Djeeta masih terjamin hidupnya?”
“Selama kesetiaanmu masih tetap pada atasanmu, semua aman.”
‘Pada atasan’. Bukan pada ‘Lumacie’. Lagi-lagi, intrik politik istana kah?
Frustasi, Gran mengacak-acak rambut. Ditertawakan sang Interogator, tentu saja. Bahkan saat Gran menerima penawaran itu dan meminta dibawa menemui atasan barunya, si Interogator masih tertawa sampai menepuk meja.
Sedikit ketus, Gran berceletuk, “Apa nasibku sebegitu lucunya di mata Anda, Sir?”
“Oh, berhentilah memanggilku begitu! Aku rekan sejawatmu sekarang, jadi enggak usah pakai embel-embel ribet.” Ah, akhirnya dia berhenti tertawa. Air mata diseka dengan bahu bergetar. “Sini, kuantar ke taman. Ini belum jam makan siang, jadi harusnya Lucio belum pergi keluar kerajaan lagi...”
Gran mendengus keras. Mengikuti si lelaki berambut cokelat tua, ia beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju pintu keluar. Lalu si Interogator tiba-tiba berhenti. Wajah Gran sudah sejengkal membentur punggung yang barusan ditampar keras.
“Ngomong-omong, aku belum ngenalin diri, ya?”
Gran mengangguk malas.
Lawan bicaranya balik badan. Agar wajahnya bisa berhadapan langsung dengan wajah Gran, ia sedikit membungkuk. Tangan diulurkan, menunggu untuk dijabat.
“Namaku Belial, ajudan Lucifer merangkap asisten Cilius—Sir Lucilius untukmu.
Semoga harimu sebagai bagian dari Ordo Ksatria Lumacie menyenangkan, Gran~”
