Work Text:
"Rasanya kamu ini jarang tersenyum, ya, Shuu?"
Yang terpanggil berpaling dari terang nyala percikan di ujung kembang api yang tengah digenggam menuju sosok lelaki lain yang sedang ikut berjongkok di sebelah. Kepalanya sedikit menunduk untuk menatap apron merah muda mencolok dengan cipratan cokelat yang kentara, lalu netra keunguannya bergulir hingga kembali bertumbuk dengan sepasang netra hijau muda pada kedudukan mereka yang sejajar. Satu alisnya meninggi. Shuu tidak mengerti kenapa Minato tiba-tiba membuka percakapan dengan pertanyaan itu. Mengingat pribadi Minato, Shuu malah ingin menanyakan hal yang sama. "Aku sering tersenyum, kok," kilahnya.
Minato mengerjap dalam nyanyian tonggeret yang mengentalkan atmosfer musim panas di pekarangan rumah keluarga Fujiwara. Bibirnya tak lagi berucap. Perhatian beralih pada sekotak penuh berisi sekumpulan kembang api, mengambilnya sebatang, lalu menyodorkannya pada Shuu.
Shuu mengerti arti dari kode yang dilayangkan Minato. Dengan segera ia nyalakan pemantik dan menyudutkan api itu hingga ujung kembang api yang digenggam Minato memercik warna jingga hingga merah dalam spektrum mendekati kuning dan residu yang perlahan berjatuhan di sela rerumputan. Permainan berbagai warna seakan menghipnotis, membawa alam bawah sadar Shuu hanyut di lautan memori, membuatnya ingat pada momen-momen kala dua ujung bibir saling menarik—yang ternyata lebih sering terjadi ketika Minato tengah berpaling darinya.
Ketika Shuu tersenyum pada sosok Minato, itulah saat Minato terfokus pada target panahan.
Ketika Shuu tersenyum pada sosok Minato, itulah saat Minato sibuk menyiapkan makan malam.
Ketika Shuu tersenyum pada sosok Minato, itulah saat Minato tengah terlelap.
Sekarang, Shuu paham mengapa Minato bertanya perihal senyum dari dirinya yang selalu absen di penglihatan pemuda itu.
Tangkai kembang api yang sedikit bergerak mendekatinya membuat Shuu kembali menjejak di tanah kesadaran diiring sedikit hentak. Sosok Minato terefleksi pada dua netra sewarna lavender miliknya. Lengkung manis yang terpatri di wajah itu membuat seulas senyum Shuu merekah tak tertahan berkat ajakan dari pesona Minato yang lembut.
Minato sadar akan hadir indera penglihat yang melakat pada utuh tubuhnya. Ia menoleh hingga dua mata sewarna dedaunanya saling berikat tatap dengan milik Shuu. Deret gigi Shuu yang rapi membuat kuncup dalam inti dirinya merekah hingga dua pipi memerah. "Lihat? Kamu lebih tampan kalau tersenyum, Shuu."
"Kamu juga, Minato."
Sepasang sejoli itu kemudian saling menelan eksistensi pada semesta dalam ruang hitam yang dikelilingi selaput pelangi masing-masing, yang berbinar diterangi sinar rembulan penuh. Selaras dengan debar yang kian menggema dalam ruang dada, ada jarak yang terkikis antara wajah para pecinta yang bersiap meniadakan celah.
Nyaring suara bel menyentak dua pria itu dan meninggalkan mereka dalam janggal. Dalam satu detik yang cepat mata keduanya tampak membulat dengan wajah pucat kentara dan senyum yang sirna. Minato mendeham guna mencairkan suasana, lalu segera memberikan kembang apinya yang nyaris habis pada Shuu dan bangkit untuk menepuk apronnya sebelum melesat menuju dapur demi mematikan alarm yang menandakan berakhirnya waktu memanggang kue.
Shuu merasakan jejak debam yang kuat menghantam di dadanya berkat keindahan akan persona Minato yang tidak juga hilang dalam imaji meski raga Minato tak lagi terlihat. Senyum Shuu lebih lebar dari yang sebelumnya selagi berpikir.
Mungkin, akan jauh lebih baik jika sejak detik ini ia memperbanyak senyum di depan Minato—demi balas senyum Minato yang sukses membuat Shuu mencapai titik terdamainya hingga semakin mantap untuk meminang lelaki itu kelak.
