Chapter Text
( I )
10 RULES
Ini masih terlalu pagi untuk berdiskusi, tapi seseorang membuat Jungkook terpaksa untuk meninggalkan kamarnya yang masih berantakan oleh barang-barangnya sendiri. Coba tebak, hanya untuk apa?
Untuk mendengar sesuatu yang cukup, ugh ... merepotkan?
Jungkook sudah dipersilakan duduk di hadapan orang itu, disodori sebuah buku bersampul hitam, suruh-suruh dia untuk baca sendiri tulisan-tulisan yang ada di sana. Sempat Jungkook bertanya buku apakah itu dan tujuan apa yang menanti jika Jungkook selesai baca tiap lembarnya. Namun sayang sekali pemilik rumah sewa yang ia tempati hanya diam dan menggumamkan ‘baca saja, Jeon Jungkook-ssi. Kau sangat membutuhkannya.’
Sungguh penuh teka-teki dan Jungkook terlalu malas untuk mengira-ngira.
Apa-apaan itu? Apa yang akan Jungkook sesali apabila ia lewatkan satu kata saja dari sana? Apa yang Jungkook butuhkan dari isi buku tidak jelas ini? Kenapa Jungkook harus membacanya? Hm. Jungkook dengan segala pikiran yang bobotnya sungguh overthinking mulai mengibas bayang-bayang imajiner yang menguap dari ubun-ubun.
Jungkook bergumam sambil ia tatapi buku itu. Dia jadi penasaran, omong-omong. Kalau tidak penting sekali awas saja, ya! Ancamnya dalam hati.
“Tata Tertib Penyewa Rumah.”
Oh, tata tertib, ya. Oke, Jungkook memang bertanya-tanya tentang itu sedari kemarin, sih. Mari Jungkook mulai.
Jungkook mengawali dengan semangat, dengan senyum-senyum kecil yang ramah, dan dengan hati yang tenang. Kedua mata bergulir seiring bibir yang bergerak pasti. “Tidak boleh telat membayar sewa per-bulan, tidak ada pengecualian.” Sebentar, Jungkook merasa janggal. “Um, tunggu.” Berpikir kilat, lalu menatap tepat di kedua mata cokelat di seberang. “Bagaimana jika aku butuh sesuatu dan baru bisa kubayar sewanya sehari kemudian? Kau tahu, Kim Taehyung-ssi, sesuatu tak selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan, bukan?”
“Tidak boleh.” Kata-katanya tegas, mutlak, bahkan tidak ada belas kasih jika didengar dari nada suaranya.
Sudut bibir Jungkook berkedut refleks, ingin tersenyum miring dan remeh, namun ia tahan-tahan karena ia tahu itu tidak sopan. Benar-benar. Jungkook tak pernah berekspektasi akan bertemu orang yang lurus seperti tiang yang tegak, ah salah, seperti sebuah aturan yang terlalu kaku, seperti yang di depannya sekarang.
“Aku butuh uangnya,” imbuh Taehyung sambil meraih cangkir dan menyesap teh yang mengepulkan uap tipis. Lagaknya sungguh tenang, seperti sedang berucap tentang ‘besok kau tinggal bayar senilai seratus won saja, ya!’ padahal kenyataannya tidak begitu.
Ini lebih mengesalkan lagi, karena, hei, kadang teori tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, kan? Tapi, untuk apa diciptakan peraturan kalau bukan untuk dilanggar? Jungkook tertawa dalam pikirannya sendiri, bisa-bisanya ia sempat membuat skenario yang nyeleneh di saat seseorang tengah memandangnya penuh tanda tanya sekarang?
Jungkook hembuskan napas, menenangkan diri dari tensi yang baru saja terasa tak nyaman baginya. Jungkook berusaha menarik senyuman, lalu kembali membaca tata tertib yang sudah tertuang dalam buku bersampul hitam di kedua tangannya. “Aturan kedua, jangan keluar dari kamar kalau sudah tengah malam. Huh? Kenapa?”
“Karena aku tidur di ruang tengah.”
“Lantas?” ‘Apa masalahnya?’ pikir Jungkook.
“Aku tidak mau ada orang lain berkeliaran disekitarku.”
Kaku sekali? Ingin sekali Jungkook bertanya lebih, namun ia tahu diri karena itu sangat-amat tidak sopan jika ia melakukannya. Ya, siapa tahu, kan, kalau pemilik rumah sewa ini punya masalah tidur atau mungkin tidak terlalu suka gangguan-gangguan kecil seperti suara tapak kaki? Hei, orang ini laki-laki, sama seperti Jungkook, yang jika sudah bertemu bantal yang dipadu dengan empuknya kasur akan terlelap dengan cepat, dan baru bisa bangun sampai esok pagi, kan?
Atau mungkin pengecualian?
Hm. Jungkook jadi makin penasaran.
“Hmm,” gumam Jungkook sambil melirik sekilas lawan bicaranya yang menatap balik begitu malas, tangannya terlipat, seolah menunggu Jungkook untuk bersuara lebih. ‘Angkuh benar orang ini,’ batin Jungkook.
Sekilas, Jungkook membaca karakter orang di depannya sekarang ini. Sangat buruk dalam berkomunikasi. Namun Jungkook tetap melanjutkan.
“Aturan ketiga—dilarang memindahkan barang apa pun yang bukan hak milik.” Segumpal angin dihirup, Jungkook tegakkan duduknya dari sofa yang lembut nan empuk. “Bahkan memindahkan kursi pun tidak boleh? Kau bukan berniat untuk melarang orang makan di sana, kan?” telunjuk Jungkook mengarah pada meja makan yang dilengkapi empat kursi.
“Bukan begitu.” Kedua pasang mata cokelat itu menatap Jungkook lagi setelah terpejam sejenak. Kemudian ia berkata dengan tegas ditiap kata, “Hanya. Jangan. Sentuh. Barang-barang. Milik. Ibuku.”
Sempat terbersit dalam benak Jungkook untuk menyerah saja, dia ingin mencari rumah sewa lain meskipun sedikit lebih mahal namun ia bisa rasakan kebebasannya. Yang benar saja, mantan kos Jungkook yang sebelumnya pun tak pernah melarang ini dan itu, hanya beberapa ketentuan seperti charge lain-lain yang apabila dibutuhkan harus segera dibayar. Namun, ini? Apa-apaan? Bahkan keluar kamar saja tidak boleh? Selain itu, seutuh rumah yang nyaman dan bersih ini, Jungkook yakin, ada banyak barang-barang milik Ibu dari orang di depannya sekarang yang bergeletakan.
Jungkook hanya orang baru dan dia bahkan masih belum paham betul di mana letak kamar mandi, masih meraba-raba posisi barang-barang yang ada di sini, dan haruskah Jungkook menghafal semua letak dan barang macam apa yang ibu dari pemilik rumah ini agar Jungkook tak menyentuhnya seujung jari?
Dasar aneh.
“Kenapa? Kau tak suka dengan peraturannya?”
Jungkook hafal dengan gestur dan arah pembicaraan ini. Ingin sekali Jungkook berteriak ‘iya aku sungguh tidak suka’ bisa-bisa ia diberi opsi pergi atau tetap tinggal. Itu adalah sebuah pilihan yang tidak nyaman, bahkan untuk dibayangkan sekalipun.
Lidah Jungkook menusuk pipi dalamnya, mencoba berdamai dengan pikirannya sendiri. Menyelaraskan isi hatinya yang sedikit tidak terima. Tapi, mau bagaimana lagi? Susah sekali menemukan tempat seluas ini dan lihat itu tamannya indah sekali. Tempatnya juga bersih dan tidak terlalu jauh dari kampus. Pemiliknya juga good looking, sih (Jungkook bisa munafik, orang itu memang manis) tapi juga cukup galak dan kaku.
Seperti puppy?
“Tidak juga. Aku bisa mengatasinya,” kata Jungkook dengan nada sedikit menantang. “Aturan ketiga, tidak boleh masuk kamar orang lain tanpa ijin.” Jungkook mendengus kecil, lalu melirik Taehyung yang mengangguk-anggukkan kepala seolah sepakat dengan yang dikatakan Jungkook, padahal peraturan itu dia sendiri yang menulisnya.
“Aturan keempat, jangan membawa orang asing ke dalam rumah.” Alis Jungkook berkedut. “Aturan kelima, harus membantu menjaga kebersihan rumah ini. Aturan keenam, dilarang membawa lawan jenis ke rumah. Aturan ketujuh, akan dikenai denda 1000 won—“the hell “—untuk setiap sampah yang ditemukan di luar tempat sampah. Aturan kedelapan, akan didenda 5000 won apabila meninggalkan lampu dalam keadaan menyala. Aturan kesembilan, akan didenda 10.000 won jika menyalakan kompor setelah tengah malam.”
Yang benar saja? Jungkook tidak habis pikir? Apa orang ini waras?
Kalau diperhatikan dari reaksi makhluk di seberang, dia hanya mengangguk-angguk seolah semua baik-baik saja baginya.
“Aturan kesepuluh. Jika membiarkan air mengalir, akan didenda—“ Jungkook memicingkan matanya yang minus, mendekatkan buku laknat itu pada wajahnya. Jemarinya menunjuk satu persatu deretan angka nol yang ada di sana, lalu dia terkesiap dengan mulut menganga. “Satu miliar?!” sebutnya menahan teriakan.
Pemilik rumah hanya mengangguk-angguk, seperti segalanya adalah ketentuan yang normal baginya. Tapi bagi Jungkook itu tidak normal. Ini namanya tidak masuk di akal!
“Kau gila, ya?” kata Jungkook dengan tangan menunjuk angka yang tertera di buku. “Apa-apaan ini? Kenapa banyak sekali aturannya? Ini rumah sewa atau sarana publik milik pemerintah?”
“Ada aturan tambahan yang tak tertulis di sana.”
Jujur saja, kesabaran Jungkook hampir dikuras habis hanya karena sebuah sepuluh aturan yang barusan ia baca. Dia jadi membayang-bayangkan, bagaimana jadinya nanti kalau ada kerja kelompok dan dia mendapat giliran penempatan? Bagaimana juga nantinya apabila nanti Jungkook hendak pulang malam? Dia juga ikut keanggotaan organisasi di kampus. Dan juga, Jungkook sering sekali kelaparan di tengah malam. Dia biasa memasak makanan instan dan menghabiskannya dalam satu waktu. Tapi, jika dia tidak diperbolehkan menyentuh dapur di malam hari, Jungkook tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok harinya.
“—kapan saja.”
“Maaf, apa?” Jungkook tak mendengarnya, dia baru saja asyik berkontemplasi dengan pikirannya sendiri.
Sang pemilik rumah kembali bersedekap, lalu menghembuskan napasnya lelah. Pemuda itu menatap Jungkook lamat-lamat, seraya berkata. “Aku bisa mengusirmu kapan saja.”
“Jika?”
Kedua alis pemilik rumah bertautan, Jungkook cukup bergidik menyaksikan. “’Jika’ apa?” sahut Taehyung ketus. “Tidak ada ‘jika’.”
Seperti disiram bubuk merica, rasanya pedas juga panas. Jungkook menarik kerah hoodie-nya dengan cepat. Hm, cukup menguras energi karena pikiran dan hatinya tidak siap dengan keadaan ini. Namun, mau bagaimana lagi, dia harus taat aturan, bukan?
Hampir saja Jungkook pamit pergi menuju kamarnya (setelah merasa cukup dengan lelucon-lelucon barusan), membereskan barang-barang yang berantakan belum ditata, namun suara pemilik rumah kembali menyapa gendang telinganya. Kali ini dengan nada ancaman, dan buat Jungkook sedikit tidak nyaman karenanya.
“Kau bisa lakukan apa yang kau butuhkan di sini—” Suaranya memang lembut, namun tidak sebanding dengan maksud dan tujuan di dalamnya. “—namun denganku kau harus menjaga jarak.”
Kemudian pemilik rumah dengan santainya melenggang pergi. Meninggalkan Jungkook yang total terheran-heran dengan manusia satu itu.
Jungkook mengenal Kim Taehyung belum juga seminggu.
Mungkin berkat teknologi aplikasi pencarian rumah sewa dan beberapa informasi dari teman-teman di kelasnya, ia bisa temukan tempat tinggal layak huni untuk enam bulan ke depan. Sebelumnya, Jungkook selalu pulang-pergi dari rumah ke kampus. Jaraknya cukup jauh, dua puluh kilometer dengan waktu tempuh hampir setengah jam. Itu pun jika lalu lintas lengang, beda cerita apabila di jam-jam tertentu seperti jam enam hingga jam delapan pagi—jalanan macet minta ampun, dan Jungkook sialnya selalu mendapat di jam tersebut.
Sebenarnya dia juga pernah menyewa kos di blok perumahan lain, namun Jungkook jarang sekali menempatinya karena harga sewa yang terlalu mahal namun fasilitas yang tidak mumpuni. Lebih baik Jungkook pulang-pergi saja—pada waktu itu—sebab untuk apa menetap jika dirasa itu bukan tempat pulang yang nyaman dan tepat?
Jungkook tidak ingin menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan emosinya untuk hal-hal yang merugikan bagi dia.
Jadi, menempati rumah kost atau rumah sewa adalah jalan satu-satunya. Dan beruntungnya Jeon Jungkook, dia bisa dapatkan rumah sewa seasri ini dengan taman yang luas—banyak tanaman perdu dan bunga warna-warni yang menghiasi setiap sudut halaman. Bangunan rumahnya juga minimalis namun nyaman ketika Jungkook pertama kali mengintip dari celah pagar. Dia sudah menghubungi nomor yang tertera di laman itu sebelum bertemu seorang pemuda dengan kardigan warna beige yang serasi dengan rambutnya yang senada lelehan cokelat cadburry kesukaan Jungkook. Tidak ada senyum yang berlebihan, sih, saat pertama kali mereka bertemu. Tapi Jungkook masih dapatkan sapa ala-ala formalitas penjual pada konsumen, lalu tanpa banyak basa-basi segera menggiring Jungkook untuk masuk dan melihat-lihat keadaan calon rumah sewanya.
Jungkook ingin menyebutnya rumah kost, tapi ini jelas-jelas bukan seperti sebuah kost-kostan yang memiliki banyak ruangan. Jadi, ini lebih cocok untuk disebut sebagai rumah sewa, yah, meskipun Jungkook tak menempatinya sendirian, namun juga ada orang lain yang merupakan pemiliknya sendiri.
“Perkenalkan, aku Jeon Jungkook. Jurusan psikologi dari kampus di kompleks sebelah,” kata Jungkook berbasa-basi, mengulurkan tangan tanpa ragu sama sekali.
Sempat bertahan hampir sepuluh detik mungkin, sebab orang di hadapan Jungkook hanya memperhatikan tangan yang mengambang di udara bergantian dengan menatap wajah Jungkook yang alisnya terangkat penuh tanda tanya. Namun detik kemudian rasa hangat merambat melalui kulit telapak tangannya, pemuda itu menjawab salamnya dan menyebutkan nama dengan malas.
“Kim Taehyung.”
Jungkook digiring untuk masuk ke dalam rumah. Ia melewati tangga rendah tak terlalu tinggi sebab undakan kayu di rumah itu cukup tinggi dan mencegahnya dari genangan banjir. Ya, meskipun Jungkook paham, area kompleks perumahan ini akan sangat aman dan terhindar dari bencana banjir.
Kerling mata Jungkook mengitari sekelilingnya. Benar-benar sejuk dengan warna hijau di mana-mana. Dinding rumahnya bercat putih dan banyak jendela yang terpasang di setiap sisi. Ada taman gantung merambati tembok dekat pintu utama, juga lampu-lampu taman yang bulat lucu seperti bom di sana. Jungkook mengalihkan pandangannya pada lantai yang ia pijak, ia menyadari bahwa decking-nya berbahan kayu ulin—sama seperti bahan pada daun pintu utama.
Ada aroma kayu cendana menguar bebas dan lembut begitu Jungkook melewati pintu, disuguhi ruangan tamu yang tertata rapi. Interior berwarna putih, ya, di mana-mana putih. Jungkook pernah berselancar di dunia internet, bahwasannya warna cat rumah mencerminkan karakter seseorang. Dan, jika Jungkook bisa menebak, apalagi memperhatikan dari sosok pemilik rumah ini sekilas, sepertinya si Kim Taehyung ini merupakan tipe orang yang sederhana dan mungkin ... errr .... polos?
“Ini ruang tamunya.” Taehyung menunjuk ruangan tamunya dengan telapak tangan terbuka. “Ini adalah bangunan utama, jadi untuk kegiatan memasak dan mengerjakan tugas ataupun bersantai kau bisa lakukan itu semua di sini. Ada dapur—ayo ikut aku.”
Jungkook mengikuti langkah kaki Taehyung, berada di belakangnya menyadarkan Jungkook betapa ringkihnya pemuda itu. Bahkan tulang bahunya nampak sangat menonjol dari kardigan yang dikenakan. Tingginya pun tak terlalu jauh dari Jungkook, tapi Jungkook yakin dirinya sendiri sedikit lebih tinggi dibandingkan Taehyung di depannya. Mungkin sekitar dua sampai lima senti? Juga, Jungkook lebih besar bukan? Maksudnya, lebih berotot?
Jungkook berhenti ketika Taehyung menoleh padanya. Bukan apa-apa, hanya memastikan Jungkook masih mengekorinya. Huft ... terasa seperti hampir dipergok karena sudah lancang mengamati seseorang dari balik pandangannya. Jungkook tersenyum kaku ketika pipi tirus Taehyung nampak, sebelum total menghadap Jungkook yang mendekat ketika Taehyung menyuruhnya demikian.
Kalau dilihat-lihat, hidung Kim Taehyung ini mancung juga, ya? Belum lagi bulu matanya itu cukup panjang? Belum pernah Jungkook temui laki-laki dengan bulu mata sepanjang itu, seperti bisa saja sewaktu-waktu menusuk dan menyakiti mata Taehyung tanpa diduga. Sekilas sih, kulitnya sedikit lebih gelap daripada milik Jungkook, namun tetap bening dan bersih. Apa—apa Jungkook tidak salah melihat? Maksud Jungkook adalah kenapa lensa mata Taehyung terlihat begitu bening? Seperti ada batu alam yang tenggelam dalam segelas madu, yang memantul begitu cantik ketika sinar matahari menyorotnya tidak sengaja, seperti ada bubuk kerlap-kerlip bertebaran bak bintang yang bersinar di malam-malam musim panas.
Meski beridentitas sebagai mahasiswa psikologi, Jungkook masih menyempatkan waktu untuk belajar banyak tentang kesenian, hal-hal yang berbau tentang keindahan, tentang keunikan, dan pemuda di depannya ini—kalau boleh Jungkook mengatakan—ibarat interpretasi ciri khas tersendiri yang murni, yang diciptakan dengan sentuhan seni yang sangat mahal. Luar biasa halus dan alami, buat tangan Jungkook sungguh gatal ingin segera menyentuhnya.
Entahlah, Jungkook seperti sedang dihisap oleh magnet yang tak kasat mata. Rasanya seperti menakjubkan dan mengundang gelitik menyenangkan di perutnya, ada kupu-kupu tak berwujud di sana, dan Taehyung cukup membuat nyalinya tersulut dan membuatnya semakin penasaran.
“Kau lihat apa?”
“Iya?” Jungkook masih dengan mata yang sayu dan alis tertarik.
“Ck.”
Jungkook sadar seketika. Ia menegakkan lagi tubuhnya, lalu menelan susah payah dalam kerongkongannya yang kering. Jungkook berdeham sekali, mencoba mencairkan suasana dan juga menenangkan dirinya yang benar-benar terpergok kali ini. Sialan, rasanya seperti habis mencuri sesuatu dan itu membuatnya kepalang malu sampai Jungkook berpaling pura-pura melihat-lihat yang lain. Tidak berani menunjukkan dirinya yang tengah salah tingkah—Taehyung tidak boleh melihatnya. Nanti tidak cool dan berkesan buruk.
Taehyung pun menunjukkan letak dapur yang disekat satu lapis tembok saja. Ruangan yang satu ini lebih luas dibanding ruang tamu. Penempatan pintu kaca dua daun pintu yang menghadap taman membuat bangunan utama cukup terang. Ada tirai vitrase yang diikat asal, namun masih terkesan cantik karena jenis kainnya yang jatuh dan tipis itu mudah sekali melambai-lambai jika terkena angin dari luar.
Jungkook bergerak menyentuh permukaan meja makan yang berbentuk persegi panjang dengan kayu yang dipelitur di bagian permukaan. Kursi-kursi kayu berjumlah enam buah mengelilingi meja. Jungkook kembali mengitari pandangan ke seisi ruang yang bernuansa putih dan dekorasi minimalis yang memikat perhatian.
Ada satu hal yang membuat Jungkook tersedot untuk memperhatikan lebih—selain Kim Taehyung yang pasti—yaitu dapurnya.
Sungguh lengkap dan rapi.
“Ini semua milikmu?” tanya Jungkook tanpa ragu. “Lengkap sekali. Syukur kalau begitu. Aku lebih senang memasak sendiri daripada membeli makanan di luar,” celotehnya sambil mengabsen satu persatu peralatan memasak yang menggantung di pengait besi.
Cuaca hari ini memang tidak terlalu terik, langit menghembuskan awan-awannya hingga bertebaran. Cahaya yang tadinya terang seperti hendak menyulut tubuh Jungkook untuk berkeringat lebih kini meredup jadi remang-remang namun masih berbaik hati dengan menghembuskan angin yang sejuk.
Jungkook kembali mengikuti langkah kaki Taehyung yang tegas namun pasti. Seperti ada beban dan keraguan ditiap getar tapaknya. Jungkook mengamati dalam diam, jika disangkut pautkan dengan keadaan yang sekarang, maksudnya adalah, dengan Taehyung yang menyewakan rumahnya yang indah ini pasti berat baginya untuk berbagi dengan orang lain, bukan?
Lantas, ke manakah orang tuanya? Apakah dia hidup sendiri di sini?
Melewati pintu pembatas bangunan pertama, Jungkook dibawa masuk menuju bangunan kedua yang berisi beberapa ruangan dengan pintu tertutup. Sepertinya bangunan ini dikhususkan untuk kamar tidur dan kamar mandi. Jungkook menaiki tangga setinggi satu meter, kemudian dihadapkan dua pintu yang saling bersebelahan.
“Ini kamarmu.”
Jungkook berdiri sambil kembali memutarkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah, memindai tempat yang berpotensi akan menjadi huniannya dalam jangka waktu enam bulan ke depan.
“Menarik,” bisiknya sambil memperhatikan lemari kayu berwarna putih. Ruangan ini semuanya juga berwarna putih. Mungkin temanya, ya? Lihat itu ranjangnya berukuran queen size. Seperti kamar pengantin? Hehehe ... pemikiran Jungkook memang terlalu amazing dan nyeni.
“Ini kamar ibuku,” kata Taehyung dengan datar.
Jungkook memperhatikannya sekilas lalu mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi mobile banking. “Aku jadi menyewa. Apa perlu aku transfer sekarang?”
“Oke.”
Dan semudah seperti itulah Jungkook mendapatkan harga sewa yang sesuai dengan isi rekeningnya. Keduanya sama-sama bersalaman sebagai wujud formalitas. Taehyung masih sama; wajahnya datar, senyumnya tertarik tipis namun nampak enggan. Jungkook selanjutnya berjanji untuk menempati kamar ini keesokan hari. Taehyung mengiyakan, dan Jungkook segera pergi meninggalkan.
Seperti itulah perkenalan Jungkook pada Taehyung di hari pertama mereka bertemu, kemarin tepatnya. Ada banyak hal yang masih tersembunyi—Jungkook diam-diam sebenarnya penasaran seperti apa aslinya Kim Taehyung itu, karena sosoknya yang tertutup dan jarang sekali mengajaknya bicara.
Bahkan baru saja Taehyung meninggalkannya, mungkin menuju kamarnya sendiri. Jungkook lantas menggeleng sambil mengibaskan bayangan-bayangan flashback ketika ia pertama kali ke sini, bertemu Taehyung beserta karakternya yang juga unik, juga saat Jungkook memindahkan barang tadi pagi kemari, dan berakhir membaca tata tertib sepuluh aturan yang wajib ditaati apabila tidak ingin merugi.
Hah, yang benar saja. Banyak sekali aturannya. Pemuda itu sudah tidak waras atau bagaimana?
“Namun, denganku kau harus jaga jarak.”
Kata-kata itu ... kembali terngiang dalam telinga dan pikiran Jungkook yang kosong. Jaga jarak yang bagaimana? pikir Jungkook. Sekarang kan dia dan si Taehyung itu sudah satu rumah, satu atap, lantas hal apa yang harus dijaga jaraknya? Yah, perkara Jungkook adalah orang asing dan Taehyung masih enggan padanya itu bisa dimaklumi, namun kenapa Taehyung tadi mengatakannya seolah Jungkook adalah serangga? Seperti kehadirannya tidak diinginkan sama sekali? Padahal, sudah jelas, kan, kalau si Taehyung itu butuh Jungkook—oke maksudnya butuh uang Jungkook untuk membiayai hidupnya sehari-hari, kan?
Ke mana sih, orang tua Taehyung?
Sebenarnya batin Jungkook berbisik. Tangannya bergerak meraih sebuah pigura putih di nakas yang diapit dua sofa berwarna hijau lumut. Seorang perempuan dewasa dengan senyuman anggun dan juga rambut tergerai lurus. Jungkook memperhatikannya baik-baik, sedikit mirip dengan Taehyung yang memiliki mata sebening batu dalam kubangan madu—bening dan cemerlang.
Oh, mungkinkah itu ibunya?
Jika Taehyung mengulas senyum apakah akan sama seperti yang ada di foto ini?
Jungkook meletakkannya lagi ke tempat semula. Kemudian ia berdiri dan memilih untuk kembali ke kamarnya. Mungkin ia akan menyelesaikan kegiatan bersih-bersih, dan menyiapkan makan siang. Berhubung hari ini adalah akhir pekan, jadinya tidak banyak hal-hal yang berbau kampus yang akan dia sentuh untuk ke depan.
Sambil bersiul, Jungkook melewati tangga yang menghubungkan kamarnya dan juga kamar Taehyung. Oh iya, Taehyung. Tepat di sebelahnya adalah kamar Taehyung. Sedang apa ya kira-kira pemuda itu? Apakah sedang tidur?
Ketika Jungkook hendak membuka pintu kamarnya, ia mendengar suara sayup-sayup dari pintu tertutup itu. Sontak kedua bola mata Jungkook membulat terkejut. Apakah di kamar Taehyung ada seseorang? Kenapa Taehyung menangis dan seperti sedang berbicara pada seseorang? Apakah Taehyung sedang menelepon? Atau mungkin—Taehyung bisa berbicara dengan hantu?!
“Tunggu ...” Jungkook melepas kenop pintu kamarnya. Ia dekatkan tubuhnya ke pintu kamar Taehyung yang tertutup rapat. Ingin sekali Jungkook menanyai keadaannya, namun Jungkook yakin Taehyung tak akan menyukai tindakannya. “Ah, untuk apa aku peduli?” Jungkook mengedikkan bahu, dan memilih enyahkan segala pikiran yang sempat mampir.
I / IV
