Work Text:
"Matamu berbicara padaku, kalau kau sedang kelelahan."
•
•
•
Tidak seperti biasanya, hari ini Shouto terlihat sedang kelelahan. Biasanya ia menyembunyikan rasa lelahnya dengan tersenyum sepanjang waktu. Ketika ada orang yang bertanya apakah dia baik-baik saja, dia pasti menjawabnya dengan senyuman yang tulus tapi tetap saja ada yang asing yaitu, matanya. Saat ia merasa lelah, ia tidak pernah sekali pun membuka matanya agar orang-orang hanya terfokus kepada senyumannya saja. Ia tak ingin membuat orang lain mengkhawatirkannya, ah itupun ia sendiri tak yakin jika ada yang peduli. Tapi yang pasti, ia tak ingin perasaan sedih atau lelahnya berdampak kepada sekelilingnya. Dabi pasti memarahinya lagi jika Shouto terlihat menyedihkan.
"Ah, lelahnya. Ibu, seandainya kau ada disini, mungkin aku takkan selelah ini memendam." mulutnya terbuka, menghela napas yang terasa sangat berat.
Jujur saja ia tidak pernah bercerita kepada orang lain, setelah Ayahnya yang berengsek itu menghancurkan hati Ibunya, ia menjadi tertutup dan sulit mempercayai orang.
Rei—ibu Shouto—sudah meninggal saat ia berumur dua belas tahun akibat sakit keras yang dialaminya. Selama Rei hidup, Ayahnya berselingkuh, lebih milih meninggalkannya dan menikah lagi dengan wanita lain.
Kecewa? Frustasi? Dendam?
Shouto tak pernah merasakan hal itu, pemuda manis dengan iris mata yang berbeda itu masih terlalu muda untuk mengerti dan merasakan kepahitan seperti itu.
Ibunya selalu berkata bahwa, "Shouto itu anak yang kuat dan baik, memaafkan itu adalah puncak dari ketegaran hati seseorang yang kuat dan baik, jadi Ibu akan senang kalau Shouto mau memaafkan, Ayah." Ia tak pernah melupakannya, senyum milik Rei yang terlihat teduh berpadu dengan wajah Rei yang elok, layaknya semilir angin yang tiba-tiba mendatangi dan menyejukkan tanah yang tandus dan kering. Shouto mana mungkin melupakannya?
Untuk Ibu.
Bu, apakah ibu selelah ini juga? Menanggung ceritaku yang berisi hal yang tidak menyenangkan dan menanggung perlakuan Ayah yang sangat menjijikan, belum lagi Kak Dabi yang selalu menyakiti hati ibu dengan tingkahnya.
Apa ibu tak pernah merasa lelah?
Hari ini Kak Dabi pulang lagi dengan kondisi mabuk dan ada perempuan yang dalam rangkulannya menatapku dengan jijik. Lalu mereka berdua berciuman di depanku.
Aku hanya bisa tersenyum. Aku bahkan masih ingat apa yang dikatakan Kak Dabi tadi, "Senyummu itu menjijikan, kau terlihat sama lemahnya seperti milik Rei. Yah tapi aku tidak peduli, beri aku uang lagi, aku ingin berkencan."
Aku selalu berdoa untuk Kak Dabi agar ia mau berubah menjadi orang yang baik. Ibu apakah yang aku lakukan itu benar?
Shouto tidak marah, ia hanya memperlihatkan senyum lembutnya dengan mata yang membentuk bulan sabit, rasanya terlalu melelahkan untuk melakukan perlawanan terhadap Dabi.
Matanya, sekali lagi matanya, ia biarkan tertutup agar tak ada yang tahu apa yang sedang ia rasakan.
Dihujam kata-kata tajam memang sudah biasa ia alami. Dan ia masih bisa bertahan, Shouto masih yakin dan menunggu bahwa akan ada kebahagiaan yang sebenarnya yang dipersiapkan untuknya.
Tapi kapan?
Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab.
Ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Fuyumi, kakak perempuannya.
Jujur saja saat ini hanya Fuyumi yang bisa Shouto percaya, tapi ia masih belum berani bercerita mengenai keadaanya. Ia tidak ingin membebani Fuyumi yang sudah mau bekerja untuk dirinya.
Kak Fuyu
Kakak tidak bisa pulang hari ini, maaf ya.
Shouto
Tak apa! Kau tak perlu khawatir, yang terpenting tolong jaga kesehatan Nee-san.
Kak Fuyu
Sebagai gantinya aku akan membawa soba dingin saat pulang nanti.
Shouto
Kukuku, aku sangat menantikannya!<3
Ponselnya ia sakukan kembali, kakinya mengambil langkah menuju dapur.
Kosong. Lemari makanan di dapurnya kosong. Jujur saja ia sangat payah dalam memasak, selama ini hanya Fuyumi dan Natsuolah yang memasak. Ia terlalu fokus belajar agar ia tetap mendapat beasiswa.
Kalau kalian bertanya kemana Natsuo jawabannya adalah dia sudah meninggal, tertabrak mobil dari pengemudi yang sedang mabuk.
Kata-kata terakhirnya yang selalu ia ingat adalah, saat mereka berdua memakan omelette. "Ceritalah kepadaku jika kau ingin. Tidak baik memendam sendiri."
Tapi sekarang bagaimana bisa ia cerita jika Natsuo tidak ada?
Ia berjalan kembali ke kamarnya, mengambil uang dalam dompetnya.
Shouto menghela napasnya.
Kak Dabi mengambil uang lagi tanpa bilang.
Yah, tidak buruk. Shouto masih bersyukur karena Dabi masih menyisakan uang untuk dirinya meskipun itu hanya cukup untuk memesan satu cup ramen. Ia kembali menaruh dompetnya dalam lemari, sengaja tak memakainya sekarang untuk membeli makanan besok.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Karena belum ada sesuatu yang ingin ia kerjakan, pikirannya langsung tertuju pada sebuah tempat sepi tak jauh dari rumahnya. Sebuah danau kecil dengan jembatan kayu yang menghubungkan kedua sisi tengah danau.
Tangannya saat ini memegang penyangga jembatan tersebut, semilir angin pun datang berhembus menerpa surai uniknya. Hanya ada ketenangan. Lelah yang ia rasakan sedikit membaik, meskipun tak seluruhnya hilang, setidaknya beban yang ia rasakan sudah tak seberat tadi.
"Sudah aku duga jika kau ada disini." ketenangan yang Shouto rasakan pun terbungkam, terlihat seorang lelaki menghampirinya. Tempat tinggal lelaki tersebut tak jauh dari danau yang saat ini ia kunjungi dan ia juga merupakan teman satu sekolah Shouto meskipun tingkat mereka berbeda.
"Katsuki-san? Kenapa ada di sini?" Surai pirang yang ditanya pun hanya mengendikkan bahunya. "Hanya sedang ingin menghirup udara yang segar."
"Ah, seperti itu rupanya."
"Kau sendiri?" Tanya Katsuki.
"Sama sepertimu." Balas Shouto, tak lupa dengan senyuman yang menerbitkan bentuk sabit saat matanya tertutup.
Keheningan kembali menerpa mereka berdua. Keduanya hanya menatap gelombang air yang bergerak akibat sebuah batu yang Katsuki lepar ke danau.
Katsuki dengan mata elangnya mencoba menatap Shouto dari sisi. Saat ini mata Shouto tertutup, sambil tersenyum menikmati semilir angin. Cantik, pikirnya.
Katsuki menyukai Shouto. Namun kali ini ada sesuatu yang membuat hati Katsuki serasa tersayat saat menatap matanya. Sesuatu seperti beban? Entahlah Katsuki tidak terlalu ingin menanyai itu, ia takut membuat Shouto terluka jika ia menanyai hal yang membuat lelaki disebelahnya merasa tak nyaman.
Tetapi saat Katsuki melihat Shouto dari jauh ia tak bisa berbohong kalau dirinya khawatir, mungkin berbicara sedikit dengannya tak masalah, begitu pikirnya. Siapa tau Shouto membutuhkan teman untuk berbicara.
"Kau sepertinya sedang kelelahan."
"Ya??" Shouto terkaget, raut wajahnya menunjukan keheranan memastikan apakah orang yang disebelahnya ini benar-benar mengajaknya berbicara atau tidak. "Aku? Kelelahan?" tanyanya.
Katsuki menangguk, "Matamu berbicara padaku, kalau kau sedang kelelahan."
"Itu..." Shouto ragu untuk mengakuinya.
"Tak apa aku tak memaksa, hanya saja jika kau ingin berbicara, aku akan mendengarkan.
"Terimakasih untuk tawarannya, Katsuki-san."
Keduanya kini menatap danau yang memantulkan warna oranye dari langit. Dalam hening. Katsuki langsung meninggalkan Shouto dengan berpamit sekilas setelah bertanya Shouto akan di sana sampai kapan.
Shouto kembali sendirian. Ditemani keheningan yang sangat menenangkan. Melamun kembali merindukan Rei.
Tak terasa bahwa langit sudah akan menggelap. Saat kakinya menapaki tanah meninggalkan jembatan kayu yang tadi ia naiki, di sisi ujung yang berlawanan seseorang memanggilnya.
"K-katsuki-san!?" Katsuki berjalan kearahnya, tangannya memegang sebuah kantung plastik entah berisi apa.
"Untukmu." Katanya sembari menyerahkan kantung itu pada genggaman Shouto. Si pemerima tentu ingin menolak namun tak bisa lantaran Katsuki langsung pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Shouto mencoba mengintip apa yang ada di dalam. Susu strawberry dan dua bungkus onigiri. Perpaduan yang sangat buruk, pikirnya.
Namun dalam lubuk hati yang terdalam, Shouto amat menyukainya.
Ah, Shouto lupa memberitahu bahwa selain senyuman Fuyumi, ada satu senyuman lagi yang bisa membuatnya bahagia dan senyuman itu adalah senyuman milik Katsuki.
Mereka sama sekali tidak tahu, jika keduanya menyimpan perasaan yang sama dalam diam.
