Chapter Text
Di dunia ini, terdapat sebuah aturan dasar di mana masing-masing manusia memiliki satu buah jam pasir yang menjadi petunjuk hal terpenting dalam kehidupan mereka : pertalian, ikatan mereka bersama seseorang yang lain— berangsur-angsur pasirnya tak akan pernah turun habis menghitung waktu sampai yang bersangkutan menemukan pasangan hidupnya. Soulmate. Takdir telah ditentukan pada sebongkah kaca yang menyimpan pasir imaginatif, hanya dapat dilihat dan disentuh oleh masing-masing mereka yang memiliki.
Hal yang telah membaur pada masyarakat ini, pokoknya didasarkan sebagai acuan penentu pasangan masa depan. Meski kisah yang didambakan indah tak juga 100% berhasil selayak yang diinginkan. Sebagian merahasiakan bagaimana cara jam pasir mereka bekerja— dalam beberapa kasus, hitung mundurnya dapat berakhir di tengah-tengah kerumunan dan mungkin seseorang tak benar-benar jadi mengetahui ke mana Tuhan memberikan takdir. Lantas sebagian yang lain, tragedi terjadi dengan jam pasir yang mendadak hilang sebelum mereka dapat menerima pesan, suatu keyakinan di mana Tuhan barangkali memang tak pernah berniat membuatkan mereka kebahagiaan
Dan Andrew Kreiss, dari sekian juta umat manusia itu : entah disebut menanti atau bukan, masih setia dengan tetap mengamati butir terakhir jam pasirnya buat jatuh dan dia akan tulus mencintai seseorang itu.
“Kalau memungkinkan, nanti malam silakan hadir di aula utama. Malam ini kita mengadakan acara makan malam untuk menyambut kedatangan penyintas dan pemburu baru.”
“Ah. Terima kasih, Nona Dyer.”
Saran itu datang dari Emily setelah dia mengucapkan salam permisi untuk meninggalkan kamar Andrew; usai mengantarkan si pemilik ruang segelas air putih disertai tiga butir obat yang dianggap mampu memulihkan sakit. Albino pada dasarnya dianggap kelainan, dan sudah tentu tak membuat Andrew mudah menjalani hidup apalagi jadwal pertandingan di siang hari cuma membuat tubuhnya melemah berkali-kali. Dari situ, tidaklah berlebihan jika Andrew mengatakan dirinya lebih menyukai malam? Hanya di waktu tersebut, dia bisa leluasa mengelilingi semua tempat yang dia inginkan.
Pekerjaannya sebelum ini adalah seseorang penggali kubur. Rutinitas berfokus pada petang menjelang malam, tetapi setelah banyaknya hal— Andrew memutuskan untuk bertolak dari pemakaman dan memilih mendedikasikan diri pada manor. Sebuah manor yang menawarkan suatu permainan penghasil uang dan keuntungan. Rasa sakit itu mudah saja ditolerir, selama Andrew tak pernah berkesempatan mati gara-garanya. Lalu di manor itu dia menemukan banyak manusia yang tak jauh-jauh dari siasatnya : menginginkan harta atas dasar kebebasan mereka.
Dibandingkan itu, beberapa ada pula yang memiliki profesi hampir serupa dengannya. Salah satunya adalah Aesop Carl; rekan satu topik pembicaraan yang merupakan penghuni paling terkenal oleh sifat pendiamnya. Kebetulan ketika Andrew membuka pintu kamarnya setelah merasa dia sudah bisa beraktivitas lebih baik lagi hari itu— orang yang dimaksud, bersama seseorang peramal berpenampilan serba tertutup menyambut kemunculannya sekaligus berbaik hati menjemput.
“Selamat malam, Tuan Kreiss.” Penyintas albino mengangguk, kemudian melangkahlah mereka bersama menuju aula.
Ada dua orang baru yang memasuki manor Oletus. Sebut saja terdiri dari seorang penyintas wanita, dan seorangnya lagi adalah pemburu laki-laki. Seperti biasa, ada rutinitas di mana penghuni lama manor akan menyambut kedatangan para anggota baru dengan melakukan jamuan makan malam. Di titik itu, pemburu dan penyintas yang biasanya berpisah gedung digabungkan dalam satu aula khusus. Orang-orang baru akan menampilkan sosok mereka ketika puncak acara tiba, sekaligus melakukan sesi perkenalan yang dipandu oleh host. Andrew malam itu memilih untuk duduk di antara Aesop dan Luca : hendak berfokus menyantap makan malam oleh menu sup hangat lagi berupaya mengabaikan hawa dingin awal tahun yang membekukan nadi-nadinya. Mulanya saja begitu, setidaknya tidak sampai ketika …
“…?”
( Jam pasirnya— … habis ? )
Andrew menoleh kanan-kiri; penuh panik. Seharusnya dia tenang karena gelagapnya itu malah menimbulkan kesimpulan apakah dia kumat dengan penyakitnya. Siapa? Siapa dia yang kemunculannya membuat jam pasir yang bertahun-tahun dijaganya ini … habis tak bersisa? Andrew masih mengilhami; jika manusia bertemu dengan soulmate mereka, itulah makna yang ditandai dengan lenyapnya jam pasir dan itu tak akan terulang penuh kembali. Bukankah itu berarti, soulmatenya—
“Nona Plinius! Kemari!”
( Andrew; tanpa menebak lebih jauh lagi, menarik kesimpulan bahwa mungkin salah satu dari anggota baru itu bisa jadi adalah belahan jiwanya. )
Jantung berdegup kencang. Penyintas perempuan baru itu dipanggil mendekat, ide sinting dari Luca yang tampak bersemangat tanpa meminta persetujuan apapun dari Andrew— (memang perlu?) bangku di sebelah Eli, yang kebetulan duduk tepat di hadapannya; kosong dan perempuan dengan kemampuan yang belum diketahui itu duduk sembari entah dia tersenyum atau bagaimana dari balik penutup kepalanya. Semua orang penasaran dengan bagaimana rupa sang wanita, tapi tampaknya dia tak berniat menunjukkannya dan hanya sekadar membuka sedikit bagian bawah penutupnya demi menyantap makan malam saja.
“Selamat datang di manor, Nona Plinius. Mohon kerjasamanya.”
“Mohon kerjasama juga.”
“Dari nadanya … sepertinya Anda wanita dewasa yang sudah menikah?”
Aesop menatap prihatin Andrew yang tiba-tiba tersedak sup makan malamnya sendiri. Eli mengajukan pertanyaan yang jelas tak sopan ditanyakan sebagai awal pembukaan percakapan orang tak dikenal. Pembicaraan semacam itu tabu, Tuan Clark!
Mengabaikan spontanitas Andrew yang sempat membuat seluruh suasana mendadak canggung itu, Melly mennggapinya dengan tawa. Dia menambahkan, “eh, langsung ketahuan, ya? Benar. Dulu, saat pertama kali aku menemui suamiku, aku terkaget-kaget dengan jam pasirku yang tiba-tiba habis.” Sepertinya sama sekali tidak ambil pusing terhadap omongan Eli, betul-betul wanita dewasa yang baik.
Di sisi lain orang lain menanggapi omongannya dengan rasa penasaran dan senang, hanya dunia Andrew yang detik itu terasa runtuh seketika. Wajahnya memucat. Kalau Melly sudah bertemu soulmatenya … jam pasirnya tadi; habis karena siapa?
“Tuan Kreiss?” Mengetahui Andrew tampaknya tak baik-baik saja, Emilylah yang duluan melemparkan pertanyaan khawatir tersebut penuh dengan kehati-hatian. Andrew mengangkat tangannya, mengatakan tersirat bahwa dia menolak simpatinya, lantas bergumam kecil : aku baik-baik saja. Beberapa orang menolehkan kepala. Sedari tadi, Andrewlah yang bersikap tidak sewajarnya.
“A- Anda tahu siapa pemburu yang datang bersama— A- Anda; tadi…?”
“Eh? Sang Violinist?”
Andrew menelan ludah.
“Kalau tidak salah, namanya Antonio. Ngomong-ngomong soal jam pasir, dia bersikap aneh karena katanya tiba-tiba dia kehilangan jam pasirnya …?”
Sekarang sudah jelas. Melly bukanlah orang yang ditunjukkan nasib untuknya. Beruntung malam itu darah rendah tidak membuat Andrew pingsan : Ya Bapa, maafkanlah dia. Meski ini adalah kehendak yang Tuhan berikan kepadanya, izinkanlah sekali itu Andrew bersikap semena-mena. Dia tidak bisa mencintai apalagi membenarkan dirinya bersama seorang pria. []
