Actions

Work Header

Karma Manami - Blind

Summary:

Akabane Karma orang yang sibuk, menyebalkan, cukup arogan dan sombong, sekaligus cerdas dan jahil bukan main. Teman-teman sekelasnya dulu di kelas 3-E sekolah menengah saja kelelahan akan sifatnya itu. Namun bukan berarti Karma dibenci karena sifatnya yang seperti itu. Karma cukup disukai dan bisa diandalkan untuk banyak hal.

Karma mendapati hubungan Sugino dan Kanzaki berjalan lancar dibandingkan saat mereka satu kelas, Nagisa dan Kaede, yang merupakan adik mendiang Yukimura Aguri, Akari pun berjalan lebih baik. Apalagi karena mereka berdua sudah cukup dekat. Karma bukan tipe orang yang memikirkan perihal romansa terlalu berlebihan karena dia cukup populer dan disukai, tapi tentu saja, seorang Karma memiliki pujaan hatinya sendiri.

Sayangnya, walaupun Karma yakin gadis itu juga menyukainya dan malah berharap berhubungan lebih dengannya, Karma mulai ragu setelah melihat beberapa rival yang menghalangi jalannya.

Notes:

Gemes sama mereka berdua setelah bikin Karma x Nagisa :)) Perbedaan yang agak mirip antara Karma dan Manami sekaligus persamaan yang membuat keduanya cocok dan nyaman dengan satu sama lain yang ingin kucoba disajikan disini. Semoga menarik :)

PS: Aku sangat tersentuh dan terinspirasi dengan cerita-cerita Karma Manami yg sudah ada. Makanya aku ingin coba karena aku suka Karma, Nagisa dan Manami the best di Assassination Classroom! ^^ Enjoy!

Chapter 1: Reuni

Chapter Text

Kelulusan dari sekolah menengah Kunugigaoka bagi kelas 3-E merupakan hal yang menyedihkan, menyenangkan, sekaligus mengharukan. Mereka yang awalnya berpikir bahwa kelas yang sudah dianggap tidak ada hampir dicaci maki oleh kelas lainnya itu pun, kini mendapat sorotan dan malah menjadi bagian dari penyelamat dunia yang hanya sedikit orang yang tahu. Banyak dari kelas itu berpisah di sekolah tinggi dan memiliki pekerjaan masing-masing yang sudah direncanakan dan disiapkan oleh pribadi.

Shiota Nagisa menjadi seorang guru layaknya guru wali kelas mereka sebelumnya, Koro-Sensei. Walau dibalik dirinya yang terlihat lemah dan mungil itu, ada bakat seorang pembunuh yang luar biasa dibandingkan siapapun. Dia berhasil menghadapi murid-murid di kelas berisikan murid nakal yang diajarnya kini.

Kayano Kaede, dengan nama asli Yukimura Akari, adik perempuan wali kelas 3-E yang sebenarnya sebelum digantikan oleh Koro-Sensei yang tak sengaja mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya itu, kini menjadi seorang aktris seperti yang dilakukannya sebelum memasuki kelas 3-E sebagai niat pembalasan dendam pada Koro-Sensei atas kematian kakak perempuannya. Kemampuan aktingnya begitu luar biasa hingga para penonton dan produksi film terkejut dengan setiap akting yang ditunjukkan di layar lebar.

Akabane Karma menjadi salah satu bagian dari negeri, birokrat. Baginya menjadi salah satu dari orang-orang tersebut yang menjadi pendukung sekaligus membuat negeri bertahan ketika suatu kejadian besar menghantam Jepang, adalah hal yang luar biasa dan keren. Dia ingin menjadi orang seperti itu walau sosoknya tidak begitu cocok berada di belakang panggung untuk sebuah kejadian yang luar biasa. Karma bisa menjadi sosok pemimpin layaknya Isogai Yuuma dan Asano Gakushuu.

Okuda Manami menjadi ilmuwan dengan Takebayashi Kotaro di salah satu perusahaan di Jepang. Keduanya memang cukup akrab perihal chemistry, alias yang berkaitan dengan kimia, ilmuwan, penelitian, sekaligus hal-hal yang menyangkut tubuh, zat, dan sebagainya. Walau tidak berada dalam satu bagian untuk setiap kemampuan keduanya, mereka berada di satu tempat yang sama dan cukup sering menikmati waktu bersama.

Beberapa tahun Nagisa dan Karma tinggal di apartemen yang sama, keduanya berbagi tempat sebelum menuju dunia pekerjaan selama di sekolah tinggi. Karma menetap di Kunugigaoka untuk bersaing dengan Asano, sedangkan Nagisa di sekolah tinggi yang berbeda. Setelah sekolah menengah, semua murid kelas 3-E berpisah. Tanpa memutus hubungan dan koneksi dengan yang lainnya, mereka menjalani kehidupan sekolah tinggi masing-masing.

Hingga suatu hari, acara reuni diadakan di sebuah tempat makan walau tidak bisa dihadiri semua murid kelas 3-E yang dulu. Setidaknya ada Nagisa, Kayano alias Akari, Isogai, Maehara Hiroto, Kataoka Megu, Kanzaki Yukiko, Sugino, Nakamura Rio dan juga Karma yang datang terlambat karena masih ada urusan. Karma masih di perjalanan seraya Nagisa mengecek kabar lelaki itu untuk teman-temannya.

“Aku gak percaya, yang kini sibuk banget itu Nagisa, Karma dan Kayano!” Isogai bersuara. “Ah, apakah harusnya aku…?”

Kayano menggeleng pelan. “Tetaplah panggil aku Kaede, Isogai-kun.” Ketua kelas 3-E itu mendesah pelan, merasa lega. “Aku juga sudah terbiasa dengan nama itu.”

“Bukan hanya mereka tentu saja,” Nakamura Rio turut bersuara. Ekspresi di wajahnya yang cantik menunjukkan bahwa dia terlihat tidak setuju. “Manami-chan dan Takebayashi juga, mereka di satu perusahaan yang sama bukan?”

“Ng, entah apa yang sedang mereka teliti ataupun kerjakan.” Nagisa berkomentar, seperti biasa dengan sifatnya yang tak begitu banyak berubah. “Sepertinya sedang masa sibuk.”

Kayano mendesah pelan. “Padahal aku sudah merindukan Manami-chan.” Nagisa hanya bisa tersenyum saat temannya itu seolah menyayangkan ketidakhadiran Okuda dan Takebayashi disana. Terutama Okuda.

Suara pelayan menyambut seorang pelanggan pun terdengar. Mereka yang berada di meja yang tak jauh dari pemandangan luar tempat makan menoleh. Disana, Karma yang tinggi menjulang diantar oleh sang pelayan. Mereka cukup terkejut dengan penampilan lelaki cerdas namun penuh kejahilan itu. Rambutnya yang merah di belah di bagian kiri, menampilkan wajahnya yang semakin tampan saat dewasa, pakaiannya yang berupa pakaian formal jas merah maroon sangat cocok dengan sifatnya, walau dia tidak membawa tas kantoran yang biasa orang-orang kantoran bawa.

Karma menyibak rambutnya. “Maaf, maaf, aku yang paling terakhir ya?” Karma menatap jam di tangan kirinya yang terlihat mahal pula. Gerakannya itu hanya bisa membuat perempuan di meja di depannya terpana.

“Karma!” Isogai dan Nagisa bersuara. Nagisa memintanya untuk duduk di sampingnya yang kosong.

Karma pun menghampiri dan duduk tepat di tempat yang diminta teman mungilnya. Kayano di sampingnya saja masih lebih tinggi dari Nagisa sedikit.

“Nagisa, kau menciut?”

“Hentikan itu, Karma!” Karma terkekeh saat Nagisa tidak berubah dan selalu menanggapi kejahilannya menyesuaikan reaksi dengan yang diinginkan pria berambut merah itu. “Kau mau pesan sesuatu?” Nagisa mengulurkan menu yang diterima oleh Karma. Lelaki itu menggumam pelan seraya matanya mengamati seluruh menu disana sambil menyibak rambutnya lagi.

“Kau berlari kemari?”

“Yah, aku harus menghindari beberapa rekan perempuanku di kantor.” Karma mendesah pelan. “Menyusahkan sekali.”

“Mulai deh, Karma dengan bangga menyatakannya.” Nakamura bersuara setelah mendapati Karma duduk di sebelah Nagisa.

“Serius? Aku hanya bercanda.”

“Apa?”

“Permisi, aku mau pesan!” Karma berteriak pada salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari meja mereka.

“Segera!”

Nakamura berbisik pada teman-temannya ketika Karma menunggu pelayan menghampirinya untuk menulis pesanan. “Aku yakin yang barusan bukan bercanda.”

“Ng, aku bisa melihatnya dikelilingi perempuan-perempuan cantik seperti Bitch-Sensei.” Kayano menyetujui ucapan Nakamura.

“Tapi sepertinya merepotkan untuknya, bila dia sedang sibuk atau hal lainnya.” Isogai membela Karma, seperti biasa, dirinya baik pada siapapun.

“Itu benar sih…” Nagisa menyuarakan pendapatnya pula. Karma yang menutup buku menu membuatnya menoleh. “Apa yang kau pesan?”

“Makanan penutup dan bir.” Karma mengendorkan dasinya. “Aku sudah makan sebelum kemari.”

“Eh? Harusnya kau katakan sejak awal.”

“Nah, tidak masalah, itu juga tiba-tiba.”

Nagisa menaikkan alis heran. “Tiba-tiba?”

“Ah, rekan perempuan di kantorku memberiku bekal makanan, dia memaksaku untuk memakannya.” Karma mendesah pelan. “Kalau tidak aku tidak bisa pulang cepat.”

Nagisa dan yang lainnya bertukar pandang. Kini Kayano yang bersuara. “Tumben sekali Karma-kun menurut pada orang lain.”

Karma mendesah pelan. “Daripada merepotkan, itu lebih baik.”

“Memangnya kau tidak pernah bekal makanan atau makan diluar dengan rekan kantor, Karma?” Nakamura yang bertanya kini.

“Jarang, aku terlalu sibuk.” Karma mendapati pelayan yang sebelumnya datang dengan pesanan di tangannya. “Makan diluar dengan rekan satu kantor, hanya untuk beberapa hal dan kegiatan, tidak sering.”

Nagisa menggumam pelan. “Kalau begitu kau sering masak di rumah?”

Karma mengerjap. “Kalau aku memang ingin. Aku cukup sering memesan dari luar juga kalau sibuk.” Dia mengambil gelas yang pertamanya disajikan oleh sang pelayan.

Nakamura memangku wajahnya seraya menggumam pelan. “Kalau Nagisa? Kau suka membawa bekal makanan ke sekolah?”

“Eh? Ah, ng,” Nagisa melirik Kayano yang perlahan merona. “Walau tidak sering, aku membawanya kalau Kaede membawakanku satu.”

Nakamura dan Karma tersenyum lebar mendengar hal itu. Kayano hanya bisa merona ketika Nagisa tanpa ragu menjelaskan pada mereka. “Kau belum cerita kapan kau menyatakan cinta, Kaede-chan.”

“R-Rio!” Kaede mendongak dengan wajah merona saat Nakamura terkekeh. Karma di samping Nagisa hanya tersenyum mendapati keduanya semakin akrab sejak kelas 3-E. “Rio sendiri bagaimana?”

“Aku? Aku bukan orang yang pintar masak.” Rio mendesah pelan dengan sengaja. “Memang banyak sih, cowok-cowok yang mengajakku makan bersama atau mentraktirku sesuatu, tapi aku tidak tertarik.” Nakamura melakukannya seraya menyibak rambut panjangnya yang indah dan lembut. “Lagipula kebanyakan kebutuhanku ada yang ngurus.”

“Uwah, datang deh, sombongnya nona besar.” Sugino bersuara setelah sedari tadi mendengarkan dengan yang lainnya.

“Kalau Sugino-kun, sudah pasti dibuatkan oleh Yukiko-chan kan?” Kayano beralih pada lelaki penyuka baseball itu.

“Eh?” Reaksi keduanya cukup berbeda, walau rona merah masih menghiasi wajah masing-masing.

“Aku yakin kalian sudah jadian.” Nagisa turut membantu Kayano yang mengalihkan pembicaraan pada keduanya kini. Kayano hanya bisa mengangguk penuh semangat.

“Kapan, kapan?” Nakamura mendekatkan dirinya pada Kanzaki yang rona merah di wajahnya mulai terlihat lebih jelas.

“I-itu…”

“Siapa yang nyatain duluan?” Kayano ikut menyudutkan Kanzaki dan Sugino dengan Nakamura. Mereka lebih antusias perihal percintaan dibandingkan para lelaki. Keduanya pun kalah dengan paksaan Nakamura dan Kayano dan akhirnya menceritakan semuanya.

Karma tertawa kecil seraya menikmati pesanan miliknya sendiri. “Lalu bagaimana dengan penembak jitu kita?”

“Ng?” Nagisa menoleh pada Karma. “Penembak jitu?”

“Yup, Chiba dan Hayami. Aku yakin mereka berdua juga sudah jadian.” Karma melahap satu potong kue Red Velvet miliknya.

“Ah, kudengar begitu.” Nagisa mengangguk. “Sebenarnya mereka hendak datang, tapi karena ada halangan, jadi tidak bisa.” Karma hanya menggumam pelan. “Sayang sekali.” Karma mengangguk setuju walau ekspresinya datar seolah tidak tertarik.

“Ngomong-ngomong Karma, kudengar perusahaan yang kau pilih itu mendukung perusahaan dimana Takebayashi dan Okuda berada kan?” Maehara bersuara dan membuat Karma menoleh. “Kau sering bertemu mereka berdua?”

“Ng? Tidak, tentu saja.” Karma menyatakannya dengan tegas. “Aku orang sibuk.” Karma menambahkan ekspresi seolah dia tidak bisa menemui teman sekelasnya dulu walau perusahaannya mendukung perusahaan mereka.

“Menyebalkan sekali…” Maehara menggerutu pelan.

“Hmm, tapi soal melihat, cukup sering.” Maehara dan yang lainnya mengerjap. “Biasanya setiap kali aku hendak pergi menemui perusahaan lain atau ada pekerjaan yang membuatku meninggalkan Jepang.” Karma mendesah pelan. “Kalau tidak pergi ke toko buku, ke café, atau restoran.” Karma mengangkat kedua tangannya.

Nakamura menyunggingkan senyuman jahil. “Jangan bilang, kau cemburu?”

“Huh?” Karma mengerjap. “Cemburu?”

“Ng, sama Takebayashi. Karena dia sudah merebut Manami-chan dariku~!” Nakamura mengatakannya dengan lantang dan gerakan yang seolah mengerjai dan menunjukkan betapa Karma jatuh hati pada pemilik rambut ungu yang dikepang dua.

Nagisa menoleh pada Karma yang terdiam sebelum menyunggingkan senyuman. “Aku tidak mau bersaing dengan Takebayashi. Membuang waktu saja.”

Nakamura terkekeh. “Tapi aku yakin kau bisa merebutnya kalau kau benar-benar menyukai Nanami-chan sih.” Karma menatap gadis pirang itu lagi. “Toh hanya dia yang kelihatannya tidak takut padamu dan senang bersamamu.”

Nagisa melirik Karma lagi dan ekspresinya berubah. Nagisa mendapati kesedihan disana sebelum ekspresi biasanya kembali.

“Oh, tentu, dia kan bisa membantuku menciptakan sesuatu yang memperluas jaringan kejahilanku.” Karma terkekeh puas dan mereka yang ada di satu meja yang sama hanya bisa memasang ekspresi bahwa Karma memang seperti itu.

Kayano mendapati Nagisa yang mengeryit khawatir. “Nagisa?”

“Huh?”

“Ada apa?” Kayano ikut mengeryit saat Nagisa diam dan tidak tertawa seperti biasanya. Seolah ada sesuatu yang disadari Nagisa tapi tidak dengan yang lainnya.

“Tidak, bukan apa-apa.” Walau tidak begitu membuat Kayano yakin, gadis itu menganggukkan kepalanya. Mata biru Nagisa kembali memandang Karma yang kini tersenyum gigi bangga.

Sesuatu terjadi, Karma?

Acara reuni mereka pun berakhir, tentu saja, Nagisa dan Kaede yang menjadi tim perihal reuni dan ajakan untuk bertemu dengan teman-teman sekelas kembali bersiap untuk pertemuan mereka selanjutnya. Nagisa yang hendak mengantar Kaede pulang pun, mendapati Karma masih berdiri tak jauh dari tempat mereka makan sebelumnya dan memandangi ponselnya.

“Nagisa?”

“Ah, maaf,” Nagisa mengerjap saat Kayano menatapnya bingung. “Bisa, kita temani Karma dulu?” Kayano melihat Karma dari balik punggung pria mungil itu.

“Dia masih disana?”

“Ng” Nagisa ikut memandang Karma juga. “Ada yang ingin kubicarakan dengannya.” Kayano yang mendapati ekspresi di wajah Nagisa berubah khawatir pada Karma, Kayano pun tersenyum.

“Pasti ada sesuatu tadi ya, saat kita membicarakan teman-teman?”

“Eh?” Nagisa menoleh pada Kayano yang tersenyum.

“Apalagi saat kita membicarakan perihal Manami-chan.” Nagisa mengerjap saat Kayano melebarkan senyumannya. “Pasti ada kaitannya dengan Karma-kun bukan?”

Nagisa membelalakan mata sebelum tersenyum. Dia mengangguk tanpa ragu. “Akan kujelaskan setelah kita bicara dengannya.”

“Kalau begitu ayo!” Kayano tanpa ragu meraih tangan Nagisa dan mengajaknya berlari.

“Tunggu-Akari!”

Karma yang memandangi ponselnya pun menoleh saat mendengar langkah kaki cepat ke arahnya dan suara nyaring teman yang tidak asing. “Karma-kun!”

Lelaki bersurai merah itu pun mengerjap terkejut sebelum memasukkan lagi ponselnya. Dia berbalik menghadap keduanya yang cukup mungil. “Kalian belum pulang ternyata.”

“Ng! Aku dengar Nagisa ada perlu sesuatu denganmu, jadi aku ikut!” Kayano menyerahkan Nagisa pada Karma dengan memegangi kedua pundaknya.

“Tunggu, Akari!”

Karma tersenyum lebar, seperti biasa, mulai jahil. “Hoo, kau sudah memanggilnya dengan sebutan itu, hmm, Nagisa?”

“Eh?” Nagisa mengerjap terkejut saat Karma menanyakannya.

“Lalu kau kemari untuk menyatakan cinta padaku setelah menolak Kaede-chan? Kasihan sekali~”

“Hei! Aku tidak menolak siapa-siapa!” Nagisa menyatakannya sambil merona.

“Aku belum menyatakannya!” Kaede bersuara bersamaan dengan Nagisa. Mereka merona dan hanya membuat Karma menyunggingkan senyuman semakin lebar. Apalagi saat keduanya bertukar pandang kini.

Karma pun tertawa. “Kalian memang tidak berubah.” Keduanya menoleh pada Karma yang begitu tinggi di depan. “Lalu, ada apa?”

“Nagisa!” Lelaki bersurai biru muda itu menoleh pada Kayano yang menepuk pundaknya lagi. Dia mengangguk mantap saat mendapat dukungan itu.

“Kau tidak apa-apa?”

Karma mengerjap beberapa kali. “Apa?”

“Itu, saat kita membicarakan Okuda-san dan Takebayashi-kun.”

Karma mengerjap lagi sebelum tersenyum. “Tentu saja. Memangnya kenapa?”

“Karma pernah bilang kalau perempuan di kelas kita yang menarik perhatianmu itu Okuda-san bukan, saat di kelas 3-E dulu?” Karma yang tidak paham jalan pembicaraan mereka itu hanya mengangguk. Kayano di belakang Nagisa hanya bisa menahan rasa terkejutnya.

“Aku juga sudah mengatakannya tadi kan, kalau obat-obatan atau ramuan yang dia buat bisa memperluas ruang jahilku?” Nagisa mengangguk. “Itu menyenangkan sekali.”

Nagisa mendapati Karma terkekeh membayangkannya. Dengan memberanikan diri, Nagisa pun menanyakan hal yang mungkin sensitif bagi seorang Karma sekalipun.

“Apa hanya segitu?”

Tidak hanya Karma yang terkejut namun juga Kayano di belakangnya. Karma mengerjap beberapa kali seraya mencernanya. “Apa benar-benar hanya se-batas, itu?”

Karma mengerjap mendapati ekspresi di wajah Nagisa. Kayano pun memandang keduanya dan merasa seperti saat mereka bertengkar antara membunuh Koro-Sensei atau menyelamatkannya. Karma pun mendesah pelan.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, tapi cukup kelihatan ya.” Karma mengusap rambut merahnya.

“Karma?” Nagisa mengerjap saat lelaki tinggi itu mengacak-acak rambutnya. Dia terlihat seperti bocah saat di kelas 3-E dulu.

Karma mendongak dan tersenyum kecil kini. “Cemburu pun gak ada gunanya kalau orangnya tidak memahami maksudku.” Nagisa mengeryit perlahan saat dia menyadari maksud Karma.

“Jadi Karma-kun sungguhan menyukai Manami-chan?!”

Karma dan Nagisa terkejut sebelum Nagisa menempelkan jari di bibirnya. Kayano dengan spontan menutup mulutnya pula. Dia terlihat sangat terkejut.

“Aku tahu kalian cocok dan akrab dengan satu sama lain, tapi ternyata Karma-kun lebih dari itu ya.” Kayano melepas kedua tangannya. Karma mendesah pelan seraya menutupi wajahnya ketika Nagisa bersuara kini.

“Akari…”

“Eh? Ma-maaf! Aku mengatakan sesuatu yang salah?” Kaede pun panik ketika reaksi Karma dan Nagisa berbeda dari dugaannya.

Karma menyibak poni rambutnya. “Kelihatannya memang sudah begitu kenyataannya, Nagisa.”

“Huh?”

“Apalagi dari teman dekatnya.” Karma mendesah pelan.

“Tunggu, Karma! Bukan berarti kau harus menyerah kan?”

Karma mengedikkan bahu. “Hmm, sudah ada Takebayashi disana, lebih baik daripada tidak ada bukan? Aku juga sangat sibuk.”

“Tidak memiliki perasaan yang sama dengan Karma-kun bukan berarti Manami-chan membencimu!” Karma dan Nagisa terkejut mendengarnya. Ekspresi di wajah Kaede berubah kini. “Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Manami-chan pada Karma-kun, tapi lebih baik memastikan dan menyatakan perasaanmu apapun akhirnya nanti!”

Karma mengerjap beberapa kali dan bertukar pandang dengan Nagisa. Surai biru itu tersenyum sebelum mengangguk.

“Aku setuju dengan Akari, Karma.” Nagisa meraih lengan panjang Karma. “Cobalah lebih dulu, sampai kau mendapatkan kepastian untuk itu.”

Karma menoleh saat Kaede melakukan hal yang sama. “Kita selalu ada bersamamu apapun yang terjadi.” Karma hanya bisa tersenyum saat mendengar hal itu dari keduanya. Kehangatan yang terasa dari kata-kata dan sentuhan Kaede dan Nagisa membuat Karma yakin. Karena kali ini berbeda dari yang dulu.

“Kalian ini cerewet sekali sih.” Nagisa dan Kaede tersenyum lebih lebar. “Oke, oke, biar aku lakukan sesuatu sebelum mengabari kalian.”

“Itu baru Karma-kun!” Kaede menepuk pelan lengan Karma kini disertai dengan dukungan semangat.

“Kutunggu kabarmu di reuni atau pertemuan selanjutnya, Karma.” Nagisa mengarahkan kepalan tangan padanya yang hanya disambut anggukan oleh surai merah itu. Sebelum dia mengarahkan kepalan tangannya sendiri.

“Oke”

Karma pun melambai pada Nagisa dan Kaede yang berjalan pergi darinya. Karma mendesah pelan sebelum berbalik menjauh dari tempat makan mereka, dengan sebuah tekad yang muncul di dadanya.