Work Text:
Sebagai hibrida phantom, Wilbur telah ditakdirkan sebagai makhluk nokturnal. Namun karena semua teman-temannya berkegiatan di siang hari, Wilbur tidak mempunyai banyak pilihan selain mengorbankan jam malamnya dan menggunakan semua kekuatannya untuk menjadi transparan sepanjang waktu.
Wilbur tidak memiliki masalah dengan hal itu. Dia senang menghabiskan waktu dengan teman-temannya, dia juga bisa menghemat kekuatannya dengan berusaha terus berada di bawah naungan dan jauh dari matahari.
Namun seberapapun dia berusaha, dia tidak bisa sepenuhnya mengendalikan instingnya. Wilbur tahu semua orang di server juga merasakan hal yang sama. Origin SMP adalah tempat yang aman di mana berbagai jenis hibrida bisa tinggal bersama dengan tenang tanpa kekhawatiran konstan akan pemburu hibrida untuk menemukan dan menjual organ mereka.
Namun banyaknya perbedaan datang dengan berbagai kesulitan. Gabungan berbagai macam hibrida dengan banyaknya perbedaan insting dan kebutuhan memaksa mereka untuk memahami kebutuhan orang lain dan menahan insting masing-masing.
Ranboo tidak akan pernah bisa merasakan sentuhan langsung kakaknya karena Niki hidup di air, Charlie harus merasakan teror menjadi seukuran mikro setelah episode “penelitian” yang melibatkan banyak pukulan, Jack respawn di Nether dan harus masuk ke lava setiap beberapa menit sekali, Phil memiliki dorongan kuat untuk menjelajah, dan Fundy memilih untuk tinggal di gua untuk menenangkan instingnya.
Jika semua orang bisa memahami keadaan masing-masing dan menahan insting mereka, maka Wilbur harus bisa menahan instingnya juga.
Dan dengan pikiran itulah Wilbur duduk di atap rumahnya, menahan setiap dorongan yang meneriakinya untuk pergi mencari siapapun yang mengidap insomnia. Karena Wilbur bisa merasakan seseorang –dari arah kanan rumahnya- tidak tidur selama tiga hari, dan yang hanya ingin Wilbur lakukan adalah untuk memasukkan siapapun itu ke tempat tidurnya dan memaksanya untuk beristirahat.
Wilbur memandang bintang-bintang dengan alis berkerut, berusaha untuk berfokus pada formasi bintang di depannya dan mengingat mitologi Yunani dibaliknya -yang dia tahu dari Techno- untuk mengalihkan pikirannya. Alisnya berkerut semakin dalam, entah itu karena dia tidak bisa mengingat apa yang dibacakan Techno baru dua hari lalu atau karena energi kelelahan semakin menguat dari siapapun orang yang memicu instingnya –mungkin keduanya.
Pandangan Wilbur beralih ke bulan yang bersinar lembut di atas kepalanya, memandangnya seakan benda itu telah membunuh hewan peliharaannya. Ekor birunya mengibas dengan pelan namun kuat, menandakan ketidaknyamanannya. Sayap birunya mengepak tidak nyaman, berteriak untuk lepas landas dan terbang ke arah ketidaknyamanannya berasal.
Yang dibutuhkan Wilbur untuk segera terbang pergi adalah suara teriakan teredam dari arah yang sama. Satu detik Wilbur duduk di atap rumahnya, detik berikutnya Wilbur telah terbang ke arah suara itu berasal. Wilbur merasakan tubuhnya menegang karena kecepatan terbangnya, dia juga yakin mata coklatnya telah berubah menjadi hijau cerah karena insting yang menendang.
Otak phantomnya mulai berteriak semakin kuat saat dia menyadari kemana dia terbang. Matanya sedikit membelalak dan dia meningkatkan kecepatan terbangnya saat rumah Tommy mulai terlihat.
Sial. Seharusnya Wilbur menyadarinya lebih cepat. Adiknya telah terlihat lebih pucat dan kelelahan beberapa hari terakhir ini. Rasa bersalah dan insting melindungi yang semakin kuat mendorong Wilbur untuk segera turun dan menerobos masuk ke rumah adiknya.
Wilbur membanting pintu dan masuk dengan nafas yang sedikit terengah-engah karena cepatnya dia terbang setelah lama tidak menggunakan sayapnya. Dan di dalam rumah, dia disambut dengan Tommy –dengan pakaian berdebu dan wajah yang tertutup abu yang kemungkinan besar karena hasil menambang- berdiri di tengah ruangan dengan mata terbelalak kaget dan bongkahan besi di tangannya.
“Anjir?! Lu ngapain tetiba masuk gak ngetok gak salam?!” Tommy berteriak dengan kesal, menarik nafas dalam untuk menenangkan jantungnya. Dia sudah merasa kelelahan karena kegiatan menambangnya selama tiga hari terakhir, dia tidak perlu kejutan tidak menyenangkan dari kakaknya di tengah malam seperti ini.
(Namun pikiran itu juga yang membuat Tommy tidak menyadari kilau hijau di mata Wilbur dan ketegangan di bahunya.)
Wilbur masih terdiam di pintu, tidak memberikan balasan apapun seperti biasanya, hanya menatap ke arah Tommy seperti predator yang mengincar buruan.
Tommy tidak melihat dirinya seperti buruan, tentu saja. Dia adalah seorang avian dengan kekuatan luar biasa untuk menarik wanita dan jatuh dengan gaya, namun berada di bawah tatapan hibrida yang lebih kuat dan kepala yang berkabut karena kelelahan membuat Tommy merasakan takut dan ketidaknyamanan.
“Wilbur-“
Kata-kata Tommy dipotong oleh tangan yang melingkarinya dengan kuat dan mengangkatnya seperti sekarung kentang.
“Bajingan- Wilbur! Turunin gak! Woi! Besi gue!” Tommy berteriak dan berusaha melepaskan dirinya, namun gagal karena kelelahan dan kenyataan bahwa kakaknya lebih kuat darinya.
Bongkahan besi di tangannya terjatuh dengan suara keras ke lantai rumahnya. Semua usahanya selama semalaman penuh tercecer di lantai. Semua keterkejutannya kini mulai memudar menjadi amarah yang membakar.
Wilbur tidak seharusnya masuk sembarangan ke rumahnya dengan tiba-tiba. Wilbur juga tidak seharusnya menyentuhnya tanpa persetujuan dan mengangkatnya pergi. Dan dengan alasan baru, Tommy kembali berteriak dan menggeliat dari genggaman besi kakaknya.
Tommy memukul-mukul punggung Wilbur dan menendang udara dengan kekuatan yang tidak akan menyakiti kakaknya, namun tidak adanya balasan membuat teriakannya mulai mengeras dan perjuangannya semakin kuat. “Lepasin! Wil-“
“Diem.”
Wilbur mengatakannya dengan nada dingin yang mengantarkan merinding ke tulang punggungnya. Semua gerakan dan teriakan Tommy seketika terhenti. Matanya membelalak karena rasa takut baru.
“Wilbur- oof!” semua kata-kata Tommy mati di lidahnya saat dia dilemparkan ke permukaan lembut yang dia kenali sebagai sarangnya. Niat Tommy untuk bangkit dan laripun segera pudar saat Wilbur segera ikut masuk ke sarangnya dan memeluk Tommy dengan lengan besi yang sama.
“Wilbur.” Tommy memanggil dengan nada hampir memelas. Kakaknya bersikap aneh dan Tommy hanya ingin melanjutkan pembakaran besinya karena sekarang dia telah memiliki jumlah berlian yang cukup untuk membuat satu set armor berlian setelah tiga hari penambangan.
“Tidur.” Kali ini Wilbur mengatakannya dengan sedikit lembut. Mungkin merasa bersalah karena menakuti adiknya –walaupun Tommy tidak akan pernah mengakui bahwa dia ketakutan.
Tommy mendongakkan kepalanya dari dada Wilbur untuk melihat kakaknya menatapnya dengan mata hijau berkilau.
Oh.
Dan semuanya mulai jelas. Tommy telah tidak sengaja memicu insting phantom Wilbur.
Sekarang setelah dia mengerti, Tommy merasa bersalah karena telah membuat kakaknya khawatir dengan tidak perlu. Tommy mungkin tidak ingin diperlakukan seperti ini, namun tentunya Wilbur juga tidak ingin memaksanya seperti ini karena dorongan insting.
Jadi dengan helaan nafas, Tommy mengalah dan kembali membenamkan wajahnya ke sweater kuning kakaknya. Tommy juga melingkarkan tangannya perlahan ke tubuh kakaknya yang disambut dengan dengkuran lembut yang terdengar seperti kucing.
Dengan getaran lembut yang menenangkan dan rasa aman yang diberikan sarangnya, ditambah dengan rasa lelah yang akhirnya menghantam, Tommy merasakan kelopak matanya mulai berat dan tubuhnya mulah meleleh di dalam pelukan hangat kakaknya.
Armor berliannya bisa menunggu sampai besok. Untuk sekarang Tommy akan menyerahkan kesadarannya dan merasa aman di dalam lindungan kakaknya.
Dan jika esoknya Phil menemukan dua anaknya tertidur dengan nyaman di sarang dan memiliki beberapa foto baru untuk menjadi tambahan di album keluarga –dan mungkin dijadikan untuk pemerasan di masa depan- hanya Phil yang tahu.
