Work Text:
Satu hal yang Phil senangi dengan menjadi orangtua adalah saat dia bisa melihat anak-anaknya tumbuh dan bahagia. Rasa bangga saat melihat anak-anaknya berhasil tumbuh dan mencapai sesuatu, juga rasa senang saat melihat mereka tertawa dan merasa dicintai.
Namun menjadi single parent dengan tiga anak yang masih kecil tentunya menjadi tantangan yang besar. Dua anak tertuanya yang merupakan kembar sepertinya tidak bisa lepas dari masalah, dan anak termudanya yang masih berumur lima tahun bahkan lebih bermasalah.
Phil tentunya tidak bisa banyak mengeluh. Karena istrinya sendiri telah mengorbankan jiwanya untuk melahirkan anak termuda mereka, jadi yang setidaknya bisa Phil lakukan adalah merawat anak-anak mereka dengan sepenuh hati.
“Tommy,” Phil berkata dengan lembut, berusaha membuat anaknya mengerti. “kamu gak boleh mukul kepala Ranboo pake tongkat.”
“Ini pedang!” Tommy mengoreksi dengan marah, memegang tongkat yang ditemukannya di halaman seperti memegang pedang sungguhan.
Phil menghela nafas, namun menggangguk dan kembali melanjutkan. “Kamu gak boleh mukul Ranboo pake pedang. Liat deh, kasian kan dia kesakitan.”
Keduanya mengalihkan pandangan mereka ke anak yang menangis di lantai, dengan Tubbo berdiri di sampingnya dan mengelus kepala temannya.
“Tapi kamu gak apa-apa kan, Boo?” Tommy beralasan.
Anak malang yang masih duduk menangis di lantai menganggukkan kepalanya, menatap Phil dengan mata berkaca-kaca dan membalas dengan lemah. “Aku gapapa kok.”
“Ranboo, kamu gak harus dengerin semua kata-kata orang lain..” Phil menjelaskan dengan lembut. “Kalo kamu gak suka, kamu bisa bilang.”
Ranboo hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berusaha bangkit denggan kakinya dan mendekati keduanya dengan Tubbo yang setia mengikuti.
“Nanti kamu jadi penjahatnya lagi ya, Boo.” Tommy berkata dengan kepercayaan diri seorang diktator, yang membuat Phil mempertanyakan kemampuan mendidiknya.
“Aku juga mau jadi orang baik..” Ranboo berkata dengan lemah.
“Gapapa, Boo. Jadi orang jahat juga keren kok! Kamu bisa make bom atom!” Tubbo berkata dengan semangat, sangat senang dengan ide ledakan setelah pesta tahun baru saat Puffy mengizinkan ponakannya untuk menyalakan satu kembang api. Phil yakin Puffy masih menyesali keputusannya.
“Iya deh..” Ranboo memasrahkan diri dengan keadaan, jelas mengerti dia tidak akan bisa melawan keinginan dua temannya yang keras kepala.
Tommy mengangguk dengan tegas, terlihat puas dengan keputusan temannya.
Sebenarnya agak lucu bagi Phil saat melihat Ranboo terus-terusan didorong oleh teman-temannya yang jelas lebih kecil darinya. Tommy mungkin terlihat berani dan percaya diri, namun anak itu memiliki tubuh yang lemah dan Phil yakin Ranboo bisa mengalahkan Tommy dengan mudah. Sedangkan Tubbo –walau tubuhnya adalah yang paling kecil- memiliki kekuatan yang mengejutkan, namun dengan tinggi badannya Phil yakin Ranboo masih bisa mengalahkannya.
Walau begitu, Ranboo adalah sosok yang lembut seperti kaknya, Niki, dan tidak akan pernah tega untuk melukai teman-temannya. Phil hanya berharap dia bisa tumbuh dengan lebih percaya diri. Tidak banyak juga yang bisa Phil lakukan selain mengawasi dan mendorong perkembangan mereka.
“Ke seluncuran! Yang terakhir kalah!” Tubbo tiba-tiba berteriak dan segera meluncur ke arah seluncuran.
Kedua teman lainnya terkejut, namun segera ikut berlari dan berteriak mengejar.
Tubbo dengan mudah menjadi yang pertama –karena walau dia curang dengan mencuri start- anak itu memang memiliki ketahanan yang kuat, sedangkan Ranboo berhasil menjadi yang kedua karena kakinya lebih panjang. Tommy ditinggalka di peringkat terakhir dan berteriak marah karena itu.
“Kamu curang! Kenapa kaki kamu panjang sih!” Tommy menunjuk Ranboo dengan marah.
“Tubbo yang lari duluan, kenapa kamu marahnya ke kaki aku?!” Ranboo balas berteriak, terlihat sangat heran dan tidak percaya akan kelakuan temannya.
Tommy terlihat terkejut akan teriakan balasan Ranboo, anak itu terlihat diambang air mata. Ranboo sendiri terlihat merasa bersalah dan ingin meminta maaf, namun segera dipotong oleh hantaman lain tongkat kayu ke kepalanya.
Phil sebenarnya tahu alasan utama Tommy tidak menyukai Ranboo adalah anak itu lebih tinggi darinya, karena Tommy sudah terbiasa menjadi yang paling tinggi. Juga karena anak itu adalah orang Amerika. (Walau Phil masih tidak mengerti kenapa Tommy sangat membenci orang Amerika kecuali Techno)
Namun untuk saat ini Phil memilih untuk menyelamatkan harga diri anaknya dan memperhatikan perkembangan pertemanan ketiganya.
__
Phil selalu memulai paginya dengan rutinitas yang sama. Membangunkan anak-anaknya dan menyiapkan sarapan, bersiap dan mengantarkan si kembar ke sekolah, kemudian mengantarkan Tommy ke penitipan anak dan pergi bekerja.
Hari itu adalah hari kamis saat dia mendapat telepon dari nomer yang sayangnya dia kenali. Dia ditelepon oleh sekolah Wilbur dan Techno.
Phil menghela nafas untuk mempersiapkan dirinya, tahu ke arah mana percakapan ini akan berakhir. Dia menyiapkan diri selama beberapa detik sebelum mengangkat teleponnya.
“Halo?” dia menyapa, masih memikirkan kesopanan.
“Halo, Tn. Minecraft?” suara familiar sekertaris sekolah menyapa dari ujung lain panggilan, membuat Phil meringis dalam hati.
“Ya, dengan saya sendiri. Ada masalah apa?” Phil bertanya langsung pada intinya, tidak memiliki energi untuk basa basi. Dan sepertinya sekertaris itu juga memiliki pikiran yang sama.
“Anak anda terlibat pertikaian. Saya harap anda bisa menjemput mereka di runag kepala sekolah sekarang.” Dia mengatakan dengan nada datar yang jelas mengisyaratkan kelelahannya, sepertinya sudah sangat muak melakukan panggilan seperti ini setiap beberapa menit sekali. Phil sendiri tidak bisa merasa bersimpati.
Phil menghela nafas lelah, menggangguk sedikit walau dia tahu si sekertaris tidak bisa melihatnya. “Baik, aku akan ke sana dalam beberapa menit.”
Panggilan terputus dan Phil memulai perjalanannya ke sekolah si kembar.
Phil berjalan langsung ke ruang kepala sekolah yang sayangnya familiar. Saat dia membuka pintu, dia disambut dengan kedua anaknya yang masih memiliki rasa malu untuk setidaknya terlihat merasa bersalah. Wilbur kelihatannya habis menangis dilihat dari matanya yang sedikit bengkak dan hidungnya yang memerah, sedangkan Techno kelihatan sedikit berantakan walau tidak memiliki luka atau lebam di tubuhnya.
Phil juga menyadari keberadaan anak lain di ruangan itu yang kelihatannya terluka dan masih menangis di dekapan ibunya yang melihat Phil dengan marah. Di ruangan itu juga ada si kepala sekolah yang meminum kopinya –yang Phil tebak adalah yang ke sepuluh gelas- dan terlihat sangat ingin pulang.
“Baik, Tn. Minecraft. Saya yakin anda sudah tahu kenapa anda dipanggil ke sini?” kepala sekolah bertanya dengan suara profesionalnya.
Phil mengabaikannya sepenuhnya dan berbalik menghadap anak-anaknya. “Apa yang kalian lakukan kali ini?”
“Si bodoh ini ngejek musik Wilbur!” Techno berkata dengan panas, menunjuk anak yang menangis.
“Perhatikan kata-katamu, nak.” Ibu dari anak itu membentak Techno, yang langsung menyulut kemarahan Phil.
“Yah, yang saya dengar di sini, anak anda membully anak saya.” Phil mencoba beragumen, dia tahu saling membentak tidak akan menyelesaikan masalah. Dan beraninya wanita ini membentak anaknya!
“Mereka hanya anak-anak. Anakku mungkin tidak bermaksud seperti itu dan anakmu hanya bereaksi berlebihan.” Wanita itu membalas, terlihat sangat tidak senang.
“Dia bilang musikku sampah dan tidak pantas berada di pagelaran!” Kali ini Wilbur yang berteriak, mata merahnya kembali berkaca-kaca dengan air mata yang mengancam untuk kembali tumpah. Techno dengan lembut memegang tangan Wilbur sebagai upaya lemah untuk menenangkan kembarannya.
Phil harus menahan diri untuk tidak meleleh karena kedekatan kedua anaknya, namun yang saat ini lebih penting adalah beraninya anak ini mengatakan hal seperti itu tentang musik Wilbur! Phil mengenal betul anaknya, dan dia sangat tahu betapa berbakatnya Wilbur dalam bidang musik yang dicintainya. Persetan pagelaran, Wilbur berhak merilis albumnya sendiri.
“Dengar? Kelakuan anak anda sangat tidak terpuji. Menghina kecintaan orang lain seperti itu!” kali ini Phil bahkan tidak menahan diri.
Wanita itu kelihatan tersinggung dan semakin marah. “Anda mempertanyakan kelakuan anak saya?!” teriaknya tak percaya. “Anak anda memukuli anak saya! Hidung anak saya berdarah saat saya datang! Bagaimana mungkin anda membiarkan tindakan kekerasan seperti ini?”
Phil hanya mendengus, yang mana membuat wanita itu makin tersinggung. “Mereka hanya mempertahankan diri mereka. Mungkin jika anda bisa mendidik anak anda agar tidak berbicara yang salah kepada orang yang salah, ini tidak akan menjadi masalah.”
Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan marah. “Sekarang aku melihat dari mana arogansi anak-anak ini berasal.”
Sebelum Phil bisa kembali membalas, kepala sekolah memotong argumen keduanya. “Tn. Minecraft, Ny. Williams, saya memanggil anda berdua ke sini untuk mencoba mencari jalan keluar, bukan untuk bertengkar di depan anak-anak.”
Kedua orangtua setidaknya masih tahu malu dan berusaha menenangkan diri masing-masing.
Phil, sebagai seorang pria besar –seperti kata Tommy- mencoba mengalah dan menatap anak-anaknya. “Aku tidak marah. Namun mungkin kita seharusnya tidak menghabiskan waktu di sini. Sekarang, Techno, minta maaflah.”
“Tapi-“ perkataan Techno segera dipotong oleh Phil.
“Aku tahu kamu berusaha lindungin Wilbur, tapi kita udah terlalu lama di sini, jadi kamu harus minta maaf.” Phil benar-benar tidak mau menghabiskan lebih banyak waktu di sini.
Techno mendengus dengan tidak senang, namun akhrinya mau mengalah dan meminta maaf dengan setengah hati.
Wanita itu kelihatannya juga masih memiliki kesopanan untuk setidaknya membuat anaknya meminta maaf kepada Wilbur, dan setelah itu mereka diminta untuk menandatangani surat omong kosong dan akhirnya dibiarkan pergi.
Setelah akhirnya berada di luar dan siap masuk ke mobilnya, dia berbalik untuk menatap kedua anaknya dengan benar. Keduanya terlihat sangat merasa bersalah dan menolak untuk menatap matanya, namun Phil hanya tersenyum.
“Harusnya kamu mukul anak itu lebih keras.” Ujarnya, yang langsung dibalas dengan cekikikan kecil Wilbur dan seringai dari Techno.
“Aku matahin idungnya!” Techno berkata dengan bangga, dan Wilbur memberikan tos pada saudara kembarnya.
“Yah, tapi ayah lebih seneng kalo ayah gak ditelpon sekolah setiap seminggu dua kali.” Phil berkata saat mereka memasuki mobil.
“Kalo seminggu sekali?” Techno berusaha bernegosiasi.
“Anak sialan.” Phil berkata singkat yang langsung dibalas dengan tawa dari kedua anaknya.
“Kita jemput Tommy yah?” Phil berkata sasat dia mulai mengeluarkan mobilnya dari parkiran dan mulai mengemudi ke jalan.
“Kue!” Wilbur berkata dengan semangat, dibalas anggukan persetujuan dari Techno dan kekehan kecil dari Phil.
“Oke.” Keduanya bersorak keras. “Tapi kalian dihukum.” Keduanya mengeluh dengan keras.
Phil kembali terkekeh dengan geli. “Ini karena kalian terus-terusan bikin masalah.”
“Seenggaknya kita dapet kue.” Wilbur mencoba menjadi optimis.
Setibanya di tempat penitipan anak, ketiganya disambut dengan Tommy yang terlihat sangat nyaman menempel di pinggul Sam, salah satu pengawas di sana. Namun saat melihat kedatangan keluarganya, anak berumur lima tahun itu segera menggeliat turun dari embanan Sam dan berlari ke arah si kembar yang langsung menggodanya.
“Hey, Phil.” Sam menyapa dengan senang. “Aku tidak menyangka kau akan menjemput secepat ini.”
“Yah, kau tahu anak-anakku. Kali ini Techno memukuli anak yang mengejek musik Wilbur.” Phil berkata dengan pahit, masih tidak senang dengan seseorang menyakiti perasaan anak-anaknya.
Sam memberinya tatapan pengertian yang disyukuri Phil.
“Apa itu tadi?” Phil bertanya, memaksudkan kelakuan Tommy yang menempel ke pengawasnya. Bukannya Phil tidak senang dengan kedekatan keduanya, Phil malah senang karena Tommy cukup percaya dengan pengawasnya dan nyaman berada bersamanya, Phil hanya ingin tahu alasan dibaliknya.
“Oh tadi? Tommy sedih karena Tubbo dan Ranboo akan menikah, jadi dia berusaha mengabaikan mereka dan bermain bersamaku.” Sam menjelaskan dengan geli, terlihat sangat senang dengan situasi.
Phil memutuskan bahwa dia tidak akan mempertanyakan apapun.
Mereka akhirnya pergi dengan Tubbo dan Ranboo yang berhasil mendapatkan kembali kepercayaan Tommy dengan memperbolehkannya menjadi flower boy, dan mereka pergi ke toko roti langganan mereka yang juga rumah Ranboo.
Mereka masuk dan langsung disambut dengan aroma roti yang baru dipanggang dan kekhangatan khas yang mereka cintai.
Wilbur langsung berlari ke dalam dan berteriak. “Niki!”
“Hey, Wil!” Gadis kecil yang sedang duduk di salah satu meja kosong balas menyapa, kelihatannya senang dengan kehadiran temannya. Phil hanya bersyukur ini adalah hari kerja dan tempat ini sedikit kosong, jadi setidaknya anaknya tidak terlalu mengganggu.
Tiga lainnya mengikuti Wilbur. Tommy berlari ke arah Niki dan segera memeluk orang yang telah dia anggap sebagai kakak perempuan itu.
“Halo, Tommy!” Niki menyapa dengan kelembutan khasnya.
“Kamu gak sekolah?” Techno bertanya, tanpa kata duduk di depan Niki.
Wilbur duduk di samping Niki dengan Tommy duduk di samping Techno, menyisakan Phil untuk mengambil bangku dari meja yang kosong dan duduk di antara Tommy dan Wilbur.
“Aku gak enak badan, jadi gak bisa berangkat sekolah.” Niki menjelaskan dengan lemah. “Idung siapa yang kamu patahin kali ini?” pertanyaan itu langsung dia tanyakan kepada Techno yang tersenyum dengan bangga.
“Orang yang hina musik Wilbur.” Techno menjawab, yang langsung disambut dengan suara marah dari Tommy.
“Harusnya kamu pukul dia pake pedang!” Tommy berteriak dengan marah, menggerakkan tangannya dengan upaya meniru gerakan berpedang.
“Techno gak boleh bawa pedang ke sekolah, Tommy.” Wilbur berkata dengan dengusan geli akan tingkah adiknya.
“Tommy bener. Dia gak pantes idup.” Niki berkata dengan gelap. Dibalik kelembutan Niki, gadis itu bisa menjadi sangat menyeramkan jika dia mau. Terkadang Phil penasaran apakah Ranboo akan tumbuh mengikuti jejak kakaknya.
“Yah, aku udah matahin idungnya!” kali ini giliran Techno yang mendengus bangga.
Wilbur terlihat sangat senang dengan keluarga dan temannya yang mau membela dan mendukung apa yang dicintainya, yang membuat Phil tidak bisa menahan diri untuk mengelus rambut coklat berantakan di bawah beanie merah kesayangannya.
Setelah beberapa obrolan ringan, ibu Niki yang adalah pemilik toko roti datang dan menanyakan pesanan mereka. Dan tanpa menunggu lama lagi, mereka disajikan dengan berbagai kue dan manisan.
Tommy mengoceh kepada mereka tentang harinya, yang dibalas dengan tawa dan beberapa masukan dari Wilbur dan Niki, Techno mendengarkan dalam diam –terlihat sangat puas dengan kehangatan keluarga dan temannya- dan beberapa kali mengangguk dalam persetujuan tiap kali Tommy membicarakan tentang tindakan menyerang dan defensif yang telah diajarkannya. Sedangkan Phil hanya memperhatikan dalam diam, tersenyum lembut dan tertawa akan tingkah anak-anaknya.
Phil bahagia dengan keadaannya, melihat anak-anaknya tumbuh dan menjalani hari mereka dengan penuh kasih dan kebahagiaan. Dan Phil tidak akan pernah menukarnya dengan apapun di dunia.
