Work Text:
- Intro
Beberapa tahun silam, dunia digemparkan dengan keberhasilan eksperimen persilangan antara manusia dan kucing atau anjing. Kedua hewan yang memiliki sifat dan bawaan genetika yang paling ideal untuk menciptakan hybrid human—telah mengantarkan dunia pada kemajuan yang pesat utamanya pada bidang militer.
Dari titik tersebutlah, dunia menuju kehancuran.
Pada belahan dunia yang seringkali menerima imbas peperangan setelah pemberontakan massal dari kaum hybrid human, banyak dari mereka yang terlantar. Menjadi kriminal, kehilangan tempat tinggal, hingga menghabiskan sisa hidupnya di jalanan. Sesungguhnya, mereka masih bagian dari makhluk hidup yang memiliki pilihan dan kehendaknya masing-masing. Para penguasa lah yang merusak kebebasan mereka demi kepentingan duniawinya.
- Post-Chaos
2071
Jepang, 7 tahun yang lalu berhasil mewujudkan kombinasi sel yang kompleks antara kucing-manusia atau anjing-manusia yang menghasilkan hibrida dengan kemampuan melampaui cara berpikir manusia dan insting hewan sekaligus. Hal itu menjadikan dunia memanfaatkan hibrida sebagai alat perangnya masing-masing. Hingga dunia pun kembali berlomba-lomba menguasai satu sama lain dengan kecerdasan anggota militer yang semakin pesat. Buah dari perselisihan dan perang itu tidaklah menghasilkan apa-apa selain kehancuran sistem. Dunia dalam kerugian besar ketika para hibrida yang diperalat sekaligus menjadi korban eksperimen itu memberontak dan mencari kelangsungan hidupnya diluar perang. Mereka meminta keadilan, menginginkan kesetaraan, bahwa mereka bukanlah hewan ataupun alat. Sebagian dari diri mereka jugalah manusia. Para penguasa dunia tidak ingin kalah dan bertransformasi menjadi hibrida untuk menaklukan lawannya, namun bukan itu yang akan dibahas pada kisah ini.
Sebagaimana banyaknya hibrida yang terlantar, mereka seperti tunawisma dan juga hewan terlantar. Tidak lain mereka membutuhkan rumah, perlindungan, dan juga naluri untuk mendapatkan perhatian sebagaimana kucing dan anjing merupakan hewan perliharaan terfavorit bagi manusia. Mungkin Jihoon akan mengerti bila Wonwoo ingin mencoba memberi hewan peliharaan sebagai hadiah jika situasinya masih seperti belasan tahun yang lalu. Sayangnya, populasi murni dari kucing dan anjing menipis ketika munculnya hibrida. Tentunya Jihoon tahu betul siapa yang Wonwoo bawa tepat di hadapannya,
yang mana merupakan seekor—atau seorang hibrida.
“Jihoon, kayaknya kamu perlu pertimbangin ini baik-baik.” Wonwoo berusaha meyakinkannya sambil mengikuti langkah kaki Jihoon dalam kabin yang tersusun dari kayu, seng karat, pipa, dan barang temuan lainnya.
“Aku bilang aku mau hidup sendirian.” Ujar Jihoon yang bahkan tak menoleh pada hibrida yang sedang menjelma menjadi kucing manis itu. Ia menaiki loft bunk bed dan mengabaikan Wonwoo di bawahnya. “Memangnya kamu ga bisa hargain hidup aku yang damai di sini?”
“Ini hibrida, Ji.” Wonwoo mengelus wujud kucing dengan corak tabby dan ukuran yang lebih besar dari ukuran kucing domestik pada umumnya. Kucing itu mendengkur hebat dalam pangkuan Wonwoo yang sedang mendongak pada Jihoon di atas kasurnya.
“Justru itu. Ngurus hidup hibrida artinya berkali lipat dari manusia sama kucing sekaligus.”
“Kamu perlu tau, kalau Junhui gak mau ada hibrida lain selain dia. Dia gabisa berhenti hissing setiap matanya ketemu Hoshi. Oh iya, Hoshi itu namanya dia.” Jelas Wonwoo sambil bersantai di sofa dari tumpukan pakaian bekas yang sedemikian rupa Jihoon rakit menjadi tempat duduk yang nyaman dan menarik. “Aku bisa aja rawat dia, toh, mereka lebih cerdas dari kita Ji. Urusan memburu makanan jelas skill kita kalah telak. Tapi sekali lagi, demi kenyamanan Junhui.”
Wonwoo yang merupakan sahabat sejak mereka remaja, akan selalu berterus terang mengenai situasinya dan biasanya, Jihoon akan membantunya. Atau sebaliknya, mereka akan saling membantu walau awalnya sulit untuk dikerjakan. Maka dari itu, Wonwoo sangat percaya diri membawa Hoshi pada Jihoon hari ini.
“Duh, Jeon Wonwoo! Lagian kenapa kamu harus mungut kucing lagi sih?”
“Ini hibrida-“
“Ya! Ya! Hibrida! Kenapa? Kamu tau udah punya Junhui kenapa mungut yang baru?”
“Aku gak tega, Ji. Hoshi keadaannya sekarat waktu aku temuin di jalan.” Jawabannya itu membuat Jihoon mengintip dari pagar besi loft bunk bed buatannya hanya untuk menemukan Wonwoo yang tersenyum tulus sambal memainkan tangan si hibrida yang dipangkunya alias, Hoshi.
Jihoon hampir lupa bahwa Wonwoo adalah mantan ilmuwan sekaligus maniak kucing sebelum perang terjadi. Jihoon selalu tahu bahwa Wonwoo tidak begitu lihai mengekspresikan dirinya, namun ia mengingat bahwa sahabatnya pernah menangis menjerit-jerit karena semua kucing peliharaannya ditarik paksa oleh pemerintah untuk dikorbankan sebagai bahan eksperimen mereka. Jihoon mengurung kembali egonya, berpikir bahwa luka di hati temannya itu belum hilang. Maka rasa sayang pada seekor kucing- atau hari ini umumnya berwujud hibrida tidaklah memudar bagi Wonwoo.
“Betina atau jantan?”
“Laki-laki, Jihoon.” Wonwoo beranjak untuk menunjukkan Hoshi pada Jihoon dengan menggelantungkannya pada pagar kasur. “Lucu kan?”
“Meow.” Hoshi menyahut seolah-olah mengiyakan pertanyaan Wonwoo untuk mendapatkan perhatian Jihoon.
Jihoon masih melirik mereka berdua dengan sebal. Kemudian ia menghampirinya dan berbicara pada Hoshi, “Aku mau liat wujud manusianya kamu, kita bicara yang jelas. Supaya jawaban kamu gak cuma meow meow.”
Wonwoo menurunkan Hoshi dan membiarkannya pergi ke tempat yang sedikit tertutup. “Ji, aku butuh baju buat Hoshi.”
Jihoon menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Loh, bukannya Hoshi pake harness? Setauku alat itu bisa berubah jadi baju lapangan mereka supaya siap transformasi dimana aja.”
“Barangnya udah gak berfungsi, aku gak ahli kalo soal reparasi baju zirah mereka. Ada mekanik yang aku kenal, tapi dia ada di sebrang kota. Aku gak punya waktu untuk pergi kesana.” Jelas Wonwoo sambal mengekori Jihoon yang berjalan menuju penyimpanan pakaiannya.
“Ribet.” Jihoon akhirnya memberikan pakaian yang ia punya untuk Hoshi berganti.
“Makanya, mungkin kamu harus buat beberapa baju untuk Hoshi. Semoga kamu gak keberatan.”
Tidak lama setelahnya, Hoshi menampakkan dirinya dengan celana yang terlalu pendek untuk tingginya yang kurang lebih sekitar 5’10’’. Fisiknya yang memang diperuntukkan dalam medan perang itu membuat Jihoon sedikit terpana. Tidak lupa dengan bentuk telinga yang sedikit runcing dan juga corak tabby samar-samar pada kulitnya. “Ehm, hai, semuanya. Hai, Jihoon.”
Jihoon menoleh pada Wonwoo dengan terkejut karena hibrida itu baru saja menyebut namanya dengan jelas, “Oh ya, Hoshi, Jihoon pertama kalinya ngobrol sama hibrida.”
“Oh gitu, Jihoon, aku bisa denger dan ngerti semuanya walaupun dalam wujud kucing, jadi.. Hai, Jihoon.” Hibrida bernama Hoshi itu tersenyum sama manisnya seperti wujud hewannya. Ia begitu sopan dan terlihat cerdas, tidak seperti hibrida yang Jihoon pikirkan, bertingkah seperti hewan.
Intinya, Jihoon memiliki pengetahuan baru bahwa hibrida benar-benar bersikap selayaknya manusia. Mungkin pengetahuannya itu akan bertambah seiring waktu yang ia habiskan bersama dengan Hoshi.
“Oke… Hai, Hoshi.” Jihoon mungkin sedikit gugup. Mungkin karena penampilannya yang di atas ekspektasinya dan cukup memukau? Mungkin. “Aku lebih suka wujud manusianya Hoshi.” Sangat berterus terang. Mungkin bagi Hoshi dan Wonwoo ucapannya tadi terdengar sedikit ketus. Akhirnya Jihoon berbalik dan keluar turun dari kabinnya.
Wonwoo pun mengacak-acak rambut Hoshi, “Jihoon gak sejutek ini kok. Dia cuma gak pandai berekspresi.”
Tidak lama setelah Wonwoo berpamitan untuk kembali ke tempatnya, Jihoon berhadapan empat mata dengan Hoshi yang menatapnya riang. Sebelum berbicara, Jihoon terdistraksi dengan kurva senyuman Hoshi yang kira-kira seperti membentuk angka tiga. Namun Jihoon segera menyadarkan dirinya dan memberi banyak penjelasan pada Hoshi.
“Denger ya, aku terima kamu untuk tinggal di sini karena Wonwoo itu sahabatku. Dia sayang sama kucing, dia sayang sama kamu. Pasti Wonwoo bawa kamu kesini karena dia gak mau jauh-jauh untuk periksa kondisi kamu. Intinya, kalau kamu mau jadi kesayangannya Wonwoo setelah Junhui, silahkan. Tapi di tempatku, kamu itu roommateku. Aku lebih pilih kamu dalam wujud manusia karena pertama, kamu bisa bantu lebih banyak, kedua, komunikasi lebih jelas daripada kamu cuma bilang meow atau ngasah kukumu di sofa kain yang udah ku rakit selama 2 minggu tanpa tidur.”
Hoshi mengangguk.
“Jelas?”
Hoshi mengangguk lagi.
“Aku bakal buat kasur, beberapa pakaian, gas mask, terus… kamu butuh apa lagi?”
“Hmm… Jihoon bakal sediain semuanya buat aku?”
“Ya jelas kita bakal saling bantu. Aku sediain kebutuhan untuk kamu, kamu bantu aku cari makanan, bahan, dan… sisanya kupikirin lagi besok. Pokoknya kamu akan berhutang banyak sama aku.”
Hoshi menggangguk lagi dengan patuh sambil mengikuti Jihoon yang hendak menimba air di belakang kabinnya.
“Perlu aku bantu?” Hoshi mulai memberikan uluran tangan di hari pertamanya. Jihoon turut senang jika tenaganya cukup terminimalisir dengan adanya Hoshi.
Jihoon mewaspadai pekerjaan yang Hoshi lakukan sambil menelaah tiap detail dari corak yang Hoshi miliki.
“Oh ya, kalo kamu mau tau, aku gak ngasah kuku di sofa, kok.” Ujarnya sambil menimba air. Jihoon lupa atau memang tidak tahu kalau kecerdasan mereka melampaui kucing biasa.
“Oke, maaf. Aku gak banyak tahu tentang hibrida.”
Hoshi selesai menaruh beberapa ember di dekatnya dan menyingkapkan poninya sejenak. Jihoon dapat menangkap corak yang terdapat pada dahi Hoshi. “Oh, kamu punya corak di dahi juga..”
“Iya, kalau aku botak, kamu bisa liat semua coraknya sampai tengkuk.”
Jihoon menganga lebar dan mengangguk. Hoshi merasa puas ketika melihat Jihoon takjub atas pengetahuan baru yang diterimanya. Ia pun menyentil pelan dahi Jihoon dan pergi membawa dua ember yang setidaknya bisa ia bawa dalam sekali jalan.
Sementara di sana, Jihoon sedikit mematung akibat ulah Hoshi yang membuat ia berpikir:
“Aku gak tahu kalau hibrida semempesona ini.”
- Warmth
Hal-hal yang Jihoon ketahui mengenai hibrida setelah tinggal bersama Hoshi adalah: Dia selayaknya manusia biasa yang beberapa tingkat lebih cerdas dan cekatan dibandingkan manusia pada umumnya, yang artinya, Jihoon justru benar-benar merasa terbantu dengan segala kelihaian Hoshi dan sekarang dirinya lah yang merasa berhutang karena Hoshi hampir melakukan semuanya. Mulai dari menimba air, berburu makanan, menjahit pakaian, mencari kayu bakar, mendaur ulang bahan temuan, dan banyak lagi. Dua hal lagi yang baru Jihoon ketahui, hibrida dalam wujud manusianya tidak memiliki ekor dan kakinya sedikit lebih besar dengan kuku yang lumayan runcing.
Pada suatu hari, Jihoon terkena demam, ia tidak punya tenaga untuk mencari burung atau rusa di hutan dekat kabinnya. “Aku punya makanan kaleng di kabinet.”
“Jihoon, aku bilang aku bisa cariin seekor burung atau ayam.”
“Butuh waktu lama buat masak.”
Hoshi mengalah dan mencari makanan yang Jihoon maksud. “Lemari yang ini?”
“Bukan, sebelah kirinya lagi.” Tunjuk Jihoon dari kasurnya di atas sana dengan lesu. “Maaf ya. Nanti kalau kamu masih laper, silahkan memburu buat diri kamu sendiri.”
“Bukan itu masalahnya, aku pernah keracunan makanan kaleng dari pasar di kota.” Hoshi mengangkut dua sup kalengan yang ia temukan dari lemari kabinet dan mengeceknya. “Sakitnya bukan main.”
Jihoon terkekeh, “Orang pasar emang sering campur dagangan mereka sama produk kadaluarsa. Mereka sendiri yang kasih label baru. Makanya aku gak pernah lagi pergi ke kota buat cari makanan.”
“Terus ini, bener aman?” Hoshi mulai skeptis dengan makanan yang hendak ia panaskan.
“Aman. Itu Wonwoo yang kasih. Selama ada Wonwoo semuanya terjamin aman, dulu dia kan mantan ilmuwan yang disegani.”
Hoshi akhirnya mengerti dan menyiapkan makan malamnya, juga menyiapkan racikan obat herbal untuk Jihoon.
Hoshi selalu tidur di lantai bawah dengan kasur lipat buatan kedua orang di kabin itu. Karena iklim ekstrim, perlu tenaga ekstra untuk menghadapi cuaca yang dengan cepat berganti.
Jihoon yang masih bersama demamnya dan memeluk diri sendiri di dalam selimut itu masih terjaga ketika malam semakin dingin, “Besok aku bikin baju hangat buat kamu.” Dalam ucapannya itu, jelas ia sedang gemetar kedinginan.
“Jihoon, bukan waktunya buat mikirin itu.”
“Kamu butuh selimut lagi?”
“Tubuhku bisa menghangatkan diri sendiri, Ji. Nah, itu satu informasi baru lagi buat kamu. Sekarang kamu tidur, ya?” Hoshi menjawabnya dari bawah.
“Hoshi.”
“Hmm?”
“Badanku gak enak. Dinginnya bikin mati rasa.”
Hoshi segera beranjak dari tidurnya dan melihat keadaan Jihoon. “Jihoon, aku boleh naik?”
“Boleh.”
Atas izinnya, Hoshi merangkak untuk merasakan suhu tubuh Jihoon yang semakin panas. Hoshi tidak banyak berucap selain turun, lalu kembali membawakan selimut yang tadinya ia pakai untuk menyelimuti Jihoon.
“Hoshi. Jangan gini, nanti kamu pake apa?” Jihoon berucap dengan matanya yang berat ketika melihat Hoshi berada di dekatnya dengan tatapan khawatir.
“Besok kalau kamu masih demam begini, aku coba cari penghangat sama obat ke kota.”
“Hoshi.”
“Dulu waktu perang dan kolegaku demam, aku kasih racikan obat herbal tadi seharusnya mempan. Mungkin cuacanya hari ini lagi jelek, walaupun setiap harinya memang jelek. Tapi aku yakin besok kamu bakal mendingan kalau kamu tidur-“
“Hoshi. Berisik.” Jihoon membuat Hoshi benar-benar berhenti bicara dan melihat badannya masih menggigil.
“Aduh. Kamu kedingin banget, ya?” Hoshi mulai menengok ke seisi kabin yang tidak begitu luas itu untuk menemukan kain yang bisa membantu menghangatkan tubuh Jihoon. Tidak seperti belasan tahun yang lalu ketika barang-barang elektronik seperti penghangat ruangan masih bisa digunakan. Dalam kondisi krisis seperti sekarang, listrik hanya digunakan oleh orang-orang pusat dan mereka yang memiliki peran. Penduduk seperti Jihoon yang tengah bertahan hidup di dekat pegunungan, hanya bisa mengandalkan panel surya yang cukup tua, yang setidaknya mampu memberi penerangan di dalam kabinnya.
Kembali pada Hoshi, ia tidak menemukan cara lain setelah mencari kain atau selimut lain ke seluruh ruangan. Ia kembali pada lelaki yang berbaring di atas loftnya, kemudian mendekat dan mendekap tubuh Jihoon erat-erat.
“Hoshi—“
“Maaf, kalo aku gak sopan. Tapi ini cara darurat yang aku pelajari waktu perang.” Hoshi memberi sedikit celah agar Jihoon tetap mampu bernapas dalam pelukannya. Memastikan bahwa ia merasa nyaman.
“Anget.”
Jihoon perlahan menyandarkan kepalanya diantara bahu dan leher Hoshi, ia tidak banyak bergerak ketika Hoshi melakukan itu. “Ceritain lagi pengalaman kamu waktu perang... Mungkin gak lama aku bakal tidur, tapi kalo kamu cerita bisa ngebantu aku tidur lebih cepet. Mungkin.” Bisik Jihoon pelan-pelan hingga Hoshi perlu sabar menunggu kata demi kata hingga terkumpul menjadi sebuah kalimat.
“Hmm... Ya, jadi di medan perang, kami gak selalu ketemu lawan dan konfrontasi. Enggak. Ada masanya kita cuma jaga di wilayah, nyusun taktik dan rencana, terus jaga lagi, disaat yang bersamaan kita harus berhadapan sama iklim ekstrim. Waktu itu, kalo udah ketemu dingin terus ada kru non-hibrid yang seragamnya rusak, berpelukan itu kasarnya kayak nyumbang suhu tubuh. Jadi ini udah cukup biasa buat aku—peluk orang sampai tidur.” Hoshi berakhir tersenyum setelah mengintip lelaki yang berhasil terlelap mendengar ocehannya.
Sejujurnya, Hoshi sendiri pun merasa lebih hangat diluar yang ia kira.
Tubuh Jihoon menolak untuk bangun. Matanya masih terpejam dan tubuhnya berasa di awang-awang. Ia merasakan pipinya terbelai lembut, entah oleh bulu atau angin, rasanya sedikit berat namun juga ringan. Ia merasakan rambutnya bergerak atas gaya yang diberikan seseorang, seperti telapak tangan, pikirnya.
“Ayo bangun, Jihoon.” Jihoon rasanya kesal karena ia belum ingin terbangun, namun dalam mimpinya, ia malah mengeluarkan tawa kecil sambal menoleh ke lelaki yang membangunkannya. Ia melihat tubuh lelaki dengan pakaian serba putih dengan tangannya yang sibuk membelai Jihoon. “Sampai hitungan ke-5 aku bakal cium kamu habis-habisan. Bangun.”
“Jijik.” Balas Jihoon sambal tertawa manja walaupun kepalanya tak merasa ia hendak menjawab hal tersebut. Jihoon tak bisa mengenali wajah pria di atasnya, entah kenapa matanya tidak bisa menoleh pada wajah pemilik tubuh itu. Sebelum Jihoon menghindar dari pria yang berusaha menciumnya, matanya memaksa untuk terbuka dan kembali pada realita.
Slurp, slurp
“Hah! Hoshi!” Jihoon terperanjat ketika menemukan Hoshi sedang menjilat pipinya dalam wujud kucing, seketika ia membuka matanya. “Bikin kaget aja.”
Hoshi membalut leher Jihoon dengan bulu hangatnya dan tubuhnya yang mendengkur. “Kok kamu jadi kucing lagi?” Tanya Jihoon sambil melipat selimutnya. Kemudian Hoshi menaiki pundak Jihoon kemudian telapak kaki kecilnya menyentuh dahi Jihoon.
Oh ya, Jihoon baru sadar kalau semalam ia terkena demam tinggi. “Oh. Aku udah mendingan ya?” Gumamnya sendiri. Ia merapikan tempat tidurnya sambil membawa Hoshi turun dari kasurnya.
“Kamu udah makan? Ganti dong sama wujud manusia kamu, biar aku bisa denger suara kamu.”
Lalu Hoshi berlalu untuk berganti pakaian dengan suara ‘Meow’.
“Maaf, semalam waktu kamu tidur, aku gak punya ruang karena kamu geraknya lumayan hebat. Jadi aku transformasi dulu, supaya kamu bisa tidur nyaman.” Hoshi kembali dengan wujud manusianya, sudah beberapa hari tinggal, Jihoon masih saja tergerak ketika melihat transformasinya itu.
Kadang wajahnya memerah, tapi bukan karena demam.
“Ada yang pernah bilang, kalo aku memang cenderung jadi pengigau parah waktu sakit. Kan kamu tau sendiri, hari-hari biasanya aku tidur cukup tenang.” Jihoon kemudian keluar untuk mengambil air dan membilas wajahnya.
Hoshi mengikutinya dari belakang dan mengalungkan handuk kecil pada leher Jihoon. Sambil menemani Jihoon mengeringkan wajahnya, Hoshi menyentuh kening Jihoon lagi dengan telapak tangannya. “Masih agak anget, tapi jauh lebih mendingan.”
“Hoshi,”
“Hmm?”
“Setelah kondisi aku normal, ayo kita reparasi harness kamu.”
Hoshi kembali mengekori Jihoon ke dalam kabinnya. “Loh, buat apa? Aku kan gak perang lagi, aktivitas aku sekarang gak se-mobile itu.”
“Kalo ada kondisi darurat, masa kamu harus pake baju dulu setiap kali transformasi?” Hoshi tertawa mendengarnya. “Aku gak mau liat laki-laki telanjang bulat lari-lari kalau sewaktu-waktu ada gempa atau apapun.”
Hoshi tertawa kencang lagi. Hari demi hari, Hoshi terasa seperti teman dekat. Terkadang ia membuat candaan-candaan kacang goreng yang membuat Jihoon sebal. Walaupun begitu, kehadiran Hoshi terasa sangat familiar dan baru dalam waktu yang bersamaan. Mungkin, itulah pertanda bahwa Jihoon sangat nyaman dengan kehadirannya.
“Hoshi, nanti malem, kamu mau tidur bareng lagi?”
- Affection
Sudah lewat sebulan Hoshi menetap bersama Jihoon, menjadi sebuah rutinitas mereka mencari makanan ke dalam hutan, merakit perlengkapan rumah tangga dan menjualnya ke pasar di pinggir kota, lalu di akhir pekan ada wujud kucing Hoshi yang mampu membuat Jihoon terhibur karena bulunya yang tebal dan lembut, terkadang hibrida itu membiarkan Jihoon memeluknya, membawanya ke pasar loak, mencari bahan dalam wujud kucingnya. Hoshi tidak masalah dengan beberapa permintaan Jihoon yang semakin hari semakin ganjil. Berawal dari permintaannya untuk tidur bersamanya setiap malam, meminta ia membelai rambutnya setelah bekerja, sampai Hoshi bertanya, “Jihoon, jangan-jangan kamu sebenernya yang hybrid kucing disini?”
Mereka semakin akrab, bersenda gurau bersama. Namun ada kalanya Hoshi terlalu banyak berpikir dan menampung pertanyaan untuk Jihoon. Kemudian, Hoshi hanya mendapatkan jawaban seperti ini, “Aku lupa rasanya nerima afeksi. Semenjak ada kamu, entah kenapa aku semakin ingin dan ketagihan untuk ngerasain itu semua.” Padahal, awalnya Hoshi mengira bahwa Jihoon mulai menyukai kucing berdasarkan pengamatan pertamanya itu Jihoon tidak terlalu senang melihatnya.
Jihoon kadang membuat Hoshi sedikit gugup, namun karena ialah yang memberinya tempat tinggal (terima kasih pada Wonwoo), Hoshi melakukan semua yang Jihoon mau selama tidak membebani dirinya sendiri.
Hari lain tiba, Wonwoo berkunjung ke kabin Jihoon. Mencarinya ke halaman belakang karena ia tidak menemukan siapapun di dalamnya. Hingga Wonwoo menemukan Jihoon berada dalam rangkulan hibridanya di atas pohon.
“Ehm.” Wonwoo mengejutkan mereka dan Jihoon hampir kehilangan keseimbangannya. Hoshi menahan kedua tubuh mereka dengan menancapkan cakarnya yang tajam pada batang pohon. “Aku gak nyangka kamu bakalan seakrab ini sama Hoshi.”
Kedua pasang telinga Jihoon memerah ketika Hoshi telaah. “Turunin aku.”
Hoshi menurunkan Jihoon dengan hati-hati dan Wonwoo menangkap Jihoon agar mendarat dengan sempurna. “Maaf ganggu waktu kalian—“
“Enggak! Gak apa kok, kita cuma nongkrong. Gak ada yang spesial.”
Wonwoo menggangguk dengan senyuman yang kira-kira bertujuan untuk meledeknya. Kemudian lelaki jangkung itu ingat tujuan awalnya untuk mendatangi Jihoon.
Suasana dalam kabin mulai sendu ketika Wonwoo menyebutkan bahwa dirinya akan pergi ke kota dengan Junhui untuk berobat dan mencari tempat yang bersedia melakukan operasi. Hoshi selesai membuatkan minuman dan duduk bersama mereka.
“Junhui udah seminggu ini kesulitan jalan, geraknya mulai terbatas. Aku udah curiga kalau ada masalah di saraf atau ototnya. Setelah aku panggil dr. Yoon, dia bilang… Junhui kena distrofi otot.”
Jihoon akhirnya tahu alasan dibalik kantung mata Wonwoo yang lebih gelap dari terakhir mereka bertemu. “Ini mungkin efek samping dari persilangan.” Wonwoo melepas kacamatanya dan memijat dahinya.
Jihoon dan Hoshi saling menatap khawatir. Jihoon membantu menenangkan Wonwoo dengan memeluknya. “Mungkin kalian baru aja masuk ke fase ini. Kalau aku boleh jujur, Jihoon, sebetulnya aku sayang banget sama Junhui. Lebih dari rasa sayang aku ke kucing. Aku sayang sama Junhui sebagai pasangan.”
“Maaf Wonwoo, tapi hubungan kami itu-“
“Aku harap kalian tetep saling jaga satu sama lain apapun keadaannya. Bukannya aku gak nerima kondisi Junhui sekarang, cuma… Kalian pasti ngerti kalo keadaan di tempatku jadi lebih berat dari biasanya.” Wonwoo memotong Hoshi yang hendak mengoreksi hubungannya dengan Jihoon. Kemudian Wonwoo menunjuk kardus yang tadinya ia letakkan di dekat pintu masuk. “Aku bawa barang-barang lama kamu, Jihoon. Setelah aku liat kalian lebih akrab dari yang aku kira, aku ngerasa lebih lega. Kamu bisa buka berkas-berkasnya kapanpun, Ji, gak usah terburu-buru. Kalo kamu siap aja.”
Jihoon mengangkat alisnya sambil mengantarkan Wonwoo ke ambang pintu. “Barang aku? Sejak kapan aku nitip barang di kamu?”
“8 tahun yang lalu mungkin?” Ia menoleh lagi pada Hoshi dan menepuk pundaknya pelan. “Hoshi, aku percaya sama kamu. Kalian bisa saling jaga.”
Keduanya mengelak malu. Di depan pintu, Jihoon sibuk meluruskan bahwa keduanya tidak memiliki hubungan yang spesial. Hoshi pun sama. Namun Wonwoo tidak mau mendengar mereka dan semakin menggoda kedua penghuni kabin itu.
Perpisahan mereka berakhir dengan harapan kesembuhan Junhui, Hoshi juga menitipkan doa untuknya sebelum Wonwoo pergi. Mungkin dalam satu atau dua hari Wonwoo akan segera memulai perjalanan ke kota.
Setelah sahabatnya itu pergi, Jihoon tiba-tiba meraih tangan Hoshi.
“Jihoon-“
“Apa ada kemungkinan… kalau kamu punya efek samping juga?” Ekspresinya benar-benar berubah total ketika Wonwoo pergi. Pria yang lebih kecil itu tampak sangat khawatir ketika melihat hibrida di depannya. “Apa kita perlu ngelakuin check-up?”
“Jihoon, aku gak apa-apa.”
“Aku takut.” Jihoon menunduk, Hoshi tidak tahu apakah ia menangis atau tidak. Tapi yang bisa hibrida itu lakukan adalah menariknya ke dalam pelukan.
“Gak usah khawatir, Jihoon. Aku bakal baik-baik aja.”
“Sisanya kamu yang abisin.”
Hoshi dihadapkan dengan satu ekor ayam panggang dengan satu potong paha yang sudah berada di piring Jihoon. “Aku cukup makan segini.”
“Biasanya kamu makan bagian dada, kenapa?” Hoshi berusaha mengembalikan bagian favorit Jihoon namun pria itu menolak.
“Kamu makan yang banyak, kamu harus sehat.”
Hoshi menggeleng karena yakin dengan isi kepala Jihoon yang masih dipenuhi dengan kekhawatiran.
Di atas meja makan mereka, Hoshi mulai teringat dengan perkataan Wonwoo soal kedekatan mereka. Di atas itu juga, Hoshi masih punya banyak pertanyaan yang tak terjawab soal tindak tanduk Jihoon yang semakin memperlakukannya dengan ‘khusus’.
“Jihoon, boleh aku tanya sesuatu lagi?”
“Soal yang mana?”
“Apa hubungan kita sama? Kayak hubungannya Wonwoo-Junhui?” Jihoon hampir membuat semburan berisi makanan yang sedang dikunyahnya, ia buru-buru meneguk air untuk melancarkan tenggorokannya. “Karena makin hari, aku semakin ngerasa janggal.”
“Uhuk- uhuk.. Maaf, maaf Hoshi. Kamu ngerasa gak nyaman ya?”
“Bukan gitu. Aku cuma ingin tau aja, apa yang ada di pikiran kamu, di hati kamu.”
Jihoon menggigit bawah bibirnya, lalu ia menaruh garpunya sebelum mulai menjelaskan. “Aku begini karena mimpiku.”
Hoshi tidak menduga jawaban barunya itu. “Mimpi?”
“Kamu tau, waktu aku demam dan tidur bareng kamu? Sejak malem itu, aku kedatengan mimpi-mimpi aneh. Aneh dan bikin hati aku deg-degan gak karuan. Aku mimpi punya orang yang sayang sama aku dan aku juga sayang sama orang itu. Orang ini gak keliatan rupanya kayak gimana, tapi aku bisa rasain hangat tubuhnya, kelembutannya, semuanya yang bisa bikin aku tenang.” Jihoon tertawa karena malu akibat penjelasan konyolnya itu, menurut dirinya sendiri. “Aku jadi mengidamkan perasaan itu, jadi nyata. Aku juga gak tau kenapa bisa minta hal ini itu sama kamu dan tanpa mikirin…. perasaan kamu sebelumnya.”
Hoshi lega mendengarnya. Ia kira, Jihoon menyukainya. Lagipula, cukup aneh bukan untuk seseorang menyukai hibridanya?
“Tapi gak menutup kemungkinan kalo aku suka sama kamu, Hoshi.”
Seorang pria yang telah berubah seutuhnya menjadi hibrida yang kurang lebih berusia 7 tahun lamanya itu merasakan degup kencang dalam dadanya setelah melupakan kapan terakhir ia merasa gugup karena hal-hal yang berkaitan dengan afeksi, rasa suka, dan cinta.
“K-kenapa? Aku bukan manusia seutuhnya, kayak kamu.” Keduanya memberi jeda. Jihoon beranjak dari duduknya, berjalan mondar-mandir dan akhirnya duduk di jendela kabinnya yang terbuka.
“Aku gak tau, Hoshi. Aku sendiri masih bingung. Aku ngerasa seneng, ada kehadiran kamu. Walaupun aku gak pernah jadi penggemar berat dari hewan berbulu, gak tau kenapa, aku ngerasa nyaman liat kamu dalam wujud apapun. Tapi aku lebih prefer liat wujud manusia kamu. Yang jelas, aku seneng kamu ada di sini.” Jihoon enggan menatap Hoshi yang masih duduk di meja makannya. Melihat pepohonan yang renggang di luar kabinnya. “Aku gak mau kamu pergi ataupun sakit.”
Hoshi akhirnya menghampiri Jihoon yang tengah melamun di jendelanya. “Kamu bilang, kamu suka mimpiin seseorang akhir-akhir ini?”
“Ya, dan aku gak pernah kenal siapa-siapa lagi selain Jeon Wonwoo. Terakhir kamu, sisanya cuma orang yang gak sengaja ketemu di perjalanan, hutan, atau pasar. Jadi aku gak tau siapa yang aku mimpiin.”
“Apa mungkin, orang di mimpi kamu itu… aku?”
“Oh, kamu mulai percaya diri nih sekarang?” Goda Jihoon sambil menyikutnya pelan, ia sendiri terkekeh. “Kalau memang iya gimana? Apa aku perlu mimpi lagi untuk cari tau?”
Jihoon semakin mendekat pada Hoshi dan tanpa dorongan kesadarannya Hoshi pun reflek mendekatkan tubuhnya. “Apa di mimpi, orang itu cium kamu?”
“Ya, dia cium kelopak mata, puncak hidung, sampai bibir. Semuanya berasa nyata.”
Hoshi mencondongkan tubuhnya hingga napas mereka saling bertabrakan. “Gimana kalau kamu cari tau sekarang? Kamu bisa cari tau dari caranya dia dan aku nyentuh bibir kamu.”
Jihoon menggigit bibirnya gugup, “Kamu belajar ngomong begitu dari mana?”
Tidak lama Hoshi membuat Jihoon memejamkan matanya. Jihoon tidak bisa membandingkan mimpinya dengan kenyataan. Bibir Hoshi menyambutnya jauh lebih nyata dari mimpi yang mendatangi setiap malamnya. Cukup lama Jihoon terlena dengan mimpinya sehingga tidak menyadari ada yang lebih nyata di depannya, yaitu Hoshi.
“Hoshi—”
“Gimana menurut kamu? Apa itu aku?”
“Lupain orang di mimpi aku. Aku cuma mau kamu.” Jihoon kembali menarik Hoshi dan makan malam mereka terabaikan. Kedua penghuni kabin itu mengisi ruangan dengan suara kecupan bibir, tawa kecil, dan sisanya terdengar seperti pesta meriah. Ia pikir, menerima hibrida di huniannya adalah ide buruk. Nyatanya luar biasa. Dalam kondisi dunia yang sebetulnya tidak lagi layak untuk dihuni, Jihoon masih bisa merasa jadi seseorang yang beruntung karena memiliki kehidupan kecil di kabin tengah hutan. Setidaknya ia masih dikelilingi banyak penghasil oksigen, burung-burung, dan juga Hoshi.
Keesokan paginya, Hoshi mengajak Jihoon untuk melihat dirinya pada pantulan cermin.
“Liat, aku bikin corak bagus di tubuh kamu.” Canda Hoshi menunjukkan bekas berwarna merah marun di sekitar leher dan dada Jihoon ketika pria itu masih diselimuti kantuk berat dan tubuhnya yang lemas. “Kalau kamu jadi hibrida, kayaknya warna bulu kamu itu putih atau abu.”
Jihoon memukulnya pelan, lalu bersandar pada torso Hoshi tanpa balutan kain. “Aku masih ngantuk.”
- Tragedy
Sesungguhnya, kejadian-kejadian di atas hanyalah beberapa kisah beruntung dari sekian perjalanan mereka di dunia yang kelam dan kejam. Alasan kenapa Jihoon memilih untuk bersembunyi di tengah hutan, ialah tingkat kriminalitas yang tinggi di kota. Selain itu, di kota tidak ada makanan segar untuk warga di layer terendah. Seperti pengalaman Hoshi yang pernah keracunan karena makanan kaleng kadaluarsa. Semua orang di kota terpaksa mengikuti sistem pemerintahan yang berantakan, jika tidak, mereka akan terdampar di tempat terendah, kotor, dan kumuh, dan di sana lah Hoshi mempertahankan hidupnya setelah perang. Beberapa kali, ia berhadapan dengan sesama hibrida yang menjadi kriminal, berusaha menguasai daerah dan mencari budak baru yang akan melayaninya. Jihoon mampu melihat bekas luka di tubuh Hoshi dan mengerti bahwa tidak seluruhnya berasal dari sisa perang.
“Ini tuh gak seberapa. Seharusnya ada lebih banyak bekar luka, tapi karena hibrida diciptain untuk perang, jadi penyembuhan lukanya jauh lebih cepet.” Jelas Hoshi ketika Jihoon menelusuri bekas luka dengan jarinya. “Yang bekasnya susah hilang begini, artinya lukanya lumayan parah.”
“Ini luka apa?”
“Ini alesan kenapa Wonwoo berusaha nyelamatin aku. Aku sekarat karena tusukan katana.”
Jihoon meringis dan segera memeluknya, Hoshi mendekapnya agar berhenti khawatir. “Dulu aku seorang letnan satu, Jihoon. Jadi kamu jangan nyepelein stamina sama kemampuan aku.”
“Oh ya? Padahal kamu hampir kalah waktu berantem sama hibrida-anjing kalau aku gak dateng melerai kalian.”
Hoshi tidak mau mengakui apa yang Jihoon ucapkan, “Itu kan masih awal aku ketemu kamu, keadaan aku belum sembuh total.”
Jihoon hanya sengaja ingin membuatnya kesal, “Banyak alesan.”
“Aku pengen cobain rasanya makan ikan.” Gumam Jihoon di tengah istirahatnya dalam membuat kerajinan yang akan menjadi sumber penghasilannya itu. Hoshi tertawa jauh di sana yang sedang mengikat tali sepatu bootsnya.
“Kamu mau aku pergi ke laut buat cari ikan?”
“Buang-buang waktu, kamu pergi jauh cuma untuk sesuap ikan. Walaupun kedengerannya menggiurkan banget.”
Hoshi memberi kecupan di bibir sebelum ia berangkat, “Kalau gitu aku gak akan jauh dari ngeburu rusa, itu juga kalau beruntung. Kalau enggak, kita makan burung atau ayam lagi.”
“Yaudah, cepet pergi. Aku laper.” Jihoon kini lebih leluasa dengan Hoshi. Membagi tugas untuk rumah tangga kecilnya berhubung mereka adalah housemate sekaligus sepasang kekasih. Ia tidak lagi ragu kepada hibrida. Semuanya terlihat normal-normal saja bagi Jihoon.
Tidak lama Hoshi berangkat, Jihoon menerima seseorang masuk ke dalam kabinnya.
“Loh, cepet banget?” Jihoon salah mengira. Ia kira Hoshi datang lebih awal membawa makanan buruannya. Namun apa yang ia lihat setelah menoleh 45 derajat, ia melihat ujung pisau tajam tepat di depan wajahnya.
“Kabin yang bagus.” Seorang lelaki bertubuh kekar dengan luka gores di wajah melihat seisi kabin Jihoon sambil mengancam keselamatannya dengan menodongkan pisau. “Tinggal sendirian?”
Jihoon menelan ludahnya, ia ketakutan bukan main. Wonwoo bilang hutan itu aman dan bandit tidak akan mengenali wilayah itu. Wonwoo memang seorang ilmuwan yang pernah bekerja di pemerintahan, ia punya cukup banyak hak istimewa yang tidak dimiliki seorang warga biasa seperti berhak mendapatkan lahan aman di luar maupun di dalam kota.
Nyatanya, sekarang Jihoon tengah berhadapan dengan komplotan bandit dengan jumlah tiga orang dan salah satunya sedang mengintai darah Jihoon.
“Ngerasa beruntung kah bisa tinggal di tempat mewah?” Tawa mereka melihat isi kabin Jihoon yang penuh dengan barang yang berguna. “Mungkin anak ini bisa kita pelihara aja dan jadiin dia budak. Sisanya tempat ini jadi milik kita.”
Jihoon rasanya ingin menangis. Ia tidak punya kemampuan bela diri yang baik setelah bertahun-tahun hidup dalam rasa aman. Mungkin Hoshi akan menemukan Jihoon dalam keadaan tidak bernyawa ketika ia sampai ke kabin, pikirnya. Jihoon merasa hidupnya di ujung tanduk. Namun lagi-lagi, ia hanya bisa membayangkan penyesalan dan amukan Hoshi jika ia benar-benar mati di tangan seorang bandit.
“Tolong… biarin saya hidup.” Rengek Jihoon pelan hingga tak kuasa ia menahan air matanya.
Para bandit itu menertawakan Jihoon dan mereka menahan pergerakan Jihoon dengan mendorongnya ke lantai dan mengikat tangan juga kakinya. “Jelas, bocah manis kayak kamu lebih baik kita simpan untuk hiburan.” Kemudian seseorang menambahkan tali pengikat untuk menutup mulut Jihoon.
Jihoon tidak percaya dengan keberadaan dewa dan sejenisnya. Namun ia berdoa agar siapapun mengenyahkan para kriminal itu dari kabinnya. Ia ingin Hoshi datang dalam keadaan semua keadaan baik-baik saja dan melupakan apa yang terjadi padanya selama hibrida itu pergi berburu. Jihoon meronta-ronta dan berteriak untuk tidak melakukan apapun padanya ketika salah satu orang mencoba menyentuh tubuhnya. Kedua kakinya yang terikat berusaha menahan para bandit yang mendekat padanya.
Entah apa yang terjadi, Jihoon hanya menutup kedua matanya. Air mata dan keringat membasahi wajahnya atas rasa takut yang menyakitkan.
“Sialan, Kwon Soonyoung!”
Sesaat kemudian, ia hanya mendengar riuh dari arah pintu masuk dan suara kencang bertubrukan. Ia mampu menangkap teriakan dari dua orang yang berbeda. Banyak langkah kaki terdengar menjauh dari dalam kabin. Suara seperti percikan air. Tidak lama, teriakan itu berhenti.
Jihoon tidak merasa seseorang menggerayangi tubuhnya lagi. Ia berusaha membuka matanya dan samar-samar terlihat para bandit itu terkapar di luar kabinnya. Dengan tubuh yang bergetar hebat, ia berusaha untuk bangkit dan duduk melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan kabinnya.
Hoshi.
Lengan, wajah, dan mulutnya diwarnai dengan cairan berwarna crimson. Namun ia baik-baik saja dan berdiri tegap. Hoshi segera menutup pintu tanpa mempertemukan kedua matanya pada Jihoon.
Jihoon tidak yakin apakah itu benar Hoshi atau bukan. Tatapannya gelap, cakarnya terlihat lebih tajam dari yang biasa ia lihat. Jihoon berusaha melepaskan tali dari kaki dan tangannya untuk segera menemui Hoshi. Ia terus memberontak agar tali-tali itu segera merenggang. Setelah ada celah pada kakinya, ia beranjak dan melompat pelan ke arah dapur untuk mengambil pisau. Jihoon mengusahakan tali tambang itu terputus tanpa peduli ia melukai pergelangan tangannya atau tidak. Setelah terbebas, ia berusaha membuka pintu. Tetapi seperti ada yang mengganjal di hadapannya. Jihoon tergesa-gesa mencari Hoshi melalui jendela. Barang-barang rongsok yang ia kumpulkan menghalangi satu-satunya pintu pada kabin itu dan Hoshi ataupun bandit-bandit itu tidak tampak lagi di halamannya.
“Hoshi… cepet pulang.” Isak Jihoon yang tidak punya banyak tenaga untuk mendobrak pintu.
“Maaf ya, lama, ini ayo kita bakar sama-sama. Pasti kamu udah laper, maaf aku cuma nemu belibis.” Itulah yang ia ucapkan ketika mendobrak masuk dalam tampilan yang bersih, seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. “Jihoon?”
Hoshi dihadapkan dengan Jihoon yang memandangnya kesal dengan mata sembab.
“Maaf Jihoon.”
“Paling enggak kamu pastiin kalau aku baik-baik aja atau… atau peluk aku karena aku bener-bener takut setengah mati!” Bentaknya hingga wajahnya memerah. Hoshi segera mendekapnya seperti tidak akan ada hari esok. “Aku takut.”
“Maaf Jihoon, maaf.” Hoshi melepaskan pelukannya dan menggeledah setiap inci dari kulitnya. “Seharusnya aku gak pergi.” Hibrida itu akhirnya menangis sambil meraba tangan Jihoon dan melihat pergelangannya yang lecet dan tergores.
“Hoshi, jujur sama aku,” Jihoon masih dengan tatapan nanar. “Kamu bunuh mereka?”
Hoshi menunduk, menahan bibirnya untuk terbuka. Jihoon tahu apa artinya. “Maaf, aku… Aku gak bisa maafin mereka—“
Jihoon tersandar lemas tepat di dada Hoshi, “Makasih.” Keadaan mencekam di kabin itu masih terasa. Hoshi tidak tahu apalagi yang ia bisa lakukan untuk melindungi manusia terkasihnya, selain mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai mantan alat perang terganas yang pernah dimiliki oleh angkatan darat.
“Kita tunda dulu makan malemnya, aku biarin kamu istirahat.” Hoshi membiarkan Jihoon menyerahkan kesadarannya dalam pelukan hibrida itu.
Kejadian traumatis itu masih menghantui pikiran Jihoon sebelum tidur, ia pikir ia perlu menambah keamanan di lingkungan kabinnya itu. “Hoshi.”
“Hmm?”
“Kemana kamu tadi? Selain bersihin diri kamu?”
Hoshi terdiam sejenak. “Aku kubur mereka.”
Jihoon merasa sedikit senang mendengarnya, ia yakin Hoshi merupakan hibrida yang penuh tata krama dan kecerdasan emosional yang luar biasa. Ia tetap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan kepada sesama makhluk hidup. “Maaf tadi aku marah sama kamu.”
“Gak, kamu gak salah sama sekali Jihoon. Seharusnya aku bisa pulang lebih awal dan jaga kamu.”
Jihoon akhirnya kembali ke dalam pelukan Hoshi untuk bersiap tidur.
“Hoshi,”
“Hmm?”
“Aku denger bandit tadi nyebut nama Kwon Soonyoung? Apa itu nama salah satu dari mereka?”
Hoshi membetulkan posisinya dan duduk di samping Jihoon yang berbaring. “Kamu tau gak? Kalau di lapangan, kita punya sebutan samaran? Nah, Hoshi itu nama lapanganku.”
Jihoon mengangguk mengerti, “Jadi, Kwon Soonyoung itu?”
“Itu nama lahir aku. Bandit tadi, mereka mantan anggota tentara yang pernah aku kenal. Mereka emang punya track record yang buruk bahkan sebelum perang selesai.”
“Jadi kamu kenal mereka?”
Hoshi mengangguk pelan. Namun Jihoon teringat sesuatu yang membuatnya beranjak dan duduk berhadapan dengan sang hibrida.
“Kamu belum pernah cerita sebelumnya, hidup kamu sebelum jadi hibrida. Kwon Soonyoung.”
“Aku lebih suka dipanggil Hoshi—”
“Oke, Hoshi. Lagian, gak tau kenapa aku gak suka banget denger nama itu. Jadi gimana? Kayak gimana hidup kamu sebelum jadi hibrida?”
Hoshi menghela napas panjang. “Aku gak inget apapun selain bangun jadi seorang hibrida di laboratorium.” Ia tampak tidak begitu senang membicarakan hal itu, “Aku juga pengen tau sejarah hidup aku sebelumnya. Siapa aku, kayak gimana hidupku dulu. Wonwoo pasti ngerasa bersalah karena pernah nyiptain alat itu, makannya dia berhenti, kan?”
“Wonwoo emang banyak penyesalan karena ngebangun alat-alat yang akhirnya disalahgunain sama orang-orang berkuasa. Tapi, alat mana yang kamu maksud? Setau aku, Wonwoo gak ambil peran di teknologi pengembangan hibrida karena dia sayang sama binatang.”
“Loh, kamu kan sahabat Wonwoo? Junhui yang pernah bilang sama aku kalau Wonwoo yang ciptain alat penghilang ingatan. Kamu bener-bener gak tau? Semua hibrida dirancang untuk gak punya ingatan masa lalu hidupnya karena alat itu.”
Jihoon merasa ada yang tidak beres. Sedikit dalam benaknya ia berpikir bahwa Wonwoo pengkhianat. Ia merasa tidak rela bahwa sahabatnya itu menyembunyikan satu hal pun darinya. Jihoon sedikit gusar dan turun dari kasurnya.
“Jihoon?”
“Aku gak percaya dia gak ngasih tau aku soal itu. Maksudku, artinya itu udah 7 tahun yang lalu kan? Atau bahkan lebih.” Jihoon benar-benar kesal, namun mengingat Wonwoo pergi ke kota, ia tidak bisa begitu saja datang ke tempatnya untuk mengadu.
“Jihoon, aku tau kamu marah, tapi ini udah larut. Gimana kalau kita istirahat dulu, hari ini juga kamu udah ngelaluin hari yang berat.”
“Tunggu!” Jihoon memekik dan mengingat bahwa barang yang Wonwoo kembalikan itu belum pernah ia buka sebelumnya. “Mungkin dia ninggalin surat atau semacamnya disini.”
Mau tak mau, Hoshi ikut turun dari ranjang dan menyaksikan Jihoon membuka box dengan agresif. “Ji—”
“Betul, kan? Ada surat yang dia tinggalin.” Jihoon menunjukkan surat yang ia temukan seketika membuka box itu. Hoshi menghela napasnya.
“Kita tidur ya, setelah kamu baca suratnya.”
Jihoon tidak menggubris perkataan Hoshi dan membaca surat itu tak sabar. Matanya menelaah setiap kata demi kata yang Wonwoo tuliskan disana. Semakin ia jauh membaca tulisan itu, semakin berkerut pula alisnya.
“Aku gak ngerti apa maksud Wonwoo!” Hoshi terperanjat ketika melihat Jihoon membuang kertas itu ke sembarang arah sambil berteriak.
“Jihoon! Kamu tuh kenapa? Udah lah, gak ada untungnya kamu marah-marah sama Wonwoo malem-malem begini.” Hoshi berusaha meraih Jihoon yang sepanas air mendidih, namun hibrida itu ditepis kasar oleh Jihoon.
“Diem! Kepala aku sakit! Aku mau sendirian dulu!” Jihoon membuka pintu kabin dan duduk di ambang pintu untuk menundukkan kepalanya.
“Kenapa kamu bentak-bentak kayak gitu sih?” Hoshi sendiri tak bisa memahami sikap agresif Jihoon yang tak terduga karena masalah Wonwoo. Akhirnya Hoshi memutuskan untuk membaca surat itu.
- The Past
Hai, Jihoon. Awalnya aku punya niat untuk ngembaliin barang-barang ini ke kamu bersamaan dengan waktu aku ingin kamu rawat Hoshi. Aku seneng sekaligus terharu, bisa bawa dia ke hidup kamu lagi, alias Kwon Soonyoung, satu-satunya orang yang paling kamu sayang di dunia ini. Sayang cara berpisah kalian saat itu dalam kondisi yang sama-sama gak dewasa.
“Aku gak tahan baca ini.” Hoshi bergetar hingga kalimat itu ketika membaca suratnya.
“Kamu pikir aku tahan?” Balas Jihoon yang berusaha menenangkan diri dari ambang pintu. Namun Hoshi juga perlu mengetahui kenyataan yang Wonwoo tuliskan di sana.
Alat penghapus memori, alat itu aku buat 2 tahun sebelum perang. Kronologi acaknya, kamu marah karena Soonyoung (atau sekarang disebut Hoshi) dengan impulsifnya minta memori tentang kamu dihilangkan dari ingatannya karena kalian berantem hebat waktu itu. Sekali lagi, aku minta maaf karena ciptain alat itu dan bikin semuanya berantakan. Bukan aku yang nanganin Soonyoung saat itu, tapi Mingyu, mantan asistenku yang ceroboh itu tanpa banyak tanya dia setuju sama permintaan Soonyoung. Suatu hari kamu ketemu Soonyoung dan dia gak inget kamu, kamu marah besar, Jihoon. Sejujurnya, kalian cukup sering berantem hebat. Tapi yang satu itu paling fatal karena Soonyoung ngehapus kamu dari ingatannya. Jihoon, 2063 kamu bawa diri kamu ke laboratorium dan minta semua ingatan kamu dihapus termasuk kenyataan kalau aku punya alat itu. Aku berkali-kali tanya apa kamu yakin soal keputusan kamu, tapi kamu bersikeras karena Soonyoung udah gak inget sama kamu. Akhirnya, tahun itu kamu terlahir lagi jadi Jihoon yang gak kenal siapapun, selain aku. Aku ngerasa bersalah, karena kalian sepenuhnya jadi orang asing satu sama lain. Soonyoung, dia bener-bener liar dan kacau waktu itu, sifat kalian yang bertolak belakang bikin kalian sering berantem, tapi di sisi lain, kalian adalah jantung dari satu sama lain.
“Udah selesai bacanya?”
“Belum.” Jihoon kembali dari ambang pintu dan mendorong Hoshi pelan untuk memberinya ruang.
“Awas. Aku mau liat isi boxnya.” Setelah distraksi itu, Hoshi kembali meneruskan bacaannya.
Sampai beberapa bulan kemudian, aku denger Soonyoung diberitakan meninggal karena kecelakaan. Masa-masa itu, kamu tau sendiri kalau ada banyak orang yang diberitakan tewas dengan sebab yang aneh-aneh. Aku pikir Soonyoung memang bener-bener meninggal karena kita gak pernah tau kabarnya dia ada dimana, kondisinya kamu pun gak tau siapa Kwon Soonyoung. Aku sedikit kacau masa-masa itu, mungkin kamu inget, Ji. Itu semua karena aku ngerasa bersalah luar biasa sama kamu dan Soonyoung. Sampai aku nemu Hoshi, Kwon Soonyoung dalam wujud hibrida. Aku bener-bener berharap, kalau aku bisa nebus dosa-dosaku dengan nyelamatin Hoshi dan bawa dia ke hidup kamu lagi.
Jihoon ditemukan sudah tersedu-sedu sambil memeluk sebuah bingkai foto. Hoshi sendiri sudah bercucuran dengan air mata ketika membaca surat dari Wonwoo.
Sebagai orang yang sedang jatuh cinta dan patah hati dalam satu waktu, aku gak mau ngeliat sahabatku sendirian dan gak inget sama masa lalunya yang penuh warna.. Aku ketemu Junhui dan aku ingin jaga dia selamanya. Jihoon, ketika kamu jatuh cinta lagi sama Kwon Soonyoung atau Hoshi, aku harap kalian bisa bertahan selamanya dan ngejaga satu sama lain. Walau sekarang dia udah dalam wujud yang berbeda, aku harap kamu mau nerima dia lagi di hidup kamu.
Semoga waktu nanti aku kembali, aku bisa pertemukan kamu sama Junhui dalam keadaan yang sehat.
–Jeon Wonwoo.
Hoshi tak sadar sudah mencengkram kertas itu terlalu keras sehingga membuatnya kusut. Ia kehabisan kata-kata, karena selama ini Jihoon sudah tinggal di hatinya sejak lama. Begitu juga dengan Jihoon. Keduanya merasa kewalahan dengan informasi yang sudah seharusnya tinggal di ingatannya. Kabin malam itu malah diisi dengan suara isak tangis.
“Jihoon,”
“Aku gak siap.”
“Ji…”
“Gimana kalau nanti kamu pergi lagi ninggalin aku? Kamu pasti benci banget sama aku sampai ngehapus aku dari kepala kamu.”
“Aku gak akan—”
“Gimana kalau gak lama lagi kamu benci sama aku, kamu capek sama aku, dan kamu muak sama aku? Pasti ada hal yang bener-bener kamu benci dari aku sampai kamu tega ngebuang aku dari memori kamu.”
“Jihoon! Kamu hampir aja dilukain sama bandit-bandit itu dan aku hampir kehilangan kamu! Kamu gak tau betapa sakitnya aku liat kamu gak berdaya, nangis, dan sendirian saat itu!”
Hibrida dan pria dalam kabin itu beradu mulut dengan tangisnya yang tak kunjung berhenti. Keduanya benar-benar frustasi terutama setelah melihat barang-barang di dalam box yang sesungguhnya berisi seluruh kenangan Jihoon dan Soonyoung di masa lalu.
Jihoon berusaha mengingat lagi semua hal yang terjadi sebelum ia sengaja menghapus Soonyoung dari kepalanya. Namun usahanya itu memberatkan cara kerja otaknya sehingga ia tidak bisa apa-apa lagi selain menerima kenyataan yang ada di hadapannya. Jihoon dan Hoshi sama-sama membuka barang-barang milik mereka. Tersimpan beberapa catatan dari Wonwoo untuk membantu mereka mengingat memori di baliknya.
Lalu salah satunya berbunyi seperti ini: Mirisnya semua dari momen kalian, cuma aku yang inget… Tolong ya, lain kali kalau berantem jangan sekali-kali minta untuk hapus ingatan lagi. Alatnya udah ilegal dan gak akan pernah aku kasih kalian kesempatan lagi.
Akhirnya hari yang penuh lika-liku itu berakhir dengan tangis haru. Setelah melalui kondisi dunia yang krisis dan depresif, akhirnya Jihoon dan Soonyoung mendapatkan hari-hari baiknya kembali sebagaimana mereka berhak atas hal itu.
- His Other Half
8 minggu kemudian, Jihoon dan Soonyoung mulai menemukan diri mereka masing-masing. Keduanya bertingkah seperti pasangan lama. Hal yang berbeda saat ini ialah, ketika Soonyoung atau Hoshi merajuk, ia akan berubah menjadi kucing karena tidak mau berbicara. Itulah masa-masa yang sulit untuk Jihoon karena ia tidak mampu mengetahui apa yang hibrida itu ucapkan atau rasakan. Namun jika Jihoon yang merajuk, akan mudah bagi Soonyoung mengembalikan suasana hati lelaki itu dalam wujud kucingnya yang menggemaskan.
Mengingat keduanya sudah melalui near-death experience bersama-sama, tidak ada alasan untuk mereka saling bersikeras ketika egonya memuncak. Bagusnya juga, Jihoon tidak peduli dengan bagaimanapun wujud Soonyoung saat ini. Yang terpenting bagi Jihoon hanyalah hatinya yang masih sama. Perasaan dan diri yang membuat Jihoon selalu merindukannya masih selalu sama. Hoshi atau Soonyoung, ia akan selalu menjadi orang yang mengisi mimpinya saat itu. Seseorang yang ia dambakan, seseorang yang ia rindukan.
Junhui berhasil melalui operasinya, hibrida itu masih perlu melalui beberapa sesi terapi dan membatasi aktivitasnya. Sebagai kerabat, Jihoon dan Soonyoung berkunjung dan menjenguk ke lab sekaligus tempat tinggal Wonwoo yang tidak begitu jauh dari kabin mereka. Masing-masing dari mereka mengakui bahwa mereka tidak begitu menyesal telah melakukan eksperimen impulsifnya dengan alat ciptaan Wonwoo. Hanya saja, rasa bersalah Wonwoo masih membekas dan meminta sepasang kekasih itu untuk membiarkan Wonwoo menebus dosanya. Setiap bulan, Wonwoo memasok makanan, membetulkan panel surya, mengontrol keadaan air sumur di belakang kabin milik Jihoon.
“—mereka terus ngebujuk aku untuk bikin teknologi baru buat mereka. Aku cuma mau hidup dan ngejalanin hari sama Junhui. Aku capek kerja untuk mereka.” Jihoon masih mendengar keluh kesah yang sama dari Wonwoo sejak beberapa tahun terakhir. Pasti sulit untuknya selalu dibuntuti oleh orang-orang serakah yang terobsesi mengatur sistem sebagaimana yang mereka inginkan. Wonwoo tidak lagi menginginkan dampak buruk dari alat yang telah ia ciptakan sebelumnya. Mulai dari keseimbangan alam, ekonomi, kemanusiaan, hampir seluruhnya selalu mengalami degradasi dari tahun ke tahun. Setiap negara memiliki kasus dan ancaman yang berbeda-beda setelah perang terjadi, namun intinya semua orang di dunia saat itu dihadapkan dengan ancaman setiap harinya.
Junhui tidak tahu kapan tubuhnya akan kesulitan berfungsi lagi semenjak efek samping dari persilangan itu,
Wonwoo tidak tahu kapan ia akan ditawan dan dipaksa bekerja untuk pemerintahan, merampas hak-hak hidup manusia dan makhluk hidup disekitarnya,
Soonyoung tidak tahu apakah efek samping dari persilangan akan menyerangnya atau tidak, ia juga tidak tahu kapan nuklir akan mendarat di negara mereka tinggal,
dan Jihoon juga tidak tahu kapan ia akan kembali dihadapkan dengan para kriminal yang selalu mengintai orang-orang tak bersalah.
Hidup dalam ketidakpastian, ancaman, dan rasa takut hadir mendampingi mereka bagaikan napas. Orang-orang seperti mereka masih bisa bertahan karena harapan dan cinta. Karena harapan untuk selalu bersama dengan orang terkasih, mereka bisa terus hidup. Meskipun udara terlalu hitam untuk dihirup, meskipun matahari terik membakar setiap permukaan di bumi, meskipun air tidak akan pernah sebening kristal, mereka akan tetap bertahan dengan masing-masing harapan yang diyakini.
2063
“Dia bilang aku terlalu temperamental, kekanakan, belum lagi dia bilang suaraku terlalu nyaring kalau lagi ngebentak!” Jihoon mengeluhkan lagi tentang hubungannya di laboratorium Wonwoo. Pria berkacamata itu sudah sekuat baja menjadi wadah penampung kekesalan Jihoon. “Laki-laki gak tau diri. Dia plin-plan, gak pernah punya perhitungan sebelum ngelakuin sesuatu. Sekarang siapa yang dia sebut kekanakan? Argh!”
“Terus kamu udah dateng ke tempatnya Soonyoung? Coba obrolin baik-baik, mungkin dia keburu panas sama suara nyaring kamu.”
Jihoon juga kesal dengan Wonwoo yang selalu meresponnya dengan hal yang sama. Jihoon selalu kesal dengan semua orang jika suasana hatinya terganggu. Akhirnya ia melawan rasa gengsinya untuk menemui Soonyoung yang sayangnya lelaki itu tidak mengenali Jihoon lagi.
“Soonyoung!”
“Maaf, kita pernah ketemu sebelumnya atau…?” Jihoon pikir ia sedang dipermainkan oleh kekasihnya sendiri. “Kalo boleh tau nama kamu siapa? Mungkin itu bisa ngebantu aku supaya inget.”
“Kamu gak lagi bercanda kan, Kwon Soonyoung.” Jihoon mengubah intonasinya menandakan bahwa ia sudah sangat jengkel. “Kalo gini caranya kamu nyelesain masalah, oke. Aku juga bakal lupain kamu!”
Jihoon kembali ke laboratorium Wonwoo dengan amarah yang tidak terkendali, dunianya hancur, hatinya hancur. Wonwoo sudah mengetahui kabar operasi ingatan Soonyoung dari asistennya, Kim Mingyu. Wonwoo sudah menyiapkan diri sebelum Jihoon menumpahkan kekecewaannya.
“Aku mau kamu ilangin semua orang dari ingatan aku, Jeon Wonwoo!”
“Jihoon, kamu harus tenang.”
“Mana bisa aku tenang! Cepet! Siapin semua alat-alat kamu, aku gak mau inget siapapun, aku gak mau punya penyesalan sama siapapun. Alatnya, alat buatan kamu juga hilangin aja dari kepala aku. Aku gak mau inget-inget semua yang berhubungan sama Kwon Soonyoung. Aku benci Kwon Soonyoung!”
Wonwoo menghela napas panjang. “Paling enggak jangan hapus aku dari ingatan kamu, Ji. Nanti kamu hidup bergantung sama siapa lagi?”
Jihoon yang sukarela duduk dibawah alat penghilang ingatan itu membiarkan otaknya bekerja, “Oke. Selain kamu. Sisanya aku gak mau inget sama siapapun.”
Wonwoo meminta Mingyu menyiapkan segalanya. Selama kedua penghuni laboratorium itu melakukan preparasi, Jihoon tidak berhenti menghabisi Mingyu dengan perkataannya karena telah membiarkan Soonyoung menghapus ingatannya. Padahal, Mingyu tidak tahu-menahu sedikitpun tentang hubungan sepasang kekasih yang hobi ribut itu.
Wonwoo tidak percaya ia akan melakukan hal itu pada sahabatnya sendiri, “Aku yakin, gak lama kalian bakalan ketemu lagi, jatuh cinta lagi, dan mengulang siklus yang sama.”
“Gak mungkin! Gak usah ngada-ngada. Aku gak sudi ketemu orang itu lagi. Lebih baik aku pacaran sama kucing-atau-anjing! Mereka gak banyak omong, penurut, selain itu mereka gak punya muka yang nyebelin kayak Kwon Soonyoung.”
Mingyu berbisik pada Wonwoo yang sama-sama sedang mengoperasikan alat gigantik itu. “Itu si Jihoon, temen kamu udah hilang ya akalnya.”
Wonwoo terkekeh setuju dengan bisikan asistennya, “Ngomong apa kamu ini Lee Jihoon? Kamu kan gak pernah ada ketertarikan sama hewan peliharaan.”
Setelah preparasi yang cukup lama, setelah Mingyu menempelkan banyak alat di kepala Jihoon, dan Wonwoo selesai melakukan penyesuaian aturan pada mesin yang ia ciptakan, Wonwoo melumpuhkan kesadaran Jihoon sebelum memulai operasi.
“Semoga kamu gak menyesali keputusan kamu, Lee Jihoon.”
