Chapter Text
I'm expressing my existence, it's no one elses
I'm here to verify the outcome of this battle, this deciding showtime
The voices, the sounds, they resonate with this seesaw game-like live
Be it success, be it disappointment, it will be affirmed by our progressing lives
<<SHOWDOWN – Hypnosis Mic 2nd D.R.B Final Battle>>
Terdengar riuh sorak sorai dari arah penonton setelah mendengar pemenang dari 2nd Division Rap Battle kali ini. Tribun penonton pun menyalakan light ring-nya yang berwarna kuning dan meneriakan nama pemenang divisi tersebut.
Benar, pemenang 2nd Division Rap Battle kali ini ialah...FLING POSSE!
Semua peserta Final Battle berkumpul diatas panggung dan mengambil nafas terengah-engah setelah bertarung satu dengan lainnya dengan sengit. Terlihat dari sisi kanan Matenrou sang leader yaitu Jakurai Jinguji membantu berdiri timnya yaitu Doppo Kannonzaka dan Hifumi Izanami yang sudah tumbang akibat menerima serangan rap dari divisi lainnya, dan pemandangan yang sama juga terjadi di Buster Bros, divisi yang di ketuai oleh sang kakak tertua-Ichiro Yamada terlihat mereka bertiga tumbang dan sang kakak tertua berusaha bangkit dan melihat sosok pemenang yang ada di hadapannya ini,
'Ramuda...selamat atas kemenangan mu...' gumamnya sambil tersenyum dan ia pun kembali menjatuhkan tubuhnya dan jatuh pingsan.
Sementara sang pemenang, Fling Posse, saling berpelukan dan sang ketua menangis dengan haru sambil memeluk dua anggota kesayangannya. Pelukan hangat pun di balas oleh kedua anggotanya, sang penulis – Gentaro memeluk erat Ramuda dan juga Dice Arisugawa rekannya yang paling bodoh tapi sangat ia sayangi.
"Gentaro! Dice! Kita... KITA MENANG! Terima kasih...terima kasih banyak...hiks..hiks...", Ramuda mengucapkan kalimat tersebut dengan berlinang air mata dan dengan nada yang bergetar. Ia sendiri masih tidak percaya mereka bertiga dapat memenangkan pertarungan kedua ini. Selama pertarungan ia juga menahan sakit yang ia rasakan, namun kini rasanya sudah tidak terasa, tertutup dengan rasa bahagia yang melimpah yang ia rasakan.
"Ramuda...sudah kukatakan kita pasti akan memenangkan pertarungan ini untukmu, benar kan Dice?", ucap Gentaro dengan menatap Dice menjawab pertanyaannya.
"TENTU SAJA! Kita tidak akan membuat kau kecewa seperti pertarungan pertama, Ramuda! Jangan ragukan kami! Hehe!", Dice dengan senyum lebarnya menatap Ramuda yang masih menangis haru atas kemenangan mereka. Ramuda pun terdiam dan tertawa bahagia sembari memeluk erat dua sahabatnya ini,
"Gentaro! Dice! AKU...AKU SANGAT MENYAYANGI KALIAN!! KALIAN ADA POSSE TERBAIKKU~☆", teriaknya dengan keras, sehingga membuat tribun penonton ikut riuh dan pendukung Fling Posse pun beberapa ikut menangis haru atas kemenangan mereka. Gentaro dan Dice terkejut melihat kelakuan Ramuda dan mereka pun ikut tertawa diantara pelukan mereka.
Dari jauh atau lebih tepatnya dari ruang VVIP diatas panggung, Otome Tohoten dan Ichijiku Kadenokoji melihat dengan senyum piciknya ke arah panggung—terutama sosok yang mereka ciptakan, Amemura Ramuda.
"Otome-sama, apakah benar tidak apa jika kita biarkan Objek itu berkeliaran? Kondisi mentalnya sudah benar-benar tidak terkendali dan sudah dapat dikatakan gagal", Ichijiku menatap Otome selaku ketua 'Party of Words' sekaligus perdana menteri Chuohku.
"Ichijiku-san..."
"Ya Otome-sama?"
"Kita tidak perlu khawatir, cepat atau lambat objek itu akan kehabisan masa hidupnya. Seharusnya anak itu sudah mengetahuinya, karena aku sudah mengatakannya", ucapnya dengan santai sembari meminum the hangat yang ada di hadapannya.
"Maksud anda Arisugawa Dice?", Ichijiku kembali menanyakannya ke Otome Tohoten untuk memastikannya.
"Ya...Dice, aku sudah memberitahunya ketika ia menghampiriku beberapa waktu lalu. Ia meminta untuk kita berhenti mengejar Ramuda dan meminta persediaan permen lolipop untuk sahabatnya. Namun, dikarenakan stok dari kita juga menipis aku tidak bisa memberikannya, dan sebagai gantinya aku memberikan pencabutan perintah pengejaran kepada dirinya dan Yumeno Gentaro, serta mengizinkan mereka mengikuti kontes ini dan menarik kloningan Ramuda yang ada di divisi Shibuya.", Otome menatap riak air the didalam cangkirnya dan terukir senyum di wajahnya.
"Tch..anak itu, berani sekali meminta banyak permintaan kepada anda, Otome-sama! Sungguh laki-laki sialan!", Ichijiku merasa geram mendengar banyaknya permintaan yang Dice minta kepada ketuanya. Walaupun ia tahu, bahwa Dice adalah putra tunggal dari Otome Tohoten.
"Mmhm...biarlah tak apa, karena kita ada rencana B. Lalu, bagaimana dengan rencana B yang sudah di rancang oleh Amayado Rei?", Otome menatap Ichijiku untuk mengetahui perkembangan rencana yang sudah mereka buat.
"Rencana B sudah mencapai 90%, Otome-sama. Kemungkinan akan selesai dalam 1 sampai 2 minggu kedepan. Pria Amayado itu juga sudah memastikannya beberapa waktu lalu ketika ia melakukan percobaan kepada anaknya sendiri ketika timnya melawan divisi dari Ikebukuro", Ichijiku memberikan sebuah folder yang ia bawa dan memberikannya kepada Tohoten untuk dibaca. Otome yang melihat hasil dari rencana kedua mereka tersenyum dan menatap Otome.
"Baiklah, segera laksanakan rencana ini, Kadenokoji Ichijiku!", perintahnya dan menatap dengan tegas kepada Ichijiku dan dijawab dengan sebuah hormat oleh Ichijiku yang lalu meninggalkannya didalam ruangan tersebut.
"Baiklah..apa yang akan kamu lakukan setelah ini..Fling Posse...?", ucap Otome sembari melihat ke arah panggung kontest tersebut dan menatap dari kejauhan kepada Fling Posse.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
A repeating verse, reaching for a falling star.
A new beginning is stretching throughout the universe.
Connecting to the future, with the ending in mind.
A single, unwavering star is deep inside.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Keesokan harinya setelah acara pertandingan final semua anggota tim yang bertarung pulang dengan wilayah divisinya masing-masing. Matenrou kembali ke Shinjuku dan Buster Bros kembali ke Ikebukuro, namun tidak dengan Fling Posse. Sebelum bertarung mereka berjanji apabila mereka memenangkan pertarungan final ini, mereka akan langsung pergi berlibur dari divisinya dan pergi untuk mengistirahatkan diri mereka.
Kawasan Camping Mt. Dodaira, Saitama Prefecture
Malam setelah tiba di area camping didekat pegunungan Dodaira mereka dengan segera membangun tenda dan menatap langit malam yang penuh bintang. Ramuda melihat bintang-bintang yang menghias langit malam saat itu, dan seketika tidak disangka ada bintang jatuh di langit hadapannya. Dice yang ikut melihat teriak heboh dan memohon harapan dengan segera dan tentu saja ia berharap mendapatkan 'JACKPOT' untuk setiap gambling yang akan ia lakukan, Gentaro dan Ramuda mengejek tertawa atas permohonan bodoh Dice. Tak lama, Ramuda menghempaskan tubuhnya diatas rumput dan menatap langit dengan membuat harapan.
'ah...Tuhan jika engkau memang ada..aku hanya ingin terus hidup...bersama mereka'
Malam pun berlalu dan semua anggota Fling Posse berisitirahat setelah menyaksikan bintang jatuh dan memohon harapan kepada sang bintang. Namun, perjalanan mereka masih jauh dan akan banyak rintangan yang harus mereka jalani.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Into our black, black journey, perhaps the last one
A journey to hold onto our lives
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Ramuda, Gentaro dan Dice masih tertidur lelap dengan pakaian yang belum di ganti sejak pertandingan kemarin. Mereka tidur didalam sebuah tenda yang dapat dikatakan berukuran sedang yang mereka sewa dan tidur saling berhadapan satu sama lainnya, dimana posisi Ramuda adalah yang ditengah-tengah Gentaro dan Dice, seperti layaknya keluarga kecil yang saling melindungi satu sama lainnya. Sesekali tanpa disadari Gentaro menendang kaki Dice yang sembarangan mengarah ke kakinya dan menimpanya.
Kejutan tiba-tiba datang dari dalam tubuhnya. Pemuda berambut pink itu segera bangkit dari tidurnya dan menahan mulutnya yang rasanya ingin memuntahkan sesuatu. Ramuda segera keluar dari tenda yang ia tempati dan pergi ke arah sungai yang tidak jauh dari belakang tendanya.
"khh—uhuk...kh..waktuku tidak banyak...mengapa..mengapa walaupun kami sudah menang..waktuku bersama mereka akan berakhir..uhuk—", Ramuda mengepalkan tangannya ke dalam dadanya dan ia melihat darah yang keluar cukup banyak dari mulutnya, serta menetes ke dalam pantulan dirinya di dalam sungai jernih tersebut.
"Ramuda?", terdengar suara yang tidak asing bagi Ramuda dan segera ia membereskan dirinya—terutama area mulut dan tangannya yang terdapat bercak darah.
"Ramuda? Sedang apa kau disini?', tanya pemuda yang lebih tinggi dari Ramuda tersebut yang menghampiri dirinya.
"Aahh~☆ Gentaroo!! Aku baru saja bangun dan membersihkan diri, lihat wajahku bersih bukan? Ehe!", ucapnya riang dengan menatap Gentaro demi menutupi rasa sakit yang masih ia rasakan.
"Hee~ benarkah? Aku kira kau sedang berusaha kabur dari kami dan berjalan sendirian lagi~?", Gentaro meletakkan tangannya di dagu dan menatap Ramuda dengan tatapan serius.
"EEHH! Mana mungkin aku melakukan itu! Setelah kita memenangkan pertandingan kedua kemarin kau bahkan masih tidak percaya kepadaku? 。゜(`Д')゜。," Ramuda memukul kesal kepada Gentaro, ia merasa masih tidak dipercayai oleh rekan yang telah berjuang bersama-sama ini.
"Baiklah, baiklah, Itu bohong kok", ucap Gentaro sembari tersenyum kepada Ramuda dan mengelus kepala Ramuda.
"AAH! Sudah kuduga itu kebohonganmu lagi! Gentaro, aku menyayangimu!!", ucap manja si Ramuda sembari memeluk Gentaro erat.
"Uuh..baiklah cukup pelukan eratnya, kau bisa melepaskanku?. Mari kita membangunkan pangeran tukang tidur kita", ajak Gentaro sambil berusaha melepas pelukan Ramuda.
"Maksudmu adalah Dice? Bagaimana jika kita membangunkannya dengan menyiramkan air kepadanya?! Ehe~☆", Ide Ramuda membuat Gentaro berpikir untuk menyetujuinya. Namun, sepertinya ia harus menunda ide kejahilannya mengingat 'menyiramkan air ke dalam tenda = tidak ada pakaian ganti' karena pakaian ganti mereka ada didalam tenda yang kini dijadikan bantal oleh pria tukang judi tersebut.
Gentaro menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak setuju, "Sebenarnya aku sangat menyetujuinya tetapi pakaian ganti kita sedang dijadikan tahanan oleh kepada tukang judi tersebut. Jika kita menyiramkannya kita tak ada pakaian ganti", Ucap Gentaro dengan helaan nafas.
"Benar juga..hmmm....baiklah kapan-kapan saja kita menjahilinya~!", Ramuda segera berjalan dengan riang dan menuju ke tenda yang mereka tempati. Ketika ia melihat Dice yang masih tertidur lelap, ia segera bersiap melakukan sesuatu kepada pemuda yang sedang tidur tersebut.
"1...2...3...DICE KAU MEMENANGKAN 50,000 YEN!!!!", teriak Ramuda keras sambil menerjang tubuh Dice yang sedang tidur dan tentu saja sang pemilik badan yang diterjang tiba-tiba tersebut terbangun.
"HAAAAHHH! MANA 50,000 YEN KU??!?!?!?", matanya terbelalak kaget dan ia segera bangkit dari tidurnya dan melihat Ramuda yang sedang tertawa jahil kepadanya.
"RAMUDA! Kau membohongiku?!", ujarnya geram dan menatap Ramuda dengan kesal.
"Ehe~ Gentaro mengajakku untuk membangunkanmu. Pada awalnya kami ingin menjahilimu dengan cara lain, namun Gentaro melarangku, makanya aku melakukan ini hehe~ ☆", ucap Ramuda dengan santai dan memeluk pinggang Dice. Dice yang mendengarnya merasa kesal dan menatap gentaro yang diluar tenda dan mentertawai dirinya dan Ramuda.
"Oi Gentaro! Ini pasti ulahmu lagi!', ucap Dice kesal kepada Gentaro yang ada diluar tenda.
"Ho-? Kenapa aku? Aku sudah melarang Ramuda melakukan ide isengnya yang lebih parah dari ini. Sungguh kau adalah pria yang tidak tau berterima kasih...hah~", ujar Gentaro dengan menghela nafas dan membelakangi mereka.
"Memangnya apa idenya Ramuda?"
"Menyirammu dengan air", ucap Gentaro santai.
"Uuh....baiklah, terima kasih sudah menolongku", ucap Dice yang entah harus berterima kasih atau tidak kepada Gentaro untuk menghentikan ide kejahilan Ramuda.
"Hey Dice! Ayo berburu makanan, aku dengar dari Samatoki kau dan Rio ahli berburu hewan liar ketika kau di hutan Yokohama!", Ramuda menatap Dice dengan girang dan Dice berusaha mencerna apa yang di maksudkan oleh Ramuda karena nyawanya masih belum terkumpul hingga saat ini.
"Hah? Berburu....sebentar..HAH?! Darimana kau mengetahuinya?", tanya Dice kepada Ramuda, karena ia merasa tidak pernah mengatakan soal berburu hewan liar bersama salah satu anggota MTC—Busujima Rio kepada Ramuda.
"Eh? Samatoki yang mengatakannya kepadaku. Ia mengatakan bahwa ada anggotaku sering kali ke divisi mereka untuk mengemis makanan kepada anggotanya, Busujima Rio."jelas Ramuda dengan menatap bingung Dice.
"AAHH! AKU TIDAK MENGEMIS MAKANAN KOK! HANYA MEMINJAM UANG KEPADA RIO!", Jelas Dice berusaha menyangkal apa yang dikatakan Samatoki kepada Ramuda.
"Hah~ orang bodoh memang akan selalu bodoh, kasihan sekali pemuda ini~", Gentaro menggelengkan kepalanya dan menghela nafas mendengar cerita rekan yang menurutnya sangat bodoh ini.
"OI! Aku mendengarmu Gentaro!"
"Ne~Ne~Dice! Ayok berburu makanan untuk kita~", Ramuda menatap Dice dengan memelas dan Dice yang melihatnya segera bangkit dari bangunnya dan merapikan tempat tidurnya,
"Baiklah baiklah...aku tidak tau di hutan ini ada hewan yang diburu atau tidak, semoga saja kita dapat menemukan burung Emu disini seperti yang aku temukan di hutan Yokohama bersama Rio-san. Hidangan makanan Emu sangat cocok untuk porsi kita bertiga! He'eh! Serahkan kepadaku!", Dice segera bangkit untuk keluar tenda dan mengambil peralatan dari mobil mereka dan segera pergi berburu.
"Ramuda, aku akan pergi ke minimarket terdekat untuk membeli bumbu. Kau tunggu disini ya. Kau ingin menitip sesuatu?", tanya Gentaro kepada Ramuda.
"Hmm...permen lollipop! Hehe", ucap Ramuda dengan senyuman khasnya dan membuat Gentaro sedikit terkejut dengan jawaban Ramuda. Sekilas ia mengingat 'permen lollipop' yang dimiliki Ramuda tidak banyak lagi, mengingat permen yang mereka miliki adalah rampasan dari 3 kloningan Ramuda kala itu yang berhasil mereka kalahkan.
'Waktu kita tidak banyak. Kita harus segera menemukan caranya..', pikir Gentaro sehingga membuatnya melamun sejenak hingga pada akhirnya Ramuda menyadarkannya kembali.
"Ada apa Gentaro? Kenapa kau melamun?", tanya Ramuda dengan menatap Gentaro.
"Ah, tidak..aku hanya sedang berpikir apa saja yang perlu kita beli. Baiklah, aku pergi", Gentaro tersenyum dan ia melangkahkan kakinya keluar dari area camping tersebut dan dibalas dengan lambaian bye-bye oleh Ramuda.
Setelah melihat Gentaro dan Dice pergi dari area camping mereka, ia mengambil handphonenya untuk mengecek apakah ada pesan—perintah dari 'Onee-san'nya yang kejam setelah dirinya dan timnya memenangkan 2nd Battle D.R.B kemarin.
Ternyata tidak ada pesan masuk dari sosok wanita angkuh yang ia takuti sekaligus hormati. Ia duduk didalam tendanya sembari memakan permen lollipopnya dan mengecek handphonenya,
'aneh sekali.. tidak ada pergerakan dari Chuohku. Aku yakin saat ini mereka sedang menyiapkan rencana lain karena gagal menyingkirkanku dan kloningan sampah itu pasti sedang diperbaiki...Tch—! Wanita-wanita Chuohku sialan—!!' Ramuda merasa geram dan melempar handphonenya ke sisi tenda, nafasnya yang tidak beraturan berusaha ia stabilkan. Dirinya merasa kesal, walaupun mereka—Chuohku—mengatakan tidak membutuhkannya lagi dan membuang dirinya, namun rasanya masih ada rantai yang tak kasat mata yang mengekang dan mengikat lehernya sehingga membuat dirinya merasa frustasi karena di permainkan oleh mereka.
Tiba-tiba handphonenya berdering, dengan segera Ramuda mengambilnya dan melihat nomor yang menghubunginya.
"Amayado Rei..... ada apa mereka menghubungi ku...Ah! Apakah Chuohku mengirim Kotohsarai kesini?!", dan dengan segera Ramuda mengangkat handphonenya.
"Oii~ Amemura! Selamat atas kemenangan tim mu di pertandingan kemarin", terdengar suara seperti pria dewasa dengan tone beratnya dari seberang suara handphone Ramuda.
"Amayado...apa yang ingin kau katakan?"
"Heh~ tidak bisa diajak senang sekali saja. Hei, Amemura...persediaan permenmu sudah menipis bukan? Dan Chuohku tidak mau memberikanmu lagi bukan? Aku memiliki hadiah untukmu~"
"Tch—langsung saja apa yang ingin kamu katakan?!"
"Hah~ sungguh bocah saat ini apakah tidak memiliki tata krama kepada orang yang lebih tua? Terlebih orang tua ini mau membantunya~ Hmph.."
"Membantuku? Apa yang kamu maksudkan? Kau bisa membantuku tetap hidup?!"
"Hmm, bisa dikatakan yaa bisa dikatakan tidak.."
"JANGAN BERCANDA AMAYADO REI!!"
"Heh, Baiklah...jadi....."
Ramuda mendengarkan dengan simak apa yang dikatakan Amayado Rei tentang cara menyelamatkan hidupnya. Namun, ia sangat terkejut mendengarnya dan terdiam ketika mendengarnya. Perasaannya menjadi kalut, permen yang sedang ia makan seketika ia gigit dan hancur dalam mulutnya, ia bingung dan ragu atas apa yang dikatakan Amayado Rei.
"Bagaimana Amemura Ramuda? Rencana yang aku sampaikan bisa jadi balas dendammu kepada Chuohku. Tetapi kamu harus siap dengan apapun yang terjadi—"
"KAU PIKIR AKU GILA HAH? AKU TIDAK SEBODOH ITU—!", Gertaknya marah dengan langsung memutuskan sambungan telepon Amayado Rei. Walaupun informasi yang disampaikan pria tua bangka itu sedikit masuk akal dan menguntungkan secara emosi terpendamnya, namun resiko nya cukup besar. Nafasnya kembali berderu dan ia kembali melempar handphonenya ke sembarang arah. Tak disangka seseorang yang ia kenal berdiri di depan tendanya.
"Oi Ramuda, kau bicara dengan siapa? Kau marah?", tanya pemuda berambut biru navy itu dengan membawa 2 hewan hasil buruannya.
"A-ah Dice! Bukan siapa-siapa kok, hanya seorang stalker yang menghubungiku, tch—fans laki-laki memang kadang menyeramkann!! Haha~☆", ucap Ramuda dengan menggaruk kepala belakangnya yang sebenarnya tidak gatal, demi menghindari kecurigaan salah satu 'Posse'nya ini.
"Hmmm....baiklah aku percaya. Ramuda, apapun yang sedang kamu hadapi segera percayakan segala hal kepada kami ya, kami adalah Posse-mu!", Dice tersenyum kepada Ramuda dan membuat Ramuda terharu mendengarnya. Jujur saja hingga saat ini ia masih tidak percaya bahwa grup bentukan Chuohku yang kini bernama Fling Posse ini, masing-masing anggotanya membuat dirinya merasa spesial dan dibutuhkan oleh teman se-timnya. Ah, andai waktu dapat dihentikan, ia tidak mau momen kebersamaan dan kehangatan yang kini ia rasakan berlalu begitu saja.
"Ah ya, Gentaro kemana?", tanya Dice kepada Ramuda.
"Dia sedang ke minimarket membeli bumbu untuk memasak. Woah~! Dice kau membawa hewan buruan apa itu?", tanya Ramuda dan melihat hasil buruan Dice yang ia pegang di tangan kanan dan kirinya.
"Haha! Ini adalah daging burung Emu dan daging kelinci hutan. Tidak kusangka dapat menemukan burung Emu disini juga. Rio-san mengatakan burung Emu hanya ada di sekitar hutan Yokohama karena dekat dengan pelabuhan", Dice merasa bangga karena ia mendapatkan burung Emu yang sangat langka dengan rasa dagingnya yang sangat terasa 'mewah' sekali ketika di makan dan tentu saja karena usaha dia sendiri menangkap burung yang sekali lari bisa dengan kecepatan 50 km.
"WOAHH~ KEREENN! Mari kubantu membersihkannya, Dice! Jadi ketika Gentaro datang bisa langsung mencampur bumbunya hehe!"
"Ho~! Sankyu Ramuda! Baiklah ayo!", Ramuda langsung mengambil hewan buruan yang Dice pegang dan membawanya ke sungai untuk membersihkannya, tidak luput Dice juga turut membantunya.
Ramuda dan Dice segera menyiapkan segala kebutuhan untuk memasak dari persiapan alat makan, pembersihan hewan hasil buruan Dice dan kompor alami dengan menggunakan daun kering. Tidak lama Gentaro datang dengan membawa 2 buah kantong plastik berisi bumbu masakan, minuman, dan permen yang dipesan oleh Ramuda. Mereka menikmati waktunya bersama-sama seolah-olah tidak ada beban yang mereka pikul bersama. Mereka tak mau melewati sedikit pun hari ini dengan sia-sia. Ramuda mengambil handphonenya dan mengambil foto mereka bertiga bersama-sama didalam satu foto, tidak lupa ia juga mengunggahnya ke dalam SNS-nya dan langsung dibanjiri oleh komentar fans Fling Posse yang berharap ikut bersama mereka.
Hari itu mereka lalui bersama-sama dengan suka cita dan kehangatan kebersamaan diantara anggota Fling Posse. Namun, kebahagiaan tidak akan bertahan lama karena akan terdapat badai yang akan segera datang menimpa mereka.
