Actions

Work Header

Yule Ball

Summary:

"Kurasa aku sudah tahu akan mengajak siapa ke Yule Ball nanti."

Dengan popularitas mereka, para juara Triwizard tidak mungkin kesulitan mencari pasangan untuk Yule Ball nanti. Namun, kenyataannya tidaklah semudah itu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Yo! Hogwarts champion.”

Joonghyuk Yoo mengira ia keliru saat menjatuhkan pilihan untuk minum teh di Three Broomsticks. Juga saat Sooyoung Han, juara dari Durmstrang, menyapanya dengan sebelah tangan dan muka datar mengikutinya ke Hogsmeade alih-alih ke kandang burung hantu.

Suasana hatinya seburuk badai salju, dan ia sedang tidak ingin mendengar komentar pedas dari mulut gadis itu tentang konsep dekorasi Natal yang menghiasi Aula Besar. Tetapi, ia berpikir sebaliknya ketika gadis itu menjatuhkan pantat ke bangku tanpa berkata apa-apa. Rambut sebahunya dikibaskan keluar dari jaket tebalnya.

Keduanya masih terpaku dalam pikiran masing-masing, bahkan setelah pesanan Butterbeer mereka sampai di meja. Joonghyuk tak keberatan dengan keheningan yang menyelimuti, kendati berada di tengah suasana Three Broomsticks yang hangat dan ramai.

“Ah, payah!” Sehabis menenggak Butterbeer, Sooyoung meletakkan gelasnya dengan sedikit bantingan—yang sebenarnya sangat tidak perlu. Barangkali ia sudah tidak tahan dengan Joonghyuk yang tidak kunjung buka suara sejak sepuluh menit yang lalu.

“Apa?” tanya Joonghyuk sekenanya. Kerutan di dahinya makin kusut. Ia yakin satu kata ‘payah’ itu ditujukan untuk banyak hal yang mengganggu pikiran gadis itu, termasuk dirinya.

Sooyoung Han menyandarkan punggung ke sandaran. Salah satu sudut bibirnya naik sebelum ia berucap, “Kau, Si Tampan Joonghyuk Yoo.”

Joonghyuk tidak yakin itu merupakan pujian atau hinaan, terlebih jika Sooyoung mengatakannya dengan ekspresi yang mirip sedang mencela. Pasalnya, makin banyak cewek-cewek yang menyapanya belakangan ini, bahkan menyebutnya tampan secara terang-terangan. Bukan hanya murid dari Hogwarts, bahkan dari Beauxbatons dan Durmstrang juga. Ia bertanya-tanya apakah jumlah fansnya meningkat secara eksponen, terlebih sejak ia terpilih mewakili Hogwarts dalam Turnamen Triwizard.

“Kenapa aku payah?” Joonghyuk memutuskan agar tidak terpancing. Ia meneguk Butterbeer-nya lagi seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Hampir seluruh meja di sana penuh, kecuali sofa di depan perapian. Baru saja ia bermaksud pindah ke sana, sofa itu sudah terisi lebih dulu. Cowok kurus yang membawa dua gelas Butterbeer menempatinya, bersama dengan gadis berambut cokelat terang di sampingnya.

“Karena kau terlalu pilih-pilih. Menyebalkan.”

“Demi celana Merlin, kau juga menyebalkan. Dalam hal apa?”

Sooyoung mendengus berlebihan, lantas melanjutkan. “Jangan kira aku tidak tahu. Banyak yang menunggu diajak menjadi pasanganmu di Yule Ball nanti. Dan kau? Mengabaikan semuanya dan tidak menerima ajakan siapa pun. Apa kau berencana untuk mengajak ghoul nyasar?”

Ha! Joonghyuk yakin gadis itu iri karena ditolak oleh calon pasangannya. Atau karena tidak punya keberanian untuk mengajak seseorang. Atau alasan apa pun yang membuat Sooyoung tampak menyedihkan.

Sooyoung Han kembali meneruskan ucapannya. “Aku takut kau akan diteror Amortentia oleh fansmu.”

“Tidak usah khawatir.” Joonghyuk melanjutkan dengan senyum puas, “Aku cukup ahli mengenali sesuatu yang dibaluri Amortentia. Baru saja kubakar tumpukan cokelat rasa ramuan cinta kemarin siang.”

Blimey!” Raut muka gadis di depannya itu berubah ngeri, seakan sedang mendengar lengkingan tangisan Mandrake pada mata pelajaran Herbologi. “Harusnya salah satu lolos kaumakan.”

Sialan.

Sooyoung Han memang menyebalkan, tetapi si juara Beauxbatons jauh lebih parah. Entah sudah berapa kali tinjunya melayang ke wajahnya yang suka menampilkan cengiran tolol seperti Troll Gunung jika Joonghyuk tidak menahan diri.

Baru dua bulan ini Joonghyuk mengenal mereka. Ia ingat saat mereka bertiga berkumpul di sebuah ruangan, seusai Piala Api memuntahkan perkamen setengah gosong berisi nama mereka. Saat itu keheningan menyelimuti, ketiga pasang bola mata hanya terdiam menatap kobaran di perapian.

Kalau boleh jujur, ia sangat tidak siap. Turnamen Triwizard yang prestise ini punya sejarah lain di baliknya. Angka kematian yang tinggi membuat turnamen ini sempat dihentikan pada abad ke-18. Dan dengan menyelenggarakannya kembali pada tahun 1994 bukan berarti tugas yang diberikan menjadi lebih ringan. Dirinya sama sekali tidak punya gambaran seberbahaya apa tugas menanti.

Seperti naga yang menjadi tugas pertama, misalnya. Joonghyuk baru saja datang ke pinggir danau yang biasa menjadi tempat mereka berkumpul, ketika Sooyoung Han membisikkan isi tugas pertama dengan panik. Ia bertanya-tanya, dari mana info rahasia semacam itu sampai ke telinga para juara. Hal yang sebenarnya terlarang dan curang, ia tahu, tapi sangat membantunya hingga ia tidak perlu tewas secara mengenaskan terkena semburan naga Bola Api Cina.

“Biar kutebak, memikirkan cara menebak lengkingan telur emas?” Sooyoung menyadari Joonghyuk yang larut dalam pikirannya sendiri.

Joonghyuk berdeham dan meraih gelas Butterbeer-nya. “Hmm. Kau sudah menemukan sesuatu?”

Yang ditanya mengangguk dan tersenyum penuh kepuasan. “Hoho, jangan remehkan diriku. Kusarankan untuk mandi dan bawa telur emasmu. Kujamin kau akan—”

Ucapan Sooyoung terhenti lantaran pemuda bermarga Yoo itu tersedak minumannya sendiri. Ia terbatuk-batuk dan menumpahkan sebagian isi gelasnya ke meja dan pakaiannya.

“Jenggot Merlin! Kau tidak apa-apa?” Sooyoung Han mengibaskan tongkatnya untuk membereskan sisa kecerobohan lelaki itu. “Kau kenapa, sih?”

Joonghyuk Yoo masih menepuk dadanya, berusaha keras menghentikan batuknya. “Yeah … aku ... baik-baik saja.”

Kendati demikian, Sooyoung menyadari mata laki-laki itu terpaku pada satu titik di belakangnya. Melirik dari balik bahunya, ia menemukan Seolhwa Lee, murid Beauxbatons yang menurut kabar adalah keturunan Veela. Mengambil tempat duduk di sofa depan perapian, ia bergabung dengan Dokja Kim, juara dari Beauxbatons, dan Sangah Yoo, anak Ravenclaw kalau ia tidak salah ingat.

“Oh, shoot.” Sooyoung Han tidak bisa menahan senyum melihat pemandangan itu.

Joonghyuk heran gadis itu menyumpah secara tiba-tiba. “Ada apa?”

“Bukankah itu Sangah Yoo dan Seolhwa Lee?” tanya Sooyoung

“Iya,” Joonghyuk menjawab pendek. Ia kira Sooyoung sudah tahu karena kedua gadis itu dekat dengan Dokja. “Kenapa?”

“Kurasa aku sudah tahu akan mengajak siapa ke Yule Ball nanti.” Sooyoung Han bangkit dari kursinya. Sebelah tangannya mengulurkan kepalan tangan ke arah Joonghyuk secara cepat. Terlampau cepat hingga pemuda itu refleks berkelit lantaran mengira hampir ditinju. Di sela tawa renyahnya, gadis itu berucap, “Cepat ajak seseorang atau semua orang bakal sudah punya partner. Jangan takut! Mana jiwa singa Gryffindor-mu itu?!”

Menggumam tidak jelas, Joonghyuk membenturkan kepalan tangan ke milik Sooyoung. Ia melambai singkat sebagai balasan untuk gadis itu yang melangkah ke arah pintu, pamit entah ke mana. Mungkin maniak lolipop itu mampir ke Honeydukes untuk mencicipi Lolipop Rasa Darah.

Joonghyuk Yoo cukup pening dengan teka-teki telur emasnya. Tiada henti-hentinya telur itu menjerit tiap kali dibuka. Hal itu cukup membuatnya mengurungkan niat untuk menebak maksud di baliknya. Dan seakan itu semua belum cukup, ia harus pusing memilih partner dansa. Joonghyuk lebih memilih mendekam di balik selimut sepanjang pesta berlangsung jika Profesor McGonagall tidak memintanya (lebih tepatnya menuntutnya) bersiap untuk membuka pesta dansa.

Ia bisa tunjuk satu orang secara acak dan orang itu pasti mengiyakan ajakannya. Pasti demikian, tetapi jika situasinya masih seperti sebulan yang lalu. Joonghyuk tidak bisa memilih secara acak, terlebih jika ada satu orang yang sangat ingin ia ajak menjadi pasangannya.

Karena itu, Joonghyuk memaki dalam hati saat Seolhwa Lee menggandeng seorang lelaki Durmstrang ke Aula Besar. Perpaduan gaun sewarna gading dan rambutnya yang keperakan merupakan kombinasi yang mencolok dan cantik di tengah lautan jas warna gelap.

“Maaf, Joonghyuk-ssi. Aku sudah punya pasangan. Tidak mungkin, kan, kalau aku tiba-tiba membatalkannya?”

Itu pertama kalinya Joonghyuk Yoo mengajak seseorang dan ditolak saat itu juga. Ia lupa persisnya, tetapi yang ia ingat hanyalah dirinya mencari sebotol Firewhisky selundupan. Hasil memohon-mohon kepada salah satu temannya yang sudah seperti sindikat barang terlarang. Lelaki itu merasa kosong seakan baru bertemu Dementor, hingga ia perlu sensasi kobaran untuk mengisi dadanya hingga penuh.

Riuh rendah di Aula membuyarkan jalan pikirannya. Melirik arloji di tangan kirinya, Joonghyuk menghitung sisa waktu sebelum pintu Aula Besar dibuka. Lima menit lagi.

Joonghyuk Yoo merutuk kembali tatkala melihat figur Sooyoung Han muncul. Gadis itu datang bersama Hyunsung Lee, teman satu angkatannya dari Hufflepuff, sepuluh menit yang lalu. Ia baru akan bertanya dari mana mereka saling mengenal, mengingat Hyunsung yang tidak semudah itu berbaur dengan orang asing, ketika Sooyoung mendahuluinya.

“Sangah Yoo mengenalkannya padaku. Katanya pasangan Hyunsung-ssi sedang sakit dan aku boleh membawanya ke Yule Ball.” Gadis dari Durmstrang itu berkata demikian. Joonghyuk bisa menangkap kalau gadis itu sekuat tenaga menahan diri agar tidak cekikikan.

“Dan kau mau?” Pertanyaan kali ini ditujukan pada Hyunsung.

Hyunsung Lee tersenyum ragu. “Heewon-ssi yang menyuruhku agar tetap datang. Jadi aku mengiyakannya.”

“Kukira kau akan datang dengan Seolhwa Lee.” Joonghyuk menyelipkan nada mengejek dalam ucapannya kepada Sooyoung. “Ah, usaha mengejarnya mati-matian tidak berhasil rupanya.”

Sooyoung Han membalasnya dengan terkesiap berlebihan, seakan baru melihat Thestral untuk pertama kalinya. “Merlin, bukankah kau juga ditolak? Yang keberapa kali? Pertama kali?” Tawanya menyembur. “Jubahmu bagus, omong-omong.”

Joonghyuk melirik sekilas ke jubah hitamnya alih-alih menanggapi olokan cewek setengah sinting itu. Satu-satunya jubah pesta yang ia punya dengan Galleon usahanya sendiri. “Terima kasih. Gaunmu juga cantik.”

Gaun yang dikenakan Sooyoung bermodel sederhana dengan warna ungu pucat. Jubah kebiruan tersampir di bahunya. Dari jauh ia tampak seperti mengenakan seragam Beauxbatons versi pesta.

Dokja Kim menampakkan diri dari tangga Aula Depan lima menit setelahnya, bersamaan dengan beberapa cewek yang berjalan terburu-buru. Seperti biasa, sembari mengulas senyum lebar yang menampilkan deretan gigi putihnya. Kontras dengan jubah Joonghyuk, ia mengenakan jubah pesta beludru putih dengan kerah tinggi.

“Kukira kau bersama Sangah Yoo.” Hyunsung agak terbungkuk saat Dokja menepuk bahunya terlampau keras.

“Oh, itu.” Dokja memperbaiki posisi dasi kupu-kupunya. “Dia ada urusan dan terpaksa menghabiskan libur Natal di rumahnya.”

Saat itulah leher pemuda Kim itu berputar. Manik mata Joonghyuk bertemu pandang dengan sepasang iris gelap miliknya. Tatapan mereka terkunci hingga Dokja berdiri tepat di hadapannya. Mengulangi aksinya tadi, yang lebih pendek menepuk bahu yang lebih tinggi. Lagi-lagi kelewat keras hingga Joonghyuk merasa bekas merah berbentuk tangan tercetak di bahunya. Dan saat itulah ia menyadari dirinya menahan napas sedari tadi.

“Jangan cemberut begitu. Nanti pasanganmu jadi tak enak hati karena mengira kau terpaksa memilihnya.”

Ya, Dokja Kim dan kemampuannya membuat dirinya tiba-tiba dilanda darah tinggi. Ia sudah cukup sabar menghadapinya dan Sooyoung Han secara personal. Namun, ia angkat tangan jika kedua orang itu dihadapi secara bersamaan, karena ia merasa seolah sedang menangani dua Peeves versi bobrok.

“Bisakah kau berhenti membuatku kesal?” Joonghyuk mengertakkan rahang. “Dan berhenti senyum-senyum seperti gargoyle bodoh.”

“Maksudmu gargoyle batu dekat undakan itu? Menurutku tidak bodoh, tapi keren.”

Joonghyuk mendengus keras. “Terserah.”

“Wah, lihat mereka,” Sooyoung buka suara. Sebelah bahunya bersandar ke dinding. “Sangat cocok jadi pasangan. Aku tidak heran kalau artikel si Skeeter tentang kalian terbit di majalah besok.”

Joonghyuk memutar leher ke arah Sooyoung cepat hingga orang akan mengira sendi-sendinya terkilir. “Kau … lebih baik diam.”

“Daripada digosipkan jadi pasangan orang emosian seperti dia, mending melawan naga lagi ….” Dokja menukas asal. Ia mengambil dua langkah menjauh dari Joonghyuk untuk membuktikan ucapannya.

“... Kata orang yang hampir tewas disembur api naga.”

Serius, Joonghyuk tidak mengerti apa yang lucu hingga Sooyoung terpingkal heboh bak orang terkena mantra Rictusempra. Hyunsung dari tempatnya berdiri tampak canggung berada di antara juara Turnamen Triwizard yang tak begitu dikenalnya.

Sudah waktunya.

Sooyoung Han meraih lengan Hyunsung Lee dan berdiri di depan pintu Aula Besar yang megah. Tawanya reda, tapi ia tak bisa menahan senyumnya. Bibirnya sempat mengucap ‘good luck, Hyuk’ tanpa suara. Hyunsung di sampingnya menarik napas panjang demi menenangkan diri.

“Hei, Monsieur Yoo.”

Joonghyuk menutup matanya sejenak, berusaha mengusir pening yang disebabkan oleh keberadaan Dokja. Ia menghela napas panjang. Fine, hanya sekali ini saja ia mencoba akur dengan pemuda itu.

Lantas Joonghyuk menyodorkan sikunya. Kali ini jantungnya berdegup sangat cepat. Rongga perutnya serasa dituang lelehan logam panas. Untuk ketiga kalinya ia menyumpah dalam hati.

Detik berikutnya Dokja Kim menyelipkan sebelah lengan ke sikunya. Ia berdeham kecil tepat saat pintu itu terbuka lebar. Keempat orang itu berjalan di tengah jalan yang dibentuk oleh tamu pesta di kanan kirinya. Joonghyuk bisa mendengar gumaman orang-orang di tengah riuhnya tepuk tangan.

Di sisinya, Dokja menyeringai ke arah teman-temannya di yang berkumpul di satu tempat. Salah satunya membuat jeritan tertahan selagi mereka terus berjalan menuju tengah Aula Besar.

Barangkali mereka tidak mengira Dokja Kim menjadi pasangannya di dansa pembuka ini. Sejujurnya kesepakatan ini hanya berlaku sampai mereka sama-sama menemukan partner lain. Sayangnya, hingga hari sebelumnya, syarat itu tidak terpenuhi—salah satunya karena Joonghyuk sendiri tidak punya niatan untuk mencarinya.

Untaian sulur dan mistletoe menghiasi tembok Aula, begitu juga dengan bunga salju keperakan yang berkilauan. Beberapa pohon Natal berdiri tegak di kedua sisi dindingnya. Di bawah langit bertabur bintang dan kepingan salju yang berjatuhan, Joonghyuk menggenggam tangan Dokja. Tangan yang satu lagi melingkari pinggangnya.

Joonghyuk menenangkan dirinya sendiri. Di balik sarung tangannya, ia merasakan telapak tangannya begitu dingin. Tenang, ini hanya dansa kecil. Tangan kanan dan kiri mereka akan bergantian menggenggam, begitu juga dengan siapa yang memeluk pinggang. Tidak lupa langkah kaki dan putaran mengikuti lagu.

Kedua sudut bibir Dokja Kim ditarik ke atas, kali ini tidak ada sorot jenaka dari matanya. Sejujurnya, ia merasa dirinya tidak lagi keberatan mereka harus berpasangan. Bersamaan dengan musik dimainkan, mereka memulai dansa pembuka.

“Jangan menginjak kakiku.”

Joonghyuk Yoo membalas dengan senyum yang sama. “Tidak akan.”

 

Fin.

Notes:

Sebenernya mau bikin Han Sooyoung partner dansa sama Lee Seolhwa. Tapi akhirnya nggak jadi biar Yoohankim nasibnya sama, tertolak semua XD

Anw thank you so much for reading <3

Series this work belongs to: