Actions

Work Header

Third Task

Summary:

"Kau tidak akan menyerah sampai akhir?"

Kedua figur itu saling mengunci pandangan dengan napas memburu. Wajah mereka diterangi oleh cahaya biru Piala Triwizard yang berjarak beberapa meter dari mereka.

"Tidak akan."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Dokja Kim mencabut tongkatnya dan menggumamkan, “Lumos.”

Peluit dibunyikan dari kejauhan. Ia dan kedua juara yang lain telah memasuki maze. Riuh suara penonton yang mendukung masing-masing wakil sekolah sihir teredam makin ia melangkah ke dalamnya. Dokja menduga Sooyoung dan Joonghyuk telah terpencar jauh, mengingat ia mendapat giliran terakhir masuk, jadi ia mempercepat langkahnya.

Lapangan Quidditch yang tadinya kosong diubah menjadi labirin tempat tugas ketiga turnamen. Hagrid menanaminya dengan pagar tanaman yang tumbuh setinggi enam meter dalam waktu cepat. Pagar itu begitu tebal dan tinggi. Dokja tak bisa memanjat untuk mengamati jalurnya dari atas, terlebih ia belum tahu makhluk gaib apa saja yang tersebar di dalamnya.

Kegelapan di dalamnya makin pekat sementara langit senja perlahan meredup. Cahaya dari tongkatnya satu-satunya yang menuntun jalannya. Suasana hening itu terasa mencekam, membuat Dokja berpikir sepasang mata tak terlihat tengah mengawasinya.

Sejauh ini ia belum bertemu monster satu pun. Hanya lorong kosong yang berujung dengan jalan buntu. Di beberapa jalur bercabang terdapat kabut yang lebih pekat, dan Dokja selalu mengambil jalan lain. Hal ini tidak membuatnya merasa aman, justru Dokja makin merasa cemas. Rasanya seperti mengerjakan ujian tanpa hambatan sampai akhir, terasa ada yang janggal.

Ayunan langkah juara Beauxbatons itu terhenti tatkala mendengar sesuatu. Suara geraman dari sebelah kirinya. Dokja mundur dan berbisik, “Nox.”

Kini jalan bercabang tempat ia berdiri gelap gulita. Dokja merapatkan tubuhnya ke dinding maze. Makhluk hitam besar berbulu dengan delapan kaki muncul di ujung lorong. Sementara itu Joonghyuk Yoo tengah melempar beberapa kutukan dengan tongkatnya.

“Stupefy!” Joonghyuk berteriak. Mantranya mengenai laba-laba raksasa tapi tidak bisa membuatnya roboh. “Impedimenta! Expelliarmus!”

Dokja menimbang-nimbang, haruskah ia membantunya atau tidak. Laba-laba raksasa itu makin dekat dengan Joonghyuk, sementara mantranya tak satu pun mempan. Kedelapan matanya memandang penuh kelaparan.

Ini turnamen.

Meski Dokja telah menganggap juara yang lain sebagai teman, mereka tetaplah rival pada dasarnya. Dengan pemikiran demikian, ia mengambil rute ke kanan dan lari, sembari menyalakan tongkatnya.

Berkali-kali ia menemukan jalan buntu, kembali ke cabang jalan sebelumnya dan mengambil belokan lain, lalu bertemu jalan buntu lagi. Kakinya terasa lelah dan ia tidak tahu masih sejauh apa pusat maze ini. Dokja mulai berpikir justru ia makin menjauh dari piala Triwizard, lantaran menyadari ia melewati jalan yang telah dilewatinya tadi.

Keheningan itu dipecah oleh suara jeritan Sooyoung Han. Dokja melihat gadis itu duduk terjerembab di tanah sementara Dementor menyerang ke arahnya. Wajahnya tersembunyi di balik kerudung, sementara tangannya yang busuk meraih-raih. Sooyoung memanggil Patronusnya, tetapi terlalu lemah hingga hanya berbentuk kabut tipis yang tak mampu melindunginya.

Dementor itu makin dekat dengan Sooyoung, tangannya yang berkeropeng beralih ke kerudungnya. Dokja berlari ke arahnya seraya memikirkan kenangan yang membuatnya bahagia. Usaha yang sulit di tengah rasa dingin yang menerpa dan udara yang menyesakkan. Pikirkan sesuatu, pikirkan sesuatu!

“Expecto Patronum!”

Seekor rubah perak muncul dari tongkat Dokja. Rubah itu berlari menerjang Dementor dan memutarinya. Si Dementor berputar-putar di tempatnya mengikuti rubah hingga berhenti karena kebingungan. Dokja ikut bingung melihatnya, sejak kapan Dementor bertingkah seperti orang linglung?

“Itu bukan Dementor … itu Boggart.” Sooyoung berkata dengan suara serak. “Riddikulus.”

Boggart itu menghilang menjadi kepulan asap dengan suara letusan keras. Begitu juga rubah Patronus Dokja yang ikut memudar.

“Dari mana kau tahu itu Boggart?” Dokja mengulurkan tangan pada Sooyoung. Dengan satu sentakan ringan, ia membantu Sooyoung berdiri. “Kau tidak apa-apa?”

Sooyoung mengangkat bahu sambil lalu. “Mana ada Dementor setolol itu. Harusnya ia terbang kabur diterjang Patronus-mu, bukannya berputar-putar sampai pusing seperti itu.” Ia terkekeh. “Aku tak apa-apa. Terima kasih, Dokja.”

“Tidak masalah.” Dokja berbalik menuju jalan yang ia lewati tadi. “Lumos.”

“Merlin, Patronus-mu keren tadi. Aku tidak sempat memikirkan kenangan yang paling kuat.” Sooyoung Han menyusul dan ikut berjalan di sampingnya. “Kenangan apa yang kau ingat sampai bisa menghasilkan bentuk korporealnya?”

Dokja merasakan panas merambati pipinya meski di tengah udara dingin malam dalam labirin. Ia tak mungkin mengatakan kenangan tentang Yule Ball dan dansa pembukanya dengan Joonghyuk Yoo walaupun hanya sempat terpikirkan selintas. Alih-alih menjawabnya, ia balik bertanya, “Apa tadi kau sempat memikirkan Dementor?”

Sooyoung mengikuti Dokja mengambil jalan ke kanan dan ikut berbalik saat menemui jalan buntu. “Iya, begitulah. Hawanya dingin dan pekat, kukira ada Dementor beneran.”

Dokja tak menanggapi. Ia sibuk mengingat-ingat apakah tadi ia sudah mengambil jalan setapak ini atau belum.

“Tadi aku melawan Skrewt-Ujung-Meletup. Buset, galaknya luar biasa. Kalau bertemu dengannya, pakai Mantra Perintang dan langsung lari saja.” Sooyoung masih saja menyerocos. “Ada Sphinx juga tadi. Tapi aku sedang tidak bisa berpikir untuk jawab teka-tekinya, jadi aku ambil jalan lain.”

Dokja menghentikan langkahnya, diikuti oleh Sooyoung. Menghela napas berat, ia menoleh ke arah gadis itu. “Nah, kita berpisah di sini.”

Sooyoung mengerjapkan mata tak mengerti. Tubuhnya dibalik dan bahunya didorong ke lorong sempit di sebelah kanannya. “Eh—”

“Dadah, hati-hati. Jangan sampai ketemu Skrewt lagi.” Dokja melambaikan tangan seraya mengulas senyum lebar.

“Awas nanti kalau kita ketemu lagi, kau dan aku jadi musuh.”

Sooyoung tampak cemberut. Ia sempat mendengarnya mengumpat. Mungkin Sooyoung berharap mereka akan bertukar informasi. Kenyataannya, Dokja belum bertemu monster sama sekali saat ia sendirian.

Tak sampai semenit kemudian, Dokja menyesali pemikirannya sendiri.

Ia terpaksa menghadapi laba-laba raksasa yang tiba-tiba memotong jalannya di persimpangan. Cara jalannya agak timpang, tetapi masih cukup kuat dan cepat. Mungkin ini laba-laba yang sama dengan yang dilawan Joonghyuk Yoo tadi.

“Stupefy!” Kilatan merah dari ujung tongkat Dokja mengenai tubuhnya yang berbulu. “Stupefy! Impedimenta!”

Baik Mantra Pembeku maupun Mantra Perintang masih tak mampu merobohkan si laba-laba raksasa. Capitnya bergerak-gerak penuh ancaman, menyerang Dokja dari berbagai arah. Salah satu capitnya menerjangnya dan berhasil menggores pelipisnya. Rasa sakitnya tak terkira. Dokja merasa dunia tempatnya berpijak jungkir-balik.

Ia paling tidak butuh satu orang lagi untuk menyerang laba-laba secara bersamaan, tepatnya di titik lemahnya. Terlintas di pikirannya, bagaimana cara Joonghyuk Yoo berhasil bebas dari makhluk gaib yang makin buas ini. Langkah Dokja menyusuri lorong makin cepat, tak lupa mengayunkan tongkatnya sesekali.

Dokja baru belajar frasa ini dari teman-teman Hogwarts-nya tapi bloody hell! Ia bertemu jalan buntu lagi untuk yang keseratus kalinya hari ini. Di belakangnya, si laba-laba menghalangi jalan keluar. Kedelapan matanya berkilat-kilat penuh semangat, bersiap untuk menerkamnya.

Di tengah perih dan letih yang melanda, Dokja menarik napas panjang sekaligus menenangkan diri. Ujung tongkatnya ia arahkan ke pagar tanaman di sebelah kanannya.

“Bombarda!”

Suara ledakan memecah keheningan malam, diikuti oleh jeritan dari laba-laba raksasa yang terguling roboh. Laba-laba itu tersingkir dari tempatnya. Jalur setapak di sebelahnya terbuka lebar karena dinding maze yang terkena Mantra Peledak-nya hancur sebagian. Dokja bergegas menerobos pagar yang berlubang itu, takut jika tanamannya akan menutup dengan cepat.

Belum lama Dokja berlari, ia melihat sesuatu jauh di ujung jalan sebelah kirinya. Cahaya kebiruan yang begitu menarik perhatian. Piala Triwizard diletakkan di atas podium di tengah maze, menunggu untuk diperebutkan oleh para juara.

Kali ini ia tidak main-main. Kemenangan tepat di depan mata dan begitu dekat ia raih. Dokja berlari secepat yang ia bisa menuju piala. Namun, sebelum ia mencapainya, ia menghentikan langkahnya secara mendadak dan berguling ke depan. Sooyoung Han, yang datang bersamaan dengan dirinya, melempar Mantra Pembeku ke arahnya.

“SOOYOUNG—”

Juara dari Durmstrang itu sangat mahir mempraktekkan mantra nonverbal. Raut wajahnya tegas dan penuh tekad, membuktikan dirinya juga serius untuk melawan Dokja. Dokja sendiri tidak dapat menerka sihir apa saja yang dikeluarkan tongkat Sooyoung, jadi ia hanya mampu membisikkan Mantra Pelindung di antara napasnya yang terengah.

Sooyoung terus maju menghapus langkah sementara Dokja berusaha sebisa mungkin untuk tidak mundur, hingga kini keduanya berdiri berhadapan. Kedua figur itu saling mengunci pandangan dengan napas memburu. Wajah mereka diterangi oleh cahaya biru Piala Triwizard yang berjarak beberapa meter dari mereka.

“Kau tidak akan menyerah sampai akhir?” Dokja melempar tanya.

Jeda dua detik sebelum Sooyoung menjawab tanpa ragu. “Tidak akan.”

Ujung tongkat hawthorn Dokja Kim mengarah ke wajah Sooyoung Han, sementara tongkat willow gadis itu nyaris menyentuh leher Dokja. Dari sorot matanya, pemuda itu menyadari bahwa Sooyoung sungguh-sungguh dengan ucapannya sebelum mereka berpisah tadi—bahwa mereka menjadi musuh jika bertemu lagi.

“Aku menganggapmu teman, tapi tidak untuk kali ini,” ucap Sooyoung. “Aku mengemban nama Durmstrang selama turnamen, dan aku akan menyerahkan piala ini untuk sekolahku.” Beberapa bagian pakaiannya sobek, lebih buruk daripada saat mereka melawan Boggart. Betis kanannya tampaknya terkena sengat Skrewt-Ujung-Meletup.

Dokja sendiri merasakan darah mengalir di pelipisnya yang terkena capit laba-laba. Tenaganya terkuras habis saat menghadapi makhluk itu sambil berlarian ke sana kemari menghindari rintangan.

“Maaf, Sooyoung. Aku juga terpaksa—”

Gemeresak dedaunan pagar tanaman mengalihkan perhatian mereka. Sosok jangkung dengan seragam Hogwarts melangkah ke arah mereka dengan waspada seraya mengacungkan tongkat.

“Kenapa belum ada yang mengambil pialanya?” tanya Joonghyuk Yoo. Ada kelegaan dalam kalimatnya, tetapi ekspresinya tampak tak senang mendapati kedua juara yang lain sudah lebih dulu memperebutkan piala. Tongkat holly-nya sempat bergantian mengarah pada Dokja dan Sooyoung, hingga memutuskan berhenti pada orang terakhir.

Mendengus kasar, Sooyoung bertanya retoris, “Menurutmu kenapa?”

“Baguslah kau masih hidup.” Sembari berkata demikian, ujung tongkat Dokja berpindah ke arah Joonghyuk. Ketiga tongkat sihir para juara mengarah satu sama lain. “Kita bisa saling melawan kalau begitu.”

Tidak ada yang bergerak setelah itu. Kesunyian mengapung di udara, bahkan suara monster di kejauhan tak terdengar sama sekali. Keberadaan Piala Triwizard terabaikan selama sesaat.

Lalu, bagaikan anak panah yang dilesatkan secara bersamaan, dua mantra dilepaskan di udara.

“EXPELLIARMUS!”

“STUPEFY!”

Joonghyuk Yoo berhasil melucuti tongkat Sooyoung, sementara dirinya sendiri jatuh terkapar terkena Mantra Pembeku Dokja, tak sadarkan diri.

Di sisi lain, Sooyoung melemparkan diri meraih tongkatnya yang melayang ke arah lain. Tangannya menyambar tongkatnya dan langsung melempar Pembeku ke arah Dokja—yang jongkok berlindung tanpa aba-aba. Mantranya meleset ke piala dan piala itu terlempar jauh. Menggelinding sampai berada di dekat Sphinx yang tengah melihat ke arah lain.

Jenggot Merlin! Dokja nyaris dilanda keputusasaan saat ini. Bahkan tanpa harus sekali lagi berduel dengan Sooyoung yang bersikeras menyingkirkannya agar dapat menang tanpa gangguan.

“Protego!” Dokja melindungi dirinya dari serangan Sooyoung yang bertubi-tubi. Kilatan cahayanya tidak hanya berwarna merah, tapi makin beragam. Ia bertanya-tanya seberapa banyak kutukan yang mampu dirapalkan gadis itu.

Hujan mantra itu nyaris tanpa jeda. Dokja berteriak, “Expelliarmus!” ketika Sooyoung lengah selama sepersekian sekon. Sebelah tangannya yang bebas menangkap tongkat willow di udara.

“Hei! Kembalikan padaku!”

Si pemuda belum sempat bereaksi saat Sooyoung melemparkan diri untuk kedua kalinya ke arahnya. Keduanya bertubrukan di tanah.

Dokja merentangkan lengannya jauh-jauh saat Sooyoung mencoba meraih tongkatnya. Usaha itu tidak mudah, terlebih karena kondisi mereka yang penuh luka dan kelelahan.

“Ambil kalau bis—AAAA!!!” Dokja meloloskan pekikan mengerang ketika jemari Sooyoung menarik helai-helai rambut hitamnya sekuat tenaga. Pinggangnya juga ikut ditusuk oleh sikunya. Benar kata Joonghyuk, cewek ini memang setengah sinting.

Di tengah pergulatan itu, ada sosok lain yang mencoba berdiri dengan limbung.

“Accio Piala.”

Bagaikan ditarik oleh benang tak kasatmata, Piala Triwizard melesat ke arah pemanggilnya, yang tak lain adalah Joonghyuk Yoo. Wajahnya yang diterangi cahaya dari piala tersenyum penuh kemenangan.

Dokja dan Sooyoung terpaku di tempat mereka berhenti bertarung, sama sekali tidak menyangka Joonghyuk yang lebih dulu menyentuh pialanya.

“Kau yang membangunkannya?”

Dokja menjawab tanpa menoleh. “Tidak.”

“Aku menang.” Joonghyuk bersuara lemah, mungkin efek Pembeku belum sepenuhnya hilang. Setelah merebut Piala Triwizard tanpa permisi dan mendeklarasikan kemenangannya, Joonghyuk ambruk pingsan sekali lagi.

 

Fin.

Notes:

Karena bingung pakai makhlub gaib apa buat rintangannya, aku pake kayak yang di novelnya hehe XD Thank you so much for reading <3

Series this work belongs to: