Work Text:
Menjadi teman serumah Al-Haitham itu memanglah sebuah cobaan yang berat.
Semua orang tahu bagaimana sifat Al-Haitham. Arogan, sulit diajak berkompromi, dan hanya bergantung pada rasionalitasnya. Itulah kenapa orang-orang selalu bilang kalau Al-Haitham adalah orang yang sulit untuk diajak bersosialisasi. Mau dilihat bagaimanapun juga sifatnya benar-benar berkebalikan dengan Kaveh. Kadang-kadang Kaveh bingung sendiri kenapa Al-Haitham mau-maunya mengajak dirinya untuk tinggal bersama.
Tapi ada sedikit rasa bangga di dada Kaveh. Bisa dibilang mungkin Kaveh adalah salah satu manusia yang tahu bagaimana sifat Al-Haitham dari dalam. Sebaik-baiknya si sekretaris Akademiya itu menyembunyikan emosinya, Kaveh masih bisa melihat apa yang ada di balik tembok. Seperti sekarang, mereka berdua sedang berada di ruang kerja mereka. Kaveh hendak mengambil kertas baru di dekat Al-Haitham dan percaya atau tidak, si tuan rasional itu memerah. Walaupun Cuma telinganya saja tapi Kaveh masih bisa melihatnya. Memerah! Seperti seorang anak gadis yang malu-malu.
(Mungkin anak gadis bukanlah analogi yang bagus. Kaveh jadi merinding membayangkannya).
Kaveh mencoba menghubungankan pengamatannya ini dengan pengamatannya yang lain. Akhir-akhir ini Al-Haitham jadi sering pergi keluar selain untuk urusan bekerja. Ini jelas tidak biasa. Si workaholic itu melakukan sesuatu di luar pekerjaannya. Ini tidak masuk akal!
Belum lagi ekspresi wajahnya. Sulit untuk menyadarinya, tapi Kaveh bisa melihat telinganya memerah di waktu tertentu. Awalnya Kaveh kira itu gejala demam, melihat Al-Haitham selalu melewatkan jam makannya demi pekerjaan. Tapi sepertinya suhu tubuhnya tidak panas.
(“Kau sedang apa?” “Mengecek suhu tubuhmu.” “……”)
Tidak, tidak. Dari badannya Kaveh bisa lihat kalau Al-Haitham bukan orang yang gampang sakit. (Kau sudah lihat ototnya? Sangat besar! T-Tapi Kaveh bukannya iri atau apa ya!). Walaupun sudah sering sekali dia menyepelekan waktu makannya. Salah satu kebiasaannya yang sangat membuat Kaveh kesal sendiri.
(Kenapa Kaveh kesal, dia sendiripun tidak tahu).
Kaveh tau betul ini apa. Dia sudah sering melihat ini. Dia sendiri ‘kan sempat populer di kalangan siswa akademiya. Dia sering melihat ini dari gadis-gadis yang pernah menembaknya dulu. Al-Haitham sedang naksir seseorang!
Jadi di sinilah dia, menceritakan keabnormalan roommate-nya itu kepada Tighnari. Dia sedang meminta bantuannya untuk membuat desain ornament untuk interior bangunan yang dikerjakannya. Makanya sekalian saja dia curhat pasal pemuda minim ekspresi itu.
“Jadi kau sudah sadar sekarang?”
“Hah?”
Tighnari melihatnya dengan lekat. Kaveh yang diperhatikan jadi salah tingkah. “K-Kalau yang kau maksud, aku sudah sadar dia sedang naksir seseorang, ya.”
Kaveh tidak tahu bagaimana Tighnari melakukannya, tapi pemuda itu baru saja mengeluarkan ekspresi seperti kecewa, frustasi dan putus asa dalam kurun waktu kurang dari lima detik. Luar biasa.
“Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.” Ucap Tighnari.
“Hey, Al-Haitham itu mukanya selurus penggaris, sulit membaca raut wajahnya tau!”
“Bukan itu yang aku maksud.”
“Terus?”
Demi Lesser Lord Kusanali, Tighnari paling tidak mau berurusan dengan hal seperti ini.
“Menurutmu siapa orang yang ditaksirnya?”
Hmm, orang yang ditaksirnya. Orang yang membuat Al-Haitham tertarik selain dari buku-bukunya yang bodoh itu. Pasti orang itu harus punya hobi seperti dia, orang yang selalu dekat dengannya dan pastinya harus pintar karena Al-Haitham tidak bisa mentolerir orang-orang yang memiliki IQ dibawah dirinya.
Siapa ya?
Mata Kaveh melebar. Tentu saja.
“Ibu Faruzan!”
Siapapun tolong pukul Tighnari sekarang.
“Benarkan? Makanya dia sehari-hari mukanya seperti kena konstipasi, dia berusaha menahan perasaannya karena dia suka dengan gurunya sendiri.” Kaveh bersimpati dalam hati. Mungkin Al-Haitham tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Salah langkah bisa-bisa hubungan guru-murid mereka bisa hancur. Ditambah lagi dia ‘kan bukan orang yang romantis. Dia pasti tidak memiliki usaha untuk mengungkapkan perasaaannya ke gurunya itu.
(Ada juga perasaan lain dalam hati Kaveh. Tapi, ah, dia tidak mau memikirkannya).
“Hah…kenapa kau tidak tanya sendiri ke orangnya saja?” Tighnari menghela nafas. Kalau seperti ini terus, mereka berdua hanya akan berputar-putar di siklus yang sama.
“Dia mana mau menceritakan hal seperti ini kepadaku.” Bibir Kaveh maju satu centi.
‘Cosplay jadi anemo slime lagi dia.’ Tighnari membatin. Yang satu tidak mau terus terang. Yang satunya lagi tumpul. Sudahlah, biarkan kedua kerbau ini berpikir. Dia tidak mau terlibat urusan pribadi mereka. Jadi Tighnari cepat-cepat mengganti arah pembicaraan. Mereka kembali berbicara tentang jenis flora apa yang cocok digunakan sebagai ornament dalam ruangan. Maka dari itu topik pembicaraan sebelumnya pun terlupakan begitu saja.
(Malamnya Kaveh bermimpi. Dia ada di sebuah pernikahan. Ibu Faruzan terlihat cantik dengan gaun pernikahan khas Sumeru. Semua orang menangis Bahagia. Beliau tengah berjalan menuju altar dan di sana berdiri pengantin pria. Kaveh sudah tahu siapa yang akan dia lihat tapi dia terlalu takut. Tiba-tiba, seakan terjun dari jurang, Kaveh terbangun).
(Malam itu dia tidak bisa tidur).
Hari ini dia menghabiskan waktunya di Lambad Tavern. Sudah seharian ini dia tidak pulang. Dia baru pulang Ketika pemilik Tavern mengusirnya karena dia terlalu banyak minum. Sialnya dia lupa membawa uang untuk membayar tagihannya yang sudah menggunung itu. Sambil tersenyum kikuk dia membujuk pemilik Tavern untuk memasukkan tagihannya atas nama Al-Haitham. Masa bodoh kalau dia marah. Ini gara-gara Al-Haitham dia tidak bisa tidur semalam. Kaveh juga sedang tidak mau tinggal di rumah untuk sementara, dia takut terpikir hal-hal seperti itu lagi.
(Al-Haitham menggapai tangan Ibu Faruzan. Ekspresi keduanya terlihat Bahagia. Kemudian wajah mereka mendekat dan-).
Kaveh menggeleng kuat. Ini semua salah Al-Haitham! Orang-orang di Tavern melirik Kaveh. Ups, sepertinya Kaveh sudah mulai mabuk. Dia pasti berteriak-teriak memanggil nama Al-Haitham tadi. Agh, memalukan.
Jadi dia buru-buru pergi dari sana. Dengan langkah yang sempoyongan dia berusaha membawa tubuhnya dengan sisa-sisa kesadaran yang dia miliki. Setelah hampir menabrak beberapa pejalan kaki, entah keajaiban dari mana dia sudah sampai di rumahnya. Ralat. Rumah Al-Haitham.
Mungkin Al-Haitham yang ada di dalam bisa mendengar Kaveh yang membuat keributan di luar. Kaveh yang sedang menirukan suara kucing kawin pun tiba-tiba berhenti. Kaget karena teman serumahnya itu ada di depannya. Apa cuma perasaannya atau Al-Haitham jadi lebih bongsor sekarang. Dia ingat Al-Haitham di tahun pertama akademiya. Dulu dia lumayan imut.
“Kau! Mentang-mentang punya badan bagus sekarang jadi semena-mena. Aku itu seniormu tahu! Menyebalkan!” Kaveh cegukkan.
“…menurutmu badanku bagus?”
Cih, walaupun sulit diakui tapi juniornya itu memang memiliki badan yang bagus. Terutama otot tangan dan dadanya. Apa Kaveh bisa punya badan seperti itu? Ah, tapi berolahraga membuatnya berkeringat. Tatanan rambutnya bisa berantakan nanti.
“puh…” Wow, apa al-Haitham baru saja tertawa? Bukan tawa sinis tapi benar-benar tawa tulus yang baru saja keluar dari mulutnya. Besok sepertinya matahari akan terbit di sebelah barat.
“Diam, Kaveh.” Oh, dia baru saja mengatakan itu keras-keras ya. Sial, memalukan.
Tiba-tiba kakinya melayang seperti hukum gravitasi tidak bekerja lagi. Tunggu. Bukan. Dia bukan melayang. Al-Haitham baru saja menggendongnya dengan gaya pasangan yang baru menikah. Wajahnya tiba-tiba memanas dan kali ini ia tahu itu bukan karena pengaruh alkohol. Ah, tapi Kaveh jadi teringat mimpinya. Al-Haitham menggendong bu Faruzan seperti ini. Gaunnya melayang dengan sangat indah. Mereka kelihatan cocok.
“Aku mau muntah.”
“Oi! Jangan muntah di bajuku! Argh, Kaveh goblok.”
Dengan cepat Al-Haitham membawa Kaveh ke kamar mandi. Setelah diturunkan dengan kasar (ouch!), kaveh mengeluarkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Ugh. Semoga rambutnya tidak kena muntahannya. Kaveh baru saja memakai conditioner tadi pagi.
Sebuah tangan yang memegang segelas air hangat terjulur ke arahnya. Al-Haitham yang menyodorkan segelas air itu kepadanya. Tumben sekali dia. Apa kaveh harus sakit dulu baru dia bisa hormat kepadanya? Menyebalkan.
“Kalau sudah selesai cepat tidur sa-“
“Kalau kau menikah nanti, aku harus tinggal di mana?” Tanya Kaveh tiba-tiba.
Alis Al-Haitham berkedut. “Seperti kau bisa cari rumah saja. Ujung-ujungnya kau akan tinggal di bawah jembatan.
Kaveh ingin marah, ingin memukul kepala Al-Haitham dan menarik rambutnya. Tapi karena efek mabuk dia jadi tidak punya tenaga. “A-aku tidak mau tinggal di bawah jembatan. Di sana tidak ada kamar mandi. Aku tetap mau mandi tiga kali sehari, Haitham.”
Pantas saja tagihan airnya naik. Mana mandinya lama lagi. Sialan dia.
“Apa-apa aku bisa tetap tinggal bersamamu walaupun kau sudah menikah? Aku bisa jadi err-“ Kaveh berpikir keras. “Aku bisa jadi-jadi hewan peliharanmu!”
“….” Kalau begini tingkah Kaveh setiap dia mabuk, Al-Haitham tidak akan membiarkannya mabuk sendirian di Tavern. Dia memijat pelipis.
“Sudah tidur saja sana.”
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Memang siapa yang akan menikah, hah? Kau memangnya mau dinikahi?”
“Hah?”
“Lupakan.” Seharusnya dia tidak meladeni si tukang mabuk ini.
Kaveh terisak. Mungkin karena mabuk dia jadi lebih emosional. Rasanya dia mau menangis. “Aku tahu. Kau sedang jatuh cinta kan?”
Al-Haitham bukanlah orang yang penyabar. Jadi yang dia lakukan sekarang adalah membopong Kaveh lagi seperti tadi dan dengan cepat membawanya ke kamar. Buru-buru dia membanting badan Kaveh ke kasurnya. Tidak peduli si arsitek meronta-ronta dan berteriak ditangannya.
Al-Haitham tau, cepat atau lambat Kaveh akan menyadari perasaannya. Dan dia juga tahu, dia tidak akan pernah siap ketika itu terjadi. Di saat-saat seperti ini dia berharap ia punya kemampuan berbicara seperti Kaveh. Dia terbiasa mengutarakan kalimat-kalimat sinis. Dia tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya dalam kata-kata.
Baru saja dia akan meninggalkan Kaveh di kamarnya sendiri dan berharap besok mereka bisa bertingkah seperti biasa, tiba-tiba Kaveh mengatakan hal paling tolol yang Al-Haitham pernah dengar.
“Aku tahu semuanya, Haitham. Kamu suka bu Faruzan kan?”
Hening.
Sepertinya Kaveh sudah tidak terlalu mabuk sekarang. Indikasinya dia bisa merasakan aura menyeramkan dari Al-Haitham. Kalau kaveh terintimidasi, hal yang refleks dia lakukan adalah berbicara omong kosong. Seperti ini:
“Akhir-akhir ini kau jarang ke rumah. Setiap pulang dari kerjaanmu itu kau cuma pulang sebentar lalu berangkat lagi. Malahan kau sering pulang malam larut sekali. Lalu wajah itu! Apalagi kalau bukan wajah kasmaran. Setiap aku lihat dari dekat telingamu itu memerah, tahu tidak?!”
Ah, sial. Sekarang dia kedengaran seperti istri tua yang merajuk karena suaminya akan menikah lagi. Kecuali Kaveh dan Al-Haitham bukan pasangan suami-istri. Suami-suami. Argh, apasih yang sedang dia pikirkan.
“Ya, kau memang seperti istri tua sekarang.”
“Diam Bangsat!” argh, dia tidak mau mabuk di dekat Al-Haitham lagi!
“Aku sedang mencari meja kerja.” Tiba-tiba Al-Haitham mengalihkan pembicaraan. tangannya menunjuk ke sudut ruangannya. Di sana ada meja kerja yang arsitek biasa gunakan. Semuanya sudah tersusun rapi. Oh. Manik mata Kaveh melihat meja itu dan Al-Haitham bergantian. Oh.
“Aku tidak tahu di mana tempat orang yang menjual meja seperti itu. Butuh waktu untukku mencarinya. Tapi akhirnya aku dapat juga.”
Al-Haitham hanya memiliki satu meja di rumah. Sering kali mereka berebut untuk menggunakanya. Setiap kali Kaveh dipaksa untuk mengalah, dia terpaksa mengerjakan sketsanya di lantai. Lalu dia akan menggerutu dan mengeluh.
Tenggorokan Kaveh terasa tercekat. Rasanya dia mau menangis lagi tapi dia tetap memaksakan untuk berbicara, “Terimakasih, kalau project-ku sudah selesai akan aku ganti uangnya.”
Alis Al-Haitham naik satu. “Paling akhirnya kau belikan aksesoris atau baju lagi.”
“Y-ya, setidaknya ‘kan aku aku cocok memakainya!”
Mereka berdua terdiam. Mata mereka saling bertatapan. Kaveh baru sadar kedua tangan Al-Haitham dari tadi memerangkap kepalanya. Menahan tangannya di masing-masing sisi. Keheningan ini tidak canggung. Justru sebaliknya, Kaveh merasa nyaman. Perasaan takutnya yang seharian dia rasakan menguap begitu saja.
Mungkin Kaveh masih mabuk tapi dia bersumpah dia melihat senyuman di wajah sekretaris Akademiya itu.
“Tidur Kaveh.” Dan Kaveh pun tertidur. Tidur paling nyenyak yang pernah Kaveh alami.
=Fin=
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Extra:
“Umm…aku tidak bicara yang aneh-aneh ‘kan saat aku mabuk?”
Al-Haitham membalik lembaran bukunya. “Kau bilang kau mau jadi hewan peliharaanku.”
Oh, tidak.
“Mulai sekarang-“
“diam!”
“-kau panggil aku master.”
“Argh!” Pokoknya dia tidak mau mabuk di dekat Al-Haitham lagi!
(Kaveh belum tahu kalau dia hanya dibolehkan untuk mabuk di depan Al-Haitham saja).
=Fin=
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Extra(2):
Kaveh mungkin tidak menyadarinya tapi setiap dia membungkuk, kemeja berkerah rendahnya selalu tersingkap dan menampilkan sesuatu. Al-Haitham punya kondisi mata yang sehat jadi tentu saja dia melihatnya. Ekspresinya mungkin biasa saja tapi dia tidak bisa menyangkal kalau wajahnya memanas.
("...pink." "Apa?" "Tidak apa-apa, sana jauh-jauh, mukamu jelek." "adnkasfnk!!!")
Al-Haitham tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tidak sama sekali.
("Kenapa barang-barang jadi ada di bawah sih?! nih, inikan biasanya ada di sini! aku cape membungkuk terus!" ".....").
=Fin(lagi)=
