Chapter Text
Yoshida tak akan pernah menyangka, jika misi menyebalkannya malam itu ternyata membawa pada sesuatu yang menghidupkan dalam dirinya.
Omeganya, Denji,
Mereka bertemu.
Pertemuan itu dimulai dari malam yang penuh dengan gelegar hujan guntur petir, sedangkan Yoshida masih berpacu dengan nafasnya untuk mengalahkan devil yang dia temui saat sedang menjalankan misi. Sebuah misi dimana dia ditugaskan menjemput seseorang, di sebuah hutan pinggiran kota. Sepanjang matanya berlari, dia tidak menemukan secuil kehidupan yang dikatakan oleh ayahnya, Kishibe, ketua organisasi tempat dia berada saat ini. Sejujurnya ini tugas yang gampang, karena itulah dia agak kesal, hunter kelas atas seperti dia, dalam cuaca buruk seperti ini, justru ditugaskan melakukan tugas sepele seperti menjemput seseorang.
Setelah mengalahkan devil yang ada, hampir satu jam dia berjalan mengelilingi sekitar hutan. Hingga akhirnya, dia menemukan sebuah gubuk rongsok, yang mungkin sudah ditinggalkan oleh pemiliknya bertahun-tahun. Sebagian atapnya menganga, bahkan mungkin bolong, dindingnya ada yang peyot. Yoshida tidak berpikir kalau itu adalah tempat tinggal. Jadi dia masuk begitu saja, dari luar tempat itu terlihat mengerikan, tapi saat dia memasuki dalamnya, sungguh menghancurkan hati. Ada banyak barang bekas didalamnya, lumut dimana-mana dan bocor dimana-mana, –dan seorang remaja yang tengah memeluk seekor devil kecil dalam tidurnya. Tempat buruk seperti ini, ada peninggalnya? Begitu batin Yoshida dengan perasaan penuh sanksi.
‘Mate’
Yoshida berkedip. Ia tau suara siapa itu, itu suara devilnya.
‘Mate’
Yoshida berdesir mendengar ucapan dari devilnya, mana mungkinkan matenya berasal dari seorang gelandangan seperti itu.
‘Our’
Yoshida menarik nafasnya sejenak, dan mendekati remaja yang sedang tidur itu.
‘Mate mate mate’
“Brisik.” Ucap Yoshida kesal, dan sepertinya itu membangunkan si remaja yang tengah tertidur begitupula anjing devilnya.
“Grrrhh woogh”
“Ummmh siapa?”
Ahh sungguh bau yang tidak sedap. Andai Yoshida bukan seorang hunter yang sudah melalangbuana dengan berbagai macam kotornya dunia, mungkin dia sudah muntah ditempat. Terlihat sekali bahwa remaja itu sangat tidak terurus, bahkan Yoshida meragukan tempat itu memiliki irigasi dan toilet yang baik. Devilnya begitu berisik daritadi. Jika dia benar adalah matenya, maka Yoshida mengerti kini kenapa ayahya menyuruh dia sendiri yang langsung menjemput. Entah maksud dibelakang ayahnya apa, tapi Yoshida-lah yang akan dianggap penyelamat oleh omega tersebut sebagai impressi yang baik.
“Penjemput, seseorang meminta ku untuk menjemput mu.”
“Apakah kau bagian dari Yakuza xxxx.”
“Tidak.” Yoshida berdiri. “Cepatlah ikut aku, kita akan membersihkan dirimu terlebih dahulu.”
“Ahh baik.”
Pasrah sekali, anak ini mudah diculik. Yoshida jadi kepikiran bagaimana dengan kehidupan remaja itu selama ini. Hmm memanggilnya itu sangat tidak enak, jadi Yoshida bertanya.
“Siapa namamu?”
“Denji.”
“Yoshida.”
“Ikuti aku.”
Mereka berjalan diam-diaman, Yoshida sedang berperang dengan devilnya tentang Denji yang matenya, dan Denji yang berpikir akan dibawa kemana dia dan kenapa dia merasakan perasaan familiar yang sangat kuat pada orang didepannya, tapi juga asing disaat bersamaan, Denji tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan itu.
Sampai di mobil Denji dan Pochita duduk dibelakang, tanpa sengaja perut Denji berbunyi.
“Kau lapar?”
“Tidak.”
“Suara sebesar itu, bagaimana kau bilang kau tidak lapar?”
“Aku tidak punya uang untuk membayar.”
“Aku yang akan membayar.”
‘Makan, Manjakan dia.’
Ck, tanpa kau suruh pun aku akan memberikan dia makan.
“Taiyaki oke?”
“Taiyaki?”
Wajah Denji terlihat bingung, seolah-olah dia baru pertama mendengar itu. Hanya saja Yoshida menepis insting yang mengatakan itu.
“Hanya itu yang buka malam seperti ini. Kita akan membeli itu.”
Mereka pun berhenti di pedagang kaki lima, Yoshida membeli tiga taiyaki, satu untuknya dan yang lainnnya untuk Denji beserta devilnya.
“Kenapa hanya ditatap?” Tanya Yoshida, saat Denji hanya diam menatap makanannya.
“Tidak apa.” Denji menggeleng, dan balas menatap Yoshida. Ia tersenyum, hingga gigi rapinya yang seperti hiu itu terlihat. “Terima kasih tuan yang baik.”
Aku hanya memberikan mu makanan, dan kau langsung menganggap ku orang yang baik? Sudut hati Yoshida tersentuh, apakah Denji selama ini menganggap semua orang yang memberinya makan adalah orang baik? Tidak kah dia tau betapa mengerikannya manusia-manusia di dunia ini, bahkan termasuk dirinya? Dengan pemikiran seperti itu, sungguh suatu keajaiban anak itu masih selamat hingga sekarang, bahkan dengan statusnya yang seorang omega? Hmph memang siapa yang ingin mengambil omega gelandangan seperti itu? Ya, itu ayah ku.
Sehabis makan taiyaki, mereka melanjutkan perjalanan, hingga sampai dikediaman Yoshida, yang juga kediaman Kishibe. Ketika memasuki kediamannya Yoshida mendengus tertawa melihat Denji yang terperangah dan berbinar melihat rumahnya.
“Senang dengan apa yang kau lihat?”
“Ya...” Denji sedikit tidak nyaman dengan reaksi Yoshida, dia tau Alpha itu meremehkannya. “Rumah mu bagus, tidak ada bocor didalamnya.”
“Hmmm.” Yoshida menyadari reaksi dia tadi sedikit keterlaluan dan membuatnya memilih untuk diam kali ini, sembari mengabaikan keberisikan devilnya yang terus mengatakan dia jahat dan tak sopan terhadap mate mereka. Ia membawa Denji kekamarnya, dan menyuruh omega itu untuk mandi. Di depan kamar mandi Denji langsung melepas seluruh pakaiannya, dan itu sangat menganggu Yoshida. Apa anak ini tidak mengerti apapun tentang alpha omega? Bisa-bisanya dia begitu saja melepaskan pakaiannya dihadapan ku.
“Kau tau caranya mandi kan?”
Mendengar itu Denji langsung berbalik, dan disitulah Yoshida akhirnya bisa melihat, sebuah simbol segitiga terbalik di dada Denji, persis seperti miliknya.
“Tuan, aku ini memang miskin, tapi aku tau caranya mandi, hmpph.”
Crak
Denji langsung memasuki kamar mandi setelahnya bersama Pochita, mengabaikan Yoshida yang terdiam melihatnya, dan melewatkan bagaimana pemuda surai hitam itu seketika memalingkan wajah dengan tangan menutupi setengahnya.
“Ahh sial sekali punya mate sebodoh ini.” Gumam Yoshida.
‘Dia tidak bodoh, jalan hidup dia saja yang berbeda.’
Sembari bergelut dengan devilnya, Yoshida diam dikasurnya, menunggui Denji selesai mandi.
“Tuan.”
Yoshida menoleh, dan disitu dia melihat. Bagaimana jauh lebih baiknya Denji, wajahnya terlihat lebih bersih dan cerah, dan tubuhnya menguar wangi Yoshida, tidak itu wangi sabun mandinya, namun Yoshida menganggap itu wangi dirinya. Tanpa eyepatchnya, wajah Denji terlihat cukup manis, tidak sangat manis dengan pipi bulatnya. Dari momen itulah, Yoshida mulai mempertimbangkan apakah Denji beneran pantas jadi matenya atau bukan.
“Ekhm, jangan memanggil ku tuan, panggil saja Yoshida.”
“Umm apakah benar tidak apa?”
“Ya.” Yoshida melempar pakaian kepada Denji. “Pakai.”
Setelah Denji menggunakan pakaiannya, dia bertanya kepada Yoshida apa alasan dia dibawa kemari. Yoshida menjelaskan.
“Ayah ku hanya memerintah ku untuk menjemput mu, aku pun tidak tau apa alasan dia. Untuk itu kita harus menunggu hingga dia datang.”
“Umm lalu? Gunanya aku disini sekarang apa?”
‘Become our mate!!’
“Kau akan tinggal disini hingga ayah ku datang.”
“Ahh baik?”
Mulai dari hari itu, Denji mulai tinggal bersama Yoshida, tidak banyak yang anak itu lakukan selain hanya duduk didepan ruang tv, ataupun kadang bermain bersama Pochita dihalaman rumah atau dikamarnya. Sedangkan Yoshida, sibuk menata perasaannya, banyak sekali hal yang dia temukan tentang Denji yang mampu membuat hatinya tersentuh, seperti hari ini.
“Kenapa kau menangis?”
“Aku hanya tidak percaya, kalau seminggu aku bisa merasakan kehidupan normal.” Denji mengusap air matanya.
“Memang kehidupan seperti apa yang kau anggap normal?”
Denji menunjukan tiga jari. “Tiga kali sehari.” Mengusap air matanya. “Makan tiga kali sehari adalah impian ku untuk hidup normal. Terimakasih tuan sudah membantu ku untuk merasakannya.”
“Panggil Yoshida.”
Hari lainnya, mereka jalan-jalan keluar, dan kembali memakan taiyaki. Mata Denji begitu berbinar melihatnya. Sudut hati Yoshida pun ikut senang melihat itu.
“Taiyaki, kau dulu sempat bertanya, memang kau tidak tau apa itu taiyaki?”
Denji menggeleng. “Karena terlalu miskin, aku bahkan terkadang hanya memakan tepung yang dicampur air.”
Yoshida terdiam, diam-diam dalam hatinya dia bertekad untuk memberikan Denji makanan apapun yang enak.
Hari lainnya lagi, Denji dan buku, anak itu begitu senang ketika Yoshida membawanya ke toko buku, dan ketika Yoshida memintanya untuk memilih buku yang dia mau. Yoshida terkenjut karena Denji memilih buku untuk ukuran anak tk dan sd.
“Kenapa kau memilih buku itu?”
Agak malu, Denji menarik bukunya kebelakang. “Kau tau....ayah ku tak pernah menyekolahkan ku...jadi aku ingin setidaknya sedikit belajar membaca.”
Sepulangnya dari situ, dan hari-hari setelahnya, Yoshida bertekad untuk mengajari Denji secara langung.
Hingga tibalah waktunya kedatangan ayahnya, Kishibe, mereka bertiga berkumpul diruang tamu. Denji duduk disamping Kishibe atas permintaan pria tua itu.
“Tuan...apa alasan tuan membawa ku kesini?” – Tanya Denji ragu-ragu.
“Paman, panggil aku paman.” Kishibe mengusap kepala Denji dan menatap anak itu dengan lembut.
“Ya, pa...man?”
“Aku mengenal ibu mu.”
“Paman mengenal ibuku? Aku bahkan tidak mengenalinya.” Ucap polos Denji. Yang dibalas senyuman kecil oleh Kishibe.
“Dia orang yang baik dan teman ku, aku baru tau dia memiliki anak seperti mu, karena itulah aku meminta Yoshida untuk menjemput mu.”
Wajah Denji terpatri rasa bingung, dia tidak tau harus berkata apa. Karena selama ini dia hidup tanpa ibunya, dan hidup dibawah naungan ayah bejatnya.
“Sekarang paman sudah bertemu aku, apakah aku akan kembali ke rumah ku sebelumnya?”
Mendengar itu, sudut hati Yoshida dan devilnya berkata tak rela.
“Haha tentu saja tidak.” Kishibe menarik Denji agar mendekat, Yoshida yang melihat itu sedikit tak suka. Ada rasa posesif dari dirinya yang melihat Denji sedekat itu dan setenang itu dengan ayahnya. Yang bahkan kepada dia sendiri hampir tak pernah karena Denji masih ragu untuk terbuka padanya. “Kau akan tinggal disini.”
“Apakah aku akan dipekerjakan?”
Raut muka Kishibe terlihat sedikit serius. “Tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu.”
“Karena tuan Yakuza bilang tak ada yang gratis di dunia ini.”
“Ohh selama ini kau bekerja untuk Yakuza?” Denji mengangguk. “Dengan apa mereka membayar mu?”
“Macam-macam tergantung kebutuhan ku saat itu.”
“Begitu.” Kishibe menepuk Denji. “Denji....mulai sekarang kau akan tinggal disini, bukan sebagai pekerja, tapi sebagai bagian dari keluarga ini. Kau tidak perlu melakukan apapun, cukup lakukan hal yang kau inginkan, aku dan Yoshida yang akan memenuhinya.”
Denji langsung menangis mendengarnya. Terharu, selama ini hidup sulitnya tak pernah dia anggap beban, namun yang kali ini benar-benar mengenai hatinya. Tak pernah ada orang sebaik ini dengan dirinya, bahkan sekalipun ayahnya sendiri. Dia seketika merasa takut.
Yoshida yang melihat itupun ingin merangkul Denji juga, namun mengingat sudah ada ayahnya jadi dia menahan diri. Padahal dirinya adalah alphanya Denji. Tunggu dia bilang alphanya Denji? Haha yah mungkin sudah saatnya dia juga menerima itu, jika dia ingin menerima Denji disini.
“Paman apakah aku pantas?” Ucap Denji disela tangisnya.
“Pantas.” – Yoshida.
“Ya.” – Kishibe.
Kishibe melirik Yoshida, kemudian tersenyum. Seolah tau apa yang terjadi dengan anaknya yang dingin itu. Sedangkan Yoshida hanya mendecih melihat senyum Kishibe. Namun, tak berapa lama mereka mencium sesuatu yang wangi. Seorang omega tengah memasuki heatnya, dan omega itu Denji.
“Maaf sepertinya penyakit suka sakit tiba-tiba ku muncul lagi.”
Yoshida dan Kishibe saling berpandangan, mencurigai sesuatu. Yoshida berdiri dan meminta Denji agar dia yang membawanya ke kamarnya.
“Denji aku akan membawa mu ke kamar mu dulu.”
“Aku akan memanggil Kurose.”
“Maaf jika bau ku terlalu menganggu.”
“Tidak, Denji, bukan karena itu, kau harus segera beristirahat kalau memang sakit, ayah sedang memanggil Kurose, dia adalah dokter pribadi keluarga ku.”
“Ung oke.”
Denji di gendong bridal style, menyebunyikan wajahnya diantara ceruk Yoshida.
“Yoshida.”
“Hmmm?”
“Bau badan mu enak. Tidak seperti ayah ku, tidak seperti para Yakuza itu. Bau mu membuat sakit ku terasa lebih tenang.”
Hati Yoshida kembali berdesir, Denji bilang baunya enak, omeganya menyukai baunya. Dan yang lebih menggugah perasaan Yoshida, Denji bilang baunya mampu membuat Denji merasa tenang. Jiwa alpha Yoshida bersorak senang mendengarnya.
Sesampainya mereka di kamar Denji, disitu sudah ada Kishibe dan Kurose yang menunggu. Setelah membaringkan Denji, Kurose mulai memeriksa anak itu.
“Denji, kenapa kau bilang ini penyakit suka sakit tiba-tiba?” – Kurose.
“Eumh karena ya memang sakitnya datangnya tak menentu.”
“Apa kau tau konsep gender?”
“Apa itu?”
“Apa kau tau alpha omega?”
“Ya aku tau itu.”
“Darimana kau tau?”
“Dari ayah ku, dia selalu menyumpahi aku omega sialan, dan kenapa aku tidak terlahir sebagai alpha.”
Kurose tersenyum kecil. Sedangkan Yoshida dan Kishibe menyumpahi ayah Denji.
“Apa kau tau apa itu heat dan rut?”
Denji menggeleng. Kurose masih mempertahankan senyumnya.
“Baik, terus saat kau sakit seperti ini, apa yang kau lakukan biasanya?”
“Itu...maaf ini agak kekanak-kanakan, tapi aku biasanya minum susu yang diberikan Om Om Yakuza.”
Senyum Kurose menghilang, jika sebuah susu mampu mengurangi heat seorang omega, maka itu bukan susu biasa, pasti ada campuran spermanya, mengingat cara lain menekan heat selain obat adalah mengkonsumsi sperma seorang alpha, dan mengingat mereka seorang Yakuza, maka hal bejat seperti itu bukan tak mungkin mereka lakukan. Yang mereka tidak tau, apakah itu pure campuran susu, atau ‘susu’ sebagaimana bentuknya.
Suasana mereka bertiga mendingin. Denji pun ikut merasakan itu.
“Maaf apa ada yang salah?”
“Tidak Denji, kita hanya terkejut kau sudah sebesar ini ternyata masih minum susu. Haha.”
“Oh ya, selama ayah hidup juga terkadang saat aku sakit dia menyuruh ku untuk mengurut hmmm maaf kelaminnya?”
MARAH
Itulah yang ada dalam emosi mereka bertiga saat mendengar itu. Tapi mereka masih menahan diri karena Denji yang tidak tau apa apa bukan salah dia.
“Kalau begitu pertanyaan terakhir. Ada apa dengan mata mu yang sebelah kanan?”
“Oh ini, karena terlalu miskin, terkadang aku menjual organ ku, hmm sejauh ini baru satu mata, satu ginjal, dan umm satu testikel ku.”
Mereka bertiga terdiam hati mereka terenyuh, testikel? Batin mereka bersamaan.
“Ohh, yaudah kalau begitu cukup sampai disini saja. Nanti kau minum ini ya, namanya supressant, obat untuk menekan sakit mu saat ini nanti diminum ya.” Kurose menaruh beberapa obat disamping kasur Denji. “Nah apa itu supressan, nanti kau minta saja Yoshida yang menjelaskan oke.”
Kurose terlebih dahulu menatap Kishibe dan Yoshida, melihat kedua orang itu mengangguk, Kurose mengerti.
“Untuk terakhir, aku suntik terlebih dahulu ya biar sakitnya berkurang.”
Kurose menyuntik Denji, namun sebenarnya itu adalah obat tidur. Dia tau apa yang akan terjadi selanjutnya dikediaman ini, dan dia tak bisa membiarkan pasiennya terbangun begitu saja.
Setelahnya mereka bertiga keluar untuk mendinginkan kepala. Yoshida dan Kishibe setuju untuk segera melakukan perburuan. Dan malam ini, kediaman itu ramai oleh para penjagal dan objek jagal mereka.
Malam itu, ketika Denji tertidur. Yoshida masuk diam-diam ke dalam kamarnya dan mengamati Denji. “Kau tidak bodoh.....tapi akulah yang bodoh.” Yoshida menepuk wajahnya dengan penuh penyesalan. Malam itu dia berpikir, andai dia bisa bertemu Denji lebih cepat, mungkin hidup Denji akan jauh lebih baik, harapnya.
Kejadian malam itu benar-benar meninggalkan jejak yang besar dalam diri Yoshida, tekadnya bulat, dia mengakui Denji sebagai omeganya, tidak ada seorang pun yang bisa melindungi Denji dan mengklaim anak itu selain dirinya, tidak ada seorang pun yang bisa mengelabui dan menjahati anak itu. Yoshida tak akan membiarkan itu terjadi lagi, dan dia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa dia akan selalu berusaha membuat Denji bahagia. Seluruh dunia mungkin tidak pantas untuk Denji, tapi seluruh kebahagiaan yang ada di dunia pantas untuk Denji dapatkan.
Itulah janji Yoshida kepada dirinya sejak malam itu.
