Chapter Text
Park Jimin adalah seorang self-proclaimed weeb, alias otaku.
Sejak kecil Jimin memang sudah memiliki ketertarikan yang bisa dibilang cukup berlebih pada anime dan manga. Awalnya kegiatan menonton anime dan membaca manga dilakukannya untuk sekadar mengisi waktu luang sepulang sekolah atau di akhir pekan saja. Namun sebagai anak tunggal yang hampir selalu ditinggal sendirian di rumah karena tuntutan pekerjaan kedua orang tua, Jimin lalu menyadari bahwa anime dan manga sukses membuatnya terhindar dari rasa sepi.
Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi semacam obsesi. Uang jajan bulanan dari orang tua akan selalu Jimin gunakan untuk membeli manga yang diterbitkan secara resmi. Tak jarang sebagian dana juga ia sisihkan untuk membeli action figure karakter anime yang ia gemari, guna melengkapi koleksi yang terus bertambah. Jimin bahkan memiliki sebuah ruangan khusus untuk memajang rangkaian koleksinya tersebut.
Makanya tak heran kalau obsesi Jimin ini, secara langsung dan tak langsung, mempengaruhi pola pikir serta preferensinya ketika beranjak dewasa. Pola pikir dan preferensi yang terus ia bawa bahkan sampai ke bangku kuliah.
“Shinichi nih, bener-bener paket komplit deh,” Jimin bergumam kecil, sembari membalik halaman manga Detective Conan volume 102 yang baru saja dibelinya. “His intelligence and emotional quotient are perfectly balanced.”
“Gue kok lebih suka sama si Kaito ya? Auranya dia alluring gitu soalnya.”
Jimin pun menoleh ke arah asal suara bariton yang sudah terlewat akrab di telinga. Suara bariton yang tak pernah absen menemaninya berdiskusi soal anime dan manga, sejak ia dan sang pemilik suara duduk di bangku SMA. “Kaito menarik banget sih, Tae. Tapi sifat liciknya dia bisa bikin trust issue gue makin menjadi.”
Kim Taehyung terlihat hanya menanggapi sanggahan Jimin dengan anggukan kecil. Fokusnya tidak berpindah sedikit pun dari layar ponsel, sembari memainkan kedua ibu jarinya untuk membalas tweet dari warganet yang menggelitik. “Mendingan mana sama Heiji si sumbu pendek?”
“Wah, pilihan sulit,” jawab Jimin, sebelum kembali memusatkan perhatian pada manga yang ada di tangannya. “Heiji tuh sebenarnya nggak kalah oke kok. Pinter, atletis, orangnya juga lawak banget. Sayang aja kelewat impulsif sama masih sering kepancing emosi. Kadang pengen gue toyor kalau dia suka seenaknya sendiri.”
“Kayak siapa tuh coba?”
“Siapa?”
Taehyung mendengus, “Siapa lagi kalau bukan babang ganteng kesayangan lo.”
Jimin melirik lelaki di sampingnya dengan tatapan menyelidik, lengkap dengan sebelah alis yang terangkat naik. “Babang ganteng siapa deh?”
Kali ini Taehyung balas menatap Jimin sesaat, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan basket Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) yang ada di hadapan mereka. “Tuh,” jawab Taehyung acuh, sambil menggunakan ujung dagunya untuk menunjuk ke arah seseorang di sana.
Mata Jimin memicing sebelum mengikuti arah pandangan Taehyung. Terlihat beberapa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Basket tengah asik bermain three on three. Lalu seakan merasa sedang diperhatikan, salah satu dari mereka tiba-tiba menoleh ke arah di mana Jimin dan Taehyung duduk. Betapa terkejutnya Jimin ketika mendapati seorang Jeon Jeongguk tengah melayangkan sebuah senyuman tengil yang mengejek kepadanya.
“Dih, si bangke?!” Jimin memekik jengkel. Ia pun melototi musuh bebuyutannya itu selama beberapa saat, sebelum kemudian memberi tatapan tidak terima pada sang sahabat. “Babang ganteng tuh maksudnya dia? Amit-amit, Tae! Ewh, najis!”
Taehyung tertawa terbahak mendengar celotehan Jimin. Gelak tawa yang jujur saja menurut Jimin tergolong berlebihan. Apanya yang lucu sih? Satu kampus juga tahu bahwasanya Jimin dan Jeongguk itu ibarat Tom & Jerry. Kalau keduanya berada di satu tempat yang sama, pasti akan ada saja kericuhan yang terjadi.
“Lo sama Jeongguk nggak bisa apa, kalau sehari aja nggak ribut?” Taehyung bertanya dengan nada menggoda, sesaat setelah tawanya selesai. “Don’t get me wrong, though. I mean, it’s hilariously entertaining and all. Tapi apa kalian nggak capek? It’s been, what? Two years? Gue yang cuma jadi penonton aja capek.”
“Ya lo bilangin tuh orangnya supaya berhenti cari masalah sama gue.”
“Dia dendam kesumat ya sama lo?”
“Nggak tau! Iya kali? Lagian kan harusnya yang dendam tuh gue, bukan dia,” sanggah Jimin dengan nada berapi-api. “Siapa coba yang ngerusakin dan jatuhin gacha Aomine Daiki versi Teiko gue ke selokan? Dia! Tapi terus siapa yang abis kejadian itu malah jadi suka mancing cari masalah mulu? Ya dia juga!”
“Salah lo juga bukan sih, main langsung nge-gas dia gitu aja di tengah kantin?”
“Lo tau sendiri gimana perjuangan gue buat dapetin tuh gacha kan, Tae? Si bangke bukannya tanggung jawab, malah cuma diam dan bengong doang pas gue nekat masuk selokan buat ambil gacha-nya. Sama sekali nggak ada bantuin gue sedikit pun.”
“Tapi at least dia minta maaf kan?”
“Apaan, minta maafnya juga cuma formalitas gitu,” jawab Jimin tidak terima. “Padahal kalau bukan gara-gara dia yang narik tas gue pas didorong temannya, gacha Aomine yang gue gantung di tas pasti nggak bakalan rusak.”
“Berarti lo ngeh dong, kalau itu bukan salah Jeongguk sepenuhnya?”
“Ya ngeh, tapi gue nggak terima sama komen dia yang ngatain Aomine! Masa katanya dia lebih jago main basket daripada Aomine? Terus pas gue bilang kalau Aomine lebih hebat, si bangke malah ngatain Aomine mahluk ghaib yang sekali ditiup angin langsung letoy! Wajar dong kalau gue semprot dia di tempat?”
"Masuk akal sih," kata Taehyung menimpali. "Tapi kan Aomine memang manusia gepeng dua dimensi, Min?"
"Itu betul. Tapi coba gini deh, gue balikin. Gimana reaksi lo kalau misalnya ada orang sotoy yang out of nowhere ngatain Itachi? Padahal dia bahkan nggak ngikutin Naruto sama sekali."
"Siapa orangnya? Ngerti apa dia soal pengorbanan Itachi? Perlu gue bikin makalah lima puluh lembar buat jelasin kenapa Itachi adalah best big brother in the whole animanga universe? Iya?"
"Ralat. Itachi DAN Ace adalah best big brothers in the whole animanga universe," sanggah Jimin. "But you get the point kan, Tae?"
Taehyung lalu menghela napasnya lelah. Ekspresi wajahnya terlihat malas untuk melanjutkan percakapan yang entah bagaimana sangat menguras energi ini. Bagus, pikir Jimin. Karena ia sendiri pun enggan bila harus membahas permasalahannya dengan Jeon Jeongguk.
Oke, Jimin akui mungkin memang benar reaksinya waktu itu agak sedikit kekanak-kanakan dan cenderung berlebihan. Tapi siapa sih yang tidak akan bersikap berlebihan kalau sudah menyangkut barang koleksi kesayangannya? Apalagi gacha Aomine versi Teiko tergolong langka dan cukup sulit untuk didapatkan.
Lagi pula, Jimin memang tidak pernah mencari gara-gara sama sekali dengan Jeongguk setelah inisiden di kantin waktu itu. Namun entah bagaimana, lelaki itu seakan tak pernah gagal menyulut api amarahnya dalam hitungan detik. Mulai dari ekspresi tengil pada wajahnya yang selalu saja memberi Jimin senyuman mengejek, seperti tadi misalnya. Perilaku isengnya yang menurut Jimin cenderung menjurus seperti tukang bully. Hingga kata-katanya yang tak jarang juga mampu menyentil kewarasan Jimin.
Apa yang melatarbelakangi perseteruan keduanya kini sudah tak relevan lagi. Yang Jimin tahu, Jeon Jeongguk memiliki misi untuk membuat hari-harinya berantakan. Dan Park Jimin pun dengan senang hati akan selalu membalas melakukan hal yang sama.
“Tapi kalau diperhatiin ya, Jeongguk sama Aomine tuh sebenarnya lumayan punya banyak kesamaan tau,” kata Taehyung memecah hening setelah beberapa saat.
Pernyataan Taehyung sontak membuat Jimin menggerutu sambil memutar bola matanya malas. Ia lalu menutup manga yang sedang dibacanya dengan kasar, sebelum memasukkan benda itu ke dalam ransel. Mood membacanya lenyap dalam seketika. “Banyak kesamaan apa sih? Orang cuma sama-sama jadi ace tim basket doang.”
Kali ini gantian Taehyung yang melirik Jimin dengan tatapan menyelidik. “Nggak mungkin lo nggak sadar. Jelas-jelas buktinya terpampang nyata di depan mata lo. Jadi wibu nggak bikin lo buta kan, Min? Ingat, boleh nge-halu asal jangan kebablasan."
"Sesama wibu kok ngatain?"
"Tapi kan lo memang beneran wibu halu," bantah Taehyung.
"As if you're not?"
"Ya gue juga wibu halu sih, tapi seenggaknya kedua mata gue masih bisa berfungsi dengan baik. Buktinya gue ngeh kesamaan Jeongguk sama Aomine."
Jimin menghela napasnya gusar. “Gue nggak paham arah omongan lo, Tae. Ini kita lagi ngomongin Jeon Jeongguk kan? Kok bisa sih lo samain dia sama Aomine?”
“Oke, coba sekarang lo sebutin alasan apa aja yang bikin lo suka sama Aomine Daiki.”
Secercah senyum kecil terlihat menghiasi wajah Jimin. “That’s easy! Aomine tuh tipe orang yang walk the talk. Dia memang tengil suka ngeremehin orang lain, tapi dia punya skill yang mumpuni buat buktiin omongannya itu. Bukan cuma asal ngebual aja. Lagian kalau memang orangnya deserving, Aomine bakalan kasih respect kok. Terus dia juga aslinya kan care sama temannya. Walaupun kalau di publik kelihatan kayak nggak peduli, tapi di balik layar dia bakal support dengan cara dia sendiri. Kayak waktu ke Kuroko sama Kise. He was so cool yet badly misunderstood.”
Sebelah alis Taehyung terlihat terangkat naik ketika menanggapi celotehan Jimin. “Bukannya Jeongguk juga gitu ya?”
“Nggak dong,” bantah Jimin tidak terima. “Aomine kan tengilnya cuma seputar basket aja. Kalau Jeongguk resenya udah nggak ketolong.”
“Ya Aomine kan karakter dari manga basket. Pasti concern yang dibahas di hidupnya cuma sekitaran soal basket doang. Kalau Jeongguk kan sosok nyata, Min. Basket tuh cuma seperseskian persen dari hidupnya.”
“I know right? Kan tadi lo yang sama-samain mereka berdua!”
“Soalnya karakter mereka memang lumayan mirip. Jeongguk juga tengil tapi dia bukan cuma asal ngebual aja. He can walk the talk as well. Dia juga nunjukin care sama teman-teman dekatnya nggak terang-terangan. Lo tau kan kalau lagi nongkrong di bar sama gengnya, Jeongguk pasti selalu jadi orang yang paling sober? Alasannya simply supaya dia bisa jadi the responsible one buat nyetir dan nganterin teman-temannya balik. Tapi sekampus mikirnya dia begitu supaya gampang kalau mau bungkus orang buat dibawa pulang. Cool, right? But he’s also badly misunderstood. Mirip siapa coba?”
Jimin terdiam seribu bahasa. Otaknya berusaha mencerna dengan saksama penjelasan Taehyung. Logika Jimin berkata, bahwasanya apa yang dikatakan sahabatnya itu ada benarnya. Perilaku Aomine juga sering disalahartikan oleh orang lain. Namun hati kecil Jimin seakan enggan mengakui bahwa lelaki idamannya itu memiliki sedikit banyak kesamaan dengan musuh bebuyutannya. Ia pun menghela napas, "Oke, terus kalau karakter mereka berdua mirip, memangnya kenapa?”
“Ya nggak apa-apa,” kekeh Taehyung. “Gue cuma mau point out aja, kalau sebenarnya semua alasan yang bikin lo suka sama Aomine tuh applicable juga di Jeongguk.”
“Maksudnya?”
“Maksud gue, ya sebenarnya possible banget kalau misalnya lo suka sama Jeongguk. The potential is there. Coba aja kalau tragedi di kantin waktu itu nggak kejadian. Pasti lo bakalan heboh tiap liat Jeongguk lagi main basket.”
“Hah? Lo mabok ya, Tae?"
Gelak tawa Taehyung kembali terdengar memeriahkan suasana di pinggir lapangan basket pada sore hari itu. Gelak tawa yang sampai-sampai membuat objek obrolan mereka menoleh lagi. Jimin pun kemudian mendapati dirinya kembali beradu tatap dengan Jeon Jeongguk. Jimin tak tahu ekspresi seperti apa yang saat ini sedang menghiasi wajahnya. Namun satu hal yang pasti; Jimin tak suka melihat ekspresi tengil pada wajah Jeongguk yang saat ini sedang menatapnya.
“Cieeeh, udah saling adu tatap aja nih,” goda Taehyung, sesaat setelah selesai tertawa.
Jimin dengan sigap langsung melayangkan tatapan sinis kepada sang sahabat. “Apa deh? Ngelantur banget lo dari tadi!”
“Hahaha, kok lo sewot sih, Min? Kalau memang nggak suka, ya udah. Biasa aja dong.”
“Gimana bisa biasa aja, kalau orangnya sampai ngeliatin gitu gara-gara ketawa lo yang super berisik. Pasti anak orang nyadar tuh kalau lagi diomongin.”
Taehyung kembali terkekeh, “Muka lo sampai merah gitu, gimana dia nggak nyadar.”
Sungguh bukan cuma satu-dua kali saja Jimin mempertanyakan mengapa dirinya bisa bersahabat dengan seorang Kim Taehyung. “Udahan ah, Tae. Males gue bahas topik nggak penting begini. Lagian kan gue nggak suka sama Jeongguk. Oke, gue akuin mungkin dia memang punya beberapa kesamanaan sama Aomine. Tapi ya udah, that’s it! Bukan berarti gue juga suka sama dia kayak gue suka ke Aomine dong.”
“Ya kalau lo suka juga nggak apa-apa kali, Min. Toh Jeongguk juga nggak kalah keren sama Aomine. Badannya bagus, mukanya ganteng, sama-sama jago main basket juga. Buktinya banyak yang suka sama dia kan?”
Netra Jimin tanpa sengaja menangkap sosok Jeongguk yang sedang bergelantungan di ring basket pasca melakukan aksi dunk untuk mencetak skor. Well, Jimin akui, secara fisik Jeon Jeongguk memang nyaris sempurna. Beberapa kali ia juga sempat dibuat kagum ketika menyaksikan lelaki jangkung itu beraksi di lapangan. Namun keren saja bukan alasan kuat bagi Park Jimin untuk menaruh hati pada seseorang. Di matanya, Jeongguk tetap saja menyebalkan.
“Percuma keren kalau personalitinya minus,” sanggah Jimin.
“Oh, jadi lo akuin nih ya kalau Jeongguk keren? Berarti—”
Belum sempat Taehyung menyelesaikan kalimatnya, Jimin sudah memotong duluan. “Udah ah, gue masih ada kelas abis ini. Lo kalau mau balik duluan nggak apa-apa. Bye, Tae!” Jimin pamit, sambil beranjak pergi menuju kelasnya yang dekat dengan kantin kampus.
Sebenarnya Jimin masih punya waktu sekitar dua puluh menit sebelum kelasnya dimulai. Namun sungguh Jimin butuh untuk menyendiri dan menyegarkan otak. Perbincangannya dengan Taehyung tadi benar-benar menguras energi dan menambah beban pikiran. Jimin rasa, sahabatnya itu sengaja melakukannya karena ia sudah muak menanggapi keluh kesah Jimin tentang Jeongguk hampir setiap hari.
Jangan salahkan Jimin. Salahkan saja Jeongguk yang selalu bertingkah menyebalkan. Memangnya orang-orang kira Jimin suka jadi pusat perhatian setiap kali lelaki itu mengganggunya? Andai saja ia memiliki kemampuan misdirection-nya Kuroko Tetsuya, pasti Jimin akan terhindar dari mala petaka bernama Jeon Jeongguk. Niscaya kehidupan perkuliahannya akan lebih damai sentosa.
Sayang semesta tak merestui keinginan Jimin tersebut. Bahkan semesta justru senang sekali menjadikan hidupnya sebagai bahan bercanda. Padahal kalau Jimin boleh jujur, selera humor semesta sama sekali tak lucu baginya.
Didorong dengan rasa dongkol yang teramat sangat, Jimin pun lalu memutuskan untuk mampir sebentar ke kantin guna membeli minuman manis dan dingin. Ia butuh sugar intake untuk melalui seratus lima puluh menit ke depan dengan khusyuk. Pasalnya, ia harus rela berbagi oksigen di ruang kelas yang sama dengan Jeon Jeongguk; sumber permasalahan utama hidupnya saat ini.
Bukan untuk pertama kalinya Jimin merutuki pilihan jurusan dan konsentrasi studinya yang serupa dengan sang musuh bebuyutan. Kali ini keduanya sama-sama memiliki jadwal kelas Visual Communication on New Media.
“Bang, mau alpukat kocoknya yang ukuran reguler dong, satu,” kata Jimin memesan minuman manis favoritnya di kantin FSRD.
“Siap, Kak Jimin. Susunya dibanyakin kayak biasanya?”
“Iya dong, Bang. Es batunya jangan kebanyakan ya.”
“Laksanakan. Sebentar ya dibikinin dulu,” kata Abang penjual alpukat kocok yang sudah terlewat hapal dengan pesanan pelanggan setianya.
Sembari menunggu pesanannya selesai dibuat, Jimin memutuskan untuk melanjutkan membaca manga Detective Conan yang belum sempat diselesaikannya tadi. Fokus lelaki berusia sembilas tahun itu sama sekali tak beranjak dari panel-panel manga yang ada di hadapannya. Peduli setan dengan segala sesuatu yang sedang terjadi di sekitarnya. Apa pun itu akan dihiraukannya begitu saja. Sampai-sampai Abang penjual alpukat kocok yang mengantar pesanannya pun diabaikan.
“Tuh kan, Heiji nih kebiasaan deh,” gumam Jimin, sambil membalik halaman manganya dengan gusar. “Sumbu pendek banget.”
Bermonolog adalah kebiasaan utama Jimin ketika sedang asik membaca dan menonton. Ia adalah tipe manusia yang akan dengan mudah terjerat di dalam universe yang sedemikian rupa dirangkai oleh sang pengarang cerita, seakan-akan dirinya adalah sang pemeran utama di kisah tersebut.
“Lo ngomong sama siapa deh? Kenapa si Heiji?”
Sebuah suara familier dengan nada iseng sontak membuat Jimin mengangkat kepala. Rupanya lagi-lagi semesta sedang mengajaknya bercanda. Bagaimana tidak, di hadapan Jimin kini tengah berdiri seorang Jeon Jeongguk yang sedang memutar bola basket di ujung jari telunjuknya, sambil tersenyum menggoda.
Tunggu dulu. Sejak kapan Jimin jadi mengidentifikasikan senyuman Jeongguk dengan istilah ‘menggoda’? Bukankah selama ini senyuman yang diberikan musuh bebuyutannya itu ia anggap mengejek dan menyebalkan?
“Ngapain sih lo? Ganggu orang lagi asik aja,” kata Jimin, sebelum menyeruput es alpukat kocok yang ada di depannya.
“Kirain lo lagi ngajak ngomong gue.”
“Dih, pede banget! Orang gue lagi monolog.”
“Kebiasaan,” kata Jeongguk, sambil menduduki bangku kosong yang ada di sebelah Jimin. “Kayak orang gila.”
“Ngapain lo duduk sini? Bangku lain kan masih banyak yang kosong.”
Jeongguk mengedikkan bahunya acuh. “Kepo aja, pengen tau lo lagi baca apa. Sering banget gue perhatiin lo suka asik sendiri kalau lagi baca.”
“Nggak usah sok perhatian deh. Paling juga cuma akal-akalan lo doang cari bahan buat nge-bully gue. Iya kan?”
“Siapa yang nge-bully sih?" Jeongguk membantah tidak terima. "Fitnah itu namanya.”
“Terus apa? Kan lo memang suka banget gangguin sama ngatain gue.”
"Lo pernah ngaca nggak sih?"
"Hah?"
“Sumpah, lo lemot banget jadi orang,” jawab Jeongguk dengan nada kesal. “Makanya jangan kebanyakan halu. Bisa bego lama-lama.”
Inilah alasan mengapa Jimin enggan berinteraksi dengan Jeongguk. Ia yakin sekali, kalau hobi Jeongguk selain bermain basket adalah bersilat lidah dan merecoki dirinya.
Jimin lalu berdecak, “Gitu masih nyangkal suka nge-bully.”
“Gue cuma prihatin, Jimin. Lo kalau keasikan sama manusia gepeng terus, kapan pedulinya sama manusia yang ada di depan lo?”
Sebelah alis Jimin terangkat naik kala mendengar pertanyaan konyol Jeongguk. “Maksudnya lo? Ngapain amat gue peduli sama lo?”
“Banyak loh yang peduli sama gue.”
“Terus gue harus ikutan peduli gitu? Kurang kerjaan amat. Cari perhatian sama fans lo aja sana, kan banyak tuh kata lo.”
“Orang gue maunya lo,” gumam Jeongguk dengan suara pelan. Suara yang hampir saja luput dari indra pendengaran Jimin, kalau ia tak sedang memerhatikan sosok menyebalkan yang duduk di sebelahnya. Sosok menyebalkan yang entah kenapa sejak tadi tengah memusatkan fokusnya pada Jimin.
“Nggak jelas banget sih lo.”
“Lo kali yang nggak jelas. Manusia gepeng mulu yang diurusin. Kayak nggak punya teman aja. Kasian gue lama-lama, nggak kesepian apa?”
Checkmate. Oke, kali ini perkataan Jeongguk dengan lancangnya menusuk ulu hati Jimin. Tahu apa sih Jeongguk dengan rasa kesepian yang hampir tak pernah absen menggerogoti ruang di hati Jimin? Tahu apa sih dia dengan perjuangan Jimin melawan rasa kesepian? Sejatinya memang hanya ‘manusia gepeng’ yang senantiasa akan selalu menemani Jimin. Manusia nyata justru kerap menyakitinya, seperti sekarang ini buktinya.
Jimin lalu berdiri dari bangku yang didudukinya dengan rasa kesal yang tak bisa ditahan lagi. Semakin lama ia berada di dekat Jeongguk, semakin cepat pula kewarasannya hilang. “Mendingan gue kesepian daripada harus ditemanin sama manusia kayak lo. At least, manusia gepeng yang lo hina itu nggak bakal bikin gue sakit hati.”
Jeongguk terbelalak kaget melihat reaksi Jimin. “Wait, Jimin—”
“Udah, mulai sekarang lo nggak usah sok peduliin gue deh. Sama kayak gue yang juga nggak bakal ngegubris lo sama sekali. Oke? Bye,” kata Jimin, sebelum beranjak pergi meninggalkan Jeongguk sendiri.
Sejak kejadian sore itu, Jimin tak pernah lagi memedulikan apa pun yang Jeongguk lakukan untuk menarik perhatiannya. Beberapa kali ia lihat Jeongguk seakan berusaha mendekatinya, mungkin untuk meluruskan masalah. Namun Jimin tetap bergeming. Setiap Jeongguk muncul di tempat yang sama dengan dirinya, Jimin dengan sigap akan beranjak pergi untuk menghindari interaksi. Bahkan ketika sekelas pun, Jimin akan berusaha sedemikian rupa untuk mengabaikan keberadaan lelaki bermata bulat itu.
Tak terasa perang dinginnya dengan Jeongguk sudah memasuki minggu keempat. Perlu digarisbawahi, bahwasanya Jimin sama sekali tak menghitung sudah berapa lama ia tak mendengar julukan Tom & Jerry dilayangkan padanya, maupun pada Jeongguk, oleh teman-teman kampusnya. Mungkin mereka sadar kalau kali ini Jimin benar-benar sudah muak. Namun tentu saja, Taehyung menjadi yang pertama membuka topik terlarang itu terlebih dulu.
“Lo masih cold war sama Jeongguk? Udah hampir sebulan loh.”
Jimin memutar bola matanya malas. “Nggak usah ngomongin dia deh, Tae. Males gue.”
“Anaknya kemaren nanyain lo ke gue. Kayaknya dia khawatir deh.”
“Kenapa mesti khawatir coba? Masih aja sok peduli tuh orang.”
“Mungkin dia memang peduli kali, Min. Soalnya baru kali ini lo nyuekin dia sampai segitunya. Kan biasanya lo tetap ngeladenin dia walaupun lo dongkol setengah mati.”
“Ya siapa suruh dia kelewat batas?” Jimin menyanggah Taehyung tidak terima. “Definisi dikasih hati minta jantung ya dia tuh.”
Sebuah cengiran jahil tiba-tiba hadir menghiasi wajah Taeyung ketika mendengar pernyataan Jimin. “Oh, jadi sekarang udah mulai ngasih hati nih?”
“Nggak usah mulai deh, Tae. Lo tau betul apa maksud gue.”
“Nah itu masalahnya,” kata Taehyung, sambil memilih kemeja berwarna pastel pink bermotif hati untuk dicobai di ruang ganti. Sore itu keduanya sedang berada di salah satu mall untuk berbelanja. Kebetulan ada acara gathering bagi para wibu di akhir pekan yang akan mereka kunjungi. Taehyung bilang, ia merasa tertantang untuk ber-cosplay sebagai Donquixote Rosinante, dari manga One Piece. “Gue tau betul alasan kenapa lo bisa murka sama dia. Tapi dia kan nggak tau, Min.”
Jimin memilih untuk mengacuhkan sang sahabat. Ia lantas menyibukkan diri mencari celana berwarna mystic pink bermotif garis gelombang putih, guna memenuhi inginnya untuk ber-cosplay sebagai Donquixote Doflamingo, dari manga One Piece juga. Jimin sudah mengantongi props ikat pinggang kulit berwarna jingga, kaca mata nyentrik berbingkai putih dan berlensa merah maroon, serta mantel bulu berwarna baby pink yang dibelinya di toko online. Kemeja putih dan sepatu flat berwarna hitam yang memang ia miliki pun siap dimanfaatkan untuk menyempurnakan cosplay-nya.
Sejatinya, ini bukan kali pertama bagi Jimin dan Taehyung untuk berpartisipasi pada kompetisi cosplay di acara sejenis. Namun kali ini hadiah yang ditawarkan oleh penyelenggara acara sangatlah menggiurkan. Bagaimana tidak, cosplayer karakter One Piece terbaik akan berkesempatan mendapatkan sepatu Vans limited edition keluaran teranyar, edisi kolaborasi Vans dengan One Piece. Sungguh Jimin sangat ingin menang. Pasalnya, ia hampir tak pernah beruntung ketika berpartisipasi dalam raffle sepatu edisi khusus seperti itu. Hoki Jimin hanya selebar daun kelor saja.
Taehyung sebagai sahabat yang baik pun sepenuhnya mendukung niat dan usaha Jimin dengan turut berpartisipasi. Kebetulan keduanya baru saja menonton kembali Dressrosa arc. Makanya mereka mendapat wangsit untuk ber-cosplay sebagai Donquixote brothers.
“Anyway, lo jadi pergi ke Orutaku sama gebetan lo, Tae?” Jimin memecah hening setelah beberapa saat. “Nanti gue jadi obat nyamuk nggak nih?”
“Santai aja, nanti Namjoon bawa temennya buat dikenalin ke lo kok. Jadi kita bisa double date ala-ala.”
“Temennya Namjoon yang mana?”
“Anak FISIP juga, satu jurusan sama dia. Namanya Hoseok, kalau nggak salah.”
“Orangnya gimana?” Jimin bertanya penasaran. “Oke nggak? Suka anime juga kayak Namjoon?”
Taehyung mengangkat bahunya sambil mengerutkan kening. “Kurang tau juga ya. Tapi buktinya dia mau ikutan ke Orutaku tuh. Kalau nggak suka ya ngapain, nanti malah cengo doang anak orang.”
“Bener juga sih. We’ll see.”
"Eh, by the way, gue baru tau loh kalau Jeongguk sering ambil side job jadi bartender. Pantesan alcohol tolerance-nya dia kuat ya.”
“Astaga, Tae,” keluh Jimin dengan nada yang super malas, lengkap dengan ekspresi wajah yang super jengah. “Bisa nggak sih, berhenti ngomongin Jeongguk? Capek gue!”
“Hahaha! Ampun, Min. Gue iseng aja pengen godain lo. Bener kata Jeongguk, reaksi lo kocak abis kalau lagi diisengin tuh.”
Tunggu dulu. Otak Jimin langsung bekerja untuk mencerna kata-kata Taehyung barusan. Benar kata siapa tadi? Kata Jeongguk?
Dengan sebelah alis yang terangkat dan tatapan yang menyelidik, Jimin lalu berkata, “Kata Jeongguk? Dia ada ngomong apa soal gue? Kok lo kayak akrab banget sama dia?”
Tawa Taehyung seketika langsung terhenti ketika mendengar pertanyaan Jimin. Sebuah reaksi yang tentu saja semakin membuat curiga. Tidak salah lagi, sahabatnya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Beruntung Jimin adalah seorang penggemar akut serial detektif. Kalau saja ia tak bercita-cita ingin menjadi seorang Animator, Jimin pasti akan mengambil jurusan Hukum untuk mendukung naluri menyelidik yang dimilikinya, sekaligus mengikuti jejak Shinichi Kudo.
“Nggak akrab juga sih,” jawab Taehyung dengan nada canggung setelah beberapa saat. “Kemarin pas dia nanyain lo, kita sempat ngobrol sebentar. Gitu doang.”
Insting Jimin berkata, bahwasanya Taehyung tidak sedang berbohong. Namun ada sesuatu yang dirahasiakannya. There’s more to it. Dan Park Jimin adalah seseorang yang akan selalu mendengarkan apa yang dikatakan instingnya.
“Lo nggak lagi nyembunyiin sesuatu kan, Tae? Ada yang lo rahasiain ya dari gue?”
“Nggak, Min. Lo tau gue mana pernah bisa bohong sama lo kan?”
“Gue nggak bilang lo bohong kok,” sanggah Jimin. “Tapi gue ngerasa lo nggak ngasih jawaban yang lengkap.”
“Lo kebanyakan baca Conan. It’s not that deep, Min. Lagian yang musuhan sama Jeongguk kan lo, bukan gue. Masa gue nggak boleh temenan sama dia?”
Jimin terdiam. Well, ucapan Taehyung memang tidak salah. Tapi hati kecil Jimin seakan merasa dikhianati ketika mendengar pengakuan sang sahabat yang menyiratkan bahwa ia memang berteman dengan sang musuh bebuyutan.
Namun yang membuat otak Jimin terus bekerja meskipun hari sudah sangat larut adalah fakta bahwa Jeon Jeongguk membicarakan tentang dirinya, pada sahabatnya. Untuk apa coba? Apa yang lelaki itu bicarakan dengan Taehyung? Sudah berapa lama hal ini berlangsung? Apa gara-gara itu, makanya Taehyung jadi terus-terusan membahas soal Jeongguk? Sungguh, kepala Jimin pusing memikirkannya.
Menyebalkan. Kenapa sih, Jeon Jeongguk harus selalu menghantui kehidupannya?
