Work Text:
Ibuku bilang, aku sudah pintar membaca saat umurku belum genap tiga tahun.
Ada satu ruangan yang penuh dengan buku-buku dengan topik rumit di rumahku, berjejer rapi mengisi sekat-sekat lemari yang menempel di dinding. Satu-satunya sumber pencahayaan di sana adalah sebuah jendela besar dengan pot-pot bunga yang rajin ibu sirami setiap pagi; yang saat bebungaan itu mekar, cantiknya seumpama wajah tersenyum ibu pada ayah.
Meja kerja ayah berdiri gagah dua meter di samping jendela, menghadap rak kaca berisi buku-buku. Di sudut sebelah kanannya ada keranjang kecil isi buah-buahan, dilengkapi cangkir kopi dan teko air yang mudah digapai. Ibu bilang, ayah sering lupa waktu kalau sudah berdiam diri di sarangnya. Lelaki itu sanggup menyelesaikan banyak bacaan dalam sekali duduk, karena itu ibu menyiapkan segala hal agar lelakinya tidak lupa mengisi perut.
Namun hal itu malah membuatku tak menyukai ayah. Bagiku dia hanya laki-laki tak berguna yang hanya bisa mengandalkan seorang wanita. Ia bisa menghabiskan banyak waktu untuk hobi membacanya, tapi melimpahkan semua tugas pada orang yang ia sebut sebagai istrinya.
Ibuku wanita yang baik. Satu-satunya kekurangan yang ia punya adalah menjadi manusia yang terlalu baik dan itu malah menjadikannya bodoh juga mudah dimanfaatkan orang―contoh besarnya ayahku.
Seminggu yang lalu kakakku datang dengan setumpuk kertas di tangannya. Ia bilang, novel terbaru kawannya sudah naik percetakan dan ia mempersilakan naskah mentahnya untuk kubaca. Sebagai seorang penggemar, tentu aku merasa begitu terhormat mendapatkan hak istimewa seperti itu.
Saat itu aku belum tahu, kalau naskah itu akan jadi tulisan paling keramat yang pernah aku baca.
*
“Langsung pulang saja, Alhaitham? Gak ikut makan dulu dengan kami?”
Alhaitham praktis menggeleng. Selain karena urusannya di kampus sudah selesai, ia merasa berkumpul dengan orang-orang yang baru hari itu bertemu hanya buang-buang waktu. Ia masih punya urusan dengan tempat tinggalnya sekarang―uh, Alhaitham tiba-tiba merasa pening di kepalanya saat mengingat kondisi kamar sewanya yang ia biarkan berantakan sebelum pergi.
Kemarin ia sudah dibuatkan janji dengan sebuah jasa bersih-bersih oleh Madam Faruzan―beliau sendiri yang meminta dipanggil seperti itu―, pemilik gedung kos sekaligus salah satu Profesor yang ia kenal di kampusnya. Sebenarnya Alhaitham bisa saja menyewa jasa profesional, tapi ia tak bisa menolak saat wanita berambut sebiru langit itu begitu antusias merekomendasikan jasa bersih-bersih amatiran dengan tarif murah.
Pemuda itu mengesah pelan, tiba-tiba merasa skeptis dengan rekomendasi Profesornya. Maka saat itu juga ia menambah kecepatan berjalannya hanya untuk mendapati seorang gadis muda berdiri dengan lesu tepat di depan pintu kamarnya.
“Maaf, dengan Kak Alhaitham?”
Alhaitham mengernyit, “Iya, saya.”
“Kemarin saya dihubugi sama Bu Faruzan buat bersih-bersih kamar nomor lima.”
Lelaki itu tertegun, “Oh, iya.”
Meskipun masih ada ragu, Alhaitham tetap membuka pintu kamarnya dan mempersilakan si gadis yang belum memperkenalkan diri itu untuk masuk agar segera melakukan pekerjaannya.
Kamar yang Alhaitham sewa berada di lantai tiga, berukuran lima kali lima dengan kamar mandi dalam dan seperangkat furnitur bawaan, sudah lebih dari cukup untuk sebuah kamar sewa yang diisi seorang diri. Alhaitham memang mengedepankan kenyamanan, walaupun ia sangat payah dalam mengurus hal-hal domestik.
Gadis yang Bu Faruzan rekomendasikan bekerja dengan cepat dan gesit, terlihat sekali sudah terbiasa. Ia juga tak banyak bicara, hanya membuka mulut untuk meminta persetujuan Alhaitham terkait tata letak barang di kamarnya. Gadis itu hanya butuh kurang dari dua jam untuk membersihkan setiap sudut kamar Alhaitham sampai tak setitik debupun tertinggal.
Diam-diam pemuda itu puas, ia yakin akan memesan jasa bersih-bersih itu kembali minggu depan.
*
Alhaitham mengetahui nama gadis itu dari Madam Faruzan saat meminta kontaknya, tapi si gadis juga mengenalkan diri saat datang kembali ke kamar nomor lima; Kaveh, katanya singkat dibarengi dengan senyuman tipis yang manis.
Sementara penyewa kamar tetap menjadi dirinya seperti biasa yang tak banyak bicara. Hanya memerhatikan dalam diam karena ia belum punya kepercayaan setinggi itu untuk meninggalkan tempat tinggalnya dengan orang yang baru ia kenal.
Namun rupanya berbeda dengan Kaveh, ia mulai berbicara untuk hal-hal di luar pekerjaannya seperti ada di jenjang mana pendidikan Haitham sekarang atau di mana domisili asli pemuda itu sebelum ia memutuskan untuk pindah ke sini. Biasanya Haitham lebih memilih tak acuh dan menolak untuk menjawab karena baginya hal-hal tersebut merupakan privasi, tapi kali ini ia bisa menjawab tanpa keberatan.
“Aku pikir umur kita sama,”
Kaveh mendelik, mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya mengikat plastik sampah, “Bagaimana?”
“Maksud saya,” Alhaitham kembali pada buku bacaannya, berusaha tak membuat kontak mata dengan gadis itu, “Tak perlu memanggil saya dengan sebutan ‘Kak’.”
“Ah …” Kaveh tersenyum, ia kembali pada pekerjaannya, “Tahun ini saya dua puluh enam.”
Alhaitham mengedipkan matanya dua kali saat sadar harusnya ia yang memanggil gadis itu dengan lebih sopan.
*
Hampir sebulan berkuliah, Alhaitham menjalani hidupnya dengan monoton setiap hari.
Ia hanya akan keluar dari kamarnya saat ada jadwal kuliah, selebihnya ia habiskan di kamar sewanya yang nyaman. Alhaitham tak akan repot-repot berkeliling jika ada layanan pesan antar untuk makanannya sehari-hari, semua bisa ia lakukan karena rekeningnya tak pernah tipis.
Walaupun belum punya pekerjaan tetap, Alhaitham punya pemasukan pasif dari properti yang jadi usaha orang tuanya sebelum mereka meninggal dunia. Prinsip yang dimiliki oleh pemuda itu adalah hidup akan selalu nyaman jika punya uang. Ia bahkan berencana untuk tidak menikah agar tak perlu mengeluarkan usaha lebih untuk memberi makan selain perutnya.
Di satu waktu ketika Alhaitham berjalan pulang menuju kamar sewanya, ia melihat Kaveh sedang sibuk melayani seorang pelanggan di sebuah warung makan. Entah sinar matahari di siang itu yang lebih terik atau ada kesalahan pada mata Haitham, tapi Kaveh terlihat bersinar padahal ia tengah di kelilingi mangkuk-mangkuk besar berisi gulai dan tumis.
Lalu tanpa sadar Alhaitham sudah berdiri di pintu masuk warung makan tersebut.
Sebagai orang yang jarang sekali makan di luar, Haitham masuk dengan langkah kikuk. Pemuda itu langsung saja cari meja kosong untuk duduk. Tapi saat melihat orang-orang berkumpul di depan etalase kaca sambil menyebutkan pesanannya, ia jadi urung untuk duduk tapi juga tak beranjak untuk memesan―bingung sekali, Alhaitham baru kali ini merasa kemampuan bersosialisasinya diuji.
Alhaitham baru merasa terselamatkan setelah bertanya pada seorang anak yang sibuk mengelapi meja di warung makan tersebut―mungkin ia anak dari pemilik warung yang sedang bosan di rumah, Alhaitham tak peduli, sih.
Pemuda itu mendapatkan reaksi terkejut Kaveh saat ia mendapat giliran memesan. Gadis itu banyak tersenyum dan menanyakan apa yang akan dipesan Haitham dengan sangat ramah. Alhaitham yang bingung memilih untuk Kaveh menyajikan rekomendasinya saja, yang penting tidak pakai yang berkuah.
Warung makan yang disambangi Haitham secara impulsif itu hanya sebuah petak yang ukurannya ia yakin tak lebih besar dari kamar sewanya. Etalase kaca tempat menyimpan masakan kering menjadi pusat yang di kelilingi meja panjang untuk pelanggan, dan Alhaitham menempati tempat paling ujung dekat dengan teko besar berisi air teh panas gratis.
Sambil menyuapkan sendok demi sendok nasi, tanpa sadar juga perhatiannya menyebar ke seluruh ruangan. Warung tersebut tidak penuh karena hanya ada beberapa pelanggan di sana termasuk dirinya, anak kecil yang tadi membantunya sudah menghilang entah kemana, sedangkan Kaveh duduk dengan sunyi sambil sesekali mengipasi hidangan.
Namun hal sesederhana itu membuat Haitham lama sekali menghabiskan sepiring makanan di depannya.
Ruangan yang kecil memungkinkan Haitham dapat mendengar suara orang-orang di sana, ia mengernyit saat sadar ketenangannya mulai terganggu saat satu kelompok kecil laki-laki berpakaian seperti preman mengisi tempat duduk kosong yang hanya berjarak semeter dari tempatnya duduk. Alhaitham diam-diam memaki dalam hati, dari tampilannya saja ia tahu kalau orang-orang itu sampah masyarakat; selalu merasa sok jago dan paling berkuasa. Mereka hanya sekumpulan manusia tak berotak yang hanya bisa merusak ketenangan.
Sayangnya makanan di piring Alhaitham masih sisa setengah, mungkin perlu waktu setidaknya dua sampai tiga menit sampai ia bisa menandaskan isi piringnya. Pemuda itu pikir, waktu yang terdengar sempit itu sebenarnya bisa diisi dengan sebuah lagu untuk setidaknya menenangkan pendengarannya, suara besar dan serak dari para preman bau pasar itu terlalu memekakan telinga.
“Eh, Adek Kaveh,”
Alhaitham sontak urung memasangkan earphone ke telinganya.
“Adek kosong malam ini?”
Sementara di balik meja hidangan, Kaveh tak menjawab apapun, ia terlihat berusaha menyibukkan diri.
Salah satu dari preman itu menyulut sebatang rokok, menghisapnya lalu membuang asapnya tepat ke wajah si gadis. “Ikut Abang senang-senang malam ini ya, kamu kan jago ngerokok ya …” si preman mendekatkan wajahnya, “ … rokok daging.”
Lalu mereka tertawa seperti hal itu sudah terlalu lazim dilakukan.
Di tempat duduknya, Alhaitham diam-diam marah. Pemuda itu tak lagi berselera menghabiskan santapannya karena atmosfir yang ia rasakan semakin buruk. Ia ingin segera pergi, tapi rasa khawatir tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.
Kaveh, masih tetap tak melawan. Gadis itu tetap menunjukkan senyumnya walau dengan susah payah, ia tetap melayani orang-orang bangsat itu dengan baik.
Sekelompok sampah masyarakat itu baru pergi sejam kemudian, meninggalkan warung makan dengan menambah catatan utang dan ampas rokok.
Alhaitham masih di sana, piringnya masih tak berkurang isinya. Ia sibuk memerhatikan Kaveh yang akhirnya bisa bernapas lega.
“Kenapa kamu nggak melawan?”
Si gadis menoleh, “Ah, Kak Haitham sudah selesai?”
Alhaitham tak menjawab pertanyaan Kaveh, ia malah mengulang pertanyaannya kembali.
“Kamu enggak akan mengerti, Kak.” Gadis itu tersenyum pahit, “Totalnya lima belas ribu, Kak.”
Meskipun belum puas dengan jawaban Kaveh, Alhaitham memilih tidak bertanya lebih lanjut. Ada hal-hal yang sebaiknya tidak ia tahu dan tidak ia mengerti, dan mungkin ini adalah salah satunya. Pemuda itu melipat bibir, ia sudah membuang enam puluh menit waktunya untuk hal tak berguna.
Tepat saat ia akan keluar dari pintu warung makan tersebut, bocah yang membantu ia sebelumnya datang kembali, ia memanggil Kaveh dengan sebutan Ibu.
*
Hari di mana Kaveh kembali bekerja secara rutin membersihkan kamar sewa Alhaitham, pemuda itu menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah seminggu ia pendam dengan tidak nyaman.
“Kamu sudah menikah?”
Kaveh setia dengan senyum tipisnya yang manis, “Saya sudah punya anak, Kak.”
Jawaban itu membuat Alhaitham mengedipkan matanya dua kali karena lagi-lagi gadis―atau mungkin wanita―itu menjawab pertanyaannya di luar konteks.
“Kamu enggak kelihatan seperti sudah memiliki anak,”
“Tapi kenyataannya saya sudah punya anak.”
Alhaitham tak bertanya lagi, pun tak memperhatikan Kaveh yang sibuk bersih-bersih seperti biasanya. Pikirannya mengawang, mencoba menghubungkan variabel baru dengan yang telah ia temukan. Tapi detik selanjutnya pemuda itu menghela napas, memikirkan hal yang tak berguna baginya hanya buang-buang waktu.
“Jadi kamu seorang janda?”
Lagi-lagi Kaveh tersenyum, “Kenapa Kak Haitham bisa menyimpulkan seperti itu?”
Alhaitham menggeleng, “Hanya menebak saja.”
Sunyi kembali menyambangi ruangan yang diisi dua orang yang sama-sama sibuk dengan dunianya, hanya sesekali terdengar suara perasan air dari lap pel yang Kaveh gunakan.
“Menurut Kak Haitham,” Wanita itu tak sedikitpun menoleh, “Perempuan yang tidak pernah menikah tapi memiliki anak, apa tetap bisa disebut seorang janda?”
*
Ini adalah Kaveh, 10 tahun lalu.
Usianya enam belas, ia disebut-sebut sebagai gadis paling cantik di desanya.
Namun wajah cantik yang dimiliki Kaveh berbanding balik dengan nasib hidupnya yang buruk.
Gadis itu tinggal di rumah yang tak terasa seperti rumah. Ayahnya meninggal saat ia kecil sementara ibunya pergi bersama suami baru tanpa mengajaknya ikut. Keluarga yang tersisa hanya seorang bibi tempramental dan paman tukang judi.
Desa tempat Kaveh tinggal masih sangat kolot. Pendidikan di sana bukan nomor satu, memiliki banyak anak berarti menabung investasi hidup untuk masa depan. Wanita hanyalah alat, lelaki tentu selalu berada di puncak strata masyarakat.
Setiap tahun desanya selalu disambangi sekelompok Mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat. Kaveh selalu kagum dan bercita-cita bisa menggunakan jas almamater dengan bangga suatu saat nanti. Ia ingin menjadi wanita pertama yang berpendidikan tinggi di desanya, ia ingin hidup dengan nyaman, ia ingin memutus rantai kemiskinan terstruktur di keluarganya.
Kaveh ingin, tapi Kaveh tidak bisa.
Gadis itu masih kelas sebelas SMA saat seorang laki-laki mendatanginya, meminta ia untuk menjadi seorang istri.
Saat Kaveh menolak dan mengutarakan alasannya menolak, lelaki itu tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. “Kamu cantik tapi bodoh!” Hardiknya.
“Mau setinggi apapun kamu sekolah, ujung-ujungnya tetap akan mengangkang untuk laki-laki!”
Kaveh yang tersinggung langsung berdiri, ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ia tak tahu kalau tindakannya itu mengundang malapetaka yang lebih besar.
Suatu malam yang dingin, ia hampir kehilangan napas. Kedua tangannya terikat, dan ia tak bisa merasakan lapisan kain menutupi bagian bawahnya. Air matanya menganak sungai, dadanya sakit seumpama dihantam banyak batu gunung.
Kaveh ingin menjerit, tapi mulutnya dijarah oleh lidah bangsat yang menjijikan. Ia tak kuasa bergerak saat tubuhnya dihentak dan dimasuki benda asing. Rasanya sakit, sakit, sakit sampai Kaveh berpikir lebih baik mati.
Ia ditinggalkan dengan tubuh tak karuan, dengan rambut berantakan, dengan kehormatannya yang hilang.
Dua bulan kemudian ia merasakan aneh dengan tubuhnya. Bagian bawah perutnya sedikit keras dan ia tiba-tiba jadi pemilih pada makanan. Saat mengetahui kenyataan itu, Kaveh merasa dunianya runtuh.
Bibi dan Pamannya tentu tak bisa diharapkan, mereka malah menyalahkan Kaveh karena menolak lelaki―yang ternyata memiliki power di desa itu―saat bermaksud ‘baik’ melamarnya.
Berita ini menyebar ke seluruh desa dengan cepat seperti racun. Di perjalanan menuju sekolah orang-orang menatapnya jijik, sisanya terang-terangan menghina dan mengatakan kalau itu ganjaran bagi gadis pembangkang seperti Kaveh. Dan sialnya, ia sampai ke sekolah hanya untuk mendapatkan keterangan kalau ia sudah dikeluarkan.
Lelaki itu datang lagi, mukanya sangat tebal untuk kembali membuat Kaveh tunduk padanya.
“Kamu gak kasihan kalau anakmu lahir tanpa Bapak?”
Ucapan itu muncul bertepatan dengan murka yang sudah sampai di ujung tenggorokan Kaveh. Dengan sekuat tenaga, ditamparnya pipi si bangsat sampai membiru. Napas Kaveh memburu, lalu ia mendapat banyak pukulan balasan sampai ia semaput.
Berhari-hari setelah itu, Kaveh semakin disiksa.
Sudah kering air matanya dan luka-luka di seluruh tubuhnya tak pernah berkurang. Tubuhnya yang semakin kurus berkebalikan dengan perutnya yang terus membesar. Setiap hari tak putus doanya agar tuhan segera mencabut nyawanya, tapi yang ia dapatkan malah seorang wanita yang menjadi satu-satunya orang yang berani mendekatinya.
“Ikut denganku, mau ya?”
Saat wanita dengan rambut lembut sewarna bata merah itu mengulurkan tangannya, Kaveh merasa tuhan mengabulkan doanya dengan cara-Nya yang lain.
*
Alhaitham membeku, tak sedikitpun ia mengalihkan pandangannya dari Kaveh yang mulai menangis.
“Maaf, Kak, saya terbawa suasana.”
Kali ini Alhaitham paham mengapa Kaveh mengatakan kalau ia tak akan mengerti.
“Apa saya boleh sentuh kamu?”
Tanya lelaki itu impulsif, lalu menyesal karena ia pikir sudah salah bicara.
“Boleh,” Kaveh menyeka air matanya, “Aku sudah berdamai dengan masa lalu.”
Namun Alhaitham tidak seberani itu untuk langsung membawa seorang wanita masuk dalam dekapannya. Dengan tangannya yang besar, ia hanya mampu mengusap pundak Kaveh dua kali, berharap sedikit bebannya terangkat.
*
Peristiwa itu sudah lewat lebih dari sebulan dan semua sudah kembali normal.
Kaveh tetap datang seminggu dua kali untuk membersihkan kamar sewa Alhaitham dan lelaki itu mulai menyesuaikan lidahnya dengan makanan dari warung makan yang membuat dompetnya tak banyak terkuras.
Hubungan Kaveh dan Haitham pun naik satu tingkat, dari penyedia jasa dan pembeli jasa menjadi teman bicara. Sesekali Alhaitham akan meminta Kaveh untuk memasak makanan yang tak tersedia di warung, lalu pada akhirnya lelaki itu minta terus menerus dimasakkan karena hasil olahan Kaveh lebih cocok di lidah Alhaitham dibandingkan semua makanan yang pernah ia coba.
Tapi rupanya kedekatan mereka tak diterima baik oleh lingkungan mereka tinggal. Kaveh kembali mendapatkan perkataan buruk sementara orang-orang menghasut Haitham untuk membuat jarak dengan wanita itu.
“Mas Alhaitham kan terpelajar, mahasiswa S2, masa seleranya sama janda dua anak?”
“Iya, bener, padahal Mas-nya bisa loh cari jodoh di kampus yang jelas-jelas lebih baik.”
Alhaitham bersyukur memiliki sifat tak peduli dengan ucapan orang. Saat ibu-ibu itu bergosip dan menghasutnya, ia malah berpikir menu apa yang akan Kaveh masak untuk makan malamnya hari ini.
*
Untuk membuat cerita panjang menjadi pendek, seperti air jatuh setetes demi setetes sampai berhasil membuat lubang di atas batu, begitu pula yang terjadi dengan kondisi hati Alhaitham.
Ia tak lagi dapat melihat Kaveh dengan biasa. Tiap kali pintu kamarnya diketuk diikuti suara wanita itu, hatinya akan menggebu dan tubuhnya menjadi ringan untuk segera bangkit membuka pintu. Dengan melihat wajah Kaveh yang segar sehabis mandi, secara ajaib membuat mata Alhaitham kembali ringan dan merasa mampu untuk terjaga sepanjang malam.
Padahal Kaveh hanya datang untuk mengantar menu makan malam yang Haitham pesan dengan banyak paksaan. Pemuda itu bilang, “Sekalian untuk makan kamu dan anak-anak.” Yang bahkan membuat Kaveh cukup tertegun karena ia tak pernah bercerita kalau anaknya ada lebih dari seorang.
“Terima kasih, ya?”
“Sebenarnya aku hanya melakukan pekerjaan saja,”
Alhaitham tersenyum, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Tak tahu mengapa ia merasa sangat senang saat wanita itu tak lagi kaku dengan mengubah panggilannya dari saya menjadi aku.
Untuk sesaat mereka masih berdiri di depan pintu dengan nampan berisi makan malam di tangan Alhaitham. Tak ada yang bicara, dua orang itu sama-sama diam seumpama batu. Tapi yang sejatinya mereka rasakan adalah sebuah nyaman yang masuk dalam relung dada; hanya dengan kehadiran satu sama lain saja ada bahagia yang ikut datang memeluk.
“Orang yang nanti berjodoh denganmu pasti sangat beruntung,”
Alhaitham mengedipkan matanya, “Benarkah?”
Kaveh mengangguk, “Tentu saja, kamu laki-laki yang bertanggung jawab.”
“Kalau begitu jadilah orang beruntung itu.”
Padahal malam itu belum larut, toko-toko masih buka dan banyak sekali berisik di sekitar mereka, tapi suara Haitham terdengar sangat jelas di telinga Kaveh.
“Kaveh, bagaimana kalau kamu menikah denganku?”
Bukan tanpa alasan Alhaitham mengatakan hal seberani itu. Ia sudah memikirkan semuanya, ia bahkan sudah kalah dari rencananya yang ingin menikmati hidupnya sendirian sampai mati.
Baginya, Kaveh merupakan orang yang tepat.
Baginya, hidupnya akan lebih lengkap jika ada Kaveh di dalamnya.
*
Mereka menikah sebulan kemudian dengan pesta berkonsep intimasi. Hal ini juga sudah diperhitungkan lelaki itu karena mengingat baik Alhaitham maupun Kaveh sama-sama bukan orang dengan keluarga besar dan koneksi teman yang luas.
Kaveh awalnya menolak dibuatkan sebuah pesta, baginya uang sebegitu banyak lebih baik digunakan untuk kehidupan setelah menikah. Tapi Alhaitham bilang ia sudah punya semuanya, lelaki itu hanya ingin membuat Kaveh menjadi seorang ratu di hari yang akan terjadi sekali seumur hidupnya.
Ucapan-ucapan Alhaitham sukses membuat Kaveh tutup mulut dan hanya bisa menurut. Ia mau-mau saja saat lelakinya meminta ia untuk pergi dengan istri dari temannya karena Alhaitham tak tahu selera dan kebutuhan wanita seperti apa.
Dan bagai dijatuhi sebuah keajaiban, Kaveh bertemu dengan penyelamatnya dulu; si wanita berambut merah bata.
“Aku kehilangan nomor kontakmu, Kak, maafkan aku.”
Namanya Tartaglia, perutnya besar seperti Kaveh dulu, ia sedang hamil.
Keduanya sama-sama tak bisa menghentikan air mata yang terus menganak sungai sampai tangis bahagianya menular pada pegawai butik tempat mereka akan mengepas gaun untuk Kaveh.
Sementara Alhaitham membawa kedua calon anaknya bersama Kaveh mengunjungi rumah baru mereka yang masih kosong. Hati lelaki itu ikut bahagia saat melihat bintang-bintang berpendar di kedua mata bocah yang mewarisi rambut dan cantik wajah Kaveh tersebut.
“Nanti Lumine tinggal di sini dengan kak Alhaitham, dengan ibu?”
Alhaitham mengangguk, lalu tangannya digenggam kuat-kuat oleh gadis kecil itu.
*
Kaveh pernah hampir menghilangkan nyawanya sendiri saat tubuhnya merasa sudah mencapai batas. Saat itu ia masih terlalu muda untuk menjadi ibu dari sepasang anak kembar. Rasa khawatir dan takut terus menghantui hari-hari Kaveh yang semakin hari semakin berat. Kebutuhan anak-anaknya akan semakin banyak sementara ia tak punya kompentensi untuk bekerja dan statusnya yang hanya memiliki ijazah SMP akan menyulitkannya mendapatkan pekerjaan bagus. Stres membuat ASI-nya kering, sementara itu hanya satu-satunya yang mampu ia berikan pada anak kembarnya.
Suatu malam ia hampir menyerah, tangannya sudah menggenggap sebuah kain panjang dengan tangan gemetaran, siap ia lilitkan kencang-kencang ke lehernya. Saat itu ia merasa sudah sangat berani untuk menantang tuhan.
Namun bayi laki-lakinya tiba-tiba merengek. Tangisannya bayi itu tertahan seperti meminta Kaveh untuk memeluknya.
Lalu keberanian untuk mati itu, Kaveh ubah menjadi keberanian untuk melanjutkan hidup.
Mengingat itu, kini Kaveh bersyukur.
Ia bisa melihat anak-anaknya tumbuh, ia bisa membuat dirinya semakin kuat setiap harinya.
Ia bisa bertemu Alhaitham.
“Kata orang-orang janda itu jago di ranjang, ya?”
Itu malam pertama mereka. Kaveh dan Alhaitham duduk bersebelahan, masih kikuk, masih malu-malu.
“Itukan kalau janda yang udah berpengalaman. Kalau aku kan―” Kaveh menggigit bibir, lalu mengembungkan pipinya.
“Iya ngerti kok, pada dasarnya Kavehku ini masih amatiran, benar apa betul?”
Kaveh tak bisa menahan panas yang menyerang kedua pipinya lalu melempari lelakinya dengan bantal-bantal. Alhaitham ikut tertawa, ia mendekap wanitanya erat lalu perlahan-lahan menuntunnya masuk ke surga dunia semalaman.
*
Sepuluh tahun berlalu, keluarga kecil Alhaitham dan Kaveh belum memiliki anggota keluarga baru. Lumine dan Aether sudah masuk perguruan tinggi dan mereka tinggal berdua jika anak-anak pergi.
“Sayang, aku nggak bisa hidup tanpa kamuuuuu …”
Di suatu malam, Alhaitham memeluk Kaveh di atas ranjang mereka.
“Lebay, padahal kan dulu kamu si paling ingin hidup sendiri.”
Suaminya terkekeh, “Aku bersungguh-sungguh, istriku.”
“Kalau bisa, kamu jangan mati lebih dulu dariku.”
“Kenapa?”
“Kasihan anak-anak,”
“Anak-anak kan sudah besar.”
“Kasihan aku,”
Kaveh mencubit ujung hidung suaminya.
“Kalau boleh nego pada tuhan, aku ingin jarak kita meninggal hanya satu menit.”
“Kenapa begitu?”
“Biar gak usah menunggu lama lalu sakit karena rindu.”
Besoknya, Kaveh mendapati dua garis pada batang tes urin yang ia gunakan untuk mengecek kehamilan.
*
Kehidupan mereka rasanya semakin sempurna saat berita ada janin yang tumbuh dengan sehat dalam rahim Kaveh.
Aether dan Lumine cepat-cepat pulang dari idekosnya untuk merayakan kedatangan calon adik. Para tetangga ikut bahagia, Pak Zhongli dan istrinya bahkan sudah berencana akan membelikan calon bayi mereka sebuah kereta bayi seharga sepuluh juta.
Alhaitham mulai belajar menjadi calon ayah dari seorang bayi. Lelaki itu diam-diam meminta tips dan trik saat sedang berkumpul dengan bapak-bapak kompleks di pos ronda. Sebagai yang paling senior, Pak Zhongli merekomendasikan tempat les untuk calon Ayah seperti yang ia lakukan saat Tartaglia hamil anak pertama mereka.
“Waktu Xiao lahir, bapak gak bantu-bantu?”
“Oh, waktu masih dengan almarhum istri pertama, sih, saya sibuk bekerja.”
Di bulan keempat kehamilan Kaveh, Alhaitham mulai merasa ada yang salah dengan kepalanya.
Ia tak bisa fokus dan otaknya makin lambat mencerna hal-hal berat. Lelaki itu juga sering sakit kepala sampai rasanya ingin membenturkannya terus menerus ke tembok terdekat. Rasa sakit itu mengganggu pekerjaannya, sudah seminggu ia absen dan hanya mampu berbaring di kasur.
“Paha Kavehku memang paling nyaman untuk dijadikan bantal.”
Kaveh menyisir-nyisir rambut kelabu suaminya yang tak lagi halus. Sementara Haitham mengelus perut istrinya yang semakin membulat sampai tangannya merasakan sebuah benturan.
“Adeknya nendang.” Kaveh terkekeh.
“Ngomong-ngomong, aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita,”
“Apa itu?”
“Syauqi.”
“Kalau perempuan?”
“Aku serahkan padamu kalau bayinya perempuan.”
Itu hanya berselang dua bulan saat akhirnya dokter mengatakan kalau ada sebuah benjolan yang sudah mengganas bersarang dalam kepala Alhaitham. Perlu operasi pengangkatan untuk mencegah tumor itu menyebar dan berkembang menjadi kanker.
Sepulang dari rumah sakit, Kaveh tak dapat menahan tangisnya sampai perutnya sakit.
Alhaitham tersenyum tipis dengan bibirnya yang memucat, “Sabar ya, Bu, Ayah pasti bisa menghadapi ini.”
Namun air mata istrinya tak bisa berhenti, ia memeluk suaminya erat-erat sampai ia tertidur.
*
Jadwal operasi Alhaitham bertepatan dengan kontraksi pada perut Kaveh.
Hanya perlu dua jam untuk Kaveh melahirkan bayinya bersama Alhaitham ke dunia, sedangkan suaminya baru akan keluar dari ruang operasi tujuh jam lagi.
Anak kembar mereka yang sudah dewasa membagi tugas; Lumine dibantu Ibu Tartaglia mengurusi Kaveh, sementara Aether ditemani kawannya Xiao menunggu di depan ruang operasi Alhaitham.
Bayi itu lahir dengan sehat dan lengkap, pun Ayahnya berhasil melewati sembilan jam di atas meja operasi dengan berani.
Dua hari kemudian, Alhaitham yang masih terbaring di ruang rawat akhirnya bisa bertemu dengan bayinya yang selalu ia rindukan; seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Syauqi. Anak itu mewarisi warna rambutnya dan warna merah lembut dari mata Kaveh.
“Dokter bilang, Ayah sudah boleh pulang minggu depan kalau kondisinya bagus.”
Seminggu kemudian, Alhaitham benar-benar pulang dari rumah sakit. Lelaki itu diantar dengan mobil Jenazah sampai ke rumahnya.
*
Aku mengernyit.
Kalimat terakhir dari naskah ini akan selalu aku benci karena terkesan sangat terburu-buru.
Aku sudah bertanya pada kakakku, penulis Xingqiu tidak mungkin membuat ending seburuk ini. Apa ia terburu-buru? Apa editornya terlalu membuatnya tertekan?
Dan pada akhirnya aku mengetahui kenyataan kalau kakakku berbohong.
Naskah ini tidak ditulis oleh temannya, tapi hanya ditulis secara kasar oleh kakakku yang tidak berbakat itu. Pantas saja banyak sekali lubang dan hal-hal yang belum pas saat aku membacanya.
Tapi biar begitu, aku menghargai usaha kakakku walaupun hasilnya tak sempurna.
Aku membaca tulisan itu untuk kesekian kalinya dalam seminggu. Aku juga membawa naskah tersebut saat mengunjungi dua orang yang jadi tokoh utama dalam tulisan kakakku.
Ah, mungkin bukan orang, tapi pusara mereka.
Aku pikir sang suami tak berhasil bernegosiasi dengan tuhan di akhirat agar membuat istrinya meninggal semenit setelah ia wafat. Karena kenyataannya, istrinya baru menyerah menahan rindu setelah lima belas tahun bertahan.
Namaku Syauqi, dan aku hanya membual tentang membenci Ayahku.
