Work Text:
Dalam satu hari, predestinasi seakan memporak-porandakan limitasi di antara fatamorgana dan realitas. Semua hal yang kukira putih adalah hitam, begitu pula sebaliknya. Apa yang selama ini telah kulakukan? Apakah aku benar-benar melakukan kebaikan seperti yang kuinginkan, ataukah sesungguhnya tanpa kusadari ternyata ada banyak kejahatan yang telah kulakukan?
Sejak kapan semua ini bermula?
"Menyelamatkan dunia? Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri!"
"Kau telah gagal, kaulah yang seharusnya disalahkan."
Tiada yang salah walau amat berat bagiku untuk mengakuinya. Aku terlalu naif; menganggap bahwa hanya dengan kebaikan, maka dunia akan dengan mudahnya berbaik hati membalasku dengan kebaikan pula. Sejak awal, aku tak pernah mengenal ataupun diperkenalkan pada dunia luar. Aku hanya mampu meraba-raba, sama halnya seperti orang buta.
Aku buta akan dunia. Ironisnya, secara harfiah pun kini aku hidup dengan kedua mata yang buta. Sebelum duniaku gelap gulita, aku belum sempat mengenali banyak hal dari semesta luar yang kutapaki. Dunia ini kupandang melalui kacamataku sendiri. Aku meyakini segala sesuatu yang kuterima dari ajaran shifu-ku barangkali akan berlaku di setiap tempatku berpijak.
Pada realitasnya, aku belum benar-benar memahami bagaimana cara semesta bekerja. Dia benar. Seluruh bencana ini—secara tak langsung—bermula dari kenaifanku sendiri. Aku hanya ingin berbuat baik, mengenali perangai penduduk luar yang bermacam-macam, membantu setiap penduduk setempat yang tengah mengalami kesulitan, serta menyingkirkan kejahatan yang datang mengusik. Itu adalah empat alasan sederhana sebagai jawaban atas pertanyaan yang acap dilontarkan orang-orang padaku: mengapa aku memilih untuk turun gunung dan mengembara.
Namun, realitasnya pula, aku gagal total. Berbuat kebaikan? Membantu orang-orang yang lemah dan kesulitan? Di tanganku, terdapat puluhan nyawa tak bersalah yang telah terbunuh. Aku dijebak, aku telah ditipu selama bertahun-tahun.
Aku ... sama sekali tak ingin memercayai hal itu. Namun, hari ini dia berkata jujur. Aku tidak ingin percaya, aku ingin menganggap itu semua adalah kebohongan. Namun, alih-alih berusaha membela diri, dia memberikanku bukti.
Hari ini, dia tidak berbohong—sama sekali tidak.
Ketika Shuanghua menahan serangan mendadak dari sebilah pedang panjang, alam bawah sadarku refleks mengenali pemilik teknik pedang ini. Song Daozhang—Zichen, Song Zichen. Itu kau ... itu benar-benar dirimu. Sosok yang acap kurindukan, sosok yang pernah menjadi rekan penting dalam pengembaraanku, orang yang paling kupercaya dalam hidupku, orang yang pernah memiliki satu cita-cita yang serupa denganku. Shuanghua mengenalimu sebagai mayat ganas, dia berkata bahwa kaulah mayat ganas yang terhunus oleh Shuanghua kemarin.
Dia menjadikanmu bukti.
Aku masih menolak untuk percaya. Namun, ketika jemariku terhenti pada ukiran aksara bertuliskan 'Fu Xue' pada pedang tersebut, kala itulah duniaku seakan tercerai-berai. Dia benar-benar berkata jujur, dia tak lagi menipuku.
Aku adalah pembawa bencana; pembawa kehancuran atas kehidupanmu.
Sejak kapan semua ini bermula?
Lagi dan lagi, pertanyaan itu bermunculan dalam benakku. Isi kepalaku mendadak penuh, tubuhku diguncang oleh gemetar hebat, aku nyaris lupa caranya bernapas.
Zichen, ini semua salahku. Sejak awal, aku kerap menjadi penyebab atas malapetaka yang menimpamu. Beberapa tahun silam, Kuil Baixue terbakar habis, seluruh sanak saudaramu yang tak bersalah mati dengan tragis. Saat itu, aku terlambat datang. Ketika aku tiba di sana, kau nyaris sekarat, kedua matamu terpapar racun hingga penglihatanmu tak lagi berfungsi.
Sebelum kau kehilangan kesadaran, kedua alismu berkerut getir. Ada gejolak dendam, benci, dan duka dalam sorot tajam kedua matamu. Setelahnya, kau berbisik lirih, nada itu melantunkan begitu banyak rasa kebencian di baliknya.
"Mulai sekarang, kita tidak perlu bertemu lagi."
Aku menyanggupinya walau hatiku amat berat untuk meninggalkanmu. Ini adalah cara dia untuk menghancurkanku—dengan membuatmu terluka dan kehilangan segalanya. Aku tak mampu menebus seluruh kehilangan yang kau alami. Satu-satunya yang bisa kuselamatkan hanyalah kedua matamu. Bukan masalah bila duniaku gelap gulita. Itu tak berarti apa pun ketimbang serangkaian rasa sakit yang kau terima darinya.
Kendati sejak hari itu kita benar-benar berpisah, setidaknya ... mengetahui bahwa kondisimu telah membaik dan kau tetap hidup sebagaimana mestinya, itu sudah cukup bagiku.
Zichen, kali ini kesalahanku tidak termaafkan. Apa yang harus kulakukan, Zichen? Tolong ... katakan sesuatu, katakan bahwa ini hanyalah mimpi buruk belaka.
"Zichen ...." Suaraku serak, tenggorokanku tercekat oleh isak tangis yang menyesakkan.
Sekali lagi, kau tetap membisu. Sementara itu, dia tergelak-gelak, kedua runguku dipenuhi oleh riuh tawanya yang menggema. Dia menang lagi, dia telah berhasil memaksaku untuk menerima kekalahan.
Apa yang bisa kulakukan? Dengan cara apa lagi aku bisa menebus seluruh kesalahanku?
Song Daozhang.
Song Lan.
Zichen.
Song Zichen.
Semesta tanpamu laksana bumi tanpa oksigen. Terlampau hampa, terlampau menyesakkan. Tiada jalan bagiku untuk memperbaiki keadaan. Sebab, bila kupikirkan berulang kali, eksistensiku bagaikan bencana berkelanjutan di sepanjang hidupmu.
Semua ini salahku.
Maka itulah, aku pantas untuk mati.
Shuanghua yang tergeletak dingin di tanah kugenggam erat kendati tiap buku-buku jariku bergetar hebat. Ini adalah penebusan dosaku, hukuman atas kenaifanku. Sikuku terangkat, mengarahkan bilah tajam Shuanghua pada kulit leherku. Kueratkan kesepuluh jemariku pada gagang Shuanghua. Tanpa rasa skeptis, dengan gerakan memutar kugoreskan kuat-kuat sisi tertajam Shuanghua pada leherku. Detik itu juga, Shuanghua refleks kujatuhkan hingga runguku didengungi oleh nyaring suara benturan pedang dan tanah datar. Kedua tanganku dijejaki oleh cairan kental yang merembes keluar melalui luka basah yang melintang. Rasa sakit yang amat tak tertahankan mendera dengan hebat di sana.
Setelahnya, tubuhku ambruk di atas tanah. Deru napasku perlahan menipis bersamaan dengan melemahnya seluruh organ dan anggota tubuhku.
Maafkan aku.
Zichen ... aku menyesal.
Namun, aku tak pernah menyesali pertemuan kita. Sebab, bertemu denganmu adalah memorabilia terindah yang pernah kumiliki. Hanya saja, sampai akhir, aku selalu menyesal atas predestinasi yang menimpa kita.
Andaikata ... kita dipertemukan di garis waktu yang lain. Apakah akhir kisah kita akan jauh lebih indah? Ataukah, ini merupakan garis takdir yang tak mampu kita hindari?
Zichen, apa pun takdir yang telah dituliskan untuk kita, bolehkah aku berharap agar kita saling mengenal lagi di kehidupan lain?
-END-
