Work Text:
“Kamu sempurna.”
“Aku sudah bilang padamu, ‘kan? Jangan cintai aku apa adanya.”
Kau selalu katakan itu, Giyuu. Benar-benar kau ini— siapa yang membiarkanmu berkata seperti itu?
“Aku bukan orang baik, Sabito,”
Kau ‘lah yang buta terhadap kebaikanmu sendiri, Giyuu. Orang normal pasti takkan menampung dua remaja tanpa pikir panjang ke rumahnya, dan membuat mereka menjadi tanggung jawabnya. Tapi kau, yang seringnya susah beradaptasi dengan keadaan baru tanpa rencana; tanpa ragu membawa dua anak sebatang kara ke tanganmu sendiri.
“Aku sayang sama kamu,”
Senyummu itu— takkan pernah kulupakan. Hangatnya, jarangnya senyum itu terbit, dan betapa cerahnya sekali senyum itu mengembang.
Di malam-malam senyap, kau sering bertanya padaku;
“Apa kau mencintaiku, Sabito?”
Dan tak bosan-bosan aku menjawab;
“Aku mencintaimu, Giyuu Tomioka, dari bumi ke bulan, dari bulan ke bumi.” dan aku takkan pernah bisa lupakan bagaimana retina biru itu dipenuhi bintang-bintang cahaya. Harapan. Penerimaan.
Pertanyaan lain yang sering kau tanyakan ketika senja mulai menyingsing;
“Kenapa kau mencintaiku, Sabito?”
Dan tanpa bosan akan kujawab;
“Everything. Kamu sempurna,” dan aku takkan pernah ingin lupakan senyum kecilmu, yang diterpa aliran musik pohon dengan cahaya matahari tenggelam. Merona wajah pucatmu, lalu kau akan mencoba menyembunyikannya dariku.
“Apa yang kau tak suka dariku, Sabito?”
Dan aku tak tahu cara menjawab— tak tahu cara membuka mulut. Tak tahu cara mengirimkan suara ini untuk keluar dari kerongkonganku. Sebab, pikiranku sendiri ikut bingung bagaimana cara menjawab pertanyaanmu yang selalu mampu membuatku terkejut setiap harinya.
“Bagaimana kamu tak tahu cara melihat dirimu, seperti aku melihatmu.” aku sendiri bingung— rasanya kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Namun kau terlihat terkejut; sayangku, mengapa kau terkejut?
“Nanti aku disebut narsis, ‘bit,”
“Daripada kamu kurang pede? Manusia kayak kamu itu— sempurna! Jangan dikurang-kurangin!”
Aku terkejut. Bukan, bukan sebab suaramu yang meninggi— namun betapa keras kepala kau terlihat ketika mengucapkannnya. Kau selalu ‘lah keras kepala, namun aku tak pernah paham bagaimana bisa kamu begitu berani? Betapa hebatnya dirimu di mataku— ketika melakukan apapun.
“Apa kau tak percaya padaku, ‘gi?” tanyamu sengak; tatapanmu tajam, alismu menukik kesal. Aku sudah tahu betul apa artinya, aku bisa membaca ekspresimu dengan mudah.
“Bukan seperti itu, ‘bito..” aku mencoba beragurmen, namun aku tak terpikirkan kata-kata baru. Seringnya, aku menang dalam argumen di antara kita— jarang-jarang aku kehabisan kosa kata dan ide untuk membalasmu.
“Kamu itu pinter, pekerja keras, baik hati, bertanggung jawab— Tuhan, ‘gi, aku gapaham gimana kamu bisa melihat giyuu tomioka itu bukan orang yang baik.” dan aku hanya diam, tak mampu membalas. Aku tak mau menjawab, karena ‘ku tahu bahwa dengan tingkat keras kepalamu yang sudah setinggi ini— menjawab ‘tidak’ hanya akan membuatku makin terpojok; makin tak mampu bersilat lidah.
Sabito tahu betul dengan ekspresi Giyuu yang merungut tak senang; tapi tak ada jawaban yang keluar dari bibir yang Sabito akui miliki candu itu. Dari detail-detail kecil yang bisa Sabito lihat; bibir merengut, mata tak mau memandang ke arahnya, alisnya terlihat menukik sedikit— terlihat masih tak mau menyerah dan membiarkan Sabito, namun juga tak memiliki perlawanan.
Giyuu mengatakan ‘tidak’ kepada pernyataan Sabito tentang dirinya dalam diam.
“Come on,” Sabito mendesak— Giyuu membuang wajah. “ ‘gi, kamu ngomong gitu ke Tanjiro sama Nezuko— mereka bakal marahin kamu habis-habisan,” Tanjiro, dan Nezuko; Sabito tahu betapa protektifnya mereka pada Giyuu. Walaupun terhitung lebih tua; Tanjiro dan Nezuko terlihat masih memegang teguh dengan prinsip mereka sebagai anak yang dulunya pernah menjadi seorang ‘kakak’. Dan Giyuu yang diam saja— karena dia sendiri juga rindu diperlakukan layaknya ‘adik’, oleh orang lain.
Giyuu masih diam saja— oke, fine, Giyuu yang memaksa Sabito.
“Kakek bakal nampol kamu bolak-balik kalo dia denger kamu ngomong gitu,”
Giyuu terlihat bereaksi, sedikit. Sudut matanya menatap ke arah Sabito— yang masih menatap tajam kepada setiap gerak-gerik Giyuu. Punggungnya terlihat tegang, Giyuu terlihat seperti menahan napasnya.
Giyuu menghela napas. Dia menatap Sabito, kali ini dibalik warna biru mata itu— Sabito bisa lihat bahwa Giyuu menerima pernyataan Sabito, walaupun masih terhitung ‘tak yakin’ dengan apa yang barusan dikatakan Sabito.
“Tapi, ‘bit,” suara Giyuu menyatu dengan angin dingin sore itu, dan Sabito merasakan kedua tangannya digenggam hangat oleh si surai gagak.
“Jangan cintai aku apa adanya, ‘ya?” Sabito yang kini terdiam; mati kutu dengan ekspresi Giyuu. Walaupun terlihat seperti yang biasanya; dingin nan kaku, sekilas. Sabito bisa tahu dari bagaimana bibir Giyuu digigit bagian dalamnya, dan bagaimana Giyuu terlihat menyerah untuk melawan apa yang akan dikatakan oleh Sabito berikutnya.
“Kamu juga, jangan cintai aku apa adanya.” Dan tanpa pikir panjang— Sabito membawa Giyuu ke peluknya. Tangan-tangan itu terasa begitu putus asa, dan hanya bisa menggenggam erat Sabito.
Giyuu menggeleng di dadanya, suaranya senyap layaknya waktu yang terus berjalan— “Tapi kamu sempurna, ‘bit.” namun walaupun senyap, walau hanya bisikan, aku bisa merasakan bahwa kau sama keras kepalanya denganku. Kau tak akan menerima penolakan, dan aku tak yakin bahwa aku bisa memprosesnya dengan baik.
“Kamu juga sempurna buatku, ‘gi.”
