Chapter Text
"Lima menit lagi kita on air."
Hidung sutradara produksi berita yang setajam silet itu mengendus-endus ruangan.
"Oh, shit. Miras macam apa lagi yang kamu selundupkan di ruangan ini, Sam? Apa kamu sengaja membuat karirmu dalam masalah? Salah satu tamu kita hari ini adalah anak presiden!"
Sam Lysander Cassian, pewarta yang bertugas malam itu, menggumam enggan.
Skrip alias bahan untuk membantai narasumber, dihempaskan hingga meluncuri meja, nyaris menabrak sebotol Captain Morgan yang sudah ditenggak setengahnya.
"Sam, please. Kamu ini serius nggak, sih?"
Sutradara yang galak nyaris menjewer kuping Sam.
Untung ia lekas ingat, kalau pegawai yang cemerlang ini sampai ngambek dan mogok siaran, acara besar hari ini bisa gagal.
"Tolong, jangan permalukan seisi NTV. Kamu akan mewawancarai anak tunggal dari presiden kita: Haiden Ethan Adhikara. Putra Jonathan Adhikara."
"Wow, amazing." Sam merespon sarkastik, "Dulu aku tidak menyoblos orang itu saat Pemilu. Lalu kenapa sekarang saat dia mengacaukan negara aku harus ikut membersihkan sampahnya?"
Sam berdiri dengan malas, mematut jasnya di depan kaca.
Jujur saja, minggu ini ia sudah berniat untuk mengambil cuti karena tiket ke Vietnam sudah dibeli.
Namun, gara-gara kontroversi bodoh dari Jonathan Adhikara lawan komunitas pengusaha di daerah pinggiran kota, ia harus membatalkan jadwal liburannya dan terdampar di studio busuk ini, lagi dan lagi.
"Selamat malam, Pak Haiden."
"Oh, panggil Haiden saja."
Sam yang sudah duduk di balik meja siaran, pura-pura membetulkan lavalier mic-nya.
Dalam hati, ia meneguhkan niat selurus tiang bendera untuk membantai Haiden dan antek-antek bapaknya sampai habis-habisan malam ini.
Merdeka, atau mati.
Persetan dengan 'pihak oposisi' yang dihadirkan oleh NTV untuk ikutan merujak si putra mahkota Adhikara. Biar pun cuma sendiri, Sam yakin dia bisa membawa kemenangan besar tanpa bantuan siapa-siapa.
"Selamat malam, Sam."
Sam menoleh.
Seorang lelaki tampan berparas setengah bule, mengenakan jas Emernegildo Zegna dan sepatu pantofel mewah dari Silvano Lattanzi, ikut duduk di belakang meja siaran, sekilas membetulkan dasinya yang sudah terpasang sempurna.
Pria perfeksionis ini seperti membawa kebun bunga ke dalam ruangan; benar-benar wangi.
"Hai." Sam menyambutnya dengan senyuman paling manis. "Long time no see, Raja."
Tidak seperti Haiden yang terang-terangan tebar pesona ke seisi studio NTV, Raja Yustian Syailendra tampil lebih tenang dan bersahaja.
Terakhir kali, Sam bertemu Raja di Kyoto Gyoen saat pemuda itu membawa jalan-jalan anjing peliharaan adiknya.
Jian Archayan, anak tengah keluarga Syailendra yang playboy mampus dan suka kabur-kaburan ke seluruh dunia, meninggalkan anjingnya di apartemen mereka di Jepang untuk pergi ke Yunani, lalu menelepon kakak sulungnya agar segera terbang ke sana.
Singkat cerita, sejak hari itu, Sam mengikrarkan diri jadi salah satu dari sekian juta orang yang menaruh respek pada Raja.
Alasannya, pewaris utama kerajaan bisnis Syailendra itu begitu sabar menghadapi Jian yang menurutnya, sebelas-dua belas dengan boneka voodoo.
Kabar baiknya, malam ini, Sam dan Raja ada di kubu yang sama.
"Selamat malam, Sam Cassian dan..." Haiden sengaja ingin terlihat lupa pada nama pemuda di depan matanya. "Hm, sebentar. Kamu adalah Jian. Oh, bukan. Kamu Raja. Raja Syailendra."
Kalau saja tidak ingat ada selusin kru di depan mereka, Sam sudah memutar mata karena muak.
Anak presiden tidak mampu beli suplemen Omega-3? Pikun beneran tahu rasa.
Namun, Raja justru membalas kesombongan Haiden dengan kata-kata yang tidak kalah sadisnya, "Well. Sama namaku saja lupa. Gimana sama nasib rakyatmu?"
Sedetik kemudian, mereka berjabat tangan dengan mata berkobar-kobar.
Saat kamera on, Sam tidak bersusah payah untuk membuat pembukaan yang terlalu panjang.
Ia benar-benar tak sabar untuk meluncurkan serangan.
"Jadi, Haiden, saya dengar, pemerintah mengadakan ritual 'pembersihan' dengan cara klenik selama tujuh hari untuk mengatasi kasus keracunan limbah pabrik. Apa itu benar?"
"Ya, benar," Haiden tenang menjawab pertanyaan Sam yang meluncur seperti pedang. "Ritual pembersihan dilakukan karena di daerah aliran sungai dibangun pemukiman yang tidak seharusnya. Itu adalah kawasan sakral yang harus dijaga dan tidak seharusnya dihuni. Orang-orang membangun rumah tanpa izin hingga roh leluhur marah besar."
Tolong, Sam tidak tahu harus tertawa atau menyakar muka Haiden.
"Tapi bukankah cara itu terlalu kuno?" cecarnya lagi. "Penduduk di sana mengalami keracunan formaldehida. Mereka muntah dan mengalami iritasi saluran napas, tapi pemerintah di bawah pimpinan ayah Anda justru mengundang dukun untuk mengusir roh. Apa Anda ini hidup di tahun 1700-an?"
"Oh, jangan salah paham," Haiden tertawa sopan, membuat Sam makin kelabakan ingin menyekiknya. "Itu hanya salah satu cara. Kami juga mengundang ahli lingkungan untuk menangani ini. Siapa bilang pemerintah kita tidak pro-sains?"
Kita? Lo saja kali, gue enggak. Sam membatin geram.
"Tapi di lihat dari sisi mana pun, ini tidak masuk akal," sang pewarta melanjutkan. "Roh leluhur... Siapa yang mau percaya dengan omong kosong itu di zaman modern ini?"
"Saya setuju dengan Sam." Raja yang sejak tadi diam, akhirnya diberi kesempatan bicara, "Limbah yang mencemari air berasal dari pabrik pulp dan kertas. Seharusnya pemerintah mendukung biodegradasi agar limbah itu tidak merusak lingkungan."
"Tapi pabrik kertas itu milik Syailendra Ventures," Haiden bersidekap, menyeringai jahat, "kalau pabrik kertas itu dirobohkan hari ini juga, kira-kira apa Anda rela?"
"Itu memang milik Syailendra," Raja berkilah, "Tapi kami sudah bekerjasama dengan ahli AMDAL dari Amerika dan membayar semua kerugian yang timbul. Masalahnya, Presiden Jonathan bersikeras menggunakan ritual mistis untuk membereskan masalah!"
"Ya karena kita sebagai anak bangsa memang tidak boleh lupa pada ajaran leluhur!" Sama seperti Raja, nada suara Haiden pun meninggi. "Apa kami menentang kalian yang membawa sepasukan ahli Biologi dari luar negeri untuk mengatasi ini? Tidak 'kan? Tapi jangan salahkan kami kalau tetap ingin menggunakan cara tradisional untuk mengusir energi negatif!"
"Ini bukan energi negatif!" Sam bersumpah otaknya mulai kram gara-gara ini. "Kasus yang sedang dihadapi adalah pencemaran limbah! Rakyatmu tidak kesurupan! Mereka itu ke-ra-cun-an!"
Kru di balik layar yang tahu suasana memanas, segera memberi isyarat untuk break sejenak.
Jarang-jarang Sam Lysander Cassian yang super profesional terpancing emosi begini.
Namun, kali ini keadaan benar-benar tak terkendali.
Alhasil, di ruang ganti, Sam dimarahi habis-habisan saat jeda iklan.
"Memangnya kenapa kalau aku mengkritik pemerintahan ayahnya?" Terdengar ia membela diri karena dimaki-maki. "Coba pikirkan, Pak! Mengatasi masalah limbah dengan bantuan dukun, apa itu masuk akal?"
"Tapi dia presiden petahana, Sam!" Bosnya menjambak rambut. "Kamu mau kantor kita disegel dan karyawannya dipecat massal!? Mentang-mentang kamu sudah jadi kesayangan kantor sejak magang, jangan belagu! Mau sepintar apapun, kamu itu masih junior! Ingat kamu baru lulus D3 6 bulan lalu! Jangan sok pengalaman!"
"Ya, terus aku harus gimana, Pak? Stasiun TV kita 'kan netral! Bukan kendaraan politik! Kalau pemerintah punya kebijakan konyol, ya wajib dikiritiklah! Mau anak magang, orang lama, atau anak SD sekali pun, semua orang juga tahu kalau itu konyol!"
Lain Sam, lain pula Haiden.
Saat dua manusia di ruang ganti itu sedang berdebat dan hampir saling mencabik-cabik harga diri satu sama lain, Haiden tengah menyesap isi cangkir porselennya dengan santai.
Luar biasa. Kopi Blue Mountain dari Jamaika memang yang terbaik. Besok aku akan mencoba kopi dari Brasil.
Raja yang duduk di seberangnya, menatap Haiden dan berkata, "Jangan salahkan aku kalau gara-gara kasus ini, Jonathan Adhikara tidak akan terpilih dua periode."
Sebenarnya Raja hanya bercanda.
Masalahnya, Haiden langsung menerjemahkannya sebagai tantangan untuk duel sampai mati.
"Lalu siapa yang akan naik kalau ayahku dilengserkan?" balasnya langsung. "Stevan Syailendra? Ayahmu yang crazy rich itu hartanya masih belum cukup? Masih haus jabatan pula?"
Raja memilih untuk tidak merespon itu.
"Besok pasti semua headline media massa akan mencatut nama kita," ia mencoba mengalihkan topik sebelum genderang perang dilempar ke arena. "Pasti wartawan akan begitu beringas karena traffic website mereka akan naik tinggi kalau bisa meliput kita."
"Haha, kita?"
Haiden tertawa kalem, tapi terlihat sangat melecehkan di mata Raja.
"Jangan terlalu percaya diri, Raja. Hanya aku yang akan menghiasi portal berita. Kamu hanya peran figuran yang akan disensor namanya."
"Kamu pikir aku kriminal sampai harus disensor?" Raja menggeram, tersinggung betulan. "Aku heran kenapa orang sepertimu dan ayahmu bisa dapat kekuasaan."
"Heran kenapa?" Haiden membalas ringan, "Kami negarawan yang dicintai rakyat."
"Isso é besteira!"
"Jangan mengumpat dalam bahasa antah berantah. Terang-terangan saja kalau memang kamu bukan banci."
"Haiden!"
Teriakan Raja menggema sampai memenuhi studio, membuat pemimpin produksi yang sudah habis kesabaran gara-gara Sam, memutuskan untuk menghentikan siaran lebih cepat dan berganti pada acara lain yang lebih waras.
"Ampun! Kalau kayak gini, bisa gulung tikar stasiun televisiku!"
Sam tidak tertawa.
Ia hanya menatap dingin, seraya melihat dua bujangan tampan tapi bermasalah itu pergi ke mobilnya masing-masing.
Yang satu digiring oleh tiga bodyguards, yang satu dengan delapan anggota Paspampres.
Setelah mereka menghilang, Sam kembali ke ruang ganti karena masih punya tugas untuk menghabiskan botol mirasnya yang sempat terabaikan gara-gara acara sinting itu.
"Tahu gini aku terbang ke Hanoi tadi sore," ia merutuk kesal, "ingin rasanya aku mengatakan pada seluruh pemirsa bawa yang skrup otaknya belum longgar cuma Raja, dan akal sehat Haiden sudah menggelinding entah ke mana. Tapi, aaah, aku takut ketahuan kalau aku naksir Raja sejak ketemu dia di Kyoto waktu itu... Arrrghhh!"
Di tengah frustrasinya, Sam terkejut karena Shea—sahabat karibnya—menelepon tiba-tiba.
"Hai, Samantha. Do you wanna build a snowman?"
Shea, adik bungsu Raja, memang selalu memanggilnya dengan semena-mena.
Dia juga selalu bernyanyi kapan saja dan di mana saja.
"Ada apa?" Sam menghela napas. Fix setelah ini migrainnya kumat. "Elsa Syailendra?"
"Kamu sudah selesai siaran ya, Sam?" tapi ia tidak tega mengakhiri percakapan sekarang karena suara Shea begitu senang. "Sam! Guess what? Aku baru saja berdoa di kuil! Aku memasukkan beberapa persembahan untuk ujianku besok. Aku juga membakar dupa di bawah pohon beringin keramat agar arwah leluhur memberiku nilai A!"
Fine.
Selain Haiden bedebah itu, Shea Ellio Syailendra ternyata juga percaya klenik.
"Sejak kapan kamu berdoa di kuil? Apa agamamu? Kenapa setiap minggu berubah-ubah?"
"Entahlah." Shea menjawab bingung, "Menurutmu sebaiknya aku ikut aliran apa?"
"Apa saja boleh, asal jangan satanisme."
"Ah, oke!" Shea berseru. "Acaramu sudah selesai? Gimana Kak Raja? Makin tampan 'kan? Hari ini dia membelikan aku gelang terbaru dari Tiffany & Co., aku senang sekali!"
Ya. Ya. Ya.
Dasar si paling princess. Si paling 'kesayangan kakak'. Urat manjanya mengakar sampai berlapis-lapis seperti tanah galian fosil.
"Memangnya sekarang kamu di mana? Lembur belajar di perpustakaan kampus?"
"Di restoran Le Palais Royal," jawab Shea, "aku sedang me time."
Ah, seandainya saja Sam punya banyak waktu untuk bermalas-malasan seperti Shea, mungkin hidupnya akan sedikit lebih mudah.
Shea dikit-dikit pergi healing.
Sementara dirinya harus kejang-kejang dulu kalau mau minta cuti.
"Shea, kepalaku sangat pusing. Aku mau siaran lagi setelah ini," Sam berbohong, "aku pergi dulu, ya? Berbicara dengan tamu acaraku hari ini membuatku ingin harakiri."
"Hah, Kak Raja? Memangnya dia kenapa? Dia ganjen padamu, ya?"
"Bukan." Kalau iya sih, Sam malah bersyukur. "Maksudku, tamu yang satunya lagi. I can't stand that cockhead."
"Memangnya kenapa? Apa kamu suka awalnya, dan kecewa pada akhirnya? Tapi 'kan kamu selalu bilang kalau orang tampan biasanya memang tolol, Sam."
"Serius, bukan itu satu-satunya indikator untuk menilai kualitas seseorang!" Sam menandaskan isi botolnya, "Demi persahabatan kita, Shea, jangan pernah kamu dekat-dekat atau bahkan pacaran sama orang itu. Apa kamu paham?"
"Iya, paham." Shea menjawab riang, "Memangnya kita lagi ngomongin siapa, sih?"
Karena malas mengucapkan nama keramat itu untuk alasan apa pun, Sam buru-buru menutup telepon mereka.
"Setiap kali bertemu kunyuk Syailendra itu, suasana hatiku jadi buruk. Si brengsek itu membuatku makin sadar kalau diriku tidak ada gunanya. Sudah ribuan kali kukatakan pada Ayah jika ide untuk menenangkan arwah leluhur itu sangat bodoh, tapi Ayah sama sekali tidak mendengarkan aku."
Haiden berbicara pada supir dan pengawalnya sambil menatap kaca mobilnya yang sangat gelap.
Gerimis kecil telah turun membasahi kota. Namun, udara dingin tetap tak becus memadamkan api yang mengamuk di hatinya.
"Carikan aku restoran privat yang paling sepi," Haiden tiba-tiba merasa perlu sendirian, "mungkin Le Palais Royal."
"Tapi kita harus menelepon dulu kalau mau datang ke sana," pengawalnya ragu, "mereka pasti perlu waktu untuk mengosongkan tempat..."
"Aku tidak peduli. Itu 'kan tugasmu."
Apa boleh buat, "Baik, Mas Haiden."
"Dan jangan sampai ada wartawan yang menguntit kita."
"Siap laksanakan."
Haiden sama sekali tak peduli saat laki-laki yang lebih tua darinya itu berdebat kecil dengan seseorang di telepon.
Mungkin manajer restoran sialan itu terlalu pecundang untuk mengusir seluruh pelanggannya saat itu juga.
"Maaf. Dia tidak bisa langsung mengosongkan restorannya, Mas. Mereka akan bertanya pada owner-nya, dan itu perlu waktu sekitar satu jam."
"Payah," Haiden berkomentar dingin, "sini, biar kutelepon sendiri owner-nya."
Seperti senjata penghancur bumi yang racunnya tidak bisa ditangkis oleh siapa pun, titah Haiden yang meluncur lewat sambungan telepon pendek dengan CEO Le Palais Royal segera berefek besar.
Manajer restoran yang malang jadi harus menyembah-nyembah semua pengunjung mereka agar bersedia angkat kaki tanpa mengamuk.
Puluhan pelayan juga harus minta ampun karena ada beberapa di antara mereka yang bersikeras sudah booking tempat.
"Mana bisa begitu! Kalian mengusirku seperti ini, apakah itu sopan? Kakakku sudah memesankan tempat ini untukku sejak dua minggu lalu! Lihat, ini bukti reservasinya, atas nama Jian Archayan Syailendra!"
Tentu saja, salah satu pengunjung yang keberatan karena harus ditendang saat sedang enak-enaknya menyuap steak, adalah Shea.
"Mohon maaf, tapi kami benar-benar harus tutup," seorang pelayan malang yang di hari pertamanya bekerja sudah diuji dengan cobaan seberat itu, menyodorkan voucher premium dengan tangan gemetaran. "Mohon terima ini untuk kunjungan Anda selanjutnya. Free appetizer, main course, dan dessert senilai lima juta..."
"Siapa yang peduli dengan semua itu?" Shea mencebik. "Aku cuma butuh me time!"
"Saya berjanji ini tidak akan terjadi lagi," si pelayan terlihat siap mencium ujung kakinya kalau Shea tiba-tiba tantrum dan menendang meja. "Saya tahu ini tidak sopan, tapi kami menghadapi situasi emergency dan restoran harus segera dikosongkan."
"Kenapa kalian sangat menyebalkan?" Shea membanting lap tangannya dan meraup tas, "Aku akan memberi kalian rating rendah di Zomato, aku bersumpah demi arwah leluhurku. Mereka tidak akan membiarkan kalian hidup tenang!"
"Mohon maaf sekali lagi"—tapi diteror roh jahat terdengar seribu kali lebih baik daripada cari penyakit lawan anak presiden—"mari, pintu keluar di sana."
Alih-alih mengikuti tangan pelayan yang belum berhenti tremor, Shea justru mengambil arah yang lain.
"M-maaf, tapi pintu keluarnya di-"
"Mau ke toilet dulu, nih!" Shea memekik kesal. "Apa pipis dilarang juga?"
"T-tidak!" Si pelayan hampir kehilangan separuh nyawa, "S-silakan."
Dengan kesal, Shea membanting pintu.
Di dalam bilik, ia sengaja mengulur waktu untuk balas dendam.
Sebenarnya dia tidak kebelet sama sekali.
Alih-alih buang hajat, Shea justru membuka aplikasi komik online dan berniat melahap minimal sepuluh episode sebelum keluar dari toilet.
"Enak sekali jadi si Sooha-Sooha ini."
Biasanya Shea iri, tapi kali ini ia benar-benar kesal sampai ingin menguleni kerak bumi.
"Aku juga mau dibucinin Heli kalau dia betulan ada."
Menunggu Shea yang malah baca Webtoon tanpa perasaan, pelayan restoran yang sedang berdiri di depan pintu toilet, semakin deg-degan karena manajernya menghampiri dengan gusar.
"Siapa yang masih ada di dalam? Haiden Adhikara akan sampai satu menit lagi!"
"M-maaf, Pak! O-orangnya kebelet, takutnya cepirit kalau tidak diizinkan," dia bingung harus ngeles apa. "M-mungkin sebentar lagi dia keluar..."
"Siapa yang peduli dia cepirit, ngompol, atau boker di celana sekalipun!?" Manajernya frustrasi. "Mas Haiden bisa ngamuk kalau masih ada orang lain di sini saat dia datang!"
Sumpah, si pelayan malang mempertanyakan kebodohannya sendiri karena ikut nyoblos bapaknya orang itu saat pemilu empat tahun lalu. Bikin nyesel aja, jurig!
"Pokoknya aku tidak mau tahu, seret orang itu keluar atau besok jangan datang lagi ke mari!"
Pelayan malang mencakari tembok setelah si manajer mengeluarkan ultimatum.
Dia sudah mengusahakan segalanya. Menggedor-gedor pintu. Memohon-mohon untuk dikasihani, bahkan memutar suara jeritan kuntilanak dari ponselnya agar si tamu lari terbirit-birit dan binasa dari restorannya.
Namun, segala usahanya berakhir ampas.
Tamu cantik yang keji itu benar-benar tidak mau tahu.
Pintu toilet laknat tidak kunjung terbuka.
Si pelayan sadar, ini saatnya say 'annyeonghaseyo' pada status pengangguran.
"Apakah restorannya sudah steril?"
...atau say 'shut up, motherfucker' pada manusia otoriter yang baru saja masuk dari pintu utama dan langsung nyalang mengawasi seisi restoran mereka.
"Selamat datang, Mas Haiden," manajer dan pasukan kamikaze-nya takzim menyambut. "S-sudah, semua tamu sudah diminta keluar."
Sungguh bosku berani mati. Pelayan malang berseru dalam hati. Dia punya nyali untuk mengibuli anak presiden!
"Baguslah."
Tak ada seorang pun yang bisa berbuat apa-apa saat lintah penghisap darah itu melangkah masuk dan mengambil kursi di tengah-tengah.
"Bawakan aku menunya."
Si manajer buru-buru menyodorkan daftar makanan termahal, dan beberapa kali menelan ludah tapi tenggorokannya seperti disumbat bola bekel.
"Silakan, Mas Haiden."
Sungguh, padahal gerak-gerik Haiden tak berbeda dari biasanya.
Laki-laki muda itu hanya beberapa kali menyarukkan rambut hitamnya ke belakang, menampilkan jidat supremacy, dan mengawasinya dengan sorot mata intimidatif yang mampu menggerogoti tulang.
Selebihnya, Haiden memang seperti itu nyaris 24 jam. Kaku, kolot, dan menyebalkan.
Lalu kenapa sekarang situasinya terasa sangat horor? Apa seharusnya mereka bawa sesajen supaya khodam Haiden sedikit terkontrol?
Setengah menit membaca, Haiden berkata, "Aku ingin foie gras untuk hidangan pembuka. Sambil menunggu, aku mau ke toilet."
Mampus.
"A-anu, klosetnya sedang mampet, Mas."
Seribu satu alasan siap dilontarkan, "Tadi kami sudah memanggil teknisi sanitasi untuk membetulkan, tapi sepertinya ada yang masih harus dibereskan."
"Tidak masalah, aku cuma mau cuci muka."
"Tapi kemarin ada kejadian horor di toilet!" Ayo putar otak biar dia tidak masuk ke sana. "Kemarin ada rambut panjang dan gimbal keluar dari saluran air dan mencekik cleaning service."
"Oh," Haiden merespon datar, "lalu cleaning service-nya tidak apa-apa?"
"D-dia selamat, sih, tapi trauma seumur hidup."
"Ya sudah, kalau begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tim dokter kepresidenan punya psikiater dan psikolog yang handal kalau aku trauma juga," tangannya terulur. "Berikan kuncinya. Aku tidak mau ada yang membuka pintu toilet saat aku di dalam."
Saat kunci sudah berpindah tangan, Haiden tidak menunggu sampai si manajer bilang 'iya'.
Dengan langkah-langkahnya yang panjang, ia berjalan menuju toilet, sekilas bersitatap dengan pelayan malang yang sedang berpikir untuk segera mencari loker baru.
Haiden keheranan karena gadis muda itu pucat pasi seperti habis disengat kobra.
"Kamu kenapa?" tanyanya, "Baru lihat penampakan?"
Lagi-lagi, ia tidak menunggu lawan bicaranya merespon, Haiden membuka pintu dan menguncinya dari dalam.
"Aneh sekali hari ini," ia meregangkan otot dan menatap wajahnya yang lelah di depan kaca. "Sepertinya aku butuh liburan ke Las Vegas."
Haiden tidak merasa ada yang salah sampai suara aneh muncul dari bilik toilet paling ujung.
"Demi arwah-arwah leluhurku yang menjaga tanah dan keluarga kami, kamu seharusnya pergi dari sini dan jangan menggangguku!"
Kening Haiden berkerut. Apa itu hantu?
Ia lanjut mendengarkan benar-benar.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke toilet ini!?"
Sekarang, Haiden kebingungan.
"Apa dia sedang bicara denganku?"
Tentu saja itu yang ia pikirkan. Di sana sama sekali tak ada orang lain.
Pelan-pelan, kaki tegap Haiden mendekat ke bilik.
Di dalam sana—entah setan, entah manusia—sedang bersikeras menggugat keadaan.
"Sudah kubilang kamu harus pergi! Sangat tidak sopan mengganggu orang yang sedang ke toilet! Apa kamu mau kucekik dan kubenamkan kepalamu ke dalam kloset!?"
Refleks Haiden menoleh lagi ke arah kaca, mengamati ukuran kepalanya.
"Apa iya kepalaku muat masuk ke sana?"
"Dasar sialan! Kamu pikir aku tidak bisa mengenyahkanmu? Jangan coba-coba masuk ke dalam celana atau bajuku!"
Haiden kali ini tercengang.
Siapa juga yang mau masuk baju atau celananya? Memang tampangku secabul itu!?
"Permisi." Akhirnya ia menyerah karena penasaran. Ketukan pelan itu menandakan bahwa Haiden sudah siap ketemu setan penghuni tempat ini, "Apa ada masalah di dalam?"
Ia menunggu, tapi tidak ada yang respon lain yang muncul, selain berondongan sumpah serapah itu.
"Sialan! Sialan! Kamu berada di atasku!"
Oh, posisi misionaris?
"Gyaaa! Sekarang kamu berada di belakangku!"
Loh, ganti gaya jadi Doggy style?
Haiden mulai yakin di dalam sana ada dua orang pelaku perbuatan asusila.
"Permisi, bisakah kalian keluar?" Ketukan yang tadinya pelan kini jadi makin barbar. "Hello, there!"
"Heli! Heli! Tolong aku, Heli!"
Siapa pula itu Heli? Tukang ledeng?
"Please jangan berani-beraninya masuk bajuku!"
"Hei!" Karena tidak sabar, Haiden mendobrak, "Apa yang kalian lakukan di situ? Berbuat mesum!?"
...dan ia tidak menemukan apapun kecuali sesosok makhluk pucat yang ketakutan setengah mati karena melihat laba-laba kecil merayap di dinding.
"S-siapa kamu? Kenapa kamu buka pintu toiletku?"
Haiden tadinya yakin makhluk itu bukan manusia, tapi dirinya mendadak bimbang karena kaki pucat itu tidak melayang beberapa senti di atas lantai.
"Kamu membuat suara mencurigakan, jadi pintunya kudobrak saja," Haiden merasa harus menjelaskan, "Maaf kalau aku lancang, tapi kamu benar-benar membuatku panik."
Tanpa mendengarkan penjelasan Haiden, si pucat yang lebih mirip malaikat daripada hantu itu melompat keluar dan heboh sendiri.
"Tolong, aduh, binatangnya masuk bajuku!"
Ia berusaha keras menepuk-nepuk punggungnya.
"Aduh, ini gimana!?"
"Biar kubantu," meski biasanya malas, kali ini Haiden melakukannya dengan sukarela. "Ya ampun, tidak mau keluar juga. Sepertinya bajumu harus dibuka."
"Tidak!" Si hantu histeris, "Adakah cara lain!?"
"Aku ragu," Haiden menggeleng, "Dia benar-benar keras kepala dan tak mau keluar dari bajumu."
"Astaga, bisa-bisanya! Kalau pun dia sudah pergi, aku tidak mau lagi pakai baju yang dirambati laba-laba!"
"Ya sudah, buka saja. Sini kubantu lucuti kancingmu."
"Jangan melucutiku! Aku malu!"
"Yang atas doang, elah! Bawahnya aman!"
"Janji aman?"
"Janjilah! Pasti aman, kecuali kamu yang kegatelan."
Saat baju branded itu teronggok di bawah kakinya, Shea melompat ke gendongan Haiden karena laba-laba brengsek itu merayap pergi.
Haiden hampir mengatakan, 'Tenang, itu bukan spesies berbahaya," tapi urung karena hantu pucat yang memeluknya itu, tanpa sengaja menyalurkan kehangatan lewat kulitnya yang tak berlapis garmen.
"Aku sangat takut..."
"Tenang. Ada aku." Oh, padahal aku juga takut. Aku takut kehilangan akal sehat. Dia begitu wangi. Hidungku seperti tersiram air sabun dan otakku ditenggelamkan ke rendaman bunga mawar.
"A-apa laba-laba itu sudah pergi?"
Kuharap belum, sayang.
Aku masih betah gendong-gendongan.
"Sudah, kamu bisa turun." Haiden berdeham, berusaha tetap cool. "Ugh, tubuhmu sangat berat. Apakah kamu biasa makan sekarung beras?"
Bibir merah sedikit mencebik karena kesal dan malu, tapi ia tetap minta maaf, "Aku sudah membuat kekacauan. Ini sangat memalukan."
Kalau saja tidak ingat untuk mengontrol diri, Haiden nyaris menjilat bibir saat melihat si kulit pucat itu memeluk tubuhnya yang topless dan gemetaran.
"Kalau telanjang begitu, bagaimana kamu pulang?" Haiden bertanya, "Kamu tidak punya jaket atau apapun yang bisa dipakai? Takutnya kalau keluyuran telanjang kamu digaruk Satpol PP karena dikira gembel."
"Aduh, tidak ada jaket," si cantik menggeleng, tatapannya mengibakan, "tadi sebenarnya aku sudah mau pulang—tunggu! Kamu Ethan Adhikara, 'kan?"
Haiden keheranan.
Jarang-jarang ada orang memanggilnya Ethan.
"Ah, sepertinya aku harus menelepon orang rumah untuk membawakanku baju. Tapi pasti lama..."
"Apa kamu mau pakai bajuku?" Haiden membuka kemeja putihnya, "Aku ada jas dan pakaian ganti di mobil."
"J-jangan!" Lawan bicaranya sangat malu, "Aku tidak bisa mengambil barang orang lain secara cuma-cuma."
"Siapa bilang ini cuma-cuma?" Haiden mengeluarkan ponsel. "Beri aku nomor teleponmu."
"N-nomor telepon?"
"Iya. Biar aku bisa memberitahumu ke mana kamu harus mengantar bajuku setelah selesai dicuci."
"Ooh..:"
"Kamu jangan ke-GR-an. Kamu pikir aku punya waktu untuk menerormu dengan chat-chat ganjen atau sleep call tengah malam yang tidak ada gunanya?"
"O-oke...," apa boleh buat, bagaimana pun ia berhutang budi pada lelaki ini. "Sini, biar aku yang ketik. Tapi jangan di-spam stiker ya, Mas."
"Tidak," Haiden menyerahkan ponselnya, "paling ku-spam PPP."
Makhluk manis di depannya mendengkus kecil, kemudian berkata, "Ini nomorku. Hubungi aku besok atau lusa, terserah. Bajumu akan kucuci hari ini juga dan bisa kamu ambil secepatnya."
Tanpa melihat ke layar ponselnya, Haiden tersenyum penuh kemenangan, "Thanks."
Makhluk pucat yang memikat itu tak mengulur waktu untuk segera membuka pintu setelah memutar anak kunci. "Aku pergi, ya."
"Tunggu."
"Kenapa lagi?"
Haiden bertanya frontal, "Dijemput pacar?"
"..."
"Naik taksi atau dijemput pacar?"
Canggung, "D-dijemput supir."
"Oh," berdeham, "memang pacarmu di mana?"
Sebuah gelengan bingung, "Aku belum punya pacar."
Terima kasih, Tuhan. "Oke. Hati-hati di jalan."
Saat pintu berat itu tertutup, Haiden tersenyum sendiri, "Ada-ada saja."
Saat Haiden kembali muncul ke meja tengah dalam keadaan bertelanjang dada, para pengawal dan pelayan saling bertukar tatap.
"Kenapa?" tapi dia malah bertanya, "Ada yang salah denganku?"
Tanpa rasa berdosa, Haiden melanjutkan santap malam esklusifnya tanpa merasa perlu pakai baju dulu.
Sepanjang ingatannya, belum pernah ia menyantap hati angsa seenak ini—atau barangkali sudah, tapi tanpa ada momen di mana dia tak sengaja bertemu bidadari dan berhasil mendapat nomor teleponnya semudah menjentikkan jari.
Mungkin itulah yang membuat malam ini berasa tak tertandingi.
"Mari pulang, Mas Haiden. Mobil sudah siap di depan."
Haiden mengangguk dengan sumringah, "Pak, besok antar aku ke rumah seseorang untuk mengambil baju."
"Baik. Ke rumah siapa, Mas?"
"Ke rumah... Oh wait, namanya...," ia membuka ponsel dan menggulir-gulir layar demi menemukan kontak yang baru saja disimpan. "Sebentar."
Namun, cuma gara-gara membaca sebaris nama, Haiden jadi ingin undur diri dari muka bumi dan menetap selamanya di antariksa.
"Fuck!"
Ia menghela napas berat seolah gumpal-gumpal oksigen mendadak raib dari sekelilingnya.
"Kenapa, Mas Haiden? Apa semua baik-baik saja?"
"Namanya Shea Ellio Syailendra... Apa dia ada hubungan dengan Raja Syailendra?"
Haiden tidak gwenchana.
"Ah! Tapi mana mungkin? Masa bidadari khayangan saudaraan sama kunyuk!?"
Bersambung
