Actions

Work Header

Adik

Summary:

Sung Suho ingin punya adik

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Di suatu rumah besar dengan struktur 2 lantai, tinggal satu keluarga kecil yang dihuni oleh seorang detektif, seorang mantan atlit lari, dan seorang anak berusia 9 tahun. Keluarga kecil ini hidup di pinggiran kota yang cukup terpencil dan sunyi. Di dalam rumah besar tersebut, seluruh anggota keluarga, tanpa mempedulikan jumlah makhluk yang tinggal di dalam bayangan sang detektif, sedang menikmati makan malam.

Masakan dari tangan ibu rumah tangga di rumah tersebut, bila boleh melebih-lebihkan, lebih lezat daripada masakan koki terhebat di Korea Selatan bagi sang suami dan anak. Makan malam selalu berjalan dengan tenang meskipun ada anak kecil di meja karena si anak memang seseorang yang pendiam seperti ayahnya.

Usia anak tunggal dari keluarga Sung akan segera menginjak 10  tahun, pesta kejutan sudah disiapkan jauh-jauh hari. Banyak kolega kerja ayah dan teman dekat ibu yang akan datang tak lupa teman satu kelas sang anak. Semua persiapan pesta sudah komplit dengan catatan disembunyikan di dalam bayangan sang ayah karena Sung Suho memiliki jiwa petualang dan tidak ada yang tidak dapat si anak temukan selama benda tersebut berada di sekitar rumah.

Hanya satu hal yang kurang, yaitu hadiah yang diinginkan oleh sang anak. Suho tidak pernah meminta apa pun selain buku gambar dan crayon. Sung Jinwoo melihat ke arah Cha Hae in, begitu pula sebaliknya. Setelah perang saling menatap, akhirnya Jinwoo membuka mulut.

“Suho, bagaimana harimu?”

“Baik ayah” jawab Suho “Hari ini Suho dan teman-teman di sekolah belajar menanam kacang hijau”

“Wah bagus sekali” kata Jinwoo “Ngomong-ngomong, apakah ada yang saat ini Suho inginkan?”

‘aahh…. ayah dan ibu menanyakan apa yang kuinginkan di hari ulang tahunku’ pikir Suho. Sang anak yang sebetulnya cukup cerdas, menggoda ayahnya “Maksudnya bagaimana ayah? Suho sudah memiliki semua yang Suho inginkan.”

“Emmm.. maksud ayah apakah Suho ingin sesuatu seperti sepeda atau jam tangan”

“Suho sudah punya ibu dan ayah. Menurut Suho ibu dan ayah sudah cukup untuk hidup Suho” jawab sang anak “Kalau ayah dan ibu tidak ada di hidup Suho, bagaimana Suho bisa bahagia?”

Jawaban sang anak yang sangat perhatian membuat Jinwoo kebingungan dan menatap istrinya. Haein menatap Jinwoo dengan tatapan lelah sedangkan Suho menyembunyikan seringai kecil saat sang ayah tidak melihat.

‘Anak kita sudah tahu kenapa kau bertanya. Langsung saja to the point.’

“Suho, ayah ingin tahu apakah ada yang Suho inginkan sebagai hadiah ulang tahun” kata Haein. Jinwoo membelalak, lalu melihat sang anak yang akhirnya menunjukkan senyum usil ke arah sang ayah. Lalu menggaruk kepalanya sendiri setelah sadar baru saja digodai oleh anaknya.

Setelah menunggu beberapa menit, Suho menjawab “Suho mau punya adik. Teman-teman banyak yang disebut dewasa sama guru karena punya adik.”

Mendengar jawaban sang anak, Jinwoo hanya bisa tersenyum sedangkan Haein tertawa kecil. Mereka memang sedang berpikir untuk menambah anak namun siapa sangka Suho juga ingin keluarga kecil mereka bertambah.

‘Suho, menjadi seorang kakak adalah tanggung jawab besar. Kami tidak akan terlalu memperhatikanmu seperti sekarang setelah adikmu lahir. Apa kau yakin ingin menjadi seorang kakak?” tanya sang ayah kepada Suho. Beru, komadan pasukan bayangan yang sedari tadi diam di dalam bayangan Suho membusungkan dada.

‘Jangan khawatir Yang Mulia. Tuan Muda tidak akan kekurangan perhatian selama aku menjaga Tuan Muda! Hahahahahahaaa’

Jinwoo segera memberikan tatapan tajam ke arah Beru sebelum sang anak menyadari bayangannya bergerak sendiri.

“Yakin ayah” jawab Suho “Kata ibu guru semua laki-laki yang punya adik pasti bisa menjadi pria hebat karena mereka sudah melindungi saudara dan saudari mereka sedari kecil. Suho ingin menjadi pria hebat seperti ayah” 

Shadow Monach tertegun.

‘Menjadi pria hebat ya’ 

Jinwoo kembali mengingat memori di dunia yang sudah berputar kembali. Jinah bangun di waktu subuh untuk membuatkannya sarapan sebelum pergi ke dungeon padahal harus ikut ujian pagi, Jinah yang menangis diam-diam di dalam kamar setiap kali sang kakak pulang terluka, Jinah yang tersenyum di hari ulang tahun hanya dimasakkan mie goreng namun diam-diam melihat harga cake di toko kue, Jinah yang mukanya terluka saat dungeon break terjadi di sekolahnya, Jinah yang menjadi murung selama satu minggu setelah selamat dari dungeon break…..

‘Bahkan setelah menjadi kuat pun aku hanya seorang pecundang yang hanya bisa membuat adikku menderita’

“Apa yang dikatakan gurumu tidak salah. Tapi ayah bukan seorang kakak yang hebat.” Jinwoo berkata dengan nada yang lembut namun bayangan di kakinya bergerak gelisah. Sang anak menggeleng “Tante Jinah selalu cerita ke Suho kalau ayah adalah kakak terbaik di dunia. Kata Tante, kalau ayah tidak ada, Tante Jinah tidak akan punya cita-cita untuk menjadi dokter.”

Jawaban Suho membuat Jinwoo kembali bernostalgia. Di dunia ini Jinah berhasil mendapat beasiswa dan mengambil kuliah kedokteran di luar negeri. Di dunia sebelumnya, Jinah hampir dikeluarkan dari sekolah karena sering bolak balik ke rumah sakit untuk menjenguk sang kakak.

‘Jinah ingin menjadi dokter karena kenangan diriku sekarat di alam bawah sadarnya saat Ruler memutar ulang waktu’

Cha Haein melihat ekspresi Jinwoo dan menarik nafas pelan. Dia sudah cukup lama mengenal Sung Jinwoo untuk memahami bahwa sang suami kembali mengingat kenangan menyakitkan di dunia sebelumnya. Sang istri tersenyum lalu berkata “Sayang, kita memang ingin punya anak lagi bukan? Kurasa Suho sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang kakak.”

Mendengar suara sang istri tercinta, Jinwoo kembali fokus ke masa kini.

“Kalau mama dan papa kasih Suho adik maunya laki-laki atau perempuan?” kali ini Haein menggantikan suaminya bertanya pada Suho sebelum sang suami mulai memeluknya dan membenamkan wajah di leher Chaein, sesuatu yang akan dia lakukan bila kenangan buruk menyerang kepalanya “Sayang, anak kita melihat” bisik Chaein ke Jinwoo. Namun seakan tidak peduli, pelukan Jinwoo semakin erat di tubuh Haein.

“Aku mau adik laki-laki supaya bisa kuajak main game. Tapi kalau ibu dan ayah cuma bisa bikin anak perempuan juga tidak apa-apa”

Kata-kata tersebut cukup membuat suami istri keluarga Sung membeku “Apa maksudmu membuat adik?” tanya Chaein ke Suho

“Bikin anak. Di dalam kamar ayah dan ibu melakukan sesuatu yang tidak boleh aku lihat. Kadang-kadang ayah dan ibu melakukannya di dapur, di ruang tamu, saat sedang liburan, dan saat aku harus menghabiskan waktu menginap di sekolah. Kemudian muncul bayi di perut ibu.”

Jinwoo melepaskan pelukan dari tubuh istrinya, dia dan Haein saling memperhatikan satu sama lain. Mendengar jawaban Suho, sudah pasti bukan mereka berdua yang menjelaskan cara membuat anak.

“Ehem, ayah dan ibumu berdoa pada Tuhan supaya ada bayi muncul di perut ibu. Doa itu harus serius makanya kami melakukannya saat Suho tidak melihat ayah dan ibu” Haein berusaha mensensor informasi yang baru mereka dengar ke sang anak.

“Kalau begitu mulai hari ini Suho akan terus berdoa ke Tuhan supaya cepat dapat adik. Suho akan berdoa tanpa ayah dan ibu supaya Tuhan tahu Suho serius.”

Perkataan super polos Suho membuat pasangan keluarga Sung langsung bernapas lega.

“Anak baik. Bantulah ayah dan ibumu berdoa” Jinwoo mengelus kepala Suho lembut. Memang salah kalau membohongi anak apalagi Jinwoo sendiri mengetahui Tuhan di dunia mereka sebetulnya sudah tiada. Namun ini masih lebih baik daripada anak berusia 9 tahun mengetahui cara berbuat asusila lalu karena penasaran mempraktekan perbuatan asusila tersebut.

Setelah makan malam, Suho masuk ke kamarnya untuk lanjut menggambar. Jinwoo membersihkan dapur sedangkan Haein menelepon guru di sekolah Suho untuk menanyakan apakah edukasi seksual sudah diimplementasikan di sekolah.

Meskipun Jinwoo dan Haein berusaha memberikan anak semata wayang mereka adik, selalu ada gangguan saat proses pembuatan adik.

Ya, menjadi makhluk terkuat di bumi memang penuh resiko. Termasuk mana-mu meningkat pesat melebihi mana semua makhluk di bumi saat bersenggama dengan pasangan sehingga memancing monster di luar bumi datang menyerang dan kau harus meninggalkan pasanganmu sebelum kalian selesai memuaskan diri. 

Sungguh, berhasil mebuat anak tunggal mereka adalah berkah. Hanya pada saat itu tidak ada monster datang ke bumi.

Di hari ulang tahun ke-10, Sung Suho menerima sepeda baru dari kedua orang tuanya. Suho menerima hadiah tersebut dengan baik. Bila Tuhan belum memberikannya adik, maka Suho akan terus berdoa sampai Tuhan mengirimkan adik ke perut ibunya.

Tetapi kalau boleh jujur, Suho yakin sang ayah memiliki masalah dalam cairan mani. Makanya ayah dan ibu belum memberikannya adik hingga sekarang. Ya, Sung Suho paham proses reproduksi dengan baik di usia 9 tahun. Tidak ada guru di sekolah yang mengajari sang anak.

Darimana Suho tahu? Dari sosok bertubuh besar dan berwarna hitam menyerupai kesatria dengan bulu merah di atas kepala dalam mimpi Suho.

Notes:

14 tahun kemudian, di luar angkasa.

“Kenapa kau ajari anakku cara membuat anak? Waktu itu dia masih 9 tahun”

“Yang Mulia, ada baiknya Tuan Muda dapat segera memiliki keturunan agar Nona Cha Haein dan Tuan Muda tidak kesepian saat anda harus menghilang dari hidup mereka seperti saat ini“

“Tapi dia masih 9 tahun. Sekarang Igris, kau disetrap! Turunkan kepalamu ke tanah!”