Actions

Work Header

di bulan juli, aku bercerita sedikit tentangmu

Summary:

Berhenti keras kepala, kau itu sangat berharga.

Jadi,

Selamat ulang tahun, Timothy Jackson Drake-Wayne.

Notes:

ini latarnya habis kejadian di 'Robin: Vendetta', tapi kalau belum baca juga gapapa sih soalnya emang blm beres.
ditulis dalam rangka ulang tahun pacarku, sekaligus monthly prompt BPC 'aku yang menceritakan kamu'.

I published this at 12am July 19th, but because timezone thing it published as 18th July on ao3 lmao.

Work Text:

Ya, aku menulis surat untukmu. Kenapa?

Jangan tertawa. Baca saja.

Aku tidak minta maaf kalau tulisan tanganku tidak terbaca.

Bercanda.

Jadi ....

Apa kau ingat saat kita pertama kali bertemu?

Ketika aku melangkah masuk melewati pintu yang terkunci karena penasaran dengan suara misterius yang berasal dari dalam sana, aku malah menemukanmu.

Kau terikat di sebuah kursi yang dibaut permanen ke lantai, kedua tangan dan kakimu dililit tali, tidak bisa digerakkan barang satu senti pun. Jujur saja, saat itu penampilanmu tampak sangat menyedihkan. Mukamu lebam, sebelah matamu bengkak, kulitmu teriris hingga mengeluarkan darah, maskermu hilang hingga identitas aslimu terekspos, dan alat-alat berharga yang bisa membantumu keluar dari situasi itu lenyap entah kemana.

Kau terlihat lemah dan tidak berdaya, seolah kau sudah melakukan apa pun yang kau bisa dan menggunakan otak jeniusmu untuk berpikir, tapi hasilnya tetap nihil.

Aku menyadari ekspresi wajahmu yang merengut tapi juga penuh harap tiap kali kau mencoba menarik pergelangan tanganmu yang memerah. Kau tidak terlalu berharap padaku yang duduk di hadapanmu—aku tahu kesan pertamaku tidak terlalu bagus, aku mengerti. Kau berharap pada teman atau keluarga yang kau miliki untuk segera datang dan menyelamatkanmu. 

Waktu itu, aku memang menyebalkan karena membuatmu frustasi nyatanya sedikit menghibur.

Tapi, sungguh, aku tidak suka melihat orang baik sepertimu berada dalam keadaan seperti ini. Kau tidak pantas menerimanya. Kau hanya orang yang salah di tempat yang salah, kau sungguh tidak beruntung malam itu. Aku jadi kasihan—tidak biasanya aku merasa kasihan.

Pada akhirnya, aku membantumu melepaskan diri dari jeratan tali yang membuat pergelangan tangan dan kakimu lecet. Belati yang kuciptakan mengiris tali tersebut dengan mudah.

Kau bebas. Kau tampak lega, aku juga sama.

Aku sudah seperti penyelamatmu, kalau saja kau tidak bertanya kemana semua orang pergi dengan ekspresi penasaran yang tampak dan aku tidak menjawab kalau aku yang membunuh mereka semua sambil tersenyum tanpa sedikit pun bergeming.

Aku melakukan kesalahan.

Keadaan berbalik total setelahnya. Kita menjadi musuh, berada di dua sisi koin yang berbeda. Aku membunuh, kau tidak membunuh. Aku menganggap membunuh hanyalah bagian dari pekerjaanku, sedangkan kau membenci ide dari membunuh itu sendiri, kau pahlawan.

Padahal, saat pertama kali melihatmu, aku menaruh harapan kalau kita bisa berteman dekat. Kau cukup menggemaskan saat itu, aku mulai menyukaimu. Kau tipeku.

Aku selalu bertanya-tanya.

Apa yang akan terjadi kalau waktu itu aku tidak mengaku kalau aku membunuh mereka semua?

Apa yang akan terjadi kalau dari awal aku bukan seorang assassin?

Mungkin keadaan akan berbeda dari sekarang. Mungkin semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai yang kuinginkan. Mungkin kita bisa langsung menjadi teman dekat saat kita melangkah keluar dari gedung tersebut, atau mungkin lebih dari itu. Aku jago mendekati laki-laki, loh.

Tapi, kalau dipikir-pikir, begini lebih seru, ya?

Aku kabur darimu yang tidak pernah berhenti mengejarku.

Yah, meskipun mengejarku sebagai buronan, sih.

Aku terharu. Kau bertekad kuat, seolah kau tidak akan pernah menyerah—dan kau memang tidak pernah menyerah.

Jujur saja, melihatmu yang seperti itu, aku jadi mulai merasa sedikit bersalah atas apa yang telah kulakukan selama ini. Seolah-olah kau membuatku menyadari perasaan yang aku sendiri tidak tahu kalau aku memilikinya, menyadari kalau aku salah dan aku harus berhenti. Sejak saat itu aku mulai merenungkan hidup yang telah kujalani sebagai senjata hidup penghabis nyawa.

Sampai Black Water sialan itu mengincar nyawamu.

Keinginan balas dendamku jadi semakin besar.

Saat peluru tersebut meluncur ke arahmu, aku bergerak mengikuti insting dan melindungimu dengan tubuhku. Aku tidak terluka sama sekali sih, toh, aku punya kemampuan kebal senjata. Tapi, kau bisa terluka. Kau hanya manusia biasa, senjata seperti itu akan membunuhmu dengan sangat mudah, dan mengetahui kalau mereka ingin kau mati membuat darahku mendidih.

Aku sungguh tidak ingin kau terluka.

Aku sungguh ingin melindungimu.

Meskipun waktu itu aku sempat membuatmu lumpuh dengan racunku, sih. Tapi kau harus mengerti kalau aku melakukan itu semua demi kebaikanmu sendiri, agar kau mau mendengarkanku dan berhenti mengejarku atau mencari tahu tentang mereka.

Oh, ya, apa kau ingat saat kita melawan sekelompok pria sialan yang mencoba membunuhmu?

Aku dengan kekuatanku, kau dengan tongkatmu. Bersama, kita menjatuhkan mereka. Waktu itu, aku tahu pasti kalau kita bersatu, kita bisa menjadi tim yang sangat hebat. Benar, 'kan?

Apalagi saat aku mencuri grapple gun-mu, kemudian menggendong tubuhmu untuk melompat dari atas gedung dengan sebuah rencana yang pastinya tidak pernah kau pikirkan. Kita berdua kabur dari gedung tersebut menaiki truk bak terbuka. Sementara kau menyetir dan memikirkan rencana, aku melawan seorang metahuman sombong yang mencoba menghentikan kita.

Dia tidak berhasil, tentu saja. Kita, 'kan, yang terhebat.

Aku sedikit mengacaukan rencanamu, sih. Aku keras kepala, jadi aku ikut tenggelam bersama metahuman sialan tersebut dalam air yang dipenuhi aliran listrik, nyaris kehilangan nyawaku kalau saja kau tidak melompat ke dalam dan menarikku ke tepi, menolongku.

Aku sangat berterima kasih, dan juga sangat tidak enak karena aku membuatmu pingsan sehabis kau membangkitkanku dari ambang kematian dengan napasmu.

Maaf saja, tapi Black Water waktu itu benar-benar membuatku murka.

Dan aku lagi-lagi membunuh.

Aku tahu kau kecewa, tapi aku tidak bisa memaafkan mereka.

Kau tidak pernah menyerah, begitu juga aku. Kita dua orang yang keras kepala ya? Hanya saja, kau selalu mengandalkan otak jeniusmu dan kompas moral yang kau miliki, sedangkan aku selalu mengandalkan otot dan rasa benci yang kumiliki. Tapi, tepat saat aku berpikir ini tidak akan pernah ada habisnya, kau berhasil menangkapku—aku sama sekali tidak menduganya.

Hahaha, aku, Vendetta The Weapon Master, kalah hanya karena sebuah linggis.

Lucu, kalian tahu kalau linggis bukan senjata.

Pintar.

Tapi, harus kuakui keluarga-keluargamu sangat kuat. Bukan, yang kumaksud bukan kekuatan fisik, melainkan kekuatan yang lain, yang ada dalam hatimu. Kau dan keluargamu memiliki sesuatu yang tidak kumiliki. Ikatan, kepercayaan, kasih sayang, dan hal lainnya. Itulah yang membuat kalian menang. Kalian tidak sendiri, kalian memiliki dan percaya satu sama lain.

Jujur saja, aku sangat iri.

Hari itu, permainan kejar-kejaran kita pun berakhir.

Lalu, setelah itu kita ...,

Ah, aku stop di sini, deh. Nanti spoiler.

Tentang aku yang akhirnya beralih profesi dari assassin jadi vigilante serta aku yang beralih peran dari seorang pembunuh jadi pacarmu yang sangat kuat akan kuceritakan di lain waktu saja, ya. Aku tahu kau akan selalu menyempatkan waktu untukku, meskipun kau selalu malu-malu tiap kali aku menggodamu tentang hal itu. Tenang saja, aku tidak akan memamerkannya.

Hei.

Terima kasih karena telah membantuku, terima kasih karena telah menerimaku, terima kasih karena telah mencintaiku. Kau sangat berharga dalam hidupku, teramat sangat, dan aku tidak akan pernah mau kehilanganmu. Kalau hari itu tiba, aku akan membakar dunia—bercanda.

Sebut saja aku cringe, tapi kau tahu kalau aku tidak akan peduli.

Aku juga tidak peduli tentang apa yang mereka katakan padamu, pada kita.

Kau tahu aku sangat kuat, 'kan? Aku bisa membuat ribuan senjata, dan semuanya akan kugunakan untuk melindungimu. Ya, aku akan selalu melindungimu. Meskipun kau selalu keras kepala dan berkata 'harusnya aku yang melindungimu!' dan aku tidak pernah mau dengar. 

Berhenti keras kepala, kau itu sangat berharga.

Jadi,

Selamat ulang tahun, Timothy Jackson Drake-Wayne.

Ya, pintar, kau ulang tahun hari ini. Aku tahu kau lupa ulang tahunmu sendiri, seperti tahun lalu.

Aku ada di sini untuk mengingatkanmu, menjadi orang pertama yang mengucapkannya.

Kapan lagi ada orang yang jam 12 malam memberimu selamat ulang tahun sambil menyebut nama lengkapmu seperti ini dan menulis surat panjang lebar dengan tulisan tangan yang mudah dibaca serta gambar-gambar lucu di pinggiran kertas? Hanya aku.

Jangan lupa buka kadonya, ya, pretty baby.

Aku menunggu reaksimu.

Untuk wish-nya, akan kuucapkan secara langsung saja. Aku ingin menciummu.



— Love, V.

 

P.s. Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu diculik orang lagi. Aku, 'kan, pelindungmu.