Actions

Work Header

Pandora's Box

Summary:

"Jue Viole Grace?" Gadis di hadapan mereka menatap Bam, tatapannya agak rumit. Ekspresinya ragu namun putus asa. "Salam kenal ... Aku Daphne. Grace Daphne Khun."

Bagaimana jika suatu hari seseorang mengaku sebagai anakmu dan terlebih lagi kenyataan bahwa sahabatmu di masa depan akan menjadi pasanganmu?

Bam menemukan bahwa "anaknya" di masa depan terlempar ke masa kini. Dia terpisah dengan saudaranya dan senjatanya (yang jelas bukan senjata biasa) entah bagaimana menjadi perebutan dalam Turnamen Workshop. Kini tim Bam memiliki misi penting sebelum melanjutkan ujian selanjutnya. Cari Grace Arie Khun, rebut Blue Mars, dan temukan cara untuk mengirim mereka kembali.

Notes:

Ini adalah fanfic TOG pertamaku untuk mengurangi kehausanku akan bamkhun, mohon dimaafkan jika tidak jelas dan banyak kesalahan 🙏🏻

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Prolog

Chapter Text

Lantai 134, Bagian Luar Menara, Kapal Induk GRACE, Istana Pribadi

"Tuan Putri, kamu kembali." Seorang gadis keluar dari kapal terapung yang mendarat di halaman istana. Helai rambut biru mudanya berayun saat dia mengangguk singkat kepada penjaga yang berdiri menyambutnya. "Joe, di mana yang lain?"

"Yang Mulia dan Tuan baru saja pergi ke Istana Induk. Mereka bilang ada rapat dengan Kepala Keluarga yang lain. Pangeran Ari berada di kamarnya dan Tuan Muda Isaac mengurung diri di bengkel dari sebulan yang lalu."

Gadis itu berdecak kesal. "Apa lagi yang dikerjakan Pak Tua itu? Aku heran Papa tak mengomelinya tujuh hari tujuh malam."

Joe di sampingnya hanya bisa tersenyum pasrah. Andai saja dia melihat Tuan Aguero bolak-balik ke bengkel tiap hari sembari uring-uringan. Tampaknya Tuan Muda Isaac begitu keras kepala hingga si pemimpin Keluarga Khun menyerah di hari ke tujuh. Ah, itu juga tak luput dari Yang Mulia yang membela Tuan Muda Isaac sehingga kekesalan Tuan mereka bertambah.

"Kau selalu membelanya! Lihat betapa dia jadi keras kepala sekarang!"

Joe melihat Tuan Aguero melenggang pergi setelah melempar omelan pada Yang Mulia. Yang Mulia hanya mendesah tanpa rasa bersalah, dia lalu menatap kepada Joe yang berjaga di depan pintu istana dan menepuk pundaknya. "Anggap saja ini pelajaran untuk menjadi orang tua bagimu di masa depan."

Haha. Tiba-tiba Joe bisa membayangkan masa depannya dan tak mampu menahan keringat dingin.

Putri satu-satunya keluarga Grace melenggang pergi dari halaman istana. Dia tidak masuk ke dalam istana. Sebaliknya ia berbelok ke kanan mengitari istana, menuju ke bengkel yang terletak di belakang. Pintu bengkel tertutup dari luar dan suara apapun yang berasal dari dalam teredam oleh penghalang shinsu.

Gadis itu mendengus, dia hanya melangkah satu kaki ketika pintu langsung terbuka dengan keras akibat aliran shinsu yang dikeluarkannya. Siluet seorang pemuda yang tengah duduk di kursi langsung tertangkap retinanya. Dia mengenakan luaran kemeja hitam dengan kaos putih. Rambut cokelatnya yang panjang menyentuh pinggang dikuncir kuda. Sebuah gambaran meludah dari ayah mereka jika mengecualikan irisnya yang berwarna biru terang.

Pemuda itu nampak tak terpengaruh dengan ledakan shinsu yang tiba-tiba, jemarinya masih fokus mengotak-atik pinggiran ... cermin?—yang tingginya sekitar sedada pemuda itu.

"Lihat! Adik kecilku telah kembali! Bagaimana turnamenmu?"

Daphne ingin menghantam wajah kakaknya yang melempar senyum menyebalkan jika dia bisa. Sayang sekali kecepatannya belum bisa menyaingi Isaac. Dia lebih tahu untuk tidak membuang-buang tenaga untuk hal yang sia-sia.

"Joe bilang kau sudah mengurung diri selama satu bulan. Apa yang kau kerjakan?" Daphne mengamati sekeliling bengkel, lalu tatapannya terjatuh pada senjata sabit ganda berwarna biru yang disegel dalam lemari kaca. "Blue Mars? Kau sudah mengaktifkannya?"

Isaac beralih dari pekerjaannya dan menghampiri Daphne. Dia membuka lemari kaca dan mengalirkan shinsu pada segel yang mengapit gagang Blue Mars dengan lemari. "Yah seperti yang dikatakan Ayah, itu cukup mudah. Blue Mars langsung mengakui kita sebagai pemiliknya."

Senjata itu tingginya sekitar 175 cm, hampir menyamai tinggi Daphne sendiri. Bagian atas dan bawah senjata tersebut adalah sabit berwarna biru keperakan yang tajam dengan gagang hitam pekat.

Blue Mars adalah Senjata Jiwa yang ditempa oleh ayah mereka dengan jiwa Griffin di dalamnya. Griffin secara sukarela mengajukan diri saat kabar bahwa Khun mengandung Daphne tersiar.

"Hmph! Anggap saja ini balas budi karena kau membebaskanku di lantai 136." Begitu kata Griffin saat ayahnya bercerita.

Jauh sebelum Isaac lahir, terjadi perang yang melibatkan banyak aliansi di menara, termasuk FUG, Zahard, dan 10 Keluarga Besar. Perang tersebut ditujukan untuk menggulingkan takhta Zahard. Orang tua mereka, Jue Viole Grace dan Khun Aguero Agnes, bersama timnya ikut terlibat dalam perang.

Perang itu berlangsung selama berbulan-bulan. Bahkan aliran shinsu di menara menjadi kacau setelah perang berakhir. Jue Viole Grace menggantikan peran Zahard sebagai raja setelah perang berakhir. Dalam hiruk pikuk peperangan, Khun Aguero Agnes berhasil mengalahkan Khun Eduahn dalam pertaruhan. Kini Khun Aguero Agnes adalah Kepala Keluarga Khun dan Jue Viole Grace ada raja menara.

Tentu bukan Viole yang mencanangkan ide untuk menjadi raja. Setelah perang berakhir, Zahard dan 10 Keluarga Besar menyerah. Zahard menawarkan takhtanya untuk Viole. Viole jelas tak mau, namun menara butuh pemimpin untuk membawa mereka semua ke lantai lebih tinggi yang telah dibuka oleh Zahard. Awalnya Viole menolak, tetapi atas desakan FUG dan 10 Keluarga Besar, bahwa menara akan lebih mudah menerima identitas Viole—baik sebagai "Pembunuh" Zahard, Putra Arlene dan V, "Dewa FUG", dan julukan terbarunya "Dewa Menara"—maka Viole mau tak mau menerima agar tak menyebabkan konflik lebih lanjut.

Butuh waktu 10 tahun agar konflik benar-benar mereda. Saat Zahard melepas takhtanya, dia memutuskan untuk membangun keluarga sendiri. Dengan begitu kini terdapat 11 Keluarga Besar dengan Jue Viole Grace sebagai pemimpin menara.

24 tahun telah berlalu setelah peperangan, kini mereka masih memanjat menara setelah lantai 135 dibuka. Sejauh ini mereka berhasil mencapai lantai 140 dan para petinggi dari 11 Keluarga Besar serta aliansi tengah berusaha menemukan kunci untuk membuka lantai 141. Sebab itulah Viole dan Khun menghadiri rapat di Istana Induk.

Istana Induk terletak di lantai 134 di mana sebelumnya Zahard memimpin. Lantai ini resmi dijadikan lantai kekaisaran dan segala kegiatan kerajaan berlangsung di sana. Sementara itu Kapal Induk GRACE merupakan tempat bagi para anggota FUG tinggal. Sederhananya setelah FUG menuntaskan tujuan mereka untuk "membunuh" Zahard, tentu saja FUG akan mengikuti Viole sebagai "Dewa" mereka dan mengganti identitas menjadi "GRACE". Kini mereka bisa dibilang organisasi pro kekaisaran atau biasanya disebut pro Grace karena identitasnya yang sudah menjadi "Dewa Menara".

Omong-omong, Istana Pribadi adalah tempat Viole dan keluarganya tinggal. Viole dan Khun memutuskan untuk menikah setelah 1 tahun perang berakhir dan memiliki anak setelahnya. Anak pertama mereka ialah Grace Isaac Khun yang kini berusia 23 tahun. Lalu 4 tahun setelah kelahiran Isaac, mereka menyambut putri mereka, Grace Daphne Khun. Beberapa hari setelah ulang tahun kedua Daphne, mereka memastikan bahwa Khun tengah mengandung seorang putra, dan dia adalah si bungsu Grace, Grace Arie Khun. Dan si bungsu kini tengah bersandar di pintu bengkel—yang entah sejak kapan dia sudah ada di sana.

"Jadi? Blue Mars hanya akan aktif jika keluarga kita adalah penggunanya?" Kita, maksudnya ialah Viole, Khun, Isaac, Daphne, dan Arie.

Isaac bersenandung membenarkan. Baik dia dan Daphne sama sekali tak terkejut akan kemunculan Arie yang tiba-tiba.

Tidak seperti Isaac dan Daphne yang mempertahankan rambut panjang mereka. Arie memiliki rambut cokelat dengan potongan pendek. Papa mereka berkata bahwa dia mirip dengan sang Ayah saat masih muda. Tentu saja kecuali irisnya yang berwarna biru terang dan fitur wajah yang tajam.

Isaac melanjutkan pekerjaannya mengotak-atik barang yang tampak seperti cermin setelah dia menyerahkan Blue Mars pada Daphne.

"Aku penasaran dengan apa yang kau kerjakan selama satu bulan ini hingga Papa uring-uringan." Arie berjongkok di depan cermin yang dikerjakan Isaac. "Apa ini? Hanya cermin?"

Isaac menghela napas. Lalu dia hendak menjawab, tapi rautnya tampak bermasalah. "Tidak ... Aku sebenarnya punya dugaan."

Daphne berdiri di samping Arie, kedua lengan disilangkan, alisnya terangkat.

"Saat aku pergi ke pelelangan, aku tidak bermaksud membeli ini." Tunjuk Isaac pada cermin. "Kemudian Bibi Hwaryun ada di sana dan dia berkata kepadaku bahwa itu adalah barang yang bagus."

"Itu saja?"

"Tidak! Tentu saja tidak!" Ayolah, mana mungkin dia membeli di pelelangan hanya karena seseorang berkata itu bagus?! Yah, meski yang berkata demikian adalah Hwaryun, tapi tetap saja Isaac punya targetnya sendiri!

"Apa ada sesuatu yang spesial tentang cermin itu?"

Hwaryun terdiam sejenak. Namun setelah beberapa saat dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung lelang. "Jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, bagaimana kau akan melakukannya, Tuan Muda?"

"Berengsek! Jangan bilang itu mesin waktu?!"

Isaac menghela napas. "Yah, kurasa."

"Papa tidak tau ini bukan?" Daphne menatap tajam pada saudaranya. Karena jika Khun tau, dia pasti sudah menyita barang tersebut.

Isaac menggeleng. "Tidak. Aku selalu menyembunyikannya saat Papa datang."

"Kalau begitu sepertinya tidak akan terjadi masalah jika kau tidak mengaktifkannya?"

"Tidak seperti aku tahu caranya." Dia sudah mencoba berbagai cara untuk mengaktifkan cermin itu. Namun tak peduli apapun yang dilakukannya, benda itu tidak mau menyala.

Isaac bangkit dan berjalan ke sudut bengkel. Mengambil kain untuk menutup cermin ketika suara panik Arie terdengar. "He-hei, Isaac ... Kak, kau bilang itu tidak aktif kan?"

Isaac berbalik. "Ya, kenapa—"

"Arie!!"

BLAR!!

Dia hanya sempat melihat raut terkejut di wajah Daphne dan Arie sebelum ledakan shinsu terjadi. Bengkel itu hancur. Gelombang ledakan membuat Isaac terlempar ke luar bengkel.

"Tuan Muda!" Jon dan beberapa penjaga langsung tiba di sisinya. Isaac berlutut di satu kaki. Menghalangi pandangannya dengan lengan. Ketika dia mendongak ke arah bengkel, hanya kumpulan puing-puing dan asap yang terlihat. Cermin yang tadinya utuh sudah pecah berkeping-keping. Baik Daphne maupun Arie tidak terlihat di manapun.

Isaac mengumpat. "Papa akan membunuhku."

Notes:

Orang-orang dalam dialog Joe di awal bab:

Yang Mulia: Viole
Tuan: Khun
Tuan Muda: Isaac
Tuan Putri: Daphne
Pangeran: Arie

Pada dasarnya keluarga mereka termasuk keluarga kerajaan karena status Viole sebagai raja. Oleh sebab itu baik Daphne dan Arie dipanggil dengan julukan Tuan Putri dan Pangeran.

Isaac tidak ingin dipanggil Pangeran di Istana Pribadi mereka, sebab itu orang-orang di sana memanggilnya Tuan Muda. Khun di luar Istana Pribadi biasanya disebut sebagai "Kepala Keluarga" dan Viole tetap "Yang Mulia".

Timeline:
- Perang melawan Zahard dan 10 Keluarga Besar
- Zahard dan 10 Keluarga Besar dikalahkan
- Khun Aguero Agnes berhasil mengalahkan Khun Eduahn dalam pertaruhan dan menjadi Kepala Keluarga Khun
- Zahard menawarkan takhta pada Viole dan gerbang lantai 135 dibuka
- Viole menjadi raja atas desakan FUG dan 10 Keluarga Besar
- FUG mengganti identitas menjadi GRACE
- 1 tahun setelah peperangan, Viole dan Khun menikah
- Khun mengandung dan melahirkan Isaac
- Zahard memutuskan membangun keluarga sendiri sehingga saat ini terdapat 11 Keluarga Besar di menara
- Para penghuni menara mulai memanjat lagi dan Viole membebaskan Griffin saat dia menaiki lantai 136
- 4 tahun setelahnya, Daphne lahir
- 2 tahun setelahnya, Arie lahir
- Masa kini

"GRACE" adalah organisasi pro kerajaan (nama sebelumnya: FUG), sedangkan "Grace" ialah marga Viole beserta keturunannya (diambil dari Arlene Grace).

Aku tidak berencana membuat prolog sepanjang ini. Tapi mau bagaimana lagi