Actions

Work Header

Love was here.

Summary:

"Love was here." among their bleeding bodies, and trust.

Notes:

Commissioned by anonymous.

Work Text:

Untuk yang kesekian kalinya, Jongseong datang dengan keadaan paling mengenaskan untuk dipandangi, Heeseung telah menghela nafasnya sebanyak tiga kali. Menurutnya, Jongseong itu vampire hunter paling bodoh yang pernah dia kenali. Orang gila mana yang rela menyelamatkan the most wanted vampire seperti Heeseung cuma karena dia pikir Heeseung lebih penting daripada hidupnya sendiri. Jadi vampire hunter adalah satu-satunya pilihan yang Jongseong miliki sebab kota di mana dia tinggali kini jauh dari kata aman sebab populasi vampire yang meningkat pesat. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah menjaga dirinya. Juga karena Jongseong mumpuni menjadi seorang vampire hunter, lelaki itu punya fisik di atas rata-rata manusia biasa, lalu komite vampire hunter kota merekrutnya sebagai anggota beberapa tahun silam.

Jadi vampire hunter tak sesulit yang Jongseong pikirkan; banyak vampire setengah manusia yang bisa dibilang bukan tandingannya, mereka imitasi dari pureblood, amatiran dan masih baru. Pengalamannya belum banyak, tapi Jongseong dikenal sebagai vampire hunter yang tak pernah gagal memburu makhluk immortal tersebut.

Menjadi vampire hunter juga berarti merelakan semua yang Jongseong punya hanya untuk melindungi yang butuh dilindungi. Pertama kalinya Jongseong jadi vampire hunter, tapi lelaki malah mengacau sebab dia malah terpikat pada sosok immortal tersebut, tanpa dia duga. Dan di luar kendali nya.

Jongseong boleh jadi vampire hunter yang kuat, secara bersamaan dia adalah seseorang yang sangat naif dan imatur, dia bukan seorang amatiran, bukan juga pendatang baru vampire hunter. Tapi orang tolol mana yang rela menjaga vampire buronan ibu kota cuma karena kepalang cinta?

You could just let them go aja tadi, toh gue bisa langsung teleport dan lo nggak perlu sampai berantem sama vampire hunter dari kota lain, the scale is bigger now, gue nggak dicari cuma di kota ini aja tapi di kota sebelah juga.” Jongseong bukanlah Heeseung yang sekali terluka bisa langsung pulih seketika, mau bagaimanapun juga Jongseong cuma manusia yang masih bisa merasakan sakitnya kulit tergores luka. Mau Heeseung jadi makhluk yang paham seberapa besar pain tolerance yang Jongseong miliki, dia akan tetap ikut mengasihani.

Vampire itu kini mengaduh kecil, sekujur tubuh Jongseong dipenuhi luka dan semua hanya karena dia yang lagi-lagi nekat membantu Heeseung kabur dari sasaran vampire hunter lain. Dia rela terluka demi menolong Heeseung yang tak menolongnya sama sekali. Tidak pernah adil bagi Jongseong, tapi lelaki itu rela melakukan apa saja untuk Heeseung supaya dia tak kemana-mana. Tak pergi dari pelukannya. Tidak pernah kedengaran adil bagi Jongseong, sebab Heeseung yang memanipulasinya sedemikian rupa.

“Mereka masuk territorial terlarang kota kita, so I have to handle them and kick them out of the town.”

But was it necessary?

‘’Kalau soal nyelametin lo dari bahaya, berarti penting.’’

“Bukan jawaban itu yang gue mau denger, damn it Jongseong stop keras kepala dan nyakitin diri sendiri.”

“Terus lo maunya gue jawab gimana?”

Kediaman mereka terasa lenggang. Jongseong selalu keras kepala seperti yang biasanya Heeseung hadapi. Jongseong selalu keras kepala kalau urusannya soal melindungi Heeseung tanpa mempedulikan apa-apa lagi.

Heeseung nggak menjawab, helaan nafas keluar dari bibirnya,“Come here, my little hunter, gue obati luka lo.”

The  audacity to keep wanting to take care of me setelah ninggalin gue dikeroyok vampire hunter lain?’’

‘’Makanya jangan berulah! Gue nggak minta lo bantuin gue sampai segitunya.” Yang ditanggapi oleh tawaan arkas dari Jongseong. Kalau soal bela Heeseung, Jongseong sepertinya rela-rela saja bahkan jika resikonya adalah diarak warga karena telah membelot seenaknya.

Heeseung memang nggak pernah meminta Jongseong untuk terus menjaganya seperti sedemikian rupa, tapi Heeseung sendirilah yang membuat Jongseong mempertaruhkan nyawanya untuk dia, dengan sukarela.


“Dia gue aja yang urus.”

Nggak ada di dalam bingo list vampire hunter seperti Park Jongseong mau mengurus spesifik vampire mana yang mau dipantau di kemudian hari. Permintaan tiba-tibanya untuk mau mengintai Lee Heeseung, salah satu the most wanted vampire di kota mereka itu tak menimbulkan kecurigaan berlebih. Park Sunghoon, vampire hunter nomor sekian yang ada di areasama dengannya, rekan satu timnya pun berhasil ikut tergocek. Malam di mana Jongseong pertama kali bertemu Heeseung, tugasnya adalah berpencar di hutan bersama Sunghoon. Lalu berhasil terjerat dijerat oleh si pureblood.

“Ada perkembangan soal si pureblood?” mereka biasa menyebut Heeseung sebagai si Pureblood. Dan untuk pertama kalinya Jongseong menggelengkan kepala pada Sunghoon sebagai kebohongan nomor satu demi menutupi keberadaan Heeseung. Motel 501, jadi tempat paling aman untuk keduanya tanpa orang lain tahu Jongseong kerap mendatangi Heeseung yang menyewa motel tersebut.

“Terakhir kali gue nemu jejaknya di Westville, habis itu nggak kelihatan lagi karena dia pasti teleport. But locals said dia harusnya belum jauh.” Motel 501 cuma ada di pinggiran kota yang letaknya jauh sekali dari Westville dan markas besar vampire hunter. Lima kali kebohongan yang Jongseong rangkai akan menimbulkan kebohongan lain, tersusun rapih seolah dia memang mengintai Heeseung kemanapun dia ditugaskan pergi, seolah dia siap kapan saja menyergap si pureblood di mana saja Jongseong bisa menemukannya.

“Bagus. Kalau gue nemu jejaknya, gue kabarin lo juga.” Tentu saja. Yang dilakukan Jongseong justru berlawanan arah dengan apa yang Jongseong ungkapkan pada Sunghoon. Dia mengambil resiko seperti membual untuk melindungi vampire pureblood yang bisa mengoyak dan mencabik-cabik tubuhnya kapan saja. Entah di luar kendalinya, atau dia memang sudah kepalang bahagia menderita demi renjana.


Bohong kalau Heeseung tak mau Jongseong selalu ada untuk mencecap bibirnya setiap malam. Bohong kalau Heeseung tak mau menjamah tubuh yang punggungnya penuh luka, ㅡkebanyakan adalah karena ulahnya. Guratan-guratan kasar yang membekas, entah karena pertarungannya dengan vampire yang diburu Jongseong, atau karena kuku dan gigi Heeseung sendiri yang seakan ikut memburu tubuh kekar di hadapannya.

Heeseung mengecup pundak dengan bekas luka bakar besar milik Jongseong, membiarkan ranum merah itu menguasai kulitnya.

I told you not to play with fire.”

I told you not to kiss it.”

Senyap. Jongseong cuma kembali menghisap batangan nikotin di tangan, dengan Heeseung yang masih menciumi pundak lelakinya.

Bekas luka bakar itu juga Heeseung sendiri penyebabnya; lari dari vampire hunter lain membuatnya harus hampir membakar habis pundak Jongseong yang bertahan untuk menahan dan mengulur waktu. Lagi-lagi soal Jongseong yang keras kepala, dan Heeseung yang kerap menggunakan kesempatan itu untuk menyelamatkan dan menyembunyikan Heeseung. Semua yang bisa dilakukan Jongseong akan jadi kesempatan untuk Heeseung berlari sejauh yang dia bisa dari buruan para vampire hunter. Bersembunyi di balik perlindungan yang Jongseong selalu berikan. Dan seharusnya Heeseung nggak perlu se-egois itu kalau nggak ingin mengikat Jongseong lebih jauh ke dalam permainannya.

Are you not afraid of me?

I am the one you should be afraid of, Heeseung.”

I doubt that. Even if you were told to throw me to the fire…..Jongseong, you can't do it.”

Jongseong tertawa, tak menyangkal sama sekali.

“Terus, kalau lo gimana. Would you mind risking your life for me too.

Tidak ada jawaban tertera atas goresan luka yang Heeseung selalu berikan. Tapi harusnya cukup membuktikan banyak hal yang Jongseong nggak bisa pahami semudah menjentikkan jari. Heeseung lebih kompleks daripada yang dia kira. Heeseung lebih tak bisa dipahami secara kasat mata. Semua yang Heeseung lakukan untuk Jongseong, melindunginya dalam diam supaya pembelot sepertinya nggak harus sama-sama diburu vampire hunter lain, menyembuhkan luka-luka yang kembali lagi dia berikan, merawat dan tinggal di sisi Jongseong. Semua yang dilakukan untuk Jongseong mungkin nggak pernah akan cukup.

“Lo nggak bisa jawab pertanyaan sesederhana itu, Heeseung.” Tepat sasaran. Heeseung nggak yakin dia bisa bertahan di keadaan di mana dia harus terus-terusan menggunakan Jongseong sebagai alat. Yang Heeseung yakini adalah, betapa dia ingin selamanya bisa merengkuh tubuh di hadapan tanpa harus menjadikannya tameng untuk bersembunyi dari dunia. Jongseong terus meragukan dirinya; rasa cintanya. Tapi Heeseung juga tak ingin bersusah payah memperbaiki sisi yang rumpang. Heeseung tak bersusah payah untuk meyakinkan Jongseong lagi sebab sudah seharusnya dia tak memperdaya Jongseong dengan kekuatannya.

And what if I told you to stop…. berhenti peduli sama gue, berhenti buat jagain gue because your fucking job is hunt me, not taking care of me. Jongseong, you're a vampire hunter. “ Jongseong already knows. He fucking knows it.

Punggung Jongseong menegang, dia tak mungkin salah dengar sebab suara Heeseung terasa menusuk sekujur tubuhnya dari jarak sedekat ini. Kepalanya bahkan tak sanggup menoleh.

“Pekerjaan lo aja udah bahaya banget, Seong… apalagi harus ngekeep gue terus kayak gini.”

I don't mind, Heeseung.” Of course he doesn't. Tentu saja Jongseong rela. Tapi semakin Jongseong terperosok jauh, semakin Heeseung kebingungan apakah kekuatannya masih bekerja; apakah manipulasi nya masih sama. Atau semua yang dilakukan Jongseong memang atas kemauan lelaki yang lebih muda semata. He is trippin by his own spell. Dan Heeseung hanya tak ingin memperkeruh keadaan. 

Please,” Jongseong tak pernah menemukan Heeseung sampai bisa memohon seperti ini.

I don't think I will use you anymore. Sunghoon was not on my priority list anymore so you don't have to do that. I'm tired of using you all over again… you're a vampire hunter, Seong. Get yourself together.”

Jongseong tak merespon ucapan Heeseung selain dengan tawaan sarkas yang kembali dilayangkan.

“Lo suruh gue balik ke hidup gue sebelum ketemu lo, maksudnya? But what a cost, Heeseung.” Dada Jongseong seperti dicabik meski kuku dan taring Heeseung tak bekerja untuk mengoyaknya.

Heeseung yang tiba-tiba datang bukan hanya sanggup menghancurkan hidup Jongseong saja, tapi juga segala yang Jongseong punya. Tubuh dan perasaannya ikut hancur lebur bersama rasa cintanya.

You already took everything for me.” And destroyed all of it because he is too much to stay in love. Jongseong tersenyum getir. Punggungnya bergetar hebat dan Heeseung tak bisa melakukan apa-apa lagi.

Kamar mereka semakin senyap, tersisa nafas menderu dari keduanya.

How are you so sure I care about this?“ Bibir Heeseung ikut bergetar, semakin banyak kata yang dikeluarkan dari bibirnya adalah sesuatu yang sanggup menghancurkan Jongseong lebih banyak lagi. Supaya Jongseong bisa membencinya setengah mati.

About us. About YOU? Kenapa seyakin itu setelah semua ini selesai, gue nggak buang lo gitu aja?” This is just because Jongseong cares too much. Or because Heeseung never saw him worthy of Jongseong. Or he is just too in love until he can't make himself use Jongseong much more.


Itu panah beracun milik komite vampire hunter yang menancap dalam pergelangan kaki Heeseung, tak jauh dari tempat di mana Heeseung terduduk kaku karena kakinya terkunci rapat oleh busur panah yang dilayangkan oleh entah siapa, Jongseong berdiri mematung tak berdaya. Di belakangnya, Sunghoon berlari secepat kilat. Mereka berhasil dijebak.

“Bicara sama kepala komite habis ini.” Sunghoon menatapnya kotor. Bibirnya membisikkan kata makian. Pembelot bajingan. Yang hampir nggak menyinggungnya sama sekali. Dadanya seolah dihujam pisau besar ketika mata merah dari si pureblood menatap manik mata Jongseong seolah dia sedang menjerit kecewa. Heeseung telah berpikir jika Jongseong membuangnya.

Jadwal Jongseong menemui Heeseung di ujung kota. Punya intensi mengembalikan mereka seperti keadaan semula. Tanpa tahu jika keduanya diamati yang lain dan dijerat tanpa direncana. Kini dua anggota vampire hunter lain mendekat dan menahan Jongseong yang kakinya maju melangkah mendekati Heeseung. Deru nafas Heeseung semakin menipis, menipis, sampai hampir habis. Dia tidak melawan. Dia tak mau melawan jika itu memang kehendak Jongseong yang menjeratnya. Dia sudah kalah. Jongseong yang membuangnya. Jongseong nggak pernah rela membuangnya. Jongseong mengkhianatinya. Jongseong justru rela jadi pembelot karenanya.

Stand up, lo bisa lawan mereka. You are not going to die now, I love you, Heeseung. Gue nggak paham kenapa kita kejebak di sini, trust me, you can survive kalau lo mau lawan.” Tangan Jongseong ditarik kedua anggota vampire hunter lain yang memburunya juga. Teriakannya semakin histeris ketika kedua tangannya tak lagi bebas sebab borgol besi menguncinya. Saat dimana Jongseong tahu dia nggak bisa menyelamatkan siapa-siapa. Heeseung, dan bahkan dirinya.

“Heeseung, please.” Heeseung bersandar pada mobil bekas terdekat, kakinya luka parah, robek dimana-mana, racun menyebar di sekujur tubuhnya. Juga busur panah yang akhirnya tak dia lawan sama sekali. Kepalanya menggeleng perlahan sebagai respon atas ucapan Jongseong.

Jika Heeseung pada akhirnya tertangkap oleh vampire hunter juga, lantas mengapa dia harus percaya terhadap Jongseong yang kemungkinan besar memang menjebaknya secara tiba-tiba. Gilanya, Heeseung juga percaya dia bisa membuang Jongseong seperti Jongseong membuangnya dengan cara paling mengenaskan seperti demikian. Heeseung tertawa getir. Dia dibuang. Dan semuanya sia-sia

Jongseong semakin histeris; lengan bersapu tangan hitam pekat mendekati leher Heeseung untuk segera mengeksekusinya.

“Sunghoon… Back off.”

“Nggak pantes buat lo…. ngomong gitu di saat lo bakal dieksekusi kayak gini juga atas perbuatan pembelotan lo, Jongseong. Any last words, for your lover boy, pureblood?

“Hahahaha, Nope. Just kill me right now. I think I will be fine if I die now. Daripada harus percaya kalau gue bisa…,”

Heeseung beranikan diri untuk menatap Jongseong untuk terakhir kali.

“....jatuh cinta.”

Saat itu juga Heeseung sadar jika dia tak pernah benar-benar memanipulasi Jongseong dengan kekuatannya. Kebingungannya sirna kala menemukan Jongseong memang selalu ada di sisinya. Sampai Jongseong dengan mudahnya membuang Heeseung dengan cara paling keji.

Jongseong mencelos. Pernyataan Heeseung menghancurkan rongga dadanya dengan sekali kepal. Jongseong nggak pernah menyesal menempatkan hatinya pada Heeseung meski dia tahu Heeseung bisa mencabik dirinya, membuangnya, dan melepaskan genggamannya kapanpun yang dia bisa.

Tidak dengan Heeseung yang berpikir jika Jongseong baru saja mengkhianatinya.

“Bukan gue… bukan gue… harusnya lo tetep percaya gue. I'm not the only one who just throw you away like thatㅡ

Kepala Heeseung berdering, alasan-alasan yang diberi Jongseong tak akan membuatnya percaya.

Heeseung tertawa melihat darah di sekujur tubuhnya, “I love you, and that's the worst thing I have ever had. Such a waste.” Sunghoon melepas anak panah yang menancap pada kaki Heeseung, menusukkan busur lancip tersebut ke arah dada Heeseung dengan membabi buta. Darah lelaki itu mencuat kemana-mana, bahkan keluar dari mulutnya. Heeseung biarkan rasa sakit menjalar pada sekujur tubuhnya. Sakit sekali sampai dia percaya jika dia dikhianati.

Jongseong terkulai. Kakinya lemas tak sanggup menopang tubuh, bibirnya merapalkan banyak sekali permohonan; supaya Heeseung tak berakhir mengenaskan. Supaya Heeseung bisa tetap dia genggam. Supaya Heeseung yakin Jongseong tak melakukan ini semua untuk membuangnya. Supaya Heeseung tak pergi kemanapun selain ke dalam dekapannya. Supaya Heeseung, supaya Heeseung, supaya Heeseung. Dan tak pernah soal supaya dirinya selamat dari malapetaka.

Jongseong tak pernah merasa jika rasa cintanya adalah sebuah kesia-siaan apalagi soal segala pengorbanan yang dia kerahkan.

“Heeseung, please.”

Hal terakhir yang Heeseung sanggup pandang sebelum leher dan kepalanya pasrah hancur sampai nafas dan jantungnya berhenti sempurna adalah manik mata penuh harap dari Jongseong.

“Heeseung, please.”

Juga sebagai kalimat terakhir Jongseong sebelum dieksekusi mati. Di tempat yang sama, di hadapan Heeseung yang kepalanya dipenggal tepat sebelum Sunghoon memenggal kepalanya juga.

 

 

Fin.