Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-10-10
Words:
1,500
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
48
Bookmarks:
1
Hits:
610

SNAP Cuteness! (and Lovey-Dovey-ness!)

Summary:

Propaganda Woonhak mencuci semua makanannya dilanggengkan program SNAP Cuteness!

Sebenarnya, Woonhak tidak masalah. Ini pekerjaannya. Akan tetapi, apa harus pacarnya sendiri yang terlibat sebagai tersangka utama? Tidak bisa dibiarkan!

Notes:

Fic ini hasil commission berdasarkan SNAP Cuteness! Episode 2 yang ini.

Selamat baca dan semoga suka!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Kameramennya bilang kamu gak bisa baca tulisanku,” ujar Sungho seusai syuting.

Woonhak mengangguk. Tadi nyawanya hampir terbang setelah syuting. Propaganda dari member lain yang tidak benar sama sekali sekarang sudah menjadi sebuah konten. Woonhak hanya berharap kali ini, Tansansu — nama samaran adik perempuanya — tidak bertanya apakah kakaknya benar-benar mencuci makanan sampai bersih setelah menonton konten SNAP Cuteness! nanti.

“Soalnya aku beneran gak bisa baca.”

Mereka baru saja mengambil foto berdua. Tim produksi konten sudah keluar semua. Di ruang latihan, hanya ada Woonhak dan Sungho. Member lain masih di dorm karena latihan mereka dijadwalkan mulai masih setengah jam dari sekarang. Untuk sekarang, Woonhak dan Sungho masih bisa bersantai.

“Sini aku bacain.” Sungho mengambil kertas HVS yang ia isi dengan diagnosis Woonhak.

Eh-em, kasus serius bayifikasi, mengalami kebiasaan bayi akut seputar pola makan, indera perasa anak umur 9.99 tahun meski sudah berusia 19.99 tahun, beresiko merayakan doljanchi — perayaan setahun untuk anak — dan bukan seremoni kedewasaan tahun depan.”

Woonhak menolak mendengarkan ocehan tidak masuk akal dari Sungho, tapi kalimat terakhirnya enggak bisa diterima! Mata Woonhak membulat. Tangannya sudah menunjuk diri sendiri di depan dada. Woonhak benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya!

“Kak? Kalau nanti aku tahun depan beneran ngerayain doljanchi gimana hayo? Rencana kita berdua gak bisa dilaksanakan semua. Emangnya Kakak bisa terima? Enggak, kan? Iya, kan? Enggak bisa terima, kan? Kan?”

Hmm, rambut Woonhak yang mencuat keluar sangat menarik perhatian Sungho.

“Kamu tunduk dikit, dong.”

“Apa, sih, Kak?!”

Setelah berkata seperti itu, Woonhak tetap menunduk sambil menggerutu hebat. Bibirnya sudah seperti bebek yang komat-kamit baca mantra supaya sayapnya bisa digunakan terbang tinggi-tinggi. Namun, Woonhak bebek saja bukan. Ia adalah bayi beruang. Bayi beruang berambut hitam berantakan yang pakai baju flanel. Bayinya Sungho.

Sungho pun melayangkan tangannya untuk rapikan rambut Woonhak. Sedih sekali. Woonhak sungguh cepat besarnya. Bayi 172 sentimeternya sekarang sudah 182 sentimeter tingginya. Ck, harusnya dulu Sungho tidak mengurangi intensitas olahraganya supaya ia bisa mengalahkan Woonhak dari segi massa otot sampai Woonhak kalah telak. Soalnya meski Woonhak tidak olahraga, tingginya sudah memberi keuntungan besar.

“Kaaaak! Aku tadi nanya, loh! Tapi gak dijawab. Kalau Kakak nanya terus aku gak jawab atau aku jawabnya gak jelas juga Kakak langsung teriak ‘I hate you!’ gitu. Kalau aku yang teriak ‘I hate you!’ nanti Kakak sakit hati, kan?”

“Utututu, kamu sakit hati karena aku bilangin ‘I hate you!’ waktu itu, ya? Padahal kamu kayaknya cool aja, deh, pas aku gituin.”

“Ya, ‘kan! Itu! Konten! Doang!”

Sungho mati-matian tahan ketawa. Ia mengulum bibirnya, tapi tidak berhasil. Tawanya lepas ketika Woonhak berjalan menjauh sambil menghentakkan kaki begitu dramatis sebelum duduk bersandar di dinding ruang latihan.

“Menurut Kakak aku lucu, ya?”

“Iy — pfft! — iya,” jawab Sungho bersusah payah. “Kamu lucu banget.”

Woonhak memalingkan wajahnya. Tangannya terlipat di depan dada.

“Aku enggak lucu tahu, Kak. Pokoknya aku mau jadi cool sampe umur 120 tahun!”

“Boleh, sih. Jadi sisanya, hmm … 280 tahun? Ah, iya. 280 tahun sisanya kamu jadi imut dan lucu. Sekarang yang lucu aku, terus nanti kalau kamu jadi lucu, aku deh yang keren. Oke banget, kan?”

“Kakak, ih!”

“Kan kita rencananya bareng-bareng sampe 400 tahun, Woonhak.”

Woonhak tidak menjawab, tapi bibirnya jadi bebek lagi.

Sungho menyusul untuk duduk di sebelah Woonhak. Ia mengetuk pundak Woonhak sekali. Woonhak enggak mau menoleh ke arah Sungho. Sekali lagi, pundak Woonhak diketuk. Masih enggak ada jawaban yang datang dari Woonhak.

Who’s there?” cicit Sungho pelan. Kali ini, ia menusuk-nusuk pipi Woonhak menggunakan telunjuknya. “The BOYNEXTDOOR ….”

Woonhak pun menatap Sungho. Gemas karena Woonhak masih merajuk, Sungho menekan kedua pipi Woonhak dengan satu tangannya sampai bibir Woonhak menjadi seperti bibir ikan kesukaan Leehan. Huft, Sungho bisa gila.

Kwalou — ”

Sungho tertawa lagi. Woonhak menjauhkan wajahnya dari Sungho. Ia jadi tidak bisa bicara dengan baik dan benar karena keusilan Sungho. Tidak bisa dibiarkan. Woonhak tahun depan sudah dewasa. Meski sekarang sudah pakai sistem perhitungan usia internasional, ada beberapa kebijakan yang masih sama. Mulai sekarang, Woonhak harus mulai membangun auranya. Supaya jadi keren dan tidak didiagnosis bayifikasi oleh dokter pedatri abal-abal yang entah bagaimana diberi tugas mendiagnosis pasien remaja. Konten SNAP Cuteness! ini tidak baik untuk masa depan Woonhak — sebenarnya tidak seserius itu.

“Kak!”

“Iya, iya, maaf. Kamu mau bilang apa tadi?”

“Kalau tahun depan aku doljanchi, gimana dong?”

“Apa-apaan — ppft!”

“Kaaaak!”

“Iya, iya,” jawab Sungho cepat. Ia berusaha lagi untuk menahan tawanya. “Kalau tahun depan kamu doljanchi, ya … kita putus, lah. Masa aku pacaran sama anak umur satu tahun? Kan gak mungkin lah, ya. Tapi aku kayaknya gak bisa urus bayi umur segitu. Kamu nanti aku serahin ke Jaehyun aja kalau beneran jadi bayi, ya?”

Woonhak menghela napas panjang. Benar juga. Untuk apa ia memikirkan skenario yang tidak mungkin terjadi? Tahun depan, Woonhak pasti akan diberi mawar merah sebagai tanda perayaan kedewasaan dari para member. Atau mungkin hal seremonial lain. Yang jelas, tahun depan Woonhak tidak mungkin merayakan doljanchi.

Tiba-tiba, Sungho berdiri. Jas merah mudanya ia lepas, setelah itu langsung duduk lagi. Namun, kali ini Sungho duduk di depan Woonhak.

“Woonhak,” panggil Sungho.

“Kenapa, Kak?”

Jas merah muda yang tadi Sungho sampirkan di atas kepala Woonhak seperti gaun panjang di masa Joseon. Woonhak mengernyit, tapi ia menahan kedua sisi jas dari Sungho erat-erat. Pucuk kepala Woonhak diusap oleh Sungho tanpa henti.

Setelah beberapa menit berlalu, baru Woonhak bertanya alasan dari tindakan pacarnya itu.

“Supaya kamu gak nangis, lah.”

Jas tersebut langsung Woonhak bentuk menjadi bola lalu ia letakkan baik-baik di samping Sungho. Semarah apa pun, Woonhak tahu dia enggak boleh lempar barang sembarangan. Makanya, Woonhak lebih pilih lempar diri sendiri ke lantai setiap frustrasi daripada lempar barang-barang yang ada di tangannya.

“Kakak, ih! Ah, males banget aku.”

“Bercandaaa, tapi marah aja gapapa, kok,” jawab Sungho sambil tertawa.

“Kok gitu?!”

“Nanti kalau kamu marah, aku ikhlas dipeluk supaya marahnya hilang.”

“Ih … apa, sih … kok gitu ngomongnya ….”

Mungkin diagnosis Sungho tadi harus direvisi. Woonhak memang mengalami bayifikasi, tapi tidak ada hal ekstrim seperti kebiasaan makan regresif seperti bayi. Mungkin profesi Sungho juga harus diganti dan jas dokter merah mudanya harus dilepas. Karena sekarang di mata Sungho, Woonhak hanya remaja yang akan menginjak usia dewasa beberapa bulan dari sekarang dan sedang mabuk cinta sampai salah tingkah tingkat dewa. Sungho juga bukan dokter pediatri. Akan tetapi, dokter cinta masih bisa karena di bidang itu, Sungho percaya diri.

Rambut Woonhak diusak Sungho.

“Ayo makan tteokbokki yang tadi,” ajak Sungho.

“Sekarang?”

Sungho mengangguk. “Masih cukup, kok, waktunya. Latihannya masih lima belas menit lagi.”

“Oke, aku ambil dulu kalau gitu, Kak.”

Woonhak langsung beranjak untuk ambil mangkuk tteokbokki yang diletakkan di meja dekat komputer. Dasar anak muda yang ingin jadi keren. Gestur kecil Woonhak yang seperti itu sungguh bisa buat jantung Sungho berdesir tidak karuan. Stres.

Ketika Woonhak sudah duduk kembali membawa mangkuk berisi tteokbokki dan satu garpu kecil, Sungho mengulurkan tangan. Mangkuk tersebut akhirnya berpindah tangan. Sungho menjulurkan suapan pertama ke Woonhak.

“Aku bisa makan sendiri,” gerutu Woonhak sambil membuka mulut lebar-lebar.

Kontras dari perkataan dan tindakan Woonhak sangat lucu. Sungho ikut makan sambil tertawa. Mungkin Sungho harusnya menghitung berapa kali ia ketawa dalam lima belas menit terakhir ini. Soalnya Sungho jadi berpikir. Sebenarnya memang Woonhak yang ada bakat melucu atau dirinya sendiri yang selera humornya terlalu receh?

“Enak?” tanya Sungho. Basa-basi saja.

“Enak,” jawab Woonhak. “Aku lagi, Kak. Kakak daritadi suap buat diri sendiri, akunya kapan? Aku juga mau.”

“Hiii, dasar bocil,” balas Sungho sambil menyuap tiga potong tteokbokki ke Woonhak.

Bwochil bwochil ghini jugha jadhi pachar Khakak!

Sungho kalah. Ia tertawa terbahak-bahak. Telapak tangan Sungho menutup mulutnya sendiri saking kencangnya tawa yang ia keluarkan. Bahaya kalau tteokbokki yang ia kunyah loncat keluar karena tawa yang terlalu lepas.

“Iyaaa, bocil-bocil gitu kamu pacarku. Bocil pacar aku yang paling lucu. Tteokbokki-nya mau dicuciin gak, Bayi? Kan masih bayi, baru mau doljanchi tahun depan. Jadi enggak bisa mam pedis. Iya, kan?”

“Kakaaak!”

“Iya, utututu,” jawab Sungho sambil menggelitik dagu Woonhak. “Eits, kamu tadi pagi cukuran, gak? Kok kasar gini?”

“Hah? Aku tadi pagi cukuran, kok! Siapa bilang enggak?!”

Sungho pura-pura berpikir. Sengaja dilama-lamakan. Ketika Woonhak ingin berbicara, Sungho langsung berkata, “Hmm, aku gak ada bilang gitu, kok. Kan tadi cuma nanya.”

“Issh!”

“Bayi belum pintar cukuran sendiri, ya? Tadi pagi dibantu sama Kakak Leehan gak, Bayi?”

“Kakak ngapain bahas-bahas Kak Donghyun, iiih! Pas dibantu Kak Donghyun kan kita belum pacaran!”

Sungho tahan ketawa untuk ke sekian kalinya hari ini. “Donghyun gak tuh. Akrab banget kayaknya.”

“Kakak, iiih. Jangan gitu! Kan harus akrab karena segrup. Yang penting kan aku cintanya sama siapa! Sekarang kita udah pacaran, kan, aku udah gak pernah minta tolong dicukurin. Soalnya aku udah bisa sendiri! Bukan bayi!”

“Kalau jadi bayi gedenya aku yang tahun depan dewasa mau, gak?”

Woonhak memutar bola matanya malas.

“Apaan, sih,” cicit si Bayi Gede seperti itu. Namun, ia menelusup untuk peluk pacar yang lebih pendek darinya itu.

“Mau, gak?”

Woonhak mengangguk saja. Vibrasi tawa Sungho terasa di seluruh tubuhnya. Woonhak ingin seperti ini lama-lama. Jadi pacar Sungho yang bisa peluk Sungho lama-lama. Jadi bayi gede Sungho yang tahun depan dewasa. Woonhak merasakan tangan Sungho mengusak rambutnya.

Woonhak suka. Suka sekali.

“HOIII BOCIL NGAPAIN PELUK-PELUKAN GITU?!”

Oh, tidak. Para perusak suasana sudah datang.

Notes:

Terima kasih karena sudah baca!