Work Text:
Hamin, jika ditanya lebih suka kucing atau anjing, jelas akan menjawab kucing.
Jika dada Hamin dibelah dua, dibelah tiga, dibelah sembilan, ada kata 'kucing' loncat keluar dari dadanya.
Hamin mencintai kucing, kucing adalah hidup. Bahkan jika ia bisa terlahir kembali, Hamin pasti menjadi kucing. Tidak peduli kucing garong, kucing jalanan, kucing hitam anomali, yang jelas, kucing.
"Tapi lo pacaran sama siluman anjing kayak... Eunho?" pertanyaan, atau lebih tepatnya, ujaran heran dari Bonggu di siang hari yang panas membuat Hamin mengulum bibir sendiri.
Percayalah, Hamin juga bingung. Tapi itu bukan salahnya! Hamin tidak tahu akan jatuh cinta kepada siluman anjing seperti Eunho!
"Mas Bonggu pernah denger cinta itu buta?"
"Lo mah bukan buta, tolol itu namanya."
Hamin lupa jika Mas Bonggu ini adalah pembenci Do Eunho nomor 0.
Pikirannya kembali pada beberapa bulan yang lalu, di samping lapangan bola setelah kelas mereka selesai pelajaran olahraga, Hamin mengajak Eunho untuk duduk di sebelah lapangan menikmati es krim yang mereka beli.
Hamin pikir itu adalah suasana dan waktu yang sangat romantis untuk mengutarakan perasaan yang ia simpan selama ini.
"Pacaran mau gak?"
BODOH YU HAMIN BODOH.
Tolehan secara slow-mo Eunho lakukan, membiarkan lelehan es krim menetes ke dagunya. Tatapan mata yang merah menyala itu seakan menusuk, membodohi ucapan tiba-tiba tanpa briefing dan kata pengantar yang romantis.
LALU APA GUNANYA SHOJO MANGA YANG DIBACA SELAMA INI, YU HAMIN??
"Anjir, gak romantis banget?" ceplos Eunho membuat Hamin seakan disambar petir di siang bolong. Ekspresi yang sama sekali tidak tersipu malu, ujaran spontan yang tajam namun fakta, dan tawa receh yang keluar setelahnya.
Yu Hamin adalah pecundang nomor satu di dunia.
Eunho kembali menoleh, mengusap bawah mata kiri karena terlalu lelah tertawa, menatap raut wajah Hamin yang memerah malu dan berusaha menutupinya dengan tangan.
"Gue kasih kesempatan sekali lagi deh, yok bisa yok."
AAARGH BUANG SAJA HAMIN KE DASAR BUMI INI.
Singkat cerita, Hamin sudah kepalang malu dan tidak bisa merangkai kata-kata romantis pasca kejadian itu. Dan alhasil, Eunho membawanya ke salah satu kedai ramen dan berakhir menembak Hamin dengan cukup 'proper' hingga mereka menjadi pasangan yang bahagia hingga hari ini.
Tidak seromantis yang Hamin baca di shojo manga, tapi setidaknya Eunho tidak asal ucap.
Ekskul modern dance selesai berlatih saat jam dinding menunjukkan pukul enam sore, dan sekolah jelas sudah bubar. Yang tersisa hanya anak kelas 12 yang melanjutkan pelajaran tambahan.
Hamin sudah lelah dan ingin cepat-cepat bersenggama dengan kasurnya setelah latihan selama tiga jam tanpa henti (paksaan Bonggu), setidaknya itu yang ada di pikirannya sebelum ia melintasi lapangan bola milik sekolah.
Di sana, Do Eunho tengah duduk bersila di rerumputan bersama seekor anjing entah ras apa, Hamin tidak pandai dengan anjing.
Yang bisa Hamin lihat adalah senyuman lebar yang menunjukkan taring di kedua sisi, mengusak serta mencubit anjing itu gemas.
Dan tiba-tiba saja Hamin ingin menjadi anjing. Perjanjian sepihak antara dirinya dengan Tuhan tentang ia yang ingin terlahir kembali menjadi kucing tiba-tiba saja terputus. Hamin ingin menjadi anjing sekarang.
"Eunho," panggilnya membuat sang pemilik nama menoleh bersamaan dengan si anjing, "ngapain?"
Drummer band sekolah itu mengerutkan dahi, walau Eunho hanya menoleh sedetik sebelum kembali pada si anjing, jelas terlihat sorot yang jarang ia lihat pada mata anak itu. Membuat Hamin entah mengapa sebal.
Hanya gara-gara anjing dan tatapan matanya bisa melembut seperti ini? Dasar anjing.
"Gue nemu di sebelah perpus, punya Pak Byun tapi gak tau kenapa lepas," jelasnya kini menarik si anjing agar lebih mendekat. Makhluk yang terlihat seperti alien di mata Hamin itu semakin menggesekkan kepalanya pada telapak tangan Eunho.
Kurang ajar.
Berjongkok, Hamin menoleh lagi ke arah Eunho yang benar-benar tidak memedulikannya.
"Lo prefer anjing apa kucing?"
"Hah kita udah pacaran enam bulan dan lo masih nanya? Anjing lah."
......
"Woof."
Mata Eunho melebar, sontak membuang wajah dari Hamin agar tidak terlihat sedang menahan tawa karena tangannya sedang tidak bisa digunakan untuk menutup mulut.
Astaga, jika diperhatikan lagi, anak ini imut sekali.
"Euno."
"Iya."
"Woof."
Si alien—menurut Hamin—tiba-tiba melepaskan diri dari Eunho, sontak berlari ke arah kanan dengan tergesa-gesa dan mendapatkan pemiliknya, Pak Byun, yang langsung membuka tangan, siap menggendongnya.
Eunho berdiri, begitupun Hamin. Pak Byun menghampiri keduanya dan mengucapkan terima kasih, tidak lupa menjanjikan makan siang jika sempat. Kedua anak kelas 11 itu mengangguk sopan dan mengamati punggung sang guru Bahasa Inggris yang kian menjauh.
Tempat cuci tangan di dekat lapangan bola menjadi tujuan mereka selanjutnya. Dengan Hamin yang masih murung, menatap Eunho yang sibuk mengeringkan tangan dan bergerak pelan ke arahnya.
"No—"
Pergerakan Eunho yang tiba-tiba mengusak rambutnya sontak membuat jelmaan kucing itu terdiam. Kepalanya yang sekarang berposisi lebih rendah menyebabkan pandangannya kini berada pada tanah.
Wow.
"Kalo lo begitu terus, yang ada gue pingsan," Eunho menghentikan usakannya, disusul kepala Hamin yang mendongak dengan wajah memerah karena malu, atau senang, hanya ia yang tahu.
Mungkin kalimat kedua di awal akan ia ralat sedikit. Jika dada Hamin dibelah, nama Do Eunho akan muncul tapi tidak akan loncat dari sana karena tidak akan Hamin biarkan untuk keluar.
'NAJIS GELI.' —Yu Hamin, 9999.
