Work Text:
Ponsel ditatap dengan penuh kekecewaan. Mau berapa kali pun ditanyakan, tetap saja teman berbalas pesan keras kepala untuk tidak menjawab pertanyaannya. Padahal berniat baik untuk mengunjungi dan mungkin membawakan makanan serta obat pula. Saat sakit malah semakin keras kepala saja. Namun, bukan Ren−yang terlalu peduli pada Akechi−namanya jika langsung menyerah saja.
Ruang pesan lain pun dibuka.
[Futaba, bisa tolong aku?]
[Akechi, ya? Sebentar]
Belum diberitahu, tetapi sudah paham. Ponselnya masih diretas ternyata. Dasar. Kali ini dibiarkan saja berhubung tidak perlu repot menjelaskan lagi. Sederet alamat lengkap pun diterima tak lama kemudian. Memang peretas handal. Sedikit merasa bersalah sebenarnya, tetapi mau bagaimana lagi. Ren pun mengirim ucapan terimakasih pada Futaba sebelum bersiap-siap.
Semua pergerakan pun menarik perhatian si kucing yang sedari tadi mengamati dalam diam. “Mau jenguk Akechi?”
“Iya, mau ikut, Morgana?”
“Gak perlu. Aku bisa jalan-jalan aja atau ke Futaba.” Morgana merenggangkan tubuhnya dan melompat turun dari ranjang, melangkah menuju tangga. Tawa pelan menjadi respons singkat, sudah menduga jawaban tersebut. “Mungkin kau bisa beli sesuatu di minimarket? Orang sakit butuh obat dan makanan bernutrisi juga, ‘kan.”
“Pasti. Aku bakal ke sana juga. Makasih, Morgana.”
Ren tersenyum selagi makhluk berbulu itu akhirnya benar-benar beranjak. Pakaian sudah diganti, tas yang hanya berisi dompet serta beberapa vitamin pun dibawa–meski biasanya membawa ini agar bisa mengajak Morgana. Perjalanan menuju tempat Akechi dimulai dengan bantuan navigasi dari ponsel. Lumayan jauh dari Yongen Jaya–bukan masalah besar, sudah terbiasa berkeliling Tokyo selama hampir setahun belakangan.
Hari ini merupakan satu hari lagi untuk mencari rute menuju harta di Palace Maruki, niat awal mereka begitu. Harus dibatalkan, karena Akechi bilang ia benar-benar tak bisa bangun dari kasur. Tentu awalnya si rambut coklat agak berisik di grup pesan Phantom Thieves. Tak lain dan tak bukan mengatakan untuk pergi saja tanpa dirinya. Namun dengan kesepakatan bersama, diputuskan bahwa lain hari saja dilanjutkan. “Terserah kalian kalau begitu. Terima konsekuensi kebodohan kalian sendiri,” merupakan pesan terakhir sebelum si mantan detektif benar-benar diam. Bahkan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan mengenai alamat, bagaimana kondisi sekarang dan apa ada yang diperlukan.
Ren sedikit mempunyai hak istimewa. Pesan pribadinya masih dibalas.
Isi keranjang belanjaan ditilik sekali lagi. Semua bahan-bahan untuk membuat bubur sudah ada. Meski begitu, masih terasa kurang. Mungkin bisa menambah makanan kesukaan Akechi. Ide yang bagus, tetapi ada satu masalah. Ia sama sekali tak tahu soal hal itu atau memang orangnya saja tidak punya?
Mau bagaimana lagi, ambil saja makanan manis yang ada.
oOo
Baru menginjakkan kaki di kawasannya, Ren terdiam kagum. Gedung menjulang tinggi serta terkesan mewah. Ini kali pertama kondominium dilihat secara langsung. Siapapun akan terkejut jika tahu ada pelajar SMA tinggal di sini sendirian. Namun mengingat pelajar SMA yang dimaksud adalah seorang Akechi Gorou, rasanya tak perlu dipertanyakan lagi.
Waktu tidak dibuang lebih lama. Langsung masuk saja ke gedung itu meski sedikit ragu. Apa ia perlu ke resepsionis? Apa ia perlu reservasi? Semua keraguan terangkat begitu saja setelah menyadari siapapun tak mencegah masuk. Tinggal mencari kondo tempat berdiam si mantan detektif.
Pesan pun dikirim ke yang bersangkutan. Harus memberitahu sebelum bertemu. Begini-begini, Ren masih paham sopan santun. Apalagi kemungkinan besar akan diusir jika datang begitu saja. Meski memberitahu pun memiliki kemungkinan itu pula. Setidaknya, si kacamata datang dengan pemberitahuan.
[Akechi, aku ke tempatmu. Bakal kubuatkan bubur, ada vitamin dan cemilan juga]
[Kamu ini benar-benar…] merupakan satu-satunya balasan yang didapat. Bahkan setelah menunggu beberapa menit lagi, masih tidak ada balasan. Banyak spekulasi maksud dari pesan tersebut, tetapi tujuan mengirim pesan tadi hanya supaya tahu saja. Ren tak perlu balasan apa-apa meski penasaran juga yang bersangkutan hendak mengatakan apa.
Sekarang mari menjalankan rencana menerobos personal space-nya Akechi.
Bel ditekan kala sudah memastikan sudah di tempat yang sesuai alamat. Ditunggu beberapa menit, sama sekali tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu. Apa sudah tidur? Kenop pintu diputar dan tentu saja masih terkunci. Satu-satu pilihan hanya menggunakan bel kembali.
Kalau saja tak terhenti kala mendengar suara seseorang bersandar ke pintu−lebih ke seperti terhempas. Tentu langsung membuat khawatir.
“Ake-”
“Aku bisa… rawat diriku sendiri.” Memang bukan pembohong handal. Suara terdengar cukup lemah dan parau. Membuat Ren semakin khawatir sampai berniat menerobos masuk saja rasanya. “Aku terima apa yang kamu bawa aja... Makasih banyak.”
Kernyitan tercipta di dahi si kacamata. Masih saja keras kepala padahal kondisi sudah mengkhawatirkan begitu. Sama sekali belum berubah sejak kejadian di Palace milik Shido waktu itu. Namun, kali ini akan lebih keras kepala. Bagaimana pun juga, Akechi juga merupakan rekan satu tim yang berharga.
Kala pintu dibuka sedikit, Ren langsung menahannya agar tetap terbuka. Mendorong dengan tenaga yang lumayan pula, memberikan ruang lebih supaya dapat masuk. Si pemilik kondo pun tak bisa menandingi kekuatannya dalam kondisi begitu. Rencana untuk menerobos masuk pun benar-benar dilakukan dan berhasil.
“Ren… Sudah kubilang…”
Hanya gelengan yang menanggapi protes parau tersebut. Tanpa basa-basi dihampiri serta dibopong. Tentu masih ada penolakan dari yang bersangkutan. Membuat semakin heran. Padahal sudah sampai sejauh ini. Kenapa masih menolak saja? Siapapun akan menyerah saja kalau sudah begini.
Apa ia ada membuat yang bersangkutan marah?
Tak ada sepatah kata pun keluar selama Ren membawa Akechi ke kamar sampai membaringkan di kasur. Selimut pun ditarik menutupi hampir seluruh tubuh si orang sakit. Sudah tenang dan pasrah kelihatannya−mungkin sudah terlalu lelah terus menolak. Baru disadari wajah itu cukup merah dan pucat pula. Mari mulai merawat saja.
Kebetulan ada termometer tergeletak di atas nakas. Langsung digunakan saja untuk memastikan sendiri. Yang bersangkutan benar-benar sudah tidak berucap apapun lagi. Yah, lebih baik begini. Semua energi disimpan saja untuk memulihkan diri.
Bunyi ‘Bip!’ mencuri atensi dan mengalihkan pikiran.
“Panas banget…”
Ren mengerjap heran mendengar itu tepat saat ia melihat suhu yang tertera. Awalnya dikira sedang kepanasan, tetapi si rambut coklat terlihat tenang-tenang saja di balik selimut. Bahkan sudah menutup mata dan tampak hampir terlelap. Disimpulkan kalau yang dimaksud adalah suhu tubuhnya.
Akechi punya sisi lucu yang kekanakan juga, ya. Berbeda sekali dengan bagaimana sikapnya belakangan maupun topeng pangeran detektif beberapa bulan lalu. Entah berapa banyak sisi dari seorang Akechi Gorou ini. Ren mau mengetahui lebih dari ini kalau boleh.
Sebelum itu, orang sakit ini harus diurus dulu. Angka yang tertera diperhatikan sejenak, 39°C. Suhu tubuh tinggi, tetapi masih bisa dirawat di rumah dulu berhubung belum berhari-hari. Semoga saja bisa sembuh dengan cepat−yang bersangkutan pasti menginginkan itu pula.
“Biar kubuatkan sarapan dulu.”
Masih tak ada sepatah kata pun menjadi balasan. Hanya ada gumaman kurang jelas terdengar. Mengigau kala demam, ya? Terlihat lucu juga.
oOo
Tak ada kesulitan apapun kala Ren memasak meski ini pertama kalinya membuat bubur. Tentu saja, dia bukan Akechi yang bahkan memotong ikan saja sampai hancur−berpikir begitu tak tepat di saat seperti ini, membuat si rambut kelam menggeleng pelan.
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung kembali ke kamar yang bersangkutan dengan semangkuk bubur dan segelas air. Lega pula mellihat si mantan detektif menjadi anak baik tetap beristirahat di kasur. Kali ini tidak menutup mata, malah menatap langit-langit dengan pandangan yang mengawang. Jarang-jarang bisa melihatnya melamun seperti itu. Sayang sekali, kondisi sekarang tidak mendukung untuk iseng soal ini.
Kedatangan baru disadari Akechi kala si rambut kelam sudah sangat dekat. Pandangan pun beralih pada yang bersangkutan, tetapi sama sekali tidak berucap apapun. Hanya diam memperhatikan gerak-gerik si rival. Tak begitu fokus, jadi Ren memilih tidak terlalu memusingkan dan duduk di dekatnya setelah meletakkan nampan.
“Akechi, kau bangun, ‘kan? Sekarang makan dulu, ya.”
Lenguhan menjadi respons pertama sebelum lawan bicara hendak bangun dari berbaring. Tentu langsung dibantu sampai bisa duduk bersandar sendiri dan tampak nyaman. Tidak banyak protes atau macam-macam membuat semua ini jadi lebih mudah. Beda sekali jika dibandingkan dengan kala sehat.
Mangkuk berisi bubur diambil. Sedikit berdebat dengan diri sendiri apa akan menyuapi atau tidak. Memperhatikan Akechi sebentar pula untuk mempertimbangkan. Akhirnya diputuskan untuk mengurus yang satu ini pula. Si orang sakit hanya diam saja seperti menyerahkan semuanya pada ketuanya.
Omong-omong, aneh juga sejak membawa hasil masakan tidak berucap apapun begitu. Apa yang ada di pikirannya sekarang, ya…
Duduk lebih dekat, Ren menyendok makanan lembut itu dan menyodorkan suapan. Tanpa keraguan diterima perlahan. Entah kenapa terasa senang melihatnya. Akechi yang menerima saja begini tidak buruk juga. Apalagi belakangan cukup galak begitu. Ini harus dinikmati lebih jauh. Kemungkinan kesempatan sekali seumur hidup saja.
Sesi makan berakhir tanpa kesulitan atau macam-macam. Agak sedih ini harus disudahi begitu saja. Mangkuk dan gelas yang sudah tandas pun dibawa untuk dicuci. Saat kembali, si rambut kecoklatan dibantu berbaring lagi dan diselimuti. Mata langsung berkedip perlahan seolah berusaha keras ditahan untuk tertutup. Sudah mengantuk saja, ya. Mau bagaimana lagi kalau sedang sakit.
Barang-barang pribadi dibereskan. Harus dibiarkan beristirahat seingin apapun ia tetap di sini. “Aku pulang dulu. Mungkin aku bakal datang lagi nanti buat ngecek.”
Mendadak, tangan di bawah selimut itu menarik baju, menahan si empu untuk pergi meski terlalu lemah. Ren tak bergerak dari posisi sebagai tanggapan. Sedikit berharap ia memang diminta untuk tetap di sini saja.
“… Mau pergi?”
Perasaan saja atau memang ekspresi memelas dipasang. Tatapan lurus padanya itu tampak sedih pula. Baru kali ini bisa melihat itu dari seorang Akechi Gorou. Mimpi, ‘kah? Ulah dunia buatan Maruki? Apapun itu, ini sangat di luar prasangka dan pengetahuan yang tidak dipermasalahkan barang sedikit pun.
Senang. Senang sekali dapat dirasakan.
Menemani orang sakit itu membosankan. Tak ada yang bisa dilakukan setelah memberi makan dan hal lain. Namun kalau itu merupakan seorang nan disukai, mana mungkin bisa bosan bagaimana pun juga. Tentu harus dipastikan terlebih dahulu. “Mau aku di sini sampai lebih baikan?”
“Kalau… Ren mau.”
Wah, kata ganti orang kedua menyebut nama begitu. Memang efek demam bisa sampai separah ini? Atau ia sedang diisengi saja? Yang mana pun, ini benar-benar menggemaskan. Benar-benar harus membuat catatan mental untuk ‘diceritakan’ pada diri yang sehat nanti−niat iseng memang.
Tas diletakkan kembali, tangan yang masih setia menahan pun dilepas dan dimasukkan ke dalam selimut. Hingga akhirnya duduk di tepi kasur, berusaha menghadap si sakit. Senyum lembut penuh perhatian diukir. “Aku mau, jadi bakal kujaga sampai kau sehat.”
Ekspresi menyedihkan langsung luntur begitu saja bahkan mata terbebelak untuk sekejap. Namun hanya itu saja, tidak ada hal lain diucapkan setelahnya. Kembali ke mode diam setelah kondisi sudah dipastikaan, ya. Mungkin sebentar lagi akan menutup sepasang iris merah itu pula dan berakhir ‘sendirian’. Sudah diduga kalau memutuskan begini.
“!?”
Tanpa diduga, lengan ditarik begitu saja. Refleks Ren untung saja bagus hingga sempat menahan tubuh agar tidak menindih Akechi. Kejutan seolah kurang tahu mengenai jeda. Meski hanya sejenak, rasa hangat dan lembut dirasakan di bibir. Sang pelaku, entah dapat kekuatan sebanyak itu dari mana, berbaring dengan tenang dan membenarkan selimut kemudian menutup mata.
Tak ada ucapan apapun lagi. Barang hanya satu dua patah kata.
Pelan-pelan menjauhkan diri berhubung sudah tak ditahan. Wajah sedikit memanas, tentu saja bukan karena tertular demam. Kinerja otak seolah melambat. Apa tadi…? Kenapa? Bagaimana? Apa maksudnya? Mereka bukan…
Ditatap gumpalan selimut dengan kepala menyembul itu. Tega sekali sudah terlelap begitu saja, meninggalkan dengan perasaan membingungkan serta tidak karuan ini. Balasan karena sudah menikmati sendiri selama merawat tadi? Saat sakit pun masih saja menolak kalah. Curang sekali juga berhubung sudah menahan diri sejak awal. Yang benar saja.
Tentu akan makin diisengi nanti.
Untuk sekarang, mari menemani dengan tenang.
