Work Text:
Rubah ungu kecil berhenti dari langkahnya saat melihat ke arah langit. Bulan sedang sangat indah malam ini. Bundar dan cahayanya terang berpendar. Walau tidak sekuat matahari, cahaya indahnya tetap mampu menerangi sampai ke sudut-sudut hutan tempatnya berburu malam ini bersama kawanan rubah lain.
Tunggu, bicara tentang berburu, Rubah Ungu baru sadar: kemana kawanannya? Rubah ungu tergeragap saat menyadari dia seorang diri di tepi hutan ini. Rombongannya sudah tidak terlihat. Masuk ke dalam hutan dan tidak sadar bahwa ada satu anggotanya yang tertinggal di sini.
Ah, ini salahnya sendiri karena terdistraksi dan terlalu lama diam di sini. Sampai tidak sadar bahwa dia terpisah dari kawanannya. Bodoh sekali, rutuk Rubah Ungu pada dirinya sendiri.
Dia bingung, ingin menyusul masuk tapi takut malah tersesat ke arah yang berbeda dari kawanannya. Tetap diam di sini menunggu mereka kembali, tapi itu bisa jadi memakan waktu sangat lama; padahal perutnya sudah semakin lapar. Dengar dengar, bunyinya nyaring berkeruyuk. Oh, Rubah Ungu ingin menangis karena bingung.
Dengan air mata menggenangi pelupuk, Rubah Ungu balik badan dan berencana untuk pulang ke sarang kawanannya saja. Siapa tahu di sana ada simpanan makanan yang bisa dia ambil. Kalaupun tidak ada, dia bisa membawa rasa laparnya ke dalam tidur.
Tanpa sadar, Rubah Ungu salah mengambil belokan. Penglihatannya yang buram karena air mata bercampur dengan otak yang memikirkan terlalu banyak hal membuatnya tidak sadar bahwa dia salah jalur. Tiba-tiba saja, dia ada di depan sebuah perkebunan yang luas milik manusia.
Takut. Rubah Ungu merasa benar-benar takut karena menurut tetua di kawanannya, mereka harus berhati-hati dengan manusia. Mereka baik, tapi ada beberapa yang tidak segan-segan memukul bahkan menembak kawanan rubah karena dianggap mengganggu. Tidak, tidak, aku tidak mau mengganggu. Aku mau pulang. Aku hanya mau kembali ke sarangku. Keluh Rubah Ungu dalam hati, tidak sadar bahwa wajahnya sudah dibanjiri air mata akibat rasa takut yang semakin membesar.
"Woa… Ekormu ada enam?" terdengar sebuah suara dari belakang tubuhnya. Rubah Ungu refleks berbalik badan dan apa yang dia lihat membuatnya terkejut. Juga merasa takjub.
Sesuatu, entah bagaimana Rubah Ungu harus menyebutnya karena ini bukan manusia atau jenis hewan lain yang pernah dia lihat. Ya, sesuatu itu berwarna kuning, besar, dan bercahaya seperti bulan. Tetapi bentuknya tidak bundar. Bentuknya, ugh….seperti….seperti kentang? Hanya saja ada dua mata berbinar dan hidung serta mulut kecil. Oh lihatlah itu, bahkan ada tangan dan kakinya juga.
Jangan-jangan, ini monster? Batin Rubah ungu panik. Iya, pasti monster yang sering diceritakan oleh anak-anak manusia. Yang konon katanya bersembunyi dalam hutan dan akan memangsa anak manusia jika mereka masih berkeliaran di luar rumah setelah petang datang.
Rubah Ungu ingin berlari tetapi kakinya mati rasa. Otaknya seperti berhenti berfungsi.
"Tolong…. Tolong aku…." Hanya itu yang bisa dia lakukan, merintih meminta pertolongan. Entah kepada siapa.
Sesuatu itu kemudian maju dan meletakkan kedua tangannya ke pundak Rubah Ungu.
"Hey…hey…tenang. Tenang…"
Ajaib, mendengar suaranya, Rubah Ungu merasa detak jantungnya melambat ke ritme normal. Ada sesuatu dari suara si sesuatu ini yang membuatnya merasa bahwa dia bukan sesuatu yang berbahaya.
Kruyuuukkkk…..
Oh, perut nakal! Batin Rubah Ungu putus asa. Kenapa juga harus berbunyi sekeras ini sekarang?
"Oh, kamu lapar! Tunggu sebentar. Jangan pergi kemana-mana. Tunggu di sini ya." ucap sesuatu itu sembari berlari menjauh.
Rubah Ungu hanya bisa menuruti sesuatu itu dan duduk diam di tempatnya sekarang. Matanya memandang ke sekeliling dan sepertinya ia ada di ladang kentang. Dilihat dari bentuk daun yang menyembul dari tanah, itu adalah kentang.
Ah, jadi sesuatu tadi adalah peri kentang? Tanya Rubah Ungu pada dirinya sendiri.
Anak-anak manusia yang sering bermain di pinggir hutan pernah bercerita tentang peri-peri tumbuhan yang melindungi tanaman di ladang dan kebun-kebun mereka. Konon, ladang dan kebun yang beruntung didatangi para peri itu akan mendapat hasil panen melimpah dan berkualitas tinggi.
"Hanya ada strawberry, kamu mau atau tidak?" Sesuatu, atau sepertinya lebih tepat disebut Peri Kentang, sudah kembali dan membawa satu dekapan strawberry yang besar-besar dan terlihat sangat segar.
Rubah Ungu mengangguk malu dan mengambil satu strawberry dari tangan si Peri Kentang. Ia memakannya perlahan, tapi….aduh, enak sekali! Dengan lahap dan tanpa malu Rubah Ungu kemudian berulang kali mengambil strawberry dari tangan Peri Kentang sampai perutnya kekenyangan.
"Hauuw, aku kenyang sekali sekarang. Terimakasih banyak, Peri Kentang!" ucap Rubah Ungu antusias.
"Woaa, kok kamu bisa tahu aku ini Peri Kentang?"
Rubah Ungu tersipu malu sendiri melihat wajah si Peri Kentang yang sekarang terlihat sangat senang. Lucu sekali, batin Rubah Ungu.
"Aku pernah dengar anak-anak manusia bercerita tentang para peri dan ini adalah kebun kentang kan? Jadi aku menebak kalau kamu adalah Peri Kentang."
Peri Kentang itu menepuk-nepuk kepala Rubah Ungu dengan sayang, "Iya betul sekali! Ah kamu memang rubah yang pintar!"
Ekor Rubah Ungu yang sudah beberapa waktu kembali ke jumlah normal, satu saja, sekarang mengibas kencang dan menjadi enam lagi. Entah kenapa, dia merasa luapan emosi senang yang besar sekali hanya karena disebut pintar oleh Peri Kentang.
"Woaaa, ekormu jadi enam lagi! Kok bisa sih?"
"Entah, setiap aku merasakan sebuah perasaan dengan intens, ekorku akan berubah menjadi enam begini. Aku juga tidak tahu kenapa. Para tetua di kawananku juga tidak punya pengetahuan tentang ini."
"Oh, tadi sebelum makan, kamu merasa apa sampai ekormu menjadi enam?"
"Takut."
"Kalau sekarang?"
"Kenyang."
Peri Kentang itu tertawa sampai berguling-guling. Rubah Ungu mau tidak mau ikut tertawa karena tawa Peri Kentang ini ternyata menular.
"Lucu sekali. Merasa kenyang sampai ekornya jadi enam."
"Hey! Menghina aku ya?"
Peri Kentang berdiri lagi, setelah menepuk-nepuk kedua tangannya untuk menghilangkan tanah, dia mengelus puncak kepala Rubah Ungu. "Tidak. Aku gemas. Kamu menggemaskan."
"Oh, terimakasih." ucap Rubah Ungu malu-malu. "Biasanya aku disebut aneh. Baru kali ini disebut menggemaskan."
"Loh? Kok disebut aneh sih?" tanya Peri Kentang dengan mata melotot dan seperti tidak terima. "Siapa yang bilang begitu?"
"Banyak. Hewan lain, beberapa anak manusia yang tidak sengaja melihatku saat main di tepi hutan, bahkan beberapa rubah dari kawananku juga pernah menyebutku aneh karena buluku berwarna ungu seperti ini."
Peri Kentang mengamati Rubah Ungu lekat-lekat dan mulutnya terbuka lebar, seperti baru menyadari sesuatu. "Aaa, pantas saja sejak tadi aku merasa ada sesuatu yang beda. Ternyata bulumu berwarna ungu. Tapi tidak aneh, ah. Justru bagus. Hmm, mereka yang menyebutmu aneh itu justru yang aneh. Biarkan saja."
Rubah Ungu menggeleng, "Bukan cuma itu, Peri Kentang. Lihat ini," dia menunjuk ke arah matanya sendiri. "Aku punya tanda lingkaran di kedua mataku. Kata anak-anak manusia itu, aku seperti memakai kacamata. Itu lho, yang dipakai beberapa manusia."
Peri Kentang memajukan jarinya dan menyentuh wajah Rubah Ungu, sepertinya mengikuti bentuk tanda hitam yang baru saja disebut. "Ini keren."
Rubah Ungu menegakkan tubuhnya. "Keren?"
"Iya. Keren. Lihat, aku juga punya tanda." Peri Kentang menunjuk ke pipinya sendiri.
Benar, ada beberapa gurat garis di sana. Seperti….seperti….ah apa ya, yang sering anak-anak manusia gores di kayu itu saat mereka berkata satu, dua, atau a be ce begitu. Rubah Ungu lupa.
"Seperti angka dan huruf yang dipakai manusia." tambah Peri Kentang saat dilihatnya Rubah Ungu hanya diam saja sambil memandangi wajahnya dengan intens.
"Iya! Angka dan huruf! Seperti angka dan huruf!" tanggap Rubah Ungu antusias.
"Kamu tahu, kenapa manusia menjadi yang paling kuat dan berkuasa di dunia ini?" tanya Peri Kentang.
Rubah Ungu menggeleng. "Kenapa?"
"Karena mereka bisa mengerti angka dan huruf. Jadi mereka bisa melakukan banyak hal. Tapi karena harus melihat angka dan huruf terus, mata mereka kadang rusak jadi harus memakai yang seperti di sekitar matamu ini."
"Oh, benar juga…"
"Jadi, kamu itu tidak aneh. Kamu keren karena seperti manusia. Ada bulat-bulatnya di sini." ujar Peri Kentang sembari mengelus halus tanda di sekitar mata Rubah Ungu.
"Kamu juga keren karena ada angka dan huruf di pipimu!" balas Rubah Ungu sambil menepuk-nepuk pipi Peri Kentang dengan sayang.
"Jadi, jangan sedih lagi ya?"
"Iya!"
"Kita berteman mulai sekarang?"
Rubah Ungu lansgung mengangguk penuh semangat. Keduanya lalu berpegangan tangan dan tersenyum lebar. Tidak menyadari di sekitar mereka, daun-daun tanaman kentang mekar sempurna dan berkilau terang mengalahkan pendar cahaya bulan.
*****
Rubah Ungu duduk sembari menikmati strawberry dan cherry di pangkuannya. Di ujung sana Peri Kentang sedang melakukan pekerjaannya. Berkeliling ladang kentang dan memegang dedaunan yang ada satu persatu sembari bernyanyi dengan riang. Ya, tugas peri kentang adalah memberi berkat bagi tanaman-tanaman kentang itu agar tumbuh subur serta sehat.
Bulan di atas sudah nyaris bundar sempurna lagi dan Rubah Ungu melihatnya dengan penuh rasa syukur. Siapa sangka, malam itu saat dia terdistraksi bulan bundar dan berakibat tertinggal dari kawanannya, menjadi awal dari malam-malam lain yang menyenangkan seperti ini.
Sekarang, dia selalu diam-diam memisahkan diri dari kawanannya saat berburu dan datang ke ladang ini. Peri Kentang selalu menunggunya dengan berbagai buah kesukaannya. Lalu dia akan makan dengan lahap sembari melihat Peri Kentang memberkati tanaman-tanaman kentang di ladang tersebut.
Setelah selesai, mereka akan berjalan-jalan berdua mengelilingi ladang sembari bertukar cerita tentang banyak hal.
Rubah Ungu akan bercerita tentang kawanannya dan segala hal yang dia dengar dari anak-anak manusia di tepi hutan. Sementara Peri Kentang akan bercerita tentang berbagai ladang yang sudah pernah dia singgahi. Bagian favorit Rubah Ungu adalah saat Peri Kentang berkata bahwa ladang sekarang ini adalah kesukaannya dan Peri Kentang sudah meminta izin pada Ketua Peri agar dia diperbolehkan untuk terus bekerja di ladang ini saja.
"Jadi aku bisa bertemu dengan kamu terus?"
"Iya!" jawab Peri Kentang sembari memeluk Rubah Ungu.
Woops! Ekor Rubah Ungu mengibas kencang dan berubah menjadi enam. Oh, perasaan apa ini? Tanya Rubah Ungu pada dirinya sendiri. Kenapa dia merasa sangat senang tetapi dadanya berdetak-detak cepat seperti setelah dia berlari kencang? Perasaan apa ini sampai ekornya berubah jadi enam begini?
"Uwaaaaa, ekor enam lagi!" seru Peri Kentang dengan antusias. Sejak pertama melihatnya malam itu, dia belum melihatnya lagi. Jadi sekarang dia senang sekali. Ditepuknya ekor itu satu per satu. Bulunya halus sekali, membuat Peri Kentang berharap ia bisa sering-sering melihat dan mengelusnya seperti ini.
Rubah Ungu sendiri hanya bisa mengerjapkan matanya dan memegang pipinya yang mendadak panas seperti terbakar.
*****
"Tidak, jangan keras kepala." Kata tetua yang baru saja memberinya obat dari akar merah. "Jika sakit begini dan masih bersikeras berjalan-jalan, kau bisa jatuh dan semakin terluka. Tetap di sini, atau aku akan membawamu ke gua dan meninggalkanmu di sana, tersegel dengan batu. Kau mau begitu?"
Rubah Ungu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak mau disegel batu di dalam gua. Kata salah satu rubah yang pernah mengalaminya, itu mengerikan sekali. Rubah Ungu tidak mau.
"Tidak. Tidak mau. Aku akan menurut."
"Pintar." ucap tetua tersebut sembari mengelus kepalanya. "Lagipula, mungkin apa yang kau makan di ladang itulah yang membuatmu sakit begini. Jadi ada baiknya mulai sekarang jangan diam-diam memisahkan diri lagi. Kalau kau tidak suka ikut berburu di hutan, tunggu saja di sini. Kami akan membawakanmu buah-buahan dari dalam hutan."
Rubah Ungu menunduk malu.
Rupanya, para tetua selama ini sadar bahwa dia selalu memisahkan diri saat berburu. Mereka diam saja karena tahu Rubah Ungu hanya pergi ke ladang dan selalu pulang tepat waktu. Tetapi tadi malam Rubah Ungu pulang terlambat lalu memuntahkan semua isi perutnya. Membuat para tetua kemudian menanyai apa yang dia makan di ladang tadi.
Untung mereka tidak memarahinya. Sepertinya para tetua berpendapat bahwa Rubah Ungu tidak hanya berbeda warna bulunya, tetapi juga makanannya. Jika rubah umumnya senang mencari makan yang beragam, mulai dari buah hingga daging hewan lainnya, mereka pikir Rubah Ungu hanya senang dengan buah-buahan dan itulah alasannya selalu pergi ke ladang alih-alih ikut berburu.
Rubah Ungu merasa lega karena sepertinya tidak ada yang tahu tentang Peri Kentang. Dia tidak sabar segera sehat dan bisa bermain lagi bersama dengan Peri Kentang!
*****
Kaki Rubah Ungu bergerak sangat cepat. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Peri Kentang lagi. Uh, sakit menyebalkan. Dia harus berdiam tidak kemana-mana lamaaa sekali. Akibatnya, dari bulan berbentuk bundar hingga sekarang hanya segaris tipis, dia sama sekali belum bisa bertemu dengan Peri Kentang.
Tadi pagi, tetua berkata bahwa dia sudah sehat dan sudah boleh bepergian lagi. Seharian penuh Rubah Ungu tidak sabar menanti datangnya petang agar bisa segera ke ladang dan bertemu dengan teman barunya itu.
Tapi lihat, ladang yang terakhir kali penuh dengan daun hijau subur dan sehat itu sekarang hanya berupa hamparan tanah kosong. Sementara di sekelilingnya terdapat bertumpuk-tumpuk karung yang berisi entah apa. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Peri Kentang di sana. Bahkan setelah Rubah Ungu berlari mengelilingi ladang berulang kali.
Kelelahan, dan sedih, Rubah Ungu jatuh terduduk di tepi ladang. Tanpa disadari air mata jatuh ke pipinya dan dia mendengking dengan suara pilu. Menarik perhatian sesosok manusia yang baru saja sampai di sana. Anak pemilik ladang.
"Hey, hewan apa kau ini?" terdengar suara mendekat. Rubah Ungu langsung berdiri, waspada. Pesan para tetua tentang manusia yang bisa menjadi kejam pada mereka, terngiang di kepala Rubah Ungu.
"Aw, lucu sekali. Kau rubah, kan? Tapi lihat... Bulumu berwarna ungu dan lihat ini, apa yang ada di sekitar matamu? Kau seperti memakai kacamata saja. Oh, kau menangis? Hei, ada apa…" manusia itu berkata lembut dan tangannya maju perlahan untuk menepuk kepala Rubah Ungu.
Rubah Ungu melipat kedua tangannya di depan perut, berusaha melindungi tubuhnya. Tetapi manusia itu pikir Rubah Ungu memberi sebuah isyarat.
"Oh, kau lapar ya? Tunggu di sini." ucap manusia itu dengan senyum, kemudian beranjak ke arah tumpukan karung-karung yang ada.
Tidak lama kemudian manusia itu sudah kembali di hadapan Rubah Ungu dan mengulurkan beberapa kentang. "Ini, makanlah. Hasil panen kami kali ini bagus dan melimpah ruah. Sepertinya para Dewa sedang mengirimkan berkat pada kami. Ayo, makanlah."
Rubah Ungu menerima kentang itu dengan takut-takut. Tetapi begitu ia menggigitnya, rasa takut itu hilang dan berganti dengan takjub. Kentang ini enaaaak sekali. Pasti karena berkat yang setiap malam diberikan oleh Peri Kentang. Ah, Rubah Ungu merasa bangga sekali pada temannya itu.
"Ya, makanlah dengan lahap. Setelah ini, beritahu teman-temanmu dan hewan lain agar jangan merusak ladang kami ya. Bibit-bibit kentang baru saja ditanam dan anjing penjaga kami sedang sakit. Kami sendiri tidak bisa menjaganya semalaman karena besok harus beraktivitas lagi. Kau rubah yang baik, kan? Kau bisa membantu kami memberi tahu teman-temanmu, kan?"
Rubah Ungu mengangguk di sela kesibukannya mengunyah kentang.
"Ah, lihatlah kau bahkan mengangguk seperti paham dengan ucapanku. Benar-benar rubah yang pintar dan menggemaskan. Senang sekali bertemu denganmu. Aku masuk dulu ya, ada banyak tugas dari guruku! Huh!" ucap manusia itu sembari menepuk kepala Rubah Ungu pelan.
Dia lalu berjalan menuju ke rumahnya. Meninggalkan Rubah Ungu yang masih sibuk mengunyah kentang dengan riang.
Tidak sadar bahwa di ujung sana, ada Peri Kentang yang melihat Rubah Ungu dan anak manusia itu dengan sedih.
Kenapa dia mau dielus-elus dan ditepuk-tepuk oleh manusia? Bukankah waktu itu dia bilang dia tidak mau dekat-dekat dengan manusia? Ah, lalu lihat itu… Sekarang dia langsung pulang tanpa mencariku lagi. Ugh! Menyebalkan sekali!
*****
Rubah Ungu berlari kecil ke arah ladang, dari kejauhan dilihatnya Peri Kentang sudah mulai bekerja.
"Heeeiiiii!" seru Rubah Ungu saat sudah berada di dekat Peri Kentang. Tanpa menghentikan larinya, Rubah Ungu terus melaju ke arah Peri Kentang yang sudah menghadap ke arahnya. Dia pikir teman barunya itu akan menangkapnya seperti yang beberapa kali mereka lakukan sebelum dia sakit waktu itu. Memeluknya.
Tapi ternyata,
"Aduh!" keluh Rubah Ungu saat kepalanya membentur tangan Peri Kentang yang terulur. Ya, Peri Kentang tidak menangkapnya dalam pelukan seperti biasanya. Temannya itu justru mengulurkan tangan dan menghentikan laju larinya dengan semacam tangkisan kuat. "Sakit!"
"Makanya jangan asal berlarian di sini! Kamu bisa melenceng dari jalur dan malah merusak bibit-bibit baru ini!"
Rubah Ungu menunduk dan telinganya terkulai layu. Dia tidak mengira temannya yang selalu berbicara dengan manis dan menyenangkan ini bisa membentaknya begitu.
"Maaf, aku kan tidak tahu…"
"Bukan alasan. Kamu kan bisa lihat bahwa tanah ini sudah bergunduk kecil-kecil. Tandanya ada bibit baru di dalamnya. Hati-hati!"
Rubah Ungu mengangguk lemah. Takut. Dia memahami perkataan Peri Kentang dan menyadari kesalahannya, tetapi apa perlu Peri Kentang semarah itu? Mereka kan baru bisa bertemu lagi hari ini setelah berhari-hari tidak bertemu. Kenapa malah marah-marah seperti ini?
Akhirnya Rubah Ungu hanya diam di pinggir ladang melihat Peri Kentang bekerja. Saat dicobanya mengajak bercakap lagi tadi, Peri Kentang hanya menjawab pendek dan tidak mau melihatnya. Membuat Rubah Ungu memilih diam saja dan menepi begini.
Malam itu, Rubah Ungu pulang dengan hati yang bersedih dan terluka. Tidak tahu kenapa temannya ini mendadak jadi seperti itu.
Besoknya, Rubah Ungu masih sedikit takut dan sedih tetapi bertekad untuk memperbaiki situasi di antara mereka. Tetapi, aduh… Peri Kentang sekarang malah tidak mau berbicara padanya sama sekali. Dia hanya diam saat Rubah Ungu menyapanya tadi. Dengan telinga terkulai kuyu, Rubah Ungu pulang lebih awal. Sama sekali tidak berpamitan pada Peri Kentang. Ekornya yang berubah menjadi enam lagi, ikut terkulai kuyu terseret-seret sepanjang jalan pulang. Oh, Rubah Ungu benar-benar sedih kali ini.
Sejak malam itu, Rubah Ungu tidak berani lagi mendekati Peri Kentang. Setiap malam dia masih ke ladang, tetapi hanya bersembunyi di balik pepohonan dan mengamati Peri Kentang bekerja dari jauh. Dia ingin sekali mendekat dan mengobrol dengan Peri Kentang seperti kemarin-kemarin, tetapi dia tahan dirinya karena takut akan dimarahi atau didiamkan lagi.
Tapi lihat, Peri Kentang sepertinya memang sedang tidak baik-baik saja. Biasanya dia bekerja sambil bernyanyi riang. Beberapa hari ini dia hanya bekerja dalam diam dan wajahnya sendu. Beberapa kali matanya memandang ke sekeliling ladang, seperti mencari sesuatu.
Apa mencari aku, ya? Tanya Rubah Ungu pada dirinya sendiri. Ah, tidak. Dia kan marah padaku. Jawabnya sendiri juga.
Maka Rubah Ungu melewatkan beberapa hari lagi dengan hanya bersembunyi dan mengamati Peri Kentang dari jauh. Sampai pada suatu malam….
"Hei! Kamu kenapa?" Rubah Ungu refleks lari dari persembunyiannya dan menghampiri Peri Kentang saat dilihatnya temannya itu menangis di tengah ladang.
"Mereka…hiks…mereka…tidak mau tumbuh dengan….hiks….baik…" Peri Kentang menubruk Rubah Ungu dan memeluknya kencang.
Oh, oh. Peri Kentang sudah mau berbicara dengannya dan bahkan memeluknya. Rubah Ungu menjadi bingung. Dia ikut merasakan kesedihan Peri Kentang tentang tanaman yang ia jaga itu, tetapi juga senang sekali karena akhirnya bisa berbicara dengan temannya ini lagi. Lihat, mereka bahkan berpelukan erat sekali sekarang.
Woops!!
Ekornya langsung berubah menjadi enam karena dia dirundung perasaan yang sangat kuat. Membuat Peri Kentang kaget dan jatuh terjengkang ke belakang.
"Aaaa maafkan aku dan ekorku!" Rubah Ungu panik dan berusaha menarik Peri Kentang agar bangkit kembali. Tapi karena tidak memperhitungkan kekuatannya sendiri yang tidak sebanding dengan besar badan Peri Kentang, Rubah Ungu malah ikut terpental ke belakang.
Hening sejenak, lalu keduanya terbahak-bahak menertewakan diri mereka masing-masing.
"Aduh, lucu sekali kita jadi sama-sama jatuh."
"Iya. Ada-ada saja." tanggap Rubah Ungu dengan semu di pipinya.
Peri Kentang menjulurkan tangannya ke arah Rubah Ungu. "Sini, aku bantu."
Keduanya berdri dan saling membersihkan diri. Peri Kentang dengan perlahan membersikan tanah dari punggung dan kepala Rubah Ungu. Sementara Rubah Ungu memamerkan kegunaan lain dari ekornya yang masih berjumlah enam. Dia kibas-kibaskan ke seluruh badan Peri Kentang untuk menghilangkan tanah di sana.
Peri Kentang tertawa melihat pertunjukkan ekor itu dan spontan mencium pipi Rubah Ungu. Cup. "Kamu lucu sekali!"
Rubah Ungu mematung. Pipinya menghangat dengan cepat dan dadanya mau meledak. Ekornya, keenam ekornya, mengibas dengan semangat. Membuat Peri Kentang bertepuk tangan antusias.
Malam itu, mereka bergandengan tangan berkeliling kebun. Peri Kentang menunjukkan bibit-bibit yang tidak tumbuh dengan baik. Oh, jumlahnya cukup banyak. Hampir separuh ladang sendiri. Sepertinya pemilik ladang tidak akan mendapat panen yang sebanyak dan sebagus kemarin.
"Ini bukan salahmu…" ucap Rubah Ungu berusaha menghibur temannya.
"Entahlah, aku sudah berusaha keras memberi berkatku. Tapi mereka tidak tumbuh dengan baik. Jadi mungkin ini memang salahku." Kata Peri Kentang dengan nada lesu.
Rubah Ungu tidak berani berkata apa-apa lagi sehingga dia hanya memberi semangat melalui pelukan hangat. Berharap itu bisa menentramkan temannya ini. Teman yang sekarang dia yakin, paling dia sayangi.
*****
Kakinya pegal tetapi Rubah Ungu mengabaikannya. Ia justru berlari semakin kencang. Tidak sabar untuk segera sampai ke ladang. Sudah berhari-hari ia tidak bisa kesana lagi dan bertemu dengan Peri Kentang. Dia rindu sekali pada temannya itu.
Masalahnya adalah, baru satu malam mereka berbaikan dan mengobrol seperti biasa, besoknya kawanannya dihebohkan dengan kabar gerombolan Coyote yang terlihat memasuki area-area di sekitar ladang dan hutan. Para tetua kemudian memperingatkan kawanan mereka agar tidak kemana-mana dahulu sampai gerombolan itu pergi menjauh.
Rubah Ungu, serindu apapun dia pada Peri Kentang, menuruti perintah para tetua. Ia tahu bahwa Coyote benar-benar berbahaya baginya. Ia tidak mau sampai dimangsa mereka dan berujung sama sekali tidak bisa lagi bertemu dengan Peri Kentang. Jadi dia bersabar dan hanya tekun mengecek kepada hewan-hewan lain tentang keberadaan Coyote itu.
Tadi siang, burung-burung pipit berkata bahwa gerombolan Coyote sudah meninggalkan wilayah mereka. Dari penglihatan mereka saat terbang mengitari hutan, para Coyote itu sudah bergerak jauh ke arah gunung besar sana. Sudah aman bagi para rubah untuk beraktivitas dan bepergian dari sarang persembunyiannya lagi.
Maka, begitu petang datang, Rubah Ungu tidak menyia-nyiakan waktu dan segera berlari menuju ladang. Tidak sabar untuk segera bertemu dengan teman yang paling dia sayangi itu.
Tapi, oh… Lihatlah. Ada apa dengan ladang ini? Kenapa sudah gundul lagi tanahnya? Bukankah masih ada beberapa waktu sebelum mereka bisa dipanen? Kenapa sudah tidak ada lagi dedaunan dari dalam tanahnya?
Rubah Ungu tidak sadar bahwa dia sudah mendengking ketakutan lagi seperti saat itu. Membuat anak pemilik ladang mendengarnya dan keluar dari rumah.
"Hei, kau lagi. Kenapa menangis? Lapar lagi ya? Hmm, maafkan aku. Tanaman kentang kami gagal tumbuh semua dan ayahku kemarin membongkar semuanya. Jadi aku tidak punya kentang untukmu. Kau mau roti saja? Akan kuambilkan jika kau mau."
Rubah Ungu menggeleng. Maksudnya, bukan itu alasannya mendengking. Tapi manusia ini nampaknya menangkap secara berbeda.
"Aw, lucu sekali. Kau benar-benar bisa mengerti bahasa manusia ya? Baiklah jika kau tidak mau roti. Aku masuk lagi ya, dingin sekali di sini. Kau juga pulanglah ke sarangmu. Kemarin-kemarin sempat ada coyote lewat sini. Aku takut mereka masih ada dan mengejarmu nanti."
Manusia itu kemudian pergi meninggalkan Rubah Ungu.
"Pstt… Hei… Psstt…" terdengar bisikan dari arah pepohonan cherry.
Mata Rubah Ungu membesar. Peri Kentang!
Rubah Ungu langsung berlari menghampiri temannya itu.
"Ada apa? Kenapa ladang menjadi begini?"
Peri Kentang duduk lemas dan menarik tangan Rubah Ungu untuk dia genggam. "Entahlah, aku juga bingung. Waktu kutunjukkan padamu, masih ada setengah tanaman yang bagus kan? Kupikir tanaman lain akan menyusul tumbuh sehat dan bagus. Mungkin hanya ukurannya saja yang tidak akan bisa sebesar yang lainnya. Tetapi makin hari, tanaman lain malah ikut menjadi tidak sehat."
Rubah Ungu menggunakan tangan yang tidak digenggam untuk menepuk-nepuk punggung Peri Kentang. "Kamu pasti sedih sekali…."
"Iya. Aku sedih karena kamu tidak kesini lagi lalu ditambah tanaman menjadi buruk begini. Aku sedih sekali huaaa…" Peri Kentang pun menangis dengan suara keras.
Rubah Ungu yang tidak tega melihat temannya itu hanya bisa terdiam dan memeluknya.
Mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang diam-diam mengamati sembari tersenyum lembut. Anak pemilik ladang tadi.
*****
"Ugh, rasanya tidak enak." keluh Peri Kentang setelah satu kunyahan.
"Memang. Tapi cobalah memakannya, ini akan menyembuhkanmu." Bujuk Rubah Ungu dengan suara halusnya.
Peri Kentang mencebik, "Memang aku sakit apa?"
Rubah Ungu melotot. "Lihat! Panen sebelumnya manusia itu bilang mereka mendapat hasil yang melimpah. Aku bahkan memakannya dan enak sekali. Tapi seka…"
Peri Kentang cemberut dan melihat ke arah Rubah Ungu dengan lirikan mata sadis. Membuat Rubah Ungu otomatis berhenti bicara.
"Kamu suka ya pada manusia itu?"
Rubah Ungu mengerjap. Bingung dengan pertanyaan Peri Kentang.
"Katamu manusia bisa berbahaya dan kamu tidak mau dekat-dekat mereka. Tapi malam itu kamu bahkan mau-mau saja ditepuk-tepuk kepalanya."
Apa ini, tanya Rubah Ungu dalam hatinya. Kenapa Peri Kentang berkata seperti itu? Apa maksudnya?
"Aku…aku tidak suka…kalau kamu dekat-dekat dengan yang lain seperti itu."
Rubah Ungu mengerjap pelan. "Oke…. Tapi manusia itu baik, loh. Dia tidak melakukan sesuatu yang jahat kepadaku dan malah memberiku makanan."
"Tapi dia menepuk-nepuk kepalamu!"
"Kamu tidak suka kepalaku ditepuk manusia?"
"Aku tidak suka kepalamu ditepuk siapapun. Janji padaku, tidak akan ada yang boleh menepuk kepalamu lagi?"
Rubah Ungu mengangguk.
"Tidak ada yang boleh memelukmu."
Anggukan lagi.
"Memegang tanganmu."
"Oke."
"Dekat-dekat denganmu juga."
"Bagaimana dengan kawananku?"
Peri Kentang terdiam cukup lama. "Baiklah. Mereka boleh, tetapi hanya para tetua dan rubah kecil. Mereka yang sepertimu, tidak boleh!"
Rubah Ungu tersenyum. Dia tahu sekarang, apa maksud Peri Kentang. "Kamu mau jadi pasanganku ya? Seperti ayah dan ibuku? Seperti orangtua manusia tadi, si pemilik ladang?"
Peri Kentang mengangguk antusias. "Kamu mau kan?"
Rubah Ungu tertunduk malu. Pipinya memerah dan ekornya mulai mengibas kencang. Bersamaan dengan ekornya yang mekar menjadi enam, Rubah Ungu berkata pelan, "Mau."
Senyum Peri Kentang tidak pernah selebar dan secerah sekarang ini.
*****
Anak pemilik ladang selesai memindahkan karung terakhir ke dalam truk pembeli. Kedua tangannya yang pegal dan berlumur tanah ia tepuk-tepukkan ke celananya. Hasil panen kali ini, kembali melimpah ruah dan kualitasnya bagus sekali.
Lihatlah, ayah dan ibunya sudah heboh merencanakan persembahan pada para Dewa pelindung. Bentuk rasa syukur mereka karena setelah sempat gagal panen waktu itu, sudah beberapa kali panen ini mereka selalu mendapat hasil yang melimpah ruah dan semuanya berkualitas tinggi. Kentang mereka besar-besar dan rasanya sangat enak. Konon, di luar sana mulai tersebar kabar bahwa kentang terbaik datang dari ladang ini.
Pembeli baru berdatangan dan sebagian bahkan berani menawarkan harga beli yang cukup tinggi. Membuat orangtuanya bisa mengumpulkan tabungan dalam jumlah besar. Tahun depan, dia akan bisa berangkat ke kota dan menuntut pendidikan yang lebih baik. Oranguanya sudah menyewa sebuah rumah kecil untuknya, dan dia akan mengikuti bimbingan pelajaran agar bisa masuk ke salah satu universitas terbaik di negara ini.
Sementara itu para pemilik ladang lain terus datang meminta saran kepada ayahnya tentang bagimana agar panen mereka bisa sebagus itu. Tapi tetap saja tidak ada yang bisa menyamai, bahkan setelah setelah seratus persen menirukan cara ayahnya. Akhirnya mereka percaya bahwa ayahnya hanya diberkati Tuhan dengan kualitas tanah yang jauh lebih baik dari ladang-ladang lainnya.
Anak pemilik ladang tahu, tidak akan ada yang percaya dengan apa yang dia lihat dan ketahui. Bahwa sebetulnya semua berkat kedatangan seekor Rubah lucu berbulu ungu ke ladangnya. Rubah Ungu yang membuat Peri Kentang mereka menjadi peri paling bahagia dan menyebar berkat yang luar biasa. Membuat kentang-kentang mereka tumbuh subur dan berkualitas unggulan seperti ini.
Terimakasih, Rubah Ungu dan Peri Kentang. Berkat kalian, aku akan bisa menuntut ilmu di kota. Tunggu aku kembali, dan akan kubuat ladang ini menjadi tempat yang nyaman untuk kalian. Janji anak pemilik ladang itu dalam hati.
