Actions

Work Header

Desir Cerek dan Pasir

Summary:

Alhaitham mendengar kabar dari kolega di Akademiya bahwa Kaveh telah bertunangan dan akan menikah dengan Cyno bulan depan.
Ia tercengang namun tenang.
Ia paham, memilih diam, tanpa tanya dan kata.
Tidak pula memberitahukan pada Kaveh tentang kabar ini.
Lagipula, mereka cuma teman sekamar, kan?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Satu Cangkir Teh Pertama

Chapter Text

Alhaitham sebenarnya benci WFO, hanya saja ia sudah muak dengan WFH dengan embel-embel efisiensi dan kebetulan perlu data yang cuma ada di kantor. Terpaksalah ia berangkat ke Akademiya hari itu. Seperti biasa, suara sekitar kampus yang lengang namun masih terasa dinamika percakapan yang tenang oleh mahasiswa dan dosen serta peneliti terasa seperti ASMR yang ia perlukan dalam mengerjakan tugas kantor. Ia menyortir tumpukan laporan saat Faruzan, koleganya, muncul di pintu kantornya dengan nada riang yang tak seperti biasanya.

"Eh, Alhaitham ngantor. Udah nyiapin kado sendiri buat Kaveh apa ikut urunan sama yang lain?"

Alhaitham masih belum beranjak dari tumpukan laporan yang ia sortir.

"Emang Kaveh dikasih kado buat apa? Perayaan utangnya yang udah lunas? Ajaib emang kalo itu."

Faruzan terkekeh.

"Yaelah, Alhaitham. Becandaannya gitu amat. Kan Kaveh mau married. Sama Jendral Mahamatra, Cyno! Diem-diem mantep juga ya, Pak, gebrakannya si Kaveh-Kaveh itu."

Alhaitham terpaku. Tangannya yang bersiap meletakkan laporan ke tumpukan lain berhenti di atas tumpukan tersebut.

Menikah?

Ada jeda yang Faruzan sadari bukan sesuatu hal yang lazim.

Matanya memandang Alhaitham dengan penuh tanya. Bukan kepo, hanya... peduli.

"Ng... anu... nampaknya saya perlu permisi dulu ya... Saya kira tadi Alhaitham udah tau, apalagi kan emang bareng rumahnya."

"Enggak kok", jawab Alhaitham singkat.

Faruzan mengangguk dengan penuh pengertian dan beranjak dari kantor Alhaitham. Ia menutup pintu dengan lembut.

Saat ini, yang tertinggal hanyalah detik jam yang entah bagaimana terdengar begitu keras.

Ada laporan yang perlu Alhaitham baca namun kata-kata itu terlihat kabur.

Ada sesak yang terasa di dadanya. Ia seperti merasakan ada tali yang mengikat tulang rusuknya.

Detak jantungnya terasa normal. Semua masih terasa tenang. Ia melirik smartwatchnya untuk memastikan detak jantungnya.

Masih normal, kok.

Ketenangan yang mencengangkan.

Dan tidak ada kata-kata yang dapat mendeskripsikannya.

Ia meletakkan laporan yang sedari tadi ia genggam, kemudian menutup map yang terbuka.

Dia hanya duduk terdiam di situ.

Tidak ada kata yang terucap.

Pun, gerakan badannya tidak.

Berita yang ia terima barusan mengubahnya seperti abu.

Pantas saja acara bukber kemaren begitu banyak dan menyita waktu Kaveh.

Selama bulan Ramadhan, jarang sekali Alhaitham melihat Kaveh di rumah. Alasannya bukber.

Ia juga tiba-tiba mengenakan jaket yang katanya diskon lebaran. Padahal dilihat dari merk dan bentuknya, tentu saja bukan.

Dan Alhaitham tidak pernah menanyakan.

Sekalipun tidak.

Ia paham karena jika ia bertanya, itu artinya ia peduli, dan kepedulian dia merusak air tenang yang ia jaga dengan baik-baik agar tidak tumpah. Air yang ia sengaja abaikan.

Dan sekarang, semuanya sudah terlambat.

Dia tidak menangis. Emangnya dia laki-laki seperti itu?

Hanya saja ketika ia pulang, cerek untuk teh malam itu masih hangat.

Kaveh belum juga pulang.

Dan untuk pertama kalinya, Alhaitham tidak ambil pusing untuk menyiapkan teh baginya.