Work Text:
Pau dan kehidupan sekolah Hector jarang sekali bertimpa. Tak akan ada yang menduga senyum kecil yang mereka lempar ke satu sama lain tiap berpapasan di lapangan utama sebetulnya hanya nol koma sekian persen dari apa yang mereka miliki di balik kacamata orang-orang. Yang mereka tahu hanya Hector, Guiu, Gavi, dan Fermin, kemudian Pau dan Lamine. Bukan Hector dan Pau. Tidak ada Hector dan Pau.
Semuanya terus berjalan begitu selama satu semester penuh. Hector dan Pau berjalan sendiri-sendiri, seolah setelah jam sekolah usai mereka tak berebut remot dan selimut di atas sofa. Pau bahkan sampai hapal kebiasaan Hector ketika mereka menonton film bersama: mengangkat satu kakinya ke atas kaki Pau yang lurus ke depan ditopang meja. Pau akan protes, "Ngapain, sih? Berat," dan Hector akan menjawab sambil mengunyah popcorn, "Biar kalo lo pergi di tengah film pas gue ketiduran, gue bakal tau." seolah ujung-ujungnya dia tak menemukan kepalanya tertidur nyaman di paha Pau setiap ia tak sengaja tertidur. Seolah meninggalkannya sendirian bahkan pernah melintas di kepala Pau.
Saat Guiu dan Hector naik ke kelas sebelas dan Pau datang ke sekolah mereka sebagai siswa kelas sepuluh, Guiu kira ia tak akan pernah melihat secuil pun bayangan Hector di gedung angkatan mereka lagi, berpikir bahwa Hector pasti akan selalu membuntuti Pau ke mana-mana atau sebaliknya. Akan tetapi saat kegiatan MOS selesai dan Pau sudah resmi dinyatakan sebagai siswa di sekolah mereka, Guiu masih bisa menemukan Hector di kelas, di kantin angkatan, di lapangan. Sama sekali tidak ada Pau di sisinya seperti yang selalu ia kira, jadi pada suatu hari, Guiu bertanya.
"Nggak ke Pau, Tor?"
Yang ditanya sedang meributkan permainan Ludo di ponsel Fermin, Gavi di sisinya tak kalah berisik.
"Hah? Kenapa emang Pau?" tanya Hector balik, sama sekali tak melirik Guiu.
Guiu jadi bingung sendiri. "Ya, gak papa sih. Maksudnya mumpung lunch break."
"Dia bisa makan sendiri, gak perlu gue suapin."
'Bukan gitu maksudnya, tolol.' Guiu ingin menjawab sembari memukul kepala sepupunya itu tapi kemudian dia tahan, hanya melengos malas dan pergi bertepatan dengan Gavi yang berteriak nyaring karena token ludonya dilahap token Fermin. Hari itu Guiu pikir mungkin Hector dan Pau sedang agak berselisih paham, atau Hector yang merajuk sendirian karena dia memang sering begitu jika habis berdebat dengan Pau (opininya ditentang sedikit, cemberutnya berhari-hari. Beda jika Guiu yang menentangnya, bukannya cemberut minta dibujuk, malah habis Guiu kena jambak).
Sampai kemudian setelah pulang sekolah, masih di hari yang sama, Guiu datang ke rumah Hector (disuruh mengantar kue oleh mamanya), dan menemukan si anak tunggal sedang anteng menonton TV dengan Pau, dua kaki panjangnya ditumpangkan ke atas kaki Pau yang sama-sama terjulur ke arah meja. Keduanya tak berbincang, fokus menonton. Meskipun begitu, Guiu yakin anggapannya soal mereka yang berselisih paham itu salah. Maybe that's just how they are. Guiu mengangkat bahu dan memukul kepala keduanya saat ia melewati mereka untuk ke dapur, membuat Hector mendesis kesal sedangkan Pau hanya menggeleng kecil.
Maybe that's just how they are. Memisahkan mana kehidupan yang bisa dibagi ke satu sama lain dan mana yang berkesempatan diisi oleh orang lain. Mungkin juga sengaja mengosongkan seharian penuh tanpa presensi masing-masing agar kemudian di penghujung hari ada cerita berbeda yang bisa mereka selipkan untuk mengisi— kalau Guiu boleh mengutip Fiersa Besari— celengan rindu yang mereka simpan.
Jadi Guiu kira mereka akan terus begitu, bertingkah seolah mereka tak akrab di sekolah dan tidur sambil saling memeluk satu sama lain setelahnya. Sampai kemudian datanglah suatu hari di mana Hector akhirnya memilih persetan dengan aksi mengosongkan celengannya dan mengikuti Pau ke mana-mana, seolah ia punya celengan yang lebih besar yang menganga di hatinya dan ingin Pau untuk mengisinya dengan segera.
Sebenarnya Guiu juga yang jadi pemicu utamanya (atau Gavi?).
Hari itu hari senin, seluruh angkatan berkumpul di tengah lapangan untuk melaksanakan upacara bendera, dan kebetulan yang sedang bertugas adalah kelas Pau. Pau jadi salah satu pengibar bendera dengan dua temannya yang lain (salah satunya adalah Lamine), sedang memeriksa tambang yang terpancang di tiang bendera ketika Guiu, Hector, Gavi dan Fermin mulai berbaris. Guiu sudah menduga ada yang aneh dari ekspresi Hector ketika melihat Pau bercanda dengan satu temannya (perempuan, yang kemudian Guiu ketahui sebagai pembawa bendera saat upacara dimulai), tapi hal itu tak menghentikan laju mulutnya ketika ia menyikut Hector dan berbisik, "Tumben banget gak sih Pau sama cewek?"
Gavi yang entah datang dari mana tiba-tiba menjulurkan kepala di tengah bahu mereka, merangkul keduanya sambil menambahkan. "Cakep, jir. Boleh juga Dedek Cuba kalo milih cewek."
Katakanlah Guiu bodoh karena dia pikir Hector akan menimpali gosip aneh mereka, atau bahkan akan mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memotret Pau (yang saat itu sedang tertawa bersama teman perempuannya) untuk dijadikan bahan ejekan ketika mereka bertemu sepulang sekolah nanti.
Guiu salah, tentu saja.
Hector tak merespon cerocosan Gavi, pun tak menatap balik Guiu yang sedang mengamati ekspresi gelapnya diam-diam. Dia hanya bergeming, seolah sedang menunggu sesuatu, lantas melepas topi sekolahnya dan tiba-tiba balik badan (menepis Gavi) menghampiri anggota PMR. Guiu dan Gavi berkedip cepat kebingungan, saling memandang ke satu sama lain ketika mendengar Hector berkata, "Lemes gue, belum sarapan," ke Sofia, teman sekelas mereka yang langsung melengos.
"Lo pikir gue gak liat lo tadi makan gorengan sekresek di kelas?"
"Gorengan doang, Sof..."
Sofia mencibir tapi tetap sukarela mengizinkan Hector ke UKS.
Dua menit sebelum upacara dimulai, Guiu sempat bertatapan dengan Pau yang sudah rapi dengan atribut upacara. Pandangan yang lebih muda kemudian mengedar ke sekitar Guiu, jelas mencari seseorang, sebelum balik menatapnya lagi.
"Hector?" tanyanya tanpa suara.
Guiu mengangkat ponsel, bertanya apakah Pau memegang miliknya, dan Pau berlari ke sisi lapangan, meraih ponselnya. Saat melihatnya, Guiu mengirimkan pesan dengan cepat.
Guiu
uks
Pau
knp
Guiu
blm sarapan katanya
Pau
tadi gue selipin roti ke tasnya
Pau
gak dimakan?
Guiu
gw liat sih udah
Guiu
udah makan gorengan dr fermin juga
Pau
lah
Pau is typing...
Guiu mendengar denging mikrofon dan melihat Pau ditarik oleh Lamine untuk bersiap di posisi mereka. Pesan Pau akhirnya berhenti di situ, meninggalkan Guiu yang menghela napas sebab penasaran dan menyesal karena tak ikut Hector bolos ke UKS.
Gavi juga sepertinya berpikir begitu karena kini keningnya mengerut dalam, sebal disorot cuaca panas, juga mungkin oleh hal lain karena setelah melirik barisan kelas dua belas, dia mengumpat, "Ferran asu."
Guiu ikut melirik ke arah yang sama dan menipiskan bibir saat melihat Ferran, yang jadi korban makian Gavi, sedang bergurau kecil dengan Pedri. "Temen..." Guiu mencoba menenangkan, tapi Gavi, yang memang sering disamakan dengan chihuahua oleh teman sekelas mereka, menggigit balik.
"Iyalah, yang pacarnya kan gua."
Fermin di barisan depan balik badan untuk menimbrung. "Gue masih mikir kalo lo guna-guna Bang Pedri btw." yang akhirnya jadi kena headlock oleh Gavi dan ramai-ramai ditegur guru sampai jadi pusat perhatian.
Karena malu, Guiu waktu itu menyingkir sedikit dari barisan, menyempatkan diri melihat lagi ke arah Pedri dan menemukan kakak kelasnya itu juga ternyata sedang melihat ke arah mereka. Jika Guiu bilang hubungan tak terduga Gavi dengan Pedri tak pernah membuat teori Fermin soal Pedri yang diguna-guna temannya melintas di kepalanya, maka Guiu berbohong. Guiu tahu betul kalau Pedri punya kuasa di ujung jemarinya. Menunjuk orang yang ingin ia jadikan kekasih bukan masalah besar, jadi ketika yang ia tunjuk adalah Gavi, si hot-headed dari kelas sebelas yang kepribadiannya serba terlalu (terlalu berisik, terlalu bersemangat, terlalu meluap-luap), satu sekolah gempar tak percaya. Desas-desus aneh menyebar dalam hitungan jam, beberapanya termasuk bercanda dan beberapanya tidak. Jangan-jangan Gavi ngelakuin ini, jangan-jangan Gavi ngelakuin itu. Sampai sekarang Guiu masih sering dengar rangkaian kalimat itu dan Guiu tak bisa menyalahkan, mengingat dia juga pernah berpikir demikian, tapi saat Gavi dan Fermin masih sibuk dipisahkan petugas upacara dan ia malah melihat tatapan lembut Pedri dari kejauhan dengan senyum kecil khasnya ketika Gavi berbuat ulah, Guiu, Fermin, dan yang lainnya mungkin salah.
Mungkin Pedri hanya mencintai Gavi sebesar Gavi mencintainya.
.
Hector masih tak ditemukan di kelas lima menit sebelum guru mengajar.
Guiu mencoba mengubungi ponselnya, namun tak ada jawaban, berakhir lari dari gedung kelasnya ke gedung lain di mana UKS berada, sedikitnya merasa khawatir dengan keadaan sang sepupu. Saat sampai, Guiu mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil ngos-ngosan kecil, sebelum akhirnya mendengar satu suara familiar yang disusul oleh suara lain yang juga tak kalah familiar di sudut ruangan yang ranjangnya tertutup gorden. Guiu mendekat pelan, memastikan.
"Beli kue jauh, kan."
"Bisa izin."
"Jauh."
"Gak papa."
"Capek."
"Nggak."
"Pau..."
"Kalo kuenya gak dibeli sekarang, nanti cemberut gak?"
"... Gak mau kue..."
"Tadi katanya mau."
"..."
"Mau apa jadinya?"
Hening selama beberapa detik, dan Guiu mulai merasa dia seharusnya tak mendengar percakapan itu, bagaimana Hector mencicit kecil dan Pau meresponnya dengan lembut, Guiu seharusnya tak tahu. Selain tak ada hak untuknya menginvasi, Hector juga akan menyembelihnya jika dia tahu kalau Guiu menguping, jadi Guiu mundur, selangkah, perlahan, lalu membalikkan badan dan berjalan dari sana.
Meski begitu, satu konversasi terakhir dari mereka berdua masih samar-samar masuk ke telinganya.
"Di sini, jangan ke mana-mana," kata suara Hector.
"Gue?"
"Iya."
.
Selain tinggal di kelas mana dan siapa teman sebangkunya, Hector tidak tahu apa-apa soal Pau dan kehidupan sekolahnya; berapa nilai ulangan hariannya, apa yang biasa ia pesan di kantin saat istirahat, jadwal piketnya, atau siapa guru yang paling membuatnya kesulitan. Gedung kelas mereka berjauhan, tiap angkatan juga punya fasilitas masing-masing (kantin, kolam renang indoor, lapangan olahraga), satu-satunya kesempatan Hector dan Pau melihat satu sama lain adalah ketika mereka berbaris untuk upacara bendera— sekali dalam seminggu. Pau biasanya akan mencari kepala Guiu terlebih dahulu (karena dia tinggi) sebelum akhirnya menemukan mata Hector dan keduanya akan berbarengan melempar senyum.
Pagi ini juga seharusnya seperti itu, Hector pikir. Jadi ketika melihat Pau malah bercanda dengan orang (perempuan) yang namanya bahkan belum pernah Hector dengar sebelumnya, sebungkus roti stroberi dan sekresek gorengan yang pagi ini Hector telan seolah ingin keluar lagi dari perutnya. Rasanya aneh, unfamiliar. Hector mencoba mengabaikan oecehan Guiu dan Gavi, memperhatikan Pau sekali, dua kali, berharap dia akan balik badan dan membuat kontak mata dengan Hector seperti biasa. Namun setelah Hector menghitung selama sepuluh detik, Pau masih belum berbalik, jadi akhirnya Hector yang berbalik, melepas topi, lalu bolos ke UKS, berharap ia bisa terlelap di sana.
Matras keras yang menopang punggungnya tak membantu sama sekali, sialnya. Hector terus bergerak, menutup mata dengan lengannya atau menenggelamkan wajahnya ke permukaan bantal, tapi suara mikrofon dari lapangan utama masih menembus ke dalam UKS, membuat Hector mendecak keras ketika lagi-lagi teringat Pau. Kue stroberi, Pau pernah berbisik ke telinganya sambil merengkuh tubuh Hector dengan erat ketika mereka terjebak badai hebat sepulang sekolah beberapa minggu lalu (kebetulan, Hector fobia petir), pikirin kue stroberi apa yang mau lo makan sehabis kita pulang dari sini. Sambil gemetar dan terus menenggelamkan wajahnya lebih dalam di perpotongan leher Pau, Hector mulai membayangkan berbagai jenis kue stroberi yang bisa ia pesan, dan gemetar di tangannya mereda.
Sekarang cuaca sedang cerah, tidak ada petir, tidak ada kilat yang seolah mengancam akan menyengat, tapi juga tidak ada Pau, jadi Hector melakukannya lagi, menggeser pemandangan yang ia lihat tadi dan menggantinya dengan deretan kue cantik dari toko di dekat rumah. Suara mikrofon dari lapangan mulai hanya terdengar samar ke kepalanya, sebelum kemudian hilang total dilahap lelap.
Hector terbangun dua puluh menit setelahnya karena terganggu dengan satu telapak tangan yang menempel di dahinya. Ketika membuka mata dan berkedip-kedip kecil untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke penglihatannya, yang ia temukan selanjutnya adalah Pau.
Hector tak bisa bicara saking terkejutnya, hanya mengerjap bodoh meskipun tangan Pau masih dengan telaten memeriksa suhu tubuhnya. Hector tidak demam, tapi ketika tangan Pau meraba pipinya sambil menatapnya dengan kedipan lambat (seolah sedang memastikan sesuatu), Hector mungkin saja iya.
"Nggak panas," ucap Pau kemudian, menurunkan tangannya dan mengusap lembut pinggang Hector. "Maag-nya kambuh?"
Hector meresponnya dengan, "Kok di sini?"
"Harusnya di mana?"
"Ngibarin bendera?"
Pau mendengus geli (Hector jadi tersinggung, omong-omong), dan menarik satu kursi untuk ia duduki tepat di samping ranjang Hector. "Upacaranya udah selesai."
Sambil manyun, Hector bangkit duduk. "Tau dari mana gue di sini?"
"Guiu."
Tentu saja. Siapa lagi?
Lalu Pau melanjutkan, tahu betul kalau Hector sedang membayangkan dirinya mencincang Guiu di dalam kepala. "Gue yang nanya. Gak liat lo tadi di lapangan."
Hector tak sengaja mendumal pelan. "Oh, sadar?" dan untungnya Pau tidak mendengar.
"Roti tadi pagi dimakan gak?"
"Iya."
"Mau minum obat?"
"Gak tau." Hector membaringkan kembali tubuhnya ke atas ranjang dan meringkuk memunggungi Pau. "Sana balik kelas."
"Jamkos sampai istirahat."
"Enak amat," cibirnya, dibalas Pau dengan kekehan kecil. "Do something else, then."
"Contohnya?"
"Berkebun, playing with your friends, anything, just don't bother me."
Hector menutup matanya lebih erat ketika respon dari Pau tak kunjung datang. UKS hening beberapa detik dan sesuatu terasa mengganjal di dada Hector, apalagi ketika kursi yang diduduki Pau terdengar berdecit nyaring, tanda bahwa dia bergerak bangkit. Hector menunggu suara Pau menyibak gorden, atau suara langkah kakinya saat ia pergi dari sana dan meninggalkan Hector sendirian. Alih-alih, yang selanjutnya terdengar malah suara gemerisik plastik, membuat Hector yang penasaran akhirnya mengintip dari bahunya.
Pau masih di sana, berdiri di tempatnya dengan tangan yang sibuk merogoh saku celana. Beberapa bungkus permen kemudian keluar dari sana. Pau membuka salah satunya ketika Hector akhirnya membalikkan badannya; ingin tahu.
"Apa it—"
"Permen," jawab Pau simpel, ketika Hector rusuh beranjak duduk dengan satu permen yang Pau masukkan tanpa aba-aba ke mulutnya ketika ia bahkan belum menyelesaikan pertanyaannya.
"What the fuck." Hector nyaris memuntahkannya (tidak jadi karena ternyata permennya rasa stroberi). "What if I choke???" Pau mengangkat bahu acuh dan Hector serius ingin melempar wajahnya dengan bantal UKS.
"Strawberry flavoured candy to shoo away the grumpy Hector Fort."
"I'm NOT grumpy."
"Pouty, then?"
"No."
"He said while pouting."
"I will fucking kill you."
Pau terkekeh, kembali duduk. Dua kaki Hector yang beringsut ke sisi ranjang kemudian turun dan menapak di atas kursi yang diduduki Pau, mengunci dua sisi paha si anak kelas 10. Pau melihat Hector masih manyun kesal (he's in fact pouty).
"Actually I planned to buy you some strawberry cake after school, but since you will kill me and I will die eventually—"
"I want the shortcake one."
"Hm?" Pau menyandarkan punggungnya ke kursi, merapikan kaus kaki Hector sebelum mendongak untuk bersiap mendengar ocehannya soal kue stroberi sejam ke depan.
"Shortcake, atau cheesecake, whatever. Medium sized. Tapi sebenernya semalem gue liat mereka punya menu baru, cupcake gitu, terus mousse cake mereka yang discontinue juga ada lagi, kayaknya gara-gara minggu kemarin gue spam emot nangis ke WhatsApp-nya Kak Alexia. Abisnya sayang, Pau. Waktu itu gue nyoba beli mousse cake di toko deket rumah Bang Lewa rasanya gak enak— eh, enak, sih—" Hector's first life rules: no strawberry cake bashing. "—tapi rasanya gak seenak bikinan Kak Alexia, jadi gue tanya aja ke Kak Aitana, 'Kak, kalo besok gue sujud di depan toko dua jam, Kak Alexia bakal balikin mousse cake ke menu gak, ya?' Terus kata Kak Aitana, 'Kamu coba telepon aja dulu sambil nangis-nangis, Kak Alexia orangnya gak tegaan'."
"Jadinya ditelepon?"
Hector menggeleng. "Waktu mau ditelepon, Kak Alexia-nya lagi sibuk, dia bilang 'Chat aja dulu, Dek.' jadi ujungnya gue spam aja emot nangis."
Pau terkekeh kecil tak habis pikir. Setidaknya Hector sudah tidak se-cemberut tadi. "You played some big role right there. Jadi, mousse cake?" tanyanya, dibalas oleh Hector dengan senyum lebar dan anggukan cepat, poni ikalnya bergerak seolah ikut riang, dan Pau hampir mengangkat tangan, menyentuhnya.
Sampai ponselnya tiba-tiba berdenting kecil.
Hector memperhatikannya. Bagaimana Pau membuka ponselnya dan garis wajahnya langsung berubah saat memeriksa pesan yang ia dapat. Hector ingin bertanya, tapi Pau keburu mengangkat kepala, menatapnya.
"Gue ada kerja kelompok, pulang sekolah nanti."
Hector menahan diri untuk tak menghela napas dalam terang-terangan. "Cake for dessert after dinner doesn't sound so bad, though. It's fine."
Namun Pau melanjutkan lagi. "Kemungkinan baru beres jam 9."
"Oh."
Oh.
Yaelah.
"Ya, besok juga bisa, kan? It's not like we'll be dead by tomorrow." Tapi ketika Pau menegakkan punggung dan menyentuh pergelangan kakinya untuk bicara, Hector menarik kakinya naik ke atas ranjang, berbaring lagi dan memejamkan mata. "Balik kelas sana, nanti ketinggalan diskusi." lalu berbalik memunggungi Pau yang langsung terdengar menghela napas.
Fuck, Hector pikir. Are you getting tired of me?
"Hector."
"Hm?"
"Look at me."
"Bosen ngeliat lo mulu."
Punggung seragamnya ditarik dan Hector menoleh kesal. "Apa, sih? Stop bothering me."
"You're getting even grumpier. Strawberry candy doesn't work. Gue beli kuenya sekarang."
Hector duduk buru-buru. "No? First of all— I told you I'm not grumpy. Second of all— no???"
"Why?"
"You don't have to."
"I want to."
Tidak ada kalimat koheren lain yang bisa Hector keluarkan dari mulutnya tanpa terbata, jadi yang selanjutnya Hector lakukan hanyalah menatap Pau lekat-lekat dengan matanya yang bulat sayu, berkedip murung dan manyun kecil (lagi) karena bingung harus merespon apa.
Fun fact, his little pout does something to Pau's weak, weak heart.
Poni ikalnya yang jatuh berantakan di depan dahi akhirnya Pau rapikan hati-hati, and the atmosphere suddenly shifted, goes all soft and more 'intimate'. "Gak lama, kok."
"Beli kue jauh, kan."
"Bisa izin."
"Jauh."
"Gak papa."
"Capek."
"Nggak."
"Pau..."
"Kalo kuenya gak dibeli sekarang, nanti cemberut gak?"
Hector bingung ingin menjawab apa karena sekarang pun dia sedang cemberut. "Gak mau kue..." fun fact (lagi), kalimat itu belum pernah keluar dari mulut Hector sebelumnya.
"Tadi katanya mau." Pau merapikan kerah seragam Hector yang kusut sebelum kembali menatapnya dengan lembut, suaranya ikut merendah ketika bertanya, "Mau apa jadinya?"
Hector tak bisa menjawab, tak ingin menjawab karena opsi balasan yang berjejer di kepalanya hampir semuanya memalukan. Mau apa? Mau Pau bolos kerja kelompok dan nonton film sambil memakan kue bersamanya sepulang sekolah, mau tahu apa yang Pau akan beli di kantin nanti saat jam istirahat, mau kenal teman Pau yang lain selain Lamine, mau tanya emangnya Pau punya teman perempuan, ya? mau tahu Pau duduk di meja barisan berapa di kelasnya, kenapa hari ini dia jamkos sampai istirahat, jadwal pelajarannya, mau tanya kenapa Pau gak pernah misuhin tugas sekolahnya setiap mereka main? (padahal Hector ngomel hampir tiap jam gara-gara punya tugas matematika yang harus dikumpul besok tapi ujung-ujungnya tetap nonton film di samping Pau). Hector mau tanya semuanya, mau tahu semuanya, tapi yang paling dia mau kali ini cuma satu.
"Di sini, jangan ke mana-mana."
"Gue?"
"Iya."
Pau mengangguk mengiyakan, seolah melakukannya adalah hal yang paling mudah di dunia, seolah jika Hector menginginkan sekeping bintang pun dia akan mencari cara untuk mendapatkannya.
"Jadi, kuenya mau tetep dibeli besok atau gue anterin nanti malem?"
"Emang tokonya bakal buka?"
"Kalo ada waktu luang sorenya bisa nyempetin beli dulu. Lagian pasti ada break time, gak mungkin kerja kelompok non-stop sampe jam sembilan."
"Kerja kelompok apa, sih?" tanya Hector ketika ponsel Pau berbunyi lagi dan Pau menuduk untuk membukanya.
"Tugas fisika," katanya masih menjawab. "Bikin..." lalu kalimatnya menggantung begitu saja.
Hector memiringkan kepalanya kebingungan. Pau diam selama beberapa detik, terlihat membaca pesan di ponselnya berulangkali seolah memastikan.
"Apa? Kenapa? Kerja kelompoknya sampe harus nginep juga?" Hector jadi berburuk sangka, apalagi ketika Pau tiba-tiba meletakkan ponselnya ke atas nakas dan menyeret kursinya lebih dekat ke arah Hector dengan senyum samar yang sepertinya dia coba pendam sekuat tenaga. "Apa sih, Pau?"
"Apa?" kekeh Pau. "Guiu."
"Apa katanya?"
"Nanya gue masih di sini atau enggak."
"Oh..." Hector berkedip kecil. "Terus?"
"Guru di kelas udah masuk, lo dapet izin sakit sampe jam pelajaran kedua."
Hector akhirnya nyengir. "Asikk," katanya. Pau hanya geleng-geleng, sudah menduga dari awal Hector memang tidak absen upacara karena benar-benar sakit.
"By the way,"
Hector yang sedang menata bantal untuk kembali berbaring, berhenti dan menatap Pau lagi. "Hm?"
"Nanti, jam istirahat, makan bareng di kantin angkatan gue, mau?"
"Hah????" Hector hampir tersedak napasnya sendiri. "Apa???"
"Maybe it's not new for you karena lo juga makan di sana tahun lalu. Tapi sekarang ada banyak menu baru. Kata Oscar, orang yang duduk di depan gue sama Lamine, udang tofunya enak."
"Oscar??? Udang tofu???"
"Iya, Oscar, Oscar Gistau. Ada Bernal juga, temen sebangkunya."
Saking bingungnya, Hector yakin sekarang Pau sedang menertawakan ekspresi jeleknya.
"Hector," panggilnya. "Mau gak? Kenalan sama temen-temen gue yang lain. Biar lo percaya kalo temen gue bukan cuma Lamine dan berhenti ngatain gue a loner."
"Emang gue pernah ngatain lo gitu, ya?"
Pau tersenyum. "Mau gak?"
"Mau." Hector mengangguk dua kali. "Mau."
.
Seperti yang Pau bilang sebelumnya, it's not new for him karena di sini jugalah Hector dan yang lainnya menghabiskan waktu selepas jam pelajaran usai setahun lalu. Namun mengedarkan pandangan dan tak menemukan satu pun wajah familiar di sekitarnya membuat Hector tetap merasa out of place juga pada akhirnya. Dia meremat ujung seragam Pau erat ketika yang lebih muda menuntun Hector ke salah satu meja.
"Tuh."
Hector meringis karena orang yang dia kenal dari sekumpulan orang yang Pau tunjuk benar-benar hanya Lamine.
"Nih, Kak Hector."
Mata Hector membulat kecil mendengar frasa Kak Hector keluar dari bibir Pau ketika dia menarik dua kursi untuk mereka duduki. Hangat di pipinya belum sempat merambat ke telinga karena satu dari dua orang yang duduk di depannya tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arahnya dengan semangat.
"Kak! Oscar Gistau!"
"Biasa dipanggil Oscar Sugigi," tambah orang di sebelahnya dengan tenang, (Hector tertegun sekejap mendengar suaranya yang kelewat berat).
"Yeu! Gak, ya!" bela Oscar menyikut temannya yang tak peduli dan memilih untuk menunduk kecil ke arah Hector.
"Marc Bernal, Kak. Heard a lot about you so it's nice to see you here."
"Ih, jaim amat. Lu naksir, ya?" nyinyir Oscar, yang akhirnya disikut oleh Bernal sebagai balasan, segulung tisu juga turut terlempar ke wajahnya (ulah Pau) (Hector berusaha mengabaikannya).
"Heard a lot about me?" tanya Hector penasaran, kemudian merapatkan bibir ketika mata Bernal mengerling penuh jahil ke arah Pau yang tiba-tiba menyodorkan daftar stan makanan yang ada di sana.
"Mau makan apa?"
Bernal terkekeh, Lamine yang belum sempat Hector lirik juga terdengar mendengus geli, sedangkan Oscar hampir naik ke meja untuk menunjuk menu makanan yang katanya betul-betul dia rekomendasikan.
"Yang ini enak, Kak! Yang ini juga!" dan Pau akan sesekali merespon dengan, "Hector gak suka pedes." atau "Kegedean porsinya." Lamine dan Bernal hanya memperhatikan sambil sesekali menggeleng kecil. Hector agak terpegun karena dia kira Lamine sudah cukup unik dan berisik untuk jadi teman Pau, ternyata final boss-nya baru Hector kenal hari ini dan wujudnya adalah Oscar Gistau.
Oscar bilang hari ini bagian Lamine yang memesan, (mereka ternyata punya jadwal khusus untuk mengantri di kantin setiap hari), jadi meja itu kemudian hanya terisi empat orang selama kurang lebih dua puluh menit. Bernal kurang banyak bicara (hanya dia satu-satunya orang yang Hector duga akan berteman dengan entitas semacam Pau), tapi tetap membela diri kalau Oscar mengatainya macam-macam (contohnya soal dia yang biasa dipanggil Bernard), dan Hector baru sadar kalo selain suaranya yang kelewat berat, tinggi badannya saat ia berdiri untuk mengambil saos di ujung meja juga terlampau abnormal.
"Yakin, tuh, dia seumuran sama lo? Abang-abang yang gagal naik kelas kali?" Hector berbisik ke Pau dan yang dibisiki malah tertawa.
"Pernah liat akta kelahirannya, kok. Beneran seumuran gue."
"Ngapain dia nunjukin akta-nya?"
Pau mengangkat bahu. "Kebetulan bukan cuma lo yang pernah mikir gitu."
Dan orang lain yang juga pernah berpikir begitu ternyata adalah Oscar Gistau. Bedanya Hector membisikkan hal itu ke Pau, sedangkan Oscar langsung mengucapkannya tepat di muka Bernal, di hari pertama mereka bertemu sebagai teman sekelas (dan teman sebangku karena korban sistem kocok wali kelas).
Selain rekomendasi kafe enak dari Oscar dan ajakan main futsal dari Lamine dan Bernal, Hector juga dapat segunung informasi baru soal Pau; "Ada satu cewek yang naksir Pau di kelas, tapi gak pernah dia gubris", "Bahasa Inggris Pau paling lancar di antara kita tapi kalo ada PR dia tetep nyontek Oscar", "Kalo diajak main abis pulsek susah banget, dia hampir digeret KM karena gak mau ikut makan-makan sama wali kelas", "Skill futsalnya bagus tapi kalo diajak gabung ekskul nanti-nanti mulu", "Eh, ini lucu, sih. Dia pernah dilabrak gara-gara deket sama geng Kak Hector. Apa katanya?" "'Songong amat mentang-mentang di-backing kakel'" "Nah!! HAHAHAHA".
Hector tertawa tak habis-habis sampai rasanya dia mulai jadi pusat perhatian, mungkin ada beberapa siswa kelas sepuluh yang baru sadar juga akan keberadaannya dan jadi tak bisa menahan diri untuk terus-terusan menoleh. Anehnya, meski sedang jadi objek gosip, Pau sama sekali tak bersuara, hanya sibuk makan dan mendengarkan sambil geleng-geleng sendiri sesekali meskipun Hector berulangkali melempar tatapan mengejek ke arahnya.
"Oh, iya. Di antara kita, Pau juga paling rajin upacara. Beda sama Lamine yang dikit-dikit ke UKS, dikit-dikit pura-pura pingsan. Pau kayak evil twin-nya tiap murid di di penjuru dunia yang kalo Senin tiba-tiba lemes, alias mood-nya malah bagus waktu hari Senin doang— sama jam pulang sekolah juga sih, nah yang ini baru normal— sisanya planga-plongo," oceh Oscar.
Kali ini, Hector tidak tertawa.
"Emangnya lu gak planga-plongo juga?" ejek Lamine kemudian.
Bernal yang merespon, "Ya enggak, lah. Dia kan ketua doger monyet di kelas."
Mereka bertiga akhirnya saling jambak. Pau memindahkan satu dimsum miliknya ke wadah Hector yang masih mengunyah ujung sumpit dengan ragu, tak meliriknya sama sekali ketika Oscar tiba-tiba bersuara lagi, menunjuk Pau.
"Eh, tapi tadi gue denger dari Savannah lo minta izin buat diganti pas baru abis ngibarin bendera, kenapa?" tanyanya penasaran.
Hector menoleh penuh seketika.
"Iya, tapi gak diizinin, kan? Padahal benderanya udah naik juga." Oscar mengangguk cepat ketika Bernal menimpali, kembali menatap Pau yang kini jadi pusat perhatian satu meja.
"People changed," balas Pau kelewat santai.
Lamine mendengus. "Abis upacara lo tetep ngibrit juga ke UKS. Ngapain, tuh?"
"IH," heboh Oscar. "Eh, petugas PMR tadi ada yang dari kelas kita gak, sih?"
"Ada. Martha. Kenapa emangnya?"
"Mau gue tanya tadi cewek dari mana aja yang tumbang sebelum bendera naik. Siapa tau ada gebetan Pau makanya dia nyamperin ke sana."
Kali ini Pau langsung merespon sambil geleng-geleng. "Ngaco."
"Siapa tau!"
"Enggak."
"Nggak apa?"
"Nggak ada cewek."
Bernal menimpali lagi, dengan lirikan familiar seolah ia tahu sesuatu. "Tapi gebetan ada?" yang bukan cewek.
Pau merapikan bekas makanannya dan menarik tangan Hector untuk berdiri, Bernal akhirnya mendengus geli saat tahu pertanyaannya tak akan terbalas. "Udah, kan, makannya? Sepuluh menit lagi masuk, jalan ke kelas lo jauh."
Hector ditarik dari sana tanpa perlawanan, lagi-lagi hanya bisa mengerjap bodoh seperti tadi pagi. Mereka berjalan pelan ke gedung kelas 11, bersisian tanpa bicara sama sekali. Sebotol yogurt stroberi yang sempat Pau belikan sebelum mereka keluar kantin hanya Hector remat-remat kecil di tangannya.
"Maaf. Temen-temen gue aneh," ucap Pau ketika mereka sampai di lorong lantai pertama. Hector tersenyum kecil, masih belum mau mendongak dari botol yang dia pegang.
"Lo-nya juga aneh."
"You like weird."
"I like weird." Hector mengangguk kecil.
Mereka berhenti berjalan setelah sampai tepat di depan lift. Pau menoleh ke arah Hector di sampingnya, tepat ketika Hector menghela napas dan memutar tubuhnya, menatap Pau secara penuh.
"Pau."
"Hm?" Pau ikut bergerak dan mereka kini saling berhadapan, berpandangan. "Kenapa?"
"Kerja kelompoknya... Oh fuck, is it so selfish of me for wanting you to cancel it?"
Anehnya, Pau malah terlihat tak terkejut sama sekali.
"You're not selfish. I would cancle it if I could, and I couldn't, I'm sorry. Gue wakil ketua projeknya."
Tak seperti tadi pagi, kini Hector tak menahan diri untuk mengembuskan napas berat di depan Pau, seolah ia tak peduli lagi dan memilih untuk menunjukkan ketergantungannya secara terang-terangan.
"Right, I'm sorry. That was so dumb. Forget it." Hector menunduk lesu, sadar kalau Pau mendekat selangkah lewat sepatunya.
"But I can sleep over if you want," katanya, dan Hector mendongak seketika, bertemu tatap dengan Pau yang langsung tersenyum simpul. "Lagian jam sembilan kayaknya kemaleman buat Bunda, she'll be—"
"She'll be sooo tired." Hector memotong kelewat riang. Mereka bergeser ke pojok ketika lift terbuka. "Gue baru inget curfew lo masih jam sembilan."
Pau tertawa dengan perubahan suasana hati orang di depannya. "Iya, katanya nanti baru boleh keluar malem kalo udah segede Kak Hector."
"Gitu, ya, Dedek Cuba?"
"Oh my God— don't."
Hector kembali tertawa, mengabaikan tatapan dari orang-orang di sekitar mereka yang juga mulai mengerutkan alis melihat keberadaan anak kelas sepuluh di sana.
"Jadi, nginep, ya?" tanya Hector kemudian, dan Pau mengangguk.
"See you tonight," katanya ketika Hector masuk ke dalam lift sendirian.
Hector tersenyum. "See you tonight," lalu saat pintunya hampir menutup, dia berteriak, "jangan lupa kuenya!"
Pau tak sempat menjawab, dia hanya terkekeh kecil dan pergi dari sana. Di jalan, ponselnya berdenting, pesan dari Guiu datang lagi.
Guiu
balikin hector, udah mau bel
Pau
udah
Guiu
di mana
Pau
baru naik lift
Guiu
ok
Guiu
gak keceplosan kan
Guiu
ini nyawa gw taruhannya
Pau
aman
Pau
kayaknya
Guiu
eh tai
Pau
wkwkwk
Guiu
dah nyampe
Guiu
kok dia cengar-cengir anjing
Guiu
lo apain
Guiu
demi tuhan
Guiu
gue tb2 disuapin brownies
Guiu
pau
Guiu
cubarsi
Pau
kenapa sih
Pau
disuapin sepupu sendiri
Guiu
serem anjg
Pau mendengus geli, memencet tombol lift untuk naik ke lantai kelasnya sebelum membaca ulang pesan Guiu tadi pagi.
Guiu
kata lamine lo ke uks. nengok hector kan? masih di sana gak? bilangin gausah balik dulu, gurunya udah dateng, udah gue izinin juga sampe mapel beres
Guiu
btw cewe yang jadi pengibar bendera sama lo siapa? gue baru liat. hector jg kayaknya sama soalnya mukanya aneh
Guiu
duh basa-basi gue jelek banget anjg
Guiu
pau
Guiu
kayaknya hector gak kebiasa dah ngeliat lo sama orang yang... orang lain, yang bukan gue, gavi, fermin, atau lamine. dia cabut ke uks waktu ngeliat lo becanda sama cewe tadi, padahal sejauh yang gue liat, dia selama ini biasa aja
Guiu
kayaknya dia mulai sadar kalo dia belum tau apa-apa soal lo yang di sini, lo yang bukan punya dia di luar sekolah
Guiu
i think he wants to be a part of this world of yours as well, yk, highschooler pau's world
Guiu
he wants himself to be in every world where youre in
Hector tak bisa berhenti menatap jam setelah jam menunjukkan pukul 7 satu jam yang lalu. Sekarang pukul 8 dan Hector akhirnya berhenti mengecek jam, (beralih jadi mengililingi ruang tengah sambil menggigit bibir). Saat ponsel yang dia pegang berdenting, Hector mengeceknya buru-buru.
P
i'm outside
Meskipun hampir berlari ke depan rumah, Hector menetralkan tenggorokannya dan berusaha memasang wajah lurus saat membuka pintu. Pau sedang memarkirkan motornya ke dalam garasi saat Hector melangkah keluar. Angin malam menyerbu kulitnya dan Hector refleks memeluk lengannya sendiri kedinginan.
"Cepet, dingin."
"Wait inside."
"Ck—"
Tahu Hector akan manyun, Pau buru-buru menyela, mengunci garasi dengan cepat. "Iya, sebentar, jangan ke mana-mana," katanya. Setelah selesai, dia berjalan ke arah teras, menyodorkan paper bag yang dia bawa. "Mousse cake."
"Thank you." Hector menerimanya, mengangkat kepala dan menatap Pau yang kemudian melempar senyum lelah kepadanya. "Ayo masuk, you seem very tired."
Sebelum Pau sempat mengelak, Hector menarik tangannya untuk melangkah ke dalam rumah. Pau yang masih mengenakan seragam sekolahnya akhirnya menyisihkan waktu untuk membersihkan diri. Dia keluar dari kamar mandi dan menggeleng kecil saat melihat Hector sedang mengunyah kue di atas kasurnya sambil memainkan ponsel.
"Mama marah nanti kalo dia tau lo makan di atas kasur."
Hector menoleh, nyengir. "Mau?" tawarnya menyodorkan sendok. Pau menggeleng, mendekat dan mengambil duduk begitu dekat dengan Hector di atas kasur sebelum merunduk perlahan, menjatuhkan wajahnya ke perpotongan leher Hector dan merengkuh dua sisi pinggangnya sambil mengembuskan napas panjang. Hector menelan ludah lamat, tangan kanannya terangkat untuk mengusap kepala Pau lembut sedangkan tangan kiri membalas rengkuhan Pau.
"Mau tidur sekarang?"
"Hm..."
"Okay, let me wash my face first."
"Okay," bisik Pau, tapi tidak bergerak untuk melepaskan Hector.
Hector juga tidak melepas Pau.
Tidak ingin.
Tidak akan.
Meskipun terkadang ada waktu di mana Hector merasa jemari mereka di tengah dekapan mengambang kaku, ragu, Hector tahu bahwa keduanya akan menyerah lagi. Menumpuk kaki di atas sofa, mengikat tubuh satu sama lain dengan rengkuhan terlampau erat di penghujung hari.
And maybe that's just how they are.
