Work Text:
Pau tidak memikirkan hal buruk apa pun saat pesannya ke Hector—call me if u need a ride—tak kunjung dibalas bahkan ketika Pau sudah menyelesaikan sarapannya dan akhirnya pergi ke sekolah sendirian. Mungkin Hector jadinya bareng Guiu, Pau pikir saat sedang berhenti di lampu merah, mengetuk-ngetuk kukunya ke gagang spion sambil menimbang untuk putar arah, walaupun akhirnya tidak jadi dan tetap melanjutkan perjalanannya.
Meskipun begitu, Pau terus mengecek ponselnya, mengharapkan balasan apa pun dari Hector yang mengonfirmasi kalau dia memang dapat tumpangan lain; Guiu, Gavi, Fermin, terserah. Tapi jam pelajaran kedua bahkan sekarang hampir selesai, tidak ada satu pun notifikasi prioritas yang lolos dari filter 'do not disturb'-nya, jadi Pau memutar otak dan akhirnya menghubungi Guiu.
Pau
hector berangkat bareng lo?
Pau
suruh dia bales chat gue
Pesan dari Guiu datang hanya lima detik setelah Pau meraih pulpennya di atas meja.
Guiu
hah sumpah
Guiu
demi tuhan yesus pau gue minta maaf gue beneran lupa
Pau mengirim "?" dan balasan Guiu selanjutnya langsung membuat punggungnya menegak.
Guiu
hector demam dari semalem
Guiu
sumpah gue udah mau bilang tadi, tapi lupa
Guiu
pau jangan marah
Guiu
ampuni gue
Guiu
pau 😭
Pau membalas deretan pesan Guiu dengan "lo tolol?" dan dapat respon "pau maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf" yang Pau abaikan untuk kembali membuka ruang pesannya dengan Hector.
Pau
hec
Pau
hector
Pau
tell me you're okay please
Pau mengetuk-ngetuk ujung jemarinya ke atas meja sambil diam-diam merogoh kunci motornya di saku celana, menatap ponselnya begitu lekat. Hector yang masih tak mengirimkan balasan apa pun membuat Pau mulai mempertimbangkan beberapa alasan dispen. Untungnya, satu menit kemudian, gelembung pesan Hector hidup, tanda bahwa orang di seberang sedang mengetik. Pau tanpa sadar menegakkan punggung, menunggu.
Hec
oau
Hec
pau
Hec
gw nggak sekolah
Hec
smpe besok
Pau
demam?
Hec
iya :(
Hec
baru bs buka hp skrg
Hec
pusing
Pau
sebentar, jangan ke mana-mana
Pau
pegang terus hp-nya ya
Hec
ok
Hampir seisi kelas menoleh berbarengan ketika kursi Pau berderit mundur dan empunya bergerak cepat ke arah Eva (ketua kelas perempuan mereka yang duduknya di meja depan paling kanan). Lamine yang sedang menunduk pura-pura mengerjakan soal juga langsung menegakkan punggungnya kaget, bertatapan dengan Oscar dan Bernal di meja depan sebelum kemudian sama-sama mengangkat bahu bingung. Pau keluar dari kelas begitu saja bahkan ketika Eva masih bengong memproses kalimat minta izin-nya (kebetulan pengajar mereka sedang tak hadir), membuat Lamine, Oscar, dan Bernal kemudian spontan menyalakan ponsel masing-masing, membuka ruang pesan grup dengan Hector, Guiu, Gavi, dan Fermin yang baru dibuat seminggu lalu setelah mereka akhirnya secara resmi berkenalan.
Yang gak ikut futsal bintitan [8]:
Lamine
abang-abang apakah ada info sesuatu abang-abang
Ketiganya tak berharap akan langsung ada yang merespon, mengingat saat ini mereka memang masih berada di tengah-tengah jam pelajaran, tapi deretan respon datang bertubi-tubi begitu saja seolah mereka juga tengah sama bosannya.
Fermin
info apa
Gavi
ya itu kan dia nanya bego
Fermin
ya maksudnya apa anjir konteksnya gak jelas????
Fermin
info apa? nomor hp cewek yang kemaren jd mayoret? kapan osis bakal nyidak kelas? kapan pool 11 selesai direnovasi? kapan gavi jadi orang waras?
Fermin
jawaban pertanyaan terakhir: gak akan pernah
Gavi
anjing
Lamine
eh itu dulu deh, kapan osis bakal nyidak kelas? gue masih banyak nyelipin rokok di tas. kalo nomor cewek yg kemaren jadi mayoret boleh langsung dikirim aja
Oscar
bisa fokus dulu gak -_-
Oscar
kak hector lagi apa? pau barusan keluar kelas tapi gak bilang-bilang, takut ada apa-apa
Fermin
waduh
Gavi
waduh (2)
Bernal
??
Gavi
ekhem @Guiu
Fermin
mampus @Guiu
Lamine
kenapa dah
Oscar
kenapa???
Fermin
denger-denger sih hector demam dari semalem, dia nyuruh guiu bilang ke pau soalnya dia gak bisa buka hp. eh si goblok malah kelupaan
Fermin
nih orangnya juga lagi pucet awokawokawok
Gavi
gue kalo dimarahin cuba juga mending sujud di tengah lapangan
Guiu
sujud di depan monas gw bentar lagi
Fermin
😭😭
Oscar
ohhh 😭😭😭😭
Lamine
dih oon bgt dah lu bang @Guiu
Guiu
namanya lupa anjinggg manusiawi
Guiu
tolong ini gmn chat gue gak dibales dari tadi sama cuba
Gavi
coba bakar hp lu terus sebut nama cuba 3 kali dalem hati
Oscar
WKWKWKWKWK
Guiu
babi
Pau menyelinap ke roof top dan menekan ikon telepon setelah menutup pintu. Hector menjawab dalam dering ketiga dan dada Pau mencelos saat mendengar suaranya yang kelewat lemah.
"Pau?"
"Hec."
"Hm."
Menarik napas pendek untuk mengendurkan otot bahunya, Pau mengusap wajah dan bertanya dengan intonasi rendah agar Hector tak merasa tertekan. "Dari kapan?"
"Tadi malem."
"Kok gak langsung bilang?"
"Nggak bisa buka HP."
"Mbak Anna udah dateng?" tanya Pau, soal ART di rumah Hector yang memang jarang menginap.
Hector membalas dengan suara lebih pelan dari sebelumnya, hampir berbisik. "Kayaknya udah."
"Gue telepon Mbak Anna buat bantu lo, ya? How are you feeling now?"
"Pusing, mual, gerah."
"Apa aja yang sakit?"
"Pinggang, kaki."
"Oke." Pau menjeda dan mengambil waktu untuk bernapas. "Sarapan dulu? Apa yang kira-kira bisa dimakan?"
Hector mengerang seolah membayangkan menyantap sesuatu melukainya secara fisik. "Gak ada. Gak tau. Gak mau makan. Mual semuanya."
"Hec..."
"Gak mau, Pau."
"Sup ayam? Biasanya lo makan itu kalo lagi gak enak badan."
"Mual."
Pau berpikir keras lagi. "Sup iga? Atau mau bubur polosan aja?"
Hector merengek. "Gak tau." dan dia memang selalu seperti itu, sulit dibujuk secara verbal. Pau harus secara fisik ada di hadapannya dan memintanya untuk bekerja sama sambil memilin lembut jemarinya. Ini juga yang membuat Guiu jadi korban rasa jengkelnya. Dari dulu Hector jarang bisa kooperatif jika sedang demam, selalu rewel, apalagi sekarang dia sedang sendirian karena seingat Pau, mamanya baru akan pulang lusa dari urusan pekerjaan di luar kota.
"Gue ke sana, ya?'
Pau bahkan bisa mendengar cemberutnya Hector dari seberang sini. "Jangan bolos."
"Gue bisa minta surat dispensasi."
"Gak boleh."
"Hector..." Jam pulang sekolah masih beberapa jam ke depan lagi dan Hector masih belum mau makan, bagaimana Pau bisa tenang? "Sarapan kalo gitu. Ayo, mau apa?"
Hector terdengar mengeluh sebentar. "Bubur ayam."
Pau menghela napas lega. "Gue telepon Mbak Anna sekarang."
"Okay."
"Okay."
Hector terdengar menggerakkan tubuhnya sebelum kemudian merintih kesakitan. Pau menggigit bibir, masih gelisah.
"Hec?" panggilnya lembut.
"Hm?"
"Jangan kenapa-napa sampe gue pulang, ya?'
Hector menjawab dengan serak dan Pau bisa mendengar senyumannya. "Iya, Pau."
"HP-nya jangan ditaro jauh-jauh, jangan disimpen di atas nakas. Kalo ada yang kerasa sakit, telepon Mbak Anna."
"Bukan telepon lo?"
"I can't help much now," balas Pau menyesal. "Mama udah dikabarin?"
"Belum."
"Sekalian gue kabarin abis ini. Istirahat, ya? Nanti gue pulang langsung ke sana."
"Mau kue."
Pau tanpa sadar tersenyum tipis. "Iya, gue bawain kue."
"Makasih, Pau," ujar Hector lemah.
"Sama-sama."
Setelah menghitung 5 detik untuk mendengarkan napas Hector, Pau pun akhirnya mengakhiri telepon.
Oscar menelan egg tart-nya dengan susah payah, Bernal bahkan sampai bertanya sambil menggeser minumnya lebih dekat. "Kenapa, sih? Keras?" yang dia jawab dengan gelengan kepala. Meja di kantin 10 yang biasa mereka tempati kini bertambah anggota; Fermin, Gavi, dan Guiu memutuskan untuk bergabung, dan melihat bagaimana Pau kemudian total mengabaikan Guiu (dan semuanya, sebenarnya) membuat Oscar kian yakin bahwa ini bukan keputusan yang begitu cemerlang.
"Makin enak aja sushi roll-nya." Gavi masih berusaha keras untuk mencairkan suasana. Apalagi Lamine, yang biasanya nyablak, kini malah melipir ke meja temannya yang lain di ujung ruangan, membuat seisi meja kian dingin dan tak seakrab biasanya. "Di kantin 11 gak ada sushi roll. Sedih gue."
Oscar menipiskan bibir. "Gabung ke sini aja tiap hari."
"Capek, lah."
Fermin menyenggol lengannya. "Kan ada buggy car, bloon."
"Ya udah sih, lo ngusir?"
Fermin mengerutkan wajahnya kesal dan memukul kepala Gavi kencang.
"Tuh, Cuba akhir-akhir ini juga lagi nyamperin Hector terus, tapi gak lebay kayak lu."
Oscar melirik diam-diam ke arah Pau yang masih fokus ke ponselnya, lalu ke Guiu yang sedang menggulung-gulung udon-nya dengan sumpit. Mendengar namanya disebut, Pau mengangkat alis. Fermin memberanikan diri bertanya.
"Gimana Hector?"
Setelah menyuapkan beef sausage roll-nya ke dalam mulut, Pau menjawab santai. "Kata Mbak Anna lagi tidur, abis minum obat."
"Udah diperiksa dokter?"
"Iya, dokternya ke rumah."
Gavi menggaruk kepalanya canggung. "Nengok boleh gak?"
"Besok aja, dia masih belum bisa ngapa-ngapain."
"Kalo gue sama Ibu? Besok juga?" Guiu tiba-tiba nimbrung. Oscar dan Fermin hampir tersedak kaget, Gavi menggosok hidungnya yang tak gatal, bahkan Bernal, yang dari tadi tak terlihat peduli dengan sekitar, ikut melirik.
Seisi meja hening menunggu respon Pau, yang setelah mengetik sesuatu di ponselnya, kemudian menjawab tanpa menoleh. "Terserah, tanya Ibu aja maunya kapan."
Guiu mengangguk kecil, kemudian fokus lagi ke udon-nya. Oscar mengembuskan napas diam-diam, merunduk untuk kembali menyuapkan sisa egg tart-nya. Sejak pertama kali berkenalan sebagai teman sekelas, tingkah Pau Cubarsi selalu tampak rasional di mata Oscar. Tindak-tanduknya tidak pernah terlihat kekanakan, caranya berbicara, caranya memperlakukan orang lain, apalagi akhir-akhir ini, ketika Hector perlahan dituntun masuk juga, menjembatani mereka yang asalnya empat dan empat dan menjadikannya delapan. Oscar kira Pau Cubarsi tak bisa lebih lembut dari yang selama ini dia lihat, sampai kemudian Oscar melihatnya memperlakukan Hector, Oscar kira tak ada hari di mana Pau Cubarsi menunjukkan egoisme-nya secara terang-terangan, sampai kemudian hari ini tiba.
Dan semuanya masih berotasi, mengelilingi, berlandaskan Hector.
Pesan audio dari Hector yang terakhir Pau terima adalah, "Mhm, anggur... Kata mbak yang ada cuma semangka... Terus... Jeruk? Jeruk, ya, Pau? Tapi mau yang asem, soalnya... Mousse cake, macaron... Lima... Semua rasa..." yang membuat Pau mengerutkan alis khawatir dan buru-buru mengirim pesan ke Mbak Anna untuk memeriksa Hector di kamarnya. Mbak Anna membalas, "Aman, Mas! Kayaknya agak ngelantur karena habis minum obat aja, terus sekarang ketiduran." Pau kemudian membiarkan Hector istirahat, beralih ke mengingat-ingat pesanan Hector dan Mbak Anna untuk menuliskannya di aplikasi catatan.
hec fever
- shortcake/mousse cake (?)
- macaron 5
- anggur, jeruk yang asem, stroberi (di rumah masih ada gak ya?) (tanya mbak anna) (beli aja)
- kata mbak anna kool fever sisa 1 (cek usia di kardusnya, jangan beli yang buat bayi)
- biskuit (biasanya nissin crispy crackers)
- tadi ngigo mau dimsum (kemungkinan gak akan dimakan) (tetep beli)
- cimory yogurt stick strawberry
- kata mbak anna beli kentang juga soalnya
"Cubarsi?"
Jemari Pau terhenti di udara, menoleh dan mendapati Eva berdiri di samping mejanya, merunduk dengan senyum ragu. Sebelum Pau sempat bertanya, gadis dengan rambut bob rapi itu mengeluarkan kertas dari balik punggungnya. "Ini, soal ekstrakulikuler kemarin—"
Lamine menyela dari belakang Eva dengan heboh. "Futsal, Pau, futsal, sumpah. Ayo futsal," katanya, mengacungkan lembar kertas serupa. "Futsal, bareng Bang Guiu sama yang lain."
Pau mengerutkan wajah bingung, dia merunduk sekilas untuk memastikan catatan yang ia ketik tersimpan. Saat mengantongi ponselnya ke dalam saku, Oscar dan Bernal ikut muncul, duduk di meja mereka dan membalikkan badan ke arah Pau. Wajah Oscar muram.
"Gak mau futsal," keluhnya.
"Kenapa?" sewot Lamine, seolah silsilah keluarganya sedang disinggung.
Oscar merengut, "Ya lo dari kemarin ngejek terus! Kata lo gue beban."
"Eh, becanda itu." Lamine meringis, sok manis merangkul Oscar. "Nggak, kok. Lo bisa main futsal, nggak beban. Kemarin ini aja, anu— itu—"
"Ah, gak usah repot-repot." Lengan Lamine di bahunya Oscar tepis dramatis. Bernal yang dari tadi memperhatikan di sampingnya menggeleng kecil.
"Emangnya mau masuk apa kalo bukan futsal?" tanyanya. Eva terlihat masih belum terbiasa mendengar suara beratnya.
Oscar memperhatikan kertas di tangannya, berpikir keras, sebelum kemudian menoleh lagi ke Pau. "Lo ikut apa?"
Pau mengangkat bahu ringan, "Belum tau."
"English club aja. Temenin gue."
Lamine memotong lagi. "Dia futsal!"
Pau mengulang dengan sabar. "Belum tau."
Oscar membalikkan badan ke Bernal, mendapati lelaki itu sudah mulai menulis data dirinya di atas kertas. Sebelum Oscar sempat bertanya, Bernal sudah menjawab duluan, "Futsal," yang membuat Lamine bersorak senang.
Melihat Oscar cemberut lemas, Pau berujar, "Masih ada waktu buat mikir. Gue juga belum."
Eva, yang dari tadi memperhatikan dari samping, maju lagi. "Sebenernya, ini," katanya, mengangsurkan satu kertas ke Pau, "kemarin gue ada pesen dari Kak Sienna buat ngajak lo masuk ke OSIS."
Lamine, Oscar, dan Bernal langsung berseru bersamaan, "OSIS???" dan Pau melirik kertas di tangannya, membeku.
"Kepala gue kayak dijadiin adonan kue, diunyel-unyel gitu."
Pau terkekeh lembut, menempelkan ponselnya lebih dekat ke telinga, tangan kanannya sibuk menulis, merampungkan operasi hitungan. "Kebanyakan liat Kak Ai di toko, itu."
Hector mengeluh, seolah bingung ingin protes atau tertawa. "Serius. Abis nelpon mama, terus mama ngomeeel terus, katanya mungkin demam karena gue begadang nonton film semalem."
Pau berhenti menulis, menegakkan punggungnya dengan perlahan. Lamine, yang dari tadi berusaha mencuri dengar, langsung pura-pura menunduk mengerjakan tugas, seolah mencium aroma bahaya dari lelaki di sampingnya.
Pau mengerutkan alis, "Lo nggak bilang ke gue habis begadang?"
Hector tak langsung merespon, mungkin sadar kalau dia baru keceplosan.
"Hector?" Pau mencoba lagi dan mengecek sambungan telepon karena masih belum ada jawaban dari seberang. Tersambung. Pau menghela napas, mengalah. "Iya, enggak, gue gak marah."
"... Bohong."
Pau menggeleng kecil tanpa sadar. "Iya, bohong. Sana tidur lagi. Telponnya gue matiin," ancamnya. Respon Hector selanjutnya sudah tertebak. Pau menghabiskan 15 menit terakhir jam istirahat dengan menuntaskan soal geometri dan Hector yang merengek sakit kepala dengan lebay di telinganya.
"Gue kayaknya cuma bisa bertahan 30 menit lagi, Pau. Maaf ya kalo gue banyak salah. Gue dan Mbak Anna udah berusaha semaksimal mungkin," katanya sambil batuk-batuk.
Pau membalas tenang. "Bahkan gak bakal sempet buat makan kue stroberi? Kasian..."
"Eh— bisa." Hector gelagapan. "Bisa, Pau— Bisa—"
Pau mengikuti dua mata pelajaran terakhir dengan lebih fokus setelah itu, hanya mengecek ponselnya 1 kali dalam 20 menit (sebelumnya 3 kali). Suara Hector yang terdengar lebih jernih dan bertenaga di telepon kedua perlahan meregangkan kecamuk di kepalanya. Meskipun begitu, Pau tetap tak menoleh ke sana-sini lagi ketika bel pulang berdering, mengaitkan tasnya ke bahu dan menyelonong begitu saja seolah sedang punya misi penting. Oscar yang sedang menaikkan kursinya ke atas meja menoleh sampai kepalanya berputar, lantas melirik Lamine yang mengangkat bahu cuek. Bernal berusaha mengendap pergi juga, kabur dari tugas piketnya sebelum kepergok Oscar yang buru-buru menarik tasnya hingga dia tersentak mundur.
"Jangan kabur!" omelnya. Bernal balik lagi dengan pasrah dan hanya bisa menghela napas panjang saat Lamine mengejeknya sambil keluar kelas.
Denting kecil dari bel di atas pintu, sama seperti banyaknya hal-hal lain di kehidupan Pau, juga salah satu yang kemudian berkaitan erat hubungannya dengan Hector. Toko yang kini dikelola Alexia (atau Kak Alex, anak-anak komplek memanggil)— selain bagaimana etalase kue kini bisa Pau dan Hector jangkau tanpa berjinjit— tak berubah begitu banyak. Ada beberapa menu yang berkembang seiring waktu, seringnya yang membuat Hector senang, tapi tak jarang juga yang membuat lelaki itu cemberut layu (contohnya soal mousse cake yang beberapa waktu lalu produksinya hampir dihentikan, tapi tak jadi karena katanya Hector mati-matian memersuasi Alexia) (atau mendesak) (keduanya jadi beda tipis kalau Hector yang melakukan). Aroma toko yang terasa familiar perlahan mengendurkan tensi yang bersarang di bahu Pau sejak pagi. Clara, adik perempuan Alexia yang juga merupakan teman sekelas Pau di sekolah, berdiri dari balik meja kasir ketika melihat Pau mendekat, meraih satu paper bag besar yang sudah disiapkan di sudut meja dan memeriksa isinya.
"Mousse cake, muffins, cupcakes, macarons," absennya. "Semuanya rasa stroberi?"
Pau mengangguk, membuka dompetnya. "Kok lo cepet pulangnya?"
Clara mengambil dua pudding dari salah satu etalase dan memasukannya ke dalam paper bag, berkata kalau itu titipan dari Alexia dan Aitana untuk Hector, sebelum kemudian memberi gestur ke seisi toko yang memang sedang agak ramai. "Gue langsung dijemput Kak Alex tadi, toko lagi hectic," katanya, terdengar sedikit lelah.
Selagi menunggu proses pembayaran, mereka kemudian membicarakan soal ekstrakulikuler. Clara sudah mantap memilih voli karena katanya Sydney (teman sekelas mereka yang lain) juga akan daftar ke sana. Pau mengangguk, diam-diam menimbang untuk masuk futsal, sebelum akhirnya mencetuskan perihal tawaran Eva untuk masuk OSIS. Clara menyerahkan uang kembalian sambil mengerutkan alis.
"Eva?"
"Iya, katanya dia disuruh Kak Sienna."
"Aneh amat," celetuk gadis itu kemudian. "Emang lo akrab sama Kak Sienna?"
"Ngobrol dikit waktu gugus kita dipimpin dia."
Clara hanya mendengus pendek dengan geli. Pau tak mengerti maksudnya apa, tapi setelah menyapa Alexia dan Aitana yang sedang sibuk di dapur, Pau tetap memutuskan untuk pamit. Saat mengantri di kasir supermarket, Hector mengirim Pau satu pesan berisi selfie setengah wajahnya yang diselubung selimut, dengan satu kompresan gel yang tertempel di tengah-tengah dahinya, matanya terlihat masih kuyu.
udah di mana? Pesan selanjutnya muncul.
lagi beli stroberi.
🤩, balas Hector, dan Pau tersenyum.
Pina muncul dari balik gerbang rumahnya ketika Pau turun dari motor untuk membuka kunci gerbang rumah Hector. Perempuan yang terlihat baru saja bangun tidur itu menghampiri Pau dengan satu mangkuk sup di tangannya, menguap terlebih dahulu sebelum menyerahkannya ke Pau. "Nih, dari mama, katanya Heci sakit?" sapanya dengan mata berair.
Pau mendorong gerbang sampai terbuka lebar sebelum mengangguk. "Pau juga baru tau tadi," responnya. "Kakak mau sekalian masuk?"
Pina mengibaskan tangannya. "Nanti malem aja. Kakak harus ke kampus dulu, bentar lagi dijemput Cata," katanya bergegas. Pau hanya mengiyakan dan berterima kasih atas supnya, lantas menutup gerbang setelah memasukkan motor.
Rumah Hector lengang seperti biasa, Pau menurunkan bawaannya di kaki sofa ketika Mbak Anna tiba-tiba keluar dari area dapur sambil membawa segelas air, terlihat buru-buru sampai hampir tidak menyadari presensi Pau.
"Mbak?" Pau bergegas menyelanya, "Ada apa?"
Mbak Anna terlihat kaget dan lega di saat yang bersamaan. "Mas Hector, Mas," katanya dengan panik. "Muntah."
Hector mencengkeram sisi kloset sambil melingkarkan sebelah lengannya dengan erat di sekitar perutnya sendiri, tersengal lemas dan memejamkan matanya dengan erat saat merasakan pandangannya berputar. Setelah dengan susah payah menegakkan punggung untuk menekan tombol flush, Hector kembali menjatuhkan kakinya ke atas lantai kamar mandi, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya yang perlahan mulai hilang. Sebelum kepalanya sempat terkulai jatuh dan menghantam lantai, punggungnya terlebih dahulu membentur dada seseorang yang secara tiba-tiba menyanggganya dari belakang. Hector mendongak, membuka matanya dengan susah payah, dan menemukan Pau.
Perih secara tiba-tiba mencekut pangkal tenggorokannya. "Pau," bisiknya tercekat.
"Iya," Pau menjawab lembut, berusaha menyembunyikan napasnya yang berderu kencang dan memperbaiki posisi kepala Hector agar bersandar tepat di ceruk lengannya. "Udah muntahnya?"
"Pau—" Jemari Hector naik untuk mencengkeram kemeja seragam Pau yang tak dikancing, "—Pau."
"Iya, Hector."
Kedua kelopak mata Hector mengerjap tertutup dan Pau mengusap pelipisnya dengan lembut beberapa kali.
"Hei, hei, buka matanya."
Hector membuka matanya dengan lemas.
"Masih mau muntah gak?"
Hector menggelengkan kepalanya dan meminum segelas air hangat yang disodorkan Pau. Pau mengajukan beberapa pertanyaan lagi untuk memastikan kondisinya, membantunya membasuh mulut sebelum akhirnya dengan lembut menyuruhnya untuk berpegangan. "C'mon, arms on my neck, slowly, I've got you."
Hector tak ingat kapan terakhir kali seseorang harus mengangkat tubuhnya untuk membantu mobilitasnya, yang Hector ingat hanya seseorang itu memang seringnya adalah Pau. Saat pertama kali belajar menaiki sepeda di sekolah dasar, Hector jatuh berkali-kali hingga Pau harus menggendongnya pulang dengan berjalan kaki, meninggalkan sepeda mereka berdua tergeletak begitu saja di jalanan. Sambil menilik-nilik luka di kedua lututnya, Hector kemudian akan menaruh dagunya di atas bahu Pau dan cemberut karena merasa payah.
"Digendong lagi aku pulangnya," keluhnya.
Pau selalu berusaha agar napasnya tak terdengar berat ketika menjawab, "Gak papa, tadi udah bagus."
"Kemarin juga kamu bilangnya gitu."
"Yang tadi lebih bagus dari yang kemarin."
"Kalo yang besok gak lebih bagus dari yang hari ini, gimana?"
Pau menghentikan langkahnya sebentar untuk memperbaiki posisi Hector di punggungnya, mantap menjawab, "Gak gimana-gimana, masih bakal aku temenin."
Ada satu lonjakan emosi besar yang kemudian membumbung di pusat dada Hector setelah memori itu menyeruak tanpa permisi ke dalam ingatannya, membuatnya tanpa sadar mengeratkan lengan di sekitar leher Pau dan menyembunyikan wajahnya lebih dalam di sana. Pau menghentikan langkah, merunduk risau.
"Hector?"
Hector hanya menjawab dengan dengungan serak.
"Kenapa? Sakit? Mual lagi?"
Hector menggeleng, masih terus mengeratkan pelukannya bahkan ketika tubuhnya sudah diturunkan hati-hati kembali ke atas kasur hingga Pau harus turut berlutut di sisi ranjangnya, balas merengkuhnya dan mengusap tengkuknya dengan lembut selama satu menit penuh.
"What's wrong?" bisik Pau kemudian, sama sekali tidak berusaha melepaskan diri meski suhu tubuh Hector yang tinggi mulai menyesap tak nyaman ke dalam kemeja dan kausnya, "Tell me."
Awalnya, Hector membalas dengan gelengan serupa, masih tak tahu harus menyuarakan isi pikirannya dengan cara yang bagaimana, hanya berniat untuk menyudahi isakan kecil yang keluar dari tenggorokannya dan melepaskan Pau, beralasan kalau demam membuatnya emosional sesaat (yang sebetulnya tidak salah juga), tapi Pau yang sama sekali tak mengucapkan apa pun dan hanya diam menunggunya membuat mata Hector kembali menghangat.
Yang keluar pertama kali dari mulut Hector adalah gumaman nanar karena takut mengungkapkannya malah akan membuatnya menjadi kenyataan. Telinga Pau tidak berhasil menangkap kalimatnya, jadi dia meminta Hector untuk mengucapkannya lagi.
Hector mengeratkan jemarinya di kaus Pau dan mengulang gamang, "What do I do without you?"
Mempertanyakannya sudah cukup mengerikan, jadi Hector berusaha keras untuk tak membayangkannya juga. Pau mungkin sedang membayangkannya sekarang, karena ia membeku, cukup lama dari yang Hector kira. Seisi kamar hening selama beberapa menit, sampai kemudian Pau membenamkan wajahnya ke perpotongan leher Hector, merengkuhnya lebih dekat. Tangan kanan yang sebelumnya mengusap kepala Hector juga turun ke satu sisi pinggangnya, merematnya dengan lembut di sana. Dada Hector masih berdebar kuat setiap kali Pau melakukannya.
"I don't know," balasnya kemudian, "I hope you'll never found out."
Mbak Anna mengetuk pintu setelah Pau membantu Hector membersihkan tubuhnya dengan lap hangat dan mengganti kausnya, mendorong troli makanan yang langsung diambil alih oleh Pau setelah mengucapkan terima kasih. Mata Hector berbinar melihat tag Putellas & Co menyembul bersisipan dengan wadah makanan lain. Saat akan meraihnya, Pau secara tiba-tiba menjauhkan troli itu dari jangkauannya.
"Makan dulu," katanya, membuka satu mangkuk sup dan duduk di atas kasur.
Hector merengut. "Tadi udah makan," gerutunya pelan, tapi tetap membuka mulut saat Pau dengan cuek menyuapinya. "Mangkuk Tante Melinda," tunjuknya kemudian, Pau mengangguk.
"Tadi dianterin Kak Pina," saat Hector ingin membuka mulut lagi untuk menjawab, Pau langsung mencubit hidungnya, "telen dulu," jadi Hector melakukannya dengan cepat dan berakhir ditegur lagi, "pelan-pelan."
Hector ingin mengomel tapi tak jadi karena memang ia yang salah. "Kak Pina tau gue sakit?"
Pau mengangguk, "Katanya nanti juga mau nengok, tapi ke kampus dulu."
Hector tutup mulut dengan anteng sekitar 10 menit dan mulai mengeluh lagi di suapan ke-delapan. "Nanti makan kuenya keburu kenyang," protesnya. Pau terlihat puas untungnya. Dia membantu Hector minum dan membiarkan Hector memakan kuenya selagi ia merapikan mangkuk sup. Pau duduk lagi beberapa saat kemudian dengan kompresan gel baru di tangannya.
"Masih pusing gak?" tanyanya, menahan kepala Hector untuk diam sejenak selagi ia menempelkan kompresan itu di dahinya.
Hector menjawab "Sedikit," dan menjilat frosting di ujung bibirnya yang langsung diusap bersih oleh jemari Pau.
"Pelan-pelan makannya."
"Ini pelan-pelan," balas Hector sebelum mengambil suapan besar. Pau menggeleng kecil dan memutar film untuk Hector yang langsung terkantuk-kantuk setelah meminum obat dan tanpa sadar terlelap dengan puding di tangannya. Saat bangun, seisi kamar sudah berubah lebih gelap. Ia menoleh ke samping dan Pau yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya ikut menengok, mengusap kepalanya dengan lembut dan menanyakan keadaannya. Hector berbisik kalau dia baik-baik saja, dan Pau pun mengangguk, menyuruhnya untuk kembali tidur.
"Don't go anywhere," bisik Hector, dan sebelum kantuk sempat merenggut habis lagi kesadarannya, ia merasakan satu kecupan tipis jatuh di pelipis kanannya.
"I won't."
