Work Text:
Sleepless Talewalker – YukiKara
… huh?
Yuki terjaga dari lelapnya dalam keadaan dingin. Sangat dingin. Oh, tidak, ini bahkan terlalu dingin.
Ia mengerutkan dahi, menggeliat pelan. Telapak tangannya sibuk mengusap lengan atasnya hingga ke siku, merapal mantra pengusir dingin yang percuma. Heh. Dingin. Masih terlalu dingin. Ini dingin sekali seolah selimutku lenyap …
… tunggu.
Kelopak matanya terbuka seketika, menampilkan sepasang keping netra birunya. Yuki membelalak, bibirnya terkatup erat setelah entah berapa jam menggigil dalam dingin. Ia terbangun, dan ia temukan kamarnya dalam temaram. Senyap. Sama seperti detik terakhir sebelum dia terlelap.
Brrr!
Yuki bangkit duduk dan refleks memeluk lututnya, sedang kedua tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri. Dingin. Masih dingin. Pun selimut yang tadi melapis tubuhnya di atas ranjang, sudah entah ke mana sejauh matanya memandang …
Oh.
Oh .
Matanya yang semenit lalu masih digantungi rasa kantuk tak terkira, kini menemukan kenyataan yang terlalu pahit (atau dingin) untuk dicerna: Kara telah menggulung dirinya sendiri di dalam selimut, menjadi burrito hidup yang terlalu bangga atas kelezatannya. Tak sedikit pun rasa keberatan dan bersalah terbersit di ekspresinya yang terlalu tenang itu.
Yuki memincingkan mata.
Wanita ini …
“Kara,” panggil Yuki lirih, menggigil.
Tidak ada jawaban.
Yuki memanggil lagi, lebih keras, “Kara.”
Satu mata Kara terbuka. Masih terliput oleh selimut yang dia kuasai dendiri. “Hmmm?” gumamnya malas.
“Aku bisa lihat embun dari napasku sendiri.”
Kara menggeliat sedikit. Matanya kembali menutup, untuk kemudian mengerjap cepat. “Lalu?”
“Malam ini masih hujan. Aku kedinginan.” Yuki kembali mengusap lengannya, sempurna memeluk lutut. “Dan aku tidak kebagian selimut.”
Balasannya adalah Kara yang menguap lebar di tengah kalimatnya. “Ya sudah, terima saja. Ini hukum rimba sejak zaman batu masih terlalu tua,” gumamnya malas, semakin mengeratkan selimut untuk membungkus tubuhnya lebih erat lagi.
Perempatan imajiner muncul di kepala Yuki.
“Kamu curi semua selimutnya!”
“ Kimi ciri simii silimitnyi~ ” Kara mengejek tanpa membuka mata. “Salahmu sendiri membalik badan! Aku mau ndusel ke kamu, dan malah disambut oleh punggungmu!”
“Sikumu nancep di perutku, Kara!” Frustrasi, Yuki menarik ujung selimut. “Aku hampir melompat dari kasur karenamu. Sekarang, bagi selimutnya!”
Ah, terlambat. Kara lebih dulu berguling, menjauhkan tubuh burrito selimutnya dari Yuki. “Ya salahmu sendiri membelakangiku.” Dia mengerucutkan bibir. Matanya masih sayup-sayup mengantuk. “Padahal sudah benar kamu memelukku dalam tidur dan kita bisa berbagi selimut. Malah memunggungiku.”
“Aku lagi ngadep jendela, tahu!”
Kara mengubur wajahnya dengan selimut. Tidak mau tahu. “Ya sekarang jendela yang dapat perhatian dan muka bantal suamiku. Impas kita.”
Decakan kesal terdengar dari si pria muda. Tangannya mengusap wajah, jelas sekali masygul, tetapi tak berani betulan melawan. Dia menatap langit-langit kamar, lantas menghela napas dalam-dalam. Jika ini fanfiksi dramatis, barangkali Yuki akan benar-benar memanggil kekuatan kesabaran tanpa hingga dari angkasa.
Tetapi sayangnya, sayang, kekuatan itu ada batasnya. Apalagi jika ujiannya adalah istrinya sendiri.
“Karaaa!” Yuki kesal. Yuki mengantuk. Yuki gemas. Maka, dia tunjukkan dengan cara yang nekad dan clearly amburadul .
“Ah! Eh– aduh!” Kara mengaduh-aduh. Yuki membuatnya gaduh dengan mengguncang-guncang tubuhnya dengan kekesalan level dewa. Saking kesal, dan juga gemasnya, Yuki sampai menjadikan burrito Kara sebagai guling, sengaja mengguling-gulingkannya dan mengguncang-guncangannya.
“Yukiii, stop!”
Wajahnya memerah. Kantuknya lenyap dalam sekejap. Kara mengerucutkan bibir, kemudian membebaskan diri dari gulungan selimut ketika Yuki berhenti “Kamu itu meresahkan!”
“Apalagi kamu!” Yuki mencubit kedua pipinya dengan paksa. Kepalang gemas.
Kara mengeluh lagi. “Aduh! Sudah, ah! Nih, selimutnya, tapi jangan berikan punggungmu padaku lagi atau kucakar!”
Yuki menyeringai, atau meringis, lebih tepatnya. “ Deal .”
Dua sejoli ini akhirnya mencapai gencatan senjata dalam bentuk kompromi, di mana setengah selimut untuk masing-masing, dan seluruh tubuh yang saling berpelukan seperti biasa. Sebagaimana seharusnya. Lengan Yuki melingkari pinggang Kara, sementara kaki mereka saling bersilang tak karuan di balik selimut yang sempat diperebutkan.
“Aku maafkan ketidakjelasanmu barusan,” gumam Yuki, setengah mengantuk.
“Mana ada, kamu yang meresahkan,” seloroh Kara, lagi-lagi sambil membenahi posisinya dalam rengkuhan Yuki.
Hanya gumaman singkat yang menjawabnya, disusul hening.
Dari dalam benteng selimut tebal yang akhirnya terbagi dengan adil dan merata (sepertinya), mereka kembali lelap ke alam mimpi. Kara mengigau tak jelas tentang eksperimen pembiakan kucing munchkin warna oranye dari konstelasi dan nebula, sedang Yuki selalu menggumam balik seolah mengamini. Hujan di luar masih deras, entah, barangkali bisa sampai pagi hari menjelang.
Tetapi, takkan jadi masalah selama mereka sepenuhnya berdekapan, bukan?
Kecuali, ya, kecuali, jika Kara mendadak bermimpi tentang latihan beladiri bagian sekian, barangkali Yuki akan terkaget-kaget lagi. Atau ketika Yuki mendengkur terlalu keras seperti rubah yang mengantuk setelah berkeliling selama satu purnama penuh, boleh jadi Kara akan membangunkannya paksa dengan kemanisan yang dipaksakan .
Untuk keduanya, apa, sih , yang tidak mungkin?
