Work Text:
Makan siang gratis di cafeteria Aglaia selalu ramai oleh para penyantap dan petugas yang perlu isi tenaga, atau orang-orang dari Pusat Penelitian yang darurat pemadam kelaparan. Selalu penuh dan ramai. Menu-menu di atas meja display berulang kali diisi ulang, kecuali beberapa menu khusus untuk Subjek Penelitian yang makanannya bukan manusia.
Menu makanan penutupnya adalah gelato. Tiga rasa, gaya neapolitan.
“Giliranmu.” Kara menyeka air yang tersisa di sela jemarinya seusai mencuci tangan, beres makan siang mereka. “Aku tadi sudah antre makan siang. Aku ikut saja untuk rasanya.”
Pria muda di hadapannya tampak berpikir sejenak.
“Satu cangkir besar?” tawarnya. "Cukupkah untuk kita?"
“Satu ember. Satu setengah liter dengan waffle dan selai buah di atasnya.” Kara tersenyum. “Kita selalu punya ruang spesial untuk makanan penutup, bukan?”
Yuki terkekeh. Benar juga.
Suapan pertama, ia yang menyuapinya.
Suapan kedua, giliran Kara yang menyuapi. Sendoknya penuh-penuh, masih bisa Yuki telan dengan sekali hap!
Lantas, tanpa peringatan, Yuki mengambil suapan ketiga untuknya sendiri. As a menace as he is . Gerakannya cepat dan licik, sampai membuat Kara terpaku dengan sendok yang menyendok udara kosong. Kelopak matanya berkedip sekali, pelan, penuh ketidakpercayaan. Mirip seekor kucing yang buruannya diambil oleh kucing lain yang merasa tidak berdosa sama sekali.
“Hmm, sayang?” panggilnya, nada suaranya tajam, meski senyumnya masih saja terlihat cukup manis dan meyakinkan. “Kita sepakat gantian.”
“Aku bohong,” jawab Yuki ringan, tak merasa bersalah sedikit pun. “Mana mungkin aku menolak suapan tambahan untuk makanan penutup.”
Kara memincingkan mata.
Yuki balik menatapnya, sengaja menantang, maksudnya.
Tangan Kara terulur cepat, hampir menjitak kepala Yuki dengan rambut terlalu rapi itu, yang sayangnya kalah cepat. Yuki tertawa keras, dia sudah sigap menghindar. Ia berlari ke sisi lain meja yang mereka tempati dengan gesit, sementara Kara mengejarnya seperti kucing yang kesal karena mainannya dicuri.
Masalahnya, adalah, seember ukuran satu setengah liter gelato itu Yuki bawa juga.
“Es krimku!”
Yuki menghindar ke sini, Kara mengikuti.
Dia menghindar ke sana, Kara pun mengejarnya.
Seisi cafeteria geleng-geleng kepala tanpa perlu berkomentar. Kuro yang duduk tak jauh darinya pun mengeluarkan ponsel, memotret ketika Kara nyaris tersandung ketika mengejar Yuki. Alasannya ketika bawahannya bertanya adalah, “Arsip aib. Sebentar lagi ulang tahunnya.”
Sementara yang dipotret masih sibuk mengejar Yuki, mengitari meja. Beberapa kali, keduanya hampir menabrak staf dan Subjek Penelitian yang hendak mengambil makan siang. Beberapa kali, Kara hampir nekad naik ke atas meja.
“Yukiii!”
Tap!
“Mmm?” Yuki tiba-tiba berhenti.
“Kamu ini aktif sekali hari ini,” gumam Yuki sambil menempel setitik gelato di hidung Kara.
“Hey!”
“Sssh,” Yuki memaksanya duduk. Dia kembalikan ember gelato itu ke depan Kara. “ All yours, my princess. ”
Keping semerah darah Kara menatap ember gelato. Lalu Yuki. Lantas kembali ke ember gelato.
“Betulan?”
Yuki mengangguk, kembali duduk. “Tentu saja. Atau mau aku saja yang habiskan?” Dia mengerling.
“Tidak mau!”
Kara buru-buru mengambil sendoknya dan mulai menikmati lagi gelato itu. Satu suap, lalu dua, disusul ketiga, kemudian yang keempat secara berturut-turut. Ia menggumam ketika menikmati rasa manis dan dingin menyapa lidahnya, memberi sensasi segar selepas makan siang dan berlarian mengejar Yuki.
Barulah pada suapan kelima, Kara menawari gelato yang manis dan lembut itu kepada Yuki, sengaja menempelkannya tepat di bibir.
“Gencatan senjata,” ujarnya, setengah perintah, setengah rayuan. “Atau kutagih seember lagi dengan ekstra sirup cokelat dan pukpuk di kepala semalaman penuh sepulang shift .”
Netra biru Yuki menatap suapan yang Kara berikan untuk beberapa detik, sebelum mendekat dan menerimanya. Tangannya menggenggam jemari Kara, mengulum senyum ketika Kara menarik tangannya lagi.
“Manis, kan?” tanya Kara
“Kamu lebih enak,” bisiknya rendah, suaranya nyaris seperti sentuhan angin.
Kara memerah seketika. Pipinya merona, mirip seekor kucing yang tersipu malu. “Diam kamu,” sahutnya cepat, mencoba menutupi wajahnya yang memanas.
Balasannya ialah segaris senyum dari Yuki. Senyum yang selalu berhasil membuat hatinya luluh sedikit demi sedikit, dan jatuh ke dalam perjalanan kisah kasih mereka lagi.
“Benar, kok. Tunggu saja malam ini.”
Kara mencubit pinggangnya. Masih merona. Pun bercampur kesal
Yuki mengaduh, tapi Kara membisiki, “Diam. Tidak di sini, tahu.”
