Actions

Work Header

BRAIDS AFTER LIKE

Summary:

[#JuneBrideEmojiChallenge]
prompt: playing with the hair.

“Aku sedang menciptakan mahakarya,” jawab Yuki santai, jemarinya tetap menari-nari di antara helaian rambut gelap Kara. Satu tangannya yang bebas memilih ikat rambut dan pita lembut, sebuah ritual di antara mereka yang Yuki lakukan dengan penuh rasa suka.

Notes:

Black Survival (c) NimbleNeuron/ARCHBEARS
Candrasaya Kara, 2025.

Fanfiksi ini tidak diperkenankan untuk dinominasikan dalam IFA 2025.

Work Text:

Kara tengah mencoba tidur siang di sofa, di tengah buku-buku dan visual assets untuk scrapbook -nya ketika ia merasakan tarikan halus, pelan, dan sedikit licik pada helaian rambutnya. Dia berusaha untuk tidak peduli. Mencoba bergulung di atas sofa. 

Namun batal. Sayangnya. tarikan halus yang terlalu sering dan presisi yang tidak bisa Kara abaikan. gerakan kecil yang familiar yang kara ketahui betul sumbernya.

"Yuki ..."

Dengan satu mata setengah terbuka, ia mendesis malas, “Kamu apakan lagi rambutku, hm?”

Yuki tak berhenti sedikit pun ketika menjawabnya. “Seperti biasa.”

“Biasa apanya?”

“Kepangan cantik.” Yuki mengubah posisi menjadi duduk bersila di samping sofa, menyamankan diri. “Aku mau istriku tampak cantik, bukan seperti singa yang mau mengamuk,” candanya, meski nadanya betulan datar.

Kara menggerutu dalam Bahasa Jawa. Yuki tidak mengerti sama sekali artinya, hanya mendengar nada Kara yang naik dan turun ketika bersungut-sungut, tetapi dia tak juga berhenti. 

“Kamu sudah mengepang dan menggunakan seluruh rambut kepalaku untuk eksperimen model rambut baru minggu lalu. Aku bahkan menemukan satu butir nasi tersangkut di salah satu helainya, tahu.”

“Aku sedang menciptakan mahakarya,” jawab Yuki santai, jemarinya tetap menari-nari di antara helaian rambut gelap Kara. Satu tangannya yang bebas memilih ikat rambut dan pita lembut. “Model kepang samping dengan kepang kecil di dalamnya. Seni dalam seni.”

Kara mendesah. Gerutuannya ditelan bantal sofa. “Setidaknya jangan buat aku keliatan seperti orang payah setelah kalah taruhan. Lusa lalu kamu buat beberapa helainya melawan kodrat gravitasi, Yuki.”

Cup!

“Mmmh?!”

Satu ciuman mendarat di pipinya. Kanan, lalu kiri. Kembali lagi ke kanan. Kara mengernyit, mulutnya terbuka untuk protes.

“Kamu terlihat seperti bangsawan,” sela Yuki sebelum kata protes pertama terucap oleh Kara.

“Bangsawan mana yang kepalanya dipenuhi karet rambut sebanyak ini?” Kara bersungut-sungut, meski tetap saja, dia tidak bergerak. Tidak juga beranjak dari sofa atau menolak Yuki secara terang-terangan. Tidak benar-benar menolak. Bahkan tak mencoba menjauh.

Yuki menganggap Kara memberinya izin untuk melanjutkan. Dia urai helai-helai lembut rambut Kara, sesekali terhenti untuk mencium helaian di tangannya, menghirup wangi sampo yang lembut menyapa penciumannya. Lantas, kembali fokus seperti pemahat yang tengah menyempurnakan patung dewi dari benang-benang kehidupan—ah, terlalu hiperbolis. Benar adanya. Tiap simpul dikerjakan seakan waktu tak pernah habis.

Kara mengambil salah satu dari sekian pita yang tidak Yuki gunakan. Warnanya cerah. Warna-warna ceria. Beberapa punya gambar dan tekstur dari buah-buah tropis, beberapa lagi dengan bahan see-through sewarna ombak di lautan dan pinggiran senada dengan kilau keemasan dari pantai yang jauh dari tujuan tambang liar.

Lalu yang lainnya lagi, motif daun kelapa, dipadu rumbai-rumbai halus pada kedua ujungnya. Berbahan satin lembut. Heh?

Ia memincing ketika melihat pita lainnya memiliki vibe yang sama. “Kamu tidak sedang menyulapku jadi minuman musim panas di negeri tropis, kan?”

“Segar dan manis,” sahut Yuki dengan bangga, sambil menyisir satu helai rambut yang terlewat. “Cocok untukmu, Kara.”

“Kamu terlalu menikmati ini,” gumam Kara. Suaranya perpaduan antara setengah pasrah, setengah geli melihat effort suaminya.

Yuki mencondongkan tubuh, suaranya merendah nadanya hingga jadi bisikan yang nyaris menggoda. Napasnya terasa hangat di puncak kepala Kara. “Rambutmu itu mahkota bagimu dan samudera untukku. Bisa kujelajahi dan kagumi karena menambah cantikmu.”

“Puitis.”

Kekehan ringan mengisi udara kosong di antara keduanya. “Memang.”

Kara memincing lagi.

“Tapi jika sampai rambutku jadi kusut setelah eksperimenmu yang ini," dia mengancam, separuh menantang, "sisir dan koleksi ikat rambutmu akan kuasingkan ke dimensi lain.”

"Setuju."

Series this work belongs to: