Work Text:
Pukul sebelas malam, dan Phainon masih di luar — nongkrong bareng temen-temennya di warkop yang buka dua puluh empat jam. Bukannya dia tidak ingat waktu atau apa, tapi Phainon memang sengaja milih buat tetap di sini.
Singkat cerita, Phainon dan Mydei sempat cekcok tentang sesuatu. Yang menurutnya sepele, tapi reaksi Mydei seakan dunia hancur detik itu juga. Hanya karena Phainon lupa angkat jemuran, yang mana sekarang jemurannya basah lagi karena kehujanan.
Nyatanya memang salah Phainon. Ia cuma nggak terima dibentak dan diomelin habis-habisan sama Mydei.
“Non, tumben lu jam segini masih di luar,” Ujar salah satu teman Phainon. Biasanya Phainon jam sembilan sudah pulang karena disuruh Mydei. Itulah kenapa temannya 'pun dibuat heran. Kebetulan, mereka memang belum tau.
“Gak ada apa-apa.. Cuma berantem dikit aja.” Phainon menghela nafas lelah. Dia gak seharusnya kabur, padahal minta maaf itu gampang.
Caelus, salah satu temannya Phainon, mengerutkan alisnya — semakin heran. Karena udah pasti masalahnya gak biasa, soalnya Phainon sampe masih ngawang di luar. “Kenapa, sob? Sebagai kawan yang baik, kita bakal dengerin sepenuh hati kok.” Apa yang dilontarkan Caelus kepadanya membuat Phainon terkekeh kecil. Konyol tapi cukup membantu Phainon buat rileks, sedikit.
“Yah, sepele, sih. Gua lupa angkat jemuran, jadi keujanan.. Terus dia marah banget.” Semakin dipikir lagi, memang sepele banget. Tapi tetep, Phainon nggak suka rasanya dibentak. Phainon gak cerita lebih lanjut, dia cuma diam bengong ngelihat kopinya yang udah dingin. Kalo Mydei tau, pasti dia bakal diomelin lagi.
Ketiga teman Phainon cuma mengeluarkan respon ’oh’ yang samar. Udah gak kaget lagi tapi masih heran. “Kenapa gak langsung minta maaf aja?” Ada benarnya kata si Aventurine. Kenapa, ya? Phainon juga mikir begitu.
“.. Gak tau.” Entahlah ini yang keberapa, tapi Phainon lagi-lagi menghela nafas. Lelah.
“Lu berdua kayaknya lagi gak enak, tuh. Tapi daripada kelamaan begini, mending lu minta maaf sekarang. Udah mau jam dua belas juga lagian, Non. Gue yakin lu pasti bisa, semangat!”
Phainon mengangkat lemas kepalanya. Wajahnya tersenyum tapi batinnya tersiksa. Tapi dia tetap mengangguk atas saran temannya itu. Ia bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada sekumpulan temannya itu sebelum beranjak pergi.
Ia menyalakan mesin motornya dan langsung tancap gas. Selama perjalanan, Phainon terus memikirkan bagaimana dia harus minta maaf. Seharusnya dia tadi nanya dulu ke temannya bagaimana cara minta maaf yang baik dan benar.
Tidak butuh waktu lama, Phainon telah sampai ditujuan. Ia berdiri di depan pintu, gugup. Tangannya ragu-ragu ingin mengetuk. Pintu sudah terbuka lebih dulu sebelum Phainon sempat memegang gagang pintu. Mydei. Mydei di depannya. Tatap tatapan. Masih diem-dieman.
“Masih inget rumah?” katanya. Nyelekit, rasanya Phainon mau kabur lagi. Tapi nggak bisa. Dia cuma bisa nunduk, gigit bibir dan masih diam. Mau minta maaf 'pun berat rasanya. “Masuk. Ngapain diem aja di luar?” Kalau udah disuruh, Phainon gak bisa ngelawan atau bantah. Dia nurut dan masuk. Pintunya ditutup dan dikunci oleh Mydei. Phainon tak tahu kenapa ia berkeringat.
“Ya.. Masih.. Kalo nggak tidur di mana.” responnya sambil mengintip ke arah Mydei. Yang dilihatnya adalah ekspresi kesal Mydei. Ia ditatap sinis. Rasanya Phainon mau mengubur diri. Menyesal ngomong. Mydei cuma geleng-geleng kepala sebelum meninggalkan Phainon sendiri. Phainon mengekorinya. Ia menyusul Mydei yang pergi ke kamar.
Sekarang mereka berdua udah di kamar, duduk di atas kasur — canggung. Atau setidaknya itu yang Phainon rasakan. Ia menatap Mydei dan dengan ragu meraih tangannya. Phainon menggenggam erat tangan Mydei. “Mydei.. Maaf... Maafin aku... Aku lupa angkat jemuran... Maaf... Maaf jemurannya jadi basah lagi karena aku... Jangan marah lagi...” Suaranya bergetar, matanya 'pun berair — menahan tangis. Mydei terduduk diam, lengannya memerah karena Phainon menggenggam terlalu erat.
Mydei masih punya hati nurani. Siapa yang tega liat kekasihnya sendiri menahan tangis sambil meminta maaf terus menerus? Tentunya, orang itu bukan Mydei.
Ia menarik Phainon ke dalam dekapannya. Mydei membawa Phainon ke pelukannya. Phainon mengumpat di ceruk leher Mydei, masih terisak karena permasalah sebelumnya. Mydei membelai surau putih Phainon, berusaha menenangkannya. “Jangan nangis terus, aku maafin, udah gak apa-apa.” Bukannya berhenti, Phainon makin kejer nangisnya. Ia merengek maaf, merasa bersalah.
“Huhu.. Maafin aku.. Mydei..” Kalau udah begini, Mydei gak bisa ngapa-ngapain lagi. Sekarang dia cuma bisa pasrah nunggu Phainon berhenti menangis.
Setidaknya mereka sudah rujuk.
