Work Text:
prologue.
jihoon punya kebiasaan merekam bunyi dan suara yang didengarnya. cicit burung walet di pagi hari, gemerisik daun di pekarangan sekolah, debur ombak yang tenang, kerincing bel sepeda, bahkan sesederhana sepatu anak kecil yang berbunyi ketika melompat.
di antara suara-suara itu, ada satu yang menjadi favoritnya.
“hahahaha! ini keren banget!”
klik.
gelak tawa soonyoung.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 1001: a summer to remember
“jihoon! pulang bareng, nggak?”
pemuda itu sedang membereskan alat tulis ke dalam kotak pensilnya ketika soonyoung memanggil, menumpuk buku-buku yang berbeda ukuran dengan menyusun yang ukurannya paling besar pada tumpukan terbawah.
bruk.
tumpukan itu lalu digertaknya di atas meja, membuat bagian bawahnya sama rata sebelum dimasukkan ke dalam tas. soonyoung duduk terbalik tepat satu kursi di depan jihoon, tangannya dilipat di atas sandaran sembari ia topang dagunya di sana. soonyoung tersenyum simpul, matanya mengikuti gerakan jihoon tanpa berkedip sama sekali.
“hari ini latihan taekwondonya libur.”
jihoon menutup resleting kotak pensil dan ia letakkan di bagian kosong paling atas dalam tasnya. terakhir, jihoon juga masukkan botol minumnya ke saku di samping ransel, menutup resleting, dan menyandangnya di sebelah bahu.
“ayo pulang.”
“yuhuuu!”
senyum soonyoung terurai jadi sebuah cengiran, gelang bermanik di tangannya bergemerincing kecil saat satu kepal tangan soonyoung meninju udara dengan riang. lantas ia sambar ranselnya yang terlihat ringan—kontras dengan milik jihoon yang berisi banyak barang—yang sejak tadi dia letakkan sembarang di atas mejanya.
soonyoung bukan tipe orang yang suka membawa banyak buku. sebagian besar buku-buku miliknya ditinggal di dalam kolong meja, sedikit berbeda dengan jihoon yang cenderung tidak suka meninggalkan apa yang menjadi miliknya jauh dari jangkauan pandangnya, meskipun itu hanya buku tulis yang kemungkinannya kecil dicuri orang lain.
ini hanya soal preferensi dan jihoon juga tidak menganggap salah satu lebih baik dari lainnya.
klik.
soonyoung memimpin jalan lebih dulu, langkahnya lebar-lebar, badannya ikut bergoyang—sedikit berlebihan kalau jihoon bilang—ikut bersenandung bersama lagu yang entah apa dia sedang siulkan.
“ji, lagi pengen es krim, nggak?”
“boleh.”
“okeee!” soonyoung melompat di udara, berlari lebih dulu menuju halaman tempat mereka memarkir sepeda. sesekali dia berbalik, melangkah mundur, menyapa dua atau tiga orang yang dikenalnya, termasuk teman-teman sekelas mereka, yang sebagian besar hanya jihoon sapa singkat dengan satu anggukan.
“yooo! seokmin! bisbol lagi hari ini?”
suara soonyoung terdengar jauh, entah sejak kapan pemuda itu kini sudah berdiri di sisi luar jaring-jaring lapangan bisbol, menyapa seorang kawan lainnya yang berseragam lengkap dengan helm dan tongkat. “oi, soonyoung! mau pulang?” yang dipanggil seokmin itu menyahut balik. soonyoung mencengkeram jaring-jaring besi di hadapannya, bertumpu pada ujung sepatunya untuk bermain-main memaju-mundurkan badannya di sana. “mm. sama jihoon.”
kepala soonyoung berputar ke arah jihoon yang baru saja berhenti tepat di sisinya, melirik dan mengangguk ke arah seokmin untuk menyapanya sebagai bentuk keramahan. sejujurnya, jihoon tak begitu mengenal anak ini. mereka ada di kelas yang berbeda dan jihoon tahu namanya karena soonyoung sering menyapanya sepulang sekolah.
“hati-hati, kawan!”
soonyoung melambai, pipinya naik dan matanya menyipit ketika ia melempar senyum. khas dirinya sekali. langkah riangnya kembali bergerak membawa soonyoung menuju halaman parkir yang masih berjarak satu atau dua lapangan lagi.
sekolah mereka terbilang cukup besar untuk ukuran sekolah yang berlokasi di pinggiran laut. gedungnya terbagi menjadi tiga bagian di tiga sisi arah mata angin yang berbeda, dengan lapangan olahraga yang bermacam-macam seperti bisbol, basket, dan lapangan bola. agaknya sedikit kontras dengan total murid yang hanya berjumlah sekitar sembilan belas dari masing-masing kelas yang tak sampai berjumlah lima di tiap angkatannya.
“jihoon.”
“hm?”
klik.
soonyoung yang berjalan di hadapan jihoon memutar kepalanya. “habis ini sibuk, nggak?”
“coba definisiin habis ini.”
dia memiringkan kepala, tampak berpikir. “habis makan es krim?”
jihoon menyusul langkah soonyoung, berjalan di sisinya. “nggak, kok.”
“okeee.” soonyoung kembali berlari, bersenandung dengan langkah ceria, wajahnya berkilau keemasan ditimpa matahari sore yang hangat di musim panas. rambutnya yang dipotong pendek dan diwarnai pirang itu mungkin membuatnya terlihat seperti berandal, ditambah dengan lengan kemeja seragamnya yang—meskipun sudah berlengan pendek—entah mengapa masih digulung lagi satu atau dua lipat ke atas. dia juga malas mengancing kemeja seragam yang selalu ia kenakan di atas kaus itu.
jihoon tidak tahu sudah berapa banyak soonyoung kena tegur dan dipanggil ke ruang bimbingan konseling. satu kali teguran, dia akan mengecat rambutnya kembali jadi warna hitam. hari berikutnya, ketika soonyoung rasa guru konseling sudah sibuk dengan murid lain yang melanggar aturan, dia akan kembalikan warna pirang itu di kepalanya.
meski begitu, soonyoung adalah atlet taekwondo andalan SMA mereka. jihoon pikir, mungkin itu yang membuat para guru membiarkan tingkah lakunya. rasa-rasanya, setiap ancaman untuk membuat soonyoung datang ke ruang bimbingan konseling hanya berakhir sebagai sekadar formalitas saja. soonyoung sendiri kelihatannya tak pernah ambil pusing soal itu.
soonyoung dan jihoon akhirnya tiba di halaman parkir, mengeluarkan sepeda masing-masing yang berjarak beberapa sepeda jauhnya. soonyoung berhasil mengeluarkan miliknya lebih dahulu.
“cyclone rover 5000 version 3.0, gooo!”
dan lebih dulu meluncur dengan dua tangan direntangkan ke sisi-sisi tubuhnya. sepedanya sedikit bergoyang ke kanan dan kiri karena dikendarai tanpa dikemudikan dengan benar.
diam-diam, jihoon memutar bola mata menyaksikan tingkah kekanakkan soonyoung, lantas menyusul di belakangnya, mengikuti pemuda yang kini membawa keduanya menuju kedai es krim terdekat.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 101: memories we kept together
kalau ditanya sudah berapa lama jihoon kenal soonyoung—sejak kecil. jihoon mengenalnya sejak mereka belum lama memasuki sekolah dasar, ketika soonyoung baru saja menjadi pendatang di pinggiran kota yang kecil ini.
“aku soonyoung! sepupunya seungcheol yang ada di kelas 4-1!”
di hari pertama perkenalannya di kelas, soonyoung mengenalkan diri sebagai saudara sepupu salah satu murid di kelas 4, seungcheol; anak tunggal pemilik bengkel kecil serbaguna yang tinggal di ujung gang. satu-satunya kesan khusus yang jihoon miliki untuk soonyoung, anak ini bahkan memanggil kakak sepupunya hanya dengan nama tanpa embel-embel kakak atau abang.
“aku suka taekwondo!”
soonyoung memamerkan kemampuannya menendang lurus seratus delapan puluh derajat di udara, membuat seisi kelas langsung bertepuk tangan riuh menyambutnya.
“teknik yang bagus, soonyoung.” sang wali kelas pun ikut memujinya saat itu. “nah, kalau perkenalannya sudah, silakan duduk, ya.”
dan dia duduk di kursi paling ujung, dekat jendela, pada kursi tambahan yang disediakan guru untuk anak baru di kelas jihoon.
kedatangan soonyoung tidak mengubah apapun bagi jihoon. tak ada yang berbeda, tak ada hal yang membuat jihoon berpikir bahwa dia spesial; meskipun katanya dia datang dari kota besar.
“soonyoung! pernah naik pesawat? besar banget, nggak?!”
“mm! pernah! besaaar banget, bisa lihat awan yang kayak kapas!”
“wuooohhh!”
selagi anak-anak lain berkumpul mendengarkan cerita soonyoung di bagian belakang kelas saat jam istirahat, jihoon tetap duduk di bangkunya, seperti biasa, memasang penyuara telinga yang tersambung ke alat perekam yang selalu bocah itu bawa di dalam saku.
jihoon punya satu kebiasaan yang mungkin kurang bisa dipahami orang lain. jihoon suka merekam, juga mendengar bunyi dan suara—suara apapun. kapur yang digoreskan di atas papan tulis, decit sepatu di koridor, riuh rendah murid-murid di kelas, atau suara bola bisbol yang dipukul tongkat. jihoon hanya tak suka kesepian. jihoon suka menyendiri, jihoon suka keheningan, tapi jihoon tak suka jenis sunyi yang menyiksa.
jihoon juga suka tetap duduk di bangkunya ketika istirahat, memasang penyuara telinga, menyalakan perekam, dan membiarkannya berputar otomatis di tiap-tiap file hingga mencapai pada audio paling terakhir dalam daftar dan kembali berputar ke rekaman awal. setiap suara yang jihoon rekam selalu membawanya ke memori tertentu. hari ketika jihoon berangkat sekolah terlalu pagi dan merekam suara embun yang menetes ke tanah, hari ketika jihoon pulang terlalu larut dan merekam suara jangkrik di semak-semak, hari ketika jihoon pergi dengan bus untuk pertama kalinya sambil merekam suara mesinnya yang berderu. bagi jihoon, tiap file rekaman punya nostalgianya masing-masing.
siang ini pun, sembari melahap roti yang baru saja jihoon beli dari kantin, ia biarkan pemutar rekaman itu tergeletak di atas meja, tersambung dengan penyuara berkabel di telinganya—
dug!
—ketika seseorang menyenggol kursi jihoon dari arah belakang. bocah itu melirik melalui pundak, menemukan si anak baru yang juga menoleh padanya dengan punggung menempel di papan sandaran kursi jihoon. “eh—anu, maaf.”
“soonyoung! maju sedikit ke sini!” jun memanggilnya, memintanya menjauh dari sekitar jihoon. secara tersurat, jihoon tidak pernah melarang seseorang berbicara padanya ketika ia sedang tenggelam dalam pikiran sendiri seperti saat ini, tapi, entah kenapa, hampir semua orang otomatis menjaga jarak dengan jihoon. bukan dalam artian menjauh. jihoon tahu kalau mereka hanya menghargai ruangnya. “jihoon, maaf, ya.” jun menggesturkan gerakan minta maaf dengan tangannya.
jihoon hanya mengangguk singkat, tidak merasa keberatan sama sekali.
tapi.
“jihoon, ya?” soonyoung memulai percakapan, “ikut main, yuk, sini!” lantas menarik tangan jihoon hingga—prang! pemutar rekaman yang sebelumnya diletakkan di atas meja ikut terseret dan terbanting ke lantai.
riuh rendah seisi kelas seketika berhenti, semua mata berpusat tertuju pada jihoon dan soonyoung.
jihoon hanya berkedip, memandang pemutar rekamannya yang kini terbelah berhamburan.
“a—aah… jihoon….”
jun adalah orang pertama yang bereaksi. dia berjongkok, memunguti bagian tutupnya yang terbelah menjadi dua dan mengumpulkan komponen kecil di atas telapaknya.
kedatangan soonyoung tidak mengubah apapun bagi jihoon. tak ada yang berbeda, tak ada hal yang membuat jihoon berpikir bahwa dia spesial.
tubuh jihoon berputar menghadap soonyoung yang kini mematung tegang dengan mulut setengah menganga karena kaget.
“aku… maaf.”
jihoon mengembalikan pandangan ke belakang, mendapati jun yang kini mengulur tangan untuk menyodorkan potongan alat perekam beserta serpihan-serpihan di dalam perangkatnya yang, jihoon pikir, mungkin sudah tidak berfungsi.
“makasih, jun.”
jihoon menerimanya, ia letakkan di atas meja untuk mengotak-atiknya sedikit. lampunya masih menyala, tapi tidak ada suara yang keluar. jihoon naikkan tombol volume untuk memastikan—tapi, tetap hening. jihoon memeriksa bagian baterai, melepasnya, memasangnya kembali, tapi tetap tak ada suara yang terdengar.
menyerah, akhirnya jihoon lepaskan penyuara telinganya dari alat perekam yang tak mau berfungsi itu, menggulungnya, menyimpannya di atas meja, dan melanjutkan makan siang dengan tenang.
***
“seungcheol… menurut kamu jihoon marah sama aku?”
jihoon mendengar soonyoung yang bertanya pada seungcheol, dua bersaudara-sepupu itu diam-diam mengintip dari balik etalase di salah satu sisi ruangan selagi paman choi fokus memutar baut pada salah satu plat datar di dalam alat perekam milik jihoon yang setengah hancur. jihoon duduk tepat di samping meja kerja itu, ikut mengamati dengan tenang, mengabaikan soonyoung yang suaranya mencapai pendengaran jihoon. jihoon menebak, sepertinya anak itu bahkan tak perlu merasa repot-repot untuk merendahkan suara.
“bang seungcheol.” seungcheol mengoreksi panggilannya, setengah merengut. “kalau berhasil diperbaiki mungkin nggak marah.”
“tapi paman jago, kan?”
tak ada jawaban dari seungcheol.
“wah.” paman choi memiringkan kepala, kerutan di dahinya semakin dalam saat ia menunjukkan raut berpikir keras. “kamu sering pakai ini, ya?”
“setiap hari.”
“buat rekam suara sendiri?”
“nggak… anu.” jihoon menggaruk belakang tengkuk, mengalihkan pandangan ke arah lain. agak malu mengakui. “macam-macam suara.”
paman choi hanya tersenyum tanpa bertanya lebih lanjut, seperti paham bahwa jihoon enggan berbagi lebih dari apa yang bocah itu katakan dan ia menghargai itu. jari-jarinya lalu bergerak, mengapit satu komponen dan kabel yang terpisah. “di sini, harusnya tersambung, tapi solderannya lepas.”
jihoon terdiam, menatap bagian yang ditunjuk. “bisa dibenerin?”
“bisa.”
“WUAHHHH!”
soonyoung berteriak di belakang, jihoon menoleh karena teriakannya yang terlalu menarik perhatian. dia menjatuhkan diri di tanah, berlutut dengan ekspresi lega sekali, seolah perekam ini adalah miliknya.
pandangan mereka beradu, jihoon mendapati soonyoung tengah tersenyum lebar dengan dua mata berbinar.
kedatangan soonyoung tidak mengubah apapun bagi jihoon. tak ada yang berbeda, tak ada hal yang membuat jihoon berpikir bahwa dia spesial.
—setidaknya sampai hari ketika soonyoung mendobrak paksa ruang yang selalu jihoon ciptakan untuk dirinya sendiri.
***
“jihoon! jihooooon!”
suara soonyoung terdengar dari kejauhan, sambil terengah-engah berlebihan sepedanya menyusul kencang, melaju lebih dulu, lalu membiarkannya melambat menyamakan lajunya di sisi jihoon yang mengayuh dengan kecepatan stabil.
jihoon menoleh, memandang soonyoung yang kini memamerkan gigi susunya dengan mata menyipit.
“halo.” jihoon hanya menyapa singkat, mengembalikan pandangan ke depan sementara sebelah tangan meremas kotak jus buah yang nyaris habis.
“jihoon, yang kemarin maaf, yaa?”
“nggak apa-apa.”
yang dikatakan jihoon itu sungguhan. lagipula, menurut jihoon, perekamnya sudah bisa berfungsi seperti sedia kala meski bagian tutupnya yang terbelah harus ia rekatkan dengan selotip.
“nanti aku traktir jajan!” bagai tak cukup hanya dengan meminta maaf saja, soonyoung kembali menawarkan hal lain untuknya.
“iya. makasih, soonyoung.”
“haha! yeaaayy!” soonyoung melepas dua tangannya dari kemudi untuk bersorak, tetap menjaga sepedanya melaju dalam keseimbangan. dia lalu kembali mengemudikan setang, menoleh ke arah jihoon dengan raut penasaran. “jihoon, kamu suka rekam apa, sih?”
pertanyaan yang bagi jihoon terlalu acak dan mendadak.
“bukannya kamu udah dengar aku jawab waktu paman choi nanya?”
“hihi.” soonyoung terkikik kecil. “mungkin kalau sama aku kamu mau cerita lebih banyak?”
sepeda mereka berbelok di tikungan, melewati gerbang sekolah dan meluncur ke tempat parkir sepeda di pekarangan.
sebelumnya, tidak pernah ada yang mau tahu soal alat perekam atau apa yang direkam jihoon. paman choi adalah pengecualian, karena pria itu pasti perlu bertanya untuk kepentingan perbaikan. jihoon tak pernah menyembunyikan soal rekaman, hanya saja, jihoon rasa ia tak perlu berbagi lebih jauh soal itu kalau dengan paman choi. beliau hanya perlu tahu bahwa jihoon memang menggunakan perekam itu setiap hari. tidak lebih.
laju sepeda keduanya berhenti, soonyoung rupanya tidak menuntut jihoon untuk menjawab pertanyaannya.
dia hanya menggumamkan nada acak, tersenyum sembari memandang ke arah jihoon dengan sorot matanya yang ceria.
“oi! soonyoung!”
jihoon belum sempat memberi respon apapun ketika seungcheol tiba-tiba datang entah dari mana, melingkari leher soonyoung dengan sebelah lengannya yang padat berisi dan menyeretnya untuk melangkah ke luar area parkir sepeda. “kenapa berangkat sendirian? awas, ya. nanti nggak boleh ikut makan malam.”
soonyoung sempat menoleh ke arah area parkir, tetapi kemudian segera seungcheol jitak sisi-sisi kepalanya dengan buku jemari. “a-aaah! kok gitu, sih?!” protes soonyoung masih bisa didengar jihoon hingga dua bersaudara itu menapaki tangga menuju pintu utama, dengan soonyoung yang menepuk-nepuk minta ampun saat seungcheol pura-pura mengunci lehernya dengan lengan.
keduanya pun menghilang ke dalam koridor, meninggalkan jihoon yang masih terpaku sementara anak-anak lainnya mulai berdatangan dan memarkirkan sepeda mereka masing-masing.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 1002: at my own pace
“jihoon.”
suara soonyoung membawa jihoon kembali ke masa kini. kawannya itu berdiri di depan mesin pendingin es krim yang terbuka, hawa dinginnya menguar tipis dan menjalar ke arah jihoon yang masih duduk di atas sadel sepeda, memarkirnya sementara tepat di depan sebuah toko kelontong di pinggir jalan.
klik.
“mau es krim yang mana? yang biasa habis.”
tahun demi tahun berlalu, jihoon dan soonyoung tumbuh bersama melalui berbagai musim panas. bermula dari bocah kecil sembrono yang hanya mengerti bermain… hingga menjadi remaja yang mulai mengerti cinta.
“yang lain boleh. samain aja kayak kamu.”
“okeee.”
jihoon berkedip dan menatap ujung tikungan, ingatan pemuda itu melayang pada satu kejadian lampau.
dalam bayangannya, sosok imajiner jihoon dan soonyoung yang masih duduk di sekolah dasar muncul dengan sepedanya masing-masing dari sudut gang. soonyoung melaju cekatan sambil tertawa lebar, berhenti tepat di depan warung dengan posisi nyaris kehilangan keseimbangan. meski hampir terjatuh, cengirannya tetap terurai lebar secerah mentari pagi. “jihoon! ayo sini, siniii!”
gelangnya ikut bergoyang kecil ketika tangan soonyoung melambai-lambai, “ah! tapi jangan kenceng-kenceng nanti kamu jatuh!” dan jihoon hanya tersenyum sembari mempercepat kayuhan sedikit lebih laju. ia tiba di sebelah soonyoung yang kemudian mengangguk singkat, terlihat puas karena kawannya tiba dengan aman. “aku aja yang beli, kamu tunggu di sini. mau es krim yang rasa apa?”
klik.
apapun yang soonyoung pilih, jihoon tidak pernah merasa keberatan. termasuk gelang bermanik persis seperti milik soonyoung yang melingkar manis pada pergelangan tangan jihoon saat itu.
“samain aja kayak kamu.”
“oke, jiii!” sosok soonyoung kecil turun dari sepeda dan meninggalkannya di sebelah jihoon, lantas berjinjit untuk membuka penutup mesin pendingin es krim yang terlalu tinggi dan besar untuk ukuran tangannya. dia lalu memekik heboh, kembali melirik ke arah jihoon sebelum merogoh-rogoh ke dalam mesin dan mengacungkan dua bungkus es krim di tangannya. “yang ini nggak apa-apaa?”
jihoon mengangguk.
“bibiii!” dan sang kawan pun segera melesat masuk ke dalam toko untuk membayar keduanya. usai membayar, dua bungkus yang telah dibelinya itu soonyoung letakkan di dalam keranjang sepeda jihoon. “yuk! cyclone rover 5000 version 1.0, goooo!” dan sosok kecil soonyoung kembali memimpin jalan, disusul oleh jihoon yang tak lama kemudian mengekorinya di belakang.
ke mana pun soonyoung pergi, jihoon tak pernah keberatan untuk mengikutinya.
begitulah mereka tumbuh bersama. bermula dari bocah kecil sembrono yang hanya mengerti bermain, hingga menjadi remaja yang mulai mengerti cinta.
setidaknya bagi jihoon.
klik.
jihoon mengembalikan fokusnya ke masa kini, pandangan beralih pada soonyoung yang dengan cepat menyambar dua bungkus es krim soda dengan satu tangannya, sedikit menunduk saat memasuki toko dan berteriak memanggil sang penjaga. “bibi! yang ini berapa? aku beli dua kayak biasa, ya! yup. makasihhh.”
soonyoung yang meledak-ledak dan spontan itu, yang dunianya selalu bergerak terlalu cepat dan riuh, tidak sekalipun ia pernah menganggap jihoon terlalu tenang atau terlalu irit bicara.
soonyoung kembali dengan dua bungkus es krim di tangan, cengirannya lebar ketika ia letakkan semuanya dalam keranjang sepeda jihoon. mata jihoon mengikuti gerakannya tanpa bicara, tidak lagi bertanya-tanya soal bagaimana ia akan membayar ini, sebab, saling bergantian membelikan es krim satu sama lain tahu-tahu sudah menjadi kebiasaan mereka entah sejak kapan.
“jihoon. ke pantai?”
“mm.”
soonyoung menaikkan standar sepeda, kembali menyerukan nama sepedanya disertai efek suara manualnya sambil meluncur cepat ke jalan raya. jihoon diam-diam tersenyum kecil, hanya mengekori di belakang dengan tenang, tanpa terburu-buru, tahu bahwa mereka akan menuju satu tempat tujuan yang selalu sama.
“jihoooon!” soonyoung memanggil, agak berlebihan seolah jihoon tak dapat mendengarnya jika dia berbicara dengan volume yang biasa. kayuhannya melambat, kembali ia samakan kecepatan sepedanya di sisi jihoon.
“iya?”
soonyoung lantas memamerkan cengiran, memajukan badan ke depan seolah ingin mengebut, tapi kembali ia tegakkan badannya hanya untuk tertawa lepas. helai rambut pendek dan ujung-ujung kemejanya yang terbuka tanpa kancing beterbangan ke arah belakang, ditiup angin tepi laut yang cukup kencang.
“nggak apa! cuma manggil!” soonyoung melempar senyum, membiarkan roda sepedanya bergulir lebih cepat saat ia melewati jalan menurun di depan sana. serunya sambil melambai-lambai, “jihoon hati-hati, yaaa! jalanannya turun!”
pandangan jihoon beralih dari soonyoung yang baru saja menghilang dari jangkauan pandangannya, diam-diam mengulum satu senyum yang amat tipis—barangkali nyaris tak terlihat.
jihoon tahu, soonyoung tidak akan meninggalkannya. dia selalu menemani di sisi jihoon selagi membiarkan jihoon berjalan dengan kecepatannya sendiri.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 102: the voice echoing in my heart
“jihoon! mau makan di mana?”
langkah kecil bocah itu berhenti di ambang pintu ketika ia dengar soonyoung yang mendadak memanggilnya. jihoon berbalik dengan satu kotak bekal, susu, dan alat perekam di tangan, mendapati soonyoung yang mengeluarkan sesuatu dari ranselnya dengan buru-buru. matanya berbinar ketika dia akhirnya berjalan menyusul jihoon, membawa serta kotak bekal berwarna jingga cerah dan kemasan air mineral di tangannya dari merek yang biasa jihoon jumpai.
“aku boleh ikut?”
soonyoung bertanya dengan kotak bekal dan air minum jelas-jelas ada di tangan. kalau jihoon tolak, memangnya dia bakal membatalkan niatnya?
“boleh.”
lagipula, jihoon juga tak keberatan.
soonyoung berjalan di sisi jihoon tanpa banyak bertanya. sesekali dia sapa beberapa anak dari kelas lain, termasuk kakak kelas, yang tak jihoon pahami bagaimana ia bisa tiba-tiba kenal hampir seisi sekolah kendati baru tiga minggu ada di sini. dua bocah itu menuruni tangga, menyusuri koridor, keluar melalui pintu samping yang menghubungkan gedung sekolah dengan lapangan olahraga yang dilengkapi undakan tribun. karena sedang jam istirahat, tribunnya kosong. hanya ada beberapa kelompok anak yang bermain dan mengisi bagian lapangan lainnya untuk menghabiskan waktu istirahat mereka.
jihoon letakkan susu kotak dan alat perekam di kursi tribun, di sisinya, sebelum ia buka tutup kotak bekal yang jihoon tempatkan di atas pahanya sendiri.
“jihoon, kamu nggak marah sama aku, kan?”
jihoon bukan pergi keluar karena anak-anak kelas yang berisik, bukan pula karena menghindari seseorang. jihoon hanya bosan dan ingin mencari suasana baru. atau mungkin suara baru untuk direkam.
“nggak.”
soonyoung berkedip, tersenyum simpul seolah puas dengan jawaban jihoon. dia ikut membuka kotak bekalnya, mengangkatnya untuk memamerkan isinya kepada jihoon. “lihat! paman choi bikin ini buat aku. seungcheol juga bawa bekal yang sama.”
isinya disusun apik dengan daun selada di sisi kanan-kiri nasi, sementara di bagian sekat lainnya ada potongan-potongan sosis dan telur dadar gulung. terlihat cantik dibanding bekal sederhana jihoon yang isinya hanya tiga roti lapis daging dan beberapa buah tomat ceri.
jihoon berhenti mengunyah ketika sumpit soonyoung bergerak memindahkan sepotong sosis berbentuk gurita ke dalam kotak bekal makan jihoon. jihoon beralih pandang pada soonyoung yang kini menyeringai lebar sambil terkekeh. “buat kamu.”
jihoon masih terdiam, memandang sosis gurita berwajah lucu yang seolah sedang menyapanya dengan ramah. jihoon selalu makan sendirian dan ia tak tahu apa yang biasa dilakukan anak-anak lain kalau mereka makan bersama. apa bertukar lauk seperti ini adalah hal yang biasa?
atau barangkali, inikah cara kecil soonyoung untuk meminta maaf padanya?
soonyoung terlihat sibuk mengatur isian di kotak bekalnya. ia pindahkan sosis dan telur gulung ke atas nasinya, bertukar tempat dengan selada yang tampak seperti ingin disingkirkan.
jihoon mengambil satu tomat ceri dan meletakkannya di kotak bekal soonyoung, bergabung dengan nasi, sosis gurita, dan telur gulungnya. jihoon lalu memandang soonyoung, menunggu reaksi anak itu karena sepertinya ia berniat menyisakan sayurnya.
“uwaaah!” soonyoung terkejut, menutup mulutnya dengan mata melotot yang kelewat dramatis. “aku nggak suka sayur!!!” benar, kan. “tapi jihoon kasih ini buat aku jadi bakal aku makan.”
soonyoung mengambil tomat dengan sumpitnya, matanya mengikuti sampai buah kecil itu berhenti di depan mulutnya yang menganga lebar. ia lantas berkedip dua-tiga kali, seperti menyiapkan diri sebelum akhirnya memasukkannya langsung ke dalam mulutnya dalam gerak cepat.
“hngggg!” soonyoung memejam mata, menggeleng-geleng cepat dengan bibir mengerucut dan pipi menggembung. otot lehernya bergerak saat menelan, tangannya tergesa-gesa membuka botol air minum dan menenggak isinya. “fuah! berhasil!!!”
jihoon mematung, mengangkat alis, tidak menyangka soonyoung akan bereaksi berlebihan begitu. ia membuang wajah untuk menyembunyikan tawa, soonyoung lantas berseru heboh. “jihoon! ternyata kamu bisa ketawa!”
jihoon menyeka air di sudut mata, balas menatap soonyoung dengan setengah menunduk. “duh. kamu pikir aku robot?”
“kamu soalnya jarang ngomong. aneh rasanya lihat kamu ketawa gini—eh, tapi ini bukan ledekan, kok!”
berawal dari alat perekam yang rusak tak disengaja, rupanya momen itu membawa jihoon dan soonyoung menuju keakraban yang sebelumnya tak pernah jihoon bayangkan. tribun di sekolah seakan jadi tempat rahasia kedua bocah kecil itu untuk berbagi cerita setiap jam makan siang.
termasuk ketika akhirnya jihoon memutuskan untuk berbagi cerita soal perekam.
“oh?” soonyoung memiringkan kepala, dua tangan ia letakkan di atas lututnya sambil menatap layar sederhana pada alat perekam yang menampilkan baris-baris file audio dengan berbagai macam judul. mereka lagi-lagi duduk berdampingan di tribun lapangan sekolah dan jihoon baru saja memutar beberapa sampel audio untuk ditunjukkan kepada soonyoung. “ini semua… buat apa?” soonyoung kembali bertanya.
menurut jihoon, nadanya tidak terdengar menghakimi. dia murni hanya ingin tahu.
“aku nggak pandai bicara.” itu adalah pertama kalinya jihoon membahas tentang ini dengan seseorang. “tapi aku suka mendengar. aku suka dunia yang ramai.”
“ramai?”
jihoon mengangguk. “bunyi ombak di pinggir pantai, burung camar yang lewat di atas laut, kerincing bel sepeda, langkah dan tawa teman-teman yang berlarian.” tanpa sadar, jihoon tersenyum kecil. membayangkan suatu sore ketika bunyi-bunyi itu terekam dalam satu file audio yang sama. “ramai… tapi juga damai, kan?”
soonyoung mulanya hanya menyimak, tapi kemudian matanya berbinar semakin lebar dan dia pun menganga kagum. “jihoon… kamu nggak kelihatan kayak yang suka keramaian, aku kaget.” soonyoung berdiri, mengentak kaki-kaki kecilnya dengan ribut. “ternyata kamu unik banget!”
unik.
ini adalah pertama kalinya jihoon mendengar namanya bersanding dengan kata ‘unik’ dalam satu kalimat yang sama.
itu… pujian…?
jihoon menunduk, melarikan pandang ke arah lain—asal bukan ke soonyoung, menggenggam erat alat perekamnya sembari menggoyang-goyang lutut tanpa sadar. jihoon sedikit bingung tentang reaksi apa yang harus ia tunjukkan, jadi—akhirnya ia hanya tersenyum tipis yang kemudian dibalas soonyoung dengan tawa lebar yang renyah.
kedatangan soonyoung tidak mengubah apapun bagi jihoon. tak ada yang berbeda, tak ada hal yang membuat jihoon berpikir bahwa dia spesial.
—tapi, itu dulu.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 1003: what the waves witnessed
selain es krim, jihoon tidak ingat kapan tepatnya ia dan soonyoung juga mulai punya kebiasaan untuk duduk pada bebatuan besar di tepi pantai yang disusun menjadi dinding pemecah ombak, saling menikmati es krim masing-masing sembari memandang laut lepas. tidak ada alasan khusus. hanya bermain pasir dan air, atau mencari kerang—yang kebanyakan dilakukan oleh soonyoung—sembari membiarkan perekam menyala di dalam saku seragamnya, menangkap tiap deru ombak, angin, kapal yang kebetulan lewat, kicauan burung camar, dan….
klik.
“jihoon! sini turun! aku nemu kerang baru!”
suara soonyoung.
jika dipanggil begitu, jihoon akan turun dan menyusul soonyoung yang tengah berjongkok di antara pasir sambil menggali-gali dengan jemarinya. kalau sedang ceroboh, es krim soonyoung akan meleleh sebagian dan berguling jatuh ke atas pasir. dia akan merutuk heboh karena es krimnya terbuang sia-sia, tetapi kemudian malah melompat-lompat girang saat menemui logo bonus pada tangkainya—yang bisa ditukar kembali dengan sebungkus es krim gratis lain dari toko kelontong.
begitupun sore ini, ketika sang dua remaja tengah mengisi waktu luang mereka dengan bermain di tepi pantai.
jihoon membiarkan semilir angin di tepi laut berembus lembut menerbangkan helai-helai rambutnya, mengisi keheningan yang nyaman sementara pandangannya terkunci pada soonyoung yang menggigit es krimnya, berlarian dengan kaki telanjang di pasir pantai yang bersih.
tawanya lepas, amat serasi dengan samudra yang terbentang luas di hadapan mereka dan ditemani setengah matahari yang mulai tenggelam ditelan garis lautan—membuat semburat jingganya yang hangat perlahan terganti oleh biru tenang bertabur bintang.
jihoon mengulurkan sebelah tangannya untuk soonyoung yang baru kembali seraya menjinjing sepatu, membantu sang kawan memanjat bebatuan pemecah ombak tempat jihoon duduk di sana.
“hup!” soonyoung menyambutnya, gelang kembar yang mereka kenakan saling bersentuhan satu sama lain. soonyoung menyeringai lebar saat dia berhasil memijak tepian aspal di jalan raya. “trims, ji.”
jihoon dan soonyoung kembali mengendarai sepedanya masing-masing dalam perjalanan pulang ke rumah. seperti biasa, soonyoung memimpin beberapa meter di depan sembari bermain-main dengan atraksi kecilnya. sesekali ia tertawa, sengaja menoleh pada jihoon, memanggilnya, sebelum akhirnya melambat dan berhenti tepat di hadapan papan pengumuman desa.
jihoon turut menghentikan sepedanya di sebelah soonyoung.
di papan pengumuman, ada satu poster besar dengan latar belakang pedesaan dan kembang api yang meledak di langit malam—festival perayaan yang diadakan berkala di desanya setiap sepuluh tahun sekali.
untuk sesaat, soonyoung mengamati poster itu dalam diam dan jihoon hanya menunggunya untuk berbicara lebih dulu.
“ji… kamu mau datang lagi, kan?”
itu pertanyaan retoris. jihoon rasa, mau atau tidak mau bukanlah jawaban yang tepat. semua penduduk desa akan datang walau tak diundang secara resmi. dahulu pun begitu. sepuluh tahun lalu, ketika ia dan soonyoung masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika mereka pergi bermain bersama ke perayaan.
—dan pernah berjanji untuk datang ke festival lagi sepuluh tahun sejak hari itu.
rupanya soonyoung ingat.
gelang maniknya masih setia melilit pergelangan tangan jihoon saat genggamannya pada setang sepeda mengerat tanpa sadar. kendati hatinya yang membuncah, pun susunan rencana yang juga mulai terbersit dalam benaknya, hanya satu respon singkat yang lolos dari bibir jihoon.
“iya.”
sepeda soonyoung kembali melaju tanpa aba-aba. “okeee!” sahutnya dari kejauhan. soonyoung lalu menoleh ke arah jihoon yang baru mengayuh untuk menyusul, mengacungkan jempolnya. “nanti perginya bareng, ya!”
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 103: a promise bound between the beads
hari itu, hujan deras di musim panas mengguyur pedesaan. jihoon dan soonyoung kecil terjebak di sekolah usai mereka saling bantu mengerjakan tugas di kelas.
dari sekian banyak bunyi dan suara yang tersimpan dalam alat perekamnya, hanya ada satu yang tak pernah mau direkam jihoon.
guyuran hujan.
bagi jihoon, hujan itu merepotkan. basah, lembab, dingin… dan bisa merusak alat perekamnya yang sensitif terhadap air.
jihoon tidak suka hujan.
“jihoooon!”
soonyoung berlari dan berputar di bawah langit yang masih menumpahkan rintik-rintik gerimisnya, dua tangannya direntangkan dan dia tertawa lebar sembari membiarkan wajahnya basah. “sini, jihoon! hujan!”
jihoon mengerjap, langkahnya enggan berpindah dari bawah naungan atap di ambang pintu utama gedung sekolah dasar. “... aku nggak suka hujan.” satu tangan jihoon terjejal ke dalam saku, menggenggam perekamnya erat-erat seperti ingin melindunginya dari percikan kecil yang mungkin bisa merusak fungsinya.
“sayang banget!” soonyoung mengernyitkan hidung. meski begitu, jika menilai dari nada suaranya, jihoon tahu kalau kawannya itu tak bermaksud meremehkan atau merendahkan pilihan jihoon.
soonyoung lalu memegangi bagian pinggang celananya, sengaja mengambil lompatan jauh untuk mendarat di atas genangan air yang jernih, membuat cipratan besar ke sekitarnya. tawa nyaring bocah itu kembali mengudara, bergerak melompat dari satu genangan ke genangan lainnya dengan gesit.
“jihoon—HWAAA!” kaki mungil soonyoung gagal menapak dengan benar dan dia terpeleset, jatuh terduduk di atas genangan air lainnya dan membuat bagian bawah tubuhnya nyaris basah seluruhnya.
namun, alih-alih mengeluh dan menangis, ekspresi kagetnya itu digantikan sebuah cengiran, “AHAHAHA!” diikuti ia yang terpingkal jenaka, mengisi sunyi di lingkungan sekolah mereka sore itu. “jihoon! ahahaha! aku ceroboh banget!”
lagi, jihoon berkedip, memandang soonyoung tanpa menunjukkan reaksi berarti.
hanya saja.
klik.
jempol di dalam sakunya diam-diam bergerak menyalakan tombol rekam.
mungkin….
mungkin jihoon mulai suka hujan.
***
karena jihoon bilang dia tidak suka hujan, soonyoung memutuskan untuk menemaninya di sekolah hingga gerimis mereda. jihoon bilang soonyoung bisa pulang lebih dulu, tapi, soonyoung menggeleng dan bersikeras menunggunya.
“nggak apa! aku suka main air di sini!”
soonyoung sama sekali tak meluncurkan protes meski pakaiannya sudah setengah basah. ia masih melompati genangan, memutari sebagian kecil pekarangan di depan gedung sekolahnya sampai akhirnya berpijak kembali di dekat tangga gedung.
“fiuh. capeknya.” soonyoung menyeka kening dengan gerakan dramatis, kembali menghampiri jihoon yang masih berdiri di ambang pintu gedung.
pandangan soonyoung mengedar berkeliling, melewati pundak jihoon, lalu jatuh tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya.
“waaah, apa ini?” soonyoung berlari kecil menerobos pintu masuk gedung, berhenti dengan posisi mendongak di depan papan majalah dinding yang terpasang pada salah satu sisi tembok. didorong rasa penasaran, jihoon memutar tubuh, turut menyusul soonyoung dan mengikuti arah pandangnya.
poster perayaan sepuluh tahunan di desa mereka.
jihoon pernah dengar tentang ini dari orang-orang dewasa di sekitarnya. konon katanya, festival besar ini diadakan untuk menyambut dewi keberuntungan yang berkunjung ke desa setiap satu dekade, sekaligus untuk mendoakan keselamatan para nelayan serta memohon kelancaran panen bagi para petani kebun di desa. pertunjukan kembang api juga akan diadakan sebagai simbol harapan, mimpi, dan keberanian bagi seluruh anak-anak di desa yang akan bertumbuh menjadi dewasa di kemudian hari.
jihoon pasti bisa merekam banyak suara yang belum pernah didengarnya di acara itu.
“jihoon!” kepalan tangan soonyoung berguncang di sisi tubuhnya, senyum manis terurai bersama wajahnya yang berseri-seri. “ayo datang ke sini bareng aku!”
***
pada hari festival, jihoon lupa membawa alat perekamnya.
dia sedikit menyesal. di antara hiruk pikuk semarak perayaan yang meriah dan hidup akan berbagai suara, bisa-bisanya jihoon malah melupakan alat perekam yang selama ini selalu dikantonginya ke mana pun ia pergi.
“jihoooon!” tangan kecil soonyoung melambai, bergerak-gerak menggesturkan jihoon untuk segera menyusulnya yang kini sudah berjongkok di depan kolam balon portabel, tempat puluhan ikan hias kecil dengan macam-macam warna berenang di sana. suara mesin penghasil gelembung udara dan air mancur mini yang dipasang di dekatnya berbunyi tenang, suaranya begitu menyegarkan dan menenangkan di antara riuh rendah suasana festival malam itu.
langkah jihoon terhenti di depan stan permainan sederhana yang sudah lebih dulu dihampiri soonyoung itu, pandangannya bergerak membaca kelimat pada papan tulis yang dipajang di areanya: ‘permainan menyendok ikan! bawa pulang ikan-ikan yang cantik ini ke rumahmu.’
“jihoon, ayo kita main ini.”
soonyoung memanggilnya ketika jihoon baru saja akan merutuki dirinya lagi dalam hati. karena tidak bawa alat perekam, dia jadi tidak bisa menyimpan suara soonyoung yang berbicara dengan latar gemercik air di kolam kecil itu.
menghela napas, jihoon berjongkok di sebelah soonyoung yang tengah memandang ikan-ikan cantik dengan mata berbinar. serunya sambil menunjuk jihoon, “kakek! aku sama temanku mau coba tangkap ikan!”
jihoon menoleh, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun meski soonyoung memutuskan seenaknya sendiri tanpa bertanya pada jihoon lebih dulu.
“eh! maaf aku lupa tanya, hihi. kamu mau main ini, kan, ji?”
jihoon kecil mengangguk pelan.
si kakek tua penjaga stan yang mengenakan ikat kepala itu tersenyum, matanya mengerut ramah saat ia sodorkan masing-masing dua buah saringan dan gelas kecil. “baik, nak. hati-hati, ya. jangan sampai menyakiti ikannya.” jihoon memandang saringan itu, memutarnya. daripada disebut saringan, menurut jihoon, benda itu lebih mirip seperti sekop kecil berlubang yang pada bagian tengahnya dikaitkan selembar kertas tipis.
di sisi jihoon, soonyoung sudah sibuk mengincar ikan yang akan ditangkapnya untuk dibawa pulang. matanya terkunci pada satu ekor ikan berwarna jingga keemasan, bocah itu lantas bergeser pelan-pelan ke sisi kolam lainnya untuk mengikuti pergerakan ikan kecil yang berenang lincah di dalam air. soonyoung menggulung lengan bajunya sampai sebatas siku, ujung lidah sedikit mengintip di antara bibir. terlihat fokus sekali.
“ikaaan, jangan takut, yaa. nanti aku jagain kamu di rumah paman choi! paman punya akuarium yang besaaar banget!” dia lalu mengulurkan tangannya perlahan, menyelipkan sekop kertas di bawah tubuh ikan incarannya, sementara gelas kecil yang ada pada tangan lainnya bergerak dari arah lain untuk memerangkapnya sementara. beberapa kali soonyoung gagal, tak sengaja membuat kertas tipis pada sekopnya robek, membayar lagi untuk menggantinya dengan yang baru, lalu bereaksi berlebihan dengan menjatuhkan diri ke tanah saat ikannya kembali melarikan diri, mengeluh dengan pipi menggembung lucu. “huft! susah juga, yaaa.”
pandangan jihoon mengarah pada ikan-ikan yang bergerak gesit di dalam kolam buatan. beberapa dari mereka kadang berhenti berenang, tapi kemudian kembali meluncur, mendorong diri dengan ekornya yang bergerak-gerak cekatan.
jihoon diam-diam terkikik kecil, mendekat ke sisi soonyoung untuk menyamakan sudut pandang mereka. suasana hatinya sudah sedikit terobati berkat soonyoung yang mencoba permainan menyendok ikan ini.
“coba lagi, soonyoung—ah, yang itu.”
soonyoung mengikuti arah yang ditunjuk jihoon, matanya melebar menunjukkan tekad bulat. bocah itu lalu mengangguk mantap, masih menggenggam erat sekop kertas dan gelas kecil pada masing-masing tangannya. “mm! aku nggak nyerah, kok!”
seperti yang dikatakannya, soonyoung pun mengembalikan fokusnya pada ikan-ikan, beberapa kali berbisik lirih, “ikaaan, ayo ke siniii. aku bukan mau nyakitin kamu.” hingga akhirnya—
“YAAAAY! DAPAAAAT!”
soonyoung langsung melompat berdiri, pekiknya yang nyaring sampai mengundang beberapa mata tertarik melirik ke arah stan memancing. soonyoung menggoyang gelas yang kini sudah berisi satu ikan kecil keemasan di atas kepalanya, sedikit air dari dalam gelas terpercik ke wajahnya sendiri. menyadari cipratan air yang tumpah itu, soonyoung segera menurunkan tangan dengan hati-hati, satu telapaknya ia gunakan untuk menutup permukaan gelas demi melindungi ikannya. “hihi. maaf ya, ikan. aku seneng banget!” dan matanya pun beralih ke arah sang kakek penjaga stan. “kakek! tolong dibungkus!”
kakek tua itu mengambil alih gelas berisi ikan dari tangan soonyoung dan memindahkannya ke dalam plastik bening. kaki mungil soonyoung melompat-lompat, menerimanya dengan gembira. “uwaaah! jihoon! aku punya ikan!”
jihoon tersenyum, bertepuk tangan pelan, turut bersuka cita karena keberhasilan kawannya menangkap ikan kecil.
“jihoon, kamu mau aku bantu tangkapin atau mau tangkap sendiri?”
kali ini, soonyoung yang baik hati itu menawarkan bantuannya pada jihoon. barangkali anak itu hanya merasa perlu mempertimbangkan pendapat jihoon yang mendadak ia seret untuk bermain tangkap ikan.
jihoon melihat sendiri betapa senangnya soonyoung saat bermain, karena itulah, ia sodorkan sekop kertas dan gelas miliknya, membiarkan soonyoung melakukan permainan tangkap ikan untuknya. “boleh kalau kamu mau bantu.”
“okee! kamu mau ikan yang mana? aku kejarin sampai dapat!”
tapi nyatanya, karena permainan menangkap ikan ini memang tidak semudah kelihatannya, pada akhirnya jihoon dan soonyoung menyerah untuk mengejar satu ikan merah yang pada awalnya diinginkan jihoon. ikan mana pun tidak masalah. mereka semua sama-sama mungil dan cantik di mata kedua bocah itu.
setelah beberapa saat, soonyoung akhirnya berhasil menangkapkan satu untuk jihoon, dengan bangga ia sodorkan salah satu plastiknya pada jihoon. “ikan kita juga temenan!” dan mereka pun berjalan beriringan sembari menggenggam plastik ikan masing-masing, mengelilingi stan demi stan untuk mencoba berbagai permainan lainnya yang tak kalah menyenangkan. permainan melempar bola, panahan berhadiah, hingga akhirnya masing-masing dari mereka hanya memiliki sisa beberapa keping uang saku.
langkahnya yang lincah membawa soonyoung tiba di depan sebuah stan aksesoris. matanya terpaku pada sepasang gelang dengan hiasan kerang dan manik-manik batu alam semi-transparan yang berkilau cantik.
soonyoung berputar ke arah jihoon, senyumnya mengembang. “jihoon, mau beli gelang kembar?”
jihoon berdiri di sisi soonyoung, dua plastik ikan dan permen kapas yang masih terbungkus ada di genggamannya. jihoon masih sibuk memperhatikan manik demi manik yang tersusun di sepanjang benang ketika gadis sang pemilik kios muncul dari balik tirai. “yang itu cuma tinggal sepasang. populer banget, lho. konon katanya, siapapun yang pakai itu, bisa bersama-sama terus bahkan sampai festival ke-seratus.”
soonyoung dan jihoon mendongak bersamaan. “oh ya?!” soonyoung yang polos itu langsung percaya begitu saja, antusiasmenya direspon oleh anggukan sang gadis. “jihoon! kita harus beli ini!”
sebaliknya, jihoon berpikir legenda itu hanya mitos. meski demikian, dia tetap mengangguk, “mm. boleh.” dan mengiyakan keinginan soonyoung.
usai membayar dan saling bantu mengenakannya pada pergelangan tangan satu sama lain, soonyoung menyentuhkan gelang mereka dan mengguncangnya. “yaaay! kita punya gelang kembar!”
sudah puas menghabiskan uang saku, jihoon dan soonyoung berjalan beriringan menuju tepi pantai yang sebagian wilayahnya sudah didekorasi dengan lampion-lampion dan hiasan yang menggantung bersinar. sejauh mata memandang, jihoon mendapati ada banyak sekali orang yang menantikan pertunjukan kembang api. para tetangga yang dikenalnya, teman sekolah yang berkunjung bersama keluarganya, gurunya, sepasang nenek-kakek yang tinggal di gang belakang, bibi pemilik toko kelontong, juga paman choi dan seungcheol.
“jihoon, sebentar, ya! aku ke paman sama seungcheol dulu.”
jihoon mengambil tempat untuk duduk di tepi bebatuan besar, menjilat permen kapasnya sembari menunggu soonyoung. tak lama, soonyoung pun kembali dan turut duduk di sisi jihoon, kaki menggantungnya bergerak-gerak penuh semangat. kontras sekali dengan jihoon yang tampak menikmati permen kapas dengan tenang.
lampion-lampion dekorasi dipadamkan satu per satu, para penonton mulai berseru riuh. pertunjukan kembang apinya akan segera dimulai.
ada hening yang menyelimuti pantai selama beberapa saat sebelum seberkas cahaya muncul dari salah satu titik, meluncur ke atas, berdentum keras hingga membuat hati siapapun yang menyaksikan ikut berdebar. berkas cahaya itu menyembur menjadi rangkaian bunga api, dan pecah menjadi percik gemerlap yang cantik di langit malam—membuat pantulan yang sama pada gelombang tenang air laut di bawahnya.
“waaaah… indah banget….”
soonyoung menganga kagum, terpesona, nyaris tak berkedip sama sekali.
kepala kecil jihoon berputar untuk memandang soonyoung yang duduk di sisinya. dalam bola mata jihoon yang jernih, bayangan sosok soonyoung tercermin, dilatari warna-warni kembang api yang terus meledak bersahutan.
“iya.”
indah sekali.
kini, soonyoung bertepuk tangan sembari tertawa, sengaja melompat ke tanah untuk menari-nari dengan setangkai permen kapas yang masih utuh di tangan. ia lalu kembali bersandar pada dinding bebatuan dan mendongak ke arah jihoon untuk melempar senyum.
di dalam dunia jihoon saat ini, hanya ada tawa soonyoung yang mengudara dilatarbelakangi gemuruh kembang api yang saling sahut-menyahut.
senyum soonyoung yang sepanjang malam merekah itu belum juga sirna dari parasnya. “jihoon, sepuluh tahun dari sekarang, ayo ke festival ini lagi. janji, ya?”
jihoon tidak pernah tahu sebelumnya, kalau ternyata punya seorang teman bisa semenyenangkan ini sampai-sampai ia sudah lupa soal alat perekam yang tak sengaja tertinggal di rumah.
tapi, jihoon tidak butuh perekamnya malam ini.
dua plastik berisi ikan-ikan kecil yang kata soonyoung juga berteman satu sama lain diletakkan di antara mereka, sepasang gelang kembar yang dikenakan pada tangan-tangan bocah mungil sebagai simbol persahabatan itu berkilau cantik tiap kali kembang api meletus di langit.
“mm. janji.”
kelingking kecil jihoon dan soonyoung saling bertautan satu sama lain.
meski jihoon tidak punya rekaman suara soonyoung malam ini, ia tidak menyesal.
jihoon sudah menyimpan memori mereka baik-baik dalam sudut hatinya.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 1004: before the fireworks begin
usai soonyoung mengantarnya lebih dulu dan melambai tanda pamit, jihoon bergegas menyimpan sepedanya, memasuki rumah dan menaiki tangga untuk mencapai kamar dengan hati berdebar. ranselnya ia letakkan di lantai dekat kaki meja, dan lemari yang dibuka jihoon segera menyambutnya dengan berbagai pakaian yang digantung dan disusun rapi. tidak banyak, hanya seragam sekolah, baju olahraga, kaus-kaus sederhana, dan beberapa kemeja formal atau jaket yang hangat. seharusnya jihoon tak butuh waktu lama untuk menemukannya.
jihoon menggigit bibir, senyumnya yang nyaris mengembang mencapai mata tertahan di sana, seirama dengan letup hatinya bagai kembang api yang pernah dilihatnya dulu bersama soonyoung. ujung jempol kaki jihoon berjinjit agar telunjuknya bisa menelusuri tiap-tiap pakaian di tumpukan, dari bawah ke atas, kembali lagi ke bawah, lalu berjongkok hingga membunyikan gesekan kain-kain dan denting kecil gantungan pakaiannya yang digeser jihoon satu per satu. meski begitu, ia belum menemukan apa yang dicarinya.
bergumam bingung, jihoon kembali berdiri dan mencondongkan badan lebih dekat, perlahan mengangkat setengah bagian pakaian dalam susunannya satu per satu. benaknya tak henti-henti menggambar ulang kejadian festival kembang api sepuluh tahun lalu, memproyeksikannya menjadi sosok jihoon dan soonyoung yang kini sudah beranjak remaja menuju dewasa dalam kepalanya. meski terlihat tenang seperti biasa, pikirannya sibuk menerka-nerka berbagai skenario, apa soonyoung akan mengajaknya bermain tangkap ikan lagi nanti? apa mereka akan membeli permen kapas seperti sepuluh tahun lalu?
omong-omong, jihoon masih tak dapat menemukan apa yang dicarinya dalam lemari.
jihoon menuruni tangga, melongok ke arah ruang tengah untuk memanggil ibunya yang tengah bersantai sembari menonton televisi. “mama, boleh bantu aku cari baju? uhm. yang pernah kupakai waktu sesi foto kelulusan SMP.”
jihoon kini berdiri di belakang punggung ibunya yang berhadapan dengan lemari, menelusuri tumpukan baju-baju jihoon hanya menggunakan ujung telunjuk, lantas menarik keluar selembar diantaranya tanpa perlu usaha lebih untuk mencarinya. “yang ini?”
jihoon berkedip bingung saat sang ibu menemukannya. “eh….” warna merah naik sampai daun telinga jihoon ketika ia mengambil alih pakaian itu dari tangan ibunya. “iya, yang ini.” padahal jihoon yakin ia tak melihatnya tadi.
“bajunya untuk ke perayaan kembang api?”
jihoon menunduk, menyembunyikan senyum yang tanpa sadar sudah mengembang sempurna. “mm.” ia menjawab pelan, beringsut mundur untuk membukakan pintu. ia terdiam sejenak, matanya melirik sekilas pada pakaian yang kini sudah diletakkan di atas kasur selagi menunggu sang ibu meninggalkan kembali kamarnya.
seperti naluri seorang ibu yang memahami rahasia kecil anaknya, ia mengerling. “ooh? pergi dengan siapa?”
enggan berbagi lebih jauh, jihoon menggeleng-geleng tanpa kata, masih menggenggam sisi-sisi daun pintunya dengan erat. ketika ibunya keluar sambil tertawa, jihoon buru-buru menutup pintu dan bersandar di baliknya. dia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang sejak tadi semakin berdegup antusias di balik dada.
jihoon mengembalikan pandangan pada pakaian yang terlipat rapi di atas kasur, masih ada sisa-sisa wangi pelembut yang menguar halus di sekitarnya.
jihoon sudah menantikan perayaan ini sejak lama.
***
track 104: you, just as you were
jihoon lebih suka menyendiri dan tak pernah merasa memiliki hubungan akrab dengan seseorang selain keluarganya sebelumnya, tapi, gelang manik itu—gelang yang bahkan awalnya menurut jihoon tak ada artinya—kini membuatnya merasa ada sesuatu yang mengikatnya dengan soonyoung. jihoon seperti bisa merasakan keberadaan soonyoung melalui gelang di tangannya, dan dia juga merasa lebih dekat dengan soonyoung dibanding sebelumnya.
secara langsung, dan secara tidak langsung.
“jihoon, jihoon.”
seminggu yang lalu, wali kelas jihoon meminta seluruh anak-anak di kelasnya saling bertukar tempat duduk. soonyoung kini duduk tepat di depannya, sering sekali berputar menghadap ke belakang untuk memanggil jihoon, bahkan meski tanpa alasan.
“apa?”
guru matematika mereka sedang menjelaskan persamaan aljabar di papan tulis, tetapi soonyoung yang bertingkah bosan itu melirik jihoon melalui bahunya, saling bertukar tatap, sengaja beradu pandang dengannya lebih lama dari yang seharusnya. jihoon mengangkat alis, menunggu, tetapi interaksi kecil itu kemudian hanya diakhiri dengan soonyoung yang terkekeh kecil seraya berbalik kembali ke depan. jihoon tidak pernah ambil pusing soal ini. mungkin soonyoung hanya butuh sedikit distraksi. lagipula, mereka memang berteman, kan? sapaan kecil di tengah-tengah pelajaran seharusnya bukan masalah.
di hari lainnya, soonyoung pernah meminjam penghapus jihoon dan mengembalikannya dengan sobekan kertas kecil melilit pada bagian badan penghapusnya. kertas kecil itu berisi pesan ‘makasih jihoon’ yang ditulis dengan pena dan dibubuhi gambar titik dua dan lengkungan sederhana membentuk senyum.
jihoon mengangkat kepalanya, menemukan soonyoung yang menyeringai lebar sebelum kembali sibuk menulis sesuatu pada buku catatannya. jihoon memandang sobekan kertas kecil itu, satu tanya kecil menyentil hatinya; kalau soonyoung menulis dengan pena, lalu untuk apa penghapusnya dipinjam?
namun demikian, jihoon tidak pernah mengungkit soal itu dan tidak pernah merasa keberatan pula. alih-alih membuangnya ke tempat sampah, jihoon simpan sobekan kertas kecil itu di balik tutup perekamnya yang retak dan direkatkan selotip dari arah luar.
musim panas demi musim panas berlalu, tahun demi tahun terus berganti hingga jihoon resmi lulus dari sekolah dasar. jihoon pikir, begitu lulus, soonyoung akan kembali ke kota asalnya. jihoon, yang sebelumnya tak pernah merasa terikat dengan seseorang, kali itu bahkan sudah menyiapkan hati seandainya harus berpisah dengan soonyoung. namun demikian, seperti kebanyakan warga desa yang memilih untuk tetap melanjutkan pendidikan mereka di sekolah yang sama—di satu-satunya sekolah yang ada di desa mereka, soonyoung tetap tinggal, masih di rumah dan bengkel kecil paman choi yang terletak di ujung gang yang sama.
walaupun seragam yang mereka kenakan kini sudah berganti warna, jihoon tak merasa ada yang betul-betul berubah dari ia dan soonyoung. baik dirinya, diri soonyoung, dan pertemanan mereka. keduanya masih pulang sekolah bersama, masih beriringan naik sepeda ke pantai, masih memandang matahari terbenam sembari menikmati es krim, masih membantu soonyoung menepuk-nepuk kemejanya yang kotor sementara kawannya itu sibuk mengeluarkan pasir yang memenuhi sepatu—
dan masih merekam.
perekam jihoon kini dipenuhi berbagai bunyi yang belum pernah ia tangkap sebelumnya. soonyoung kini tak hanya mengajaknya ke pantai, tapi juga ke hutan di pinggir desa untuk berburu kumbang tanduk. langkah soonyoung yang menginjak ranting patah, bunyi halus sayap serangga itu saat soonyoung memerangkapnya ke dalam toples, desir gesekan dedaunan dan angin, lalu bunyi jangkrik yang monoton di sore hari menjelang malam. kadang, seungcheol juga ikut bersama jihoon dan soonyoung bermain ke hutan, kadang pula tak sengaja bertemu dengan jun atau beberapa teman sekolahnya pada kesempatan tertentu.
meski perekamnya kini juga dipenuhi oleh suara orang-orang lain, suara soonyoung tetap menjadi favorit jihoon. tawa halusnya saat soonyoung diam-diam menargetkan kumbang incarannya, bisikannya pada jihoon di balik pohon besar, seruan hebohnya saat berhasil menangkap satu. kumpulan audio dalam perekam tua itu seolah menjadi saksi jihoon yang tumbuh bersama soonyoung, dari pita suara kanak-kanak yang masih nyaring hingga perlahan memberat karena pubertas.
suatu malam, sambil berbaring di atas kasur, penyuara berkabel jihoon terhubung menyumpal dua telinganya, menemani ia yang tengah bernostalgia dengan rekamannya sendiri.
“jihoon! awas jatuh—HWA! jihoon, jihoon! sini! aku nemu kumbang yang besar banget! seungcheol, ssttt! awas nanti kamu nakutin kumbangnya—YAAAH. terbang, kan!”
jihoon terkekeh, membiarkan rekamannya terus berputar dari satu audio ke audio lainnya.
“oh, soda! jihoon! kamu tahu banget aku lagi haus, hehe.”
lalu, pada audio yang hanya membunyikan gemerisik halus, langkah kaki, disusul isakan kecil seseorang yang terdengar semakin dekat.
jihoon menahan napas, genggamannya pada alat perekam mengerat.
hening di kamar kecil jihoon mendadak menggantung lebih berat. rasanya, seperti ada seseorang yang tengah tersedu di sisinya saat ini.
rekaman itu, adalah hari ketika jihoon menemukan soonyoung menangis seorang diri di tribun sekolah. suaranya putus-putus pilu, seragam taekwondo yang ada di dadanya dipeluk erat. sosoknya duduk di sana dengan sebelah pergelangan kaki yang terbalut perban.
***
di ambang pintu gedung sekolah yang terhubung dengan lapangan, jihoon memandang dari kejauhan. wajah soonyoung dipenuhi kekecewaan dan air matanya tak berhenti mengalir saat sahabatnya itu mengusap dan menenggelamkan wajah pada seragam taekwondo di dekapannya.
soonyoung cedera dan dia terpaksa harus mundur dari seleksi turnamen. padahal jihoon tahu soonyoung selalu bersusah payah latihan demi itu, hingga telapak kakinya lecet, hingga sikunya terluka kecil karena jatuh—hingga tulang pergelangan kakinya bergeser karena kesalahan gerakan.
hari itu, jihoon tak sadar kalau perekamnya masih menyala. ia bergerak menghampiri soonyoung, mengikuti insting yang mendorongnya untuk menenangkan soonyoung.
jihoon berhenti di sebelah soonyoung, kawannya itu mengangkat kepala dan terlihat kaget saat melihat jihoon berdiri di sana.
untuk pertama kalinya dalam hidup jihoon, hatinya ikut terluka untuk orang lain.
jihoon duduk di sisi soonyoung, menarik pemuda itu ke dalam pelukannya. soonyoung terkesiap, tetapi jihoon merengkuhnya perlahan, mengusap kepala soonyoung yang ia dekatkan pada pundaknya. tanpa satupun kata, hanya angin sore hari yang bertiup di sekitar mereka, suara peluit dan bola yang memantul di kejauhan, juga soonyoung yang dadanya masih naik turun tak teratur. jihoon hanya mendekap, mengusap punggung soonyoung dari belakang, menyandarkan sedikit sisi kepalanya ke arah soonyoung. jihoon mendengar soonyoung yang tercekat. air matanya merebak pada bagian pundak seragam jihoon, wajahnya makin tenggelam di sana saat jihoon rasakan remasan tangan soonyoung yang turut bergelayut di sisi tubuhnya.
sore itu, jihoon hanya memeluk soonyoung dalam diam dan menunggunya merasa lebih baik.
***
di atas kasurnya, jihoon meringkuk dalam diam, jempolnya melayang di atas tombol hapus. haruskah dia simpan rekaman ini? dadanya dijejali sesak hanya karena mendengar soonyoung yang pernah terluka.
meski begitu, jihoon tak pernah berpikir bahwa tangis adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
bagaimanapun juga, perasaan itu tetap bagian dari diri soonyoung.
jihoon menekan tombol kembali.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
track 1005: sparks on the shoreline
seperti janji yang dibuat jihoon dengan soonyoung sepuluh tahun lalu, mereka kembali mengunjungi perayaan sepuluh tahunan desa hari itu.
jihoon pikir, suasana hatinya akan berada pada titik terbaik malam ini.
jihoon kira begitu—sampai dia melihat sekumpulan kawan soonyoung yang menyambut di gerbang masuk festival begitu sepeda soonyoung tiba di sana. jihoon turun dari sepeda, membiarkan soonyoung memarkirkannya pada area yang tersedia.
“soonyoung! lama banget!”
“haha! maaf, maaf.” soonyoung hanya menyeringai lebar saat salah satu pemuda dalam gerombolan itu melayangkan protes, yang jihoon kenal sebagai seungkwan, seorang adik kelas yang duduk satu tingkat di bawahnya. seungkwan menjitak soonyoung dengan maksud bergurau, yang lalu hanya ditanggapi soonyoung dengan gelak tawa santai. di sisi mereka, ada seokmin si anak tim bisbol yang seringkali disapa soonyoung sepulang sekolah, dan mingyu, pemuda jangkung dari desa sebelah yang juga bekerja sebagai kurir buah di akhir pekan, juga jun, teman sekelas jihoon dan soonyoung sejak sekolah dasar.
“oh. jihoon. kamu datang juga.” jun menyapanya saat gerombolan pemuda itu menyeret soonyoung masuk melewati gerbang festival dan berbaur di dalam kerumunan lebih dulu. jun masih bergeming, seperti tak ingin meninggalkan jihoon seorang diri.
“mm.” jihoon hanya menyahut singkat.
dia dan soonyoung berjanji datang ke festival ini lagi, sepuluh tahun lalu.
jihoon mulai melangkah. hanya pandangan jun yang mengikuti pergerakan jihoon sementara kakinya masih terdiam di tempat. jun baru menyusul beberapa saat setelah dilihatnya jihoon yang terus berjalan tanpa menoleh ke arahnya sama sekali. jihoon pun hanya membiarkan kakinya membawa ia sesukanya—sudah kehilangan minat.
mungkin seharusnya jihoon tidak bergantung pada sebuah janji di masa kecil.
***
sejujurnya, suasana hati jihoon sudah agak buruk sejak soonyoung datang menjemputnya tadi.
beberapa hari sebelum festival, pemuda itu benar-benar merasa bersemangat sampai-sampai dia merasa perlu membongkar lemarinya untuk mencari pakaian yang lebih layak daripada yang biasa dikenakannya—dan ia menemukannya, sejenis helaian kain katun tipis berpotongan sederhana yang hanya pernah beberapa kali jihoon kenakan untuk acara-acara tradisional tertentu. rambut hitamnya yang tipis dicepol rendah, perpaduan yang menurut penilaian jihoon sendiri menarik dengan gelang yang tak pernah dilepasnya sejak sepuluh tahun lalu sebagai tokoh utamanya. jihoon tersenyum puas di depan cermin, meninggalkan kamar usai mengantongi serta alat perekamnya.
jihoon tak pernah merasa seberdebar ini.
suara soonyoung memanggilnya dari luar rumah. dalam ekspektasinya, jihoon akan melihat soonyoung di atas sepedanya dengan pakaian sejenis—tapi.
jihoon berkedip, imajinasinya lenyap begitu saja saat ia dapati soonyoung datang hanya dengan mengenakan kaos berlengan pendek dan celana selutut seperti yang biasa dikenakannya sehari-hari selain seragam sekolah.
kenapa dia jadi berharap kalau soonyoung secara naluri akan mengimbangi usahanya?
“woah. jihoon… woah.”
meski soonyoung tampak kagum dengan penampilannya, entah kenapa, hati kecil jihoon merasa ciut. seolah hanya dia seorang yang paling menantikan hari ini tiba dan soonyoung memergokinya basah-basah seperti ini.
“bagus banget, ji! aah. seharusnya aku juga jangan pakai baju ini, ya.”
nadanya terdengar menyesal, jadi jihoon memaafkannya.
tapi soonyoung tampak tidak puas, kembali menimbang-nimbang keputusannya. “apa aku pulang buat ganti baju dulu, ya?” soonyoung memiringkan kepala, menggaruk belakang telinganya dan tersenyum masam. “nggak serasi soalnya.”
serasi.
jihoon diam, entah apa yang membuatnya ragu untuk merespon soonyoung.
ketika bersiap setengah jam lalu, sempat terbersit dalam benak jihoon untuk berbohong pada soonyoung kalau ban sepedanya bocor—sebagai alasan supaya soonyoung memberinya tumpangan. membayangkan dirinya mengenakan pakaian tradisional yang serasi dengan soonyoung di atas satu sepeda yang sama….
debar dalam dada jihoon kembali mengetuk tanpa diminta.
namun begitu, “aku… keluarin sepeda dulu.” adalah kalimat yang lolos dari bibirnya. jihoon berbalik, secara tak langsung menghindari memberi respon pada soonyoung.
ia takut dinilai terlalu bersemangat soal ini.
“jihoon.”
jihoon batal melangkah.
“naik sepedaku aja.”
***
bahkan ketika kaki-kakinya sudah berpijak pada pedal penumpang di bagian belakang sepeda soonyoung, juga mengenakan pakaian sejenis seperti yang jihoon harapkan, suasana hatinya belum berangsur membaik. ia… sedikit kesal. seperti masih ada gumpalan yang mengganjal dalam hatinya. entah pada soonyoung yang sempat hampir mematahkan antusiasmenya, entah pada dirinya sendiri yang terlalu mudah luluh pada soonyoung. atau keduanya.
soonyoung memutar arah menuju rumah paman choi di ujung gang, meminta jihoon yang turut dibawanya dengan sepeda menunggu sebentar di luar sementara ia tergopoh-gopoh menerobos masuk sambil berteriak, “seungcheol! kasih aku pinjaman baju, dong!”
usai mengganti pakaiannya, sepeda yang dikendarai soonyoung kini kembali melaju di jalan raya. jihoon berpegangan pada pundak soonyoung, helai surai halusnya tertiup angin malam yang hangat di musim panas, melebur bersama aroma rambut soonyoung yang segar seperti embun pagi hingga terbawa pada indera penciumannya. soonyoung bersenandung, sesekali bergurau dengan berbelok tajam seolah rodanya tergelincir. tingkahnya itu sedikit-banyak berhasil menerbitkan tawa kecil pada bibir jihoon. ia mengeratkan pegangan, menepuk pelan bahu soonyoung untuk menegurnya.
jihoon jadi menikmati ini.
sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, jihoon melempar pandangan ke arah tepi pantai yang terbentang di sisi kirinya. di bawah sana, ada banyak sekali orang yang menunggu pertunjukan kembang api dimulai. sekadar pemandangan sederhana pun sudah mampu menghangatkan hatinya.
karena itu, jihoon kira, dia akan menghabiskan malam perayaan dengan suasana hati yang berada pada titik terbaiknya.
***
jihoon pikir, ajakan soonyoung ke perayaan itu hanya untuk mereka berdua saja. seperti dulu.
mungkin, memang jihoon yang terlalu naif. terlalu percaya diri kalau soonyoung hanya ingin menghabiskan waktunya berdua dengan jihoon. tentu saja—tentu saja soonyoung yang banyak memiliki kenalan itu tidak mungkin tidak pergi bersama kawan-kawannya. tidak mungkin dia tidak diajak oleh orang lain ke festival. tidak mungkin dia tidak membuat janji pergi bersama mereka. jihoon bahkan baru tahu malam ini, bahwa rupanya soonyoung juga kenal akrab dengan mingyu—pemuda yang bahkan hanya jihoon tahu sebatas nama dan wajahnya saja karena pernah beberapa kali disebut oleh tetangga-tetangga di sekitarnya dulu.
dan… jihoon sampai pada kesimpulan bahwa, tidak mungkin soonyoung sadar terhadap perasaan jihoon.
jihoon menghela napas panjang, menghentikan langkah. jun, yang rupanya baru disadari jihoon masih mengekori tak jauh di belakangnya sejak tadi tanpa membuka suara, ikut berhenti. pandangan jihoon beralih ke arah stan permainan panahan berhadiah, mendapati soonyoung dan segerombolan kawan-kawannya tengah mengantri menunggu giliran. menyadari kehadirannya, seokmin lantas memanggil, “juuun!” seraya melambaikan tangan.
… tentu saja seokmin tak akan turut memanggilnya. ia dan seokmin hanya saling mengenal sebatas nama dan wajah saja.
tatap jihoon kini bergulir pada soonyoung yang sibuk mengamati etalase hadiah sembari membicarakan sesuatu dengan seungkwan. mingyu merangkulnya dan ikut menunjuk-nunjuk etalase.
soonyoung bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
apa boleh buat. jihoon juga bukan bagian dari kelompok mereka. dia datang ke sini karena janjinya dengan soonyoung.
dagu jihoon bergerak ke arah seokmin yang memanggil jun. “pergi aja, jun.” jihoon membiarkannya. “aku nggak apa-apa. nanti bilang aja ke soonyoung aku tunggu dia di stan permainan tangkap ikan.”
yang menjaga stan permainan tangkap ikan masih kakek tua yang sama seperti sepuluh tahun lalu, yang saat ini makin terlihat bungkuk dan renta. namun, kali ini beliau ditemani seorang gadis yang, jihoon tebak dari penampilannya, usianya hanya beberapa tahun lebih muda dari jihoon. tulisan di papannya masih sama seperti dulu, tetapi papannya jelas sudah diganti dengan yang baru. kolam portabelnya juga sedikit berbeda dengan apa yang ada dalam ingatan jihoon. selain mesin gelembung udara dan air mancur mini, sekarang kolamnya juga dilengkapi ornamen-ornamen batu berbentuk karang, kapal, dan menara. tingkat keberhasilannya mungkin akan lebih sempit. ikan-ikannya bisa bersembunyi di balik batu atau di antara celah-celahnya.
jihoon berjongkok di hadapan kolam, mengangkat telunjuk. “saya mau coba satu kali.”
tapi, satu kali jihoon berubah jadi dua kali, tiga kali—tiga belas kali, dan dia hampir menyerah karena tidak berhasil mendapatkan satu pun ikan. rupanya memang tak semudah yang dia kira. soonyoung-sepuluh-tahun-lalu sangat hebat karena berhasil menangkap ikan sebanyak dua kali.
belasan sekop kertas yang robek bertumpuk di dekat kakinya. sejenak jihoon hanya terdiam sembari memandangi ikan-ikan yang berenang lincah di dalam kolam, menikmati suara mesin gelembung dan air mancur yang seharusnya dapat menenangkan hati kalutnya.
jihoon mengeluarkan perekam dari saku.
klik.
dan ia tetap berdiam diri di sana selama beberapa waktu.
namun, suasana hati jihoon tak juga membaik meski sudah mencoba permainan ini sambil merekam suaranya, hal yang pernah ia sesali sepuluh tahun lalu karena lupa membawa alat perekam.
“satu kali lagi.”
ini yang terakhir kalinya. kalau sampai dia tidak mendapatkan apa pun—
oh.
satu ikan tiba-tiba berenang masuk secara sukarela ke dalam gelasnya.
jihoon mengerjap.
bahkan saat gelas di tangan jihoon bergeming untuk memberi kesempatan pada ikan kecil itu melarikan diri, ikan itu hanya membalikkan badan, menetap di sana. jihoon angkat gelasnya, memandangi ikan yang berhasil ditangkapnya tanpa usaha lebih. “tolong bungkus ini.”
***
ikan merah yang sepuluh tahun lalu diinginkan jihoon berenang, mengetuk-ngetuk dinding plastik bening dari dalam menggunakan ujung mulutnya seolah ingin berbicara dengan jihoon yang menggenggam plastiknya.
jihoon bertopang dagu di jembatan, berkedip dan menatap ikan kecil di hadapannya. “tempatnya sempit, ya? maaf. nanti sepulang dari sini aku pindahin kamu ke akuarium.”
jihoon masih menyimpan akuarium kaca yang sepuluh tahun lalu pernah ia gunakan, meskipun pada akhirnya ikan itu mati kira-kira sebulan setelah perayaan.
jihoon masih ingat, kala itu soonyoung bergegas datang ke rumahnya saat jihoon memberi kabar bahwa ikan kecil yang ditangkap soonyoung sudah mati. jihoon merasa sedih, tapi dia tidak bisa menangis. dia merasa malu jika menangis karena ikan. tapi, soonyoung terang-terangan bercucuran air mata dan mengelus akuarium kecil jihoon, berlutut di hadapan ikan yang sudah terbalik mengambang terbawa air. soonyoung kecil mengusap matanya yang sembab dengan lengannya. “huhu… ikan kecil yang malang… kenapa kamu mati….” jihoon pun akhirnya tak bisa menahan air matanya lebih lama, ikut terisak dalam diam sembari mengatup bibirnya kuat-kuat dan meremas celananya.
sejak itu, jihoon menyimpan akuariumnya di gudang dan tak pernah menengoknya lagi. meski begitu, jihoon yakin dia masih punya benda itu.
jihoon tertegun, memandang langit yang masih persis sama seperti yang tersimpan sepanjang ingatannya. sepuluh tahun itu… waktu yang sangat lama, ya? tentu saja ikan hias mungkin tidak bisa hidup selama itu.
dan barangkali, janji anak kecil juga tidak bisa bertahan selama itu.
kembali ia menghela napas panjang, dirundung gelisah meremas jari-jarinya sendiri.
kepala jihoon berputar ke arah pusat perayaan yang meriah dan hidup, tetapi rasa-rasanya jihoon seperti tersesat di tengah keramaian.
di antara ratusan suara yang membaur; pekik riang anak kecil yang saling bersahutan, tawa hangat yang mengisi udara, suara robot mainan yang dibawa bocah-bocah lelaki, gendang dan gitar yang mengalun dengan melodi penuh semangat, tepuk tangan ceria—entah mengapa semuanya malah semakin membuat jihoon tenggelam ditelan pikirannya sendiri. kembali jihoon lempar pandangannya ke arah langit malam bertabur bintang. padahal langitnya sedang cantik, tapi sayang sekali, suasana hatinya sedang tidak baik.
suara-suara di belakang jihoon mengecil perlahan, seolah festival itu hanya mimpi yang perlahan menyusut jauh dari jangkauan pandang dan pendengarannya.
“… hoon!”
—sampai seseorang memanggilnya.
“jihoon!”
suara soonyoung yang entah berapa ribu kali pernah direkam jihoon, serta langkah kaki yang berhenti tepat di belakangnya. suara-suara di latar belakang kembali menyapa pendengaran jihoon saat ia berbalik badan, seperti berhasil menariknya kembali ke masa kini.
“jihoon….” jihoon memutar badan, menemukan soonyoung yang terengah, menunduk sembari memegangi lututnya dan berusaha mengatur napas. “aku cari kamu ke mana-mana, aku pikir kamu pulang.”
jihoon mungkin hampir melakukannya. kalau soonyoung tidak menemuinya sampai acara puncak berakhir nanti, ia mungkin akan pulang berjalan kaki dengan hati gundah yang terus bertanya-tanya.
soonyoung yang kini kembali berdiri tegak merogoh sakunya, menyodorkan sehelai plester warna jingga dengan motif kepala harimau yang lucu pada jihoon.
jihoon melirik plester itu, lalu kembali ke arah soonyoung. dia gagal memahami. “apa…?”
soonyoung menyodorkannya sekali lagi. “buat perekam kamu.”
“maksudnya?”
soonyoung meraih tangan jihoon, menyimpan plester itu di atas telapak tangannya. manik-manik yang melingkari pergelangan tangan mereka sempat bersentuhan, mata jihoon melirik ke arah gelang yang masih sama-sama mereka kenakan bahkan setelah sepuluh tahun lamanya. “aku pernah rusakin perekam kamu sepuluh tahun lalu. plesternya bisa kamu pake buat rekatin balik penutupnya.”
jihoon mengangkat alis, berkedip heran. soonyoung ini kadang terlalu spontan bagi jihoon sampai dia merasa tidak bisa menebak jalan pikirannya. “setelah sepuluh tahun lebih?”
soonyoung menggaruk-garuk kepala. “… tadinya aku masih berusaha dapetin camcorder digital buat gantiin.” matanya beralih tatap, merujuk pada stan permainan panahan berhadiah yang berdiri di antara kumpulan stan-stan lainnya. “dulu aku nggak berhasil dapetin itu. tapi ternyata sekarang juga masih gagal. haha….”
jihoon menyimak tiap kata yang diucap soonyoung, mencernanya baik-baik—bukan hanya dengan pendengarannya, tetapi juga dengan hatinya.
ada sesuatu yang berdesir di balik dada jihoon.
jihoon ingat.
dulu, soonyoung bersikeras untuk bertahan bermain di stan panahan berhadiah bahkan setelah mereka berhasil mendapat ikan. dulu, jihoon tidak mengerti alasannya. uang saku mereka nyaris habis, tetapi soonyoung terus mencoba permainan panahan itu lagi dan lagi, sampai sang penjaga stan pun mengakui tekadnya kala itu.
rupanya karena sebuah camcorder digital. itu adalah hadiah utama yang harganya masih terlampau mahal bahkan untuk kapasitas jihoon dan soonyoung saat ini. tentu saja soonyoung tidak akan mendapatkannya semudah itu. dulu, soonyoung berkali-kali gagal dan mengeluh karena dia sudah kepalang telanjur menghabiskan banyak uang jajan di stan permainan menyendok ikan. soonyoung akhirnya menyerah dan berbelok ke stan aksesoris untuk membeli dua gelang kembar.
ternyata, sosok pemuda yang ada di hadapan jihoon ini masih soonyoung yang sama dengan soonyoung kecil yang pergi bersamanya sepuluh tahun lalu.
“maaf, ya… aku mau kasih kejutan tapi aku malah ninggalin kamu main sendirian.” soonyoung tersenyum menyesal, menunduk, saling menautkan jemarinya sendiri. sejauh ingatan jihoon, ia belum pernah melihat soonyoung segugup ini.
jihoon belum membuka suara, masih menunggu soonyoung yang ia rasa belum menyelesaikan kalimatnya.
“kukira kamu ada di sana, di belakang, sampai aku sadar ternyata cuma ada temen-temenku.” suara soonyoung mengecil di akhir kalimat, sorot matanya menyiratkan penyesalan. “maaf, ya, ji.”
hening yang canggung menyelimuti keduanya untuk sesaat. jihoon berkedip, beralih pada plester dan plastik ikan dalam genggamannya.
seperti sosis gurita yang pernah soonyoung pindahkan pada kotak bekal miliknya dulu, mungkin memang inilah cara kecil soonyoung untuk meminta maaf.
“tolong pegangin ini.” jihoon meminta soonyoung menjaga plastik ikannya sebelum ia keluarkan perekam dari dalam saku. jihoon lepaskan selotip perekat yang di tepiannya sudah mengelupas dan sedikit kotor, menggantinya dengan plester yang baru saja diberi soonyoung.
jempolnya mengelus plester yang kini sudah menempel sempurna pada permukaan tutup alat perekamnya, bagai sedang mengenang kembali sepenggal memori lama. “begini?”
plester kecil itu bukan hanya menyatukan penutup alat perekam jihoon yang terbelah dua, tetapi juga membantunya tetap merekatkan hati yang malam ini dipikir jihoon akan retak.
soonyoung tersenyum hingga sudut matanya ikut mengerut, mengangguk satu kali. “mm! jadi lucu, kan?”
keramaian yang mulai berseru heboh di latar belakang menarik perhatian jihoon dan soonyoung. lampu-lampu mulai meredup di kejauhan.
di bawah cahaya rembulan, jihoon memandang soonyoung lekat-lekat. meski tiada satu kata pun yang meluncur, jihoon punya sejuta hal tentang soonyoung yang ingin ia katakan melalui sinar matanya.
pertunjukan kembang api tahun ini akan dimulai—
jihoon maju selangkah, alat perekam dalam genggamannya, satu plastik berisi ikan dalam genggaman soonyoung.
—bersama dengan kisah cintanya yang juga belum usai.
sunyi sesaat di sela detik-detik peluncuran kembang api kembali menyelimuti. lalu… bagai adegan yang terjadi dalam gerakan lambat, jihoon berjinjit, memiringkan kepalanya.
di belakang bayangan dua pemuda yang saling bertaut bibir, satu kembang api yang amat cantik berpijar di angkasa.
soonyoung terpaku dan membeku, jantungnya yang berdegup ribut di balik dada seolah mampu mengalahkan ledakan kembang api di atas sana, melebur bersama ciuman jihoon layaknya sisipan bisik manis di antara deburan ombak. manik-manik gelang mereka kembali bersentuhan saat jemari lentik jihoon perlahan menggapai tangan soonyoung.
letusan kembang api lainnya menyusul kemudian.
soonyoung meraih sikunya dengan lembut, mendekapnya lebih erat dalam peluk bersama dengan buku-buku jari yang membelai halus tulang pipi jihoon.
tanpa satupun kata cinta—hanya jihoon, soonyoung, dan cara mereka dalam mengungkap berjuta kepingan rasa dalam hati yang disaksikan oleh kembang api dan gelombang ombak yang meriak teduh.
ciuman itu hangat dan tenang; kontras dengan gemuruh yang mengisi langit malam, menyelimuti hati masing-masing remaja yang saling berbagi kasih kecil mereka.
jihoon punya kebiasaan merekam bunyi dan suara yang didengarnya. cicit burung walet di pagi hari, gemerisik daun di pekarangan sekolah, debur ombak yang tenang, kerincing bel sepeda, bahkan sesederhana sepatu anak kecil yang berbunyi ketika melompat.
bibir jihoon dan soonyoung kembali berpisah seiring usainya pertunjukan kembang api dekade ini. keduanya saling bertukar pandang, terdiam sesaat, lalu menempelkan kening satu sama lain dengan senyum menghiasi wajah.
“jihoon.”
“iya?”
“sepuluh tahun dari sekarang, kita ke sini lagi, ya?”
jihoon bersandar pada jembatan, “mhm.” dan membiarkan telapak soonyoung menangkup sebelah pipinya, menjatuhkan kecup kecil yang lain pada bibir jihoon.
untuk malam ini, jihoon tidak butuh alat perekam. ia hanya perlu hatinya untuk menyimpan semua tentang soonyoung dan kisah cintanya.
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
epilogue.
alat perekam jihoon tertinggal di kolong mejanya.
bel pulang sekolah sudah berdentang sejak satu jam lalu, menyisakan soonyoung yang baru saja menyelesaikan latihan taekwondonya sore itu. pemuda itu berdiri di dalam ruang kelas yang sunyi, di sebelah bangku yang biasa ditempati jihoon.
jihoon pernah bilang padanya kalau dia suka merekam suara apapun. bebunyian acak di latar belakang, kucing yang mengeong, atau bunyi bola bisbol yang dipukul di lapangan sekolah.
satu hal yang selalu ingin diketahui soonyoung, ia ingin tahu apa suaranya ada dalam perekam jihoon.
jempol soonyoung berhenti bergulir saat ia temukan satu folder yang diberi nama sparks on the shoreline.
klik.
balok durasi berjalan di layar, helaan napas halus jihoon keluar dari pengeras suaranya.
“soonyoung… kamu tahu? aku suka semua suaramu.”
soonyoung menahan napas saat jihoon memanggilnya dari dalam perekam.
“ingin rasanya kurekam tiap katamu dalam perekam tua ini.”
gemerisik khas radio lama mengudara, disusul suara tawa yang begitu ia kenali, lalu suara bicaranya sendiri yang bergantian dengan jihoon.
“jihoon!”
“mm?”
“mau makan es krim hari ini?”
“boleh.”
“jihoon!”
“hm?”
“aku boleh mampir ke tempatmu nanti?”
“boleh.”
“jihoon! jihoon? jihoon…!”
rekaman itu berisi kompilasi acak setiap suara soonyoung; mulai dari gelak tawanya, senandungnya, gumamannya, percakapan ringan, hingga momen-momen tertentu seperti bunyi pijakan dan entak kaki soonyoung yang sedang berlatih gerakan taekwondo di lapangan sekolah, efek mesin yang sengaja soonyoung buat dengan suaranya sendiri saat bersepeda di jalan raya, juga nyanyian sumbang soonyoung yang berlatar debur ombak serta angin laut yang berisik. di antara banyaknya rekaman-rekaman singkat, audio ini adalah satu-satunya yang berdurasi lebih dari tiga menit. dari seluruh apa yang didengar soonyoung sore itu, tak ada satu pun suaranya yang tak ditemui soonyoung di sana.
pengaturan otomatis pada alat itu membawa soonyoung pada rekaman berikutnya.
“apapun yang kurekam di sini… nggak pernah ada satu pun yang kuhapus.” sunyi mengambil alih untuk mengisi jeda kalimatnya, soonyoung seperti bisa melihat jihoon yang berpikir perlahan selagi menyusun kata-kata. “termasuk hari itu… hari ketika aku nggak sengaja rekam suara tangis kamu. walaupun aku nggak mau lihat kamu sedih, aku tetap nggak bisa hapus yang itu.”
itu adalah kalimat terpanjang jihoon yang pernah soonyoung dengar selama ini.
“karena, soonyoung… dengan tawa dan air matamu, kamu itu sempurna dan utuh.”
bagai angin musim panas yang bertiup lembut, ada rasa yang diam-diam menelusup masuk ke dalam relung hati soonyoung.
perekam suara kembali bergerak memutar trek lainnya. hanya berdurasi lima belas detik, tanpa judul.
“soonyoung.”
rona pipinya samar tersembunyi di bawah cahaya keemasan matahari sore yang hangat saat namanya kembali dipanggil.
“… kamu tahu kalau aku nggak pandai bicara langsung. jadi, aku harap, suatu saat nanti… kamu bakal temuin dan dengar rekaman ini.”
perekam di telapak tangan soonyoung membisu sesaat—dan soonyoung tak pernah segugup ini mengantisipasi apa yang akan terputar pada detik selanjutnya.
“kalau kamu dengar ini…,”
rekaman itu masih berputar.
“ini adalah perasaan paling tulus yang pernah aku sampaikan untuk seseorang.”
gelangnya bergemerincing kecil saat pegangan soonyoung pada alat perekam milik jihoon mengerat.
“soonyoung.”
gemerisik itu kembali mengisi kekosongan durasi.
“… aku suka kamu.”
.𖥔 ݁ ˖🌊 𖦹 🫧₊ ⊹༘⋆
fin.
