Work Text:
Tangan Gemini bergerak meraba-raba area kasur di sebelahnya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat bahwa di sampingnya kini kosong. Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mengambil ponselnya untuk mengecek jam.
Monday, October 13 2028
06:07
Gemini meletakkan kembali ponselnya lalu perlahan membuka matanya lebar dan menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Setelah beberapa saat, baru ia bangun dari posisi tidurnya. Ia melirik tirai kamarnya yang sudah dibuka sehingga ada sinar matahari yang masuk ke kamarnya. Jika di sampingnya kosong, itu artinya Fourth sudah bangun. Ia tidak mendengar suara air dari kamar mandinya dan itu berarti Fourth tidak di kamar mandi. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
Gemini menggunakan lift di rumahnya untuk turun ke lantai bawah. Ketika ia sampai di lantai bawah, ia langsung melihat sang ibunda tengah duduk di ruang tengah sambil membaca majalah.
“Good morning …” ucap Gemini berjalan menuju sang ibunda.
“Good morning …” balas Mae Ning.
“HAPPY ANNIVERSARY!”
Belum sampai Gemini di area duduk, Fourth tiba-tiba muncul dari arah dapur di hadapannya memegang sepiring pancake dengan beberapa topping juga sebuah lilin. Gemini langsung terkekeh dan memberikan senyuman lebar kepada kekasihnya itu.
Gemini ikut memegang piring yang Fourth bawa. “Kita tiup bareng-bareng ya,” ungkap Gemini.
Fourth mengangguk lalu Gemini mulai menghitung ketika sampai di angka 1, keduanya langsung meniup lilin tersebut. Keduanya terkekeh sambil bertatap-tatapan lalu Gemini mengambil piring tersebut, meletakkannya di atas meja. Ia berjalan mendekati Fourth lalu merengkuh tubuh kekasihnya.
“Happy 5th Anniversary, Baby!” ungkap Gemini.
“Happy 5th Anniversary, Sayang!” ungkap Fourth memeluk Gemini erat.
Gemini menarik diri lalu ia mengecup bibir Fourth singkat. Mereka masih saling merengkuh tubuh satu sama lain sambil memandang wajah satu sama lain.
“Masih ada Mama lho di sini …” celetuk Mae Ning sambil memperhatika kedua sejoli tersebut.
Mereka langsung menoleh dan hanya tersenyum, tidak melepaskan pelukan di satu sama lain.
“Nanti malem, Mama gak pulang ke sini. Jadi, kalian punya rumah ini buat berdua,” ujar Mae Ning.
“Jadi, Mama habis makan omakase gak pulang ke sini?” tanya Gemini memastikan.
“Iya dan kamu nanti bakalan pulang sama Fourth juga,” balas Mae Ning.
Gemini menoleh kembali memandang kekasihnya dengan dahi berkerut. “Kamu ikut makan omakase nanti malem?”
“Iya. Aku bakalan ikut agenda kamu hari ini. Aku bilang ke kamu tahun lalu kalau buat anniversary tahun depan alias tahun ini itu bakalan aku yang prepare untuk perayaannya. It might not be big like you did last year, tapi at least kita bakalan bareng karena kebetulan kamu hari ini kamu emang banyak kegiatan. Daripada kita cuman spend time di malam hari, jadi aku ikutin kegiatan kamu aja hari ini. Gak masalah kan?”
Gemini langusng tertawa. “Gak apa-apa bangetlah. Aku malahan seneng karena kamu hari ini full sama aku. Aku kira kamu ada kerjaan hari ini.”
“Nope. Other than posting endorse, aku kosong.”
“Yeay!”
“Ini pancake-nya udah bisa dimakan?” tanya Mae Ning.
“Oh … udah, tapi itu buat Gemini. Mama aku ambilin yang baru aja,” jawab Fourth.
“Mama ambil sendiri aja. Kalian berdua bisa langsung makan yang ini,” ucap Mae Ning sambil berdiri dan pergi ke area dapur.
Gemini dan Fourth sama-sama duduk lalu Gemini mengeluarkan ponselnya. “Aku mau foto ini dan aku post ya.”
“Okeh, tapi akunya jangan keliatan ya,” balas Fourth.
Gemini mengangguk dan mulai mengambil gambar pancake tersebut lalu ia mengunggahnya sebagai story Instagram dengan caption “#5” di foto tersebut. Ia meletakkan ponselnya dan mengambil garpu.
“Aku makan ya,” ucap Gemini.
Fourth mengangguk. Gemini mulai memotong pancake tersebut, mengambil sirup dan topping di pancake tersebut, kemudian melahapnya. Ia melakukannya lagi dan menyuapi Fourth.
Satu tangan memegang kemudi, satunya lagi menggenggam erat tangan Fourth di atas tuas rem tangan. Bukan suatu hal yang patut ditiru dan Fourth juga tidak sepenuhnya menyukai afeksi ini karena ia sangat peduli terhadap keselamatan berkendara, tetapi karena hari ini adalah hari jadi hubungan asmara mereka, Fourth membiarkannya. Mereka beberapa kali melirik satu sama lain dan tersenyum.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju gedung GMM Grammy karena Gemini ada kerjaan di sana. Fourth tidak sabar menghabiskan hari ini bersama Gemini seharian dan mengikuti setiap agenda Gemini hari ini yang tergolong penuh.
Gemini hari ini akan bekerja di gedung GMM Grammy, diikuti oleh kelasnya di perkuliahan karena Gemini memutuskan untuk melanjutkan studi S2, kemudian Gemini ada agenda golf bersama teman-teman kuliahnya saat S1 dulu, lalu ada tennis bersama teman-teman SMA-nya karena mereka sedang berada di Thailand, dan terakhir ada agenda rutin makan omakase bersama sang ibunda.
“Kamu hari ini kan packed banget, beneran bakalan gak apa-apa?” tanya Fourth sambil memandang Gemini.
“Gak apa-apa. Semua yang aku kerjain hari ini masih batas aman kok, tapi emang pasti bakalan capek banget sih abis tennis … but I’ll be fine. Apalagi ada kamu sama aku hari ini,” jelas Gemini lalu membawa tangan Fourth yang ia genggam dan dicium.
“Okay. Aku khawatir aja, takutnya kamu kecapekan,” balas Fourth.
“I guess I’ll be fine. Apa yang kamu siapin emangnya buat anniv kita selain kamu nemenin aku ke mana-mana hari ini?” tanya Gemini.
“Hmm … seperti biasa tuker kado, movie night with light snack, a cake … there will be a surprise too …” jawab Fourth.
“Ooohh … surprise apa ya … aku jadi gak sabar …” tutur Gemini dengan senyuman lebar.
Fourth terkekeh. “Liat aja nanti malem, intinya kamu jangan mikir jorok.”
“What? I can’t help it …” balas Gemini.
“Surprise-nya bukan surprise jorok soalnya. Kamu udah siapin hadiah juga kan?” tanya Fourth.
“Udah dong.”
“Okeh. Kamu fokus aja dulu sama semua kegiatan kamu dari sekarang sampe nanti, baru mikirin kegiatan kita,” balas Fourth.
Gemini mengangguk antusias.
“Ohiya, nanti turunin aku agak jauh dari gedung GMM aja ya. Soalnya kalau aku ikut kamu ke basement, pasti udah ada fans di sana. Jadi, mending aku lewat lobi langsung aja sendiri,” ungkap Fourth.
“Sejauh apa? Nanti kamu harus jalan kaki,” balas Gemini.
“Ya gak jauh-jauh banget. Sekitar 1 km dari gedung GMM juga gak apa-apa, aku masih bisa jalan kaki. Malahan bagus karena itu kasih jeda waktu antara aku sama kamu sampe di sana. Lagipula kalau kamu kan emang ada kerjaan jadi harus tepat waktu, aku bisa nyusul,” papar Fourth.
“Okay. Terus pas pulangnya gimana?” tanya Gemini.
“Pake cara yang sama.”
“Kasihan dong kamu harus jalan lagi,” ujar Gemini sambil menghentikan mobilnya di lampu merah.
“Yaudah, kalau gitu gak usah jalan. Nanti aku pesen ojek aja ke mana gitu, tempat kita janjian, terus baru aku naik mobil kamu,” balas Fourth.
“Itu lebih baik sih. Kita seniat itu ya sembunyi-sembunyi pacaran kayak gini. Padahal udah pernah ada yang mergokin kita, tapi untungnya mereka bisa diajak kompromi dan mereka paham privasi …” tutur Gemini sambil memandang Fourth.
“Kita kan sembunyi-sembunyi begini supaya orang gak begitu nosy sama kehidupan kita. Ditambah lagi … aku gak pengen bikin mereka terlalu seneng sama berita kita pacaran. Biarin aja kayak sekarang, secukupnya,” ujar Fourth sambil tersenyum.
“Hmm … iya juga sih. Lucu juga ngeliat para fans kayaknya nungguin banget momen dari kita, yang beneran nungguin dan berharap kita kasih sesuatu …” balas Gemini sambil mengangguk setuju.
“Jadi, beritanya nanti aja … biarin mereka nebak-nebak.”
“Emangnya kamu pengen kapan kita announce ke publik?”
“Hmm … aku belum kepikiran, but maybe … setelah kita tunangan?”
“Kamu mau nikah sama aku?”
“Kamu gak mau?”
“Ya, mau lah.”
“Yaudah, aku juga mau. Sehabis momen itu aja.”
Gemini mengangguk sambil tertawa lalu mencium tangan Fourth lagi. Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau dan Gemini langsung melajukan kembali mobilnya.
Seperti tebakan keduanya, ada lumayan banyak fans yang berkumpul di area lobi dan ada juga yang tengah sibuk berbelanja merchandise di lantai 30. Jika Gemini langsung pergi ke area studio untuk jadwalnya, Fourth memilih untuk menyapa beberapa karyawan yang bekerja hari ini sebelum menuju ke studio tempat Gemini bekerja.
Hari ini adalah jadwal foto untuk promosi series terbaru Gemini. Ketika ia memasuki area studio, ia menyapa para staf yang hadir dan mereka juga terkejut dengan kehadiran Fourth di sana. Tidak hanya para staf, tetapi manajernya dan Gemini, Kak Cherry, juga terkejut dengan kehadirannya.
“Fourth? Kamu ngapain di sini?” tanya Cherry sambil mendekati Fourth.
“Aku mau nemenin Gemini kerja aja, Kak,” jawab Fourth.
Ketika yang lain mendengar jawaban tersebut, semuanya langsung menggodanya dan Fourth hanya bisa terkekeh. Meskipun ia sudah terbiasa dengan segala macam godaan yang dikeluarkan setiap orang yang mengetahui tentang hubungannya dengan Gemini, ia masih merasa malu.
“Kalau gitu, kamu kerja aja hari ini sekali …” tutur Cherry.
“Hari ini itu anniv aku sama Gemini, Kak. Makanya aku minta kosongin,” ungkap Fourth sambil merangkul manajernya itu.
“Oh? Terus kenapa Gemini gak minta kosongin juga?” tanya Cherry.
“Soalnya emang dia hari ini ada banyak kegiatan dan lagipula kalaupun dia gak ada kerjaan, dia masih ada kegiatan lain yang gak bisa di-cancel,” jelas Fourth.
“Ooohhh … jadi kamu bakalan nemenin dia pergi-pergi,” tutur Cherry.
Fourth mengangguk.
“Yaudah, kamu duduk aja di situ. Gemini lagi ganti baju dan yang lain juga pada belum dateng.”
Dengan begitu, Fourth duduk di kursi sofa yang disediakan dan ia mengobrol dengan para staf yang ada hingga akhirnya Gemini datang sudah dengan pakaian yang akan ia gunakan untuk pemotretan. Gemini memakai pakaian layaknya seorang pangeran dari negeri dongeng.
Fourth terkekeh dan ia langsung membuka aplikasi kameranya dan merekam video juga memotret Gemini dengan pakaian ala pangeran itu. Gemini langsung berpose saja dan membiarkan Fourth untuk memotretnya. Series Gemini kali ini mengambil tema kerajaan dan peran Gemini adalah seorang pangeran.
“Ooohhh … kamu bagus, Gem, pake baju begini. Udah siap syuting Bridgerton,” ungkap Fourth sambil melihat-lihat hasil jepretannya di ponselnya.
Gemini mendekati Fourth lalu ikut melihat hasilnya lalu tersenyum. Gemini dipanggil oleh fotografer untuk difoto. Acara photoshoot untuk series terbarunya dimulai dan para pemain di seriesnya itu mulai berdatangan dan menyapa Fourth juga ketika melihat Fourth di sana.
Fourth juga mengobrol dengan mereka semua. Selain itu, tidak lupa, ia mengambil foto saat Gemini tengah difoto oleh sang fotografer. Oleh karena Fourth datang ke sana sebagai tamu, ia tidak mungkin hanya membawa badannya sehingga ia sudah memesan makanan untuk staf yang bekerja hari ini dan para rekan artisnya.
Fourth hendak pergi mengambil makanan pesanannya di bawah, tetapi sang manajer melarangnya dan biarkan dirinya saja yang pergi. Sang manajer pun pergi dengan staf manajer lain untuk membawa pesanan Fourth dari lobi ke tempat foto tersebut.
Akhirnya pemotretan selesai dan mereka berdua pamit. Sesuai dengan skenario yang sudah dibuat, Fourth akan memesan ojek online ke salah satu halte yang searah dengan ke mana Gemini akan pergi dan Gemini akan menjemputnya di halte tersebut. Mereka berdua turun dengan lift yang berbeda. Gemini ditemani sang manajer ke area parkir basement sedangkan Fourth ditemani asisten manajer yang lain ke lobi.
Ketika ia sampai di lobi dan berjalan menuju ojek yang sudah menunggunya, ia menyapa dan tersenyum kepada para penggemar yang menyapanya. Ia langsung menaiki ojek tersebut dan pergi meninggalkan lobi gedung GMM.
Tidak lama setelah ojek yang Fourth naiki pergi, terlihat mobil sedan Gemini keluar dari area parkiran dan keluar dari gedung tersebut.
Akhirnya, Fourth sampai di halte yang dituju dan tidak lama setelah ia turun dari ojek tersebut, mobil sedan milik kekasihnya berhenti di dekat area halte tersebut dan Fourth langsung menuju ke mobil tersebut lalu masuk ke dalam.
Gemini langsung menyodorkan botol minum lalu Fourth tersenyum sambil meneguk air dari dalam botol tersebut dan Gemini lanjut mengemudi mobilnya.
“Pasti sepanjang naik motor kamu kegerahan karena hari ini panas banget,” ungkap Gemini.
“Emang gerah sih di luar … ohiya, kamu kelas berapa lama?” tanya Fourth.
“Sekitar 2 jam. Kenapa?”
“Kalo gitu aku jalan-jalan ke Samyan aja ya. Nanti mendekati jam kamu selesai kelas, baru aku ke gedung kamu kuliah. Nanti aku kabarin pastinya di mana,” jelas Fourth.
“Ooohh, berarti ini aku anterin kamu ke Samyan aja?” tanya Gemini.
“Yup.”
“Oke.”
“Gem, aku belum pernah ketemu temen-temen kuliah kamu yang sekarang. Mereka orangnya kayak gimana?” tanya Fourth teringat bahwa ia juga akan bertemu dengan teman-teman Gemini nanti.
“Kayak gimana orangnya? Ya … biasa aja sih … kayak temen-temen aku biasanya …” jawab Gemini bingung.
“Maksud aku tuh … mereka kan pasti udah pada kerja juga dan bukan dari industri hiburan, aku pengen tau apakah mereka orang-orang yang santai atau serius … atau apa gitu …”
“Kamu tenang aja sih. Ya, mereka serius di kerjaan dan akademi mereka, tapi pas udah keluar kelas ya biasa aja. Bisa diajak ngobrol soal apa aja dan ada Phuwin juga,” cerita Gemini.
“Hmm … okay …”
Fourth menghela napasnya tenang dan memandang jalan di depan sana sedangkan Gemini fokus menyetir.
Akhirnya, mobil yang dikendarai Gemini sampai di dekat pintu masuk Samyan. Fourth melepaskan sabuk pengamannya dan sebelum keluar, ia mengecup pipi Gemini lalu ia keluar mobil dan berjalan masuk ke dalam. Setelah Gemini tidak lagi dapat melihat sosok Fourth, ia langsung melajukan mobilnya.
Fourth sendiri memulai petulangannya di mal tersebut dengan mengunjungi Muji. Entah apakah ada yang akan ia beli, ia akan melihat-lihat saja dulu.
Akhirnya, ia membeli sesuatu dari Muji dan ketika ia keluar, hendak menuju ke salah satu toko dessert favoritnya, ada salah seorang penggemar yang menyapanya dan ada juga yang mengajak berfoto, Fourth tidak merasa terganggu sehingga ia menerima tawaran foto tersebut. Ia berfoto bersama penggemar tersebut.
Setelah itu, ia melanjutkan langkahnya menuju toko dessert favoritnya dan memesan sesuatu di sana. Selesai mendapatkan minuman favoritnya, ia berjalan-jalan mengitari mal dan masuk ke beberapa toko, entah hanya untuk melihat-lihat atau membeli sesuatu.
Sekitar 30 menit sebelum kelas Gemini berakhir, ia langsung menuju ke food court atau kantin terdekat dari tempat Gemini berada. Sesampainya di food court tersebut, ia melihat banyak mahasiswa di sana dan suasananya cukup ramai. Ia langsung menuju ke salah satu area kursi meja yang kosong dan mengirimkan pesan kepada Gemini mengenai tempat ia menunggu lalu ia memainkan ponselnya.
“Oi, Fourth!”
Fourth begitu fokus dengan ponselnya hingga sedikit terkejut ketika seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke sumber suara dan melihat Phuwin tengah mengangkat tangannya dan berjalan ke arahnya. Fourth bisa melihat ada beberapa orang lain yang bersama Phuwin dan Phuwin juga mengobrol bersama mereka sambil berjalan ke arahnya.
Ketika Phuwin sudah di dekatnya, Fourth tersenyum kepada orang-orang yang datang bersama Phuwin. Phuwin sendiri langsung memperkenalkan Fourth sebagai temannya dan kekasih dari Gemini. Teman-teman sekelas dari Phuwin dan Gemini tersebut pergi untuk membeli makan siang, meninggalkan Phuwin dan Fourth.
“Gemini mana?” tanya Fourth saat ia kembali duduk dan Phuwin mengikutinya.
“Lagi ke toilet. Dia nyuruh duluan aja ke sini karena takut lo nunggu kelamaan,” jelas Phuwin.
“Ooohhh …”
“Mentang-mentang lagi anniversary jadi diikutin ke mana-mana … yang ke berapa ya? 5 tahun kan ya … gak nyangka udah 5 tahun aja …” goda Phuwin.
Fourth hanya terkekeh.
“Gak ngaca nih yang sama-sama udah 5 tahun. Kak Pond gak jemput?” tanya Fourth.
“Enggak. Dia kan lagi ke luar negeri,” jawab Phuwin.
“Ooohh pantes … aktif banget di group chat …” balas Fourth.
“Tau aja. Nanti kalau mau propose Gemini kasih tahu ya. Gue yakin lo udah punya rencana untuk melakukan itu,” ungkap Phuwin tiba-tiba.
“Masih lama lagi. Santai aja, nanti aku kasih tau,” balas Fourth.
Para teman-teman Phuwin kembali ke Phuwin dan Fourth. Mereka semua duduk dan mulai mengajak bicara keduanya, terutama Fourth. Oleh karena perbedaan latar belakang pekerjaan di antara Fourth dan mereka, Fourth mendapati banyak pertanyaan mengenai pekerjaannya dan ia bingung karena apakah Phuwin dan Gemini tidak pernah bercerita. Namun, ia tetap menjawab beberapa pertanyaan dan Fourth mulai terlihat santai mengobrol dengan mereka semua sembari mereka makan siang.
Gemini datang dan langsung mencium kepala Fourth, membuat Fourth sedikit terkejut dan semua bereaksi menggoda mereka berdua, sebelum akhirnya duduk di samping Fourth. Gemini mengobrol sejenak dengan teman-temannya sebelum akhirnya mereka sibuk masing-masing.
Fourth mengambil tas belanja yang ia bawa sedari tadi. “Aku beliin kamu sushi soalnya kamu mau golf sama tennis habis ini. Kamu mau makan sekarang atau gimana?” tanya Fourth kepada Gemini.
“Aku makan sekarang aja deh. Masih ada waktu sebelum pergi juga,” jawab Gemini.
Fourth langsung mengeluarkan dua porsi sushi dan meletakkannya di hadapan Gemini, tidak lupa sumpit dan condiment lainnya. Gemini mulai membuka kotak tersebut dan melahap makanannya.
Gemini dan Fourth sampai di tempat tujuan mereka selanjutnya, yaitu sebuah golf clubhouse. Mereka melewati area resepsionis dan menuju lounge dengan Gemini membawa peralatan golf miliknya. Ketika mereka melewati area resepsionis, Gemini langsung bisa mendapat teman-temannya di area lounge tersebut dan ia memanggil mereka sambil menyapa dengan mengangkat kedua tangannya.
Ketika mereka sampai di tempat teman-teman Gemini berada, Gemini langsung menyapa semua yang hadir dengan mengajak tos dan Fourth melakukan yang sama. Bagi Fourth, mereka bukanlah orang-orang baru. Ia sudah beberapa kali bertemu dengan teman-teman dekat Gemini sehingga ia sudah cukup tahu siapa-siapa saja ini.
Setelah mengobrol sejenak, mereka langsung menuju ke area driving range. Ketika Gemini sibuk melakukan latihan pukulannya sambil mengobrol dengan teman-temannya, Fourth memilih untuk bersantai dan mengambil beberapa potret Gemini. Ketika Gemini menawarkan Fourth untuk mencoba, Fourth menolaknya karena ia benar-benar sedang tidak ingin mencoba. Ia hanya ingin menonton.
Waktu demi waktu terlewati dan Gemini sudah selesai dengan kegiatan golf-nya. Ia dan Fourth berpamitan kepada teman-teman Gemini hingga akhirnya kembali ke mobil untuk pergi ke agenda selanjutnya.
“Aku yang nyetir aja, gimana?” tawar Fourth sembari mereka berjalan kembali ke mobil.
“Aku aja. Kamu yang nyetir habis aku tenis aja,” jawab Gemini sambil membuka bagasi mobilnya dan meletakkan golf club miliknya.
“Okay.”
Keduanya masuk ke dalam mobil. Gemini menyalakan mesin mobilnya dan memakai sabuk pengaman hingga mulai mengemudi mobil sedan miliknya itu.
Fourth melirik ke arah Gemini. “Kamu emang cukup ya cuman bersosialisasi bentar sama temen-temen kamu? Kayaknya kurang lama dan sebenernya bisa aja sampe malem …”
“Well, not enough dan kamu juga denger tadi mereka emang ngajak aku kegiatan lain setelah tadi, tapi gimana? Aku udah punya agenda lain dan lagipula aku gak sabar sama apa yang kamu siapin buat anniversary kita,” jelas Gemini.
“You will love it, tapi pokoknya kamu gak boleh ngebayangin yang aneh-aneh,” tutur Fourth.
“Emangnya aku tuh semesum itu ya? Sampe harus ada warning kayak gitu …” ujar Gemini.
“Iyah. Emang kamu semesum itu. Fans mungkin gak tau, tapi aku tau … tapi … kayaknya ada fans yang tau sih kamu semesum itu soalnya keliatan aku suka menghindari kamu karena aku takut. Dulu awal-awal kan aku takut …” balas Fourth.
“Takut kenapa sih … aku kan gak ngapa-ngapain …”
“Iyasih, tapi setelahnya ngajak mulu …”
“Aku kan ngajak karena kamu bolehin. Sekarang udah gak takut lagi kan?”
“Enggak …”
“Sekarang kamu suka ngajak juga soalnya …”
Fourth terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Masih lebih sering kamu kok daripada aku.”
“Iyaaaa, bener kok. Aku akui itu. Masih lebih sering aku yang pengen.”
Fourth tersenyum lebar.
Mereka berbincang-bincnag sepanjang perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di tempat tenis. Keduanya turun dan Gemini langsung membawa perlengkapan tenisnya. Mereka langsung menuju ke lapangan tenis, tempat Gemini janjian dengan sahabat-sahabatnya.
Ketika mereka sudah bertemu dengan sahabat-sahabat Gemini, Gemini dan Fourth bertegur sapa dengan setiap sahabat Gemini yang hadir saat itu. Semuanya sudah familiar dengan Fourth sehingga kedatangan Fourth bersama Gemini bukan sebuah kejutan. Gemini pergi mengganti pakaiannya sedangkan Fourth duduk di area bench dan mengobrol dengan teman-teman terdekat Gemini dari SMA.
Gemini kembali dan ia langsung bermain tenis bersama teman-temannya sedangkan Fourth hanya menonton. Fourth beberapa kali merekam Gemini yang begitu asyik dan bersenang-senang bermain tenis. Ia senang melihat Gemini bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekatnya, mengingat Gemini disibukkan oleh pekerjaan dan sering tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Gemini dan sahabat-sahabatnya beristirahat sejenak. Gemini langsung mengambil handuk untuk mengelap keringatnya dan Fourth memberikan sebotol air untuk Gemini teguk.
“Aku ambil beberapa video kamu main tadi. Kamu mau liat gak? Terus ada yang mau kamu post di instagram kamu gak?” tanya Fourth.
Gemini mengangguk sambil mendekati Fourth dan Fourth mulai menunjukkan hasil rekamannya dan Gemini memilih salah satu video dan mengunggahnya di instagram miliknya. Ketika waktu istirahat berakhir, Gemini langsung bermain tenis kembali dengan sahabat-sahabatnya.
Selesai bermain, Gemini pergi untuk mandi dan mengganti pakaiannya karena ia berkeringat cukup banyak. Fourth menghabiskan waktu menunggunya mengobrol dengan sahabat-sahabat Gemini dan ia juga dihujani beberapa pertanyaan mengenai hubungan mereka. Meskipun sudah 5 tahun bersama, Fourth masih merasa malu ketika banyak yang menanyakan mengenai hubungannya dengan Gemini. Mau itu dari orang-orang di sekitar mereka ataupun dari media massa.
Menurutnya, hubungannya dengan Gemini begitu spesial sehingga terkadang ia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan hubungan mereka dan tentang satu sama lain. Seakan-akan ada banyak hal yang begitu bermakna bagi satu sama lain, tetapi itu bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dibagikan atau diberitahu kepada orang lain sehingga ia tidak tahu harus berkata apa. Namun, ia tetap berusaha menjawab dan apabila ia tidak bisa menjawabnya, ia akan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Gemini kembali sudah dalam keadaan segar dan pakaian baru. Setelah merapihkan bekas perlengkapan bermain tenisnya, ia dan Fourth berpamitan kepada sahabat-sahabatnya dan berharap mereka bisa bermain bersama lagi.
Gemini meletakkan barang-barangnya di bagasi dan Fourth masuk ke jok kemudi. Fourth yang akan menyetir untuk memberikan waktu istirahat sejenak bagi Gemini karena Fourth yakin Gemini begitu lelah dengan berbagai macam kegiatan fisik.
Keduanya sama-sama memakai sabuk pengaman setelah Fourth menyalakan mesin mobilnya. Tidak lama setelahnya, Fourth langsung menjalankan mobilnya ke area jalanan untuk menuju ke lokasi yang dituju selanjutnya.
Sepanjang perjalanan ia melirik Gemini. Mata Gemini tidak tertutup sepenuhnya, tetapi ia tahu Gemini tengah tertidur. Ia mengecilkan suara radio yang menyelimuti perjalanan mereka untuk membiarkan Gemini beristirahat dengan tenang. Ia juga mengatur kecepatan menyetirnya agar tidak menganggu Gemini dan tetap menyesuaikan dengan jam berapa mereka harus sampai.
Fourth menikmati warna jingga yang ditampakkan oleh langit di waktu sore hari. Ia dapat melihat jalanan dipenuhi oleh mobil, motor, dan angkutan umum lainnya saling berebut tempat di jalanan. Kepadatan jalanan sedikit membuat Fourth kesal, tetapi ia berhasil menenangkan dirinya. Fourth ada pengemudi yang begitu menjunjung safety driving, berbanding terbalik dengan Gemini yang sedikit ‘berani’ sehingga terkadang Gemini menganggap Fourth begitu lambat ketika menyetir. Oleh karena itu, ia bersyukur Gemini tertidur sekarang karena Gemini tidak akan mengomentari gaya menyetirnya.
Akhirnya, mereka sampai di parkiran basement sebuah hotel. Lokasi restoran omakase yang akan mereka tuju terletak di sebuah hotel di kawasan Bangkok. Fourth sudah selesai memarkirkan mobil dan ia langsung membangunkan Gemini dengan pelan-pelan.
“Hmmm …”
Tubuh Gemini menggeliat dan matanya perlahan terbuka. Dengan situasi setengah sadar, ia memperhatikan pemandangan di luar kaca mobilnya.
“Kita udah sampe, Gem,” ucap Fourth sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Gemini ikut melepas sabuk pengamannya lalu segera turun dari mobil dan meregangkan tubuhnya. Fourth terkekeh dan ikut keluar sekalian membawa tas milik Gemini dan tas miliknya.
Mereka berjalan bersama dan Fourth menyerahkan tas Gemini kepada Gemini. Mereka menuju ke area lobi dan resepsionis untuk menanyakan perihal restoran yang mereka tuju dan setelah mendapatkan petunjuk, mereka langsung menaiki lift dan ke lantai tempat restoran tersebut berada. Mereka berdiri pada sudut lift yang berbeda.
“Aku penasaran rasanya making out di lift,” ungkap Gemini tiba-tiba sambil menatap ke arah pintu lift.
“Kamu ngaco banget deh … jangan harap. Kita berdua mati kalau ngelakuin itu. Di lift itu ada CCTV ya,” balas Fourth.
Gemini melirik Fourth. “Kira-kira lift di mana yang gak ada CCTV-nya?”
“Aku gak tau. Sekarang kan semuanya pasti ada,” jawab Fourth.
“Gimana kalau kita lakuin terus nanti aku bayar pihak security atau manajemen gedung supaya bagian itu dihapus?” usul Gemini.
Fourth menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya. “Simpen ide gila kamu itu ya, Sayang.”
“Kita udah pernah juga di mobil dan kepergok … tapi it’s fine,” ujar Gemini.
“I know … but let’s not make the same mistake twice. It’s awkward,” balas Fourth.
Gemini terkekeh. “Alright. Emang yang paling malesin adalah the awkward part. Wait? We could do it di rumah … di rumah kan ada lift.”
“Let’s not do it at all kalau gitu. Kenapa harus makeout di lift yang dinidngnya keras gitu ketika ada sofa besar …” balas Fourth.
“Iyasih dan lagipula gak seru juga karena trip lift-nya bentar and it’s not thrilling,” ucap Gemini sambil mengangguk paham.
Akhirnya lift mereka berhenti di lantai yang dituju dan pintu terbuka. Mereka melangkah keluar dari lift dan melihat petunjuk yang memberitahu letak restoran di mana. Mereka mengikuti petunjuk tersebut dan langsung bertemu dengan pegawai restoran.
Gemini langsung memberitahu bahwa mereka sudah melakukan reservasi dan langsung diantar oleh pegawai restoran tersebut. Suasana restoran tersebut ramai, tetapi setiap pengunjung begitu fokus dengan makanan masing-masing atau fokus berinteraksi dengan satu sama lain. Mereka dibawa ke area yang lebih private.
Ketika sampai di meja tujuan mereka, keduanya langsung menemui Mae Ning dan tante-tante Gemini lainnya. Mereka menyapa Gemini dan Fourth dengan hangat lalu menyuruh mereka untuk duduk. Mereka mengobrol dan menyinggung perihal anniversary hubungan Gemini dan Fourth hari ini.
Makanan dihidangkan dan mereka langsung melahapnya. Di sela-sela kegiatan makan, Mae Ning merekam keadaan mereka semua dan juga merekam video dirinya dan anak satu-satunya itu. Mae Ning mengunggah video-video tersebut dan memastikan Fourth tidak terlihat di video manapun. Ia sudah paham betul mengenai hubungan anak dan kekasihnya itu.
Gemini mengunggah foto-foto makanan sedangkan Fourth mengunggah foto sebuah lukisan yang ia temukan di restoran tersebut. Ia berusaha tidak sejelas mungkin menunjukkan keberadaannya sekarang. Ia dan Gemini senang melihat para penggemar mereka menerka-nerka keberadaan mereka sekarang.
Meskipun tidak akan diunggah, Gemini juga merekam video bersama Fourth menikmati makanan yang dihidangkan di hadapan mereka. Kehangatan menyelimuti waktu mereka bersama dengan keluarga Gemini saat ini.
Ketika mereka sudah kenyang dan semua hidangan sudah dihabiskan, mereka bersama-sama pergi ke area parkiran basement. Gemini dan Fourth berpamitan kepada Mae Ning dan yang lain di dekat pintu yang akan membawa mereka ke lobi melalui tangga, sebelum berjalan ke mobil Gemini.
Fourth hendak kembali menyetir, tetapi Gemini langsung mengambil kunci mobilnya dari genggaman Fourth.
“Aku aja yang nyetir. Kamu kan masih harus nyiapin perayaan anniversary kita nanti di rumah,” ujar Gemini sambil membuka pintu jok di samping kemudi untuk Fourth.
Fourth tersenyum lalu ia masuk dan memakai sabuk pengamannya. Gemini menutup pintu dan langsung menuju ke bagian pengemudi. Ia langsung menyalakan mobil dan memakai sabuk pengaman lalu mulai mengemui mobilnya keluar dari area parkir.
Ketika mereka sampai di rumah, Gemini langsung pergi mandi dan mengganti pakaiannya sedangkan Fourth langsung mengurus persiapa untuk perayaan anniversary mereka. Ia menyiapkan beberapa cemilan dan ia harus mulai memasaknya. Dengan hadirnya Fourth di rumah Gemini, Gemini memberikan kekuasaan kepada Fourth untuk mengisi area dapurnya karena Fourth banyak menghabiskan waktu di dapur. Ia menyiapkan cemilan potato wedges, chicken popcorn, nugget dinosaurus, popcorn, spring roll, dan buah-buahan. Tidak lupa ia juga menyiapkan sebuah kue yang ia buat sendiri kemarin dan ia simpan di kulkas.
Berkat semua peralatan masak yang ia beli dan simpan di dapur rumah Gemini juga meal prep yang sudah ia rencanakan, ia berhasil menyiapkan setiap menu dan menatanya. Ketika ia sudah selesai memasak dan memasukkan bekas memasaknya ke dalam dishwasher, ia langsung menuju kamar Gemini.
Saat ia masuk ke kamar, Gemini baru saja keluar kamar mandi dengan bathrobe yang membalut tubuhnya dan rambut basah. Ia mengecek jam di jam tangannya. Ia menghabiskan kurang lebih 35 menit untuk menyiapkan semuanya dan Gemini menghabiskan waktu sebanyak itu di kamar mandi.
“Kebiasaan kamu lama di kamar mandi gak ilang-ilang ya,” komentar Fourth sambil mengambil pakaiannya dari lemari Gemini.
“Soalnya enak, Sayang. Pegel-pegelnya berkurang pas airnya kena badanku. Jadi, aku lama-lamain aja,” balas Gemini mengikuti Fourth dan mengambil pakaiannya.
“Aku udah selesai nyiapin makanannya, tapi kamu gak boleh makan duluan ya. Tunggu aku selesai mandi,” ujar Fourth.
“Okeh, tapi kalo aku nyicip … kayak ambil 1 buah gitu, gak apa-apa kan?”
“Kalo 1 doang, gak apa-apa. Asal jangan keasyikan terus lupa terus pas aku turun tiba-tiba udah habis,” balas Fourth.
Gemini terkekeh. “Okeh-okeh.”
Fourth langsung pergi ke kamar mandi dan Gemini bergegas memakai pakaian gantinya. Ia menyemprotkan parfum dan selesai bersiap-siap, ia mengambil ponsel dan iPad-nya lalu turun ke bawah.
Saat Gemini berada di bawah, ia langsung menuju ke dapur dan melihat sepiring besar berisikan cemilan yang ditata rapih. Gemini tersenyum dan melihat saja sudah membuatnya begitu antusias sehingga ia mengambil satu nugget dan spring roll. Ia langsung membuat suara yang tidak terdefinisi hanya saja itu pasti karena makanannya enak.
Lalu, ia membuka kulkas dan mengambil sebotol jus lalu menutupnya kembali. Gemini tidak menyadari kehadiran kue di dalamnya. Ia berjalan dengan sebotol jusnya ke ruang TV lalu duduk dan membuka botol jus tersebut lalu meneguknya. Sambil menunggu Fourth datang, ia menyibukkan diri dengan memainkan iPad-nya, mengurus bisnisnya.
“Kamu fokus banget sih, Sayang …”
Gemini sedikit terhentak ketika merasakan lengan yang melingkar di lehernya dari belakang dan suara yang begitu dekat dengan telinganya. Ia menoleh kecil dan tersenyum menyadari bahwa itu adalah Fourth.
“Kamu ngagetin aku aja,” balas Gemini.
“Kamu fokus banget sampe gak nyadar aku turun ya. By the way, kamu kan mau rilis koleksi baru, apakah aku bisa jadi modelnya?” tanya Fourth tiba-tiba sambil melepas lingkaran lengannya di leher Gemini lalu duduk di lengan kursi, membuatnya sedikit lebih tinggi daripada Gemini.
“Aku sih oke-okeh aja dan aku bisa obrolin soal itu sama timku, tapi kamu gak apa-apa kah? Kalau kamu jadi modelnya, pasti pada menggila,” jelas Gemini.
“Nanti aku jadi model koleksi baru Divine kamu dan kamu juga bisa jadi model di koleksi baru Numone,” balas Fourth.
“Is it a good thing though kalau aku jadi model di koleksi baru Numone? Gimana kalau aku malah bikin sale produknya turun?”
Fourth mengernyitkan dahinya. “Sayang … kamu kok mikir kayak gitu sih …” Fourth mendekatkan tubuhnya untuk memeluk Gemini. Ia mengusap kepala Gemini.
“Tenang aja. It will be fine. Pokoknya kamu harus jadi model di koleksi baru Numone. Gak usah yang terdekat, tapi intinya aku bakalan booked kamu,” ujar Fourth.
“Okay. Kalau gitu, aku juga bakal usahain supaya kamu bisa jadi model koleksi baru Divine ya, tapi kalau gak yang terdekat gak apa-apa kan?” tanya Gemini memastikan.
“Ya gak apa-apa dong. Yang penting kamu udah ada niat untuk booked aku,” balas Fourth.
“Alright. Jadi, apa yang kamu persiapkan untuk anniversary kita?” tanya Gemini kembali ke perihal anniversary mereka.
“Ohiya.”
Fourth langsung menarik diri lalu berdiri. Ia meletakkan iPad yang berada di pangkuan Gemini ke atas meja lalu memegang kedua tangan Gemini, membawa Gemini ke meja makan. Di meja makan sudah ada sebuah kue dan cemilan yang Fourth siapkan tadi. Gemini mengernyitkan dahinya ketika melihat kue tersebut dan dekorasi di atas kuenya. Kue tersebut berdiamater sekitar 15x15 cm mengingat hanya untuk mereka berdua, tetapi tulisan di atas kue tersebut tetap terlihat jelas. Ada juga buah stroberi berukuran mini yang menghiasi area pinggiran kue.
Cheers To Our 5th Year In Love!
“Kamu bikin kuenya sendiri?” tanya Gemini ketika Fourth membuat terduduk di dekat kue. Fourth sendiri duduk di kursi sebelah Gemini.
“Iya dong. Suka gak?” tanya Fourth.
Gemini terkekeh renyah. “Suka bangetlah.”
Di atas meja makan, dekat piring kue, ada sebuah lighter dan Fourth menyalakan lilin yang tertancap di atas kue.
“Ayo kita make a wish dulu baru tiup bareng-bareng lilin-nya,” usul Fourth.
Keduanya berpegangan tangan, menyatukan jari jemari mereka bersama lalu memejamkan mata dan mengucapkan doa dan harapan mereka dalam diam. Selesai mengucapkan doa dan harapan masing-masing, mereka membuka pejaman mata mereka lalu tersenyum kepada satu sama lain diikuti oleh anggukkan dari Fourth.
Mereka langsung meniup lilin bersama-sama. Gemini langsung melirik Fourth dan Fourth menyodorkan pipinya. Gemini mengecup pipi Fourth setelahnya kebalikannya, giliran ia yang menyodorkan pipinya dan Fourth langsung mengecup pipinya. Mereka tertawa bersama sambil menatap satu sama lain.
Entah apa yang lucu, hanya saja mereka merasa begitu bahagia saat ini. Fourth langsung mencolek frosting kue dengan jari telunjuk lalu meletakkan frosting tersebut di hidung Gemini. Kedua mata Gemini melebar karena apa yang baru saja Fourth lakukan lalu ia ikut mencolek frosting kue dan hendak meletakkannya di Fourth, tetapi Fourth begitu lincah untuk menghindarinya sehingga dengan tangan satunya, Gemini merengkuh tubuh Fourth dan menggunakan tenaganya untuk menahan Fourth sehingga ia bisa meletakkan frosting tersebut di area atas bibir Fourth sambil tertawa lepas.
Mereka melakukan aktivitas tersebut beberapa kali sehingga wajah mereka sudah dipenuhi oleh frosting kue dan hanya gelak tawa lepas menyelimuti keduanya. Setelah beberapa saat, mereka berhenti dan memandang satu sama lain dan lalu ke kue yang sudah tidak berbentuk.
“Kuenya masih bisa dimakan gak?” tanya Gemini.
“Bisalah. Harus malahan,” jawab Fourth sambil mengambil tisu lalu mengelap tangannya, kemudian ia juga mnegelap tangan Gemini.
Selanjutnya, ia mengambil sebuah piring dan pisau yang sudah ia siapkan lalu memotong kue buatannya itu dan menyerahkannya kepada Gemini dan juga garpunya. Gemini mengambil sepiring kue dan garpunya.
“Makasih ya, Sayang,” ucap Gemini.
“Dengan senang hati,” balas Fourth sambil memperhatikan Gemini karena ia ingin Gemini segera mencoba kue buatannya.
Gemini memotong kue tersebut lalu melahapnya. “Hmmm … kuenya enak … lembut … aku juga suka rasa asem-asemnya jadi gak begitu manis. Padahal kamu suka yang manis banget biasanya …” ucap Gemini melaporkan apa yang ia rasakan di mulutnya.
“Bagus deh. Kamu suka kan yang asem-asem,” balas Fourth sambil menopang dagunya dengan satu tangannya di atas meja dan memandangi Gemini.
Gemini terkekeh sambil memotong lagi potongan kue di piringnya. “Ini pengecualian karena aslinya aku cuman suka rasa asem dari permen lemon yang suka kamu makan.” Lalu ia melahap lagi kuenya.
Kedua mata Fourth berputar lalu ia menggelengkan kepalanya. “Kamu tahu kan itu jorok? Masalahnya kamu gak suka kalau makan permennya sendiri.”
Gemini menelan kuenya. “Iya, tapi siapa yang peduli kalau aku makan permennya dari mulut kamu? Kita udah melewati bagian itu, jadi gak masalah.”
Untuk potongan ketiga pada kue di piringnya itu, ia menyuapi Fourth.
“Kamu tau kan aku juga siapin cemilan buat malem ini? Nah aslinya aku mau bikin tau gak sih … nugget dinosaurus sama mashed potato, tapi mashed potato-nya dibikin kayak gunung terus gravy sauce-nya meluncur kayak … i don’t know mungkin lava atau sejenisnya gitu deh, tapi kata Front itu bakalan banyak banget mashed potato, gak mungkin kita habisin berdua doang — ”
“Aku bisa ngabisin itu padahal.”
“Aku juga bilang gitu, tapi katanya tetep aja, itu harus di-save buat kalau emang acaranya besar. yaudah jadinya aku bikin fried snack aja semuanya … gimana kalau next time aku siapin dimsum?”
“Ide bagus. Aku suka dimsum,” ucap Gemini sambil hendak menyuapi Fourth.
“Wait … tapi kamu lebih suka sushi sama sashimi … gimana kalau itu aja?” tanya Fourth sambil berpikir dan menghindari suapan gemini.
“Hmm enggak deh. Dimsum aja. Kamu kan suka challenge … kamu belum pernah kan bikin dimsum?” tanya Gemini.
“Good idea.”
Gemini berhasil menyuapi Fourth kali ini. Mereka melahap kuenya hingga sisa setengah. Setelah bagian ini. mereka membawa cemilan dan hadiah mereka ke ruang home cinema. Kebetulan di home cinema tersebut sudah lengkap bantal dan selimut. Area duduknya sudah disiapkan sedemikian rupa agar nyaman untuk menonton sambil bersantai. Mereka menyiapkan beberapa hadiah sehingga mereka membuka hadiah-hadiah dari satu sama lain terlebih dahulu. Selain hadiah, mereka juga selalu bertukar surat antara satu sama lainnya.
Kurang lebih sekarang ada 4 hadiah dari Fourth dan 5 hadiah dari Gemini. Masing-masing hadiah terbungkus rapih dengan pilihan wrapping paper yang selalu ditentukan tiap tahun agar hadiah mereka untuk satu sama lain tidak tertukar.
“Aku siapin 5 hadiah, tapi yang bakalan dibuka sekarang 4 ya karena yang kelima itu i need a little bit of preparation,” ucap Fourth menjelaskan situasinya.
“Alright. Kalau gitu kita saling kasih aja ya hadiah yang pertama,” balas Gemini.
Fourth mengangguk dan mereka mengambil salah satu hadiah. Hadiah yang mereka bawa masing-masing berbentuk persegi panjang vertikal dengan ukuran yang serupa. Mereka saling menyerahkan hadiah yang disiapkan lalu mulai membukanya bersama-sama.
Ketika kertasnya dibuka, isinya sama-sama sebuah kardus coklat. Mereka membukanya secara hati-hati karena entah apa isinya mengingat mereka sudah pernah tidak sengaja merusak isi hadiahnya karena terlalu terburu-buru membuka hadiah dari satu sama lain.
Akhirnya, mereka saling mengetahui hadiah satu sama lain. Mulut Fourth terbuka lebar, memandang takjub hadiah Gemini untuknya sedangkan Gemini juga tidak kalah terkejut dan takjub hadiah Fourth untuknya.
Mereka sama-sama memberi satu sama lain sebuah lukisan. Lukisan yang Gemini berikan kepada Fourth merupakan gambaran mereka berdua, Gemini menggendong Fourth dan Fourth tertawa lepas. Dari latarnya, sepertinya itu adalah foto saat mereka mendapatkan waktu istirahat dari sebuah fanmeeting di New York. Lukisan yang Fourth berikan kepada Gemini adalah gambaran mereka berdua, Fourth mencium pipi Gemini dan Gemini hanya tersenyum seperti sebuah anak anjing sambil memegang erat sebuah tas yang Fourth ketahui adalah tas miliknya. Latarnya sendiri adalah sepertinya saat mereka berlibur ke Osaka.
Mereka langsung tertawa karena mereka saling tidak menyangka bahwa mereka sama-sama saling menghadiahi satu sama lain sebuah lukisan.
“Lukisan-lukisan ini akan dipajang di kamar aku. Kebetulan masih ada area tembok yang masih kosong,” ujar Gemini.
“Aku setuju. Lukisannya bagus banget, Sayang …” ucap Fourth sambil memandangi detail setiap lukisan tersebut.
“Lukisan kamu juga … wow … aku gak nyangka kamu udah percaya diri ngelukis di kanvas gede gini …” tutur Gemini.
“Aku siapin lukisan itu 2 bulan dan dibimbing sama orang juga. Kamu suka sama lukisannya?” tanya Fourth.
“Suka bangetlah. I appreciate all the efforts you make demi lukisan ini, Sayang … I’m sure it’s tough buat prepare lukisan ini di tengah-tengah kesibukan kamu. I always love everything you give me …” jawab Gemini sangat antusias dan Fourth hanya bisa tersenyum lebar.
“Aku juga suka hadiah dari kamu ini. Aku selalu suka setiap hasil lukisan kamu. Aku berharap bisa post lukisan ini di media sosial … soalnya semua ornag harus tahu betapa kerennya pacarku …” ucap Fourth.
“Well, aku gak ngelarang kamu untuk posting kalau kamu pengen, tapi kalau kamu emang lagi menahan diri, mungkin kamu bisa foto aja dulu dan posting nanti,” balas Gemini.
Fourth mengangguk setuju.
Mereka lanjut membuka hadiah-hadiah berikutnya. Fourth mendapatkan sebuah kit untuk merelaksasikan otot-ototnya setelah gym, sebuah boneka beruang besar dengan kaos bergambar wajah Gemini dan memiliki suara Gemini mengucapkan beberapa hal, sebuah puzzle yang setelah disusun akan membentuk foto mereka berdua, dan terakhir adalah sebuah tas. Gemini mendapatkan beberapa bantal dengan wajah mereka berdua juga Jumu dan Munmuang, kalung yang dibuat khusus untuk Gemini karena di kalung tersebut memiliki darah dan sidik jari parsial milik Fourth, beberapa celana dalam dengan desain buatannya, dan terakhir adalah sesuatu yang harus Fourth persiapkan.
“Buat yang terakhir ini, aku menyiapkan sesuatu yang spesial jadi kamu harus sabar ya nunggu karena harus aku prepare dulu,” ujar Fourth sambil berdiri dari posisi duduknya.
“Okay, tapi mungkin hint-nya?” tanya Gemini karena ia sangat penasaran.
“Lately kamu suka cerita soal video-video panda yang kamu tonton kan? Nah, something to do with that,” jelas Fourth sambil tersenyum lebar.
Kedua alis Gemini bertaut dan dahinya berkerut. “Oh?” Ia memiliki jawaban dari hadiah terakhirnya itu dan ia tidak sabar untuk melihatnya.
“Aku pergi siap-siap dulu buat hadiahnya ya,” ucap Fourth sambil terkekeh lalu pergi keluar dari home cinema.
Gemini kurang lebih menunggu selama 15 menit hingga pintu ke ruangan tersebut terbuka dan muncul seseorang dengan kostum panda masuk ke dalam ruangan. Mulutnya terbuka lebar tidak percaya lalu ia tertawa dan mendekati maskot tersebut, menyentuhnya.
“Fourth?”
“Halo, Gemini! Aku panda dari video-video yang kamu tonton! Senang bisa bertemu denganmu!”
Senyuman Gemini melebar dan ia kembali terkekeh. “Oh my god … aku boleh peluk gak?” tanya Gemini kepada maskot panda itu.
Maskot terbangun mengangguk dengan antusias lalu Gemini langsung memeluk maskot tersebut dan mengusap area perut maskot tersebut. Gemini menghela napasnya karena betapa empuk, lembut, dan wanginya maskot tersebut.
“Kamu ternyata selucu di video ya, Panda,” tutur Gemini mengajak ngobrol maskot tersebut.
“Kamu juga lucu, Gemini. Kamu seneng gak ketemu aku?” tanya maskot tersebut.
“Seneng banget dong. Kamu hebat banget bisa tiba-tiba di sini,” balas Gemini sambil tersenyum.
“Soalnya aku bisa teleportasi. Keren kan aku …”
Gemini mengangguk sambil tertawa lebar. Ia tidak menyangka Fourth akan memakai kostum maskot panda sebagai hadiah anniversary mereka untuknya tahun ini.
“Sayang, emangnya di dalem kostumnya gak panas?” tanya Gemini.
“Panas. Makanya kamu mau ngobrol apalagi sama panda?”
Gemini tertawa lepas mendengar jawaban Fourth. Ia menenangkan dirinya. “Hmm … makasih ya panda udah dateng ke sini. Aku seneng banget bisa ketemu kamu akhirnya.”
“Kembali kasih, Gemini. Sekarang bantuin aku buka kostumnya.”
Gemini kembali tertawa sambil mencari bagian untuk membuka kostum tersebut. Ketika ia menemukannya, ia membantu Fourth yang berada di dalamnya untuk melepaskan kostum tersebut hingga akhirnya bentuk kostum panda itu tidak lagi terlihat dan yang ada hanyalah Fourth.
“Kamu ngide banget pake kostum itu,” komentar Gemini membantu Fourth menyingkirkan kostum tersebut.
“Soalnya kamu ngomongin panda terus … lucu lah, pengen peluk lah … yaudah aku bikin gimana kalau aku aja yang jadi panda,” balas Fourth.
Gemini menghampiri Fourth lalu memeluknya erat. “Makasih banyak ya, Sayang.”
“Hmm,” balas Fourth membalas pelukan Gemini.
“Sekarang ke agenda kita selanjutnya. Exchanging letters?” Gemini menarik diri dan memandang Fourth dan Fourth mengangguk.
Mereka kembali ke posisi semula saat bertukar kado lalu mereka saling menyerahkan surat yang mereka buat. Seperti biasa, mereka akan membuka suratnya bersama-sama dan membaca sendiri-diri karena mereka tahu bahwa mereka akan malu jika mendengar isi surat satu sama lain dibacakan.
Sembari membaca isi suratnya, mereka saling melirik satu sama lain. Dua pasang mata insan yang hadir di ruangan tersebut menggambarkan rasa bahagia dan haru. Gemini dan Fourth sama-sama terharu dan larut dalam rasa bahagia juga sayang sambil membaca isi suratnya. Meskipun mereka tahu surat yang ditulis kepada satu sama lain itu tidak selalu berisikan hal-hal puitis, tetapi mereka serius menuliskan isi suratnya untuk satu sama lain sehingga apapun isinya akan membuat mereka senang.
Keduanya menyimpan surat yang sudah dibaca lalu saling bertatap-tatapan. Mereka tersenyum kepada satu sama lain lalu terkekeh. Gemini mengenggam tangan Fourth lalu menariknya hingga Fourth duduk di pangkuannya. Gemini memeluk Fourth erat seraya Fourth meletakkan dagunya di atas kepala Gemini.
Gemini menghirup aroma tubuh Fourth yang merupakan aroma citrus bercampur vanilla yang melekat di tubuh Fourth setiap hari. “You always make me happy.”
“You too.”
“Aku gak bisa ngebayangin hidup aku tanpa kamu. Kedengerannya kayak gombal, tapi ini serius.”
“Bukannya hidup kamu tanpa aku harusnya ya berjalan kayak biasanya ya?” tanya Fourth.
“Awalnya aku pikir juga gitu, tapi pas aku sadar aku jatuh cinta sama kamu, selalu ada kamu di setiap hal yang aku bayangkan,” jelas Gemini.
Fourth tertawa pelan. “Aku juga ngerasa kayak gitu. Awalnya aku pikir ada atau gak ada kamu, gak ada bedanya, tapi kamu kasih tahu aku rasanya dicintai itu kayak gimana, kamu bikin aku ngerasa kalau semua hal akan lebih baik kalau ada kamunya.”
“I love you so, so, so much, my sunflower,” ucap Gemini.
“Love you a lot, my toothbrush,” balas Fourth.
Gemini menarik kepalanya lalu memandang Fourth yang kini juga memandangnya lalu perlahan menyatukan bibir keduanya dan mata terpejam, memadukan belah bibir mereka dalam satu irama. Fourth mengalungkan tangannya di bahu Gemini dan Gemini mengeratkan pelukan di area pinggang tubuh Fourth.
Fourth yang pertama kali menarik diri, melepaskan pagutan pada bibir Gemini secara pelan-pelan dan membuka pejaman matanya dan langsung dipertemukan dengan manik indah dan bersinar milik kekasihnya. Wajah mereka berhadapan sangat dekat hingga deru napas masih terasa di satu sama lain.
“Should we continue to movie night?” tanya Fourth dengan suara basah.
“Should we?” tanya Gemini berbalik.
Fourth mengangguk. “It’s our 5th anniversary and I want to make it different.”
Dahi Gemini berkerut. Fourth menyukainya. Fourth menyukai ekspresi bingung Gemini. “Maksudnya?”
“Di perayaan anniversary kita yang sebelum-sebelumnya, we always end the day by having sex. Aren’t we kind of … freaky …” jawab Fourth.
Gemini mendengus diikuti kekehan. “No, we’re not freaky … or maybe yes, tapi not because we always have sex at our anniversary event. It’s normal, but if you want to make it different this year, I am all in. Let’s watch while cuddle and eat snacks you’ve prepared.”
Fourth tersenyum lebar dan ia turun dari pangkuan Gemini. Fourth mengambil remote untuk menyalakan layar besar di ruangan tersebut sedangkan Gemini memposisikan dirinya dan cemilan mereka. Ketika Gemini sudah siap dan ia sudah memilih film untuk mereka tonton malam ini, Fourth langsung mendekati Gemini dan memposisikan tubuhnya agar mendapatkan posisi yang nyaman untuk menonton sekaligus ia mengambil salah satu cemilan dan melahapnya.
Mereka fokus memandangi layar yang menayangkan aktor Tom Holland sambil tangan mereka juga tidak berhenti mengambil cemilan yang berada di tray, di atas pangkuan mereka. Sesekali Fourth menyuapi Gemini dan sebaliknya tanpa pandangan mata lepas dari layar besar di ruangan itu.
Mae Ning melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah anaknya itu, diikuti oleh Mae Pui. Keduanya membawa sebuah paper bag besar, entah apa isinya. Ketika melihat situasi rumah yang begitu sepi, Mae Ning menyimpulkan bahwa Gemini dan Fourth masih tertidur.
“Kayaknya mereka masih tidur,” tutur Mae Ning sambil meletakkan paper bag di genggamannya.
“Pastilah. Fourth kalau udah bangun gak mungkin sesunyi ini. Dia pasti udah lari-lari,” balas Mae Pui ikut meletakkan paper bag-nya di samping milik calon besannya.
“Mereka kayaknya di ruang nonton deh,” ujar Mae Ning berjalan menekan tombol lift. Ketika pintu lift terbuka, mereka masuk dan langsung naik.
Mereka keluar dari lift di lantai 2 dan langsung ke ruang home cinema. Mae Ning membuka pintunya dengan pelan-pelan, tidak ingin membangunkan keduanya. Pintu terbuka dan mereka mengintip. Dari area pintu, mereka dapat langsung melihat dua sosok tengah tertidur dengan selimut menutupi tubuh keduanya.
Mae Ning dan Mae Pui berjalan dengan pelan mendekati anak mereka yang masih tertidur lelap lalu memperhatikan beberapa barang yang berada di ruangan tersebut. Mereka terkekeh pelan.
“Hadiahnya tiap tahun ada aja,” komentar Mae Pui, dengan suara pelan, karena ia tahu itu adalah hadiah mereka.
“Tanda cinta mereka sebesar itu ya,” balas Mae Ning sambil tersenyum.
Mae Ning melihat sebuah surat dan membaca sebuah tulisah “for gemini” dan “for fourth.” Mae Ning menyerahkan surat bertandakan “for fourth” kepada Mae Pui dan mereka melirik anak mereka yang masih tertidur nyenyak sebelum membuka suratnya dan membaca isinya.
Sepanjang membaca surat itu, mereka tidak bisa berhenti tersenyum lalu mereka bertukar surat. Mereka membacanya dengan sanagt serius.
“Mereka tuh beneran cocok ya,” komentar Mae Ning sambil memasukkan kembali kertas suratnya ke dalam amplopnya.
“Udah kecintaan banget satu sama lain,” balas Mae Pui sambil mengangguk dan meletakkan amplop suratnya kembali ke tempatnya.
“Kita ngobrol di luar aja ya sampe mereka bangun. Harusnya mereka gak lama lagi bangun karena katanya ada kerjaan hari ini,” tutur Mae Ning.
“Biarin aja deh dua orang ini menikmati waktunya,” balas Mae Pui.
