Actions

Work Header

Caelus

Summary:

“Dan Heng… tolong bawa keluar Stelle sekarang…”

“Tidak! Aku akan keluarkan kalian berdua!”

“Aku mohon, Dan Heng.”

Dan Heng menatap Caelus. Caelus menatapnya dengan tatapan memelas sambil menahan rasa sakit. Namun kilat di matanya ada keyakinan bahwa Dan Heng harus segera melakukan yang dia pinta.

Tanpa menunggu waktu lama lagi, Dan Heng segera berjalan keluar sambil menggendong Stelle di kedua lengannya. Dalam hatinya dia terus mengucapkan janji bahwa dia akan kembali lagi dan menyelamatkannya.

“Aku janji akan membawamu keluar, Caelus. Aku janji. Aku bersumpah, aku janji akan mengeluarkanmu.”

Notes:

Catatan dan Peringatan!
- Cerita ini akan mengandung tema yang berat seperti PTSD, suicidal thoughts, mental health, dan misunderstanding.
- Tag kemungkinan akan berubah ketika aku menambahkan chapter.
- Cerita ini bisa dibaca sebagai hubungan platonik atau romansa. Tergantung bagaimana pembaca memahami ceritanya.

Chapter 1: 1

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Dan Heng baru saja sampai di komplek asrama Caelus saat dia melihat ada banyak kerumunan di depan asrama itu. Orang-orang tampak tegang dan ada suara teriakan di sana sini. Jantungnya mendadak berdetak tak karuan dan perasaan takut menjalari dadanya tatkala dia melihat ada sesuatu yang membumbung tinggi di angkasa serupa asap hitam.

 

Kakinya langsung bergerak cepat dan berlari ke arah kerumunan itu. Dia mendadak terdiam di tempat saat melihat asrama mahasiswa itu dilalap kobaran api. Asap hitam tebal membumbung tinggi dari bangunan itu. Kerumunan yang berada di depan asrama itu ternyata adalah warga sekitar yang menyaksikan kebakaran besar itu terjadi dan ada banyak warga yang berusaha memadamkan api dengan segenap usaha mereka.

 

“Caelus… Stelle…” 

 

Tanpa dia sadari kakinya sudah bergerak duluan untuk berlari ke dalam. Namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh seorang pria yang tak dia kenal.

 

“Jangan! Jangan masuk ke sana! Tunggu pemadam kebakaran datang kemari!” 

 

Dan Heng menatap horor pria itu. Dia berusaha menyentak lengannya yang digenggam kuat oleh pria itu.

 

“Temanku masih ada di dalam!!! Aku harus selamatkan dia!” teriaknya di depan wajah pria itu.

 

“Jangan, nak! Bahaya!! Tunggu sampai pemadam–”

 

Belum sempat pria itu selesai berucap, Dan Heng dengan sepenuh tenaga mendorong pria itu lalu berlari ke pintu masuk asrama. 

 

Dan Heng berusaha mendobrak masuk ke dalam asrama yang sudah dilalap si jago merah itu. Pintu depan asrama belum sepenuhnya dilalap api sehingga dia bisa masuk dengan mudah ke dalam asrama.

 

Namun keadaan di dalam sungguh mengerikan. Dinding-dinding bangunan itu sudah terlalap api, perabotan rumahan juga mulai hangus, dan asap hitam memenuhi seisi ruangan. Dan Heng terbatuk berkali-kali ketika tanpa sengaja asap terhirup oleh indra penciumannnya. Namun dia tak gentar. Dia harus menemukan Caelus dan Stelle. Dia yakin kedua temannya itu masih terjebak di dalam sana.

 

Dia berusaha memasuki bangunan berapi itu sambil mencoba menghindari api yang berkobar dan benda-benda yang roboh. Kepalanya menoleh ke sana kemari dan mulutnya tak henti memanggil-manggil nama mereka. 

 

“Aaargh!” serunya ketika tangannya tanpa sengaja terkena kilat api dari perabotan di sampingnya. Dia melirik tangannya yang mulai kemerahan namun dia tak peduli. Dia harus segera menemukan keduanya dan mengeluarkan mereka dari sini.

 

“Caelus!! Stelle!!” teriaknya lagi sambil berusaha menghindar dengan lebih hati-hati. “Dimana kaliaaan??!!”

 

“Tolong…”

 

Dan Heng mendengar samar-samar suara seseorang. Tidak hanya sekali namun dua sampai tiga kali. Kemudian dia berusaha mengikuti arah suara itu.

 

Alangkah terkejutnya dia melihat kedua temannya di dekat tangga. Dia merasa lega akhirnya bisa menemukan Caelus dan Stelle di tengah kobaran api di sini. Namun…

 

Ketika dia mendekat dia dibuat semakin terkejut melihat kondisi mereka. Stelle jatuh pingsan di dekat Caelus. Sedangkan Caelus masih dalam keadaan sadar namun tubuh bagian bawahnya tertimpa sebuah lemari. Dia sedang memegang tangan Stelle dengan sangat erat dan wajahnya terlihat pucat. 

 

“Dan Heng… tolong…”

 

“Tenang, oke. Aku akan segera keluarkan kalian berdua!”

 

Lalu dia berusaha mengangkat lemari yang menimpa tubuh Caelus itu. Lemari itu sangat berat. Dan Heng sudah mengeluarkan semua tenaga yang masih dia miliki namun lemari itu tak bergerak seinci pun. Dan Heng tak menyerah. Dia dikejar oleh waktu. Dia harus segera menyingkirkan lemari ini sebelum–

 

“Dan Heng… tolong bawa keluar Stelle sekarang…”

 

“Tidak! Aku akan keluarkan kalian berdua!”

 

“Aku mohon, Dan Heng.”

 

Dan Heng menatap Caelus di bawahnya. Caelus menatapnya dengan tatapan memelas sambil menahan rasa sakit. Namun kilat di matanya ada keyakinan bahwa Dan Heng harus segera melakukan yang dia pinta.

 

“Kalau kamu sibuk menolongku, kita semua akan mati di sini.”

 

“Tidak… tidak…”

 

“Aku mohon bawa Stelle keluar sekarang.” 

 

“Tidak, tidak, ti–”

 

“Aku mohon.”

 

Mereka saling bertatapan agak lama hingga tiba-tiba terdengar suara retakan di sekitar mereka yang membuat Dan Heng tersadar. Dia menatap Stelle yang jatuh pingsan di sebelah Caelus. Jika dipikir secara rasional menyelamatkan Stelle lebih dulu jauh lebih mudah daripada berusaha menyingkirkan lemari berat ini lalu membawa keduanya keluar bersama-sama.

 

Namun Dan Heng tak ingin berpikir hal yang buruk. Dia berusaha berpikir positif bahwa dia pasti bisa membawa mereka keluar dari sini.

 

“Oke.” ucapnya pasrah dengan nada bergetar. “Tapi aku akan kembali dan membawamu keluar juga. Aku janji.”

 

Caelus hanya tersenyum kecil mendengarnya.

 

Dan Heng segera mengangkat tubuh Stelle dan menggendongnya. Dia menatap Caelus untuk terakhir kalinya, menatapnya dengan yakin bahwa dia akan kembali untuk menyelamatkan Caelus.

 

Tanpa menunggu waktu lama lagi, Dan Heng segera berjalan keluar sambil menggendong Stelle di kedua lengannya. Dalam hatinya dia terus mengucapkan janji bahwa dia akan kembali lagi dan menyelamatkannya.

 

“Aku janji akan membawamu keluar, Caelus. Aku janji. Aku bersumpah, aku janji akan mengeluarkanmu.” 

 

Dia tak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Caelus tatkala tubuhnya mulai bergerak menjauh.

 

“Tolong jaga Stelle, Dan Heng.” 




 





 

 

Di luar bangunan pemadam kebakaran sudah datang. Mereka langsung beraksi mengeluarkan selang-selang besar mereka dan menyemburkan air ke arah bangunan itu. 

 

Dan Heng berusaha berjalan ke arah pintu keluar dengan bersusah payah. Begitu dia berhasil sampai di pintu keluar dia langsung dibantu oleh tim pemadam. Mereka mengarahkan Dan Heng untuk meletakkan Stelle di atas brankar yang sudah disediakan ambulans yang datang.

 

“Aku harus segera kembali ke dalam!” serunya kepada salah satu pemadam. 

 

“Jangan!! Bangunan ini akan roboh! Sebaiknya jangan masuk ke dalam lagi!”

 

“Tidak!! Satu temanku masih di dalam!! Aku harus selamatkan dia!!!”

 

“Jangan, nak!! Di dalam bahaya–”

 

Tiba-tiba terdengar suara retakan keras dari arah bangunan asrama itu. Dan Heng menatap horor ke arah sana dan dia menyaksikan bangunan itu mulai runtuh satu per satu.

 

“Semuanya menjauh dari sini!!” teriak beberapa pemadam. 

 

Dan Heng masih terpaku di tempatnya. Kedua matanya membelalak lebar melihat pemandangan mengerikan di depan sana. Tubuhnya menegang kaku dan jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga.

 

“Caelus… tidak, Caelus…”

 

“CAELUUUSS!!” teriaknya histeris sambil berusaha menerobos tim pemadam. 

 

“JANGAN MASUK!! BANGUNAN INI SUDAH ROBOH!!” seorang pemadam mencengkeram kedua lengan Dan Heng yang berusaha mencoba memasuki lagi bangunan itu.

 

“TIDAK!! TIDAAAKK, CAELUS MASIH DI DALAM!!” teriaknya histeris sambil memberontak hebat. 

 

“Sudah, nak!! Relakan saja!” kata pemadam lainnya sambil menahan tubuh Dan Heng juga.

 

“Tidak… tidak… Caelus…”

 

Di atas brankar ambulans itu, Stelle mendapat sedikit kesadarannya. Dengan tubuh lemah dan tatapan sayu dia menatap ke arah asrama mereka yang mulai hancur dan roboh dimakan api. 

 

“Caelus… Caelus…” 

 

 

 

 

 

-bersambung-

Notes:

Untuk catatan tambahan saja nih:
Aku mengambil judul "Caelus" doang karena cerita ini akan fokus kepada Caelus namun bukan sebagai karakter utama. Dia akan jadi pusat cerita di sini dari sudut pandang setiap karakternya.

Terima kasih sudah mampir membaca!