Chapter Text
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahakuasa lagi Mahabijaksana."
Jum'at ini sama seperti yang lalu, Raka datang lebih cepat dibandingkan dengan hadirin Jum'at lainnya. Dengan baju koko masih hangat selepas disetrika, kopiah yang menampakkan dahi agar dapat menempel sajadah dengan sempurna, tidak melupakan sarung hijau yang terlilit di pinggul Raka. Lelaki itu selalu tampil sebaik-baiknya, hendak bertemu dengan Tuhan-Nya yang amat ia kasihi. Raka tidak pernah absen menduduki shaf paling depan, mengetahui keutamaannya.
Raka diberi kesempatan untuk memandang sang penceramah antusias dalam jarak dekat hari ini. Raka kenal betul dengan Ustadz Abu, guru mengaji yang membimbing anak-anak hingga remaja sekitaran kompleks setiap sore di masjid ini, termasuk Raka.
Wataknya keras tiada ampun, punggung tangan Raka tidak luput dari bekas sabetan penggaris kayu milik Ustadz Abu. Ada beberapa waktu di masa lalu saat Raka merengek kepada abinya bahwa ia tidak ingin lagi melanjutkan belajar mengaji dengan Ustadz Abu, menunjukkan memar-memar selepas ia melakukan kesalahan makhraj.
Respons abinya selalu sama,
"Api neraka lebih menyakitkan kalau kamu tidak mengaji."
"Allah akan menghukum hamba-Nya yang tidak menjalankan perintah-Nya."
"Kamu nggak mau masuk neraka, kan?"
Apapun yang Raka katakan, tidak ada yang lebih menyakitkan dari api neraka Sang Pencipta. Sedikit nyeri pada punggung tangan tidak masalah, tentu bukan apa-apa.
Ini demi kebaikan Raka sendiri. Abi sayang Raka. Umi sayang Raka. Allah juga sayang Raka. Makanya, Raka harus menjalankan semua perintah Allah.
Ibadah Jum'at berjalan seperti biasanya. Khutbah, lalu sholat 2 rakaat, diakhiri dengan rangkaian doa. Terkadang, Raka menetap lebih lama hingga waktu Ashar untuk murojaah. Namun hari ini, ia harus kembali ke sekolah untuk mengikuti pendalaman materi UTBK.
Raka sudah menduduki tahun terakhirnya di sekolah menengah atas. Bulan ini, Desember, adalah bulan terakhir sebelum semester genap dimulai. Semua siswa kelas tiga akan makin sibuk, memfokuskan diri pada persiapan ujian nasional tersebut.
Pastinya akan melelahkan. Waktu mereka sempat terpotong beberapa bulan akibat ujian TKA mendadak yang ditetapkan pemerintah. Memang sial. Angkatan Sial. Atau pemerintah yang terlampau bodoh? Mungkin mereka sial karena pemerintah yang bodoh.
Raka menyusuri jalan beraspal kompleks, terkadang menyapa ibu-ibu teman kajian uminya. Keluarga Raka memang cukup dikenal oleh warga sekitar berkat reputasi abinya sebagai orang penting. Raka tidak tahu pasti apa yang abinya lakukan. Ketika di rumah, abi hanya bicara pada Raka untuk mengingatkannya beribadah dan mengajak satu keluarga menjalankan kegiatan religius bersama. Benar-benar contoh kepala keluarga yang patut dijadikan panutan.
Satu belokan terakhir di tikungan tajam, Raka mendorong gerbang besi berlapis cat hitam dan sampai di rumah. Memasuki rumah dari pintu masuk utama, kau akan langsung disambut dengan belasan ukiran ayat-ayat atau Asmaul Husna terpampang di sepanjang dinding. Di akhir lorong, barulah kau akan menemukan satu-satunya potret manusia di antara sanjungan-sanjungan nama Tuhan—potret keluarga Raka.
Raka tidak begitu ingat kapan potret ini diambil, mungkin di studio foto suatu mall, melihat latar biru, dan adik laki-lakinya yang jelas-jelas masih bayi. Pasti sudah sangat lama. Raka tidak berlama-lama menatap potret itu, berusaha mengingat.
Ke mana perginya lelaki yang menopang Raka di pangkuannya itu?
"Assalamualaikum," Raka setengah berbisik, melihat isi rumah yang gelap dan kosong secara abnormal. Biasanya, umi sedang memasak di dapur selagi kaum adam menunaikan ibadah Jum'at. Namun, tidak ada apa-apa di atas meja siang ini.
Raka tidak berpikir panjang, ia segera menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas dan hendak berganti pakaian. Ia punya waktu satu jam sebelum waktu kehadiran untuk kelas siang di sekolah.
Langkah Raka terhenti di anak tangga ketiga.
Samar-samar, Raka mendengar cicit-cicit di balik pintu kamar kedua orang tuanya.
Bukan cicit, melainkan isak tangis yang jelas-jelas berasal dari umi.
Jantung Raka berdebar bukan main. Sudah beberapa minggu abi dan umi tidak ribut, itu juga karena abi jarang pulang ke rumah karena perjalanan bisnis dan lembur malamnya. Raka menarik napas panjang, mempersiapkan diri untuk melakukan yang biasanya ia lakukan.
Raka membuka pintu kamar adiknya—Tsabit, perlahan. Raka melihat Tsabit tertidur pulas dan segera mengunci pintu kamar Tsabit. Geraknya tergesa-gesa. Yang penting Tsabit aman. Raka sudah mempersiapkan diri untuk segala aksi yang abi mungkin lakukan. Raka tidak akan pernah melupakan hari di mana abi mengancam untuk mencekik Tsabit yang baru berumur tujuh dengan sarung di puncak ia ribut dengan umi.
Apa lagi? Benar, Raka bergegas turun ke dapur dan menyembunyikan segala macam benda tajam yang bisa ia pikirkan. Pisau, gunting, terutama gunting. Raka menyembunyikannya di balik tudung saji, abi tidak mungkin terpikir untuk mengecek di balik itu.
Setelah Raka yakin situasinya aman, lelaki itu meneguk ludah, ia siap untuk menghadapi bagian tersulitnya: memasuki kamar umi dan abi.
Tidak jarang mereka bertengkar, lebih sering lagi mereka melakukannya di depan anak-anak. Raka bahkan tidak kaget lagi apabila mereka, ralat, apabila abi sampai rumah dengan perasaan buruk dan mulai melemparkan amarah pada orang-orang rumah.
Namun, jika mereka bertengkar di kamar itulah tanda bahaya. Raka secara samar ingat beberapa kejadian di masa lalu saat abi berkali-kali mencoba mencekik umi di balik pintu kamar mereka—atau praktik kekerasan dengan benda tajam lainnya. Untungnya, Raka selalu hadir di rumah untuk mencegah skenario terburuk untuk terjadi.
Suara debaran jantung Raka mengalahkan isak tangis umi ataupun cacian yang saat ini abi lontarkan, Raka memikirkan ribuan posisi yang mungkin sedang terjadi di dalam. Entah abi mendorong umi ke kasur dan mencekiknya, entah abi menampar umi dan ia sedang terperosok di lantai, Raka sudah siap.
Raka memutar kenop, dan—
PLAK!
PLAK!
PLAK!
Hah?
Butuh waktu beberapa detik untuk Raka merasakan nyeri yang mendarat di kedua sisi wajahnya.
Pandangan Raka sempat kabur, namun kini korneanya terfokuskan pada sosok lelaki penuh amarah. Lelaki itu berdiri tepat di hadapannya dengan tangan terangkat, siap untuk menamparnya lagi.
"Kamu kemarin nggak pergi ngaji?" Tegas abi. Bulu kuduk Raka langsung berdiri. Iya, benar. Ia tidak pergi ngaji untuk menghadiri suatu seminar di sekolah terkait perguruan-perguruan tinggi.
"Kemarin... Raka ada semi—" PLAK!
Tidak ada gunanya. Di saat-saat seperti ini, apa yang masuk ke telinga kanan abi akan keluar di telinga kiri.
Syaitan. Benar. Ia dibendung amarah sedemikian banyaknya dan saat ini sedang dikontrol Syaitan.
Ini bukan abi.
Karena abi tidak pernah berdosa atau melakukan kekerasan. Karena abi—sudah lama tiada. Abi sudah lama digantikan oleh syaitan yang keji ini sejak lama.
"Sejak kapan urusan dunia lebih penting dari akhirat? Kamu mau masuk neraka, hah?"
Bukan begitu... Bukankah ada hadits yang menjelaskan urusan dunia sama pentingnya? Raka meneguk ludah, tidak berani membantah.
Tapi, jika benar ini Syaitan—mengapa ia ingin Raka "lebih berbakti" kepada Tuhan? Bukankah Syaitan berbisik pada telinga manusia untuk mengumpulkan teman-teman di neraka?
"Kamu ini ya, makin lama makin lupa sama Tuhan!"
Raka akui, sudah beberapa hari Raka tidak punya waktu untuk murojaah berjam-jam seperti dulu. Tapi Raka selalu menyempatkan waktu untuk beribadah semaksimal mungkin. Dari seperti malah, hingga fajar, hingga petang dan tengah malam lagi. Semua Raka lakukan.
Raka tahu ia tidak akan berbahagia juga di dunia tanpa ridho Sang Maha Kuasa.
"Udah abi, tenang!" Umi berusaha menghentikan abi, yah, tentu tidak berhasil. Sudah dibilang, ini semua ulah Syaitan.
"Berisik! Liat anak kamu, didikan kamu, ditinggal sebentar—dikit lagi kafir!"
Kafir.
Raka? Kafir?
Apa yang kafir dari menunaikan sholat lima waktu? Apa yang kafir dari mengaji tiap sehabis ibadah? Apa yang kafir dari menyisihkan uang jajan setiap hari untuk dimasukkan ke kotak amal?
Apakah Tuhan tidak puas dengan apa yang Raka lakukan selama ini?
"Abi nggak mau tau, nggak ada lagi alasan-alasan kamu nggak ngaji."
Tapi bagaimana dengan sekolah Raka? Ini sudah waktunya Raka mulai lebih serius. Ujian ada di depan mata. Raka harus setidaknya melakukan ikhtiar. Benar, mau manusia berusaha sebagaimana pun, akhirnya keputusan ada di tangan Tuhan.
Tapi Tuhan tidak akan menerima tawakal tanpa ikhtiar terlebih dahulu.
Sebenernya apa yang Raka kejar?
Toh, akhirnya, di surga tidak akan ada perasaan lapar, haus, nafsu. Di surga—kamu akan bahagia selamanya.
Bukan dunia yang fana ini.
"Umi?"
Beberapa tahun terakhir ini, umi jarang bicara. Umi hanya akan keluar untuk belanja atau mengikuti kajian. Saat di rumah pun, umi sibuk berkutat depan Al-Qur'an atau di dapur. Seperti istri-istri pada umumnya.
Umi memasukkan potongan-potongan sayur dalam air berkaldu yang mendidih, matanya terlihat sayu. Raka sekali lagi memanggil uminya.
"Umi?"
"Kenapa, abang?" Umi tidak mengalihkan pandangannya dari panci, sepertinya tidak tepat waktunya untuk Raka mengganggu umi yang jelas-jelas terlihat letih.
Tuhan, maafkan hamba. Raka melihat sekeliling, sepertinya abi sedang beribadah di lantai atas.
"Kenapa umi nggak pisah aja sama abi?"
Umi langsung menutup mulut Raka dengan telapak tangannya. Entah amarah, entah ketakutan, umi langsung beristighfar tanpa henti.
"Astaghfirullah... Astaghfirullah abang! Astaghfirullah, maksud abang apa?"
"Umi, sadar!" Raka meremas sisi lengan uminya, memberikan tatapan serius. "Umi nggak liat abi gimana? Umi... Liat! Umi tangannya sakit kan gara-gara tadi?"
"Abi cuma menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga." Sekilas, wajah umi kembali netral, Raka sulit membaca apa yang uminya rasakan. "Umi memang salah. Umi lalai mendidik kamu."
Hah?
"Umi yang salah. Umi jarang ngingetin Raka akhir-akhir ini. Tsabit juga. Umi yang salah."
"Bukan... Bukan. Ini semua bukan salah umi! Kenapa umi ngomong gitu?"
"Ini semua salah umi, ini bukan salah abang atau Tsabit. Nanti abang ikut umi ya, nak? Kita tadarus bareng-bareng, ya? Minta ampunan Allah."
Gila.
Apa?
Salah? Apa yang salah?
Apa mereka semua sudah gila atau aku yang benar-benar sudah jauh dari Dia?
"Menurut umi—abi nggak salah udah mukul Raka?"
"Nak, api neraka lebih kejam. Abi semata-mata nggak mau Raka menderita di alam sana nantinya."
Malam itu, Raka tidak kembali ke rumah selepas menunaikan sholat Isya. Raka bahkan tidak ingat apakah wajahnya sempat ia basahi saat wudhu, atau air matanya yang membasahi?
Raka tidak habis pikir. Apakah ini salah satu dari ketentuan Tuhan yang tidak sampai ke otak manusia?
Tidak ada yang salah. Raka tetap beribadah seperti biasanya. Raka tidak meninggalkan kewajiban—tentu, mengaji merupaka sunnah yang diutamakan. Namun...
... Namun apa?
Kuliah? Pendidikan? Itu semua semata-mata glamor dunia? Apakah jika Raka kuliah sampai sarjana gelarnya akan di bawa ke kubur? Tidak. Hanya ada satu gelar yang disanding orang kala meninggal, yaitu Almarhum.
Apakah Raka selama ini salah menaruh prioritas? Apakah Raka yang sudah terbutakan akan iming-iming fana?
Tapi mengapa?
Mengapa Raka hidup di dunia ini—hanya untuk kembali pada Tuhan akhirnya? Kenapa Raka harus mengejar surga dan neraka? Kenapa Raka ditaruh dalam simulasi kehidupan dan menjadi manusia jika di akhirat nanti ia tidak akan memiliki perasaan yang membuat seorang manusia—manusia?
Apa artinya kehidupan? Mengapa Tuhan menciptakan kehidupan? Di akhirat nanti, ini semua tidak ada, kan?
Apakah Tuhan semata-mata ingin disembah? Apakah itu alasan Raka tidak dibolehkan melakukan hal-hal lain?
Tidak ada gunanya.
Mau Raka bertanya atau berdoa selama apapun, Tuhan tidak akan menjawabnya.
Raka hanya manusia, dengan satu tujuan di dunia. Yaitu menyembah-Nya. Raka akan kembali ke tanah, seperti asalnya ia dari tanah liat.
Ya, lebih baik itu daripada jadi bara api di neraka.
Tidak.
Ini salah. Salah. Salah. Salah. Salah. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan abi berlaku sebegitu kasarnya? Atau memang benar Islam mengajarkan hal itu? Atau ulah Syaitan yang merasuki abi?
Apakah Raka berdosa karena telah merasa bahwa ini semua memang terlampau gila? Tapi di sisi lain, Raka memahami bahwa ia memang sudah agak jauh dari Tuhan dan mungkin ini adalah cara Tuhan menarik Raka kembali.
Bukankah caranya salah?
"Dek?" Raka mengangkat kepala atas panggilan tersebut, seorang lelaki dengan sepuntung rokok di himpitan kedua jarinya berdiri di depan Raka. "Ngapain malem-malem di sini?" Raka ingin melontarkan pertanyaan yang sama, karena lelaki ini bahkan tidak terlihat lebih tua darinya.
Rambut gondrong hampir tak terurus, poninya begitu panjang, tidak mungkin dahinya menyentuh sajadah. Juga... rokok, itu kan makruh. Allah amat membenci hal-hal tak berguna seperti itu.
"Pulang loh Dek, udah tengah malem. Nanti nyokap bokap lo nyariin." Anehnya, lelaki itu bukannya pergi, ia malah duduk di samping Raka, di tangga masjid di bawah terang bulan purnama.
Raka tidak terbiasa berdekatan dengan perokok aktif, lelaki itu sepertinya sadar dan membuang sisa sepertiga puntung rokoknya ke jalanan. Raka hanya bisa berpikir bahwa biasanya para perokok benar-benar menghisap hingga titik darah penghabisan dari nikotin silindris tersebut. Abang ini membuangnya secara santai. Mungkin ia belum dirasuki syaitan sepenuhnya.
"Lu nggak ngerokok, ya?"
"Nggak... nanti Allah marah."
Pfft. Jelas-jelas lelaki itu menahan tawa. Raka memicingkan mata. Apa yang lucu? Benar, kok. Raka sudah kebal akan ledekan seperti ini. Ia tidak masalah dilabeli sok suci atau apapun itu. Bukankah penting seseorang memiliki ideal? Lagipula sudah jelas bahwa karsinogenik memiliki influens nyata terhadap kesehatan.
"Bukannya nanti Allah juga marah kalo bikin orang tua khawatir semalem ini?"
"Nggak mau pulang." Raka meneguk ludah. Ia tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu keras-keras.
"Lagi berantem sama ortu?"
"Nggak, lagi pusing aja. Bentar lagi UTBK." Dosa pertama, berbohong. Tapi Raka pun enggan mengumbar-umbar masalah keluarga, terlebih lagi hal senormal orang tua yang hanya khawatir pada anaknya.
"Oh iya, iya, been there. Nggak apa-apa, lu pasti bisa. Latihan aja PKPM yang banyak sampe mabok." Yah, itu pun kalau bisa. Raka tidak yakin ada waktu yang tersisa jika ia harus kembali lagi ke rutinitas beribadahnya yang ketat.
Harusnya, saat ini Raka kembali ke rumah dan melanjutkan tadarus. Raka tahu mungkin saat ini malaikat atid sudah mencatat beberapa baris tambahan di dalam sijjin, isinya dosa Raka karena sudah berniat meninggalkan ibadah, bahkan benar-benar meninggalkannya.
Sekali saja. Sekali saja tidak apa-apa.
Sekali saja Raka ingin menjadi manusia yang tidak luput dari dosa.
"Yaudah, nggak apa-apa. Nggak belajar dulu juga nggak papa. Santai aja, Dek."
"Bang?"
"Ya?"
"Menurut Abang aku bisa masuk kuliah, nggak?"
"Bisa. Mungkin sekarang rasanya lu capek, atau segala hal lainnya. Tapi kalo lu emang niat, pasti ada aja hasilnya kok."
"Emangnya kuliah itu penting?"
"Orang punya prioritas masing-masing. Ada yang harus ngebiayain keluarganya, jadi langsung kerja. Selama lu ada kesempatan buat lanjut belajar, kejarlah itu. Pendidikan tuh penting. Nggak semua orang seberuntung lu, atau kita, yang bisa lanjutin sekolah."
Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?
"Tapi kan, kita nanti bakal mati di akhir. Balik lagi ke tanah."
"Terus?"
"Hmm?"
"Namanya juga hidup. Lu hidup ke dunia pasti ada alasannya. Sedih, seneng, semuanya manusiawi. Ada hal yang mau lu kejar di kehidupan, manusiawi. Itu semua alasan lu hidup."
Bukankah itu egois? Untuk mengejar kenikmatan dan kesuksesan sementara? Apakah dengan semua pengetahuan yang didapat manusia, akan membangun satu rumah di surga?
"Ini hidup lu, lu pilih sendiri apa yang mau lu lakuin. Nggak ada yang salah kok asal maksudnya ke arah yang baik."
Lelaki itu tidak mengatakan suatu hal yang amat hebat. Ia semata-mata mahasiswa yang sedang berkeliaran di tengah malam dan melihat anak laki-laki kesepian yang meringkuk di depan masjid pada pukul sepuluh di malam hari. Tidak ada maksud khusus di balik aksinya barusan, entah ia bosan, atau apa pun itu. Kata-katanya benar-benar biasa saja. Layaknya manusia. Bukan ayat-ayat kitab suci maupun hadits sang nabi.
Tapi baru kali ini Raka tidak disuruh membaca.
Raka tidak disuruh mengaji, bersujud, meminta ampun. Raka tidak disuruh untuk melupakan iming-iming dunia dan fokus pada akhirat. Raka tidak diancam untuk dibakar selamanya di kobaran api yang tidak pernah padam.
Hidup, ya?
Tuhan, bolehkah hamba merasakan kehidupan? Bolehkah hamba berlomba demi air di oasis tengah gurun dunia?
"Udah yuk, pulang. Lu besok nggak sekolah emangnya?"
Raka enggan berpindah, menarik ujung jaket lelaki misterius yang berhasil membuka matanya malam itu. "Bang! Nama Abang siapa?"
Lelaki itu tersenyum.
Apa?
Indah. Sungguh indah. Senyumnya tulus, dihiasi cahaya malam yang lebih indah dari seribu bulan.
"Panggil aja Shaka, nanti lu tau sisanya. Sekarang pulang dulu. Gue suka nongkrong di sekitar sini, sapa aja kalo ketemu."
Shaka. Shaka. Shaka.
Raka tidak lagi bermimpi untuk mendekam di Gua Hira dan mendapat mukjizat layaknya sang nabi. Raka tidak lagi ingin menjadi yang terbaik agar malaikat-malaikat mencatat pahala-pahala Raka dalam sijjin. Raka tidak lagi butuh Tuhan untuk bertemunya di sepertiga malam.
Untuk apa jika mereka hanya akan menyuruh hal yang sudah Raka lakukan selama bertahun-tahun?
Ibadah. Sholat. Ngaji. Basi.
Toh, mereka tidak akan pernah puas. Mereka hanya menyuruh Raka melakukannya untuk memuaskan entah apa. Jika Tuhan tidak membutuhkan manusia, mengapa ia sangat gencar menyuruh kami bersujud? Jika Tuhan tidak memiliki karakteristik manusia, mengapa ia bisa murka dan membuat tujuh lapisan penyiksaan?
Raka ingin hidup sebagai manusia. Raka ingin hidup.
Raka selama ini hanya ingin hidup.
Dan kali ini, Raka menemukan alasannya hidup. Ia bukan Tuhan, ia bukan rasul, ia bukan juga nabi. Ia seorang manusia.
