Work Text:
Hyunmu 1 tim menemukan lokasi jalan setapak tepat di tempat yang ditunjukkan para penduduk disana, dan segera saja menemui kembali pekarangan, menyusuri jalan setapak. Baek Saheon, employee Daydream dengan topeng Goat satu ini terseret dalam misi yang sedang dijalankan para Agent. Tanpa memakai topeng yang biasa dipakai, ekspresi cemberutnya terpampang dengan jelas sepanjang perjalanan.
Kemudian, mereka mendengar erangan tak manusiawi, lantang dan dalam yang berlangsung selama paling tidak sepuluh detik. Bunyi itu terlalu kuat sehingga tidak mungkin dihasilkan manusia. Erangan itu panjang, murung, sebanding dengan gemuruh peluit kapal.
Mereka semua berhenti, menunggu hingga erangan itu berakhir. Sulit dikatakan dari mana bunyi tersebut berasal. Pastinya bunyi yang membingungkan itu asalnya dari depan sana. Agent Choi yang tidak kenal diam bergegas maju sambil memperkuat genggamannya di pedangnya yang besar itu. Dengan langkah yang dipercepat, mereka segera saja tiba di tepi pekarangan kebun dengan rumput-rumput liar setinggi lutut. Suara-suara serangga kecil terdengar di telinga. Semuanya tampak normal. Mereka tidak melihat makhluk raksasa yang mampu menghasilkan suara sekeras yang mereka dengar.
Setelah beberapa menit yang tegang, Agent Bronze memecahkan keheningan.
“Suara apa itu? Kedengarannya tidak terlalu jauh”
“Kedengaran seperti makhluk besar. Ibarat kata senyaring ikan paus.”
“Yang pasti kita akan menemuinya. Mari kita pastikan untuk kembali sebelum gelap.”
Berbanding terbalik dengan apa yang barusan Agent Grapes katakan, mereka menunggu, ragu memasuki halaman.
“Sekarang apa?” Saheon tampak gugup mulai menyesali dirinya di masa lalu yang mengatakan iya dengan mudahnya. Dia tidak yakin bagaimana para Agent akan melakukan penyelamatan apabila menjaga dirinya saja nanti gagal.
Tiba-tiba, erangan dahsyat itu berkumandang lagi di pekarangan, lebih dekat dan lebih lantang. Genting-genting di atap berkelotakan.
“Asalnya dari lumbung.”
“Podoya, kita belum mencari ke sana.”
“Tetap berjaga-jaga.”
Erangan memekakkan itu berderu untuk ketiga kalinya. Lumbung itu bergetar membuat burung-burung beterbangan dari pinggiran atap.
“Kelihatannya ada sesuatu disana. Menarik.”
“Gi-gimana jika monster itu memelihara makhluk ganas di dalam sana? Itu mungkin saja hanya akan mempersulit kita.”
“Tidak, citizen. Ini peluang terbaik kita. Kemana lagi kita akan mencari? Kita tidak punya petunjuk lain. Jejak tadi menemui jalan buntu. Paling tidak kita semestinya mencoba mengintip ke dalam.”
“Baek Saheon-ssi tentu harus ikut serta~”
Agent Grapes, disusul oleh Agent Bronze, mulai berjalan duluan menuju lumbung. Agent Choi, barangkali menunggu agar Baek Saheon menggerakkan kakinya duluan, tersenyum cemerlang kepadanya. Baek Saheon akhirnya mengikuti dengan enggan di belakang mereka. Bangunan menjulang itu membumbung setinggi gedung lima lantai, dipuncaki oleh penunjuk arah angin berbentuk banteng. Agent Grapes melihat satu set pintu ganda yang terlihat jelas di depan, beserta pintu-pintu masuk berukuran lebih kecil di samping.
Lumbung berderit dan kemudian mulai bergoyang seolah ada gempa bumi. Bunyi kayu patah memenuhi udara, diikuti oleh satu lagi erangan penuh duka.
Agent Choi melirik ke belakang ke arah Agent Grapes. Mereka semua menduga ada sesuatu yang besar dikurung di dalam sana. Beberapa saat kemudian lumbung pun menjadi hening.
Rantai dan gembok berat menyegel pintu ganda di depan, jadi Agent Bronze yang memperhatikan hal itu dengan gesit bergerak ke samping bangunan, pelan-pelan mencoba membuka pintu-pintu yang lebih kecil. Semua terkunci. Lumbung memiliki beberapa jendela, namun yang terendah terletak di tiga lantai dari tanah.
Dengan penuh hati-hati, mereka melangkah dalam diam mengelilingi seluruh bangunan, namun tidak menemukan pintu yang tak terkunci. Retakan atau lubang intip sekalipun tidak ada.
“Mereka menyegel tempat ini rapat-rapat,” bisik Agent Bronze.
“Mungkin kita harus membuat kegaduhan untuk masuk ke dalam. Mau kupotong saja pintu itu serta gemboknya s’kalipun dengan pedangku?” Agent Choi mulai mengelilingi bangunan itu lagi dan dengan ceria mengayun-ayunkan pedang besar itu kesana kemari. Untungnya, tidak ada seorangpun yang berdiri di dekatnya.
“Agent, aku tidak yakin itu tindakan yang pintar.”
“Baiklah. Akan kutunggu sampai lumbung mulai bergetar lagi. Itu batasnya.” Agent Choi duduk di depan salah satu pintu kecil setinggi kira-kira satu meter lebih.
Agent Grapes dan Agent Bronze melanjutkan investigasi. Mereka mencoba mengetuk-ngetuk pintu kayu, memastikan adanya cara untuk membuka suatu pintu rahasia. Sisanya cuman duduk-duduk memandangi mereka bekerja untuk menghabiskan waktu. Menit-menit berlalu.
“Menurutmu makhluk itu tahu kita sedang menunggu? Bukannya lebih baik kita pergi saja dan meninggalkan tempat sial ini?”
“Citizen, cuma kamu yang bawa nasib sial.”
“Tapi kan aku yang diseret oleh kalian!! Kenapa harus bawa-bawa aku juga?”
“Oh, Baek Saheon-ssi, apakah kamu tidak tahu budi bahwa Agent Grapes pernah menolongmu? Mengapa sikapmu seperti ini? Aku tak tahu kamu adalah orang yang tidak tahu malu.” Agent Choi mengompori apa yang dikatakan Agent Grapes.
“Itu—!”
“Agent Choi, sudahlah. Kita tidak boleh buang-buang waktu disini. Kita harus bergegas.”
“Agent Bronze, apa kau menemukan klu—”
Tepat ketika Agent Grapes mau mengatakan sesuatu, erangan menggelegar muncul kembali. Pintu kecil itu berguncang. Baek Saheon kembali berjongkok ketakutan.
“Oke. Mari kita hancurkan saja!”
“Tunggu sebentar!”
Belum sempat bereaksi, Agent Choi pun dengan geram mulai menumbuk pintu kecil dengan kedua kaki bergantian. Ia dari awal hanya akan menggunakan pedang untuk keadaan genting dan ini bukanlah keadaan yang genting-genting amat, jadi dia hanya memakai kaki. Erangan tersebut meredam sebagian besar bunyi benturan. Pada tendangan terakhir, tepi pintu kecil itu terbelah dan menjeblak terbuka.
Ketika itu juga Agent Choi meluncur menjauhi bukaan dengan seringai. Agent Bronze, Agent Grapes dan Baek Saheon buru-buru melangkah ke samping juga. “Siap-siap!” Agent Choi yang memimpin di depan memberi isyarat tanpa suara.
Satu atau dua detik kemudian, erangan memekakkan itu berhenti. Agent Choi menyuruh yang lain agar menunggu. Dia merayap lewat pintu kecil, masih sambil membawa pedang yang ia seret ke tanah. Agent Bronze dan Agent Grapes menunggu, meremas telapak tangan yang memegang tali. Baek Saheon, dari ekspresinya terlihat bahwa jika ada hal yang salah, ia akan menjadi yang pertama melarikan diri.
.
.
.
Agent Choi kembali di bukaan lebih cepat dari dugaan sambil menyandang ekspresi yang sukar dimengerti.
“Kalian harus melihat ini.”
“Kau baik-baik saja, Agent?”
“Ada apa di dalam…?”
“Tidak ada tanda-tanda bahaya, kan?”
“Jangan khawatir! Ayo lihat bersama.”
Diakibatkan tinggi pintu yang pendek, mereka semua membungkuk lewat ambang pintu kecil itu. Lumbung besar tersebut berisi hanya satu ruangan lapang dengan beberapa lemari di seputar perimeter. Seluruh ruangan itu didominasi oleh seekor sapi raksasa.
Hal ini tidak ada di manual sama sekali. Ingatan Kim Soleum tentang konten di Wiki sangat blur akhir-akhir ini. Tapi ia yakin akan satu hal. Kenyataan bahwa ada Darkness di dalam suatu Disaster menjadi hal yang populer belakangan ini dan lebih sering terjadi. Dan itu salah satu pertanda yang buruk, dunia mendekati kiamat. Jika ia bisa pingsan, ia akan pingsan di tempat itu sekarang juga.
“Bukan apa yang kuharapkan tapi… holy cow!” Agent Choi bergumam dengan nada tak percaya.
Baek Saheon dan Agent Bronze melongo, memandangi si sapi mahabesar dengan takjub. Kepala besarnya mendekati kasau (rangka atap), dua belas sampai lima belas meter di udara. Wadah jerami yang terbentang di sepanjang sisi bangunan berfungsi sebagai kotak makanan. Kaki si sapi berukuran sebesar bak mandi. Ambingnya yang superbesar jelas-jelas menggembung. Susu keluar dan menetes dari puting yang hampir seukuran samsak tinju.
Si sapi raksasa menelengkan kepalanya, menatap para pendatang asing di lumbung. Ia mengeluarkan lenguhan panjang, membuat lumbung bergetar hanya dengan mengubah posenya.
“Kami adalah teman,” Agent Grapes berseru kepada sapi itu. Si sapi menganggukkan kepalanya dan mulai mengunyah makanan dari wadah jerami.
“Dari suara raungan sapi raksasa ini. Dia terlihat kesakitan,” Agent Bronze berpendapat. “Lihat betapa ambingnya terlihat bengkak?”
“Yep. Aku bertaruh 5 karat emas kalau susunya bisa memenuhi kolam renang.”
Yang lain diam-diam mengangguk sepakat namun tidak berani mengeluarkan pendapatnya terang-terangan layaknya celotehan Agent Choi.
“Uhm… Apa mungkin ada yang memerahnya setiap pagi?”
“Menurutku juga begitu, citizen. Dan tidak ada yang melakukannya hari ini.”
“Karena kita membuat kekacauan, haha!”
“Agent.”
Mereka berdiri dan memandang. Si sapi terus mengunyah makanan dari wadah jerami, acuh. Agent Choi menyadari sesuatu menunjuk bagian belakang lumbung.
“Lihat kotorannya! Pai sapi terbesar di dunia!”
“Heup!”
“Itu… sangat menjijikkan.”
“Agent Choi. Kok bisa-bisanya kau memperhatikan itu.”
Si sapi lagi-lagi mengeluarkan raungan mengeluh, yang paling ngotot sejauh ini. Mereka semua menangkupkan tangan ke telinga mereka sampai lolongan itu berhenti. Agent Grapes bisa merasakan ada cairan merah yang keluar karena gendang telinganya serasa mau pecah.
“Agent Choi, Agent Bronze, kita mungkin sebaiknya berusaha memerahnya.”
“Memerahnya? Gimana kita bisa melakukan itu!” seru Baek Saheon dengan nada jijik, ia gemetaran membayangkan dirinya menyentuh ambing berwarna merah muda itu. “Aku tak mau!”
“Ah, pasti ada cara, citizen. Orang sebelumnya pasti melakukannya sepanjang waktu.”
“Kita bahkan tidak bisa menggapai ‘itu’nya!” Baek Saheon melanjutkan, “Aku bertaruh sapi ini bisa memorak-porandakan tempat ini kalau dia mau. Maksudku, lihat saja dia! Dia semakin lama semakin kesal. Ambingnya kelihatan bakal meledak. Siapa tahu kekuatan macam apa yang dimilikinya. Hal terakhir yang kita butuhkan adalah sapi raksasa yang berlarian bebas. Itu bisa menimbulkan kekacauan total di Darkness seperti sekarang!”
Bersidekap, Agent Bronze merenungkan tugas tersebut. “Namun dia kelihatan jinak.”
Agent Choi dengan penuh konsentrasi memperhatikan sekitar sapi raksasa itu dan sesekali menyentuh dan membelai kaki raksasa berbulu itu. Pedang besar yang ia bawa sudah ia sandarkan dekat dinding, agar tak sengaja menusuk kaki makhluk totol-totol hitam putih masif yang berujung membawa murka.
“Tapi jika kita tidak memerah sapi ini, akhirnya kita bisa saja mendapatkan bencana baru di tangan kita.”
“Bagaimana kalau kita menggeledah lemari-lemari? Mungkin di dalamnya ada peralatan istimewa.” Agent Grapes memberikan petunjuk.
Yang lain pun mulai mencari dan menggeledah barang-barang apa saja yang berada di dalam lemari. Sekop kecil, selang, suntikan, penggiling daging(?), dll. Kebanyakan barang-barang yang disediakan tak cocok untuk dipakai di situasi saat ini. Disana mereka menemukan beraneka alat dan perlengkapan, namun tidak ada perangkat yang jelas-jelas digunakan untuk memerah sapi mahabesar.
Ada tong kosong dimana-mana, di dalam dan di luar lemari, yang menurut tebakan Agent Grapes pasti digunakan untuk menampung susu. Dalam salah satu lemari, Agent Grapes berhasil menemukan satu tangga lipat.
“Oh, aku menemukan tangga disini!” Baek Saheon berteriak dari seberang ruangan menemukan hal yang serupa.
Agent Choi mendekat dan mengambil satu tangga dari lemari yang ditunjuk Baek Saheon. Ia mengangkat tangga itu dengan enteng di pundak.
“Podoya, hanya ini yang diperlukan?”
“Lalu bagaimana kita bahkan akan melingkarkan tangan ke sekeliling benda itu?” Agent Bronze bertanya-tanya.
“Kita tak mesti melakukannya.”
“Podoya, pasti ada mesin pemerah raksasa di sekitar sini.”
“Agent Choi, aku tidak melihat apapun yang seperti itu. Tapi mungkin pemerahan akan berhasil jika kita semata memeluk dan menjatuhkan diri.”
“Wah, kau ini gila apa?!”
“Kenapa tidak?” Agent Grapes menatap Baek Saheon dengan dingin. Ia pun memberi isyarat ke antara puting dan lantai. “Tidak terlalu jauh dari puting ke tanah.”
Agent Bronze menyela. “Tunggu— Kita tidak menggunakan tong dibawahnya?”
“Tidak. Kita tidak boleh membuang-buang susu, menampung dan membiarkannya basi. Kita hanya perlu mengendurkan ketegangan untuk menyelesaikan Darkness ini.”
“Agent Grapes, bagaimana jika dia menginjak kita?”
“Ya! Jika semisal sapi raksasa ini tiba-tiba mengamuk?”
“Sapi ini nyaris tidak punya ruang untuk bergerak. Kalau kita tetap bertahan dibawah ambing, kita akan baik-baik saja.”
“Benar kata Podo, Saheon-ssi. Paling tidak kita harus mencoba. Jadi, kita hanya perlu peluk benda itu dan meluncur ke bawah?”
“Hm. Gimana kalau kita menyakitinya?”
“Menurutku kita tidak cukup besar. Citizen, aku lebih cemas kalau-kalau pelukanmu takkan bisa mengeluarkan susu sama sekali.”
Baek Saheon langsung terdiam. Mulutnya berkedut-kedut.
“Jadi, kita harus meremas sekeras yang kita bisa,” Agent Bronze mengonfirmasi.
“Tentu saja. Kita berempat akan bergantian karena tangga hanya ada dua. Kemudian setelahnya akan kita garap sisi yang satunya lagi. Setelah 2 orang pertama melakukannya, kita tinggal terus melanjutkan secepat yang kita bisa dan oper ke orang berikutnya. Seperti permainan ‘tag’.”
Dengan instruksi yang jelas ini, mereka akhirnya mencapai kesepakatan bersama.
“Lalu, cara untuk menentukan siapa bakal jadi yang pertama?”
.
.
.
“Jancuk!”
Tak lama kemudian, cercaan kasar yang tertahan di ujung lidah Baek Saheon meledak keluar.
Setelah permainan rock, paper, and scissor, Baek Saheon dan Agent Bronze yang mengeluarkan ‘paper’ akan yang menjadi pertama meloncat dan kemudian disusul oleh Agent Grapes dan Agent Choi yang mengeluarkan ‘scissor’, untuk mencapai keberhasilan. Hal ini dilakukan untuk menghemat tenaga. Akhirnya, mereka berempat menyeret tangga masing-masing ke posisi, satu-satu di sebelah puting yang terletak di salah satu sisi tubuh si sapi seukuran mammoth. Baek Saheon dan Agent Bronze memanjat tangga. Hanya dengan berdiri satu anak tangga dari puncak mereka sudah cukup tinggi untuk mencengkeram puting di dekat ambing.
Agent Bronze berdiri menunggu sementara Baek Saheon berusaha menyesuaikan posisi.
“Rasanya goyah…”
“Citizen, seimbangkan!” Agent Bronze berseru dari seberang.
“Huh…? Kalau dilihat-lihat dari dekat—”
Dengan ragu-ragu, Baek Saheon menempelkan tangannya ke ambing besar itu. Si sapi melenguh, dan Baek Saheon tersentak, berjongkok dan mencengkeram tangga dengan kedua tangan untuk menyeimbangkan diri. Agent Bronze mencoba untuk menjaga keseimbangan sambil menutup telinga, dibantu oleh Agent Grapes yang memegang tangga dibawahnya. Sedangkan Agent Choi kemudian tertawa sekencang-kencangnya selagi melakukan hal yang sama.
Sesaat setelah lenguhan sapi besar sekeras peluit kapal itu berhenti, Agent Grapes merasa gendang telinganya benar-benar akan pecah jika sapi itu melenguh sekali lagi.
“Mati aku, mati aku…”
“Hahaha! Baek Saheon-ssi, kalau kau jatuh aku akan menangkapmu. Jangan kuatir!”
“Gimana kalo kau saja yang mulai?!”
Mendengar ejekan itu, Baek Saheon langsung berdiri lagi. Ia hampir saja terjatuh dan mengompol di celana pada saat yang bersamaan. Ia menggerutu kesal dan segera menenangkan hati agar tidak dipermalukan lebih lanjut. Lengan bajunya, yang terbalut kaos lengan panjang, kemudian digulung sampai sikut. Ia bergidik membayangkan kulitnya menyentuh ambing-ambing itu. Bayangkan rasanya seperti menyentuh permukaan yang kasar dan sedikit lembut. Maka apa yang akan kulakukan tidak akan separah itu, kan?
“Dalam hitungan ketiga, kita sama-sama loncat dan meluncur.” Agent Bronze menatap Baek Saheon yang ada di hadapannya. Baek Saheon mengangguk setuju.
“1…”
“2…”
“3!”
“Argh!!”
Dari atas sana, Baek Saheon dan Agent Bronze meninggalkan tangga, menempelkan seluruh badan mereka ke puting besar itu. Muka mereka pucat pasi, namun muka Baek Saheon malah lebih parah. Mereka meluncur menuruninya dan jatuh ke lantai disertai semburan dahsyat susu. Susu segar itu secara mubazir tergenang di lantai.
“Giliran kalian!”
Agent Choi menggiring tangga ke puting sebelah dan segera menaiki tangga dan menyeimbangkan diri. Ia melihat Baek Saheon yang terjungkal di bawah dan menggeleng-gelengkan kepala. Melihat bahwa 2 orang dibawah sudah menyingkir, langsung bersiap-siaplah;
“Giliran kita. Podoya, kau siap? Akan kuhitung sampai tiga.”
Agent Grapes ragu untuk berdiri tegak sama seperti Baek Saheon tapi dengan cepat pulih. Karena ini bukan ghost story yang menakutkan. Di atas tangga ini, tidak ada yang bisa menyakitinya. Aku hanya perlu menyesuaikan tenagaku sedemikian rupa agar tidak menyakiti makhluk ini. Rasanya berdiri di atas sini jauh lebih tinggi daripada yang terlihat dari tanah. Kemudian angannya tersentak oleh hitungan mundur dari Agent Choi.
“1… 2… loncat!”
Kedua agent itu secara serentak melangkah dari tangga dan memeluk kelenjar susu sapi itu. Bahkan meskipun Agent Grapes memeluknya erat-erat, puting tersebut menggelincir dalam rengkuhannya lebih cepat daripada yang dia perkirakan. Ia juga berhasil mengeluarkan tenaga secukupnya untuk memerah sapi. Agent Grapes menabrak lantai dengan kedua kakinya, susu hangat sudah membasahi celana hitam dan sebagian terciprat ke jaket birunya.
Agent Grapes dan Agent Choi dalam perjalanan kembali menaiki tangga.
“Aku sudah jijik,” kata Baek Saheon, melangkah menuju tangga dan meluncur ke bawah lagi.
Kali ini Baek Saheon memeluk sekeras yang dia bisa, dia turun sedikit lebih pelan, namun masih terjungkal saat dia menabrak lantai. Susu sudah berhamburan dimana-mana.
Tidak lama sampai mereka jatuh sesuai irama tertentu, mereka semua mendarat di atas kedua kaki sebagian besar waktu untuk mencegah lebih banyak susu menempel di baju mereka, namun sia-sia. Ambing yang menggembung menggelayut rendah.
Para agent dengan jaket biru yang telah penuh oleh noda susu berbincang kasual layaknya ini merupakan kejadian sehari-hari, cuman disekeliling mereka terdapat genangan putih susu di lantai dan sapi dengan badan kolosal yang mengunyah jerami. Mereka sedang istirahat 5 menit untuk menunggu Baek Saheon yang sedang muntah-muntah di ujung ruangan dekat lemari karena muak bau susu.
“Agent Choi, kau sangat jago dalam hal semacam ini.”
“Itu betul, aku sering memerah sapi raksasa. Akan kutunjukkan pialaku kepadamu kapan-kapan!”
“Kita tinggal terus melanjutkan secepat yang kita bisa.” Agent Bronze bergabung dalam percakapan.
“Dan seandainya suatu saat aku menemukan piala memerah susu sapi raksasa, akan kubelikan untukmu juga, Jaekwan-ah!”
“Aku lebih memilih agar kau menyimpan uangnya untuk kepentingan lebih mendesak, Agent.”
“.…aku kembali…”
“Wajahmu terlihat buruk, citizen…”
“Tidak apa. Aku, uhuk, baik-baik saja, ughh, sekarang. Mari kita akhiri secepat mungkin.”
“Baiklah, kali ini Baek Saheon-ssi loncat bersamaku! Podoya, kau gantian dengan Agent Bronze!” Agent Choi yang senantiasa ceria itu menekan lehernya yang kaku kekanan dan ke kiri sampai berbunyi krek krek.
“Eh? Lalu rock, paper, and scissor tadi… buat apa?”
“Buat apa lagi? Buat seru-seruan tentunya!”
“Oh.” Mulut Baek Saheon lagi-lagi berkedut kencang.
Dalam kurun waktu yang sempit itu, mereka menjadi lebih lihai dalam menggunakan pelukan ambing untuk mengendalikan kejatuhan mereka. Susu menyembur melimpah ruah. Selagi mereka bergantian meluncur, puting-puting menyemprotkan susu seperti selang pemadam kebakaran. Paling tidak mereka melompat masing-masing 54 kali sebelum keluaran mulai berkurang. Inilah kenapa badan segar bugar dibutuhkan untuk pekerjaan fisik seberat ini.
“Agent Podo, sisi satunya lagi,” Agent Bronze tersengal-sengal.
“Ya.” Agent Grapes bernapas kencang.
“Wow. Lenganku mati rasa. Haha…”
Ia juga melihat Agent Choi yang mulai kelelahan nyaris tak mampu mempertahankan senyuman khasnya. Sementara Baek Saheon, dikarenakan tubuhnya yang jauh lebih kurus dibandingkan kedua Agent, ia yang pertama ambruk dan terduduk diam dekat tangga. Agent Grapes dirinya masih sanggup, akan tetapi ia merasa hampir mencapai batas juga.
“Agent Bronze, Agent Choi, kita harus bergegas. Citizen, kau masih sanggup?”
“Ya.”
Ada sedikit jeda saat Baek Saheon menjawab pertanyaan Agent Grapes, namun ia berhasil mengangguk. Dengan menumpu badannya dengan tangan, ia berdiri untuk menaiki tangga. Kali ini, Baek Saheon dan Agent Grapes bersama-sama siap-siap untuk meluncur. Kemudian Agent Bronze dan Agent Choi dengan sigap menggeser tangga dan mengulangi proses tersebut lagi dan lagi.
Kim Soleum berusaha berpura-pura dirinya tengah berada di taman bermain surealis, tempat anak-anak mengarungi susu alih-alih pasir dan meluncur menuruni tiang tebal berdaging.
Kim Soleum memusatkan perhatian untuk memanjat tangga dan mendarat seringan mungkin. Dia khawatir seandainya masing-masing tindakan tersebut menjadi rutinitas semata, dia bisa saja mengalami kecelakaan parah, pergelangan kaki terkilir, patah tulang, atau hal lebih buruk. Semuanya pun nge share pikiran yang sama.
Pada tanda pertama ketika aliran dari kelenjar susu menipis, mereka roboh kelelahan, tidak khawatir soal berbaring di kolam susu karena pakaian serta rambut mereka sudah basah kuyup. Bahkan ada susu yang masuk ke dalam mulut mereka dan tidak sengaja terminum. Rasa lengketnya mirip seperti sehabis bergulat di lumpur kotor, namun jauh lebih memuakkan. Untungnya Darkness ini tidak berbahaya dan tugas mereka hanyalah memerah susu sapi raksasa hingga selesai.
Agent Bronze mengangkat badannya dan duduk, kepalanya tergantung ke bawah. Kemudian tak jauh disamping, Baek Saheon mereguk udara dengan putus asa sambil terbaring di lantai. Ia bahkan tidak bisa menutup mukanya karena semua yang ia pegang bekas susu dan menahan rasa mual yang kembali datang ke tenggorokan. Lalu Agent Choi duduk agak jauh dimana tempat pedang besarnya bersandar. Punggungnya yang lelah ia rebahkan ke dinding kayu, lalu menyadari kondisi tangannya. Ia tak ingat bagaimana robekan besar di sekitar lengan bajunya itu bisa muncul. Ah, betapa merepotkannya nanti saat mencuci pakaian yang berbau susu menyengat ini.
Agent Grapes yang masih ada sisa tenaga bersukarela mengembalikan tangga-tangga ke tempatnya. Setelahnya, sembari terbaring lemas di dinding tak jauh dari Agent Choi, ia meletakkan tangan ke tempat jantungnya berada. Jantungnya berdentum-dentum bagaikan bor di telinga dan dada karena olahraga fisik berlebihan ini.
“Kukira aku juga bakal muntah. Yang tadi itu menjijikkan sekali.”
“Kita sangat kelelahan…”
“Our youngest, tak kelihatan begitu lelah, tuh? Haha. Pikirkan saja. Susu hangat mentah menetes-netes dari tubuhmu sementara wajahmu menggosoki puting sapi sebanyak kira-kira 100 kali.”
“Lebih dari itu.”
“Pokoknya itu adalah olahraga terbaik yang pernah kulakukan. Rasanya aku bakal mati kehabisan tenaga! Seandainya aku melakukan ini setiap hari aku akan terlihat seperti hercules!”
“Agent Choi mau sekekar apapun ya tetap Agent Choi…”
“Itu benar.” Agent Choi duduk tegak dan berusaha memeras susu dari rambutnya.
Beberapa saat kemudian, Agent Bronze dan Baek Saheon yang akhirnya pulih sedikit dan bisa berjalan berjalan menghampiri mereka berdua. Susu putih menitik di sekujur tubuh mereka.
“Kita membasahi seisi lumbung.”
“Uwek… aku takkan pernah minum susu lagi.”
“Aku takkan pernah pergi ke taman bermain lagi.”
“Random amat?”
“Kau bilang apa Podoya?”
“Susah dijelaskan.”
Agent Grapes mengamati area di bawah sapi.
“Ada saluran pembuangan air di lantai, tapi kupikir tidak banyak susu yang mengalir ke bawah.”
“Aku ragu si sapi akan menyukai susu basi di sepenjuru tempat ini…”
“Agent Podo, aku melihat selang tadi dekat kotoran sapi.”
“Hanya satu?” Agent Choi menatap Agent Bronze dengan mata berbinar-binar.
.
.
.
Agent Bronze pun menyemprot susu dengan selang yang barusan ia ambil. Selang tersebut sangat panjang dan punya tekanan air yang bagus, dan saluran pembuangan air tampaknya berkapasitas besar. Mengguyur susu rupanya merupakan bagian yang termudah dalam proses tersebut. Sejak saat susu mulai mengalir dengan deras, si sapi tidak bersuara lagi dan tidak menunjukkan ketertarikan pada mereka.
“Saheon-ssi, terima ini!”
“Uwaakk!!”
Tanpa diminta, Agent Choi menyemprot Baek Saheon dengan selang satunya yang dibawanya, katanya sih untuk membalas bantuan yang diberikan, sekalian membantu Agent Bronze. Menghilangkan bau susu dipakaian, menguapkannya diudara.
“Podoya, kemarilah. Ayo mandi bareng.”
Agent Grapes mendekat dan Agent Choi mengecilkan tekanan semprotan agar tidak sakit dan menyiram Agent Grapes dengan selang dari kepala hingga ke ujung kaki.
Melihat ketidakadilan itu, Baek Saheon berseru, “Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama kepadaku?”
“Maaf, tapi Podoya itu anggota kami tersayang jadi perlakuannya lebih lembut, Saheon-ssi.”
“Alasan macam apa itu!”
Agent Grapes yang menguras sisa air di jaket dan celana sambil memperhatikan Agent Bronze yang masih menyiram lantai dengan rajinnya di kejauhan. Lantas, ia teringat akan suatu hal.
“Agent, bagaimana soal baju cadangan?”
“Oh, itu… kita tak pernah punya baju cadangan. Karena belum dipesan.”
“Maaf…?”
“Maksudmu kita harus pulang dalam kondisi seperti sekarang ini?!”
Ini kacau. Benar-benar kacau.
“Agent, tugasku membersihkan segalanya sudah selesai… Uhh, apa yang barusan kalian bicarakan?” Agent Bronze yang datang terlambat menyaksikan keputusasaan dua orang disertai satu tawa canggung seorang pria di antara mereka.
Rasa lelah dan lapar pun muncul. Tanpa disadari, cahaya siang tengah meredup dan Darkness yang mereka kerjakan berakhir. Sayangnya, satu masalah lagi muncul dan keempat pria ini berjalan pulang dengan pakaian basah kuyup, tubuh menggigil dan pilek. Anehnya bau susu itu terus tercium disepanjang jalan pulang.
—TAMAT—
(info tambahan: Konon katanya, pemilik dari peternakan sapi raksasa ini dimiliki oleh seorang alien dari luar angkasa... Tujuannya tidak diketahui. Namun satu hal yang pasti, susu yang dihasilkan selalu mereka jual dengan harga tinggi di pasaran karena kualitas susu sapi yang rasanya seperti wine)
