Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-08
Words:
1,367
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
103
Bookmarks:
4
Hits:
663

Malam Ini, Kita Bercumbu

Summary:

Yudistira baru pulang dari Surabaya. Arjuna merindukan kekasihnya, begitu pun Yudistira.

Work Text:

Yudistira baru saja pulang dari Surabaya. Arjuna menunggu di rumah, sepulang bekerja. Maniknya tak menangkap keberadaan sang kekasih ketika pintu rumah ia buka. Ruang tamu, dapur, kamar mandi—tak ia temukan sama sekali keberadaan Arjuna.

Panik sedikit raut muka Yudistira. Hanya dua hari dia menginjakkan kaki di Surabaya, tak mungkin kan Arjuna berpindah hati ke orang lain? Atau mungkin Arjuna diculik oleh komplotan mafia ternama yang tidak sengaja Yudistira pergoki perbuatannya? Tapi, kalau Yudistira yang berbuat, kenapa Arjuna yang diculik?

Lamunannya mendadak pecah ketika dia ingat bahwa dia belum mengecek kamar utama. Yudistira bergegas naik tangga, melihat apakah kekasihnya masih ada atau benar-benar diculik mafia.

Pintu kamar setengah terbuka. Yudistira menaruh tasnya di lantai begitu saja ketika melihat lelakinya pulas menutup mata di ranjang mereka. Belum mandi dari pagi, belum gosok gigi, tapi Yudistira berjalan mendekat dan mendudukkan diri di ujung ranjang. Tak mengindahkan tasnya yang tergeletak di depan pintu—barangnya ada yang jatuh karena resletingnya sudah rusak dari lama—Yudistira merebahkan diri di samping Arjuna. Kepalanya mendusal di leher kekasihnya, tangannya genggam pinggiran kaos milik Arjuna.

“Mamas sayang ….” bisik Yudistira.

Arjuna masih menutup mata, namun jelas terlihat kalau pipinya merona. Arjuna sudah bangun, Yudistira tau sekali. Namun, Yudistira itu jahil setengah mati, jadi dia memutuskan untuk menggoda Arjuna lagi.

“Mamas … tidurnya nyenyak banget ya,” ia beri jeda pada kalimatnya.

“Mamas … adek udah pulang … bangun dong ….”

“Mas Juna …?”

Rupa cantik Yudistira mendekati wajah Arjuna. Kedua tangannya berpindah, dengan nyaman bertengger di pundak Arjuna. Yudistira mengecup bibir Arjuna sekali. Kemudian lagi. Dan lagi. Lalu sekali lagi. Hingga Arjuna membuka matanya karena merah di pipinya menjalar hingga telinga.

“Yudis.”

“Iya, mamas sayang?”

Suara Yudistira mendayu. Sungguh, kalau Arjuna tidak mampu, habis Yudistira sekarang di atas ranjang. Untungnya, Arjuna paham betul kalau Yudistira baru menginjakkan kaki lagi setelah dua hari menghabiskan waktunya di luar kota.

“Bangun, kamu belum mandi ‘kan?”

Yudistira menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Arjuna.

“Belum mandi tapi berani-beraninya cium aku.”

Yudistira tau kalau kata-kata itu hanya gertakkan tak berisi dari sang kekasih hati. Senyumnya lebar sekali mendengar ucapan Arjuna setelah sekian hari.

“Berarti kalau udah mandi, boleh cium?”

Pertanyaan Yudistira sesungguhnya tidak perlu Arjuna jawab. Semua tau jawabannya pasti diperbolehkan. Namun, Arjuna mendudukkan diri dan kemudian berdiri. Yudistira masih nyaman tergolek di ranjang mereka. Arjuna genggam pergelangan tangan Yudistira.

“Mandi, terus makan.”

Yudistira beranjak duduk, tapi enggan untuk berdiri.

“Habis itu, boleh cium?”

Arjuna menghela nafas. “Habis mandi makan dulu, Yudis.” lalu tangannya menarik pergelangan Yudistira untuk berdiri.

“Tapi boleh cium Mas Juna kalau udah mandi dan makan?” tanya Yudistira sembari berdiri, mengikuti arah Arjuna untuk ke kamar mandi.

“Iya, Yudis. Boleh.”

Akhirnya Arjuna jawab juga pertanyaan kekasihnya—yang sebenarnya tidak perlu. Namun Yudistira selalu keras kepala; dan Arjuna selalu mau untuk menyisihkan sebagian kesabaran untuk mencintai kekasihnya selamanya.

Yudistira menanggalkan atasannya di depan Arjuna, membuat laki-laki itu membuang muka. Senyum Yudistira tengil dan menyebalkan menurut Arjuna—namun sama sekali Arjuna tidak dapat menolak untuk mencintai.

“Aku angetin makanannya dulu, ya.”

Arjuna membalik badan, bersiap untuk meninggalkan kamar mandi untuk menuju dapur. Tapi, ujung pakaiannya digenggam oleh Yudistira. Arjuna menengok sebentar, melihat kekasihnya masih dengan senyuman bodoh menatapnya.

“Mandi bareng?”

Sejenak Arjuna terhenyak dengan pertanyaan sang kekasih. Dan Arjuna gelengkan kepala.

“Mandi sendiri, Yudis.”

Mengerutlah raut wajah si Yudistira.

“Kok nggak mau mandi bareng?”

Arjuna hela nafasnya ringan. Dia berbalik kembali menghadap Yudistira.

“Kamu belum makan,” ujar Arjuna. “Kamu makan dulu.”

“Aku mau makan Mas Juna.”

Pernyataan itu dihadiahi sentilan di dahi Yudistira. Tidak lembut sama sekali. Yudistira memegang dahinya, bibirnya mengerucut kesal.

“Makan yang bener, Yudis. Kamu di Surabaya pasti makannya kalau laper doang, dan kamu jarang laper,” Arjuna menjeda. Dia mengelus permukaan dahi Yudistira yang sebelumnya mendapat sentilannya. “Makan nasi dulu.”

“Habis itu makan Mas Juna?”

Arjuna menghela nafas lagi.

“Engg—”

“Mau makan Mas Juna.”

“Yudistir—”

“Nggak mau mandi dan makan kalau nggak makan Mas Juna.”

Rasanya Arjuna pusing sekali melihat anak ini bersikeras untuk ‘memakan'-nya.

“Iya.”

Satu pernyataan final Arjuna membuat Yudistira tersenyum lebar dan menutup pintu kamar mandi. Arjuna melangkahkan kaki menuju dapur untuk memanaskan makanan yang sedari tadi ingin ia lakukan.

Arjuna sangat rindu sekali. Dua hari tanpa Yudistira, rumah itu terasa dingin dan sepi. Arjuna mengerti bahwa Yudistira bukannya pergi ke Surabaya dengan kemauannya sendiri, namun tuntutan pekerjaan yang membuatnya terpaksa meninggalkan Arjuna selama dua hari.

Dua hari jam tidur Arjuna sudah acak-acakan. Pekerjaannya belum selesai, dan Yudistira adalah orang yang selalu mengingatkannya untuk istirahat. Tanpa Yudistira, Arjuna selalu menenggelamkan dirinya di antara tumpukan kertas-kertas penting milik klien. Tanpa Yudistira juga, tidurnya tidak pernah nyenyak. Dua sampai tiga jam memejamkan mata, dan Arjuna bangun kembali, menghampiri tugas-tugasnya—begitu terus hingga hari kedua.

Lelahnya Arjuna bertumpuk, namun kehadiran Yudistira seakan mengaburkan semuanya. Arjuna baru tidur selama kurang lebih 30 menit sebelum kedatangan Yudistira dari Surabaya. Rasanya hangat sekali ketika Yudistira menjatuhkan diri di sampingnya, mendusalkan kepalanya di leher Arjuna. Sungguh, Arjuna langsung bangun seratus persen ketika Yudistira datang—namun instingnya mengatakan untuk tetap diam dan menutup mata sementara.

Setelah menghangatkan makanan, Arjuna kembali ke atas untuk membereskan kekacauan yang baru saja Yudistira perbuat—menjatuhkan tas selempangnya di lantai. Arjuna sudah tau kalau tas itu sudah busuk dan siap diganti, apalagi resletingnya sudah tidak dapat ditutup lagi. Namun, ketika Arjuna memberikan tangkapan layar soal tas-tas yang menurutnya cocok dengan gaya Yudistira, lelaki itu selalu menolak dan beralasan, “Tasnya masih bagus kok, ini ‘kan Mas Juna kasih pas aku ultah sebelum pacaran.”

Arjuna berkali-kali mengingatkan kalau dia bisa memberikan seribu tas lagi untuk Yudistira. Namun, Yudistira selalu menolak. Yudistira bisa saja membeli sendiri, mengingat dia adalah penyanyi yang biasa diundang kemana-mana. Namun, Yudistira tidak pernah mau meskipun dia mampu. Arjuna tidak mengerti kenapa; bahkan, tas dari Bima—rekan mereka—masih terpajang apik di lemari tanpa pernah dipakai Yudistira.

Selesai membereskan barang-barang Yudistira, Arjuna kembali ke dapur. Mendapati sang kekasih sudah duduk manis di meja makan, bermain dengan gim di ponsel milik Arjuna.

Arjuna berjalan mendekati, mengelus kepala Yudistira sebelum duduk di samping lelaki itu. Yudistira menutup aplikasi permainan menyusun blok di ponsel Arjuna dan tersenyum menatap kekasih hatinya.

“Suapin.”

Nada Yudistira selalu begitu. Menyuruh dan tengil, namun Arjuna tidak sanggup mengatakan tidak.

Diseretnya mangkuk berisi nasi putih. Arjuna menyiramnya dengan sayur bening yang dia beli tadi sore. Tak lupa tangannya juga mendorong piring berisi bakwan dari Bima yang masih belum Arjuna makan.

“Pegang sendiri bakwannya.”

Yudistira menurut. Dipegangnya bakwan itu dengan tangan kanan. Arjuna menyendok nasi dan kuah dari mangkok, menyuapi Yudistira dengan telaten. Temaram lampu dapur membuat suasana semakin hangat. Yudistira menggigit bakwannya setelah dia selesai mengunyah setengah suapan dari Arjuna.

Arjuna menyuapi sang kekasih sampai nasi di mangkok itu terkuras habis. Ia hendak berdiri, menaruh mangkuk itu di wastafel, sebelum Yudistira menarik kerahnya dan mengecup bibirnya. Arjuna hilang keseimbangan. Mangkuk di tangannya jatuh ke lantai—yang untung saja mangkuk itu berbahan plastik, tidak menimbulkan banyak kekacauan.

Arjuna ingin melempar protes, namun Yudistira menciumnya lagi. Kali ini lebih dalam dan hangat. Tangan Yudistira melingkar di sekitar leher Arjuna. Dikecapnya bibir rasa sayur bening dan bakwan itu dengan lembut. Saling lumat dengan hangat, berbagi kerinduan yang mereka tahan selama dua hari lamanya.

Tangan Arjuna bergerak memeluk pinggang Yudistira. Matanya menutup seiring ciuman mereka membuncah bahagia. Wajahnya merona hingga telinga. Tangannya mendekap kekasih kecilnya semakin dekat. Hingga akhirnya ciuman itu terhenti ketika bel pintu berbunyi. Entah siapa yang mendatangi mereka di malam hari.

Yudistira memberikan kecupan penutup di bibir Arjuna yang sedikit mengkilap basah dan beranjak berjalan menuju pintu depan. Arjuna menggelengkan kepalanya heran. Diambilnya mangkuk yang tadi jatuh ke lantai dan berjalan ke wastafel, mencuci piring dan sisa-sisa makan malam Yudistira dengan tenang.

Ketika sibuk membilas, dua tangan hangat memeluknya dari belakang. Yudistira mendusalkan kepalanya di tengkuk Arjuna, membuat lelaki itu tertawa kecil.

Selesai mencuci, Arjuna membalik badan, balas memeluk Yudistira.

“Tadi siapa?” Arjuna melempar tanya.

Yudistira menjawab dengan setengah jelas. “Bang Sadewa, cuma nanyain Bima ada di sini apa enggak, terus pergi pas aku bilang nggak ada.”

Arjuna mengangguk. Dielusnya pucuk kepala Yudistira dengan lembut.

“Mau tidur, nggak?”

Yudistira balas dengan gelengan. Air muka Arjuna terlihat bingung. Dia melempar tanya sekali lagi, “Kenapa?”

“Katanya aku boleh makan Mas Juna kalau udah makan beneran.”

Dan pernyataan itu yang menggunggah kesadaran Arjuna. Kekehan kecil keluar dari mulutnya. Arjuna mencium rambut kekasihnya.

“Yaudah, ayo pindah ke kamar.”