Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-05
Completed:
2026-03-05
Words:
9,107
Chapters:
20/20
Kudos:
30
Bookmarks:
1
Hits:
454

The Things We Never Said

Summary:

Sejak kecil, Diraya dan Jiro tumbuh berdampingan—terlalu dekat untuk dipertanyakan, terlalu akrab hingga tak sadar bahwa perasaan bisa berubah bentuk. Apa yang disimpan tidak pernah benar-benar hilang, namun ia hanya menunggu celah untuk kembali terasa.

Di tengah jarak yang sengaja diciptakan demi menjaga segalanya tetap aman, Sanubari hadir dengan cinta yang tenang dan tulus, serta Yasha yang tanpa sadar salah menafsirkan perhatian.

Notes:

Dohoon as Diraya
Jihoon as Jiro
Shinyu as Sanubari
Youngjae as Yasha

Haepdo, Nitdo, Haepjae

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Never

Chapter Text

𝗗𝗶𝗿𝗮𝘆𝗮 𝗽𝗼𝘃

Jiro ada sejak aku kecil.
Bukan sebagai seseorang yang datang lalu pergi, tapi sebagai sesuatu yang selalu tinggal—seperti udara yang tak pernah kupikirkan, tapi akan langsung kurindukan saat hilang.

Kami tumbuh bersama. Dari seragam yang berganti ukuran, bangku sekolah yang berubah, sampai mimpi-mimpi kecil yang pelan-pelan menua. Terlalu lama sampai kehadirannya terasa normal. Terlalu dekat sampai aku lupa sejak kapan perasaan itu berubah bentuk.

Aku menyukainya sejak SMA.
Diam-diam.
Seperti rahasia yang bahkan tak berani kuakui pada diriku sendiri.

Jiro adalah tipe orang yang mudah membuat orang nyaman. Senyumnya ringan, tawanya keras, perhatiannya sering datang tanpa diminta. Dia selalu tahu kapan aku kelelahan, kapan aku terlalu banyak berpikir. Dan aku selalu ada di sana—mendengarkan ceritanya, menunggu di sampingnya, berharap tanpa pernah benar-benar berharap.

Aku pikir perasaan itu aman selama tetap disimpan.

Sampai semester tiga.

Hari itu sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang akhirnya menghancurkan banyak hal. Anak-anak bercanda, tertawa terlalu keras, lalu seseorang melempar kalimat itu begitu saja.

"Jiro kayaknya suka Dira, deh.”

Aku ingat jantungku berhenti sepersekian detik.
Aku juga ingat caraku berpura-pura biasa saja.

Jiro tertawa. Tawa yang cepat, ringan—terlalu ringan.

"Aku suka sama dia?” katanya, masih tersenyum.
“𝘕𝘦𝘷𝘦𝘳.”

Satu kata.
Pendek.
Jelas.

Aku ikut tertawa. Bahkan sempat mengangguk, seolah itu lelucon yang memang pantas ditertawakan. Tidak ada yang tahu betapa dadaku terasa sesak saat itu. Tidak ada yang melihat tanganku gemetar pelan di bawah meja.

Hari itu aku belajar sesuatu yang penting:
bahwa harapan bisa mati tanpa suara.

Sejak saat itu, aku mulai menjaga jarak. Bukan secara fisik—aku masih ada di sana, masih berjalan di sampingnya, masih tertawa di waktu yang tepat. Tapi ada bagian dari diriku yang perlahan menghilang. Bagian yang dulu berharap dipilih.

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti berharap.

Aku mengubur perasaan itu pelan-pelan.
Menimbunnya dengan waktu, logika, dan keyakinan bahwa tidak semua hal harus diperjuangkan.

Dan Jiro—
tetap ada.
Tetap dekat.
Tanpa pernah tahu bahwa satu kata darinya telah mengubah caraku mencintai selamanya.