Work Text:
Ada satu bangku di kelas yang selalu tersusun agak miring.
Bangku itu tidak rusak. Hanya saja, salah satu kakinya memiliki tinggi yang sedikit berbeda. Akibatnya jika didorong atau ditarik, suaranya akan membuat gesekan halus yang nyaris tak terdengar. Arjuna tahu ini. Karena setiap pagi, ialah yang selalu datang dan merapikan bangku tersebut sebelum bisa duduk.
“Aku lupa kapan aku mulai ngerapiin ginian.”
Kelas baru saja dimulai sekitar dua menit lalu. Guru memanggil nama-nama murid dan mengabsen, satu per satu. Tentu saja Arjuna tidaklah perlu repot menghitung, ia selalu tahu kapan harus mengangkat tangannya. Namanya selalu yang terakhir di urutan absen.
Sampai tiba giliran namanya dipanggil, ia angkat tangan dan menjawab,
"Hadir."
Entah mengapa, suasana kelas terasa sedikit hening dan menyesakkan, ada jeda tertahan dan ekspresi guru yang anehnya tak bisa ia baca ataupun mengerti. Guru itu sontak menutup buku absennya, dan kelas langsung terlepas dari hening yang bisa dikatakan canggung tadi. Yah, Arjuna sebenarnya sudah biasa dikucilkan. Yang terpenting toh pelajarannya dimulai, ia langsung membuka buku pelajarannya, memfokuskan perhatiannya pada materi yang disampaikan.
Di kelas, Arjuna jarang mengobrol atau bergaul. Bukan berarti ia sombong atau tidak mau, walaupun ia mengakui dirinya cukup cerdas ditambah dengan nilai-nilai nya yang bisa dikatakan hampir selalu sempurna. Hanya saja... tidak ada yang perlu dibahas atau dibicarakan dengan siapapun. Lagipula, siapa yang benar-benar pernah peduli? Selain itu, Arjuna cukup nyaman menjadi seorang individualis.
˖ ݁𖥔 ݁˖ ☀️🎶 ˖ ݁𖥔 ݁˖
Waktu seolah tak terasa, jam pelajaran bergantikan dengan jam istirahat.
Arjuna meregangkan badannya yang dirasa kaku, lalu segera bangkit dari bangkunya dan meninggalkan kelas. Sebenarnya, Arjuna tak punya arah tujuan pasti. Seolah terbawa arus, ia berjalan-jalan melewati lorong sekolah yang panjang dan ramai dikelilingi siswa-siswa lain.
"Serius? Parah banget!"
Entah apa yang menggerakkan isi hati Arjuna, langkahnya terhenti sejenak untuk sedikit mendengar. Bukannya ia tertarik, sih.
"Denger-denger sih dia emang tiba-tiba hilang gitu aja. Terus setelah hilang tanpa kabar tuh ada yang bilang dia masuk rumah sakit, nggak tau kenapa. Mungkin dia ada penyakit?" Murid itu bicara pelan seolah berbisik, padahal terdengar sangat jelas loh.
"Hah! Masa seh? Bukane arek iku ancen pindah gara-gara sering ribut karo tukaran ya?" Yang lain coba membantah.
Oh, Kalau ia tak salah ingat, rumor itu sudah lumayan lama beredar di sekolah, sekitar seminggu mungkin? Kabarnya ada beberapa siswa yang terkenal tak pernah bermasalah, tiba-tiba saja tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya baik di sekolah ini maupun diluar. Terakhir kali, mereka sepertinya terlibat suatu kasus yang tidak diinginkan. Arjuna tidak tahu banyak, bukan urusannya pula untuk mengingat. Yang jelas, Arjuna hanya sering mendengar potongan kalimat dan bisikan lainnya secara kebetulan, tapi tidak pernah ikut untuk menanggapi. Ada hal-hal yang sebaiknya memang tidaklah perlu dicampuri, apalagi jika itu tidak ada kaitannya dengan kita sama sekali. Cukup tahu sampai batas tertentu saja.
Gosip atau rumor memang selalu ada, dan akan selalu jadi yang tidak akan pernah ada habisnya untuk diangkat menjadi sebuah perbincangan. Memang, sikap dasar manusia adalah selalu ingin tahu. Namun sayangnya, tidak sedikit juga orang-orang yang terlalu cepat untuk menyimpulkan. Pada akhirnya, seringkali akan berpotensi menjadi tuduhan atau fitnah yang tidak bermoral.
Tidak ada bagusnya berlama-lama di lorong ini. Segera, ia melanjutkan langkahnya.
DUK
Pada akhirnya, Arjuna menempati dirinya di area yang setidaknya tidak banyak orang, ia duduk di bangku taman samping sekolah. Hari ini cuacanya lumayan cerah, tapi untungya tidak panas. Sebentar, ia Cuma melamun, pikirannya seolah melayang, sebelum kemudian perhatiannya langsung teralihkan oleh seekor kucing oren yang tiba-tiba mendekat dan menggesekkan kepala di sampingnya.
"Meong~"
"Wah, sayang banget... maaf ya, tapi aku nggak ada makanan buatmu, meng."
Kucing itu tetep bersandar, tangan Arjuna pun terangkat untuk mengelus-elusnya seolah tak tahan.
"Dia kayaknya suka sama kamu, ya?"
Tanpa disadari, seseorang tiba-tiba telah duduk di samping Arjuna.
“Hah, sejak kapan?”
"Katanya, dia galak banget. Nggak biasanya tuh suka dielus."
Apakah orang ini sedang mengajaknya bicara? Kehadirannya sangat tiba-tiba dan mengejutkan. Arjuna tak yakin mengenal atau ingat pernah melihatnya. Dia kelihatannya satu angkatan, tapi setelah diperhatikan lagi... seragamnya tidak mengenakan badge kelas. “Biasanya, kalau seragam nggak ada badge nya bakal dicegat BK. Dia ini berandalan atau apa?” Arjuna cuma bisa membatin.
"Yah... kucing itu kan makhluk sensitif." Jawabnya singkat, tanpa mengalihkan perhatiannya dari kucing yang sedang ia manja.
Yang dijawab cuma terkekeh dan menyeringai, mata tajamnya menunjukkan ketertarikan.
Entah bagaimana, semenjak itu mereka sering menghabiskan waktu berdua di sekolah. Arjuna biasanya cenderung nampak sendirian, tapi sebenarnya ia senang diperhatikan. Mereka membahas banyak hal ringan seperti cuaca, kucing, kesukaan.
˖ ݁𖥔 ݁˖ ☀️🎶 ˖ ݁𖥔 ݁˖
Hari ini, diadakan ulangan pelajaran Ekonomi. Bukan sesuatu yang sulit, tapi teman-teman kelasnya nampak seperti di ambang kapal pecah. Semua belajar sebelum guru datang, meski ada yang pasrah mengangkat kedua tangan atau kaki mereka… dan berteriak. Berisik banget, ia hampir tak bisa fokus belajar.
Guru masuk, kelas langsung teredam senyap dan semua menyesesuaikan posisi mereka untuk duduk. Absen berlangsung cepat, tapi lagi-lagi namanya terlewat dan tidak sempat di panggil karea guru itu menutup buku absennya dengan cepat! Jangan heran, ini bukan pertama atau ke dua kalinya begini. Belum sempat Arjuna ingin mengajukan protes karena namanya belum di sebut, guru sudah langsung memerintahkan semuanya untuk mengambil tablet khusus yang disediakan oleh sekolah di dalam rak yang sudah disiapkan olehnya."Semoga saja nilai ku tidak bergantung pada isi hati beliau..."
Tak terasa, waktu pengerjaan berakhir begitu cepat. Masing-masing harus segera mengumpulkan tablet mereka ke tempat semula, jika tidak mau mendapat pengurangan nilai, sungguh sangat ketat. Arjuna beranjak dari bangku nya dan langsung maju ke depan untuk mengumpulkan tabletnya.
Pelajaran berlalu sampai jam makan siang tiba. Seperti biasa, Arjuna tidak akan tinggal diam di kelas saja. Jika ia pergi, teman kelasnya juga tidak akan ada yang peduli atau bahkan menyadari. Hidup ini memang keras, ia merasa seperti serangga.
Sepuluh menit ia habiskan untuk mencari orang itu. Dia benar-benar misterius! Selalu muncul tiba-tiba, tetapi harus—
”DOR!”
...
...
Arjuna reflek lompat karena kaget, "Anjir, kaget!"
Orang yang ia cari sekaligus menjadi tersangka yang mengejutkannya hanya tertawa satir. “Kamu tahu, reaksi mu lamban banget kayak figur lama.”
Kesal, tapi orang ini faktanya memang kadang kalanya bisa sedikit atau sangat menjengkelkan.
“Hehe, maap. Nyariin begitu, kangen ya?” Godanya sambil merangkul pundak Arjuna.
huft
Arjuna hanya menghela lelah.
"Ehh, jangan kesel gitu dong."
Menggeleng, Arjuna memijat pangkal hidungnya untuk meredakan sedikit stress nya, "Duh, jangan suka main kaget-kagetan lah, aku mungkin aja bisa mati karena shock." Itu benar, entah mengapa aura keberadaannya selalu terasa samar dan sulit untuk Arjuna sadari. Dia tak pernah nampak pergi bergaul dengan siapapun, dan Arjuna masih ingin mengesampingkan untuk berspekulasi jika orang ini benar-benar seorang berandalan.
Seolah tidak serius, ucapannya malah dibalas dengan tawa keras dan cekikian.
"Pfft— Hahahaha~! Ah, gak mungkin lah," Bantahnya ringan.
"Kalo gitu, Aku mungkin aja bisa kehilangan arah kalau kamu tiba-tiba hilang~" Katanya dengan pose dramatis, punggung tangannya ditempatkan pada dahinya.
Arjuna bukan tipe orang yang suka main tangan, tapi sedikit pukulan keras di punggung juga tidak akan sampai membunuh atau setidaknya masuk rumah sakit, kan? Harusnya cukup untuk menunjukkan emosinya.
Mereka bercanda gurau dan bertukar obrolan, sembari bersantai di bangku taman sekolah seperti biasa. Arjuna sebenarnya jarang memperhatikan dengan baik. Saat matanya mulai mencoba untuk menatap dengan intens wajah lawan bicaranya, ia menyadari bahwa… orang ini sejujurnya terlihat sangat menawan. Caranya menatap dan tersenyum lebar benar-benar membawa kehangatan sekaligus perasaan yang mendebarkan, ia bisa merasakan tengkuknya yang mulai terasa panas secara diam-diam. Dia memiliki bulu mata panjang dengan bentuk mata yang tajam seperti rubah, iris nya yang berwarna hijau membuatnya sangat cantik. Ketika orang itu berbicara dengan begitu riang dan membuka matanya lebar-lebar, barulah ia sedikit menyadari.
Matanya selalu menunjukkan keceriaan namun juga kelicikan, nampak tengil, tetapi lebih terlihat seperti…
Kosong.
...
...
“—ooi?”
"Woooi samlekom, Mamak?"
Tersentak pelan, Arjuna sepertinya sempat salah fokus. Ia langsung berdehem dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang tak perlu.
“Wah,” Katanya sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Arjuna. “Udah balik mode online nih?” Orang itu menyengir.
"...Maaf, AFK bentar."
Orang itu kemudian hanya bersender pada bangku, menengadahkan kepalanya. “Duh, kamu akhir-akhir ini sering banget bengong gitu, keliatan kayak CRT rusak.”
Sisa waktu dari jam istirahat mereka dihabiskan dengan omelan serta dengusan orang itu sampai bel yang menandakan jam pelajaran berbunyi.
˖ ݁𖥔 ݁˖ ☀️🎶 ˖ ݁𖥔 ݁˖
Akhirnya, tiba hari dimana hasil ulangan akan dibagikan. Semuanya jelas nampak gugup, walaupun ini hanya ulangan harian tapi bukan berarti bisa dianggap sepele! Terlebih lagi jika itu dengan guru yang disegani banyak orang, seperti sang penguasa samudera… Itu mitos sih, disamping itu beliau adalah guru yang sangat disiplin dan teguh pada pendirian serta akidah ataupun moral.
Hasil nilai ulangan baru akan dibagikan secara digital menjelang akhir jam pelajaran. Sehingga hari ini setidaknya mereka terbebas dari ceramah terkait evaluasi nilai. Arjuna langsung mencari urutan absen paling akhir, tapi anehnya ia tidak bisa menemukan namanya. Hingga bel istirahat berbunyi.
“Baik semuanya, sekian untuk hari ini. Kita lanjut eval nya Senin depan di jam pelajaran saya ya. Inget loh, bukan berarti kalian bisa santai karena besok weekend, PR nya juga harus dikumpulin.” Seperti biasa, Ibu ini sangat hobi membuat murid-muridnya tegang. Ah, sebelum beliau pergi meninggalkan kelas—
“Bu, nama saya ngga tercantum dalam list nilai.” Arjuna buru-buru melapor.
Sejenak, beliau mengecek jam di pergelangan tangannya. “Coba kamu tanya teknisi ya, maaf saya lagi buru-buru.”
Guru segera pergi, meninggalkannya begitu saja dalam kebingungan.
"Duh… Yaudah lah ya, apa boleh buat."
Arjuna mengangkat kakinya dan bergegas menuju ruang teknisi.
"Waduh, nama kamu nggak kedata di sistem."
Tak percaya, Arjuna mengerutkan alisnya sambil ikut mengecek. “Loh? Coba bapak tolongin saya buat cek lagi dong…”
Pengurus teknisi itu menggaruk kepala, “Yah… anu, kebetulan sistem emang lagi agak bermasalah. Soalnya cloudflare lagi down.”
Kalau begini, apa yang bisa ia lakukan? Mari tunggu saja perbaikannya.
"Sepurane ya mas, mungkin aja ini baru bisa diperbaiki besok kayaknya."
Keluar dari ruang teknisi, perasaan Arjuna campur aduk. Bagaimana jika nilainya tidak terbaca, dan ia akan mendapat skor jelek di rapor nya? Ini membuatnya sedikit frustasi dan jengkel, ia membutuhkan setidaknya satu-satunya orang yang tentu akan mendengar keluhannya.
Namun, hingga jam istirahat berakhir, ia tidak dapat menemukannya. Ia merasa terpuruk, ia tidak dapat menemukan…
…
...
“…Hm?"
"Siapa ya namanya...?”
Minggu berganti, guru mengevaluasi nilai murid-murid nya sebelum memulai pelajaran, tentu bukan awalan yang menyenangkan. Terkadang ia menempatkan dirinya tertidur dalam posisi berpangku tangan pada meja, guru tidak dapat terlalu melihatnya karena ia duduk di bangku paling belakang selain urutan absennya.
Sialan, namanya bahkan masih belum tercantumkan?
Seperti biasa, jam pelajaran berlalu begitu cepat. Arjuna pergi ke ruang teknisi, tapi yang ia temukan malah ruang kosong! Tidak ada siapapun, memangnya kemana semua orang pergi? Ia hendak berbalik untuk kembali, sebelum tiba-tiba menabrak seseorang.
"Cari apa dek?"
Yang ditabraknya adalah seorang senior, yang kelihatannya lima sentimeter lebih tinggi darinya.
"Pengurus teknisinya kemana semua ya mas?" Arjuna spontan bertanya dengan sopan.
Senior itu memperhatikan ruang teknisi yang kosong, “Ohh, lagi di Aula pertemuan semua kayaknya. Katanya sih ada layar yang rusak sama jatuh. Biasalah.” Jawabnya.
Sudah lama Arjuna tidak merasa begitu tertekan seperti ini, rasanya begitu membingungkan.
Pada akhirnya, ia menemukan dirinya hanya berbaring di atas bangku taman lagi, tapi kini hanya ia sendirian.
...
......
........
Arjuna membuka matanya, kemudian berkedip.
Langit berwarna agak, jingga… loh kok? Arjuna sontak bangkit untuk duduk, hari sudah sore. Apakah ia baru saja tertidur sepanjang hari? Buru-buru ia beranjak dari bangku, dan langsung pergi menuju kelasnya. Sepanjang lorong sekolah kosong, pasti sudah banyak yang pulang. Tapi, hari ini ia tetap ada piket!
Seperti yang diduga, kelas masih kotor. Ini berarti ia harus membersihkan semuanya sendirian, lagi.
"Yo, masih disini ternyata.”
Arjuna buru-buru menoleh ke sumber suara, untuk menemukan sosok yang selama ini ia cari dan tiba-tiba menghilang tanpa tanda, bersenden pada pintu kelas sambil menyilangkan tangannya.
“Mau ku bantuin?" Orang itu menawarkan.
Arjuna ia mulai mendengus, sebagai tanda setuju. Sementara yang lain mulai ikut membantunya piket dengan senang hati.
Mereka tidak banyak bicara, dan hanya fokus membersihkan kelas yang berantakan dan kotor ini. Pekerjaan selalu terasa ringan dan mudah saat dikerjakan bersama, akhirnya mereka hampir selesai.
Whoooshh—
Angin sore berhembus melalui jendela yang masih terbuka, mengakibatkan tirai yang berkibar. Arjuna melindungi pandangannya dengan lengannya, sebelum mendekat untuk menutupnya. Saat ia membuka pandangannya, barulah ia menyadari.
"Langit nya indah, ya kan? Awannya cantik, aku bahkan bisa lihat bulannya kelihatan jelas banget loh!" Orang itu memayungi matanya, "Matahari nya oren banget kayak kuning telur~"
Arjuna dengan takjub memandangi langit dari jendela yang masih terbuka, entah mengapa ia merasa pikirannya kosong, tetapi... damai.
Saat menoleh kembali, orang itu tengah duduk di salah satu bangku dengan satu kaki diatas sambil memegang gitar yang memang disimpan di kelas ini.
“Sore gini nih enaknya ditemenin sambil nyanyi!” Gitar mulai dimainkan acak untuk mengecek suaranya, orang itu nampak sibuk mengotak-atik settingan senar nya.
Arjuna menempatkan dirinya duduk di seberang bangkunya, sehingga mereka saling berhadapan.
“Aku nggak tau kalo kamu bisa nyanyi apalagi main gitar?” Ia bertanya dengan rasa ingin tahu seolah tertarik.
Jrengg jrengg
Gitar mulai dimainkan, membentuk sebuah alunan musik.
“Segini aja deh, ekhem”
“Siap? Are you ready? Ready or not?”
Arjuna tak kuasa menahan rasa sabar, orang di hadapannya sekali lagi hanya terkekeh.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Madaa… ♪”
“Toke kirezu ni nokotta ♪”
“Hikage no yuki mitai na ♪”
“Omoi wo daite ikiteru ♪”
Arjuna mendengarkan dengan takjub, ia tak pernah menyangka bahwa orang di hadapannya memiliki suara yang ternyata terdengar sangat merdu dan lebih lembut saat bernyanyi.
“Nee, boku wa kono koi wo ♪”
“Donna kotoba de… tojitara ii no~ ♪”
“—Aku bergetar disentuh dia~ ♪”
?!
“Mataku terbang sampaai kee laangit ♪”
“Tubuhnya bananda baganana~ ♪”
“Putih mulus dann~ seksi~ ♪”
Seriusan….
“Tak jauh seperti sang bidadari ♪”
“Kan kupeluk dia sampai mati ♪”
Arjuna terngaga, tak menemukan kata yang tepat untuk berkomentar.
“Rambutnya pun indah bagai putri ♪”
“Mirip ikan di~ TV~ ♪”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Nah nah, mana tepuk tangannya, pemirsa?”
Arjuna mendengus, tapi tetap bertepuk tangan untuk mengapresiasinya.
Segera, gitar diletakkan pada meja bangku di sebelahnya.
Ia terlambat menyadari bahwa sosok itu berjalan perlahan dan mulai meninggalkan kelas. Sontak, ia segera bangkit untuk menyusul keluar. Arjuna bisa melihat sosok yang tengah membelakanginya berhenti secara tiba-tiba, sebelum menengadahkan kepalanya dan berbalik menatap.
"Jadi… Mau nunggu sampai kapan, Juna?"
Tatapan itu kini anehnya terasa hangat, disinari oleh langit sore… membuatnya nampak terasa lebih hidup, dengan siluet cahaya jingga yang berpadukan dengan warna matanya yang hijau, begitu indah.
Arjuna tersenyu geli,
"Maaf, makasih udah nungguin, Yudis." Dengan itu, ia perlahan mendekat ke arah sosok di depannya, sosok yang selalu ada untuknya sampai akhir.
"Ayo pulang."
"Ya."
˖ ݁𖥔 ݁˖ ☀️🎶 ˖ ݁𖥔 ݁˖
"Aduh, kalian ini kalo piket yang bener dong. Masa jendela gak ada yang ditutup? Kelasnya jadi kotor karena daun berserakan!" Sekelompok yang dimarahi hanya patuh dan bertanggung jawab membersihkan. Lagipula, kemarin mereka memang bolos piket.
Kelas berjalan seperti biasa. Hari ini guru hadir dan mengabsen sebelum memulai pelajarannya, Bahasa Jawa. Tapi karena suatu alasan, beliau jarang sekali masuk kelas untuk mengajar. Biasanya hanya akan masuk sebentar, dan meninggalkan tugas pada murid-murid kelas.
"Rajendra putra?"
"Hadir Pak!"
Guru mengecek absen sembari membetulkan kacamatanya, menandai murid-murid yang hadir ataupun izin di kelasnya. Sampai pada giliran absen terakhir, beliau memanggil,
"Arjuna Arkana?"
...
Tidak ada jawaban, ruangan kelas diisi dengan suara bisik-bisik dari para murid.
Salah satu murid kemudian angkat bicara, walaupun sedikit acuh. "Bapak ini memang sepertinya karena jarang hadir, jadi nggak tau ya? Nama dia seharusnya udah nggak ada di absen sejak minggu lalu, Pak."
Guru terpaku bingung, kemudian mengecek kembali buku absensi yang dibawanya.
Ada dua bangku kosong di deretan paling belakang, terlihat sedikit berdebu karena sudah lama tidak ada yang menempatinya. Kondisinya bisa dikatakan lumayan acak-acakan, jejak coretan yang susah dihapus hampir memenuhi kedua meja tersebut.
"Loh? siapa sih yang ngambil gitar ini?"
"Jangan sembarangan woi, kembaliin ke tempat semula weh!"
Bisik-bisik
Salah satunya agak cacat karena tinggi kakinya yang berbeda, dengan gitar yang tergeletak di atas mejanya.
End.
