Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-03-27
Words:
4,012
Chapters:
1/1
Kudos:
19
Bookmarks:
1
Hits:
131

Sebelum Hujan Berhenti

Summary:

Hujan selalu jadi alasan yang mudah untuk menunda pulang, untuk tinggal lebih lama, atau untuk akhirnya mengatakan hal-hal yang selama ini disimpan.

Sadewa dan Nakula sudah terlalu lama berdiri di garis yang sama-dekat, tapi tidak pernah benar-benar melangkah.

Sampai suatu sore, satu kata sederhana mengubah segalanya. Dan di antara hujan yang tidak kunjung reda, ada perasaan yang akhirnya tidak bisa lagi pura-pura diam.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hujan turun pelan sore itu.

Bukan hujan deras yang bikin panik orang-orang buat lari cari teduh, tapi hujan tipis yang lebih terasa seperti alasan. Alasan buat diam, buat menunda pulang, atau buat duduk lebih lama dari seharusnya.

Sadewa menatap keluar jendela kafe, jarinya sibuk mengaduk kopi yang dari tadi belum juga diminum.

“Kalau lo terus aduk, itu kopinya nggak bakal berubah jadi lebih enak.”

Suara itu datang tanpa permisi.

Sadewa nggak perlu nengok untuk tahu siapa yang duduk di depannya sekarang.

“Nakula,” gumamnya, akhirnya mengangkat kepala. “Lo telat.”

Nakula nyengir, santai seperti biasa. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena dia nggak niat buka payung tadi.

“Gue nggak telat. Lo aja yang kepagian.”

“Janjiannya jam empat.”

“Sekarang jam empat lewat tiga.”

Sadewa menatapnya datar. “Itu namanya telat.”

Nakula cuma ketawa kecil, lalu ngelirik kopi di depan Sadewa.

“Lo pesenin gue?”

“Enggak.”

“Jahat banget.”

“Tadi gue chat, lo bilang bentar lagi sampai. Itu tiga puluh menit yang lalu.”

“Ya kan sampai juga kok,” jawab Nakula ringan, lalu melambaikan tangan ke barista buat pesan.

Sadewa menghela napas pelan. Kesal? Sedikit. Tapi lebih ke… udah terbiasa.

Ada sesuatu yang aneh tentang bagaimana Nakula selalu datang terlambat—bukan sekadar soal waktu, tapi cara dia masuk ke hidup Sadewa tanpa benar-benar pernah sepenuhnya tepat waktu. Selalu setengah langkah di belakang, atau justru terlalu tiba-tiba di depan, bikin Sadewa nggak pernah benar-benar bisa menebak ritmenya.

Namun, anehnya, Sadewa tidak pernah benar-benar pergi.

Jari Sadewa berhenti mengaduk kopi. Permukaan cairan itu akhirnya tenang, menyisakan bayangan samar wajahnya sendiri yang terdistorsi—seolah bahkan refleksi dirinya pun ikut bingung, seperti apa sebenarnya hubungan mereka.

Di seberangnya, Nakula berbicara dengan barista, suaranya santai, akrab, seolah dunia selalu memberinya ruang untuk merasa nyaman di mana pun dia berdiri. Tertawa kecil, menyebutkan pesanannya, lalu menyelipkan candaan ringan yang membuat barista itu ikut tersenyum.

Selalu seperti itu.

Nakula itu tipe orang yang mudah diterima, mudah masuk ke ruang siapa saja—sementara Sadewa… lebih seperti seseorang yang menunggu di dalam, berharap ada yang cukup sabar untuk mengetuk.

Dan Nakula, tanpa pernah benar-benar meminta izin, sudah lama duduk di dalam ruang itu.

Sadewa menatapnya tanpa sadar.

Cara rambut Nakula yang sedikit basah menempel di dahinya, tetesan air yang masih tersisa di ujung helai rambutnya, jatuh perlahan ke pelipis. Jaketnya sedikit lembap, tapi dia terlihat tidak peduli. Selalu begitu—seolah dunia tidak pernah cukup penting untuk membuatnya terburu-buru, tapi cukup menarik untuk dia nikmati pelan-pelan.

Berbanding terbalik dengan Sadewa, yang sejak tadi bahkan tidak menyentuh kopinya.

Ada jeda yang tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya nyaman. Jeda yang penuh dengan hal-hal yang tidak diucapkan, tapi terasa begitu jelas di udara.

Mereka selalu begini.

Selalu terasa seperti tarik-ulur yang nggak pernah jelas arahnya—

seperti dua orang yang sama-sama berjalan mendekat, tapi selalu berhenti tepat sebelum benar-benar sampai.

Dan entah kenapa, tidak satu pun dari mereka yang benar-benar mencoba mengubahnya.

Seolah-olah… mereka sama-sama takut kalau garis tipis itu akhirnya dilangkahi, semuanya akan berubah.

 

⋆‧°𓏲ּ𝄢

 

Di sekitar mereka, kafe tetap berjalan seperti biasa—mesin espresso mendesis pelan, suara gelas yang saling beradu ringan, dan percakapan orang-orang yang bercampur jadi dengung halus di latar belakang. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, hangat dan sedikit pahit, bercampur dengan wangi roti panggang dari meja sebelah.

Lampu-lampu gantung berwarna kekuningan memantulkan cahaya lembut ke permukaan meja kayu, menciptakan suasana yang tenang, hampir seperti ruang yang sengaja dibuat untuk memperlambat waktu.

“Kenapa ngajak ketemu?” tanya Nakula setelah minum pertama kopinya.

Langsung ke inti. Selalu begitu.

Sadewa menatap cangkirnya sebentar sebelum menjawab, “Nggak boleh?”

“Boleh sih. Cuma biasanya lo nggak ngajak ketemu tanpa alasan.”

“Gue kangen.”

Jawaban itu keluar begitu saja.

Nakula terdiam.

Untuk beberapa detik, suara hujan jadi satu-satunya yang terdengar di antara mereka.

“...lo serius?” tanya Nakula akhirnya, nadanya nggak se-enteng biasanya.

Sadewa mengangkat bahu. “Emang harus bercanda?”

Nakula menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang berubah—sedikit lebih lembut, sedikit lebih… hati-hati.

“Ya gue juga kangen sih,” katanya pelan.

Sadewa tersenyum kecil. “Cuma ‘juga’?”

Nakula mendengus pelan. “Ya nggak usah diperdebatin diksi gue juga kali.”

“Berarti nggak terlalu kangen.”

“De,” Nakula menatapnya, setengah kesal, setengah nggak berdaya. “Lo tuh ya…”

Sadewa menahan senyum. “Apa?”

Nakula menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kangen banget. Puas?”

Sadewa akhirnya tertawa kecil, ringan. “Iya, gitu dong jelas.”

Nakula menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya ikut terangkat. “Lo ngajak ketemu cuma buat denger gue bilang kangen juga?”

Sadewa mengangkat bahu lagi. “Lumayan.”

“Gila. effort banget gue kehujanan buat validasi doang.”

“Kan lo nggak niat buka payung.”

“Ya gue kira lo bakal nyamperin gue di luar.”

Sadewa mengernyit. “Ngapain?”

“Biar dramatis dikit kek. Lari-lari di tengah hujan, terus—”

“Terus lo sakit.”

Nakula langsung ketawa. “Ih anjir, lo ngerusak suasana banget!”

“Realistis aja.”

“Romantis dikit napa sih hidup lo.”

Sadewa menatapnya sebentar, lalu berkata pelan, “Ini juga romantis, menurut gue.”

Nakula berhenti tertawa.

“Duduk begini. Ngobrol. Nggak ke mana-mana,” lanjut Sadewa, nadanya tenang. “Gue suka.”

Nakula menatapnya lagi, kali ini lebih lama.

“Lo tuh ya…” gumamnya pelan. “Kalau ngomong gitu suka bikin orang mikir aneh-aneh.”

Sadewa memiringkan kepala. “Aneh gimana?”

Nakula tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, ke arah hujan yang masih turun, seolah mencari kata yang tepat.

“Ya… kayak ada maksud lain.”

Sadewa diam sebentar.

“Kalau emang ada?” tanyanya ringan, tapi suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya.

Nakula kembali menatapnya.

Jeda itu muncul lagi—halus, tapi terasa.

“...lo lagi jujur banget hari ini ya,” kata Nakula akhirnya.

Sadewa tersenyum tipis. “Capek bohong.”

“Selama ini lo bohong?”

“Bohong nggak bilang.”

Nakula terdiam.

Lalu dia tertawa kecil, tapi kali ini lebih pelan. “Bahaya juga lo kalau lagi kayak gini.”

Sadewa menatapnya santai. “Takut?”

Nakula mengangkat alis. “Harusnya?”

Sadewa tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap kopinya, lalu berkata singkat—

“Sedikit aja.”

Sadewa menggeser cangkirnya sedikit, ujung jarinya menyentuh keramik yang masih hangat. Ia tidak langsung minum—hanya membiarkan kehangatan itu berpindah pelan ke kulitnya, seperti mencoba menenangkan sesuatu yang sejak tadi bergerak pelan di dalam dadanya.

Di seberangnya, Nakula masih memegang cangkirnya, tapi tidak lagi minum. Tatapannya sesekali jatuh ke arah Sadewa, lalu berpaling, seolah sedang mencerna sesuatu yang baru saja berubah—hal kecil, tapi cukup untuk menggeser posisi mereka, walau hanya sedikit.

Tidak ada yang benar-benar berbeda.

Meja yang sama, kopi yang sama, hujan yang masih turun di luar jendela.

Tapi ada jeda yang terasa lebih padat dari biasanya.

Bukan canggung—lebih seperti… sadar.

Sadar bahwa kata "kangen" barusan tidak lagi terdengar ringan seperti biasanya. Tidak lagi sekadar basa-basi yang lewat begitu saja.

Sadewa menarik napas pelan, lalu akhirnya menyesap kopinya. Rasa pahitnya menyentuh lidah, tapi hangatnya langsung menyebar, menenangkan.

Ia melirik Nakula sebentar.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka duduk, Sadewa merasa—

mungkin, kali ini, mereka benar-benar sedang berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa lagi dianggap biasa.

 

⋆‧°𓏲ּ𝄢

 

Mereka udah kenal sejak kuliah.

Hari pertama masuk kelas, suasananya masih canggung. Orang-orang sibuk cari tempat duduk, saling lirik, setengah kenalan, setengah jaga jarak. Sadewa datang lebih awal, seperti biasa—duduk di barisan tengah, bukan yang paling depan tapi juga bukan yang bersembunyi di belakang.

Laptop sudah terbuka, buku catatan rapi di sampingnya. Ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Sampai seseorang duduk di kursi sebelahnya tanpa banyak basa-basi.

“Bro, ini kosong kan?” tanyanya cepat.

Sadewa melirik sekilas. “Ya.”

Orang itu langsung duduk, menjatuhkan tasnya dengan santai, lalu bersandar seolah sudah lama ada di sana.

“Gue Nakula,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Sadewa sempat diam sebentar sebelum akhirnya menjabatnya singkat. “Sadewa.”

“Wah, kembar dong kita,” kata Nakula, nyengir lebar. “Tinggal cari Yudistira, Arjuna sama Bima.”

Sadewa hanya mengangguk kecil. Tidak tertarik melanjutkan.

Namun, Nakula bukan tipe yang goyah kalau lawan bicaranya bodo amat.

“Lo dari mana?”

“Malang.”

“Oh, anak lokal. Pantes santai.”

“...”

“Gue dari luar kota. Jadi kalau gue nyasar, lo tanggung jawab ya.”

Sadewa akhirnya menoleh, sedikit mengernyit. “Kenapa gue?”

“Karena gue duduk di sebelah lo.”

“Logika lo aneh.”

Nakula cuma ketawa. “Ya makanya, seru.”

Sadewa langsung tahu—orang ini bakal bikin hidupnya lebih beda dari biasanya.

Dan dia gak salah.

Beberapa minggu pertama, mereka sering ketemu karena satu kelas. Tapi bukan berarti akur.

Nakula terlalu banyak bicara, terlalu mudah akrab dengan siapa saja, terlalu santai untuk ukuran Sadewa.

Sementara Sadewa… terlalu pendiam, terlalu kaku, terlalu sulit ditebak.

“Lo tuh ngeselin tau nggak,” kata Sadewa suatu hari, saat Nakula tanpa izin mengambil catatannya.

“Lo tuh boring tau nggak,” balas Nakula santai.

“Balikin.”

“Ntar dulu, gue belum foto.”

“Kenapa nggak nulis sendiri?”

“Capek.”

Sadewa menatapnya datar. “Dasar males.”

“Dasar pelit.”

Mereka saling tatap beberapa detik, lalu—entah kenapa—Nakula malah ketawa.

Dan Sadewa, yang harusnya kesal, justru tidak benar-benar marah.

Sejak saat itu, batas mereka mulai bergeser.

Pelan-pelan.


Awalnya cuma hal kecil.

Nakula yang tiba-tiba duduk di sebelah Sadewa tanpa tanya.

Sadewa yang, tanpa sadar, selalu menyisakan kursi kosong di sampingnya.

Nakula yang sering minta catatan.

Sadewa yang akhirnya terbiasa berbagi, walau sambil mengomel.

“Lo tuh nggak bisa apa, sekali aja serius?”

“Serius kok. Gue serius malesnya.”

“Gue sumpahin IPK lo jeblok.”

“Jangan dong, De. Kasihan masa depan gue.”

Dan di antara hal-hal sepele itu, mereka mulai terbiasa satu sama lain.


Perubahan yang sebenarnya terjadi tanpa mereka sadari.

Sampai suatu malam.

Waktu itu sudah hampir jam sepuluh. Sadewa masih di kampus, duduk sendirian di ruang baca, menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan besok pagi.

Ponselnya bergetar.

Nakula.

“De, lo di mana?”

Sadewa mengetik singkat.

“Perpus.”

Beberapa menit kemudian, Nakula muncul di pintu, wajahnya tidak secerah biasanya.

“Ngapain lo masih di sini?” tanya Sadewa.

Nakula mengangkat bahu, lalu duduk di kursi seberangnya. “Nggak pengen pulang.”

Sadewa menatapnya sebentar. “Kenapa?”

Nakula diam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menjawab.

“Rumah lagi ribut,” katanya akhirnya pelan.

Sadewa tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menutup laptopnya sebentar, lalu mendorong botol minumnya ke arah Nakula.

“Minum dulu.”

Nakula menatapnya, sedikit kaget, lalu tersenyum tipis. “Makasih.”

Malam itu mereka tidak banyak bicara.

Mereka pulang bersama.


Nakula mulai datang bukan cuma untuk bercanda.

Sadewa mulai mendengarkan, bukan cuma menjawab.

Mereka mulai saling mencari—tanpa perlu alasan yang jelas.

Kadang cuma buat makan bareng.

Kadang cuma duduk tanpa bicara.

Kadang cuma kirim pesan random tengah malam.

“Lo lagi apa?”

“Tidur.”

“Oh, maaf.”

“Kenapa?”

“Iseng aja.”

Dan anehnya, itu cukup.


Orang-orang mulai menganggap mereka satu paket.

“Mana Nakula, De?”

“Nggak tahu.”

“Tumben nggak bareng.”

Atau—

“Sadewa ke mana, Kula?”

“Lagi ngilang.”

“Cariin lah.”

“Emang gue pacarnya?”

Nakula akan selalu bilang itu sambil ketawa.

Tapi tetap aja dicariin.

Selalu begitu.


Mereka tidak pernah benar-benar membahas apa hubungan mereka.

Teman? Iya.

Sahabat? Mungkin.

Lebih dari itu? Tidak ada yang berani memastikan.

Namun, ada banyak hal yang gak terasa seperti sekadar teman.

Seperti cara Sadewa selalu ingat hal-hal kecil tentang Nakula.

Seperti cara Nakula selalu tahu kapan Sadewa sedang tidak baik-baik saja.

Seperti bagaimana mereka selalu kembali ke satu sama lain, tidak peduli sejauh apa pun sempat menjauh.


Dan sekarang—

setelah semua waktu yang mereka habiskan bersama,

setelah semua hal yang tidak pernah benar-benar mereka ucapkan,

mereka masih di sini.

Duduk berhadapan.

Masih dengan jarak yang sama.

Masih dengan perasaan yang… mungkin tidak lagi sama.

Sangat dekat.

Terlalu dekat, mungkin.

Tapi untuk pertama kalinya,

rasanya seperti mereka mulai menyadari—

bahwa kedekatan itu tidak akan bisa terus dibiarkan tanpa arah.

 

⋆‧°𓏲ּ𝄢

 

“Lo masih nulis?” tanya Nakula, memecah lamunannya.

Sadewa yang sejak tadi sedikit terlalu lama diam akhirnya mengangkat pandangan. “Masih.”

Nakula mengangguk pelan, jemarinya mengetuk ringan sisi cangkir, seolah sedang menimbang sesuatu. “Yang romance-romance itu?”

“Iya.”

Ada jeda kecil sebelum Nakula menyeringai. “Pantesan lo jago banget ngomong ‘kangen’ tadi.”

Sadewa mendengus pelan, tapi sudut bibirnya ikut naik sedikit. “Apa hubungannya?”

“Ya itu kan kalimat klise penulis romance,” jawab Nakula santai, menyandarkan siku di meja, menatap Sadewa lebih lekat dari sebelumnya. “Tinggal kurang backsound hujan sama slow motion aja.”

Sadewa menyipitkan mata, pura-pura gak terpengaruh. “Kalau gue bilang ‘gue rindu kehadiran lo yang absurditasnya mengisi ruang kosong eksistensi gue’ baru lo bilang nggak klise?”

Nakula langsung ketawa, suaranya pecah, sedikit lebih keras dari sebelumnya sampai orang di meja sebelah sempat melirik. “Nah itu baru lo banget! Ribet, sok dalam, tapi tetep… ya, lo!”

Sadewa menggeleng kecil. “Lebih baik ribet daripada garing.”

“Eh, kalimat ‘aku kangen’ tadi nggak garing kok,” sahut Nakula cepat.

Sadewa mengangkat alis. “Tadi lo bilang klise.”

“Iya, klise tapi…” Nakula berhenti sebentar, matanya sempat turun ke arah cangkirnya, lalu kembali ke Sadewa. “Kena.”

Jantung Sadewa seperti berhenti sepersekian detik.

“Apanya yang kena?” tanyanya, mencoba tetap santai.

Nakula mengangkat bahu, pura-pura enteng. “Ya… kena aja.”

Sadewa menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Lalu dia mengalihkan pandangan, mengambil cangkirnya, menyesap kopi yang sudah tidak sepanas tadi.

“Lo kebanyakan baca tulisan gue kayaknya,” gumamnya.

“Gue kan fans lo,” jawab Nakula cepat.

“Fans apaan??”

“Fans garis keras. Cuma nggak pernah komen.”

“Berarti bukan fans.”

Silent reader lah!”

Sadewa menggeleng kecil, tapi senyumnya gak benar-benar hilang.

Suasana di antara mereka kembali terasa ringan—tipis, hangat, seperti uap kopi yang naik pelan ke udara. Di luar, hujan masih turun, membasahi kaca jendela, menciptakan pola-pola acak yang bergerak perlahan.

Untuk sesaat, semuanya terasa sederhana.

Seperti dulu.

Seperti tidak ada yang berubah.

“De,” panggil Nakula tiba-tiba.

Nada suaranya berbeda. Tidak se-main-main sebelumnya.

Sadewa menoleh. “Hm?”

Nakula tidak langsung bicara. Ia menatap Sadewa, tapi seperti sedang mencari sesuatu—atau mungkin memastikan sesuatu.

“Lo pernah mikir nggak sih…”

“Nggak.”

Nakula langsung mendesah. “Gue belum ngomong.”

“Biasanya pertanyaan lo aneh.”

“Ini nggak aneh,” kata Nakula, kali ini lebih pelan. “Serius.”

Sadewa menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “Yaudah. Tanya aja.”

Nakula menarik napas pendek, jarinya berhenti mengetuk meja. “Lo pernah mikir… kalau kita nggak ketemu waktu itu, hidup kita bakal gimana?”

Pertanyaan itu menggantung.

Tidak berat, tapi cukup untuk membuat Sadewa diam lebih lama dari biasanya.

Ia tidak langsung menjawab.

Matanya sempat turun ke arah meja, ke jejak air dari dasar gelas yang membentuk lingkaran samar di permukaan kayu. Lalu ke luar jendela—ke hujan yang sekarang turun sedikit lebih rapat.

“Lebih tenang,” jawabnya akhirnya.

Nakula langsung nyengir. “Kurang ajar.”

Sadewa meliriknya sekilas. “Lo sendiri yang nanya.”

“Jadi hidup gue bikin lo nggak tenang gitu?”

“Banget.”

Nakula tertawa kecil, tapi tidak lama.

Sadewa menambahkan, suaranya lebih pelan—nyaris tenggelam di antara suara hujan dan dengung kafe, “Tapi lebih sepi.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa penekanan.

Tanpa drama.

Tapi cukup untuk membuat Nakula berhenti.

Senyumnya pelan-pelan memudar, digantikan ekspresi yang lebih… diam.

“Sepi ya…” gumamnya pelan, hampir seperti bicara ke diri sendiri.

Sadewa tidak menjawab.

Mereka saling menatap lagi, tapi kali ini berbeda.

Lebih lama.

Lebih sadar.

Seolah-olah, tanpa sengaja, mereka baru saja membuka sesuatu yang selama ini dibiarkan tertutup.

Nakula menggeser cangkirnya sedikit, jemarinya menyentuh pinggirannya tanpa benar-benar mengangkat. “Gue kayaknya juga bakal… ya, gitu.”

“Gitu gimana?” tanya Sadewa.

Nakula menghela napas pelan. “Lebih berisik sih hidup gue, mungkin. Tapi… nggak ada yang dengerin.”

Sadewa menatapnya.

“Nggak ada yang marahin gue tiap gue telat,” lanjut Nakula, setengah tersenyum. “Nggak ada yang maksa gue makan. Nggak ada yang—”

Ia berhenti sendiri.

“—yang apa?” tanya Sadewa pelan.

Nakula menggeleng kecil. “Nggak ada yang kayak lo.”

Sunyi.

Kali ini bukan karena tidak ada yang bisa dibicarakan.

Tapi karena terlalu banyak.

Di luar, hujan jatuh lebih deras, mengetuk kaca jendela seperti ritme yang konstan. Di dalam, suara kafe tetap berjalan—tapi bagi mereka berdua, semuanya seperti meredup, menyisakan ruang kecil yang hanya berisi mereka.

Dan untuk kedua kalinya hari itu, ada sesuatu yang menggantung di antara mereka—

lebih jelas dari sebelumnya,

lebih dekat untuk disentuh,

tapi masih belum ada yang benar-benar berani mengambil langkah berikutnya.

 

⋆‧°𓏲ּ𝄢

 

Malam mulai turun saat mereka keluar dari kafe.

Hujan masih turun, lebih rapat sekarang—bukan lagi rintik halus, tapi cukup untuk membasahi jalanan, membuat aspal mengilap di bawah lampu-lampu kota. Udara terasa lebih dingin, dan aroma tanah basah bercampur dengan sisa wangi kopi yang masih melekat samar di napas mereka.

“Lo bawa payung?” tanya Nakula.

Sadewa menggeleng.

“Bagus,” kata Nakula santai.

Sadewa mengernyit. “Bagus apanya?”

Nakula tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka sedikit jaketnya, lalu melangkah lebih dekat—terlalu dekat untuk sekadar berdiri biasa.

“Ya kita jalan bareng aja.”

Sadewa menatapnya, bingung. “Maksudnya?”

Nakula tidak memberi banyak waktu untuk berpikir. Tangannya terulur, menarik pergelangan Sadewa dengan pelan—tidak memaksa, tapi cukup untuk membuat Sadewa menurut tanpa sadar.

Lalu sebuah payung kecil terbuka di atas mereka.

Terlalu kecil.

“Gini maksudnya.”

Sadewa terdiam.

Jarak mereka sekarang nyaris tidak ada. Bahu mereka bersentuhan, napas mereka saling beradu dalam jarak yang terlalu dekat untuk dianggap kebetulan. Hangat tubuh Nakula terasa jelas, kontras dengan udara dingin di sekitar.

Terlalu dekat.

Terlalu sadar.

Terlalu… berbahaya.

“Lo sengaja ya bawa payung kecil?” tanya Sadewa, suaranya lebih pelan dari yang dia kira.

Nakula menyeringai, matanya sedikit menyipit, seperti menahan sesuatu. “Biar romantis.”

Sadewa mendengus pelan—refleks. Tapi dia tidak menjauh.

Tidak ingin menjauh.

Dan Nakula juga tidak memberi ruang untuk itu.


Mereka berjalan pelan di trotoar yang basah.

Langkah mereka tidak terburu-buru, seolah-olah tidak ada tempat lain yang harus dituju. Genangan air memantulkan cahaya lampu jalan, menciptakan kilau-kilau kecil di bawah kaki mereka. Suara hujan menjadi latar yang konstan—ritmis, hampir menenangkan.

Tapi di antara mereka, suasananya tidak setenang itu.

Ada sesuatu yang terlalu dekat.

Terlalu terasa.

“De,” panggil Nakula lagi.

Sadewa melirik, sedikit mengangkat alis. “Kenapa sih hari ini lo banyak banget manggil gue?”

“Pengen aja.”

Sadewa menghela napas kecil. “Aneh.”

Nakula tertawa pelan—lebih rendah, lebih dekat. “Gue boleh jujur nggak?”

Sadewa meliriknya sekilas. “Sejak kapan lo minta izin buat jujur?”

Nakula tidak langsung menjawab.

Langkahnya sedikit melambat. Napasnya tertahan sebentar, seolah dia sedang memilih kata—atau mungkin menahan diri untuk tidak mundur.

“Gue juga kangen banget sama lo.”

Langkah Sadewa ikut melambat.

Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap berusaha tenang.

“...kan tadi udah bilang.”

“Iya,” Nakula mengangguk kecil. “Tapi beda.”

Sadewa menoleh penuh sekarang. “Bedanya?”

Nakula berhenti.

Sadewa ikut berhenti.

Hujan masih turun di sekitar mereka, membasahi jalan, payung kecil itu jadi satu-satunya batas antara mereka dan dunia luar. Tapi entah kenapa, dunia terasa menjauh.

Sunyi.

“Nggak cuma kangen temenan,” kata Nakula pelan.

Ada getaran di suaranya.

Halus.

Tapi nyata.

Jantung Sadewa berdegup lebih keras.

“Terus?” suaranya hampir seperti bisikan.

Nakula menatapnya langsung.

Dekat sekali.

“Gue kangen… semua hal tentang lo.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti menghantam.

Sunyi.

Hanya suara hujan.

Dan napas yang tiba-tiba terasa terlalu berat di dada.

Sadewa menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, kontras dengan udara lembap di sekitar.

“Lo lagi bercanda ya?” katanya, hampir seperti mencari jalan keluar.

“Nggak.”

“Nakula.”

“Gue serius.”

Sadewa tertawa kecil—refleks, tapi kosong. “Ini nggak lucu.”

“Gue nggak lagi bercanda.”

Tatapan Nakula tidak goyah.

Tidak menghindar.

Tidak mundur.

Dan itu yang paling membuat Sadewa tidak bisa lari.

“...sejak kapan?” tanyanya akhirnya, pelan.

Nakula menghela napas. Uap tipis keluar dari bibirnya, hilang di udara dingin.

“Gue nggak tahu pasti,” katanya jujur. “Mungkin dari dulu.”

Ia tertawa kecil, tanpa humor.

“Mungkin dari saat lo marah-marah ke gue tapi tetep bawain gue makan karena gue lupa makan.”

Sadewa langsung teringat.

Hari itu.

Ekspresi kesal yang dia buat-buat, dan bagaimana dia tetap datang dengan kantong plastik berisi makanan.

Tanpa sadar, sudut bibirnya naik sedikit.

“Atau waktu lo nungguin gue sampai malam cuma karena gue bilang gue lagi nggak baik-baik aja,” lanjut Nakula.

Sadewa menunduk.

Kenangan itu datang lagi—bangku dingin, lampu kampus yang redup, dan Nakula yang akhirnya muncul dengan mata lelah.

“Gue pikir…” Nakula berhenti sebentar. “Itu cuma gue yang ngerasa.”

Sadewa mengangkat kepala lagi.

Tatapan mereka bertemu.

Lebih dekat dari sebelumnya.

“Kenapa lo nggak pernah bilang?” tanya Sadewa.

Nakula tersenyum tipis. Bukan senyum santainya. Lebih… rapuh.

“Karena gue takut.”

“Takut apa?”

Nakula menatapnya dalam-dalam.

“Takut lo pergi.”

Jawaban itu tidak keras.

Tidak dramatis.

Tapi jujur dengan cara yang hampir menyakitkan.

Sadewa terdiam.

Dunia terasa berhenti sejenak.

Hujan masih turun, tapi suaranya seperti jauh.

Yang tersisa hanya mereka.

Dan jarak yang hampir tidak ada.

Sadewa menarik napas pelan.

Lalu—

“Bodoh.”

Nakula mengernyit. “Hah?”

Sadewa melangkah sedikit lebih dekat.

Sekarang, benar-benar tidak ada ruang.

Payung kecil itu nyaris tidak cukup lagi menutupi mereka.

“Kalau lo takut gue pergi…” suara Sadewa rendah, stabil, tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya, “kenapa malah diem?”

Nakula tidak bisa menjawab.

Sadewa menatapnya—lama, dalam, tanpa menghindar.

“Gue juga ngerasa hal yang sama, Kula.”

Dunia seperti berhenti.

Nakula tidak bergerak.

Bahkan napasnya tertahan.

“...serius?” suaranya nyaris tidak terdengar.

Sadewa mengangguk pelan.

Matanya tidak lepas dari Nakula.

“Kira-kira kenapa gue ngajak lo ketemu hari ini?”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu Nakula tertawa kecil—pelan, napasnya keluar seperti baru saja dilepaskan dari sesuatu yang lama menahannya.

“Anjir…” gumamnya, setengah tidak percaya. “Kita berdua bego banget ya.”

Sadewa tersenyum.

Dekat sekali.

Hangat.

“Iya,” katanya pelan. “Banget.”

Dan untuk pertama kalinya—

jarak di antara mereka tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dijaga,

tapi sesuatu yang akhirnya… tidak perlu ada.

 

⋆‧°𓏲ּ𝄢

 

Hujan masih turun.

Tapi entah sejak kapan, dinginnya tidak lagi terasa.

Atau mungkin… bukan hujannya yang berubah.

Melainkan cara mereka berdiri di dalamnya.

“Nakula,” panggil Sadewa pelan.

Suaranya lebih lembut dari biasanya, hampir seperti sesuatu yang baru saja ia sadari sendiri.

“Hmm?” jawab Nakula, masih menatapnya—tatapan yang kali ini tidak lagi disembunyikan.

“Kalau kita mulai dari sini…” Sadewa berhenti sebentar, seolah memilih kata, atau mungkin menenangkan detak jantungnya sendiri. “Lo bakal telat terus nggak kalau gue ngajak lo ketemuan lagi?”

Nakula tertawa kecil. Bukan tawa lepas seperti biasanya—lebih pelan, lebih dekat.

“Gue usahain tepat waktu.”

Sadewa mengangkat alis. “Usahain?”

Nakula memiringkan kepala sedikit, menatap Sadewa seolah sedang menikmati reaksinya. “Ya nggak janji.”

Sadewa menggeleng pelan, tapi senyumnya tidak hilang. Justru makin jelas.

“Yaudah,” katanya pelan. “Gue yang bakal datang lebih awal.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi cara dia mengatakannya—tenang, tanpa ragu—membuat sesuatu di dalam dada Nakula terasa penuh.

Nakula menatapnya lama.

Seolah-olah mencoba mengingat setiap detail—cara Sadewa berdiri di depannya, rambutnya yang sedikit lembap karena hujan, matanya yang sekarang tidak lagi menghindar.

Lalu, tanpa banyak kata, Nakula menggerakkan tangannya.

Pelan.

Hati-hati.

Seolah memberi ruang kalau Sadewa ingin menjauh.

Jemarinya menyentuh tangan Sadewa—hangat, kontras dengan udara dingin di sekitar.

Lalu menggenggamnya.

Kali ini, Sadewa tidak menarik tangannya.

Tidak kaget.

Tidak ragu.

Ia hanya diam—membiarkan, merasakan.

Seolah-olah… ini memang sudah seharusnya terjadi dari dulu.

“Nggak dingin?” tanya Nakula pelan.

Sadewa sempat terdiam.

Jujur.

“Dingin.”

Nakula tersenyum kecil, lalu menggenggam lebih erat—ibu jarinya bergerak pelan, mengusap punggung tangan Sadewa tanpa sadar.

“Sekarang?”

Sadewa menatap tangan mereka yang saling terikat.

Jari-jarinya yang biasanya dingin, kini perlahan menghangat.

Bukan karena hujan berhenti.

Bukan karena udara berubah.

Tapi karena ada seseorang yang tidak melepaskan.

Ia mengangkat pandangan.

Menatap Nakula.

Dekat.

Jelas.

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada lagi yang ditahan.

“Nggak lagi,” jawabnya pelan.

Jeda singkat.

Lalu Sadewa menggerakkan tangannya sedikit—bukan untuk melepaskan, tapi untuk membalas genggaman itu.

Lebih pasti.

Lebih sadar.

Napas Nakula tertahan sejenak.

Hal kecil.

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat semuanya terasa berbeda.

Hujan masih turun di sekitar mereka, membasahi kota tanpa henti.


Mereka berjalan lagi.

Masih di bawah payung yang sama, dengan jarak yang sekarang tidak lagi canggung untuk dipertahankan. Jemari mereka tetap terikat, langkah mereka pelan, seolah tidak ada yang perlu dikejar—atau mungkin, tidak ada lagi yang ingin ditunda.

Hujan masih turun seperti tadi—konstan, membasahi jalanan, memantulkan cahaya lampu kota di genangan kecil yang mereka lewati. Tapi rasanya berbeda sekarang.

Tidak lagi dingin.

Tidak lagi sepi.

Sadewa melirik Nakula sebentar, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. “Kita beneran ya… mulai dari sini?”

Nakula menoleh, tatapannya langsung bertemu dengan Sadewa, hangat, tanpa ragu. “Kalau lo nggak kabur, gue juga nggak ke mana-mana.”

Sadewa mendengus pelan. “Siapa yang mau kabur?”

Nakula mengangkat bahu. “Lo kan suka tiba-tiba diem.”

“Bukan diem. Nahan.”

“Nahan apa?”

Sadewa menatap ke depan sebentar, lalu kembali ke Nakula. “Banyak.”

Nakula tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Sadewa sedikit lebih erat, seperti memberi jawaban tanpa kata.

“Sekarang?” tanya Nakula pelan.

Sadewa menghela napas, lalu menggeleng kecil. “Sekarang… nggak.”

Ada jeda singkat—bukan karena canggung, tapi adanya kenikmatan yang baru saja mereka pahami bersama.

Bukan lagi tarik-ulur yang membingungkan.

Bukan lagi perasaan yang dipendam diam-diam.

Melainkan dua orang yang akhirnya cukup berani untuk berhenti menahan—dan memilih satu sama lain, tanpa syarat yang rumit.

Hujan terus turun, seperti tidak berniat berhenti.

Dan mereka juga tidak terburu-buru untuk pergi.

Karena di antara langkah yang melambat, di bawah payung yang terlalu kecil, dan di dalam genggaman yang kini terasa pasti—

Sadewa dan Nakula akhirnya menemukan satu hal yang selama ini mereka cari.

Rumah.

Di satu sama lain.

Notes:

Halo, guys! Ini adalah fanfic pertamaku untuk teman-teman Pandavvarna dan BeerLens. I know this story might have been a little heavy, but it came from a place I wanted to express. I hope it made you feel something—anything. That alone is enough for me. Feel free to leave your thoughts or scream in the comments, I’d love to hear from you!

If you have any requests and questions for me, please go to link below!
https://tellonym.me/restlessashes