Chapter Text
Neteyam demam. Udah 2 hari dan malam ini panas nya memuncak. Neteyam ga keluar kamar sama sekali, pintu kamar nya kebuka tutup kalau adik adiknya ngantarin makanan, obat, sama menuhin botol air minum Neteyam biar tetap terdehidrasi.
Badan nya tenggelam di tumpukan selimut, melengkung bagai udang yang lagi digoreng. Sedikit permukaan wajah Neteyam muncul, untuk pasokan udara sementara tubuhnya tertidur lelap.
Hari semakin gelap, badan nya masih belum menunjukkan suhu badan yang normal. Aroma kamar nya khas obat-obatan dan minyak tubuh. Segala cara demi putra sulung Sully itu kembali sehat.
Neytiri kembali masuk usai membawa piring bekas makan Neteyam—yang kebanyakan masih terisi penuh—ke dapur. Kain basah yang menutupi dahi Neteyam udah diganti. Neteyam susun mangkok berisi buah-buahan di meja belajar Neteyam.
Buah yang diantarkan kemarin, alibi Neteyam itu dari teman-teman nya. Tapi Neytiri heran, bahkan Neteyam yang kondisinya sakit kemarin memaksakan diri untuk menyambut kiriman barang itu oleh dirinya sendiri. Padahal ada dirinya yang sedang berbesih ruangan tengah saat itu.
Kiriman nya bukan cuman buah, mungkin ada beberapa barang lain. Tapi yang Neytiri lihat cuman buah yang langsung Neteyam keluarin, sisanya di dalam goodie bag itu langsung Neteyam bawa ke dalam kamar. Yah, Neytiri ga mau jadi ibu yang nyebelin juga untuk biarkan putra sulungnya menyimpan beberapa rahasia.
Saat ini, badan Neteyam masih belum bergerak. Seperti larut dalam dunia mimpinya. Nafasnya berat dan berisik, panas yang semakin meningkat hadirkan ekspresi khawatir dari wajah sang ibunda.
Neytiri paksakan si tertua itu untuk bangun, Neteyam hanya menjawab dengan gumaman, lalu isakan.
“Sakit bun…”
Neytiri lantas bantu Neteyam untuk duduk menyender, sambil sodorkan air minum agar memenuhi pasokan air dalam tubuhnya.
“Iya nak, minum dulu sama makan buah ya?” Neytiri usap bagian pipi Neteyam yang basah karena liur. Sekujur wajah nya terlihat mulai berkeringat, dari dahi hingga sepanjang leher nya.
“Habis itu kakak boleh tidur lagi.”
“Mm… nggak mau makan…” Neteyam senderkan kepala nya yang terasa ringan. Rasa kantuk luar biasa memenuhi nya.
“Kakak tadi makan siang nya juga ga habis.” Ucap Neytiri, coba sodorkan potongan buah pear yang ditolak dengan gelengan oleh putra nya.
“Ayo kak, minum obat habis itu tidur.” Neytiri masih coba membujuk. Meski Neteyam dikenal dengan anak yang penurut, kalau udah sakit gini dia yang paling susah diatur.
Makan enggan, maunya tidur terus, minum obat suka ga ketelen. Makanya setiap kali Neteyam sakit Neytiri selalu khawatir, cari jalan supaya si sulung mau diobati.
“Ayo kak, beberapa suap aja ya?”
“Mhmm…” Neteyam akhirnya buka matanya sedikit, dia kunyah beberapa suapan yang diselangi dengan minum, sampai akhirnya dia berikan gelengan kuat kepada sang ibunda.
“Udah bun,”
“Ya udah, obat nya minum dulu.”
Neteyam membuka mulut malas, matanya sudah terpejam bersiap untuk kembali memeluk guling kesukaan nya.
Usai minum obat, Neteyam duduk sebentar lalu tak lama kembali berbaring. Neytiri masih di dalam kamarnya, membereskan beberapa sisa makanan dan baju Neteyam yang sudah berantakan tak terurus di lantai kamar.
Neytiri kembali raba kulit wajah putra nya, panas yang belum berkurang kembali menyapa nya. Lantas Neytiri menyadari sesuatu, sejak sakit Neteyam belum sekalipun mandi bahkan mengganti bajunya. Hanya celana yang ia ganti karena basah kena air minum.
“Kakak, bunda mandiin ya?” Ucap Neytiri lembut, menyisir halus rambut putranya yang tidak dikepang.
Neteyam hanya mengeluarkan suara kecil seperti bisikan, yang Neytiri anggap sebagai iya. Lantas sang ibunda keluar, menyambut isi rumah yang sudah sunyi sebab anak-anaknya yang lain sudah tertidur lelap.
Dia menyiapkan kain bersih, baskom dan air hangat. Jake yang ternyata masih terbangun di kamar tidur mereka sempat menyapa, menanyakan bagaimana keadaan Neteyam malam itu. Neytiri lantas berikan kecupan ringan ke pelipis sang suami, janjikan ia akan kembali setelah usai memandikan si sulung yang dibalas dengan anggukan oleh Jake.
Neytiri kembali masuk, lampu kamar yang ia hidupkan sempat bikin Neteyam mengubah posisi tidur nya. Neytiri tidak banyak bicara, tak ingin ganggu istirahat putra nya sembari dia membersihkan tubuhnya.
Neytiri mulai dari wajah sang putra, menuju leher, lalu badan bagian atas nya. Awalnya semuanya tampak normal, sampai Neytiri menyerngitkan dahi melihat sesuatu yang janggal di perpotongan leher mendekati dada Neteyam.
Seolah bekas luka atau memar. Neytiri tak begitu yakin. Jumlah nya tidak hanya satu, namun beberapa dan tersebar di sekitar leher dan dadanya. Rasa khawatir mulai muncul, wajahnya hadirkan eskpresi bingung dan juga risau.
Ia coba tekan beberapa luka itu, tak hadirkan respon apapun dari putra nya yang terlelap. Ia pikir mungkin luka dari sengatan serangga, tapi jumlah nya terlalu banyak dan terlalu besar untuk sekedar bekas gigitan nyamuk. Neytiri lanjut untuk bersihkan area tersebut, tidak ada tanda-tanda sakit dari Neteyam.
Lantas ia mulai beranjak ke kaki putra nya, mulai dari jari jari kaki hingga betis. Ia lepas celana Neteyam yang akan ia gantikan dengan set pajama agar tidur putranya lebih nyaman lagi.
Namun lagi lagi, ekspresi khawatir dan penuh tanda tanya muncul di wajah dari ibu 4 anak tersebut. Tangan nya berhenti kala kain basah itu mencapai bagian paha Neteyam. Bekas luka yang sama kembali muncul. Jumlahnya tidak sebanyak yang tadi dan sudah mulai agak memudar.
Berbagai macam spekulasi muncul di pikiran nya, Neytiri menggelengkan kepalanya kuat. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh anaknya. Ia tahu Neteyam sudah cukup umur untuk menjelajah berbagai hal baru, tapi Neytiri yakin dia masih perlu membicarakan beberapa hal dengan anak tertuanya itu.
Setelah membersihkan area paha Neteyam, ia coba sentuh bekas memar itu yang tidak hadirkan respon kesakitan apapun dari Neteyam. Mungkin karena dia tertidur, tapi dari bekas luka nya, Neytiri yakin jikapun ini berasal dari serangga— maka ini adalah serangga berukuran besar yang menyerang tubuh anaknya.
Saat selesai memasangkan pakaian baru dan bersih kepada Neteyam, Neytiri pun beranjak ingin pergi. Sebelum ia menatap goodie bag yang kemarin Neteyam terima itu. Di samping nya terdapat amplop surat yang ditutupi dengan sticker berbentuk love berwarna hijau tosca.
Neytiri benar-benar harus berbicara dengan Neteyam saat putra Nya sudah sembuh.
#
“Kakak punya pacar?”
“Huh?”
Neteyam yang lagi sibuk ngetik di handphone nya langsung noleh ke sang ibunda, berikan tatapan kaget dan bingung. Saat itu keduanya tengah duduk di dalam mobil, menunggu sang bungsu selesai dari les ballet nya dalam kurang dari 20 menit lagi.
“Gapapa kak, cuman bunda aja kok. Kakak coba jujur sama bunda.” Neytiri tersenyum pada Neteyam, memposisikan posisi duduknya agar menghadap si sulung.
“Engga.” Jawab Neteyam singkat, dengan cepat kembalikan fokusnya kepada layar ponselnya.
“Kakak,” Neytiri masih berusaha melanjutkan pembicaraan ibu dan anak itu. “Inget ga bunda mandiin kakak waktu kakak sakit?”
Neteyam terdiam sejenak, tatapan nya kosong lalu telinga nya tiba tiba sedikit terjatuh ke belakang, oh, dia paham kemana pembicaraan ini mengarah. “Inget,” Jawabnya singat.
“Nah, sekali lagi bunda tanya. Kakak punya pacar nak?” Neytiri masih tersenyum, murni kasih sayang terpampang dari sana.
“Emang kenapa sih bun…” kali ini telinga Neteyam tak hanya bergerak gusar, namun juga merah yang sudah menjalar ke seluruh wajahnya.
Neytiri menarik nafas ringan, mencoba menstabilkan nada bicara nya agar tak terdengar salah. “Bunda mau tau aja, bunda khawatir apa yang bunda lihat di leher sama paha kakak itu dari hal yang bahkan kakak sendiri ga tau.”
“Enggak…”
“Enggak gimana kak?”
“Kakak punya pacar nak sayang?” Kali ini Neytiri berkata lebih lembut, menarik pergelangan putranya ke dalam genggaman sang ibu.
“Jujur aja, cuman bunda kok yang dengar.”
“Iya…” Jawab Neteyam, menundukkan kepala nya malu.
“Okay.”
Air wajah Neytiri melembut, ia lemparkan satu dua pertanyaan lagi. “Satu sekolah sama kakak?”
“Iya,”
“Teman sekalas?”
“Engga…”
“Okay.”
“Tapi seangkatan kok.”
“Siapa namanya nak sayang?”
Neteyam perhalan angkat wajahnya, mencari tanda dari ekspresi sang ibunda yang hanya hadirkan rasa aman. Ia aman, Neteyam tahu dia bisa ceritakan apapun dan Neytiri tidak akan menghakimi nya.
“… Ao’nung.” Jawab Neteyam, ragu-ragu.
“Laki-laki kak?”
Sunyi sejenak memenuhi udara di antara keduanya, “Iya.”
“Okay.”
“Bunda ga marah?”
“Ngapain bunda marah?” Neytiri tertawa kecil, mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Pacar kakak bukan perempuan.”
“Masalahnya dimana nak sayang?” Neytiri mulai mengelus halus kulit tangan putra nya, “Bunda ga khawatir tentang itu kak. Yang bunda mau pastikan, kakak sudah tahukan mana yang benar dan mana yang tidak?”
“Iya.” Neteyam balas sambil mengangguk.
Sebelum melanjutkan, Neytiri berfikir sejenak. Ingin pastikan apa yang coba ia sampaikan tak sedikitpun menyakiti perasaan putranya.
“Jadi kakak bisa jelasin kenapa ada bekas memar di tubuh kakak?” Tanya nya lembut.
“Itu iseng doang…” Suara Neteyam perhalan memudar, antata malu dan takut.
“Sebanyak itu kak?” Tanya nya lagi, berusah memastikan.
Akhirnya Neteyam alihkan pandangan nya pada Neytiri, sedikit kepercayaan diri muncul dari suara nya yang bergetar.
“Bun, aku sama Ao’nung ga pernah macem-macem, serius.”
“Iya nak, bunda mau kakak jujur aja.”
Neteyam melirik ke luar jendala mobil, “Kita ga lakuin apa-apa kok. Sekedar itu doang.”
“Kakak Neteyam, anak bunda paling pintar.” Neytiri alihkan usapan nya pada wajah si tertua, menatap secara dalam pupil putranya dengan kelembutan yang terselip.
“Kakak tahukan mana batasan yang wajar, mana yang boleh kakak lakukan dan belum boleh?”
“Tau…”
“Bunda tau kakak udah legal, udah cukup umur juga untuk hal-hal seperti itu. Tapi bunda masih perlu edukasi ke kakak, bunda ga mau hal-hal yang ga diinginkan terjadi ke kakak, sayang.”
“Iya bun aku tau.” Neteyam lebih dari sekadar tahu. Kedua orang tuanya sedari dulu mendidiknya dengan benar. Neteyam tahu pasti apa yang ia inginkan dan apa yang tidak ia inginkan.
“Ao’nung juga ga pernah minta gituan kok.. aku juga belum mau.” Jawabnya, belum berani berbicara sambil menatap tatapan selembut angin sang ibunda. “Kita cuman iseng-iseng aja dan cuman sekali doang.”
Seperkian menit sunyi kembali banjiri keduanya, larut dalam pikiran masing-masing. Untuk tuturkan kata yang sehalus mungkin dapat diterima.
“Maaf bun”
“Ngapain minta maaf nak?”
“Aku harusnya cerita ke bunda.”
Neytiri miringkan kepala nya, tersenyum gemas mendengar jawaban sang putra.
“Ga semuanya kakak harus ceritakan kok nak, bunda cuman mau make sure kakak cukup teredukasi untuk hal seperti ini.”
“Iya bun, makasih bun.”
Selepas itu Neytiri tarik badan si sulung dalam pelukan singkat. Untuk memberi bukti, memberi tanda, bahwa ia peduli kepadanya. Bahwa ia inginkan yang terbaik untuk putranya.
“Besok nak Ao’nung suruh datang ke rumah sepulang sekolah ya?”
“Hah? Ngapain bun.” Tanya Neteyam penuh dengan bingung.
“Pengen ngobrol deh bunda.”
Untuk sekejap, Neteyam berpikir ia menyesal menceritakan kisah kasih nya kepada sang ibunda.
“Bunda ga bakal marah-marahin kan? Ga bakal suruh aku putus kan?”
Mendengar itu Neytiri tak dapat membendung tawa nya, “Engga lah kak.”
Lantas ia perbaiki posisi duduknya, mendapati sang bungsu Tuk sudah keluar dari gedung di hadapan mereka. “Bunda cuman perlu ngomong sama kalian berdua.”
“Bunda doang?”
“Iya.”
“Janji? Ga sama Ayah kan?” Neteyam berusaha memastikan.
“Iya nak.”
“Ya udah, aku chat dulu Ao’nung nya.”
Setelah itu pintu mobil terbuka, Tuk masuk dengan menyapa senang mendapati sang kakak hadir di dalam untuk menyambutnya pulang.
#
Besok harinya Ao’nung beneran datang. Bawa beberapa bingkisan untuk Neteyam dan keluarganya. Bahkan, ada satu bingkisan yang merupakan titipan dari Ronal. Neytiri berterimakasih, minta Ao’nung sampaikan rasa syukurnya.
Mereka berbincang di ruang tamu. Neteyam, Ao’nung dan Neytiri. Sang ibunda tidak berbohong, memang benar hanya mereka bertiga pada saat itu. Sejak Neteyam menyambut Ao’nung di depan pintu sampai mereka duduk bersampingan, Neteyam sama sekali tidak melepas genggaman tangan mereka. Dan Neytiri memiliki insting yang terlalu kuat untuk tidak menyadari itu.
Pembicaraan mereka ringan, Neytiri mulai dari bertanya bagaimana mereka bisa saling kenal, sudah berapa lama pacaran, sejak kapan orang tua Ao’nung tahu, hingga memastikan mereka bermain aman jika melakukan hal intim.
Yang, tentu saja, dibalas dengan wajah yang memerah dari kedua remaja itu. Ao’nung menjelaskan mereka belum pernah melakukan lebih, karena tahu itu bukanlah hal sepele. Ia yakinkan Neytiri tak pernah memberi paksaan, coba yakinkan ibunda dari pacarnya itu untuk percaya pada dirinya.
Neytiri hanya tertawa kecil, ia tahu kedua remaja di hadapan nya ini lebih dari sekadar sadar. Ia tahu mereka cukup teredukasi dalam konteks tersebut.
Dari situ Neytiri pun merasa aman, yakin bahwa putranya bersama dengan orang yang tepat. Lagipun, mereka terlihat benar-benar seperti sejoli yang saling jatuh cinta satu sama lain.
Pembicaraan mereka seharusnya berakhir saat langit mulai munculkan sembrutan oranye dan ungu, sampai tiba-tiba sang ayah membuka pintu rumah, Jake pulang lebih awal. Neteyam sempat panik, meminta Ao’nung cepat-cepat pulang. Belum siap untuk menjelaskan semuanya dari awal kepada sang ayah.
Tapi Jake tampak tak begitu peduli dengan hal itu. Yah, pagi tadi saat menyiapkan sarapan bersama Neytiri menyempatkan diri untuk berbincang dengan suami nya itu. Kini Jake paham, kenapa putra sulung nya belakangan suka menolak untuk dijemput pulang sekolah atau les dan memilih untuk naik angkutan umum saja.
Yang Jake belum ketahui, ‘angkutan umum’ yang Neteyam maksudkan adalah motor sport milik pacarnya yang berhenti sekitar 3 blok dari rumah mereka. Alasan kenapa Neteyam sering tiba di rumah berjalan kaki.
Jake mengelus lembut rambut si sulung, sambil berikan anggukan kepala kepada kekasih pacarnya yang menyapa nya. Ia duduk di antara kedua sejoli itu.
Neytiri yang duduk disebrang nya hanya memberi tatapan jangan-ucapkan-hal-bodoh yang diabaikan oleh Jake sendiri. Dia menoleh kepada Neteyam nya, lalu kepada Ao’nung.
“Mumpung udah malam, gimana kalau pacarnya kakak diajak makan malam bareng aja. Iyakan bun?” Ucap Jake, menyenggol pelan lengan si sulung yang dibalas dengan penolakan halus dari Ao’nung.
#
Makan malam kala itu terasa sunyi. Awalnya, sampai Tuk yang terbangun dari tidur singkat nya sehabis latihan ballet datang ikut menghidupi suasana. Kiri dan Lo’ak malam itu tidak di rumah, masih melakukan kelas tambahan di rumah teman mereka.
Tuk bertanya akan banyak hal, tentang kenapa rambut Ao’nung bisa sangat ikal, tentang apa itu ‘pacar’ atau tentang kenapa Ao’nung tidak lebih dari dulu main ke rumah mereka.
Neteyam menanggapi pertanyaan itu dengan tawaan renyah, sekali dua kali mencuri pandangan kepada kedua orang tua nya yang ikut menikmati makan malam.
Saat Tuk tidak berbicara, Jake akan ajukan pertanyaan. Ringan saja, namun cukup untuk membuat Ao’nung gugup untuk menjawab. Secara, dia sering mendengar cerita menyeramkan tentang Ayah pacarnya itu dari Neteyam sendiri.
Salah satu alasan kuat kenapa Neteyam belum siap memperkenalkan Ao’nung kepada orang tua nya.
Sampai akhirnya waktu malam malam selesai. Jika boleh jujur, Ao’nung masih mau habiskan lebih banyak waktu dengan Neteyam. Tapi rasa segan nya lebih kuat meningat dia juga harus menjaga image di pertemuan pertama dengan orang tua kekasihnya itu.
Neteyam mengantar Ao’nung ke depan pintu. Tanpa menyadari Jake dan Neytiri mengintip dari belakang mereka. Dia berikan pelukan kuat pada si tersayang, pelukan yang menggambarkan rasa kepuasaan, lega, dan bahagia.
Ternyata, momen yang selama ini ia khawatirkan berlalu dengan begitu mulusnya.
Pelukan itu ditutup dengan Ao’nung yang mencengkram kuat genggaman tangan mereka, berikan sedikit kecupan pada punggung tangan Neteyam yang dibalas dengan dorongan tubub halus dari si lebih pendek.
Dari kejauhan, Jake menegaskan tulang rahang nya sambil berucap,
“Sekali lagi Ayah lihat berani cium-cium gitu di depan—“
“Ma Jake,” Neytiri lantas potong ucapan nya, “your son is actually in love.”
Ucapnya, menarik ringan badan sang suami untuk berhenti memata-matai dua sejoli yang tengah jatuh cinta itu.
