Actions

Work Header

[Parallax]

Summary:

(noun) the apparent displacement or the difference in apparent direction of an object as seen from two different points not on a straight line with the object.

Notes:

heyyooo~
Isinya Beerlens, slightly Lensstorm :DD

TW: Emotional Angst, Past Breakup, Unrequited Love, sad ending

muehehehe, enjoy!

Work Text:

 

Tallinn di awal November tak pernah ramah pada orang asing.

 

Salju pertama turun terlalu dini, tipis-tipis menyerupai serpihan kaca yang melebur menjadi bintik air begitu menyentuh pundak mantel wol hitam yang dikenakannya. Aroma sisa kayu pinus yang dibakar dari cerobong-cerobong kedai tua di sekitar Town Hall Square mendominasi. Udara bertekanan rendah menggelayut di atas langit Baltik, sewarna perak yang berkarat. 

 

Salju punya tabiat aneh: ia menyerap suara.  Membuat alun-alun abad pertengahan yang dilapisi jalanan batu cobblestone itu mendadak sunyi, menyisakan gesekan sol sepatu bot dan uap panas yang lolos dari bibir menjadi kabur putih.

 

Namun, di tengah kesunyian yang diredam es itu, isi kepalanya justru bising luar biasa.

 

“Kopinya pahit banget. Lu harusnya minta extra sugar cube tadi, Dew,”

 

Suara itu rendah, tenang, mengalun lembut di sela deru angin yang memotong bukit Toompea. Sadewa menoleh. Di sampingnya, pria bersurai biru muda itu berjalan dengan langkah konstan. Nakula-nya, dulu. Kini dibalut mantel overcoat abu-abu yang memeluk tubuh tegapnya. Anggun, dewasa, dan asing. Kedua tangan Nakula tenggelam dalam saku mantel, menyembunyikan jemarinya dari gigitan suhu minus dua derajat.

 

Sejak mereka berpapasan secara tak sengaja di depan Viru Gate satu jam yang lalu, Nakula tak pernah sekalipun mengeluarkan tangannya dari sana.

 

“Emang sengaja,” Sadewa bersuara, tenggorokannya terasa kering meski udara di sekitar mereka basah. “Biar angetnya awet.”

 

Nakula terkekeh. Sebuah tawa pendek yang lolos bersama kepulan uap, membuat sudut matanya berkerut halus. Sadewa mengunci pandangannya pada kerutan itu. Otaknya yang payah langsung berputar balik, melompati jarak ribuan mil, mencari koordinat memori di Jakarta di mana tawa itu dulu berakar. 

 

Sial. Ingatannya buram.

 

Otak manusia memang bukan cermin yang jernih; ia hanya menyimpan potongan yang ia sukai dan membuang sisanya demi bertahan hidup. Di kepala Sadewa, yang tersisa dari Nakula hanyalah punggung yang menjauh di malam mereka menyelesaikan semuanya, tujuh tahun yang lalu.

 

“Lu sendiri, ngapain jalan sendirian pagi-pagi begini di Tallinn? Kapan emang kesininya? Kok gak bilang?” cecar Sadewa, mencoba mengeluarkan semua kebisingan kepalanya menjadi kata-kata. Pikirannya penuh, dadanya berdenyut kencang berantisipasi.

 

Kenapa kita harus ketemu disini? 

 

Nakula menghentikan langkahnya tepat di tepi pembatas tebing Patkuli, tempat di mana mereka bisa melihat atap-atap merah meruncing khas Tallinn yang mulai memutih diselimuti salju. Ia menatap lurus ke depan, ke arah perairan yang berkabut di kejauhan. Bibirnya tersenyum lebar.

 

“Dewa pelan-pelan kalo nanya ih, kebiasaan,” Senyumnya tak hilang, matanya menyipit diterpa angin dingin. “Soalnya gua bosen aja. Lagi liburan gini masih aja kerja mulu.”

 

Sadewa tertegun. Detak di dadanya mendadak melambat, menciptakan jeda yang ganjil. Kata kerja mulu yang keluar dari belahan bibir Nakula melempar Sadewa kembali pada sebuah kesimpulan instan. Ego dalam dirinya mendadak bangkit, memoles sebuah asumsi sepihak yang begitu berkilau di matanya: Nakula datang sendirian karena dia butuh pelarian dari penatnya Jakarta. Nakula merindukan kota ini–merindukan janji mereka. Sama dengan dirinya.

 

Matahari musim dingin di Baltik tak pernah benar-benar memanjat langit; ia hanya menggantung rendah di cakrawala, memantulkan rona pucat sewarna mutiara pada dinding-dinding kastil tua Tallinn.

 

Sadewa dan Nakula berjalan turun dari tebing Patkuli, membiarkan langkah mereka dituntun oleh kelokan gang-gang sempit Old Town yang sempit. Udara semakin menggigit, menusuk hingga ke balik tulang belikat, memaksa beberapa turis lokal merapatkan mantel dan bergegas masuk ke dalam kedai-kedai tua di ujung jalan.

 

Namun, Sadewa enggan bergegas. Di dalam kepalanya, waktu justru sedang berjalan melambat, sebuah dilatasi emosional yang egois. Dia ingin mengulur tiap detik di kota ini.

 

“Itu syal lu kegedean, ya? Sampe tenggelam gitu dagu lu.” Sadewa memecah sunyi, matanya melirik syal wol tebal berwarna navy yang melilit leher Nakula. Warnanya kontras dengan mantel abu-abu pria bersurai biru muda itu.

 

Nakula menurunkan sedikit lilitan syalnya, membiarkan uap napasnya lolos bebas. Ia terkekeh pelan. “Iya kah? Tapi ini anget banget, Dewa. Sengaja dipilihin yang tebel biar gua ga masuk angin katanya.”

 

Sadewa hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. Otak payahnya langsung menyaring kalimat itu dengan bias yang parah; dia berasumsi kata katanya itu merujuk pada nasihat teman-teman Nakula di Jakarta, atau sekedar komentar pramuniaga toko. Sadewa terlalu sibuk mengagumi bagaimana rona merah akibat hawa dingin di pipi Nakula membuat pria itu tampak persis seperti pemuda dua puluh tahun yang dulu ia kencani di koridor kampus.

 

Mereka berbelok ke arah lorong sempit yang diapit bangunan bergaya abad pertengahan dengan atap runcing khasnya. Bau manis dari kayu manis dan almond panggang berlapis karamel menguar dari salah satu kedai tua, beradu kontras dengan aroma jalanan batu yang basah dari salju yang kian intens turun.

 

“Inget ga, dulu pas kita masih jadi mahasiswa gembel?” Nakula bersuara tiba-tiba. Langkah botnya berketuk konstan di atas cobblestone. Matanya menatap pendar lampu teplok kekuningan di jendela kedai. “Tiap kali ujan gede, kita selalu neduh di depan ruko sambil makan martabak. Lu selalu protes karena margarinnya kebanyakan.”

 

Sadewa tertawa pendek, suara beratnya mengalun tenang di tengah kesunyian Tallinn. “Ya lagian abangnya ngasihnya udah kayak numpahin air. Tapi kan tetep gua makan semuanya juga, lu apaan makannya cuma sebiji doang. Mana kenyang.”

 

“Perut gua ga nampung ya, Dew! Lagian itu juga gua udah ga mood. Lu kalo bahas proyekan sama klien di telepon bisa dua jam sendiri, gua dicuekin,” sahut Nakula. Nadanya jenaka, tapi ada riak masa lalu yang dalam di sana. Perlahan, menguliti ego Sadewa tanpa ampun.

 

Sorry,”gumam Sadewa pelan, menghentikan langkahnya di depan dinding batu yang dipenuhi tanaman menjalar kering yang membeku. “Gua dulu… emangnya sebrengsek itu ya? Ga pernah ada waktu buat lu.”

 

Langkah Nakula terhenti. Tak langsung menjawab. Pria bermanik biru muda itu melirik jam tangan pintarnya yang sempat bergetar pendek menampilkan sebuah notifikasi, sebelah alisnya terangkat membaca bari pesan di sana sebelum membalikkan pergelangan tangannya kembali dengan gerakan teratur. Gerakannya tenang, lebih tenang daripada malam di musim dingin.

 

“Lu ga brengsek kok, Dewa. Gua tau kok, lu cuma terlalu fokus ngejar cita-cita,” Nakula menjawab mantap. Suara lembutnya terdengar mantap. “Gua inget, gimana lu rela ga tidur tiga hari demi tembus proyek pertama lu. Trus pas dapet bayaran, lu bikinin gua maket kastil. Lu bilang, ‘Nanti kita kesini bareng ya, Kul.’

 

Sadewa merapatkan mantel hitamnya. Di dalam saku, jemarinya mengepal hingga urat-urat tangannya menegang kuat. Mengingat memori yang membuat dadanya berdenyur nyeri. “Gua masih simpen maketnya, setelah lu balikin ke gua malam itu. Gua disini ya… karena maket itu.”

 

Nakula tersenyum, jenis senyuman menenangkan yang terlalu sulit diartikan oleh Sadewa yang kepalang bias. “ Gua tau. I always admire everything you do, Dewa. Selalu.”

 

Sadewa membuang muka sekejap, menatap lurus pada bayangan mereka yang memanjang di atas jalanan berbatu basah. Pujian barusan justru terasa seperti ujung pisau yang diputar pelan di dadanya. Nakula tidak mendendam. Dan ketiadaan dendam itulah yang membuat Sadewa sadar, pria disampingnya ini benar-benar sudah melangkah dengan ringan.

 

“Gua bawa polaroid di tas,” Sadewa mengalihkan topik, suaranya agak serak saat ia menepuk tas selempang kulitnya. Ada dorongan dalam dirinya yang mendesak dada untuk segera mengabadikan presensi Nakula sebelum waktu mereka habis. “Gua fotoin ya? Viru Gate keliatan jelas dari sini.”

 

Nakula menggeleng pelan, makin menyembunyikan kedua tangannya jauh ke dalam saku mantel abu-abunya. “Thanks, tapi gausah, Dew. Nanti aja.” 

 

Nanti.

 

Satu kata itu jatuh dengan suara berdebum di dalam rongga dada Sadewa hingga bergetar hebat. Nanti. Ia akan menantikan kesempatan itu.

 

Mereka kembali berjalan dalam diam yang pekat. Salju yang turun kian rapat perlahan menghapus jejak sepatu bot mereka di belakang, menyisakan senja Baltik yang merosot cepat menuju rona ungu tua yang intimidatif. Tallinn seolah sengaja mengisolasi mereka berdua di antara dinding-dinding batu tinggi.

 

Langkah mereka baru berhenti total saat pelataran luas Katedral Alexander Nevsky membentang di depan mata. Kubah-kubah hitam katedral bergaya ortodoks itu berdiri megah, kontras dengan putih salju yang menutupi undakan tangganya. Lampu-lampu sorot kekuningan dari bawah mulai menyala, memantulkan pendar hangat yang temaram.

 

Nakula mendudukkan diri di kursi besi seberangnya, mengadah menatap keagungan arsitektur di hadapannya. Beberapa butir es hinggap di surai biru mudanya, tak mencair, membeku bersama suhu yang kian merosot lebih jauh lagi.

 

Sadewa melangkah maju. Dengan tinggi tubuhnya yang masif, ia sengaja mengambil posisi tepat di hadapan Nakula, menggunakan lebar bidang dadanya untuk memblokir hembusan angin malam agar tak langsung menghantam tubuh pria itu. Jarak mereka kini terkikis, menyisakan satu hasta yang dipenuhi uap napas panas yang berbaur.

 

Ketegangan di dada Sadewa sudah menyentak batas maksimal. Rahangnya mengeras samar, menatap sepasang manik biru muda yang dulu selalu menunggunya dengan setia di kamar kosan sempit milik mereka.

 

Sekarang.

 

“Kul…” suara Sadewa rendah, berat, dikunci oleh seluruh sisa taruhan hidupnya yang ia bawa ke Eropa. “Kalau sekarang… gua udah tau—”

 

Suaranya terputus dentuman nyaring bel besar Katedral Alexander Nevsky. Suaranya yang berat dan gahar menggema membelah sunyi malam, menggetarkan dada siapapun yang berdiri di hadapannya.

 

Namun, bukan itu yang menghentukan sirkulasi udara di paru-paru Sadewa.

 

Melainkan getar panjang dari ponsel di dalam saku mantel abu-abu Nakula, yang langsung disambut pria bersurai biru itu dengan binar mata yang paling utuh. Jenis binar yang tak pernah lagi Sadewa lihat sejak malam pertengkaran mereka.

 

“Ah, pas banget!” Nakula berseru, buru-buru menggeser layar ponselnya dengan satu tangan yang keluar dari saku. “Halo? Iya, aku di depan katedral yang kubahnya hitam. Di depannya ya. Iya, dingin banget, buruan sini, Sayang.”

 

Sayang.

 

Kata itu menghantam Sadewa lebih beringat daripada hantaman Jab manapun.

 

Belum sempat Sadewa merakit kembali logikanya yang mendadak hancur berantakan, suara langkah kaki tergesa-gesa di atas salju terdengar dari arah belakang tubuh besarnya. Seorang pria bertubuh lebih tegap dari dirinya terbalut mantel wol tebal sewarna arang berjalan setengah berlali mendekat. Tangannya masih sibuk menggenggam tas kerja kulit dan sebuah laptop.

 

Begitu pria itu beridiri di hadapan Nakula, hal yang pertama ia lakukan adalah menakup pipi pria bersurai biru itu. Mencoba memberikan kehangatan kecil disana.

 

“Mas Nakul, maaf ya lama. Tadi kliennya ngeselin banget, masa aku disuruh demonstrasiin ulang. Padahal udah aku lakuin ya meeting kemaren. Mas jadi kedinginan parah gini, astaga.”

 

Nakula tertawa lepas. Suara tawa yang hangat, riang, dan tanpa beban yang selama ini Sadewa kira sudah punah dari wajah anggunnya itu. Nakula membiarkan pipinya ditangkup, membiarkan dirinya disayangi dan dilibatkan di sela-sela kesibukan pria muda di hadapannya.

 

Sadewa tertegun. Ada rasa panas menjalar di dalam dirinya, padahal tak ada bara api di sekitar sini. Nakula menoleh ke arahnya, menatap Sadewa yang berdiri kaku serupa pilar batu yang membeku di tengah badai salju.

 

“Oh iya, Dew, kenalin,” Nakula tersenyum lebar, matanya menyipit memancarkan kebahagiaan mutlak. “Ini suami gua. Kita baru aja sampe kemaren,” wajahnya menoleh kepada pria yang dipanggil suami, “Bim… ini Sadewa. Temen lama aku pas di Jakarta dulu yang pernah aku ceritain.”

 

Pria itu mengulas senyum ramah, lalu mengulurkan tangannya yang hangat ke arah Sadewa. “Halo, Mas. Makasih banyak ya udah nemenin Mas Nakul jalan-jalan keliling. Tadi hectic banget.”

 

Sadewa menatap uluran tangan itu. Di bawah temaram lampu kuning katedral, dia pelan-pelan menarik tangan kanannya dari saku mantel hitam. Menyerah pada hukum alam semesta.

 

Efek paralaks akhirnya berakhir. Nakula tak bernostalgia untuk pulang bersamanya; Nakula hanya sedang menceritakan dongeng masa lalu yang sudah selesai ia pahat.

 

Sadewa tersenyum getir yang tersembunyi, menjabat tangan hangat itu kokoh terbalik dengan gemuruh badai dalam dirinya.



“Santai aja. Tadi cuma kebetulan aja kok.”