Work Text:
Purnama yang kesembilan, selamat malam.
Di sana apakah masih gelap atau sudah terang? Saya melewati beberapa anak kecil yang sedang bergurau satu sama lain. Bulan di sini sangat indah, namun sepertinya saya lebih suka menatap ke luar jendela dan melihat mobilmu. Terakhir kulihat ia masih berwarna coklat tua. Atau
mungkin biru? Saya sudah semakin lupa. Saya takut semakin lupa dengan semua tentang kamu.
Baru minggu kemarin saya bepergian keliling New York. Saya ingin mengucapkan salam hangat, namun di sini sudah dingin dengan bergugurnya dedaunan. Hampir seisi kota dipenuhi dengan oranye kecoklatan, dan saya selalu teringat kamu. Kamu pernah bilang ada sesuatu tentang daun kering yang terkadang membuatmu bersemangat. Untuk menginjaknya. Kamu selalu histeris kalau saya menyebutkan hobi anehmu itu.
Sebentar lagi musim gugur, semoga setelahnya kita bisa bertemu lagi.
Salam hangat, Rangga.
Purnama yang keduabelas, selamat malam.
Di sini dingin sekali. Terakhir saya mengingat dingin seperti ini adalah saat kamu mendorong saya semasa sekolah dulu ke dalam sebuah waduk. Atau mungkin kolam? Saya tidak ingat, yang masih saya ingat adalah perasaan takut dan sepi sebelum tanganmu menarik kembali. Kamu aneh sekali, ya. Kamu yang selalu mendorong saya namun kamu juga yang menyelamatkan saya. Hari ini saya mengunjungi New Jersey.
Kopi disana enak, namun tidak seenak saat berada di sekolah denganmu. Kamu pasti akan histeris lagi melihat kalimat ini karena ujarmu, “Kapan lagi Rangga gak gengsi?!” Saya letakkan tanda tanya dan seru sebagai ekspresi kamu yang pasti lebih meriah daripada itu. Ngomong-ngomong, saya selama berada di New Jersey menemukan banyak buku yang bagus. Judulnya ‘The Meek One’, karya Fyodor Dostoevsky. Sejujurnya saya tadinya tidak terlalu tertarik. Tapi saya ingin menjelajahi lebih banyak buku.
Mungkin selepas bunga-bunga bermekaran di sini dan jalanan tidak berwarna putih lagi, saya bisa menceritakan buku-buku yang telah saya pelajari bersama kamu. Walaupun mungkin kamu akan mengeluh pusing tapi tetap berada di samping saya hanya untuk mendengarkan suara saya.
Salam hangat, Rangga.
Purnama yang kelimabelas, selamat malam.
Tadi pagi hangat sekali cuacanya. Cocok jika saya mengucapkan salam hangat nanti, karena disini memang nyaman dan teduh. Berbanding terbalik dengan putih dingin yang menempel di kulit. Kamu pasti akan menyukai betapa mekarnya bunga disini berwarna-warni.
Mungkin saya akan membeli satu buket nanti untuk saya bawa pulang. Pasti kamu akan suka. Saya jamin. Semoga sehabis bunga-bunga telah mempertunjukkan keindahannya, saya bisa melihat keindahan pekarangan rumah kamu sambil duduk berdua.
Oh iya, tadi saya bertemu dengan pemilik anjing jenis golden retriever yang sangat besar, dan saya langsung teringat kamu. Apa kamu masih suka bergelantungan dengan orang seperti dulu? Saya tidak ingin melupakan kebiasaan kamu yang itu. Saya takut akan melupakan satu per satu hal-hal tentang kamu, dan kita. Tapi semoga saja tidak.
Salam hangat, Rangga.
Purnama kedelapanbelas, selamat pagi.
Borne, ini musim panas terakhir saya di sini. Saya sempat bepergian ke Pennsylvania dan mengunjungi lonceng Liberty. Saya jadi teringat dengan kamu. Kamu kan, bising seperti lonceng. Besar pula keberadaanmu ketika kamu memasuki ruangan. Megah sekali. Mungkin itu adalah salah satu alasan kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku padamu.
Borne, di purnama yang kesembilanbelas, saya akan pulang kepada kamu. Tunggu saya ketika mentari berada pada titik terpanas nya di sini. Saya akan membawa diri saya dan semua cinta yang saya simpan pada seribu bulan ini padamu. Tunggu saya ketika debur ombak sudah hampir hangat sempurna dan saya akan merasakan panas yang menghawa dari tubuhmu.
Dengan hangat dan penuh cinta, Rangga.
