Actions

Work Header

Hujan Samarkan Derasnya (Tutup Air Mata)

Summary:

Tentang hujan dan segala berat yang dibawanya dan mengalir keluar.

Notes:

day 1 of my Junekspresi series!

Work Text:


Hujan deras membasuh Padang Mahsyar saat Anggoro CS sedang menjalani rutinitas sehari-hari mereka. 

"Padahal cuacanya tadi panas, kok jadi ujan sih." Ujar Anggoro yang mengeluh sembari jalan masuk menuju bangunan abu-abu itu.

 

"Ya mungkin lagi konveksi. Airnya nguap cepet terus jadinya ujan pas lagi panas." Jawab Pendi yang buru-buru masuk ke dalam agar kepalanya tidak terlalu lama terkena rintik-rintik.

Beberapa jawaban terdengar, disambut dengan balasan dan balasan lagi. Entahlah, kepala Six terlalu pusing untuk menyerap informasi yang didapat. 

 

"Aduh.." Sesampainya di sel mereka, Six mengerang kesakitan sebab kepalanya yang terkena basah itu tiba-tiba sakit luar biasa. Sialan dunia dan segala isinya yang membuat Six sakit-sakitan terus menerus seperti ini.

 

"Sakit lagi lu?" 

"Duh.. Iya.."

Pria yang kerapkali dipanggil Irfan itu melirik ke arah Six dengan tatapannya yang kadang menyebalkan itu. Membuat kepala Six semakin sakit saja, deh.

"Sakit mulu."

"Apasih, diem ah lu."

"Tidur tuh, nanti yang ada malah nambah parah. Lu kan biasanya demam terus. Nanti flu lah, nanti batuk lah. Susah sembuhnya."

"Aduh apasih Irfan, lu tuh daritadi ngoceh terus pala gue makin sakit nih! Tau deh gue kalo gue sakit-sakitan terus. Terus gue harus apa?"

Irfan memandangnya dengan tatapan terkejut yang dibalut dengan rasa iba. Sepertinya jika ia membuka mulut akan ada rangkaian kata maaf yang mengikuti.

"Dah dah, gak usah gangguin gue. Gue mau tidur. Sakit banget ini kepala."

"Yaudah."

Begitu six naik ke ranjang tingkat dua miliknya, Irfan ikut naik dan duduk di sebelahnya. Ini orang kenapa, sih? Pikir Six. 

"Lu ngapain?"

"Nemenin lu. Nanti kalo gak ada yang liatin, lu nambah sakit entar."

"Apa hubungannya dah?"

"Ya ada aja."

Keduanya bertatapan di waktu yang sama. Aduh, dekat sekali. Kalau kepala Six tidak kepalang sakit mampus mungkin ia akan malu sekarang. Ya, menurutnya Irfan tidak jelek sih. Lucu, juga.

"Maaf ya, gue sering ngatain lu kalo lu sakit. Pasti berat, ya?"

"Hah?"

"Sorry."

"Oh. Iya, gapapa. Maaf juga gue sering frustasi soalnya sakit banget, fan. Gak tau kenapa tapi gue dari kecil sakit-sakitan terus. Kayak dunia ini ngutuk gue gitu lah. Sial emang."

"Gue temenin, ya. Sampe lu sembuh. Nanti gue ngomong sama Pendi."

"Tapi-"

"Udah ah, gak usah tapi tapi, sik. Daripada Pendi bawel lagi, mau lu?"

".. Yaudah. Makasih ya, fan."

Bola mata berwarna coklat tanah basah selepas hujan itu bertemu lagi dengan warna coklat kakao. Dekat. Wajah mereka berdua. Bahkan kedua bahu mereka saling bersentuhan. 

Keheningan memenuhi ruang sel kecil di blok C itu. Yang lain sibuk mandi atau entah kegiatan apa yang sedang dilakukan. Sedangkan waktu berhenti di antara mereka berdua. Seakan semuanya sedang baik-baik saja disini. 

Yah, mungkin sehabis mereka keluar dari sini mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Punya kontrakan, usaha, menipu berdua, entahlah. Entah kenapa hal itu terdengar sangat menenangkan jika dipikir-pikir. 

Tangan Irfan mengelus pelan rambut dan pipi Six bak pemilik anjing yang gemas akan peliharaannya. Tak ada pertanyaan verbal yang melewati mulut Irfan namun Six tahu betul apa maksudnya.

Konfirmasi yang diberikan Six pun tidak terdengar oleh telinga kelelawar sekalipun, namun batin mereka seakan melebur menjadi satu. Seperti kedua bibir mereka yang saling mendekat dan mendekat

Kecupan yang saling mereka bagi terasa seperti lapas yang mereka tiduri. Bibir mereka sedikit kasar karena kurangnya mineral yang dibutuhkan tubuh, namun ada sedikit rasa manis—mungkin sugesti dan euforia yang memengaruhi.

Selepasnya kedua mulut mereka, Irfan terkekeh geli. Bahagia sekali dirinya, tumben. Kepala Six yang masih berat terasa sedikit lebih ringan dibanding tadi. Disandarkan kepalanya itu ke bahu Irfan, matanya menggantikan kepalanya memberat. 

Sepertinya menutup mata sekali lagi tidak masalah. Six menanti saat ia membuka mata dan sakit kepalanya menghilang.

Series this work belongs to: